Tentang mbak Karen yang keren..

Nama mbak ini, Karen, tentu tidak bermakna apa-apa bagi saya jika tidak memperhatikan nama belakangnya yaitu Agustiawan yang “sound familiar” dan ternyata sohib saya sejak sekolah di Amrik (saya di Indiana, dia di New Jersey kemudian pindah ke Texas) dan ternyata juga sohib satu kantor satu gedung (dulu, sekarang saya sudah pindah gedung lain)..

Mbak Karen atau mungkin lebih tepat sebenarnya disebut “Teh Karen” itu keren sekali lho. Dari credential-nya yang seabrek sampai ke keluarganya yang super solid. Barusan mbak Karen didapuk jadi komandan sebuah perusahaan paling penting di negeri ini. Besoknya cerita mbak Karen hasil wawancara dengan Kompas menunjukkan sedikit jati diri mbak ini “Saya sukanya pakai baju yang motifnya biasa dan tidak menonjol, soalnya kata suami saya pribadi saya sudah sangat menonjol dan kuat, jadi tidak perlu diperkuat lagi dengan motif baju yang kuat”… Wah !

Ceritanya akhir minggu kemarin sampai awal minggu ini, rapat sebuah komisi di Perwakilan Rakyat (PR) macet menghadapi mbak Karen ini. Dari sorotan tv mbak Karen bilang “Saya merasa dipermalukan, masak Dirut dianggap seperti Satpam”. Gotcha !!! Kena lu !!! Lho, siapa yang kena ?

Kalau saya menulis laporan pandangan mata rapat dengar pendapat PR dengan mbak Karen dalam bahasa Inggris, tentu saya akan memilih judul “Karen grilled by House on oil business”. “Grilled” atau “digoreng” atau “dicerca pertanyaan bertubi-tubi” ini pastinya berkonotasi super seru dan blockbuster !!

Mengapa sebuah rapat dengar pendapat dengan komandan sebuah perusahaan penting bisa “ruwet” seperti itu ? Saya jadi teringat cerita salah seorang teman saya yang pinter (baca posting saya sebelumnya “Stand on your own feet”), seorang Ph.D bidang Fisika dari Universitas Maryland yang bosan sebagai seorang Fisikawan akhirnya nyeberang ilmu dan mengambil Master of Public Policy di Harvard University – Kennedy School of Government.

Teman saya itu cerita bahwa di Amerika, sebuah dengar pendapat dengan seseorang selalu berlangsung selama 3 hari. Pada hari pertama, anggota-anggota Senat atau House of Representatives (HR) selalu bertanya dan berdiskusi dengan orang yang dipanggil dalam sebuah hearing tentang moral dan etika. Dari pagi sampai siang yang dibahas dan ditanya adalah moral dan etika dari si orang yang dipanggil ke Capitol. Di hari kedua, pertanyaan-pertanyaan Senator dan anggota HR meningkat ke masalah prosedur tetap atau protap dalam melaksanakan sesuatu. Selalu ditanyakan bagaimana melaksanakan prosedur pengadaan barang, misalnya atau prosedur-prosedur yang dianggap penting. Nah, setelah hari pertama ditanya moral dan etikanya, dan di hari kedua ditanya tentang prosedur yang ditempuh, maka di hari ketiga anggota-anggota Senat dan HR akan mengajukan pertanyaan yang bersifat “investigative reporting”, yaitu pertanyaan-pertanyaan pedas dan mendasar dan mendalam dan filosofis tentang suatu hal yang ingin diketahui dalam Hearing yang penting ini..

Jadi, di Amerika seorang yang dipanggil ke Capitol dalam sebuah Hearing akan diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan dengan sebaik-baiknya tanpa merasa dihakimi…

Sayangnya, Indonesia bukan Amerika dan anggota PR kita mengajukan pertanyaan yang bisa disebut “scolding” (mengumpat), “mud slinging” (saling menyalahkan), dan “name calling” (mengolok-olok atau menyebut nama, misalnya mbak Karen yang Dirut disebut Satpam !) dalam sebuah Hearing yang penting itu..

Dan keluar dari ruang Hearing, terlihat di tv muka mbak Karen antara pucat (putih) dan marah (merah). Untungnya malamnya, setidaknya seperti yang saya lihat di TVOne dengan presenter Nita Talita yang sedang mengundang seorang anggota PR berusia muda, ada nada menyesal dari anggota PR tersebut (atas nama rekan-rekannya di Komisi yang sama) dan bisa memahami dengan cara bertanya anggota PR kita yang seperti ini wajar bila pihak yang dipanggil merasa tersinggung…

Mbak Karen keren, karena berani membantah apa yang dikatakan anggota-anggota PR dan kita rakyat semuanya tahu apa yang terjadi..

Jarang sekali pribadi yang mempunyai “kualitas” seperti ini…

Dan oleh karena itu, disebut “keren”…

14 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Feb 18, 2009 @ 21:31:41

    Wah, ojo dibandingke antara senat atawa HR di Amrik karo kene cak. Apalagi kalau sudah sampai daerah, payah deh…..

    Coba bayangin, ada berita judul berita begini ”70 PERSEN CALEG DI ………… TAK PUNYA PEKERJAAN TETAP”

    Itu artinya apa, lha wong nglamar gawean wae ora ditompo trus nek dadi legislator terus koyok opo

    Cak Totok,
    Yen nglamar gawean nggak ketompo terus dadi legislator kuwi jenenge “legi setorane” utowo mburu dadi legislator ben akeh duwite… (metune duwite yo akeh ugo…hehehe..)…

    Reply

  2. alris
    Feb 19, 2009 @ 02:40:29

    Mba Karen emang keren. Melihat track record beliau, kalau tidak obok-obok pihak luar, pertamina bisa berjaya minimal di rumah sendiri.
    Legislator=legi setorane? Pantes pada berebut pengen ngantor di senayan.

    Uda Alris,
    Saya juga mau sih jadi anggota DPR karena “legi setorane”, tapi nggak punya duwit, nggak punya cantolan, nggak punya partai politik, jadinya…yah ntar-ntar aja kalau sudah ada semua…hahaha…
    Sementara ini jadi dosen mungkin jalan hidup terbaik sampai saat ini dan insya Allah sampai saat nanti…

    Reply

  3. kunderemp
    Feb 19, 2009 @ 04:28:41

    Tapi trus wakil ketua komisi VII-nya bilang “Ini kan panggung politik” dan bilang jangan diambil hati.

    Lah..
    Kalau kampanye memang panggung politik. Pernyataan di media massa memang panggung politik. Tetapi apakah rapat DPR bisa dibilang sebagai panggung politik?

    Mas Kunderemp,
    Lho..yang milih mbak Karen itu kan Komisi itu sendiri ? Orang Indonesia suka lupa sih, milih sendiri tapi setelah itu hasil pilihannya “dicacat” (dijelek-jelekkan) sendiri…
    Jangan diambil hati ? Ingat 49 hari lagi Pemilu jadi sebenarnya anggota-anggota Dewan itu sebenarnya sudah “demisioner”. Mungkin kesempatan terakhir jadinya : scolding, mud slinging, dan name calling jadi barang halal. Tapi itu kan artinya mereka “tidak punya kekuasaan” (baca posting saya “arti kekuasaan”)…

    Reply

  4. balog helmi
    Feb 19, 2009 @ 07:36:23

    Pertamina Vs Dpr komisi VII
    Hasilnya : 10-0 Untuk kemenang an Dirut pertamina Karen Agustiawan

    Mbak Ivana,
    Menurut saya itu suatu pertandingan “no contest” (“nggak mbanyu” kata orang Jawa) antara pihak satu dengan pihak lawannya. Menurut saya hasilnya : 100-0 untuk mbak Karen yang keren. Buktinya, sorenya anggota Komisi itu di TV termehek-mehek seolah menyesali perbuatannya…

    Reply

  5. balog helmi
    Feb 19, 2009 @ 18:54:04

    Mas Tri nama saya gunadi, diblog memakai nama balog, untuk ivana adalah putirku semata wayang, karena baru belajar membuat blog, dan sedikit gaptek komputer , jadilah avatarnya kaya begitu, salam kenal mas Tri, mudah mudahan saya dapat konsisten menulis di blog apa-apa yang saya mengerti sedikit.
    salam

    balog

    Mas Balog “Papa Ivana” Gunadi,
    Ya mas salam kenal lagi, saya kira yang punya blog bernama Ivana…hehehe…jebul Ivane-ne isih cuiiiliiiik…. 😉
    Maju terus mas, tulis terus apa yang mas ingin tulis nanti lama-lama kan mas enjoy aja…gitu…

    Reply

  6. Jarot S Suroso
    Feb 19, 2009 @ 21:39:07

    harusnya mbak karen yang di pertamina bisa berkolabirasi dengan mas herman yang di bppt. kan kedua instansi itu saudara tua.

    pak tri dan teman lain, coba deh mampir take a look ke blog saya di http://jarotsuroso.wordpress.com

    Mas Jarot,
    Iya deh, ntar blog anda saya sambangi… 😉

    Reply

  7. totok
    Feb 20, 2009 @ 08:17:21

    Wis ojok ngomong politik. Nek gak ketekan karepe yo, hasile yo koyok komentarmu nang mas Kunderemp, dipilih-pilih dewe dicacat-cacat dewe.

    Ya itulah hebatnya kita, nek nyacat entek ngamek kurang golek, tapi nek ngelem (memuji) digolek-golekno disik alasane sing pas tenan, agar ketoke layak tenan. Gitu lho cak.

    Reply

  8. simbah
    Feb 22, 2009 @ 20:53:31

    Dik Yon,….aku termasuk penyuka, kalau tidak boleh dikatakan pemuja Perempuan ayu yang pinter dan tangguh, maksudnya prof gitu, salah satu diantaranya bu menkeu, alasannya? Aku dulu dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh sebagai single parent. Seorang janda guru SD yang ditinggal mati suaminya, menanggung sendiri beban yang ditinggalkan mendiang, memberi makan dan menyekolahkan sampai tuntas 7 orang anak, meskipun gak paripurna, ning iso ceker dhewe…
    Sungguh wanita-2 tangguh semacam ini bila memegang tampuk negara rakyatnya makmur terjamin. Mungkin juga anda punya mbak Suzi, alasannya serupa…?
    Kadang-2 kalau aku glenikan karo bojuku, apa alasannya memilih dia ya itu tadi alasannya….
    Kasarane nek tak tinggal koit, anak-2 gak kapiran he…he….

    Simbah,
    Ya memang Ibunda anda, Bu Kartini, bener2 heibat. Saya masih ingat saja muka beliau lho…perawakannya lebih besar dan lebih tinggi dikit daripada Ibu saya…
    Jangan dikira lho makhluk perempuan yang sepintas kelihatan lemah lembut, ternyata lebih kekar dan keras daripada baja. Sudah dipuntir-puntir nggak mempan, contohnya banyak. Antara lain Megawati, Karen, dan mungkin Bu Srimulyani yang anda sebutkan tadi. Cuman orang suka lupa, dikiranya perempuan itu lemah dan melempem semua. Pasti ini karena perjuangan Ibu R.A. Kartini (kalau pakai R.A., berarti bukan Ibu anda lho…hehehe…)…

    Reply

  9. Hassan,Abinafis
    Feb 23, 2009 @ 21:03:57

    Salut buat Bu Karen Agustiawan,….Kartini masa kini…..tapi jangan lupa ama suami dirumah….
    gimanapun karier sekarang berkat doa dan dorongan keluarga lhoh….
    (Pak Tri,…temanya bagus-bagus)

    Mas Hassan,
    Terima kasih telah berkunjung di Blog saya yang sederhana ini… 😉

    Reply

  10. totok
    Feb 24, 2009 @ 09:25:20

    Mestinya bu Karen ganti nama. Sebab menurut bahasa jawa, ”karen” itu artinya paling buncit alias paling akhir, alias keri dewe.

    Jadi kalau kita pas lagi pesta prasmanan, kita datang terlambat dapat makanan ”karen” alias sisa he…..he….. syukur-syukur kalau tamu yang datang awal makannya dikit, lha kalau banyak, maka yang terakhir datang dapatnya cuma karen, sisa-sisanya dikit aja.

    Cak-e Totok-e,
    Lho bukannya Karen itu nama bule ? Contohnya Karen Carpenters vokalis the Carpenters yang suaranya paling merdu se dunia itu ? Karen dalam bahasa inggris artinya adalah “pure” atau suci…

    Lha kalau dalam bahasa Jawa “karen” (dengan huruf kecil) artinya adalah memang yang terakhir atau sisa-sisa. Tapi Karen tidak pernah dijadikan sebagai nama anak cewek di Jawa sana yang lebih sering dinamai : Sri, Endang, Cikrak, atau Tumbu…

    Reply

  11. totok
    Feb 24, 2009 @ 18:38:26

    Bicara soal nama Jawa, aku jadi ingat ketika masih kecil hidup di Jalan Sawo dekat Losmen Mariton, yang biasa jadi sasaran intipanku he…he.

    Disitu ada tukang becak namanya KLETONG (artinya tai kebo).

    Nah suatu hari Pak Kletong dapat muatan PSK ke losmen itu. Nah begitu PSK tadi turun, tukang becak lainnya pun menggoda. ”Wah, bawuke mambu kletong,” he….heeeee.

    Sori soal bawuk nggak usah dibahas, soalnya itu juga termasuk nama Jawa yang cukup keren (bukan karen). Kalau ndak dipakai nama anak perempuan, juga biasa untuk memanggil, wukk….bawuk.

    Lha ini cerita nyata atau karangan ? hehehe… 😉
    Pantes sejak SMP sudah pakai kacamata, jebul dari SD pekerjaannya cuman ngintipin orang-orang yang lagi dimabuk Dewa Amor….jadi lama-lama matanya minus…

    Reply

  12. totok
    Feb 25, 2009 @ 18:03:29

    He….he…. meski saya wartawan, tapi kalau cerita masa kecil ya tenanan cak. Soalnya wartawan sekarang kan ceritanya macem-macem, ada yang tenanan, ada yang setengah tenanan, termasuk ada yang nggak tenanan.

    Termasuk berita-berita seleb nang TV, akeh ora tenanane. Soalnya ada pesan sponsornya. Dan aku termasuk wartawan yang pernah dapat proyek pesan sponsor saat jadi redaktur halaman intertain.

    Lumayan cak booking-ane.

    Cak Totok,
    Lho…jarene wartawan nggak oleh nerimo uang booking…hehehe…

    Reply

  13. totok
    Feb 26, 2009 @ 09:46:26

    Betul cak, wartawan memang gak boleh menerima uang booking etc…etc. cobaks ampean simak nang boks redaksi, mesti onok peringatan dimana wartawan ndak boleh terima uang dan fasilitas lain. Tapi nek nyerahke nomor rekening nang nara sumber kan tidak diatur dalam peraturan tertulis iku.

    Nek biyen soal itu ndak seberapa kentara. Lha saiki pemirsa TV dibodohi melek-melekan, Seleb A selingkuhan dengan seleb B, padahal cumak menaikkan popularitas saja.

    Ooooo….ngono tho, duduk perkarane…. 😉

    Reply

  14. totok
    Feb 28, 2009 @ 09:50:39

    ah, kura-kura dalam perahu, purak-purak ndak tahu sampean iku cak. Nek gak ngono, opo yo wartawan isok sugih, kecuali media-media sing gede seperti kompas, tempo, jawa pos dan media grupnya surya paloh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: