Sumantri dan Sukrosono

Di dunia wayang, Sumantri dan Sukrosono adalah kakak-beradik yang saling menyayangi satu sama lain. Namun dari segi fisik terdapat perbedaan antara langit dan bumi antar keduanya. Sumantri yang tinggi, besar, gagah, putih, dan ganteng mempunyai adik Sukrosono yang pendek, gendut, hitam, rambut keriting, dan bermuka jelek. Begitu pula dari segi kepandaian, Sumantri kepandaiannya biasa-biasa saja namun karena fisiknya yang mudah terlihat menyebabkan ia banyak dikenal orang. Sebaliknya, Sukrosono yang berburuk rupa namun pandai lebih menyukai bekerja sendiri dan bersembunyi di dalam kamarnya..

Di luar masalah fisik dan kepandaian yang sangat kontras antara kedua kakak beradik itu, keduanya selalu rukun dan sebanyak mungkin bepergian selalu bersama-sama. Sumantri kalau ingin ke sawah, ke pasar, ataupun melihat pasar malam selalu mengajak adiknya. Namun kerukunan antar kedua bersaudara ini hanya bertahan ketika mereka meluangkan waktu kanak-kanaknya…

Setelah Sumantri mengenal artinya cinta, begitu juga Sukrosono, Sumantri semakin sering meninggalkan adiknya bila ingin menyambangi rumah seorang gadis. Sukrosono yang dari kecil suka diajak Sumantri bepergian kesana kemaripun mulai merasa ada yang salah dengan Sumantri, dan iapun merengek minta ikut : “Akang…aku elu akang, akang…aku elu akang….”. Kata Sukrosono yang selain berburuk rupa juga agak “kedal” (tidak bisa mengucapkan kata dengan seharusnya, semacam syndroma pengucapan) yang sebenarnya bermaksud bilang, “Kakang…saya ikut kakang, …kakang…saya ikut kakang..”)…

Sumantri sebenarnya merasa sangat kasihan kepada adik yang sangat disayanginya itu, dan sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Sukrosono sendirian di rumah. Namun, rasa kasihan terhadap adiknya itu tertutupi oleh rasa malunya bila harus mengajak Sukrosono yang buruk rupa untuk mengunjungi seorang gadis cantik yang sangat dicintainya…

Cinta Sumantri terhadap gadis itu, sebut saja namanya Dewi Sentul Kenyut, bener-bener sudah terkiwir-kiwir, termehek-mehek, dan terlunta-lunta hatinya. Sumantri nggak bisa tidur membayangkan Dewei Sentul Kenyut yang bibirnya bak merah delima, dagunya bak tawon menggantung, matanya bak bintang kejora, hidungnya bak pegangan pacul, dan rambutnya bak rambut jagung, ditambah suaranya yang kecil seperti anak kecil namun kenes itu membuat Sumantri merasa knock-out bahkan sebelum pertandingan dimulai…

Ternyata Dewi Sentul Kenyut itu anaknya orang tajir, bapak dan ibunya mempunyai apa saja yang harus dipunyai oleh orang kaya. Bendinya saja bersepuh emas, kudanya dihiasi emas di sana-sini, pelana dan tali kudanya semua “leder warren” dan diimport dari Jejer Taman (Jerman).

Dan pada suatu malam yang indah diterangi sinar bulan purnama, Dewi Sentul Kenyut menyatakan cintanya kepada Sumantri setelah sebelumnya Sumantri “menembak” Dewi Sentul Kenyut dengan lagu Gombloh “Apel” yang populer itu :

Di malam minggu ini aku apel/Dengan uang di saku hampir nempel/…  dst dst dst…you know what I mean ?

Namun alangkah terkejutnya Sumantri seolah disambar petir 1 Giga Watt besarnya ! Ternyata Dewi Sentul Kenyut ingin dibuatkan sebuah stadion untuk pertandingan balap kuda dan balap bendi, lengkap dengan taman yang dihiasi 1001 tanaman bunga, dialiri 7 sungai berwarna-warni, dan diterangi 1 juta lampu taman berbahan bakar jarak pagar Jathropa. Dan semuanya itu harus bisa dibuat dalam waktu 1 malam !!!!

Sumantripun pulang apel dengan badan gontai bukannya hepi. Sampai di rumah iapun termenung, melamun, tidak mau makan, dan tidak mau minum. Sukrosono-pun agak heran dengan sikap kakaknya yang biasanya ceria, “happy-go-lucky” kok tiba-tiba memberebet seperti lampu jarak kurang minyak,,

“Aya naon akang ? Naon problemana akang ? Sok atuh adik Sukro dipasihan tahu…”, bujuk Sukrosono kali ini dengan bahasa Sunda..

Lalu Sumantri menceritakan perasaan cintanya kepada Dewi Sentul Kenyut yang dihalangi oleh persyaratan yang sangat berat dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyelesaikan ibarat masalah NP-Hard dan NP-Complete problem yang tidak bisa diselesaikan dalam polynomial time, ceuna si akang di Computer Science department teh..

“Aduh itu mah gampang atuh kakang buat adik Sukro. Mari adik Sukro bantuin membuat stadion dan taman itu dalam waktu semalam. Tapi dengan syarat, kakang kalau kemana-mana selalu mengajak adik Sukro”, kata Sukrosono dengan memelas tapi mantap suaranya..

“Baiklah adik Sukro, syarat-syaratmu akang Antli terima”, kata Sumantri…

Maka dengan diiringi gending Kebo Giro Sukrosonopun mulai membangun taman dan stadion yang diminta oleh Dewi Sentul Kenyut itu. Karena “teman-teman” Sukrosono banyak, mulai dari Casper, sampai jin Tomang, maka menjelang waktu Subuh semua stadion dan taman itu telah selesai dengan indahnya. Stadion Bird Nest di Beijing 2008-pun kalah cepat dibangunnya walau dengan konsultan Perancis sekalipun…

Sumantri-pun sangat bergembira dan memeluk adiknya erat-erat, “Adik Sukro, akang akan selalu ingat akan janji akang kepada kamu. Nanti adik Sukro akang ajak ya ke rumah Dewi Sentul Kenyut”. Sukrosono-pun sangat gembira sampai berloncat-loncatan jungkir balik seperti di atas trampoline…

Pada suatu malam minggu yang cerah, Sumantri memakai bajunya yang paling bagus : hem Kenzo, dasi Yves St Laurent, jas Georgio Armani, dan sepatu Bata. Begitu juga Sukrosono memakai : kaos polo Nevada, celana Watchout, dan sepatu Pakalolo.

Mereka berduapun bergandengan tangan, berjalan kaki cepat sambil menyanyikan lagu Queen “We are champions”…

Ringkas cerita, sampailah kakak beradik itu di rumah Dewi Sentul Kenyut yang juga sudah bersiap-siap menyambut pujaan hatinya yang tampan dan bisa melakukan apa saja yang diminta itu…Namun, ketika dikenalkan bahwa orang jelek pendek itu adalah adik Sumantri, maka Dewi Sentul Kenyut-pun marah apalagi setelah tahu yang membuat stadion dan taman itu adalah tangan Sukrosono, bukan tangan Sumantri…

“Aku tidak sudi menerima cintanya. No way, Jose. Never…ever..ever…ever…ever….I will accept your love, darling. Except if you kill your ugly-looking brother. Right now !!!”, kata Dewi Sentul Kenyut berkacak pinggang sampai keleknya kelihatan, padahal belum sempat dibaluri Rexona, sehingga baunya masih terasa semriwing….

Di bawah sadarnya, Sumantri-pun mencabut anak panah dan ditempatkannya pelan-pelan anak panah itu di busur panah yang dibawanya, dan diarahkanlah anak panah itu persis di jantung Sukrosono…

Dan …..slereeeettt….anak panah itu menembus jantung Sukrosono yang pada saat itu juga meregang nyawanya…

Sumantripun memeluk adiknya yang telah berlumuran darah dan mengucapkan dengan pelan : “Aku eluuu akaaaang…aku eluuuuu akaaaaaaaaanng….” sampai nyawa memisahkannya dari tubuh Sukrosono.

Air matanya deras mengalir, tapi Sumantri bukan Superman yang bisa membalikkan dunia kembali ke beberapa detik sebelumnya…

Penyesalan Sumantri-pun tidak ada habis-habisnya…

25 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Feb 03, 2009 @ 13:38:30

    Ternyata sampean ya masih inget cerita wayang tho. Aku jadi inget masa kecil, ketika masih di bangku SD, saya seneng main wayang-wayangan.

    Rumahku di Jalan Sawo dekat dengan Jalan Mangga. Di situ ada perkumpulan wayang orang cilik, saya termasuk salah satu anggotanya. Karenapostur tubuh saya kecil, saya selalu dapat dapukan Citraksi (anak terkecil Kurawa) yang kalau ngomong kwekkekekekek…..

    Karena simbah saya termasuk streng, saya kalau main selalu delikan. Bawa perbekalan milik simbah, termasuk jarik.

    Nah suatu ketika, uborampe tadi ketinggalan. Kebetulan simbah pagi-pagi sudah nyarik jariknya, kok nggak ada. Sak omah ribut, pasti ada maling jemuran. Aku diem saja, nggak berani ngomong.

    Siangnya, jarik tak ambil trus tak kasihkan lagi ditempatnya semula (jemuran). Begitu simbah tahu jariknya ada di situ, dia bilang ”wah malinge ngesakke, jarikku dibalekke.

    Cak Totok,
    Hehehe…jebule jenengmu kuwi Prihatin Rahayu “Citraksi” Santoso tho….. 😉
    Aku biyen yo nganggo jareke ibuku, ning gak tau konangan soale pas aku main wayang-wayangan ibuku isih ngajar ….

    Reply

  2. adhiguna
    Feb 03, 2009 @ 15:15:39

    Moral of the story, cewek matre pengeretan dan cowok goblok di nusantara itu ternyata sudah ada dari zaman dahulu kala hehehe.. saya pikir fenomena zaman sekarang saja..

    Trus ada lagi cerita Roro Jonggrang, yang mirip-mirip pak.. si cewek minta dibikinin candi dalam semalam.

    Apakah di legenda-legenda bangsa lain ada kisah-kisah mengenai cewek pengeretan ini ?? kalau tidak ya berarti…..

    Holy Smoke!

    Nice story pak Tri:)

    Mas Adhiguna,
    Kayaknya sih cerita mancanegara tidak ada yang seperti itu…. 😉
    Sorry, sebenarnya saya sudah menjawab panjang lebar di sini tapi Speedy di rumah ngadat jadi terhapus lagi…

    Reply

  3. alrisblog
    Feb 03, 2009 @ 16:48:02

    Moral cerita, jangan ngikutin cewek matre. Nanti akan jadi pesuruhnya, suami cuma status doang.
    Wah, masalah cewek ada pakarnya disini. Hallo, apa kabar Pak Totok.

    Saya dikirim email sama Pak Purwoko (simbah), beliau mengabarkan bahwa Simbah sudah mengabarkan ke rekan-rekannya tentang saya. Mungkin kalo teman2 beliau butuh tenaga sesuai spesifikasi saya akan dipanggil, amin.

    Masalah yang satu ini Cak Totok jarang mau berkomentar. Takut kalau dimarahin isterinya…hahahaha…

    Reply

  4. simbah
    Feb 04, 2009 @ 00:16:41

    Sakbenernya, cerita wayang itu gambaran manusia hidup selama hidup di Dunia, di akherat lain lagi. Kalau kita bisa meneladani dari beberapa lakon atau episod, wah mendekati sempurnalah jalan hidup kita. Sayang anak sekarang suruh nonton wayang gak nyandak blas.
    Totok dadi Citraksi, gak salah Tok..?? Elingku kowe ndisik dadi Gatutkoco ngono lho…terus nggendongi Pergiwati, adike Tamar, kancane dhewe sak klas neng BO-A, eling gak..?

    Simbah,
    Wah..pengamatan yang jitu mas : anak sekarang sudah ter-detached dari dunia pewayangan dan mereka gak ngarti babar blassss…. Ngartinya ya cuman Spiderman, Superman, dan man man yang lain… Mestinya kita semua menangis tersedu-sedu tentang hal ini. Makanya karena tidak tahu dunia wayang, perilaku anak muda atau orang sekarang cenderung seperti buto cakil semua dan tidak ada yang bersifat ksatria…(kecuali beberapa orang, mungkin)…

    Totok biyen yen neng omah dadi Citraksi, ben karo mbahe dikiro dadi anak baik-baik. Lha nek neng sekolah nek dadi Citraksi kan ora iso nggendongi cewek-cewek, mangkane neng sekolah dadi Gatotkaca ben isok nggendong Pergiwo karo nyanyi, “Kae ono manung podang, tak ledung..ledung…” padahal dekne nglagokne manuke dewe…hehehehe…

    Reply

  5. alris
    Feb 04, 2009 @ 00:53:45

    Pak Totok bukan malas berkomentar, tapi demi menjaga hati dan perasaan istri beliau, hehehe..
    Betulkan Pak Totok? thoyib……

    @ simbah
    Walau bukan orang jawa tapi saya ada niat mau baca epik Mahabrata dan Ramayana. Pak Pur ada koleksi yang mau dihibahkan ke saya? Dengan senang hati saya tunggu.

    Uda,
    Mahabharata dan Ramayana karangan Empu Wiyoso dari India sono itu yang asli. Komik Mahabharata dan Ramayana itu 95% mendekati versi India, kalau novel Mahabharata dan Ramayana di Indonesia banyak, antara lain karangan Sindhunata dari Kompas. Tapi versi beliau ini terlalu sastra, dan greget petuah-petuahnya ada yang kurang dan ada yang berlebihan dosisnya..

    Saran saya baca komik RA Kosasih dulu, baru kalau sudah “mudheng” baru baca yang versi Sindhunata…

    Reply

  6. simbah
    Feb 05, 2009 @ 00:26:45

    Iya dik Yon, uda Alris,…saya sudah tidak punya koleksi komik maupun buku-2 yang kala itu tahun 1967-an saya baca. Untuk komik serial Mahabarata karangan R.A. Kosasih saya dapat minjam teman, dari Lakon Luluhur Pendawa sampai lahirnya Parikesit. Saya masih ingat gawang-2 meskipun tidak seterang ingatannya dik Yon. Setelah saya hengkang dari Madiun th 1976 sudah morat-marit, mungkin pada dipinjamkan oleh adik-2ku yang masih tinggal waktu itu. Ada juga serial komik Profesor Togog, cuman pengarangya lupa. Waktu itu menggambarkan senjata yang memancarkan sinar/cahaya, selang beberapa tahun kemudian rupanya menjadi kenyataan, yang sekarang disebut dengan sinar Laser. Padahal waktu itu cuman karangan doang…eh kok jadi kenyataan.

    Simbah,
    Hehehe..pada waktu itu saya juga punya buku komik dagelan Semar-Gareng-Petruk-Bagong. Kalau ada kawan-kawan datang, pasti komik itu yang dipinjem untuk dibaca. Kalau Mahabharata dan Ramayana kayaknya mereka nggak tertarik karena “terlalu berat”…
    Tapi komik2 saya itu sekarang entah dimana soalnya setelah saya sekolah di Bogor nggak ada lagi yang memelihara…

    Reply

  7. liswari
    Feb 05, 2009 @ 01:40:37

    Kayaknya cerita nya belum selesai tuntas dech Om, terus apa yg terjadi sama si cewek jahat itu… masa gak ada karma nya ??? :-p

    Mbak Lis,
    Wah…saya nggak setuju disebut itu cewek jahat. Soalnya dalam kehidupan sehari-hari di SMA seluruh Jakarta, bahkan seperti terlihat di sinetron-sinetron, cewek cuantiiik selalu banyak maunya, dan celakanya kita cowok-cowok jelek, lemah, dan tidak percaya diri ini mauuuu aja diatur-atur ama tuh cewek (this story holds for us teenage men)..

    Jadi si cewek sebenarnya cuman “iseng” menguji keseriusan si cowok apakah benar-benar cinta. Nggak jadi masalah kalau si cowok benar-benar cinta apa kagak…

    Versi modern dari cerita ini silahkan lihat film terbagusnya Richard Gere yaitu “An Officer and A Gentleman”…… ceritanya nyaris persis…

    Reply

  8. rumahagung
    Feb 05, 2009 @ 13:37:38

    wahh..!!
    dongeng ciptaan Bapak yah?!?!
    masukin koran donk Pak.
    hahahahah..!!

    Reply

  9. totok
    Feb 06, 2009 @ 23:10:02

    Wah sori yaaa teman-teman, aku gak termasuk suami takut istri kayak di TV itu.

    Kebetulan istriku paling tahu tentang diriku. Coba bayangkan, mana ada suami yang kira-kira 3 kali ketahuan istrinya bawa cewek di mobilnya. Bahkan bukan hanya tahu sak seliweran, tapi kepergol saat parkir he…he….

    Tapi itu dulu, sekarang justru malu sama cucu ha…ha…. Dan swerrr…. istriku masih setia sampai sekarang, termasuk aku juga he…he

    Cak Totok,
    Lha kepergoke njur parkir neng ngendi ? Hehehe….

    Reply

  10. totok
    Feb 07, 2009 @ 21:04:15

    Wah, ojo takok parkire nang endi. Pancen luwak mangan tales, awak nek lagi apes. Tambah apes maneh, terus turune disingkur oleh bokong he….heee…. nostalgia cak, mumpung isok curhat nang blog sampean, lha arep curhat karo sopo maneh, wong saiki sing dipentelengi yo mung komputer.
    Arep moco komik mahabarata atawa baratayudha, yo wis apal critane. Lagian sekarang kan sudah nggak ada lagi komik macam gituan. Sekarang yang ada komik Sin Chan dan konco-koncone soko negorone saudara tua. Awake dewek kan cumak isone nerjemahke, coba itu komikus-komikus kita suruh bikin.

    Masak kalah karo zamane awake dewe, direwangi ngentit duwit bayaran sekolah gae tuku komike Ganes TH karo Yan Mintaraga, sing gambare sering sampean jiplak, he….he. Paling apes, moro nang perpustakaan pojokan Jalan Mangga.

    Tapi pancen repot, arek saiki ora seneng kongkon moco komik produk orang dewek. Opo maneh moco bangsane API DI BUKIT MENOREH atau NAGA SASRA SABUK INTEN, wis ora kaop cak. Padahal awake dewe sampek saiki isih apal karo Agung Sedayu, sekar mirah, Mahesa Jenar etc..etc, tokoh 2 buku kuwi.

    Belum lagi dengan novel bahasa Jawa karangane Ani Asmoro almarhum. Trus crito silat duweke Kho Ping Ho, wah…..pokoke komplit. Untunge aku punya hobi baca, jadi yo nek saiki dadi tukang tulis yo klop he….he

    PRO SIMBAH
    Ayo mbah muncul lagi, suwe ora jamu, pokoke ojo suwe-suwe nek ngilang. Meski dadi Citraksi, tapi yo lumayan mbah, soale biyen onok artis wayang wong cilik sing jenenge Tutik, omahe Jalan Mangga gang 8. Areke ireng manis, sekolahe yo nang BO-A. Bareng saiki tak lacak kok wis gak enek, mbuh nang endi parane. Padahal waktu aku nyet-monyetan karo deweke, sering tak tukoke permen sing onok gagange. Biyen permen onok gagange kan wis top yo mbah.

    Cak Totok,
    Weleh…weleh…weleh…ojok dikiro….sampeyan kondo yen cah saiki arang sing moco Nogososro lan Sabukinten opo maneh Api di Bukit Menoreh. Ketoke aku isok ngasih konfirmasi yen arek saiki kedanan maneh karo Api Di Bukit Menoreh soale saiki wis onok sumber digitale sing alamate neng http://adbmcadangan.wordpress.com/

    Jadi yo sejenis blog tapi dienggo nampung jilid-jilid Api di Bukit Menoreh sing jumlahe onok 396 mau saiki setelah usaha selama 6 bulan wis terkumpul buku digital ADBM sampek jilid 250-an, dadi tinggal 146 jilid sing durung dibuat digital copyne…

    Kon ngerti rak piro jumlah pengunjunge blog mau ? Kurang dari 6 bulan jumlah pengunjunge wis luwih soko sak yuto !!! Iyo cak, sak yuto !!! Padahal blogku iki sing tak pentelengi saben ndino ming isok mengumpulkan 139.000 pengunjung selama 1,5 tahun terakhir iki…hehehe…

    Dadi mudah-mudahan iki dadi tondone jaman Renaissance alias menghargai kembali apa-apa yang telah dihasilkan oleh bangsa Indonesia neng jaman dulu. Biyen alamate blog Nogososro & Sabukinten ugo ono tapi aku wis lali. Biyen nate donlot 29 jilid lan dicetak satu per satu kanggo diwoco bojoku. Ning belakangan bojoku wis tak tukokno Nogososro & Sabukinten versi ejaan baru sing regone Rp 450 ribu tukune neng Toko Toga Mas Yogya titip karo koncoku…

    Reply

  11. totok
    Feb 07, 2009 @ 21:11:10

    PRO SIMBAH.
    Mbah bener crito sampean, si Tutik iku tak eling-eling pancen adike Tamar. Ibuke dodol nang pasar besar, angger mulih sekolah mesti mampir pasar.

    Makane aku biyen sering sobo pasar, eh,…sopo ngerti ketemu karo si Tutik iku he….he. Tapi swer aku gak tau nggendong, soale sing dadi Gatutkoco iku koncoku sing jenenge Wahono. Dadi deweke sing bolak-balik isok nggendong, dadi nek aku cembekur, pas wektune perang tak saduk tenanan sampek misuh-misuh he…..

    Cak Totok,
    Wah…iki pengakuan dosa opo pengakuan penak…hehehehe…
    Walaupun kok isok nggendong si Tutik tapi nek isone ming nggendong thok yo kecut…hehehe…
    Memang jaman awake cilik biyen akeh sing lucu-lucu, dilirik cewek wae rosone wis deg deg plas..koyok judul lagune Koes Plus sing disenengi Cak Totok karo Azis Hidayat biyen…hehehe..
    Yen bisa lewat ngarep omahe, opo yen biso lewat ngarep toko panggonane ibune dodolan wae wis seneng…..ojok-ojok ketemu kucinge opo asune yo wis seneng setengah modar….
    Hehehe…dasar cinta monyet,,,,kalau sudah jatuh cinta, tai kucing rasa coklat….jarene Cak Gombloh biyen….hehehe…

    Reply

  12. alris
    Feb 08, 2009 @ 04:23:09

    Pak Tri dan Pak Totok, saya juga prihatin dengan kesukaan anak-anak sekarang, yang doyan dan lebih menggemari manga jepun. Fenomena ini apa karena ketiadaan komik yang bikinan Indonesia atau apa sebenarnya, saya gak mudeng. Yang pasti, menurut saya, anak-anak kita menggemari komik impor karena keberhasilan marketing penerbit besar menjajakan barang dagangannya.
    Saya gak menikmati kalo baca manga nippon, saya lebih suka baca benny & mice.
    *Pak Tri, ini kesempatan karir buat Bapak kalo udah pensiun : bikin komik versi mBediyunan, hwekekeke…*

    Uda Alris,
    Kalo saya mbikin komik pasti mirip Pak Klombrot, Kakang Kampret, Sriwilkutil, Sentul Kenyut, …atau Panji Koming, Ni Woro Ciblon, Ni Diah Gembili…hehehe….
    Tambah nggak laku lagi, lha wong tokohnya kurus-kurus kurang makan (kayak Pak Totok waktu SMP)….soalnya kan dianggap ngeledek anak jaman sekarang yang gemuk-gemuk dan berotot serta berdaging….

    Komik manga jadi ngetop ya karena itu sudah globalisasi (sementara komikus Indonesia sedang “nggombalisasi”…)….mungkin jamannya sudah berubah, kalau anak perempuan kecil jaman dulu mainannya boneka kain…sekarang mah anak perempuan kecil mainannya handphone… Kalau anak kecil laki jaman dulu mainannya enthik dan ketepel…kalau anak laki kecil jaman sekarang mainannya Playstation….

    Reply

  13. Kunderemp
    Feb 09, 2009 @ 12:20:55

    Bukannya yang minta itu Prabu Arjuna Sasrabahu karena ingin meminang yah? Trus karena Sumantri ingin jadi patihnya, ia diminta syaratnya. Trus Sumantri mendelegasikan lagi tugasnya ke Sukrasana.

    Mas Kunderemp,
    Wah…saya membaca komiknya pas SD tahun 1960an, jadi cerita persisnya versi “pakem” saya sudah lupa lagi tuh…

    Tapi, kalau dugaan saya Sumantri adalah nama kecil Prabu Arjuna Sasrabahu. Jadi nggak ada yang konflik sih, cerita saya. Tapi itu seingat saya loh…mungkin mesti nanya ke Bapak…

    Sebenarnya, point saya adalah cowok itu yang ganteng mukanya dan ada yang jelek mukanya. Kebanyakan cewek memandang cowok ganteng punya kelebihan, dan jarang sekali noleh ke cowok jelek…setidaknya ini pas masa-masa SMA loh…

    Reply

  14. adhiguna
    Feb 12, 2009 @ 18:37:44

    Hmm pak Tri… sehubungan dengan kisah Sumantri, Roro jonggrang etc yang berbau-bau cewek matre..sebenernya berdasar pengalaman saya pacaran dengan cewek berbagai bangsa, Indonesia, Eropa, Arab, Afrika…mmm gak enak ah ngomongnya hehe..

    Intinya tiap orang unik ya pak tidak bisa digeneralisasi…Walaupun statistics juga berlaku hehe…

    Mas Adhiguna,
    Cewek dari berbagai bangsa apapun, secara statistik ada yang cakep dan ada yang jelek. Ada yang matre dan ada yang tidak matre. Semua orang itu unik..
    Tapi rule of thumb-nya, cewek yang merasa dirinya “lebih” (lebih cantik, lebih kaya, lebih sexy, lebih pintar, dsb) akan menuntut seorang cowok pendamping yang “lebih” juga..
    Kata mahasiswa saya, ada cewek yang tipe “low maintenance” dan ada juga yang tipe “high maintenance”. Nah bagi kita para cowok, terserah kita mau milih yang mana. Dan biasanya masa pacaran pilihannya beda dengan masa kalau mau menikahi seseorang…
    Itu dari pengalaman..hehehe…

    Reply

  15. simbah
    Feb 12, 2009 @ 19:48:44

    Numpang liwat Dik Yon,….
    -> Kanggo Totok, kapan-2 aku tak neng Omahmu Tok, awakmu arep tak traktir (ning ojo larang-2 ya..?) Aku rumongso dosa karo awakmu, soale kowe ndisik disabeti Bulikmu, goro-2 duwit iuran POMG mbok nggo nraktir aku karo Witono barang, trus satru karo kowe jalarane opo aku yo wis lali, umurku mengko Juni2009 wis genep 53th insyaAllah, nek diparingi umur dowo. Aku sering sepedahan karo bojoku mlebu komplek perumahanmu, tapi gak ngerti alamat jelase aku yo mung mider-2 terus metu maneh terus bablas ngetan neng satasiun mBabadan trus ngidul bali mulih.
    -> Kanggo dik Yon,
    Selamat,…. wah tok-cer tenan, wis arep nggendong putu. Umpomo anakku Wadon mungkin yo wis putu, berhubung anakku lanang lan sik sekolah, ya mengko-2. Masiyo ngono aku sering diledek anakku diceluk mbah Kung, soale nek dijak ngobrol suka blank…ha…ha…

    Simbah,
    Nggih monggo mawon, sumanggakaken… 😉

    Reply

  16. totok
    Feb 14, 2009 @ 00:51:02

    PRO SIMBAH
    He…he…sampean kok yo ingat kalau kita pernah satru monyet. Lha wong isih bocah, senengane satru-satruan, bareng wis kewut ngene iki malah kangen kabeh.

    Opomaneh, crito lawas, nggae omah gubug soko godong gedang biyen senenge ora karuan. padahal biyen diseneni simbah mergo ngrgeti. Lha saiki kelakon ngontrak omah koyok gubugmu biyen he….he.

    Iyo biyen wektu aku diseneni bu Tutik mergo ora mbayar SPP, awakmu terus diutus ngawal aku njukuk duwit SPP he…he. Seumur-umur ya baru kali itu aku oleh pengawalan, padahal biyen ora kroso yen jan-jane dikawal ben ora mlayu ha…ha.

    Witono saiki nang endi mbah, tulung nek isok kongkon kontak nang kene.

    Omah kontrakanku gampang digoleki. cedak masjid, tapi gak tau onok uwonge. Soale cumak digae turu thok nek bengi.Lha nek awan, aku nyangkul bojoku momong putu nang omahe anakku Dumai Indah.

    Nek nggoleki aku paling gampang nang Jalan Slamet Riyadi 73, pas ngarepe Gereja Katolik Mater Dai, saben dino aku nang kono cak.

    CAK TRI
    Makasih yoo, blog sampean sok gae kangen-kangenan karo musuh lawas he….he…he

    Cak Totok,
    Wah…nek satruan arep wawuh..iku kabar bagus, soale saiki awake dewe kan isih “byar” tapi kan sedela maneh bakalan “pet”. Lha sak durunge “pet” kudu wawuh satrune ben enteng dalane yen arep “piknik” mengkone…hehehe…

    Aku saiki ya isih duwe satru, wis saka SD biyen. Tapi jenenge areke tak goleki neng mas Gugel ora ketemu…. ;-(

    Reply

  17. TOTOK
    Feb 16, 2009 @ 11:35:14

    Lha iyo cak, kenangan lama sampek satru-satruan pancen asyik dikenang. Maklum, masih kanak-kanak. Tapi nek saiki aku ketemu si Didik alias simbah, wah wis ilang kabeh satru-satruan kuwi. Apalagi, yo wis lali biyen stru mergo rebutan opo. Sing pasti bukan rebutan Pergiwo, lha wong simbah biyen kan seneng dadi Ketek Putih alias Anoman.

    Lucu ya, masa kanak-kanak kita.

    MBAH SIMBAH.
    Sng byar pet jarene Cak Tri, dudu awake dewe, tapi komentar sampean, kadang ndlidir kyok banyu mili, bar iku terus ilang blas, suwe lagi muncul maneh.

    Nek kawatir bayar internet larang, pakai internetku wae, cuma 75.000 bisa dipakai sak jebate moto alias unlimited he…he. Gak percoyo, dicoba, up to 1 mega, tapi sing digaransi 65 kbps murni. isok 1 mega nek pas liyane mandeg.

    Reply

  18. simbah
    Feb 22, 2009 @ 21:57:30

    Numpang liwat Dik Yon,….
    Iyo Tok, bener sok-sok ndlidir sok-sok sepi. Nek pas sepi kae aku lagi macul dadi gak sempat mbukak internet babar blas saliyane hubungan lagi angel, aku macul neng segoro natuna kono, kerjaku 2 minggu prei neng mediyun 2 minggu macul neng segoro yah…maklum dadi prentah-prentahane wong nduwuran, 3 taun maneh pensiun…
    Aku yo nututi sampeyan, sinau dadi pengusaha saliyane ngisi wektu yo nggo njogo kendil, ben gak nggoling..
    Manehe aku lagi langganan spidi, mbuh mengko nek bolak-balik ngadat tak langganan duwekmu….

    Reply

  19. simbah
    Feb 22, 2009 @ 22:03:39

    Numpang maning Dik Yon, kanggo Totok,
    Tok, Witono wis dadi wong pangkat, podho karo Dik Yon, deweke dadi dekan fakultas tehnologi pertanian neng univ. al-azhar jakarta wis s-3 lulusan jepun. lah aku manggon sacedake daleme bapakne, neng cedake widyamandala ngrowo….

    Reply

  20. totok
    Mar 02, 2009 @ 09:30:34

    Syukurlah saiki konco-konco dadi wong pangkat. Nek Witono S3 soko Jepun, aku S3-ne soko Kembang Jepun, alias kantore Jawa Pos lawas sak duirunge nang graha pena.

    Wo sampean saiki nang cedak Wima tho, mangkane dek malem minggu tak sempatke liwat Jalan pringgondani kok sepi nyenyet. Lawange tutupan, cumak diterangi lampu kiro-kiro 10 watt nang mburi.

    Nek pas mentas soko Natuna, silahkan mampir mbah. aku saben isuk sampek sore nang jalan slamet riyadi 73 A, ngarepe gereja katolik.

    Nek wis pangsion pancen kudu usaha liyane. Ora mesti nggo jagan kendil, tapi paling tidak ben ora kenek stroke. Soale selalu sibuk, meski duite durung mesti he….he.

    Iki kebetulan aku yo nyekel perwakilane Jawa Pos Telecommunication nang wilayah Karesidenan Madiun, dodolan pulsa he…..he.

    Reply

  21. simbah
    Mar 02, 2009 @ 16:33:29

    Kanggo Totok, (nderek langkung..)
    Tok, sing manggon neng Pringgondani, Ibuku karo adikku sing wuragil, lah aku neng Ngrowo. Mengko nek bali Mediyun tak sempatne dolan neng Slamet Riyadi 73-A….

    Reply

  22. totok
    Mar 02, 2009 @ 18:06:00

    SIMBAH :
    Ok mbah tak tunggu rawuh sampean, opo maneh nggowo oleh-oleh soko Natuna, iwak lodang bakar he…he.

    Ibu isih sugeng tho, syukurlah. Isih isok ngemong sampean karo wayah-wayahe.

    Reply

  23. pingkan
    Sep 15, 2009 @ 07:43:55

    dulu baca cerita ini di majalah Kuncung, trus sempet diceritain juga ma Ibuk …. ah, jadi kangen simbok….

    Pingkan,
    Hehehe….anda ini lucu, diceritain Ibuk kok kangennya sama Simbok….;-))

    Reply

  24. Maheswara Mahendra
    Jul 10, 2010 @ 10:11:54

    Sumantri dan Sukrosono anak seorang Resi yg tinggal di hutan,kepergian Sumantri untuk ngawulo ke istana Arjuna Sasrabahu. Suatu ketika istana diserang oleh negara Raksasa dan Sumantri berhasil menumpas serangan tsb.
    Sumantri di jadikan Patih oleh baginda. Alkisah putri baginda mencintainya namun mengajukan syarat………dst

    note:
    Sumantri pergi ke kota untuk ngawulo ..bkn pergi karena wanita..dia pahlawan, nmnya diabadikan di Gedung di jl Kuningan Jkt.

    Mas Mahendra,
    Wah….kalau gedung Sumantri Brojonegoro di Jalan Rasuna Said Kuningan dekat PaFest (Pasar Festival) itu adalah nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di jaman Presiden Suharto yang wafat sewaktu beliau masih mengemban jabatan sebagai Mendikbud waktu itu..

    Jadi, bukan nama wayang mas….

    Reply

  25. acun ruswandi
    Nov 03, 2011 @ 18:42:40

    kayaknya ni crita ad yag salah soalnya tantangan somantri itu memindahkan sebuah taman dari sebuah puncak gunung yag somantri sndiri gk tau ltaknya d mana yag meminta juga bukan cewe tapi perabu arjuna sastra bahu

    Mas Acun,
    Cerita wayang itu ada yang berdasarkan “pakem” (standard), tapi banyak juga yang diimprovisasi sama si dalangnya…

    Gaya menulis saya di Blog ini adalah langsung menuliskan apa yang saya ingat sedari kecil dan tidak menggunakan buku sama sekali….jadi langsung ditulis tret…tret…tret…di keyboard saya tanpa mengindahkan pakem…

    Karena cerita wayang tidak harus berdasarkan pakem….apalagi ini mengarang jenisnya “composition”….kita boleh dong cerita apa maunya kita….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: