Bambang Ekalaya penemu e-Learning ?

Jangan terintimidasi dengan “indahnya” judul ini sehingga anda tertarik membaca posting ini. Blog seperti halnya koran atau majalah, selalu membuat Headline yang membuat kening berkerut, mata membelalak, dan kadang-kadang jakun turun naik ataupun cuping hidung kembang kempis (belum termasuk daun telinga panas bergerak-gerak…)…

Sewaktu kecil, selain pencinta komik Ganes Th, Djair Warniponakanda, Yan Mintaraga, dan Teguh Santosa, saya adalah pecinta berat komik-komik wayangnya R.A. Kosasih yang diterbitkan oleh Penerbit …uh..apa ya ?..yang konon terletak di Jalan ABC Bandung itu. Konon R.A. Kosasih sekarang masih hidup walaupun dalam keadaan sakit karena beberapa saat yang lalu saya membaca di sebuah koran ada komunitas komik yang mengumpulkan dana untuk membiayai perawatan beliau…

Nah..banyak sekali komik R.A. Kosasih yang saya baca waktu kecil, bahkan saya mempunyai satu lemari penuh komik R.A. Kosasih karena sewaktu SD saya tidak pernah jajan dan selalu menabung uang jajan supaya bisa membeli komik-komik R.A. Kosasih di Toko Amin yang terletak di Jalan Panglima Sudirman di pojokan Jalan Jambu Madiun itu. Namun tidak semua komik R.A. Kosasih yang saya beli komik baru, karena beberapa di antaranya saya hunting di pasar loak yang digelar di pinggir jalan waktu malam hari di Jalan Progo itu (salah satu jalan di Proliman, Madiun)…

Namun komik favorit saya tetaplah epik Mahabharata dan Ramayana, walaupun masih ada komik lainnya yang tak kalah menarik seperti Nilam dan Kesuma, misalnya. Walaupun Ramayana sedikit lebih menarik menurut saya karena ceritanya lebih ringkas (kalau nggak salah ada 10 jilid dibanding dengan Mahabharata yang 40 jilid), namun Mahabharata tetaplah yang paling menghadirkan cerita-cerita yang menggetarkan jiwa. Salah satunya cerita tentang Bambang Ekalaya yang berasal dari daerah selatan India dan ingin berguru kepada profesor beladiri dan olah senjata paling masyhur kala itu di Amartapura yaitu Pandita Dorna…

Karena Bambang Ekalaya bukan berdarah bangsawan, apalagi berasal dari negara yang cukup masyhur, maka Pandita Dorna-pun tidak sudi menerimanya sebagai murid di mata kuliah “Cara Memanah yang Baik” yang kode mata kuliahnya CM101 itu..

Ditolak oleh Pandita Dorna membuat Bambang Ekalaya patah hati dan hatinya hancur berkeping-keping karena ia sudah puluhan hari berjalan kaki dari kota tempat tinggalnya di selatan India ke arah utara India dengan harapan menjadi pemain panah yang jempolan..

Namun, sebenarnya penolakan Pandita Dorna itu punya alasan politis. Pertama, Bambang Ekalaya bukan berasal dari ras Aria yang berkulit putih, tinggi besar, berhidung mancung dan bermata biru (perhatikan, beberapa orang India bermata biru !). Kedua, sebenarnya Dorna sudah membaui bakat alami Bambang Ekalaya yang luar biasa karena waktu mengujinya bermain panah, Bambang Ekalaya sudah bisa mengatur pernafasan dengan baik, bisa memicingkan mata kiri dengan baik, dan jari-jarinya bisa “keriting” meremas busur anak panah dengan sangat alami, sehingga Pandita Dorna sebagai “Professor yang politikus” bisa membaui masa depan yang suram kalau Bambang Ekalaya sebagai muridnya karena bisa-bisa menyaingi popularitas Arjuna dan Karna yang menurut “panggilan sejarah” harus menjadi 2 tokoh utama di Perang Bharatayuda nanti…

Patah hati ditolak calon guru besarnya, Bambang Ekalayapun dengan gontai berjalan kembali ke desanya. Namun karena kemauannya yang sangat kuat, maka malu rasanya pulang kampung tanpa membawa hasil. “Lebih baik pulang nama daripada gagal tugas”, begitu kata hatinya (Lho…kalau kata hati ini ditulis, berarti Bambang Ekalaya juga penemu motto Pasukan Khusus – Kopassus – yang terkenal itu…)…

Maka di suatu hutan lebat yang masih banyak macannya, Bambang Ekalayapun membabat hutan untuk dijadikan tempat tinggalnya. Dia tidak peduli hutan sangat lebat itu bisa membahayakan jiwanya karena menurut dalang Jawa hutan itu saking lebatnya sudah seperti Hutan Mentaok dimana “jalma mara, jalma mati” (manusia datang, manusia mati). Diapun membabat alas sehingga seluas 2 hektar (hampir seluas kampus Binus Syahdan, kenapa sebesar itu, tanya saja sendiri ke Bambang Ekalaya !)..

Esok harinya setelah hutan sudah di “land clear”, iapun menebang satu pohon jati berumur 60 tahun setinggi 60 meter. Bagian kayu jati dekat bonggol itupun dipahatnya sehingga menjadi patung Pandita Dorna yang sedang duduk. Dengan konsentrasinya yang jempolan dan bisa mengalahkan konsentrasi peserta silat Merpati Putih, Bambang Ekalayapun membayangkan bagaimana kalau-kalau Pandita Dorna mengajarnya..

“Ajowww Anggir, agak ditarik sedikit tali busurnya, tahan nafas, mata picing sebelah kiri, tali menempel bibir, konsentrasi lihat sasaran, dan lepaskan  !!!!”, seolah Pandita Dorna mengatakan itu semua, padahal secara fisik Pandita Dorna tidak hadir di sana. Jadi, Bambang Ekalaya telah melakukan e-Learning pertama di dunia !!!!!

Akhir cerita, Bambang Ekalaya tewas terbunuh oleh tangan Pandita Dorna sendiri karena Dorna menganggap adanya tiga matahari di dunia wayang di era Mahabharata adalah “a little bit too much” dan oleh karena itu Bambang Ekalaya harus dimusnahkan dan dibinasakan…

Sejarah yang sedih memang, tapi setidaknya e-Learning yang sekarang ini banyak dilakukan di kampus-kampus yaitu dengan membayangkan profesor mengajar di depan kelas, bisa dikatakan pertama kali ditemukan oleh Bambang Ekalaya..

Siapa tahu, Bambang Ekalaya juga penemu Kopassus dan juga penemu Merpati Putih ?

Silahkan berkomentar…

10 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Feb 02, 2009 @ 12:43:16

    Saya gak begitu paham tentang dunia wayang, pengen nih baca epik Mahabrata dan Ramayana.
    Ada info pak dimana beli buku itu yang seken, kalo beli baru di gramed bagi saya saat ini mahaaaallll…

    Uda Alris,
    Wah…kalau mau baca komik Mahabharata atau Ramayana bisa juga masuk keluar pasar tradisional di Jakarta ini, seperti Pasar Sunan Giri (PSG) di Rawamangun sana, yang di dalamnya ada kios kecil persewaan komik. Nah, di sana lengkaplah waktu bulan Oktober 2008 saya lihat, dari komik-komik karangan R.A. Kosasih sampai komik Yan Mintaraga yang waktu kecil begitu saya senangi..(O ya, biaya sewanya paling hanya beberapa ribu rupiah saja)..

    Reply

  2. yulism
    Feb 03, 2009 @ 03:17:43

    Sering dengar atau melihat cerita wayang tapi cerita yang ini belum pernah Pak Tri. Menarik sekali, memang banyak sekali hal yang bisa diambil dari cerita pewayangan. Jadi ingat Alhamruhm Bapak saya yang sangat menyukai cerita wayang. Thanks

    Mbak Yulis,
    Sudah kembali ke Colorado Springs lagi setelah napak tilas sejarah masa kecil di Maospati mbak ? Saya waktu kecil suka banget cerita wayang mbak, saya bahkan membuat wayang sendiri dan mendalangnya di hadapan teman-teman kecilku dulu…

    Wah..kalau mbak tertarik cerita wayang, nanti deh saya ceritakan kembali versi saya terutama yang memberi kesan dan pesan tentang berbuat kebajikan…

    Selamat kembali menikmati salju mbak (sementara di Madiun dan Solo dan Bojonegoro sedang menikmati banjir..hehehe…)…

    Reply

  3. krismariana
    Feb 03, 2009 @ 16:33:13

    oh toko Amin tuh dulu di pojokan jalan Sudirman to, Pak? 🙂

    dulu saya merasa toko Amin itu toko buku yang buesaaar sekali. semuanya ada. tapi setelah saya besar dan melihat toko-toko buku yg lebih besar dan lebih lengkap, rasanya toko Amin kok biasa saja ya hehehe :p

    cerita pewayangan memang bagus. imajinasi para pengarangnya juga jempolan. sekarang ada yg meneruskan apa enggak ya?

    btw, apakah panjenengan teman bulik saya ya (Kris Pudyastuti)? dulu masuk BPPT juga tahun ’82.

    Krismariana,
    Toko Amin di Madiun sebenarnya ya yang di jalan Haji Agus Salim dekat Proliman itu. Toko bukunya besar, tapi kebanyakan hanya ATK dan jarang buku-buku bacaan seperti di Gramedia (katanya di Madiun belum ada Gramedia ya ?).

    Sedang toko Amin yang di ujung Jalan Jambu itu adalah tokonya Pak Amin, entah apa nama tokonya saya juga lupa (mungkin Toko Buku Sederhana)..

    Ya Kris Pudjiastuti tante anda itu adalah teman sekelas di SMA 1 dari kelas II IPA2 sampai III IPA2. Juga teman saya di BPPT dulu tapi kabarnya sudah pindah ke Pertamina ya ?

    Reply

  4. liswari
    Feb 05, 2009 @ 01:56:52

    Wah aku jadi pengen nonton Mahabarata lagi Om.. dimana nyarinya yah ??

    Mbak Lis,
    Ada good news nih….saya barusan klik http://www.google.com/ dan memasukkan string pencarian “You Tube Mahabharata” ternyata banyak sekali episode Mahabharata yang ada di You Tube, dari yang 22 menit sampai yang 45 menit. Silahkan nonton sendiri mbak. Tapi saya nggak yakin kalau ada episode tentang Bambang Ekalaya yang belajar secara e-Learning kepada Professor Panah dari Amartapura University yaitu Professor Dorna..

    Reply

  5. alris
    Feb 06, 2009 @ 01:06:28

    Tahun 1997 ada tayangan Mahabharata di tv, impor dari India tapi udah di sulih bahasa kedalam bahasa Indonesia. Saat itu teman saya, -arek suroboyo- kalo udah jam sembilan malam pasti gak bisa diganggu-gugat, acaranya wajib nonton Mahabharata. Saya cuma ingat pakaian pemerannya yang didominasi warna kuning…kuning bukan parpol.

    Uda Alris,
    Ya…saya dulu nonton beberapa episode, tidak keseluruhan episode karena ada yang bagus episodenya ada yang ceritanya kepanjangan. Yang menjadi aneh karena baju “wayang orang” India beda dengan di Jawa.. Sedang di Jawa, para dalang jempolanpun kadang tidak berani melakonkan Mahabharata apalagi Bharatayudha…katanya syaratnya berat : harus puasa 40 hari 40 malam…dst…

    Sekarang film India “Mahabharata” itu sudah ada di You Tube dengan memasukkan di Google “You Tube Mahabharata” sudah ketemu kok….. Tapi mungkin text-nya berbahasa Inggris karena bahasa asli film tersebut adalah bahasa Hindi…

    Reply

  6. Sulis
    Feb 12, 2009 @ 12:46:16

    Mas Tri saya jadi teringat masa kecil saya di Solo. Saya pengembar berat komik dan cersil, tapi gak pernah beli (uang jajan minim), cukup menyewa, juga penggembar cerita wayang.
    Ini kunjungan saya yang pertama di sini. Senang sekali dengan gaya tulisannya. Salam

    Sulis,
    Wah..terima kasih atas kunjungannya ke Blog ini. Senang sekali mendengar anda juga penggemar komik dan cersil walaupun tidak beli sendiri tapi meminjam. Tapi sama aja kok mbak beli atau boleh pinjem, yang penting enjoy aja… (lho kok jadi beriklan ?) .. 😉

    Saya dulu belinya waktu SD karena saya dapat uang jajan tapi terpaksa “puasa jajan” selama sebulan atau lebih supaya bisa beli komik. Tapi bedanya anak jaman dulu sama jaman sekarang, saya dulu ke sekolah naik sepeda sendiri jadi nggak keluar uang untuk ongkos angkot. Tapi anak sekarang kan keluar uang untuk ongkos angkot. Maka, uang jajan relatif utuh soalnya angkotnya ngontel sendiri…hehehe…

    Mudah-mudahan blog ini anda manfaatnya bagi anda, minimal buat menghilangkan stress. Bukankah begitu ?

    Reply

  7. sakradeva
    Feb 18, 2009 @ 07:15:07

    ha ha…

    jadi ketawa baca tulisan anda, kenapa ga jadi dalang aja, anda kaya dengan improvisasi
    ………………………….

    oh ya ada satu hal yang menarik bagi saya, Bambang Ekalaya dibunuh oleh Drona ?
    versi mana tuh Wayang atau Versi India
    ato imaginasi anda sendiri.

    klo versi wayang yang dijadikan komik oleh Kosasih, bambang Ekalaya dibunuh oleh Arjuna atas bantuan Kresna

    dalam versi India, Drona meminta ibu jari tangan kanan Ekalaya sebagai guru Daksina (jasa guru), sehingga kemampuan Ekalaya ga bisa menyaingi Arjuna……

    mungkin anda dapat sumber lain yg tidak saya ketahui……

    Sakradeva,
    Yah….namanya improvisasi kan bisa aja jalan ceritanya agak dipelintir-pelintir dikit. Ibarat main jazz, nggak mungkin dong kita main jazz dengan nada C, G, F atau D, G, A saja tapi harus ada C#7, G#5, F#3 dan seterusnya…

    Tapi intinya tetap, yaitu menurut “penguasa” di Amartapura Bambang Ekalaya harus dimusnahkan atau dibinasakan soalnya kalau tidak akan “mengganggu” masa depan di peperangan Baratayudha antara Arjuna dan Karna. Kalau Bambang Ekalaya ada pastilah terjadi peperangan antar 3 pihak yaitu Arjuna, Karna dan Ekalaya dan itu sangat tidak dikehendaki oleh “Dewa Wisnu” yang sementara ini mengejawantah sebagai Kresna…

    Panah siapa yang membunuh Bambang Ekalaya ? Arjuna, Kresna, atau Dorna ? Wah..tidak tahu, waktu itu belum ada forensik seperti pengertian sekarang ini, jadi panah siapa kita benar-benar tidak tahu. Memang benar kata anda, setelah Ekalaya amat mahir bermain panah dan sudah semahir Arjuna dan Karna, Dorna-pun was-was dan meminta Ekalaya “mendonasikan” jempol tangan kanannya sebagai tanda setia (seperti Yakuza di Jepang sekarang), dan sebagai murid yang patuh (walaupun bergurunya kepada “patung Dorna”) Ekalayapun mau saja jempol tangan kanannya dipotong. Tentu saja kemampuan Ekalaya setelah jempolnya dipotong sudah menurun, tapi masih jadi ancaman bagi Arjuna dan Karna. Maka selanjutnya, Ekalaya-pun dibinasakan…

    Itulah bedanya Blog dengan tulisan di koran atau gambar di komik. Saya pernah membaca cerita tentang Bambang Ekalaya dulu di waktu saya masih kecil, tapi saya tidak harus menyebut ini ceritanya RA Kosasih atau versi India, karena di Tanah Jawa sana cerita tentang Bambang Ekalaya ini telah menjadi “public domain” atau “open source” kalau istilah sekarangnya. Jadi, saya tidak perlu menyitir RA Kosasih atau cerita India, karena cerita ini sudah menjadi milik masyarakat Jawa (dan mungkin Sunda, Bali, dan luar Jawa)…

    Begitu aja ya ?

    Daripada diskusi terus, nanti deh saya cerita tentang cerita wayang yang lain…

    Reply

  8. pingkan
    Sep 15, 2009 @ 07:49:58

    setahuku sih Ekalaya dibunuh Kresna yang nyaru jadi Dorna…. itu setelah si Ekalaya membunuh Arjuna yang kumat mata keranjangnya dan mengganggu Anggraeni istri Ekalaya

    Pingkan,
    Wah….yang anda sebutkan itu mungkin versi wayang orang Sriwedari atau wayang orang Barata…tapi, saya juga lupa-lupa ingat sih yang diceritakan di komik R.A. Kosasih jaman dulu (maklum sudah 40 tahun yang lalu…hehehe…)…

    Reply

  9. Dendi Pratama
    May 13, 2010 @ 10:48:27

    Saya baru nemu link ini… dan tertawa2 sendiri….

    luar biasa imajinasinya…..
    boleh ya saya share….. thx.

    Mas Dendi,
    Silahkan aja di-share, cuman tolong link asli disebutin ya….

    Thanks…

    Reply

  10. Leila S.Chudori
    Aug 08, 2011 @ 15:42:09

    Salam,
    Yang dikatakan Pingkan dan Sakradeva itu benar. Ekalaya tidak tewas di tangan Dorna. Di dalam veri RA Kosasih yang mengambil dari versi India (saya mewawancarainya th 1990-an) juga setia pada pakem: ada episode di mana Dorna meminta pemotongan jari Ekalaya. Ada episode Arjuna yang mengejar-ngejar isteri Ekalaya dan Ekalaya menantang duel. Arjuna kalah dan tewas. Dihidupkan kembali oleh Kresna dengan bunga wijaya kusuma. Kresna membunuh Ekalaya dengan masuk ke patung Dorna. Tetapi arwah Ekalaya menitis ke Drestajumena. Dlm perang Baratayudha, Drestajumena menewaskan Dorna hingga kepala Dorna melayang. Seluruh komik RA Kosasih saya masih lengkap :).

    Hallo mbak Leila,
    Wah….barusan saya mencubit-cubit badan saya sendiri….ternyata masih sakit….brarti saya lagi sadar….tp gak percaya penulis pujaan saya sejak masa SMA – mbak Leila S. Chudori – sudi mampir ke Blog saya yang sederhana ini…

    Saya penggemar tulisan mbak Leila lho….semenjak mbak nulis di majalah Gadis yang pertama dulu…spt diketahui kita cowok-cowok ini sukanya beli majalah Gadis biar bisa melirik cewek-cewek yang cakep-cakep….hehehe.. (sebaliknya, anak saya keduanya cewek semua, senangnya melihat cowok-cowok keren di majalah Hai…mrk saya mau langgankan majalah Gadis gak mau)….

    Mengenai cerita Bambang Ekalaya….bener kata mbak Leila itu….dan salut mbak Leila masih punya komik RA Kosasih lengkap. Saya dulu juga punya yang lengkap mbak….tapi pas saya tinggal kuliah di IPB begitu pulang ke Madiun saya lihat di lemari buku saya sudah kosong melompong….hilang….gak tau siapa yang meminjamnya dan tidak mengembalikan…

    Kata-kata mbak Leila tentang Bambang Ekalaya sangat benar….

    Salam mbak…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: