“The Engineer”

Sebenarnya saya pernah menulis posting ini dengan judul “Musuh yang saya sangat benci” tapi pas menulisnya Speedy di rumah hidup segan mati tak mau. Nah, ini mumpung hari Sabtu pagi dan Speedy-nya lagi lancar car car, maka saya tuliskan ini..

Rumah saya merupakan perumahan yang tidak berdiri sendiri. Dalam arti antara rumah saya dan rumah tetangga saya ada nempel sekitar 6 meter tembok yang merupakan “tembok bersama”. Akibatnya antar rumah di perumahan saya hampir dempet-dempetan kelihatannya, yang memudahkan musuh utama manusia, yaitu tikus, untuk berkelana dan mengembara dari satu rumah ke rumah lainnya dengan relatif mudah..

Nah, tikus-tikus suka mendatangi dapur dan bagian rumah saya yang bagian belakang. Jika kita lupa mencuci piring sisa makan, dan lupa membuang tempat sampah yang penuh sisa makanan, maka banyak tikus akan datang : dari atap, dari saluran air di bawah, dan sebagainya…

Jelang mantu kemarin, atap saya sudah di-refurbish alias diperbaiki. Jadi sudah nggak ada “Den Bagus” (istilah ibu saya dulu untuk “tikus”) yang datang lewat atap. Sekarang tinggal lewat saluran air, yang lupa ditutup kembali dengan benar oleh pembantu saya waktu menggunakan mesin cuci.

Kebetulan mesin cuci yang sekarang merk LG, sudah saya pakai selama 10 tahun lebih dan masih enak dipakainya. Sayangnya, karena dekat dengan tempat pencucian piring maka logam di bagian bawah sudah karatan dan seal plastik di bawah mesin cuci sudah digerogoti oleh Den Bagus ini..

Tikus-tikus kecil biasanya mudah tertangkap oleh lem. Sebenarnya saya segan sekali membunuh tikus dengan lem tikus karena kasihan melihat mereka terjerat lem dan tidak bisa bergerak. Mungkin saya terlalu lama sekolah di Amrik dan ada lagu “Somewhere Out There” yang bercerita tentang seekor tikus kecil yang hilang di kota New York. Lagunya sangat menyentuh. Apalagi, saya juga lihat film kartun “Tom and Jerry” dan setiap kali saya memihak si Jerry, tikusnya, daripada si Tom, kucingnya. Selain itu, film-film tentang tikus kecil yang diadopsi sebagai anak angkat oleh Gina Davis di “Stuart Little” juga sangat mempengaruhi “pandangan politik” saya tentang tikus..

Sehingga, saya hanya menangkap tikus jika mereka sudah merajalela dan mengobrak-abrik rumah, membuat bau ook dan iiknya yang tidak sedap, dan mendeklarasikan perang terhadap saya, komandan rumah ini !

Nah, kalau tikus kecil mudah tertangkap lem, dan tikus besar mudah tertangkap perangkap tikus yang mirip lemari kecil dengan pintu berper di ujungnya itu, maka ada sekelas tikus yang sangat sulit ditangkap. Saya menyebut mereka itu “the Engineer” atau “Sang Insinyur”..

Sudah dua kali saya nemu tikus yang sebenarnya bisa lulus ITB dengan mudah ini saking pinternya. Pertama, ada seekor tikus yang selalu melubangi “tudung saji” alat penutup makanan saya. Setiap malam ia membuat lubang di tudung saji seluas 2 x 4 cm2. Esok paginya saya tutup lubang itu dengan isolasi warna coklat. Malamnya dia buat lubang lagi di sebelahnya, paginya saya tutup dengan isolasi. Begitu seterusnya, sehingga lubang yang ia buat lebih dari 25 lubang !!! Wow…pinter sekali. Setiap kali saya kasih lem, ia tidak mau lewat di atas lem, tapi temennya yang ketangkep. Terbukti, pembuatan lubang di tudung saji saya tetap saja terjadi. Akhirnya, pada suatu hari, ia tertangkap !!! Tikus jantan jenis clurut dengan muka panjang dan agak bau anyirpun menghuni kamar jeratan tikus saya. Iapun dihukum mati dengan dicelupkan ke air dingin sampai tidak bisa bernafas kembali..

Sekitar 2 minggu lalu, ada seekor tikus yang pinter seperti “the engineer” sebelumnya. Ia selalu lolos jebakan lem. Dan ia selalu menghuni mesin cuci saya. Celakanya, anak saya yang kecil begitu parno kalau melihat tikus. Setiap kali saya mandi di kamar mandi belakang, terdengar suara gludag-gludug si tikus bermain di lubang bawah mesin cuci. Walaupun isteri saya sudah beli lagi mesin cuci fuzzy logic yang bersuara indah itu (nyaris tanpa suara, tapi kalau cucian sudah selesai, ia “menyanyi”), tapi mesin cuci itu belum dipakai kecuali untuk men-spin baju aja.

Akhirnya, kemarin setelah gajian sayapun pergi ke toko “Go In” untuk beli dua perangkap tikus (perangkap tikus saya yang dulu entah kemana ketika rumah saya dipakai mantu). Satu perangkap harganya 12 ribu. Sayapun mampir warung padang langganan saya dan pesan nasi plus ikan kembung bakar. Sampai rumah, kepala dan ekor ikan kembung tidak saya makan, buat menjebak “the engineer”…

Sampai jam 12 malam, saya intip jebakan bikinan “Go In” itu belum mengena. Tapi tadi pagi waktu ambil wudhu buat shalat Subuh, saya lihat pintu jebakan yang saya taruh dekat mesin cuci “asrama” si engineer itu sudah menutup.

Gotcha !!!! Sebuah tikus kecil yang manis dengan warna kehitaman yang kelihatannya cowok, sedang meringkuk di dalamnya. Saya sebenarnya paling benci membunuh tikus karena tetap teringat si Jerry, Stuart Little, dan tikus yang ingin pulang karena rindu keluarganya dan menyanyikan “Somewhere Out There”…. tapi “the engineer” sudah mengganggu ketenangan saya selama 3 minggu terakhir ini dan menurut KUHPT (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tikus) pasal 201, ia telah bersalah merusak ketenangan hidup manusia dan oleh karena itu dihukum mati dengan dihadapkan ke regu pencelup di sebuah ember…

Saya benar-benar tidak ingin melakukannya, tapi…..

Border town

Masih ingat film seri yang diputar saban sore di RCTI sekitar tahun 1993-an dulu yang berjudul “Border Town” ?

Film seri itu menarik karena beberapa hal. Musik temanya sangat terkenal dan sering dinyanyikan oleh anak2 kecil waktu itu walaupun dengan kata-kata “Teng…teng..teng…teng…teng..teng…”. Lokasi ceritanya di sebuah kota perbatasan (border town) antara Amerika Serikat dan Kanada yang walaupun negara tetangga, tetapi kondisi dan pemandangannya sangat kontras..

Kanada yang pada masa itu (menurut film) masih jajahan Inggris, semuanya serba rapi : kotanya rapi, penduduknya pakai baju-baju rapi, dan bahkan polisi perbatasannya memakai seragam polisi berwarna merah cerah (saya nyebutnya “Merah Ferrari”) dengan selempang warna kuning emas, dan tidak lupa topinya yang Inggris banget deh..

Nah, di perbatasan di sisi Amerika Serikat ada pos polisi dengan Sheriff-nya yang berbaju cowboy dengan nuansa putih kekuningan alias dekil, dengan sepatu dekil, dengan pistol dekil, dan topi cowboy yang juga dekil..

Tapi kemampuan Amerika Serikat dibandingkan dengan Kanada pada waktu itu (menurut film) sudah sangat kontras. Si polisi perbatasan Kanada selalu menemui kesulitan bila menemui hal-hal aneh seperti penjahat kambuhan (biasanya berpakaian ala cowboy) yang menyeberang perbatasan. Sebaliknya, Sheriff di sisi Amerika Serikat sangat cekatan dalam mencabut pistol dan penjahat yang mendekatpun dipastikan bakal keteter sama sheriff yang satu ini. Memang rekrutmen sheriff di Amerika Serikat jaman dulu didasarkan kepada kemampuan pribadi si sheriff yang bersangkutan terutama dalam menghadapi penjahat (saya ingat film masa SMA yang sheriff terpilihnya dibintangi oleh Joe Namath yang berbadan besar yang selalu bersenjatakan tongkat pemukul baseball).

Apakah “perbedaan” kedua negara yang kontras ini dahulu menyebabkan saya lebih memilih melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat dibandingkan dengan Kanada ? Kayaknya sih enggak, karena waktu kantor saya menawarkan saya sekolah pada waktu itu, saya boleh mengambil bidang studi apa saja di 14 negara..

Sayangnya, selama saya sekolah di AS saya belum pernah menyeberang ke Kanada. Selain faktor duit (itu yang terutama) yang cekak, menyeberang ke Kanada juga dimungkinkan jika di musim Summer saja karena salju tidak ada. Musim-musim lainnya, sudah dipastikan perbatasan AS-Kanada akan tertumpuk salju jalan-jalannya…

Kabarnya Kanada mempunyai alam yang indah (terutama Banff), cewek-cewek yang lebih cantik serta ramah walaupun pucat dan lugu, serta harga makanan yang murah (soalnya waktu itu 1 dollar Kanada hanya bernilai 60% alias 60 cent dollar Amerika)..

Oh “Border Town”, anda kau diputar lagi di TV Indonesia, saya pasti akan menontonnya kembali…

Sinden dan Siter

Bagi anda penduduk kota kecil – Madiun – yang sekarang tinggal di kota itu, mungkin yang saya ceritakan ini sudah punah dari kota anda sekarang ini. Orang lebih suka pergi ke Mal, pergi ke alun-alun, atau santai menunggu sore di pinggir Kali Madiun, daripada mendengarkan “Sinden dan Siter”…

Waktu saya masih duduk di SMA 1 Madiun tahun 1973-1975 yang lalu, kalau pulang sekolah di waktu siang atau di waktu pulang les sore hari, tepat di sebelah timur SMA 1 Madiun kira-kira berjarak 100 meter, persis di bawah pohon waru banyak angkot-angkot jurusan Dungus pada ngetem di sana…

Nah, para sopir dan kenek angkot yang sedang kecapekan itu biasanya dihibur oleh iringan musik “unplugged” (tanpa loud speaker listrik) berupa kuartet pengendang, pemain rebab, pemain siter (kecapi) dan pemain bas berupa bumbung bambu. Trio pemusik Jawa ini mengiringi nyanyian seorang penyanyi Jawa – yang disebut Sinden – menyanyikan lagu-lagu Jawa yang merdu, melankolis, dan mendayu-dayu sehingga para sopir angkot yang kecapekan itu bisa tidur pulas, apalagi dibelai oleh belasan pohon waru yang daunnya melambai-lambai ditiup angin…

Pemandangan seperti ini sepintas “biasa” saja, apalagi bagi orang yang biasa setiap hari melihat “performance” seperti ini. Ternyata ada seorang teman di kantor bernama Sudjud Suratri, yang dulu kakaknya bekerja sebagai pilot di Lanuma Iswahyudi sehingga iapun sebagai anak Yogya sering bermain ke Madiun. Nah, kakaknya Sudjud yang pilot AURI ini yang memberi komplimen terhadap “performance” Sinden & Siter tadi “Lha iya, apresiasi terhadap budaya Jawa seperti yang saya lihat di Madiun ini jarang sekali saya lihat bahkan di pusat kebudayaan Jawa di Yogya sekalipun. Di Madiun ini, anak-anak muda pada berkumpul mengelilingi “performance” ini dan ikut menyanyi Jawa mengikuti sinden, sambil menepuk-nepukkan tangan, dan ikut sesenggakan seolah mendukung nyanyian si Sinden”..

Sayapun terhenyak, kalau seorang priyayi Ngayogyakarta sudah berkata, masak kita tidak percaya ?

Diam-diam sayapun bangga sebagai warga kota Madiun yang masih menghargai budaya Jawa yang “adiluhung” itu..

Dulu, karena akhir-akhir ini saat saya pulang kampung ke Madiun semuanya sudah hilang : pohon-pohon waru berdaun lebar, colt-colt Mitsubishi T120 yang kokoh, sopir-sopir angkot yang dekil dan berangasan, dan timer yang berlagak jagoan. Termasuk yang hilang : seperangkat kuartet Javanese musician : pemain rebab, pemain siter, pemain kendang, dan peniup bass bambu, dan yang terpenting Sinden yang suaranya nyaris semerdu Tjondrolukito…

Apakah anda merasa kehilangan juga ?

Blog ini sudah dikunjungi 150,000 kali

Baru satu setengah tahun aktif ngeblog, ternyata blog ini sudah dikunjungi 150,000 kali. Bagi sebagian orang jumlah hits segitu masih terlalu kecil, tapi bagi blog ini yang ceritanya sambil lalu, ndeso, katro, dan hanya cerita tentang makanan dan hal-hal sederhana lainnya, mencapai jumlah pengunjung 150,000 adalah satu hal yang patut diherani tapi juga disyukuri..

Terima kasih bagi pembaca setia blog ini, baik pembaca pasif yang selalu membaca blog ini tapi tidak pernah berkomentar sekalipun, atau pembaca yang cuman Say Hi cuman sekali, atau pembaca aktif yang tidak hanya membaca secara kritis blog ini, tapi juga mengomentari celah yang bisa dikomentari atau kelemahan dari argumen yang saya tuliskan…

Apapun alasan anda mengunjungi blog ini, baik sengaja ataupun tidak sengaja, saya mengucapkan banyak terima kasih…

Bagi saya pribadi, memelihara sebuah blog agar terbit terus setiap hari dan komentar pembaca bisa ditanggapi dengan baik, itu sudah suatu kegiatan yang menimbulkan nilai tambah pada diri saya : tambah seneng dan tambah sibuk..

Tari Bondan

Jaman sekarang ini yang remajanya lebih suka jalan-jalan ke mal dan nonton sinetron di TV, kelihatannya amat sangat jarang remaja putri yang menguasai tari daerah. Bila di tanah Jawa, menguasai Tari Bondan..

Padahal di tahun 1960an, Tari Bondan adalah tari unggulan atau tari wajib bagi cewek-cewek cakep untuk menunjukkan siapa jati dirinya. Setahu saya, hampir semua penari Tari Bondan adalah kembang kampung yang tiada duanya cakepnya. Tari Bondan ini juga paling sulit ditarikan karena sambil menggendong boneka, si penari harus siap-siap naik di atas kendi yang berputar sambil memutar-mutarkan payung kertasnya…

Sambil menari dalam gerakan yang amat sangat terlalu begitu sulit itu, si penari juga harus menyanyi dengan suara yang super merdu :

Kae ono manuk podang/tak ledung-ledung/menclok ono papah gedang/tak ledung-ledung…

Itu ada burung Kepodang/nina bobok nina bobok/hinggap di atas pohon pisang/nina bobok nina bobok…

There is a Kepodang bird/nursery rhyme nursery rhyme/sit on a branch of a banana tree/nursery rhyme nursery rhyme..

Dan biasanya, para cowok kecil yang nonton pada kepincut (had a crush) hatinya, dan selama 7 hari 7 malam tidak akan lupa dari si wajah penari Bondan yang cantik itu…

Dalam kasus saya, saya malah belum lupa walaupun 40 tahun lebih telah berlalu…

Hehehe..

Cerita cinta paling seru di dunia wayang

Hanomanpun telah berhasil menyusup ke daerah musuh di Alengkadiraja yang penjagaannya konon paling ketat yang langsung diawasi oleh Raja Rahwana. Iapun menahan nafasnya dengan hati-hati supaya tidak terdengar oleh pengawal keputren yang menjaga Sinta, isteri Rama..

Sayup-sayup terdengar lagu nyanyian trenyuh yang mengiringi setiap langkah Hanoman ini :

Anoman ma/lumpat sampun/prapteng witing/nogosari… /Mulat mangandap/katingal/sang dyah ayu/kuru aking….

Hanoman telah/melompat/ke atas pohon/nagasari…./Melihat ke bawah/terlihat/sang wanita ayu/kurus badannya….

Hanoman has/jumped over/the tree of/nagasari…/Looking at bellow/seen by him/the beautiful woman/looks so frail….

Itulah salah satu segmen dalam cerita Ramayana yang dimulai dari tertariknya Maharaja Rahwana akan kecantikan Dewi Sinta yang ditinggalkan sendiri oleh Rama yang sedang berburu. Dengan ajian Rawarontek, Rahwanapun dengan mudah menarik, membopong dan melarikan Dewi Sinta tanpa kesulitan sama sekali karena semua penjaga Sinta jatuh tertidur dengan pulas begitu Rahwana telah datang di sekitar tempat Dewi Sinta lagi termenung..

Rama pun sangat kebingungan akan keberadaan isteri yang sangat dicintainya, Sinta. Dari olah TKP (tempat kejadian perkara), dan dengan saksi mata yang lengkap, berikut barang bukti materiil berupa selendang Dewi Sinta yang robek dan robekan kain Rahwana, Rama pun mengetahui bahwa seorang Raja yang sakti telah menculik isterinya ke sebuah pulau nun di ujung selatan negaranya…

Mengingat Raja Rahwana mempunyai bala tentara paling banyak jumlahnya, dipersenjatai dengan senjata paling modern, dengan doktrin negara yang kokoh, dan dijaga oleh Kumbakarna – adik Rahwana – raksasa yang sangat sakti, kelihatannya merupakan sebuah “mission impossible” bila Rama mengejar langsung Sinta menyeberangi lautan menuju Alengka. Karena kalau hal ini ia lakukan, ia seperti mengundang kematiannya sendiri (bahasa Jerman-nya “kutuk marani sunduk”…, Jerman = jejere kauman)..

Setelah hampir setahun Rama keluar masuk hutan dan tidak menemukan petunjuk tentang keberadaan Sinta, pada suatu hari Rama melihat seekor kera terjepit di antara 2 pohon. Dengan hati-hati kera tersebut ditolongnya dengan meminumkan sesendok demi sesendok air kelapa muda yang rasanya lebih enak dari “Ponari Sweat” itu. Ternyata kera yang menderita karena terjepit pohon itu bernama Sugriwa.

“Wahai Rama, raja yang agung, saya terjepit pohon karena dijepit oleh saudara saya Subali yang sangat sakti. Ia bisa mati, tapi begitu tubuhnya menjejak tanah, maka iapun hidup kembali”..

Rama pun lalu memberikan ilmu kanuragan dan ilmu olah pikiran tambahan sebesar 24 sks (setara program Master) kepada Sugriwa. Pada akhir program, Rama pun melakukan simulasi tempur dengan Sugriwa, dan Rama pun puas dengan kemajuan Sugriwa dan thesis akhir Sugriwa pun ia beri nilai A+ alias Magna Cum Laude…

Sugriwa pun siap untuk berangkat ke Gua Kiskenda, tempat Subali bertapa dan menunggui markas besarnya. “Hai Rama, wahai raja yang adil, jika saya nanti di Gua Kiskenda tolong diperhatikan aliran sungai yang keluar dari gua itu. Bila air sungai itu berwarna merah, berarti saya sudah tewas oleh Subali. Tapi bila air sungai itu berwarna putih, berarti Subali yang pralaya”..

Rama dan Sugriwa pun menuju gua kiskenda. Tapi untuk menjaga asas “fairness of the game”, Rama hanya menunggu di depan mulut gua. Iapun membangun bivak berupa daun pisang dan kayu-kayu kering yang berguguran. Tidak sampai 5 menit Sugriwa masuk gua, terdengar tereakan khas kera yang mere..mere..(Ngieh..geeeerrr …cuittt….geeeerrr…) dan gedebag-gedebug selama 7 hari 7 malam dan tidak ada jeda sedikitpun. Rama pun dengan sabar menunggui pertempuran antar 2 saudara yang paling sakti ini..

Di akhir hari ketujuh, ternyata sungai yang keluar dari Gua Kiskenda berwarna putih, berarti Subali pralaya dan Sugriwa pemenangnya…

Setelah menyembuhkan luka bekas pertempuran selama 10 hari 10 malam, Sugriwa pun merasa fit lagi. Dengan ditemani Hanoman, keponakan Sugriwa, dan 12 divisi pasukan kera…maka Rama, Sugriwa, Hanoman pun berjalan ke selatan menuju ke Alengka…

Singkat cerita, seperti nyanyian yang didendangkan oleh dalang …eh sinden, di awal cerita ini…

Cerita cinta Rama dan Sinta tidak ada duanya di dunia pewayangan. Secara kualitas dan kuantitas Cinta, cinta Rama kepada Sinta dan sebaliknya bener-bener “Nothing compare to you” lah…(lho kok jadi ngacau)…

Untuk jelasnya, baca aja deh komik Ramayana oleh R.A. Kosasih…

[Cerita ini saya persembahkan kepada teman saya Mas Didik alias Simbah, yang dulu waktu SD dan SMP suka memerankan Anoman dan karena itu sering mengelus-elus Dewi Sinta kecil yang diperankan oleh banyak cewek itu…]

Insiden Sukhoi dikunci

Lahir di Madiun, dekat dengan lapangan terbang tempur paling canggih, dari kecil saya sudah tertarik dengan segala yang berbau pesawat militer : dari helikopter, pesawat angkut ringan, pesawat angkut berat, pesawat latih, pesawat pemburu, sampai pesawat pembom..

Di bulan Oktober 1986 dalam penerbangan saya dengan pesawat All Nippon Airways (ANA) dari Tokyo menuju Los Angeles selama lebih dari 15 jam, di atas pesawat diputar film “Top Gun” yang antara lain dibintangi oleh Tom Cruise dan Kelly McGillis. Film “Top Gun” ini mungkin salah satu film yang bisa menjelaskan mengapa sebuah pesawat tempur di-lock atau dikunci, baik oleh teman pilot lain dalam suatu latihan simulasi tempur, maupun oleh pilot musuh dalam penerbangan patroli atau misi tertentu. Film lain yang juga menarik mungkin adalah “Behind The Enemy Line”..

Walaupun di peristiwa di atas Laut Makassar kemarin, Sukhoi dipiloti oleh seorang pilot latih Rusia, pertanyaannya siapa yang mengunci pesawat Sukhoi kita ? Pertanyaan ini penting karena pesawat kita terkunci berarti 1 langkah sebelum pesawat kita diluluhlantakkan oleh sebuah missile pesawat musuh..

Konon Sukhoi (saya tidak tahu yang terlibat insiden Sukhoi-27 atau Sukhoi-30) yang terkunci itu dalam penerbangan latihan rutin. Tapi kenyataan bahwa pesawat Sukhoi yang lincah itu bisa “terkunci” tentunya ada pesawat lain (pesawat negara lain !!!) yang jauh lebih lincah dengan pilot yang jauh lebih canggih lagi baru peristiwa “mengunci” pesawat Sukhoi kita itu bisa terjadi..

Blog yang sederhana ini tidak bermaksud membahas lebih lanjut siapa yang mengunci pesawat Sukhoi kita, dan mengapa mereka itu melakukannya, soalnya katanya pesawat Sukhoi kita ada di udara Indonesia dan tidak melanggar wilayah udara negara lain..

Jadi menurut saya, yang “mengunci” pesawat Sukhoi kita adalah Gatotkaca !!!

Previous Older Entries