Cerita cinta paling seru di dunia wayang

Hanomanpun telah berhasil menyusup ke daerah musuh di Alengkadiraja yang penjagaannya konon paling ketat yang langsung diawasi oleh Raja Rahwana. Iapun menahan nafasnya dengan hati-hati supaya tidak terdengar oleh pengawal keputren yang menjaga Sinta, isteri Rama..

Sayup-sayup terdengar lagu nyanyian trenyuh yang mengiringi setiap langkah Hanoman ini :

Anoman ma/lumpat sampun/prapteng witing/nogosari… /Mulat mangandap/katingal/sang dyah ayu/kuru aking….

Hanoman telah/melompat/ke atas pohon/nagasari…./Melihat ke bawah/terlihat/sang wanita ayu/kurus badannya….

Hanoman has/jumped over/the tree of/nagasari…/Looking at bellow/seen by him/the beautiful woman/looks so frail….

Itulah salah satu segmen dalam cerita Ramayana yang dimulai dari tertariknya Maharaja Rahwana akan kecantikan Dewi Sinta yang ditinggalkan sendiri oleh Rama yang sedang berburu. Dengan ajian Rawarontek, Rahwanapun dengan mudah menarik, membopong dan melarikan Dewi Sinta tanpa kesulitan sama sekali karena semua penjaga Sinta jatuh tertidur dengan pulas begitu Rahwana telah datang di sekitar tempat Dewi Sinta lagi termenung..

Rama pun sangat kebingungan akan keberadaan isteri yang sangat dicintainya, Sinta. Dari olah TKP (tempat kejadian perkara), dan dengan saksi mata yang lengkap, berikut barang bukti materiil berupa selendang Dewi Sinta yang robek dan robekan kain Rahwana, Rama pun mengetahui bahwa seorang Raja yang sakti telah menculik isterinya ke sebuah pulau nun di ujung selatan negaranya…

Mengingat Raja Rahwana mempunyai bala tentara paling banyak jumlahnya, dipersenjatai dengan senjata paling modern, dengan doktrin negara yang kokoh, dan dijaga oleh Kumbakarna – adik Rahwana – raksasa yang sangat sakti, kelihatannya merupakan sebuah “mission impossible” bila Rama mengejar langsung Sinta menyeberangi lautan menuju Alengka. Karena kalau hal ini ia lakukan, ia seperti mengundang kematiannya sendiri (bahasa Jerman-nya “kutuk marani sunduk”…, Jerman = jejere kauman)..

Setelah hampir setahun Rama keluar masuk hutan dan tidak menemukan petunjuk tentang keberadaan Sinta, pada suatu hari Rama melihat seekor kera terjepit di antara 2 pohon. Dengan hati-hati kera tersebut ditolongnya dengan meminumkan sesendok demi sesendok air kelapa muda yang rasanya lebih enak dari “Ponari Sweat” itu. Ternyata kera yang menderita karena terjepit pohon itu bernama Sugriwa.

“Wahai Rama, raja yang agung, saya terjepit pohon karena dijepit oleh saudara saya Subali yang sangat sakti. Ia bisa mati, tapi begitu tubuhnya menjejak tanah, maka iapun hidup kembali”..

Rama pun lalu memberikan ilmu kanuragan dan ilmu olah pikiran tambahan sebesar 24 sks (setara program Master) kepada Sugriwa. Pada akhir program, Rama pun melakukan simulasi tempur dengan Sugriwa, dan Rama pun puas dengan kemajuan Sugriwa dan thesis akhir Sugriwa pun ia beri nilai A+ alias Magna Cum Laude…

Sugriwa pun siap untuk berangkat ke Gua Kiskenda, tempat Subali bertapa dan menunggui markas besarnya. “Hai Rama, wahai raja yang adil, jika saya nanti di Gua Kiskenda tolong diperhatikan aliran sungai yang keluar dari gua itu. Bila air sungai itu berwarna merah, berarti saya sudah tewas oleh Subali. Tapi bila air sungai itu berwarna putih, berarti Subali yang pralaya”..

Rama dan Sugriwa pun menuju gua kiskenda. Tapi untuk menjaga asas “fairness of the game”, Rama hanya menunggu di depan mulut gua. Iapun membangun bivak berupa daun pisang dan kayu-kayu kering yang berguguran. Tidak sampai 5 menit Sugriwa masuk gua, terdengar tereakan khas kera yang mere..mere..(Ngieh..geeeerrr …cuittt….geeeerrr…) dan gedebag-gedebug selama 7 hari 7 malam dan tidak ada jeda sedikitpun. Rama pun dengan sabar menunggui pertempuran antar 2 saudara yang paling sakti ini..

Di akhir hari ketujuh, ternyata sungai yang keluar dari Gua Kiskenda berwarna putih, berarti Subali pralaya dan Sugriwa pemenangnya…

Setelah menyembuhkan luka bekas pertempuran selama 10 hari 10 malam, Sugriwa pun merasa fit lagi. Dengan ditemani Hanoman, keponakan Sugriwa, dan 12 divisi pasukan kera…maka Rama, Sugriwa, Hanoman pun berjalan ke selatan menuju ke Alengka…

Singkat cerita, seperti nyanyian yang didendangkan oleh dalang …eh sinden, di awal cerita ini…

Cerita cinta Rama dan Sinta tidak ada duanya di dunia pewayangan. Secara kualitas dan kuantitas Cinta, cinta Rama kepada Sinta dan sebaliknya bener-bener “Nothing compare to you” lah…(lho kok jadi ngacau)…

Untuk jelasnya, baca aja deh komik Ramayana oleh R.A. Kosasih…

[Cerita ini saya persembahkan kepada teman saya Mas Didik alias Simbah, yang dulu waktu SD dan SMP suka memerankan Anoman dan karena itu sering mengelus-elus Dewi Sinta kecil yang diperankan oleh banyak cewek itu…]

34 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Feb 21, 2009 @ 13:58:34

    Berbicara soal Rahwana, zaman sekarang juga banyak lho Rahwana di sekitar kita. kalau Rahwana zaman dulu, pakai mahkota, pakai simbar, pakai badong dan berwajah setengah raksasa. Maka Rahwana sekarang, pakaiannya necis, pakai dasi, dan naik mobil BMW, Audi atau paling elek ya pakai Honda Jazz.

    Tapi kesaktian Rahwana sekarang ngedab-edabi. Ia nggak perlu jadi pertapa tua dan memperdayai manuk jatayu, cukup dengan mengibar-ngibarkan lembaran merah, maka sinta-sinta pun kelabakan dan akhirnya keluar dari sarangnya.

    Karena itu, si Rama sekarang kalau mencari Sintanya nggak perlu harus pakai jasa Anoman, cukup pakai centeng untuk ngubek-ubek setiap hotel he….he….

    Itulah cerita pewayangan abad 20, Sinta diterbangkan pakai pesawat komersial, bukan diterbangkan dendiri oleh Rahwana.

    PRO SIMBAH
    Ayo muncul, opo omahmu perlu tak pasangi internet. Cumak 75 ewu unlimited he…he

    Cak-e Totok-e,
    Wah…nek aku cerito jaman baheula, yo ojo dibandingke karo jaman saiki sing jarene jaman edan, yen ora edan ora keduman…

    Aku luwih becik cerito dari sisi “yang seharusnya begini” atau sisi “ideal” dari suatu jaman, dudu dari sisi realitas sehari-hari…

    Mungkin sampeyan nggak nyadar yo, yen blog iki dudu membahas “current issues”, soale sing wis mbahas isu-isu mutakhir saiki jumlah blog-e wis sak muannaaaaa….

    Reply

  2. alris
    Feb 21, 2009 @ 22:06:29

    Jiwa rahwana dari jaman dulu sampai sekarang sama aja ya, pak. Cuma beda raga aja, menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
    Emang masih ada cinta sejati?

    Cinta sejati ? Pasti masih ada. Kalau tidak ada, tentu banyak film yang tidak laku…

    Reply

  3. totok
    Feb 22, 2009 @ 19:05:56

    Ya iya lah, kita bicara masa lalu aja. Masa yang paling indah. Saat kita bilanmg cinta dengan hati deg…deg plas…lap…lap dor ditambah keringat dingin he….he….

    Reply

  4. simbah
    Feb 22, 2009 @ 20:26:33

    Numpang Lewat Dik Yon…
    -> Totok, …wah sorry Tok, lah aku wis kadung langganan spidi je…dan joss tenan, awit modeme tak kum banyu es, ndisik mota-mati wae, rupane gak enek radiatore dadi panas… saiki spidi neng omah paling cepet sak donya padahal modem ecek-ecek gawean spore lho…

    -> Nyambungi crita jadul ngenani katresnan wah paling paporit lho…Dik Yon, Totok tak critani yo..aku ndisik kelas 3 sd wae wis nduwe Yang lho….jenenge Tatiek, tapi gak nate cedak secara pisik mung saling pandang terus senyum-2, surat-2an barang, ngono wae wis mak plass…. rasane neng ati…..durung mikir cekel-2an barang opo maneh sun-sunan…..he…he…

    Reply

  5. totok
    Feb 23, 2009 @ 12:27:34

    PRO SIMBAH :
    Mbah, smapean eling gak, biyen wektu SD, nek awake dewe dipacokne karo cewek, lungguh nang teras sekolahan dibatesi watu.

    Cerita cinta monyet memang lucu, tahu nggak mbah, aku pindah soko SD Pancasila karena terpaksa. Soalnya, aku wani ngambung konco sak kelas sing jenenge nek gak salah Tari, omahe Jalan Nias paling etan.

    Persoalane dudu soal ngambunge, tapi sing tak ambung kuwi justru anake guru kono he…hee… trus aku distrap sampek gak wani sekolah maneh. Akhire pindah nang BO-A, ketemu sampean.

    Reply

  6. simbah
    Feb 23, 2009 @ 15:20:50

    Matur nuwun Dik Yon,….persembahan ceritanya, lah di monitorku rupanya terpotong, alinea terakhir baru terbaca hari ini, lagian baru ada waktu senggang. Ceritanya ni…biasanya saya ngitung load-sheet Chopper untuk Dauphin EC-155B sekarang ganti ke Sikorsky S-76 yang payloadnya kecil.
    Lagian agak lama nggak berkunjung ke Blog ndiko. He…he….kesempatan bercengkerama dengan Dara ayu, ya kalau pas menari itu….gimana tidak, aromanya selalu harum…menenangkan, hidup seperti selalu riang….waktu itu. Tapi, saya sangat menikmati sewaktu memerankan Buto Cakil melawan Arjuna, yang kala itu dibawakan oleh mBak Erni, umurnya 2 tahun lebih senior, betapa priyantunnya kuning bersih, ayu….dan jadi rebutan…orang-2 yang sudah akil balig, aku masih lugu…..jadi ya belum ngerti opo-2….

    Simbah,
    Wah…selain cerita percintaan di dunia wayang, rupanya bagi pemerannya juga kadang kesambet cintrong (minimal simpati) juga to ? Padahal mestinya Cakil nggak boleh jatuh cinta sama Janaka nanti ndak menyalahi pakem…hehehehe…

    Apa mbak Erni itu kakaknya Rismarini teman kita di III IPA 1 ?

    Reply

  7. rumahagung
    Feb 23, 2009 @ 15:36:03

    mantab Pak.
    wah,pantes aj Sugriwa menang,
    dia kan ud Sugriwa, M.Sc.
    magna Cum laude lagi.
    Subalinya S1 aj pasti blom beres.
    hahahahhaa..!!

    Hehehe…. πŸ˜‰

    Reply

  8. simbah
    Feb 23, 2009 @ 16:32:04

    Pringisi…. Dik Yon,
    -> Tok, sak elingku sampeyan ndisik ngesir Dolly ya….? wektu kuwi rak sik semlohay….kunig resik tur weweg…soale neng SMASA ya dadi kancaku, ning deweke mrothol soale married karo Djanuri, sing omahe cedak kantor pos jl. kapt Saputro…

    Kayaknya Dolly tidak mrothol loh ! Sampai kelas III SMA walaupun dia ambil IPS saya masih sering lihat ia pakai baju seragam sekolah. Selepas SMA, baru ia menikah dengan cowok yang rumahnya dekat kantor pos itu….

    Reply

  9. kunderemp
    Feb 24, 2009 @ 07:51:57

    Dengan ajian Rawarontek, Rahwanapun dengan mudah menarik, membopong dan melarikan Dewi Sinta tanpa kesulitan sama sekali karena semua penjaga Sinta jatuh tertidur dengan pulas begitu Rahwana telah datang di sekitar tempat Dewi Sinta lagi termenung

    Kayaknya Rahwana gak pakai aji Rawarontek deh waktu menculik Dewi Sinta. Dia menyuruh Kalamarica menyamar jadi kijang kencana (emas) agar Rama terpancing. Trus saat Kalamarica tewas, menjelang ajalnya ia sengaja teriak dengan meniru suara Rama sehingga Sinta mendesak Laksmana pergi melihat Rama. Setelah Rama dan Laksmana tak ada di tempat, baru Rahwana menyamar untuk memancing Sinta keluar.

    Mas Kunderemp,
    Wah…matur nuwun koreksinya…. πŸ˜‰
    Saya dalam menulis blog nggak pakai mikir dan nggak pakai survey, langsung ketok…ketok…ketok….mengetik di papan ketik komputer. Cerita hanya didasari ingatan saya waktu SD (40+ tahun yang lalu) waktu saya membaca komiknya RA Kosasih berjudul “Ramayana”..
    Masalah cerita Dewi Sinta diberi pagar melingkar supaya tidak diganggu orang, saya malahan baru ingat setelah teman2 lain berkomentar di posting ini…

    Kalau buku “Mahabharata” cukup banyak terdapat di toko buku, buku “Ramayana” agak sulit didapat. Jadi tambah ngacau nih ceritanya, soalnya buku referensinya nggak ada…

    Reply

  10. totok
    Feb 24, 2009 @ 09:20:11

    Wah, soal Dolly tak pikir kabeh yo ngesir cak. Wong nek malem minggu, arek-arek BO-A podo dolan nang omahe Dooly nang Jalan kemiri. Mungkin sampean wae sing gak wani dolan.

    Biasane aku karo Budi, Narto, trus anake tentara sing omahe nang ngarep sekolahan iku sopo, aku lali jenenge.

    Tapi jujur wae aku ora wani, ndelok areke bening kincling-kincling ngono. Paling-paling waniku cumak nyegat nek Dolly les nggone pak Tardji, sing kos-kosane Jalan Sawo, cedak omahku.

    Opo maneh trus dijaluki pelem, aku langsung menek clingkrik-clingkrik ngunduhke. Gak peduli bar kuwi diuring-uring simbah, soale peleme arep didol gae mbayar sekolahku he…he

    Wah…iki cerita nyata masa lalu to…
    Dolly dan teman2nya cewek sekelas I D dulu pernah minta mangga sama saya, lewat salah seorang teman cewek kita sekelas (orangnya siapa, rahasia)…
    Ya nggak saya kasih, lha wong mintanya lewat orang lain….hehehe…

    Reply

  11. alrisblog
    Feb 24, 2009 @ 16:28:28

    PRO pak totok, simbah, pak tri

    Wah banyak yg mengagumi Dolly, kayaknya kembangnya SMP 2 ya, pak. Ibarat sekarang kayak Luna Maya atau Sandra Dewi, barangkali. Seperti Andi Meriem Mattalata atau Rafika Duri yang ayu itu, saat usia mereka ditahun 80-an.
    Orang ayu dan cantik itu dimana-mana jadi rebutan, ya.

    Reply

  12. simbah
    Feb 24, 2009 @ 16:34:54

    Ha….ha….berarti sama-2, dunk!
    Kenapa kita dulu waktu ABG, nek ngesir kok mesthi isin..ya…? Menurut ilmu Jiwa, priye dik Yon?
    Waniku apel bareng wis kerjo. Memang pernah diwanti-wanti oleh poro sepuh, nek sekolahe durung rampung gak pareng ‘yang-yangan’, akhirnya terpatri………trus begitunya nek dolan neng omahe sing disir njaluk dikancani sohibe…Aku ndisik sering ngeterne Witono, neng omahe Siti Aisyah, bea-cukai lan liya-liyane…
    Tapi saktenane dalam benakku, sing isih kelingan ki pancen sing huwayu-ayu, sing biasa lan sing gak patek ayu, wis lali kabeh….he…he…

    Reply

  13. simbah
    Feb 24, 2009 @ 16:41:14

    mBak Erni, rumahnya disamping utaranya Rismarini, usianya barangkali sepantaran dengan mBak Endang, mbakyu ndiko, kalo mBak Rini yang mbakyunya Rismarini saya kira lebih senior lagi, sepantaran dengan Bu Edratna….

    Reply

  14. totok
    Feb 24, 2009 @ 18:22:31

    SIMBAH
    Lha dalah, ternyata Witono yo naksir Siti Aisyah to…..

    Padahal aku biyen, dadi obat nyamuke Aziz Hidayat, saben malem minggu apel nang kono sing ngancani aku. Aziz naksir berat, tapi gak ketekan karepe, soale Siti Aisyah malah ditangkep karo si arek arab sing omahe cedak stadion, yo tonggone Azis dewe. Aku lali jenenge cak, tapi adike biyen koncoku. Deweke dadi wartawan Surya.

    Siti Aisyah akhire saiki kerjo nang KPN Madiun.

    Tapi Witono mujur mbah, nek apel karos ampean gak tau kepergok Azis karo aku. Upomo kepergok, wah sido gelut tenan nang stadion.

    PRO MAS ALRIS
    Dolly memang bintangnya cewek Madiun tahun enampuluhan, waktu dia masih duduk di bangku SD. Kebetulan dia teman sekelas sama aku, termasuk dengan Simbah waktu di SD. Lha ketika SMP, kita ketemu Tridjoko Wahyono.

    Dolly memang banyak yang naksir, maklum orangnya bening…ning….ning.

    Wah ternyata setelah tua-tua begini, akhirnya apa yang ada di lubuk hati yang terpendam, keluar semua ha……ha.

    Reply

  15. alris
    Feb 25, 2009 @ 06:00:32

    Numpang curhat pak Tri…
    Simbah, lha kita kok sama ya pak. Saya berani apel setelah merantau ke Jakarta dan kerja. Waktu jaman sekolahan dan kuliah malah gak berani ungkapkan perasaan sama cewek yang ditaksir. Kalo soal ini saya kalah dengan skor 10 – o sama pak Totok. Nanti kalo ada kesempatan ke mBediyun saya akan temui bapak-bapak yang hebat ini (pak Totok & simbah), silaturahmi.

    Reply

  16. totok
    Feb 25, 2009 @ 08:38:25

    PRO MAS ALRIS
    Silahkan kalau ke mbediyun mampir ke tempat saya. jangan khawatir, kalau hanya nasi pecel saya bisa siapkan he…hee…

    Tapi maaf, kadang saya nulis pakai bahasa Jawa. Soalnya Pak Tri dan Simbah itu teman masa kecil saya. Mudah-mudahan Mas Alris bisa menerjemahkan. Eh, btw mas Alris asli mana sih?

    Saat cinta monyet Pak tri dulu pernah naksir anak PG Soedhono saya yang antar naik sepeda pancal. Padahal jaraknya 25 km, berangkat pagi, pulang sore. Tapi sampai di PG Soedhono gak berani nemuin si doi, jadinya ya, dapat capeknya aja.

    Kalau Simbah, itu teman saya sejak kelas 4 SD Budi utomo A, Madiun. Tapis empat musuhan dan satru-satruan alias diam-dieman nggak bicara sampai nggak tau kapan. Tapi sekarang, setelah ketemu di blognya Pak tri, kita malah jadi kangen he…he

    Cerita masa kecil ternyata memang mengasyikkan kalau kita bongkar sekarang. Lucu, aneh dan bikin gemes juga. Apalagi mengingat saya pernah pindah sekolah dari SD Pancasila ke SD Budi Utomo gara-gara nyium teman sekelas, yang anaknya guru situ juga. Akhirnya dihukum sampek saya gak berani masuk lagi, dan harus pindah sekolah ha….ha

    Cak-e Totok-e,
    Wah…masalah cintrong monyet saya jangan disebar-sebarkan dong, itu kan berita kategori A1 kalau jaman sekarang pasti sudah disiarkan di Insert Selebritis dan Cek & Ricek, atau minimal ditulis di majalah VOGUE atau dimuat di PLAYBOY FORUM…hehehe…

    Saya sudah bilang, si doi itu bukan satu-satunya doi yang akan dikunjungi. Sekurangnya ada 2-3 doi lain yang saya dianter sama anak SMP 2 juga buat dikunjungi, tapi sayang nggak ada satupun yang nyantol. Ibarat mancing, wah…tlusut terus. Ibarat masang nomor buntut, wah…ngeblong terus. Ibarat rem…wah…remnya blong…hehehe !

    Siapa doi-doi SMP 2 itu ? Sebagian wis sampeyan critakno di Blog ini, sebagian lagi masih dalam kategori Top Secret. Yang jelas, antara doi-doi itu malah sering berantem sesamanya (ngrebutin saya…hehe…), soalnya saya pinter nggambar wajah dan mirip sekali dengan orangnya. Kalau saya gambar wajah si A, maka si B, C dan D marah !! Sebaliknya kalau saya gambar si C, maka si A, B dan D marah dan pada minta “putus” semua…

    “Putus” ? Lah, nyambung aja juga belum…hehehe…

    Anak sekarang pacarannya agak fair. Ada tingkatan-tingkatannya, dari : PDKT (pendekatan), gebetan, jadian, tunangan, dan nikah (atau kawin, mana yang duluan aja…hehe..)..

    Kalau bagi yang tua-tua kayak kita ini, kadang-kadang ada CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Tapi saya bisa jamin, di antara si A, B, C dan D itu saya tahu 2 di antaranya sudah meninggal, dan yang 2 lagi pastinya udah jadi nenek-nenek…hehehe…

    Reply

  17. totok
    Feb 25, 2009 @ 17:57:37

    He….he….. jangan-jangan yang sudah arawahum itu si Dolly. Kalah dong sampean karo si Djainu, termasuk juga yang lain-lain, misalnya Simbah.

    Reply

  18. simbah
    Feb 26, 2009 @ 08:46:48

    Pringisi dik Yon,…..
    -> Totok,….sejarah hidupmu gak adoh karo aku, ndisik neng Mekassar aku nate dadi tukang ngecet lan ngaspal landasan pesawat terbang. Kasarane dadi kuli kasar. Lah priye nek neng Mediyun dadi kuli kasar yo isin karo kancane, bareng neng perantauan opo wae dilakoni asal halal…
    Cuman aku kadang-2 yo gumun, sekolahku ndisik gak pinter, ning rumangsaku uripku saiki penak, soal utang, wong urip kudu nduwe utang, nek gak utang berarti gak urip tho…??? embuh wong liyo ngarani aku…
    Malah kadang-2 nek aku di-ino uwong, suwe lagi ngerti…aku rumongso sugih, ning wong liyo ngarani aku wong gak nduwe..kadang-2 aku kudu ngguyu dhewe…istilahe aku ki di ‘under estimated’ tapi aku gak loro ati….ki…Yo mung wong kuwi tak dohi, soale dudu levelku,…..aku golek konco sing senasib sepananggungan wae…ibarate yo ojo nyedhaki nek kehadiran kita tidak membuat nyaman priyantun kuwi..piye…setujukah…??

    Simbah,
    Lha..walaupun iki istilahe pringisi, boleh dong aku urun rembug. Pancen onok wong koyo ngono, begitu kene nyedaki dheweke durung-durung wis ditakoni “Kowe butuh duwit yo ?” padahal kene durung kewecap bahkan sak kecap. Utowo rupaku iki rupo sing kudu diwelas-asih-i dadi durung-durung wis diwenehi pertolongan, padahal kene ora njaluk..
    Sing enak yo ketemu konco-konco sing nganggep kene sak level karo dekne….dengan begitu persahabatan dari kepompong sampai menjadi ulat bulu…tetap enak dirasakne, lan dikenang..
    Setuju nggak ?

    Reply

  19. totok
    Feb 26, 2009 @ 09:37:15

    MBAH SIMBAH
    Setuju mbah, untuk apa kita dekat sama orang kalau nggak sama-sama nyaman.

    Aku dewe jan-jane yo gak pinter. Tapi nasib baik kadang-kadang nyambangi.

    1. Zaman SD BO-A biyen, saben awan mesti nukokke dahare Pak Tardji (guru kita kelas 6). Akhire wektu ujian nilaiku jan apik tenan, kabeh ongko 10. Sampek koncone dewe sing omahe Jalan Jambu (lali jenenge) ngiri, soale pancen deweke luwih pinter karo aku.

    2. Wektu SMP, aku mestine nggae kocomoto. Tapi dasar ekonomi simbahku lagi jeblog, dadi aku ora wani nyuwun. Tapi njelalah yo lulus meski nilaine jeblog. Wektu SMA idem dito.

    3. Nah lulus SMA keplantrang-plantrang tekan Cilegon, tekan Jakarta, eh akhire dadi tukang cat nang Suroboyo, trus isok kuliah barang. Soko kono trus dadi wartawan, karierku clingkrik-clingkrik munggah, masiyo ijazah formalku cumak SMA (Nang AWS gak sampai lulus) tapi aku dadi ”gubernure” Jawa Pos nang Jawa Timur, anak buahku S1 kabeh.

    terus sampek pensiun dadi wartawan, saiki mbalik maneh koyo wingi uni ora duwe opo-opo maneh he….he. Tapi alkamdulilah isih sehat wal apiat, isih isok ngenet barang masiyo gratis.

    Konco-konco akeh sing ilang mergo aku wis gak isok nraktir nang Fire. Tapi karo sing moho kuasa diijoli konco-konco lawas sing gak punya pamrih pada berdatangan, termasuk Cak Tri karo sampean. Itu yang membahagiakan diriku. Meski jauh, tapi kita bisa bersilaturahmi.

    Aku yo isok weruh wajahe Cak tri sing gak berubah, cumak rodo kisut he…he. Tapi deweke ora isok ndelok wajahku, soale aku ora isok nglebokke fotoku dewe. Katrok he…he

    CAK TRI
    Gak usah bikin penasaran, bukak saja siapa cewek-cewekmu iku. Wong wis podo tuwone, bojo-bojone awake dewe kan wis ora cembekur, wong kari batine he…he. Biar kita kita bisa ngomong ”we ladalah, ternyata podo sing dikarepke he….he”

    Cak Totok,
    Jare aku mbiyen SMP diitung rodo pinter, mangkane akeh “pengagum” pada berdatangan. Pas aku kelas III SMP wah sing jenenge “secret admirer” mau pada teko kabeh. Anehnya, yo akeh koncoku sak kelas neng kelas III, antara lain awakmu Cak Totok, sing volunteer dadi Mak Comblang. Di kelas kita IIIa biyen, ada 4 mak Comblang, 3 di antaranya cowok (termasuk awakmu) dan 1 cewek. Sing cowok masing-masing mengajukan 1 calon gacoannya (dadi onok 3 x 1 calon = 3 calon), lan sing cewek iki sing giras lan trengginas langsung mengajukan 5 gacoannya (total jumlah yang ditawarkan ke aku via tangan Mak dan Pak Comblang = 3 + 5 = 8 orang). Mulo aku biyen koyok wong linglung, lho bocah ora duwe bondo opo-opo koyok aku (duwe bondo ora, pinter ora, rupo apik ora) lha kok keblebeken calon gacoan…hahaha…
    Aku wis ora arep mbukak kuwi kabeh. Istilah “strip tease” kan kudu dibukak pelan-pelan, biar penonton (maksude : pembaca blog iki) dadi penasaran…hehehe…
    Ben kon yo melu penasaran.. Mengko wae nek ketemu neng mBediyun sambil neng warung mangan sego pecel sikile diangkat aku arep cerito neng awakmu. Cerito bloko sutho….mulo tunggunen aku neng mBediyun yo….hehehe…

    Reply

  20. simbah
    Feb 26, 2009 @ 15:19:11

    Dik Yon & Totok,…..
    Iya… bener kabeh ular-ular ndiko…..urip ming kari nglakoni karo nglakeni (istilahe dik Yon0)..he..he..
    Kadang-kadang aku eling nate gawe salah karo kanca-kancaku cilik biyen. Koyo karo nyang Witono. Bapakne, pak Wardoyo, Guru Seni rupa neng SMP-III ugo nyambi kuliah neng IKIP Mediyun jurusan seni-rupa. Di rumahnya banyak lukisan-lukisan hasil karyanya. Embuh setan soko ngendi pas aku padudon karo Tono, terus tak wadani, aku nate ngucap “Bapakmu tukang nggambar” trus Tono cep klakep wajahe abang mbranang…sakliyane tersinggung, mungkin ya saking nesune. Ning wektu kuwi sawise aku wis njaluk ma’ap. Tapi rasa ‘quilty-feeling’ isih membayang neng benakku sampek saiki. Opo maneh saiki status sosiale koyo bumi langit. Deweke doktor, dene aku sing nate nglarani atine, dadi kuli…sing gak nduwe drajat babarpisan…..uhu….uhu…..

    Simbah,
    Wah…dosa masa kecil pancen akeh. Pas SD aku nate nantang kancaku “Ayo nek wani aku lan kowe suwek-suwekan klambi”. Aku muni ngono mergo aku ngerti klambine ming siji (sak setel), sedangkan aku klambiku rong setel.. Tapi aku terus merasa bersalah sampek saiki mergo ngomong koyok mangkono neng koncoku jaman cilik padahal areke apik atine…

    Reply

  21. alris
    Feb 27, 2009 @ 02:06:26

    Saya jadi pembaca yang baik cerita Bapak-Bapak. Walau ditulis dalam bahasa jawa sebagian besar saya ngerti. Silahkan dilanjutkan….wakakak….

    Hehehe…sambil membaca sambil belajar….saya nulis postingnya pakai bahasa Indonesia sih, tapi kalau ketemu teman masa kecil sulit untuk tidak berbicara dalam bahasa Jawa….

    Reply

  22. totok
    Feb 28, 2009 @ 09:45:38

    UDA ALRIS

    Maaf kalau saya pakai bahasa Jawa, soalnya cerita-cerita lama itu merupakan top secret bagi kita-kita he….he… Jadi silahkan baca dan cari kamus bahasa Jawa.

    CAK TRI
    Wah berarti aku dadi mak comblang wis belajar sejak SMP ya…. Soalnya saya di Jawa Pos dulu pernah jadi pengasuh rubrik kontak jodoh. Wah senengnya cak, bisa nglakekne (he…he istilah simbah) sori menikahkan beberapa pasangan.

    Tapi angger pas wulan Besar (Jawa) aku kudu siap-siap dana gae tuku kado. Soale mereka mesti ngundang. Dan semua saya usahakan tak hadiri. Tapi yo iku cak, nek nang Suroboyo wae gak jadi soal, bareng onok sing nang Kalimantan, akhire yo nyarter pesaawat (he,,,,he…he).

    SIMBAH
    Bener mbah, wektu awake dewe isih cilik gawene olok-olokan. Sing rodo nemen, bapake dikatut-katutne, termasuk sampean ngasih predikat bapake Witono tukang gambar.

    Soal iku sing aman aku, soale konco-konco ora iso madani aku karo profesine bapakku. Soale ora ono sing weruh. MUngkin konco-konco arep madani simbahku ora mentolo, soale simbahku lak wis sepuh he…he.

    Awake dewe biyen nate satru-satruan keno opo yo, aku wis lali mbah. Tapi nek sampean eling, sampean critakke, yok opo kelakuanku biyen terhadap sampean hingga sampek gak wawuh-wawuhan he….he.

    Aklu kelingan sampean karo Witono sing gawene nggawe omah klaras nang tegalan. Aku nate tiru-tiru, nggae omah klaras nang samping omah. Tapi akibate didamprat karo mbahku, dikiro belajar dadi wong mbambung he….he. Padahal yo tahu duwe pengalaman mbambung tenan

    Wooo…agi ngerti tho awakmu…. πŸ˜‰

    Reply

  23. simbah
    Mar 02, 2009 @ 09:04:21

    Nderek langkung….maning…dik Yon..
    -> Totok, aku yo rodo lali, ning nek gak salah kowe nantang aku karo Witono kon ngrubut sampeyan dadi wektu kuwi arep gelut trus Witono gak gelem , ngajak nyatru wae karo ndiko…Aku bimbang loro-2ne podo kancane, aku kelingan sering mbok Jajak-ne krupuk remet neng Warunge Lik Bi karo warunge Budene Heru, meh saben ndino mbok jajakne..
    Awake dhewe gak wawuh soale bubar kuwi lulus SD trus nyang SMP-II, nakalmu mbok terusne neng smp, awit awakmu sering ngundang-2 Pak Kadimin, guru Agama karo mbengok soko kadohan, lah pak Kadimin wis rodo adoh yo mung iso lingak-linguk nggoleki swara mau……kelingan ora….???? he…he….

    Simbah,
    Pas awake dewe cilik pancen sering satru, oleh sebab sing paling nggak masuk akal sekalipun. Aku biyen nate satru karo koncoku sak kelas mergo aku lan dekne adu entut-entutan sopo sing paling banter lan bau. Dekne kalah, lha njur “senjata pamungkas” dikeluarkan, yokuwi jari tangan kanan merogoh celana nggoleki lubang angin, terus jari tangane mau di-let-ne neng lambeke. Yo aku wong normal, “diperlakukan seperti itu” alias “di-ampas-i” wis mesti wae aku njur nyatru dekne….hehehe….

    Reply

  24. totok
    Mar 02, 2009 @ 09:17:22

    SIMBAH :
    Memori sampean ternyata yo isih 4 Giga, isih kelingan barang lawas. Tapi itulah masa bocah yang aduhai, nggak bakalan kembali lagi. Trus Witono sekarang kabare piye, nang endi areke. Tolong sampekno, aku njaluk mangap, eh…maaf nek biyen tau tak tantang gelut, trus deweke sakit hati.

    Jangankan dikeroyok, lha wong musuh siji wae urung karuan menang he…hee… wektu iku lak awakku isih kuru nyengangik koyok cangik soale kurang gizi.

    Wah, soal nraktir, tak kandani yo cak, tapi ojok disampekno sopo-sopo. Aku isok nraktir sampean iku mergo nggawe duit POMG alias duwit sing mestine gae bayars ekolah he…he…he.

    Lha piye maneh, aku karo swargi simbahku ora tau disangoni. Sementara melihat teman-teman podo jajan es anglek nang ngarep sekolahan ngisor wit. Dadi aku yo kepingin. Akhire opo, duit POMG dadi sasaran.

    Pancen aku yo rodo nakal nang SMP. Tau goro-goro cewek aku diparani arek lanang sainganku nang sekolahan. Pas wektu iku SMP 2 pameran. Untunge onok cak Tri, sing wektu iku deweke lak belajar silat nang SH Terate. Deweke tak gae tameng nang mburi kelas, tak omongke nek koncoku iki pendekar SH, akhire aku ora sido digebug. (mugo-mugo Cak tri kelingan)

    Termasuk Seling, arek Mangunarjo. Yo tau tak gae tameng he…he

    Cak-e Totok,
    Whe lha dallah…ngono to ceritane. Pantesan wektu Seling kelas III SMP ditantang gelut karo arek IIIc aku lali sopo jenenge, tapi dekne omahe Mojorejo lan melu Karate (bocahe awake gedhe, moto rodo ngriyip, lan rambute abang, rambute semi keriting). Trus karo Seling diajak neng sebelahe bioskop Arjuno mau ke arah utara di belakangnya RTM (Rumah Tahanan Militer) sing wektu iku isih papringan lan arang ono omahe…

    Begitu prittt….dekne nendang Seling, lan dengan sabuk ijo SH Terate-nya Seling dengan mudah menghindar. Terus areke mau dijambak rambute, lan pipi kiri-kanan-e ming dikeplek-keplek karo Seling sampek areke rebah ke tanah. Sesuke arek-e mau 3 hari nggak masuk sekolah mergo mukane abuh kabeh. Tapi itu lah anehnya jaman itu : kalau mau berkelahi pasti satu lawan satu, dan hanya “yang berkepentingan” saja yang berantem dan lainnya jadi penonton. Bedo karo arek jaman saiki sing gelute wanine kerubutan…

    Iki yen critane Cak Totok mau nyambung lho…

    Reply

  25. simbah
    Mar 02, 2009 @ 16:21:49

    Iyah…yah…nyambung kabeh…yen aku kelingan rumangsaku kok penak jaman dhek cilik mbiyen Yo..? Kabeh jajanan sarwo murah…arep dolano neng Nggeneng numpak sepedah yo gak kesel,…ngenani Witono, aku wis ora nate ketemu. Terakhir waktu dia menikah tahun 1988 di Mesjid Sunda Kelapa, jakarta. Cuman neng Mbediyun saiki lalulintase rame, aku yo duwe rencana pindah tempat tinggal neng Ndungus utowo Plaosan, daerahe isih ijo land hawane adhem, mengko nek anakku wis podho uro kabeh urip karo kluwargane dhewe-dhewe…

    Simbah,
    Banyak orang yang bilang masa lalu lebih indah….makanya mereka menyebutnya “the good old days”…

    Numpak sepedah karo Totok neng Nggeneng ora kesel soale Totok ming ngajak thok tapi dekne ora nggawa sangu (soale simbahe dekne ora nyangoni). Padahal aku yo ora nggawa duwit babar blas, soale Totok ngerti-ngerti teko neng omahku neng Ngrowo lan ngajak sepedahan. Jebule tujuanne Nggeneng, soale jarene Totok arep neng omahe Mbahe sing manggone neng Nggeneng. Eh, mendekati Nggeneng jebule dekne ora yakin nek duwe simbah neng Nggeneng. Hopo tumon ? Sepanjang jalan nek cah loro aku lan Totok ngelak, yo kari mandeg neng tempat tambal sepeda, soale pasti wae disediakno kendi sing isine banyu uadeeem lan mak cless ngalah-ngalahke Aqua. Gratis pisan. Dadi mulih sokok Nggeneng, awak keroso enak lan luwih sehat, lha wong sepedahan 2 x 30 km = 60 km. Sampek mBediyun wis jelang Maghrib. Awak sehat tapi Totok rodo kuciwo : pertama, ora sido ketemu Mbahe, kedua ora berhasil nggiring aku mlebu pabrik gulo…whekekkekkekkk….(kekelen nganti metu luhku sak ember…)…

    Reply

  26. totok
    Mar 02, 2009 @ 18:18:15

    Arek saiki, nek gelut keroyokan. Malah omahe wong sing ora duwe keluputan yo dadis asaran, gentengi ditimpuk watu.

    Pas Suroan wingi yo ngono cak. Onok rombongan (gak perlu tak sebutke mesti sampean ngerti) liwat ngarep kantorku, bar magrib. Nang kono kebetulan onok bocah lanang telu mlaku-mlaku. Gak onok omonge terus dilabrak rombongan mau bag…bug…bag bug. Untunge cak, areke isok mlayu mlebu nang gerejo terus liwat samping.

    SIMBAH :
    Lha kok rencana sampean podo karo aku mbah. Aku saiki yo lagi lingak-linguk golek omah nang Dungus, mergo hawane isih seger.

    Iki wis ono pandangan (tapi ora tuku, ngontrak) 3 tahun njaluke 4,5 jeti alias setahune 1,5 jeti. Omahe gede, karepku arep tak gae bukak warnet, karo bukak warung soto ayam. Soale cedak tempat rekreasi Nggrape karo Monumen Keganasan PKI.

    Cumak kari golek utangan, gae modal. Lha soal siji iki aku mesti diseneni cak Tri, urip kok utangan ha….haaaaa.

    Cak Totok & Simbah,
    Wah…koyone aweke dewe telu podo impiane…yokuwi pangsiun tenguk-tenguk neng omah Dungus sing isih sepi pi pi. Omahe sokok kayu, gendenge abang. Njerone onok sentonge mburi, lan sentong kiri kanan. Ora ono TV. Ora ono radio. Ora ono koran. Ora ono warnet. Ora ono HP. Omahe mburine alas gung liwang liwung, lan ngarepe kali sing banyune gemericik lan akeh iwake cilik-cilik…

    Wah…masa pangsiun sing koyok ngono kuwi sing sukses…berat…

    Dengan catatan, ora nggowo utang lho. Yeng diutangi wong, mbayare kapan-kapan, iku bedo meneh…. πŸ˜‰

    Reply

  27. totok
    Mar 03, 2009 @ 14:05:15

    OK aku tak klumpuk-klumpuk disik, nek sampean karo simbah pasti ora kesulitan, soale onok pangsiune, onok taspene pisan. Lha aku, sangu pangsiun wis digondol buto ijo, mosok kau kudu dadi buto terong he…..he

    Reply

  28. simbah
    Mar 04, 2009 @ 17:44:05

    Pringisi….!!
    -> Tok sampeyan nate melu seminare Purdie-chandra opo durung..? Nek durung ono bukune. Cara gila jadi pengusaha…neng kono ono kiyat-kiyate… masiyo gak duwe duwit iso utang, cara-2ne disampekne neng video-ne barang. Aku durung nglakoni, soale wektuku akeh neng segoro tinimbang neng ndarat, cuma bojoku wae sing wis mraktekne…..aku kari ngawat-awati soko kadohan….sing penting kudu optimis….

    Reply

  29. totok
    Mar 05, 2009 @ 08:38:36

    SIMBAH :
    Nek moco buku iku pancen durung, tapi aku nek mulai usaha yo wis ”gila” tenan. Lha wong kadang gak onok modal dilakoni.

    Mbah, Cak Tri tanggal 10/11 Maret ini arep nang mbediyun, mugo-mugo sampean pas gak nang tengah segoro, dadi isok ketemuan bareng-bareng kan luwih gayeng.

    Reply

  30. treysno
    Mar 23, 2009 @ 09:51:50

    wah, inspiring story lho mas…
    emang jamane awake dhewe ndisik (aku termasuk generasi tengah mas, kelairan 71)..
    bedo banget mek saiki yo..
    emang Rama Sinta, Rahwana, Hanoman Kumbokarno berkembang dadi liar lho saiki… Tapi perlu dicatat bahwa Kumbokarno adl the other battle di negaranya… yah to, dia ksatria sejati sing tuhu karo tanah tumpah darah dan tugasnya sbg ksatria ansich… tdk terpengaruh oleh sapa yg berkuasa…
    satu lagi, dlm jejer jaman modernke-Indonesia-an saiki, jiwa Rahwana banyak bergabung dgn Hanoman, Rama, Kumbokarno bahkan Sugriwa dalam satu tubuh… keliaran alam manusia modern …???

    Mas Trisno,
    Wah…pengamatan yang boleh tuh. Ya kapan-kapan saya bercerita tentang Kumbakarna yang bilang “right or wrong is my country”..

    Emang kalau cerita wayang itu bisa “hitam putih” tapi cerita dunia realitas yang sekarang “hitam” bisa menjadi “putih” dan yang “putih” bisa menjadi “hitam” dengan seketika. People change, kata teman saya yang bijak..

    Reply

  31. Rieza wardhantari
    Aug 19, 2009 @ 10:20:02

    Ass. Mas Tri, salam knal, sy jg alumnus sd BO A, lulus thn 1977.. Apa qt 1 angkatan..? Sy kgn dg tmn2.. Tman2 sy, ada yg namax Aris, Medi, Totok, Sri Wahyuningsih(Nuniek, rmahx dkat masjid Taman), Hari Pramujo.. Dll. Sy kehilangan jejak mereka.. Apa mgkin mas bisa bantu sya..? Trima kasih sblum dan sesudahx..

    Mbak Rieza,
    Saya bukan lulusan BO A, tapi punya banyak teman yang lulusan BO A, terutama waktu sekolah di SMP 2 (1970-1972). Berarti kita bukan satu angkatan mbak. Tapi saudara saya ada yang jadi guru di BO A, saya panggilnya “Mbak Yah” (Bu Sabariyah ?) rumahnya 200 meter di selatan SD BO A yaitu di Jalan Kapten Saputro.

    Kalau rindu teman-teman, paling enak makai FB (Facebook). Soalnya saya sendiri begitu membuka account Facebook tak lama kemudian ketemu banyak teman2 SD, SMP, SMA, IPB. Plus foto-foto jaman dulu yang lucu dan nggemesin…

    Coba saja membuka account Facebook mbak….

    Reply

  32. Rieza Wardhantari
    Aug 20, 2009 @ 09:06:38

    O, iya Mas, sy salah.. Ternyata yg tamatan BO A itu Mas Totok, sama Si Mbah ya.. (stlh sy baca kmbali suratnya, tgl 26 februari..). Halo Mas Totok, si Mbah, apa bisa hub. Sy..? Seandainya Mas Tri punya info ttg mereka, mungkin itu bsa menghubungkn dg tmn2 yang lain..
    Sy jg sdh di fb, tapi masih blm ktm tuh Mas.. Buat ibu Sabariyah, tolong smpaikn salam& hormat sy.., mgkin ibu blm ngajar saat sy di BO dlu. Kepsek wkt itu pak Sutardji, guru kls sy pak Soeradi.. Apa mrk msh tugas ya..?
    O ya, perlu sy klarifikasi Mas Tri, pggl sj sy “Mas”, bkn Mbak, spt yg mas sbutkan, krn smpai saat ini, sy msh lanang tulen loh.. Hehehe… Saat ini sy domisili di Poso, Sulawesi Tengah..
    Matur nuwun banget loh Mas atas balasan n bantuanx..

    Hallo Mas Rieza,
    Wah…lanang tulen to mas…sorry ya sempat manggil “mbak”….;-)
    Bu Sabariyah atau “Ibu Yah” itu kalau nggak ngajar di BO A mungkin ngajar di BO B, tapi beliau sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena diabetes mellitus..

    Untuk add saya di FB, coba add “Tri Djoko Wahjono” atau “tridjokoeta@yahoo.com”. Add Simbah di “Purwoko Widodo”, dan add Mas Totok di “Santoso Bondet”…

    Ok selamat berkomunikasi dengan ex BO A, siapa tahu Simbah dan Mas Totok sudah “mengoleksi” kawan-kawan BO A lainnya…

    Reply

  33. Rieza Wardhantari
    Aug 20, 2009 @ 13:27:33

    Tq banget loh Mas Tri atas infonya yg sngt berharga ini.. Sampai jumpa di fb.
    Mohon maaf meng. Mbak Yah.. Smg arwah beliau dterima disisi Allah SWT.. Wassalam..

    Reply

  34. Bella AV
    Sep 08, 2014 @ 16:10:17

    Rahwana kan mencintai sinta tulus sampai akir hayatnya tp ga bisa memiliki, ga salah sih untuk org yg berjuang demi cintanya :’)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: