Kabut Puncak Ungu

Lho,,,apa benar kabut di Puncak Pass sekarangberwarna ungu ? You bet !!!  Masak kabut kok berwarna ungu. Judul ini dibuat begitu supaya anda “kecele” dan akhirnya tertarik buat membaca posting ini…

Yang jelas, selama 3 hari kemarin ini saya menghadiri Raker kantor saya di BBPK Ciloto yang letaknya persis di sebelah Hotel Lembah Hijau, Ciloto Puncak. Walaupun raker sering dipelesatkan “oRA KERjo” tapi gak apa-apa yang penting ngumpul, ngobrol serius, dan bercanda terus selama 3 hari dengan teman2 sekantor yang sejatinya jarang saya ajak ngobrol itu. Bukannya sombong, tapi saya memang bukan tipe pegawai yang 5 hari seminggu dan 8 jam sehari ada di kantor. Namun, saya tipe orang yang selalu aktif dari satu tempat ke tempat lain…

Hari Selasa jam 11.00 saya menuju puncak sendirian, mengendarai “Mbah Kakung”. Kalau anda belum tahu apa itu mbah Kakung…sebaiknya anda baca posting-posting saya sebelumnya. Dari rumah ke Ciawi cuman makan waktu 30 menit karena sempat balapan dengan Vitara dan Land Cruiser. Ibaratnya ada teman seperjalanan gitu. Tapi dari Ciawi sampai Ciloto kok ya makan waktu 2 jam !!! Believe it or not  soalnya banyak anak sekolah keluar sekolah dan angkot-angkot pada ngetem…

Sampai di Puncak Pass yang dicirikan dengan kebun teh yang menghijau, kabut sudah menghadang. Pandangan mata cuman nembus 10-15 meter saja. Jadi terpaksa “Mbah Kakung” disuruh jalan pelan. Sampai Ciloto sudah ditunggu teman-teman selama 30 menit karena menurut jadwal saya membawakan presentasi pertama berjudul Penguatan Instrumentasi dan Sosialisai Audit Teknologi (PISAT). Untung, kebiasaan nge-BS yang sudah lama dijalankan memuluskan presentasi saya dan hadirinpun cuman bisa manggut-manggut saya tunjukin deliverables sebanyak 30 buku setebal 600 halaman itu (“Kena gertak sambal”…hehehehe…)…

Jumlah siang pulang, dan kabut Ciloto semakin menebal. Lampu headlamp terpaksa saya nyalakan. Kalau belum puas karena mata tidak bisa menembus kabut lebih jauh dari 10 meter, maka hazzard lamp-pun ikut saya nyalakan. Anehnya, di ketinggian ada kabut, agak rendah dikit kabut hilang, tapi agak rendah lagi kabut muncul lagi. Jadinya lampu headlamp nyala-mati-nyala-mati-nyala-mati….

Jelang Cisarua, hujan deraspun turun. Si mbah Kakung yang ACnya bermasalah menyebabkan kabut memenuhi kaca depan, samping dan belakang. Kabutpun ada sampai Cisarua, Cibulan, Gadog dan Ciawi. Masya ampyun…untung tidak terlalu banyak mobil jalan di Jumat siang itu…

Setelah nurunin Cak Darsono di terminal Baranangsiang Bogor, si mbah Kakung-pun saya pacu di tengah hujan gerimis turun ke arah Jakarta. Exit di Kampung Rambutan, sayapun nyambung ke JORR ke arah timur…

[Judul ini mungkin terinspirasi judul film di jaman dulu berjudul “Kabut Sutra Ungu”…]

7 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Jan 31, 2009 @ 23:36:15

    Lumayan, ya pak tiga hari dingin-dinginan dan tentunya makan enak-enakan (maksudnya makan seenak dewek tinggal pesan).
    Kalo seandainya, andaikan, andaikata, misalnya, seumpama, jika BPPT dipindah ke Serpong masihkah “oRA KERjo” di Puncak? Katanya nanti disiapin semua fasilitas di Serpong sana. Mantan kantor Pak Tri nanti tak jadiin business center grup usaha sayah…..hahaha………….

    Lebih mudah “memindahkan” orang yang ngusulin BPPT pindah ke Serpong daripada memindahkan semua staf BPPT ke Serpong…hehehe….
    Wait and see !

    Reply

  2. tutinonka
    Feb 01, 2009 @ 23:39:49

    Kabut Sutra Ungu? Itu novelnya Ike Supomo jaman kadal dulu ya Pak? hehehe …

    Pak Tri, saya butuh informasi nih. Dua minggu lagi (tgl 14, 15 Feb) saya mau ke Bogor, hotel yang bagus apa ya Pak (yang sedeng lah, bintang 3 gitu, wong nggak ada biaya dinas … hehehe). Terus, enaknya dari Cengkareng atau dari Gambir? Artinya, lebih baik saya pake pesawat atau naik kereta dari Yogya? Kalau dari Gambir, apakah ada kereta yang bagus? Terus, selain Kebun Raya, IPB, dan Istana Bogor, obyek wisata yang bagus apa ya (yang ada unsur budaya dan sejarahnya).

    Saya tunggu infonya ya Pak, terimakasiiih …

    Bu Tuti,
    Iya Bu “Kabut Sutra Ungu” adalah novelnya Ike Supomo jaman dulu yang sempat difilmkan kalau nggak salah bintangnya Jenny Rachman ya ? (Wah…sayang novel Ibu yang banyak belum sempat difilmkan…)

    Yogya-Jakarta ibu bisa memilih pakai pesawat (Mandala saya kira paling murah dan paling enak pesawatnya, perjalanan 50 menit), atau pakai KA ada Argo Lawu, Taksaka, dsb tp perjalanan 8 jam dengan harga ticket KA yang hampir sama dengan tiket pesawat. Jadi pesawat atau KA, terserah Ibu saja punya banyak waktu atau tidak. Kalau naik pesawat, dari Sukarno-Hatta Ibu bisa milih bis Damri jurusan Bogor yang bayarnya sekitar Rp 30.000++ (kalau ke Jakarta Rp 30.000, nggak tahu kalau ke Bogor), turunnya di dekat patung Kujang dekat Kampus IPB Baranangsiang. Bisa juga dari Sukarno-Hatta ibu naik Damri ke Gambir lalu dari Gambir naik KRL Express ke Bogor, tapi mungkin agak ribet ya Bu. Kalau naik KA, ya dari Gambir Ibu tinggal beli tiket KRL jurusan Bogor dengan tiket seharga Rp 10.000 (mungkin lho), atau naik Taksi Blue Bird tapi ongkosnya mungkin sekitar Rp 300.000 sampai Bogor.

    Mengenai hotel di Bogor, ada 2 yang sangat saya sarankan. Kalau Ibu ingin sejarah, pilihlah Hotel Salak Heritage (Bintang 3) yang letaknya persis di seberang Istana Presiden di Bogor. Tapi kalau mau nyoba hotel Bintang 4 yang baru soft opening (mestinya masih tarif diskon) bisa di Hotel Santika yang letaknya sekitar 10-20 meter dari pemberhentian Bis Damri yang dari Sukarno-Hatta tadi…

    Yang harus dikunjungi : Kebun Raya Bogor (is a must) yang di dalamnya ada batu tulis (tiruan, hurufnya Sanskrit tapi isinya cuman “di sebelah sono noh ada kolam”), ada gazebo peringatan Maria Raffles (isterinya Raffles yang meninggal di Indonesia sebelum ia pindah ke Singapore), lalu bisa juga diatur masuk Istana Presiden di Bogor yang di dalamnya ada kaca seribu, artinya kalau kita ngilo maka wajah kita ada 1000, bukan cuman 1 (hiii…sereeem). Selain itu, sebenarnya ada Istana Batutulis yang oleh Pemerintah barusan dikembalikan ke keluarga Sukarno (Megawati cs), istana ini letaknya di Jalan Batutulis dengan pemandangan yang seperti lukisan-lukisan di jaman dulu : sawah menghampar, gunung membiru, sungai dengan air gemericik, dan sesekali ada gadis mandi – yang ini mah di jaman baheula, ayuna mah nggeus teu aya meureun…). Last but not least, kunjungi kampus IPB Baranangsiang yang ada tanda tangan Presiden RI Pertama Ir. Sukarno pada tahun 1952.

    Selain itu Bu, Bogor hanyalah “kota sejuta angkot” dan “kota seribu FO”. Untuk nyamikan, silahkan Ibu merasakan combro (oncom di jero) dan misro (amis di jero, sama dengan Jemblem di Jawa mah…)..

    Jangan lupa rasakan asinan Bogor dan nasi oncom…

    Selamat berdarmawisata Bu !

    Reply

  3. alris
    Feb 02, 2009 @ 12:59:26

    Lebih praktis naik bus Damri dari Sukarno-Hatta. Sampai di terminal bus Damri Bogor Ibu Tuti tinggal jalan kaki ke hotel santika, ada nya di mal botani square. Nginap disana strategis, mau belanja tinggal turun ke mal, mau ke kebun raya tinggal nyebrang jalan, mau ke IPB lama tinggal jalan kaki, mau ke FO jalan kaki lagi, mau ke tempat lain banyak angkot, mau ke Bandung deket terminal bus, mau makan banyak pilihan asal ada duit 😀 , mau ketemu Pak Tri atau saya tinggal telepon *becanda…*
    Kalau Ibu Tuti mau, pergilah ke Pasar Anyar cari yang jualan mi namanya mie APOLO, yaminnya maknyuss, jus alpokat dan es campurnya ok. Saya bukan promosi, tapi itu pengalaman saya selama tinggal di Bogor. Bogor, i miss u forever.

    Reply

  4. tutinonka
    Feb 02, 2009 @ 16:23:18

    Pak Tri dan Mas Alris, terimakasih banyak informasinya. Kayaknya saya setuju naik Damri dari Sukarno Hatta saja. Tadinya saya ragu, kalau naik taksi dari bandara aman apa nggak. Pake Silver Bird pasti aman, tapi mahalnya … euy!

    Tentang hotel, kayaknya saya tertarik hotel Salak Heritage (bukan karena nggak punya uang bayar di Santika, halah! 😀 ). Kalau nggak salah, di Hotel Salak itu dulu Iwan Simatupang pernah tinggal lama, ketika menulis novel-novelnya. Saya juga suka bangunan yang tua dan bersejarah (tapi mudah-mudahan nggak angker ya … hehehe … ).

    Tentang “mau ketemu Pak Tri atau saya tinggal telepon” itu kenapa nggak serius aja … 😀 😀

    Sekali lagi terimakasih Pak Tri dan Mas Alris, besok kalau ingat, saya bawain oleh-oleh (kalau ingat lho … )

    Iya Bu, selamat jalan-jalan menikmati indahnya kota “Buitenzorg”….. 😉

    Reply

  5. alrisblog
    Feb 02, 2009 @ 20:34:29

    Asyiiiik, ada oleh-olehnya.
    Selamat berliburan, bu. Semoga menyenangkan.

    Reply

  6. Albert
    May 27, 2010 @ 23:03:09

    nanya pak…dari terminal damri bogor ke hotel mirah naik taksi apa dan ongkosnya berapa ????

    Albert,
    Itu sebenarnya jarak cuman 750 meter kok. Biasanya deket terminal bis Damri Baranangsiang Bogor ada beberapa taksi Express dan Blue Bird yang menunggu. Kalau naik taksi mungkin sekitar Rp 10-15 ribu, tapi sebenarnya tinggal nyeberang jalan dan naik angkot, ongkosnya Rp 2.500 saja…

    Reply

  7. azkania
    Jul 25, 2010 @ 22:25:41

    numpang nanya boleh ya pak?, ane mau nanya2 dikit nih, ane ceritanya mau ke jakarta timur mau bikin surprise buat sahabat ane yg baru pindahan ke sana, nah ane sama sekali buta jakarta nih, bisa bantuin ga ngasi tau rute2 yg harus ane tempuh dari cengkareng ke cawang? jl. dewi sartika (mt. haryono). dari cengkareng ane harus naik damri jurusan apa? berenti dimana pak? tolongin banget yaaaa, plisssss…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: