Arti Kekuasaan

Arti Kekuasaan yang saya jadikan judul posting ini saya peroleh dari nonton film VCD hitam putih yang salah satu tokohnya adalah Oscar Schlinder. Dia bilang “kekuasaan adalah jika anda bisa melakukan sesuatu, tapi sesuatu itu bisa anda kendalikan sehingga anda tidak jadi melakukannya, itulah yang disebut kekuasaan”. Kalau nggak percaya, tontonlah filmnya..

Penerapannya di Indonesia, sorry ya kalau saya mencontohkan yang berhubungan dengan hukum dan wewenang polisi. Bukan maksud saya benci Pak dan Bu Polisi, kebalikannya saya malah hormat banget sama beliau-beliau itu, tapi kadang-kadang ada sesuatu yang menurut saya “a way too much” sehingga menurut istilah saya Pak Polisi (Komandan Polisi) yang saya ceritakan ini bisa disebut “tidak punya kekuasaan” jika ditilik dari definisi Oscar Schlinder..

Kasus pertama, jatuhnya sebuah pesawat penumpang berbadan lebar di Yogya pada suatu hari jam 07.00 pagi. Sekitar 10 orang tewas terbakar, tapi banyak juga yang diselamatkan atau selamat (salah satunya teman saya sekantor). Menurut tatacara internasional, seorang pilot yang pesawatnya jatuh “hanya bisa” diadili oleh asosiasi pilot dimana pilot tersebut menjadi anggotanya, kalau perlu lisensi pilotnya dicabut. Dan menurut tatacara internasional juga, polisi tidak berhak (dengan kata lain, sebaiknya tidak) menahan pilot yang pesawatnya jatuh tersebut. Tapi untuk kasus di Yogya, polisi menahan pilot tersebut dan menimbulkan protes dari kawan-kawan pilot dari si pilot tersebut..

Kasus Kedua, layaknya tatacara internasional sebuah pertandingan olahraga sebut saja sepakbola, jika ada pemain berkelahi antar sesama pemain, atau pemain memukul wasit, maka yang berhak menghukum pemain yang bersalah tersebut adalah Komisi Disiplin Persatuan Sepakbola Nasional di negara tersebut. Pada umumnya, polisi tidak berhak (sekali lagi, sebaiknya tidak) menahan pemain yang terlibat perkelahian tersebut. Kecuali penonton yang melempari pemain, atau penonton yang membuat keributan, maka polisi berhak turun tangan. Tapi kejadian di Jawa Tengah barusan, polisi menahan dua orang pemain sepakbola yang sedang berkelahi di tengah lapangan. “A way too much ?”. “You bet !!!”. Menurut Oscar Schlinder, polisi yang melakukan penahanan kepada 2 orang pemain sepakbola tersebut “tidak mempunyai kekuasaan”…

Ok lah saya sekarang membahas diri saya sendiri. Sebagai dosen, semester yang barusan berlalu kemarin saya mengajar 6 subject di 8 kelas. Nah, ada satu mata kuliah di suatu kelas yang setelah saya nilai UAS, TM dan saya lihat nilai akhir dan grade-nya, ada seorang mahasiswa di kelas saya yang nilainya D. Padahal nilai UAS dan TM-nya ok, cuman menurut catatan di website itu (dosen di Binus memasukkan nilai melalui website Binus) mahasiswa yang bersangkutan nilai UTS-nya 0 (nol) dari kedapatan nyontek. Pantas saja, dia nilai akhirnya D. Sayapun jatuh kasihan dan pengin meluluskan mahasiswa tersebut. Menurut Oscar Schlinder, saya sebenarnya bisa saja tidak meluluskan mahasiswa tersebut dan membuat mahasiswa yang bersangkutan merasa bersalah selama 1 semester, 1 tahun, atau bahkan seumur hidup. Tapi kalau ini yang saya lakukan (yaitu tidak meluluskan mahasiswa ini) maka berarti saya tidak punya kekuasaan. Saya adalah manusia normal, yang tahu persis apa itu artinya kekuasaan. Jadi nilai UAS mahasiswa tersebut saya tambah beberapa poin sampai nilai akhirnya minimal 65 (syarat nilai C, minimal kelulusan di Binus)…

Sayapun merasa mempunyai kekuasaan !

Makanya Pak dan Bu Polisi, jika bapak-bapak dan ibu-ibu ingin merasa berkuasa, jangan lakukan yang sebenarnya bisa bapak dan ibu lakukan. Kalau hal tersebut tidak bapak dan ibu lakukan, berarti bapak dan ibu Polisi sudah berkuasa.

Dan berkuasa itu enak lho pak, dan bu Polisi !

6 Comments (+add yours?)

  1. rumahagung
    Feb 17, 2009 @ 20:27:37

    MY GOD..!!
    you’re great,Sir..!!

    suatu saat saya akan kyk Bapak.
    hehehehe..!!

    Agung,
    Sudah lihat VCD film Schlinder’s List ? Dulu film ini sempat dilarang di Malaysia, tapi di Indonesia VCD-nya bisa dibeli di Gunung Agung atau Gramedia. Filmnya kebanyakan hitam-putih sih, tapi film Steven Spielbierg ini barangkali yang paling banyak pesan kemanusiaannya…

    Worth to watch, begitulah…. 😉

    Reply

  2. Hamdi
    Feb 18, 2009 @ 00:01:02

    nice article Pak.. article ini harus dilihat sama orang yang suka menyalahgunakan kekuasaannya…

    Hamdi,
    Ya intinya orang yang diberi kekuatan penuh namun tidak menggunakan kekuatan penuh tersebut (dengan kontrol dari dalam hatinya sendiri), berarti orang tersebut berkuasa…

    Sangat kebalikan dengan yang terjadi sekarang, kalau orang bisa memukul orang sampai klenger itu disebut “kuat” dan “berkuasa”, padahal orang berkuasa adalah orang yang tidak perlu memukul sampai klenger, tapi mungkin dengan kata-kata dan sugesti tapi sudah mencapai tujuannya, itulah yang disebut berkuasa…

    Reply

  3. alris
    Feb 19, 2009 @ 02:47:20

    Mantap pak. Pilot ditahan sama polisi, pesepakbola berkelahi sesama mereka ditahan polisi : kurang kerjaan dan tidak memahami prosedur. Jangan-jangan saya comment begini disidik polisi??? *kabur ah…*

    Uda,
    Mungkin mau pemilu jadi Pak Polisi lebih baik “ambil amannya” aja…hahaha…

    Reply

  4. rumahagung
    Feb 20, 2009 @ 09:53:30

    kykny bgs tuh pelemnya.
    nti saya cari DVDnya ahhh
    hehehehe..1!

    Reply

  5. simbah
    Feb 22, 2009 @ 21:20:12

    Dik Yon,….kalau gak salah ingat, mulainya itu dari tabrakan sepur di Bintaro tahun 1988 dulu, masinisnya yang sudah tugel sikile dijadikan tersangka, biasanya yang disidik, kan lalulintas jalan raya. Mulai saat itu nyidik sepur tabrakan juga, kalau gak salah doktrinnya menyidik atau memelihara tibum, jadi kalau ada pasal kelalaian yang menyebabkan orang hilang nyawa jadi bidikannya, aku belum baca kuhapnya….memang waktu sekolah di curug dulu tidak ada namanya pilot disidik oleh polisi umum…

    Simbah,
    Yang saya maksudkan pilot dan juga pemain sepakbola, di belahan dunia yang lain kalau mereka berbuat kesalahan tidak akan disidik oleh polisi. Pilot oleh Asosiasi Pilot, dan pemain sepakbola oleh semacam PSSI-nya lah…

    Nah, masalah kereta api kayaknya yang berlaku begini : Jika KA tabrakan dengan kendaraan darat lain, maka yang dipersalahkan kendaraan darat lain, karena KA kan sudah mempunyai rel sendiri. Nah, di Bintaro itu (saya pas tidak ada di Indonesia, mungkin masih di Singapore) kejadiannya mungkin KA nabrak KA, maka salah satu masinis KA bisa disidik polisi (karena belum ada Asosiasi Masinis KA !).

    Tapi masalah kecelakaan KA itu kompleks sekali. Dari sudut prasarana, banyak sekali jenis sinyal KA yang dipakai di Indonesia, kalau nggak salah sampai 13 macam !!!! Lalu sarananya yaitu KA-nya, walaupun sudah ada jadwal perawatan misalnya perawatan rem, suka lupa dilakukan karena belum ada Audit Keselamatan KA (prosedur masih warisan Belanda !!!). Yang terakhir SDM-nya alias masinis-nya. Kadang2 masinis yang harusnya libur tetap berdinas karena masinis temannya tidak masuk. Jadi ia kurang istirahat dan kurang konsentrasi, akibatnya bisa fatal..

    Sekarang mending, dengan adanya Dirjen KA tersendiri (dulu gabung dengan Dirjen Hubdar) maka KA semakin terpelihara…

    Reply

  6. topengireng
    Aug 16, 2011 @ 22:40:43

    Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menyebut, kekuasaan seperti candu, sering membuat lupa diri, mabuk, kehilangan keseimbangan, menghalalkan segala cara untuk kekuasaan. Bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan lagi sebagai alat bagi pencapaian kemajuan bersama.

    O ya ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: