Karena saya hobby saja..

Cerita ini terjadi sekitar tahun 1977. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat dua di Departemen Statistika dan Komputasi IPB. Kakak kedua saya masih menulis skripsi dan tugas akhir dari Departemen Agronomi IPB dan sedang diajak pacarnya untuk mengunjungi ibunya di Desa Kentong, Cepu. Karena saya lagi liburan semester di Madiun, maka kesempatan “pergi ke luar kota” yang langka itu langsung saya sambar. Saya juga pengin ikut ke Cepu..

Dari Madiun ke Ngawi kami bertiga naik Colt 120SS yang waktu itu sedang merajai jalanan sebagai angkutan antar kota. Mobil Jepang yang cukup lebar dan cukup kencang itu menjadi pemandangan sehari-hari di seluruh kota di Indonesia. Dalam waktu setengah jam, Colt kami sudah “mendarat” di Stasiun Bis Ngawi (masih di dekat perempatan dekat kantor polisi, bukan di posisi yang sekarang)..

Sebelum berangkat ke Cepu, kami masih sempat merasakan soto ayam di Stasiun Bis Ngawi. Ingat, Stasiun Bis adalah salah satu tempat yang banyak menyediakan makanan enak dengan harga murah ! Setelah kenyang dan waktu menunjukkan pukul 10.30 kamipun ganti Colt ke jurusan Cepu. Cepu waktu itu sudah menjadi kota minyak dan di sana ada Akademi Minyak Cepu yang hampir saya masuki sekiranya saya tidak diterima di IPB (dan ITB dan UGM….uhhh..)..

Ternyata jalanan Ngawi-Cepu waktu itu masih kurang mulus, banyak lubang dan melalui tengah hutan jati yang masih lebat. Setelah perjalanan sekitar 1 jam, sampailah kami di Terminal Bis Cepu. Nah, untuk ke Desa Kentong yang jauhnya sekitar 5 km kami memutuskan naik dokar dan itu rupanya satu-satunya moda transportasi jarak menengah di kota Cepu.

“Pinten pak nek bade dateng Dusun Kentong ?”, (Berapa pak taripnya kalau mau ke Desa Kentong ?) tanya pacar kakak saya ke Pak sais dokar.

Melihat kami bertiga yang agak kuyu dan kurus berpotongan mahasiswa yang kiriman uangnya suka telat, si sais dokarpun bilang “Mpun to pinten mawon, wong kulo nggih bade wangsul niki” (Sudah berapa saja, kebetulan saya lagi mau pulang juga nih), kata si sais dokar..

Sepanjang perjalanan yang cukup sepi, kami sempat ngobrol ke sana ke mari dengan Pak sais dokar yang ramah, berbaju hitam, bercelana hitam separo, dan pakai blangkon (topi kas jawa) itu. Rupanya ia pensiunan pegawai suatu perusahaan (dia tidak cerita perusahaan apa)..

Sesampai di tempat, setelah Pak sais dokar berkenan mengantarkan kami bertiga sampai persis di depan rumah pacar kakak saya, kami disuruh membayar Rp 50 saja. “Lho kok mirah sanget, punapa panjenengan mboten rugi to pak ?” (Lho kok murah sekali, apa Bapak tidak rugi ?), kata kakak saya membayangkan naik dokar bertiga yang jauhnya 5 km kok dengan tarip satu kali naik angkot di Bogor buat satu orang..

“Mpun mboten nopo-nopo, mpun cekap kangge tumbas suket kangge lare kulo niki” (Sudah gak apa-apa, sudah cukup untuk beli rumput buat “anak” saya ini), kata pak sais dokar kalem…

“Lho, kangge njenengan piyambak njur nopo ? (Lho, untuk Bapak sendiri lantas bagaimana ?), tanya kakak saya lagi..

“Kulo mpun wonten jatahipun, lha kulo niki pengsiunan kok, sing penting kulo gadah kegiatan” (Saya sudah punya uang kan saya pensiunan, yang penting saya ada kegiatan), kata pak sais dokar. Dan kamipun mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan sebagai salam dan penghormatan kepadanya sampai debu di jalan yang terbang diterjang roda dokarnya telah tidak terlihat…

Hari kemarin ini, di rumah saya terdengar kucing saya si Ringo sedang berantem dengan kucing pendatang yang badannya lebih besar. Bunyi ngeongnya sangat keras sampai-sampai semua tetangga saya pada melongokkan kepalanya keluar. Sayapun memisahkan kedua kucing yang adu dominasi wilayah itu dengan cara berlari mengejar si kucing pendatang… Tanpa sengaja saya sampai di depan rumah tetangga…

“Oh Pak RT, boleh nggak saya membuka bengkel sepeda ?”, kata si Bapak tetangga sambil menunjukkan kertas karton bertuliskan “Menerima tambal ban sepeda”. “Oh ya boleh saja pak, mengapa tidak ?”, kata saya.

Akhirnya saya menjadi klien pertama dari Bapak tetangga itu. “Anu pak, sepeda saya ini dari beli belum pernah diganti bannya sampai pecah-pecah gini. Daripada pecah di jalanan, lebih baik saya minta tolong diganti saja ya pak”, kata saya sambil menyerahkan uang sekedarnya..

Sorenya, sepeda saya sudah jadi baru dengan ban baru merk GENIO yang tapaknya masih baru…

“Berapa pak totalnya ?”, kata saya. “Wah, itu tadi uangnya sudah cukup pak”, kata Bapak tetangga tadi sambil melanjutkan “Yang penting saya sebagai pensiunan ada kegiatan”…

Wow… Deja Vu… 32 tahun yang lalu…

(Terus kapan saya akan pensiun ? Pensiun dari kantor sih mungkin 4 tahun lagi, kalau tidak diperpanjang 5 tahun sebagai Perekayasa. Tapi pensiun dari ngajar kayaknya belum terlihat waktunya kapan, asal badan masih bisa datang ke kampus, pasti setidaknya 8-10 sks tersedia bagi saya untuk cuap-cuap di depan mahasiswa….)

6 Comments (+add yours?)

  1. adhiguna
    Jan 26, 2009 @ 17:00:58

    Wah kangen pak ketemu dengan orang-orang yang bersahaja seperti pak sais itu.. di pedesaan di Jawa masih banyak orang-orang seperti itu..

    di pedesaan Eropa pun sebenarnya masih banyak orang-orang yang tulus dan baik seperti itu.

    Btw kalau sekaliber pak Tri sih gak ada istilah pensiun, masih bisa ngajar, nulis buku, jadi konsultan, pembicara seminar etc. makanya saya mau ikutin jejak pak Tri jadi wong pinter/intellectual aja..

    Yang kasihan itu PNS/Pegawai swasta yang seumur hidupnya hanya kerja di satu perusahaan, tidak punya bisnis sampingan, tidak bisa berbisnis, tidak punya advanced degree untuk modal mengajar/jadi konsultan lepas.

    Meskipun gajinya sekarang (mungkin) besar, tapi nanti kalau pensiun benar-benar bingung mau ngapain (post power syndrome).

    Saya kenal banyak sekali seperti itu, termasuk di famili sendiri.

    Mas Adhiguna,
    Tapi cerita tentang Pak Sais itu sudah 32 tahun yang lalu mas. Dulu, hutan Cepu dan hutan Ngawi juga masih lebat dan gung liwang-liwung jalmo moro jalmo mati. Tapi sekarang hutan-hutan itu sudah gundul-gundul pacul gembelengan…dan mungkin juga mengubah perilaku masyarakat yang menjadi sedikit hedonis dibanding dulu (karena di depan rumahnya sudah sliwar-sliwer motor Jepun)…

    Ya untunglah mas saya masih bisa ngajar, soalnya dulu waktu mau ngambil sekolah lagi di Amrik memang sudah diniati kalau ilmunya bakal diamalkan di perguruan tinggi, jadi milihnya juga ilmu yang paling mudah dijual, bisa ketengan bisa kodian…hehehe…

    Pegawai swasta atau PNS yang pensiunnya dengan setumpuk harta, pasti bingung mas. Lebih baik pensiun dengan harta semenjana, tapi ilmunya masih dibutuhkan masyarakat..

    Makanya, saya berterima kasih kepada Pak Billy Yudono ex boss saya dulu yang banyak memberi nasehat tentang hal ini (“Harta itu mudah hilang, bahkan dalam sekejap. Tapi ilmu akan tetap abadi sepanjang masa”)..

    Reply

  2. Kunderemp "An-Narkaulipsiy" Ratnawati Hardjito
    Jan 26, 2009 @ 22:48:48

    Jadi, pekerjaan buat pensiunnya apa, Paman? 😛
    Membuka peternakan kucing trus menyediakan jasa menangkap tikus? 😛

    Mas Kunderemp,
    Banyak sih pilihannya : 1. Memperbaiki jam rusak (jam tangan dan jam wekker) 2. Memperbaiki kunci pintu yang rusak (pintu lemari, pintu kamar) 3. Melukis wajah atau pemandangan 4. Menggambar kartun 5. Membuat patung replika pematung2 terkenal 6. Mencuci mobil atau motor 7. Reparasi sepeda 8. Beternak kucing 9. Beternak ikan 10. Menanam padi organik di Desa Dungus…

    Lha,,,banyak kan ?

    Reply

  3. rumahagung
    Jan 27, 2009 @ 13:26:19

    klo Papa saya,ktnya mao ngejalanin tour gt Pak,klo ud pensiun.
    skrg sih ud mulia dikit2.
    hehehehehhee..!!
    berhubung beliau hobi jalan2.
    kan lumayan,asal bisa “ikut” gratis dari untung ngjalanin tour.
    hehehehehhe..!!

    dan saya pun kelak akan ikut Papa saya itu.
    cuma tambah ngajar sebagai dosen.
    hehehehehe..!!

    Wah…boleh tuh, kalau perlu bantuan nanti saya bantu-bantu deh bisnis papanya, asal saya bisa ikut “jalan-jalan” gratis deh…hehehe….

    Reply

  4. rumahagung
    Jan 27, 2009 @ 17:49:13

    bole Pak.
    cuma mungkin msh lama.
    yah,10tahunan lagi lah.
    kan nunggu saya n adik yg kedua beres.
    klo yg kecil mah ada asuransinya buat ampe kuliah.
    hehehehehe..!!

    nanti dikabarin deh.
    hehehehehehe..!!

    Reply

  5. alris
    Jan 28, 2009 @ 17:15:34

    11. Jual pecel madiun yang terkenal maknyuss itu, 12. Jadi agen kayu jati gelondongan cabang jakarta buat di setor ke pabrik furniture, 13. Mencoba jadi novelis untuk nyaingin Andrea Hirata dan Habiburahman el Shirazy, 14. Jadi investor…(investor saya mau jualan belut) hwekekekek….

    Hehehehe,,,,, 😉

    Reply

  6. krismariana
    Jan 29, 2009 @ 07:25:32

    Pak, kok beberapa kali di paragraf 2 & 3 memilih memakai frasa “Stasiun Bis” bukan “Terminal Bis?” Kalau bahasa Inggris memang biasanya pakai istilah Bus Station, tapi kalau bahasa Indonesia “Terminal Bis”. Hehehe. Cuma koreksi dikit nggak pa-pa, kan Pak? 🙂

    Btw, kalau pensiun jadi petani di Dungus, asyik lo Pak! Masih segar hawanya. Kabarnya di Kare juga masih enak… 🙂

    Krismariana,
    Wah…wah…jadi masalah ya ? Maklum, saya lahir di jaman Orde Lama….hehehe…. jadi istilah “Terminal Bis” itu baru ada setelah Orde Baru di tahun 1966-an. Sebelum itu, dulu saya sering diajak bapak saya pergi ke Pagotan atau Ponorogo lewat Jalan Salak yang dulu masih berlumpur dalam itu, menuju ke “Stasiun Bis Sleko”….hehehe….

    Jadi mana yang salah, “Stasiun Bis” atau “Terminal Bis” ? Tanyalah pada rumput yang bergoyang…hahahaha…

    Iya, saya suka tinggal di Dungus waktu pensiun nanti. Itu sudah cita-cita saya sejak SMA…hahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: