Melamar (lagi) menjadi dosen

Posting ini sebagai kelanjutan dari posting-posting saya tentang “Sejarah Binus” yang di awal-awal saya memulai menulis blog ini sering saya tuliskan…

Di Fall semester 1989, sampailah saatnya saya menyelesaikan semua persyaratan untuk memperoleh gelar master dari sekolah saya, Indiana University at Bloomington. Saya berharap gelar master in Computer Science ini segera saya dapatkan di akhir Fall semester ini..

Sayapun tidak menyangka bahwa masa studi yang saya rancang hanya 2 tahun atau maksimal 2,5 tahun ternyata molor menjadi 3 tahun alias 6 semester. Mungkin adanya rasa “dekat dengan pemberi beasiswa yang notabene kantor saya sendiri” yang menyebabkan saya kerasan sekolah di Amerika. Soalnya, tinggal nulis surat “Boss, saya mau sekolah 1 semester lagi” dan dalam waktu seminggu jawabannya sudah datang “Ok”. Enak kan ?

Karena saya akan pulang ke Indonesia, maka selain bekerja di kantor lama saya, sayapun bersiap untuk kembali mengabdikan diri saya sebagai dosen karena tujuan negara kita menurut UUD 1945 kan “mencerdaskan kehidupan bangsa”…

Tapi, ternyata memilih universitas mana yang bisa saja ajar nanti setiba kembali di Indonesia dengan ilmu baru saya sebagai master of science in computer science itu ternyata tidak mudah. Walaupun saya pernah ngajar di STMIK Bina Nusantara, tapi nggak ada keharusan saya kembali ke sekolah itu lagi untuk mengajar karena yang mengirim saya sekolah ke Amerika bukan kampus saya, tapi kantor saya..

Dengan bantuan majalah Gatra yang dikirim seorang teman yang sekolah di University of Texas at Austin, sayapun mulai mencatat 5 alamat universitas yang akan saya kirimi surat lamaran sebagai dosen, yaitu Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Atmajaya, dan STMIK Bina Nusantara..

Surat lamaranpun saya ketik rapi dengan format cover letter yang saya dapatkan dari seorang teman saya yang sekolah di Purdue, dan format CV yang saya dapatkan dari seorang teman yang sekolah di Texas-Austin. Suratpun saya print dengan Laser Printer di departemen saya, yang saya kirim dari kamar asrama saya (dari asrama saya, di tahun 1989 itu saya bisa “melihat” printer mana yang masih banyak kertasnya dan printer mana yang habis kertasnya). Setelah lima copy surat lamaran tercetak, sayapun naik bis Indiana University yang berwarna putih merah itu menuju kampus…

Sesampai di asrama, kelima surat itu saya kirimkan ke 5 universitas yang saya sebutkan tadi. Waktu itu kira-kira bulan Oktober 1989. Kira-kira sebulan kemudian (pos kilat Bloomington-Jakarta memakan waktu 10-14 hari), datanglah satu-satunya jawaban, yaitu dari Ketua STMIK Bina Nusantara yaitu Ibu Ir. Th. Widia S. yang saya tahu dari sampul suratnya..

Sampul surat yang berwarna biru muda itupun saya buka pelan-pelan dengan mail opener yang saya punya. Ternyata di dalamnya kertasnyapun berwarna biru muda, ditulis tangan dengan tinta biru. Isinya sebagai berikut :

“Yth. Pak Tri Djoko Wahjono. Apa kabar pak ? Dua minggu yang lalu saya menerima surat lamaran dari Bapak untuk bekerja sebagai dosen paruh waktu di STMIK Bina Nusantara. Sayapun berpikir, kelihatannya saya kenal ya dengan nama ini ? Setelah saya pikir beberapa lama, oh..ini ternyata Pak Tri Djoko itu ya ? Yang pernah mengajar di STMIK Bina Nusantara sebelumnya ?

Silahkan pak, kalau bapak ingin kembali mengajar di STMIK Bina Nusantara. Sekembalinya bapak di Jakarta, silahkan datang ke kampus di Jalan K.H. Syahdan dan pasti kami akan menerima bapak dengan senang hati. Silahkan menghubungi bagian akademis.
Salam, Th. Widia S. (dengan paraf yang sudah sangat saya kenal)”

Sayapun merasa lega, senang dan terharu menerima surat itu. Surat itupun saya dekap di dada saya, dan dengan mata terpejam sayapun seolah melambung meninggalkan Bloomington yang dingin ini untuk terbang sejenak ke Jl. K.H. Syahdan di bilangan Kemanggisan..

Sesampai di Jakarta, beberapa hari kemudian saya dengan naik angkot pergi ke kampus STMIK Bina Nusantara di Jalan K.H. Syahdan. Sayapun segera menemui Ketua STMIK Binus Ibu Ir. Th. Widia S. yang waktu itu kantornya masih di Gedung M Lantai 1. Begitu masuk ke kantor beliau, sayapun disambut dengan senyum ramah dan ucapan selamat datang yang tulus. Setelah mengobrol sekitar 15 menit, sayapun diminta untuk menghubungi bagian akademis…

Siang itu, saya masih sempat bertemu dengan “friend” lama saya Pak Wikaria Gazali, Pak Budi Suryatmaji (alm), Pak Christanto, Pak Rudi dari jajaran dosen dan Pak Suradi di Bagian Akademis. Sayapun minta agar kode dosen saya lama saya yang dimulai dengan huruf D02xx segera diaktifkan kembali..

“Tidak masalah, pak !”, kata kawan-kawan di Akademis..

Dan sejak itu sekitar tanggal 1 Februari 1990 sayapun mulai mengajar kembali di Binus setelah bersekolah di Amerika selama 3 tahun 2 bulan termasuk kursus bahasa Inggris dan program aklimitasinya…

Saya mendapat kelas “Arsitektur Komputer” yang ditinggalkan oleh seorang kawan dosen, Pak Yosafati Hulu, yang berhalangan mengajar karena sesuatu hal. Di kelas saya ada mahasiswa saya yang bernama Suryadiputra Liawatimena dan Yurike Moniaga…

Saatnya mencoblos…eh, mencontreng ding..

Tak terasa, 9 hari lagi saya akan mempergunakan hak yang saya hargai sebagai warganegara yang baik, yaitu hak untuk datang dan memilih di bilik pemungutan suara..

Setelah 9 bulan lebih kampanye diadakan, dan 9 minggu terakhir kampanye dilakukan dengan hingar-bingarnya kampanye terbuka, dan 9 jam terakhir saya menyaksikan persiapan-persiapan parpol untuk mengadakan kampanye terbuka putaran terakhir di Jakarta…

Sayapun masih punya 9 kemungkinan parpol yang nantinya akan saya coblos…eh saya contreng di bilik suara nanti. Kalau diurutkan warnanya (menurut abjad lho, untuk menjelaskan bahwa saya ini “non partisan” alias tidak memihak manapun) : Partai Biru Muda (PBM), Partai Biru Tua (PBT), Partai Hijau Tua (PHT), Partai Hijau Bener (PHB), Partai Hijau Muda (PHM), Partai Merah Menyala (PMM), Partai Putih Kuning (PPK), Partai Kuning Terang (PKT), , dan Partai Putih Merah (PPM)…

Teriring permintaan maaf saya karena tidak bisa menyebutkan ke-44 parpol satu per satu saking banyaknya…

Selama 9 bulan masa kampanye itu, saya juga sudah berkunjung ke 9 kota di seluruh Indonesia (dari Lampung sampai Makassar) dan bercakap-cakap dengan 9 profesi terpenting di negara ini (tentara, polisi, PNS, tukang becak, tukang bakso, ibu rumah tangga, pengangguran, korban PHK, dan penggiat LSM)..

Dan yang menarik…

Tak satupun yang bisa menebak dengan tepat siapa pemenang itungan contreng di hari penting 9 April 2009 nanti……kecuali adanya 9 caleg yang akan masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena kehabisan harta tapi tidak jadi anggota legislatif…

Pemilihan umum adalah “zero-sum game”, dengan pengertian kue yang diperebutkan hanya satu (100%), dan kue itu dibagi ke-44 parpol yang besar kecilnya potongan kue nantinya tergantung kepada seberapa besar massa otot, seberapa besar ukuran otak, dan seberapa tebal ukuran kantong masing-masing parpol, dan yang terakhir seberapa “beruntung” anda ataupun seberapa “buntung” anda nanti…

Di koran disebutkan, partai ini menargetkan 51%, partai itu menargetkan 35%, partai sono menargetkan 30%, partai sini menargetkan 25%. Pokoknya kalau dijumlahkan semuanya dari target perolehan suara masing-masing parpol didapat besaran 1000% !!! Masyak ampyun….masak sih ada yang namanya 1000%, lha wong kuenya saja cuman satu…

Sebagai orang yang berlatar belakang Matematika/Statistika yang pernah belajar Ilmu Hitung Peluang, dan sebagai orang Ilmu Komputer yang pernah belajar tentang Neural Network, sebenarnya saya amat sangat tergoda untuk mencoba meramalkan siapa yang jumlah coblosan…eh contrengannya paling banyak secara nasional ?

Sebenarnya saya tahu sih, berdasarkan beberapa teori yang saya punya. Tapi saya segan menyampaikannya, biarlah saya sendiri yang tahu…soalnya kalau meleset, ya saya sendiri yang tahu sehingga saya tidak ketiban malu. Kalau tepat, ya saya sendiri yang tahu sehingga saya bisa bangga terhadap “kemampuan” saya sendiri dan bisa tersenyum puas sendiri…

Di depan mahasiswa saya pagi ini tadi saya bilang “Caleg pria dicontreng, tapi caleg wanita enaknya dicoblos !!!”..

Dan mahasiswa sayapun ada yang berteriak “Horeee !”, ada yang ketawa, ada yang menangis (menangisi kebodohan saya, soalnya “Hari gini…kok nyoblos ! Contreng dong !), dan ada yang menyampaikan perasaan muaknya melihat kejorokan saya yang suka nyoblos…

Hehehehe…

Siapa menurut anda parpol pemenang Pemilu 9 April 2009 nanti ? Dan mengapa ? Parpol-parpol mana yang memperoleh suara signifikan (10 besar) ?

[Disclaimer : Saya mendeklarasikan diri saya sendiri sebagai orang yang “non partisan” alias tidak memihak parpol manapun. Semua parpol saya anggap sama kemungkinan untuk kalah dan untuk menang. Dan posting ini tidak dimaksudkan untuk menganjurkan anda memilih suatu partai tertent..]

Mengajar ala Schaum’s Series

Saya tahu persis, universitas-universitas di Jakarta yang dulunya ex STMIK seperti Bina Nusantara, Gunadarma, dan Budi Luhur, walaupun sudah bertransformasi dan “berganti baju” sebagai sebuah universitas namun dalam kenyataan operasional belajar-mengajarnya masih kental dengan suasana seperti di jaman STMIK dulu… STMIK sebagai “nama resmi” sebuah sekolah komputer biasanya kegiatan belaja-mengajarnya dibagi menjadi penggalan-penggalan 100 menit waktu kuliah untuk 2 sks…

Makanya sampai hari ini, kalau anda sedang mengendarai mobil atau naik angkot di Jakarta, usahakan tidak melalui Binus, Gunadarma,atau Budi Luhur di waktu selesainya perkuliahan yaitu jam 9.00, 11.00, 13.00, 15.00, 17.00 dan 21.00. Karena dijamin jalanan depan kampus akan macet total. Apalagi bila mobil atau angkot yang anda naiki tak ber-AC. Alamak panasnya !!

Bila di Fasilkom UI atau STEI ITB bisa dikatakan yang unggul adalah “bahan dasarnya” berupa mahasiswa yang diterima di program, maka “kenggulan” dari universitas-universitas ex STMIK adalah dalam hal prosesnya. Mengapa demikian ? Karena menurut saya, ex STMIK yang sudah kental nuansa komputernya akan lebih mudah men-“tune up” business processnya daripada mensyaratkan tingginya IPK calon mahasiswa..

Satu lagi, perkuliahan di universitas ex STMIK masih persis dengan semasa STMIK yaitu : dosen menjelaskan teori sebentar, diikuti dengan dosen memberi contoh cara penggunaan rumus dalam menyelesaikan sebuah problema, dan terakhir dosen memberikan popquiz kepada mahasiswa.. Jadi, dari teori sampai latihan soal bagi dosen dan bagi mahasiswa semuanya dikerjakan di kelas, dalam penggalan waktu yang sama..

Pernahkah anda tahu buku textbook yang bernama Schaum’s Series yang populer di Indonesia sejak pertengahan tahun 1970an ? Schaum’s Series yang terbitan McGraw-Hill itu adalah textbook sederhana yang tulisannya sengaja menggunakan font yang besar biar mudah dibaca, tata bahasanya juga sederhana dan straightforward, dilengkapi dengan contoh-contoh soal dengan penyelesaiannya, dan diakhiri dengan soal-soal latihan…

Buku Schaum’s Series itu di jaman tahun 1970an dan 1980an dulu sangat mengagumkan. Belinya di toko yang bagus ber-AC, harganya murah, dan enak dibaca serta sangat berguna untuk menghadang kisi-kisi soal ujian..

Nah, kira-kira sejak 10 tahun terakhir ini saya mengajar di Binus dengan cara pendekatan ala Schaum’s Series, yaitu : menjelaskan teori kepada mahasiswa, memberikan contoh soal berikut dengan penyelesaiannya dan diakhiri dengan memberikan soal-soal latihan. Semua ini dikerjakan di dalam kelas, dan so far saya sendiri senang menjalaninya karena sederhana dan tepat sasaran. Kelihatannya, mahasiswa juga senang dengan metode pengajaran seperti itu..

Mungkin tidak terlalu hebat, dan tidak akan membuat mahasiswa saya sebagai calon Ph.D student di universitas terkenal di Amerika, tapi setidaknya saya menyiapkan calon mahasiswa pascasarjana yang tanggap terhadap persoalan dan kasus-kasus baru…

Kayaknya sih begitu…

Temen saya sudah Prof(essor), eh saya masih Prov(okator)

“Status” saya ini tadi sudah saya tulis di FB dan yang komentarnya audzubillah banyaknya…

Kira-kira akhir Januari 2009 yang lalu, di ruang dosen datang menghampiri saya Ibu Diah dosen Teknik Industri “Sssttt..pak jangan keras-keras, nanti bulan Maret bapak akan diundang menghadiri pelantikan Pak Har sebagai Professor”, bisik Bu Diah yang isterinya Pak Harjanto Prabowo itu nyaris tidak kedengaran…

Dasar saya orang Jawa Timur yang nggak bisa ngomong pelan, setengah berteriak saya jawab “Oh yaaa ? Selamat dong Bu ! Tolong sampaikan ucapan selamat saya untuk Pak Har ya…”. Dan…seluruh penghuni ruang dosen Binuspun langsung nengok ke saya….rupanya mereka belum dapat kabar baik ini…

Dan sekitar pertengahan Pebruari kemarin ini, melalui Facebook saya tulis begini di Wall Pak Harjanto “Prof…selamat ya !!! Nanti pelantikannya ngundang-ngundang saya lho….”, saya menulis wanti-wanti. Dan beberapa menit kemudian Pak Har pun nulis di Wall saya “Iya Pak Tri, so pasti. Pak Tri pasti diundang, bahkan ada di urutan teratas daftar undangan…”..

What ? “Urutan teratas daftar undangan” ? No kidding, Pak Har..

Dan karena wanti-wanti dengan pesan “bapak ada di urutan teratas daftar undangan” ini menyebabkan saya menyempatkan diri datang ke kampus Binus pagi-pagi ini tadi sekitar jam 09.00. Karena saya membayangkan parkiran Binus Kampus Anggrek bakal berjubel, maka untuk amannya saya tinggal mobil Camry-un saya di kantor, dan sayapun nyegat taksi berwarna pink yang melintas di depan lobby kantor saya. Nggak sampai 20 menit, taksipun sudah mendarat di Jalan Kebon Jeruk Raya, depan Kampus Anggrek.. sayapun membayar Rp 25 ribu padahal argo bilang hanya Rp 19 ribu…

Menyeberangi zebra cross, kaki sayapun menjejak di halaman kampus Anggrek yang tumben semi mamring kayak di kuburan. Lho, kemana mobil-mobil yang biasa parkir di sini berada ? “Ada di gedung parkiran belakang Pak !”, sahut Pak Johan dan Pak Henkie yang tiba-tiba muncul dari belakang, seolah mereka berdua bisa membaca isi hati saya. Sayapun bergegas masuk ke gedung sambil ditakut-takuti sama mereka berdua, “Pak, kalau nggak bawa undangan nggak boleh masuk lho”….yang saya jawab dengan ketawa hahahaha….”Binus gitu lho, emang siapa yang punya ?”

Baru jalan 20 meter, seorang panitia yang berpakaian kebaya warna putih dan kain menyapa kami dengan senyuman tipis dan dengan bergegas mengantar kami menuju lift di lantai 1 Kampus Anggrek. Di depan lift pun banyak mahasiswi panitia yang menyambut kami yang semuanya berpakaian kebaya, semuanya cantik-cantik…hehehe….

Kamipun turun di lantai 4, dan dianjurkan menuju Auditorium Binus yang baru. Di depan Auditorium, serombongan Panitia sudah menyambut kami. Kamipun pengin mengisi absen di depan, tapi dibilangin “Pak ini buat VIP/VVIP”…dan kami bertigapun menjawab serentak “Oh ya ?”…Mungkin karena mendengarkan tereakan kami, rupanya (Bu) Reina mengantarkan kami untuk absen di dalam, yang selanjutnya kami diantar masuk Auditorium…

Ternyata pada jam 9.45 belum ada 50 orang yang ada di dalam Auditorium..

Sayapun sempat ngobrol dengan Pak Johan dan Pak Henkie, sambil baca-baca paket yang diberikan berupa tas dengan Buku Testimonial tentang Pak Harjanto Prabowo oleh anggota Yayasan Binus, orang-orang terkenal, sampai driver macam Pak Yono dan Pak Imam. Buku Kedua berupa buku Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Manajemen Sistem Informasi oleh Prof.Dr.Ir. Harjanto Prabowo, MM..

Singkat cerita, dengan diiringi lagu “Gaudeamus Igitur” Senat Guru Besar Binus masuk ruangan, sebagian besar wajah sudah saya kenal seperti Guru Besar pertama Binus Prof. Dr. Ir. Edi Abdurachman, MSc, tapi ada beberapa wajah yang saya tidak kenal, dan ternyata rupanya ada Prof. Suryo Guritno dari UGM yang saya sempat kenal waktu mengurus Konsorsium membahas tiga jurusan TI, SI, dan SK di tahun-tahun 1999 dulu…

Saya pikir Pak Harjanto akan menangis terharu waktu membawakan pidato pengukuhan Guru Besarnya, tapi ternyata dugaan saya salah dan Pak Har membawakan pidatonya dengan excellent (tapi karena lampu ruangan dimatikan, saya gunakan waktu itu juga untuk tidur…)..

Dan rupanya Pak Har baru terbata-bata menangis waktu mengucapkan terima kasih kepada guru-guru Pak Har dari Guru SD, Guru SMP, dan Guru SMA, sampai pengajarnya di Teknik Elektro Undip, dan lebih tercekat lagi mulut Pak Har waktu mengucapkan terima kasih kepada Almarhum Ibu Th. Widia S. mantan Rektor Binus….dan sayapun ikut menitikkan air mata pula mengingat Ibu yang saya kenal sekian lama dan ternyata sekarang setelah Binus seperti ini Ibu tidak ada di sekitar kita lagi…

Sebenarnya cita-cita terbesar saya di tahun 1995 adalah “menjadi profesor sebelum usia 50 tahun” dan “naik haji sebelum tahun 2005”. Ternyata, kedua cita-cita saya itu perlu “disesuaikan” dengan tuntutan jaman. Setelah adanya ketentuan baru pemerintah yang hanya membolehkan orang yang bergelar doktor untuk menjadi profesor, maka cita-cita saya yang pertama sudah gugur.. Dan waktu saya sudah tidak bekerja lagi (sebagai pejabat struktural) di Binus sejak tahun 2000, maka cita-cita saya yang keduapun terlalu berat untuk dikejar…

Tinggallah kemungkinan saya yang bisa dicapai di depan mata adalah jadi Prov (dengan huruf “v”) yang artinya “Provokator”…hehehe… Untung saya tipe provokator yang baik, yang selalu memprovokatori mahasiswa untuk : rajin belajar, kerjakan PR, rajin belajar bahasa Inggris, punya cita-cita tinggi seperti sekolah di luar negeri, dan semua hal-hal yang baik lainnya…

Tidak jadi Prof(essor) tidak apa-apa, seperti komentar para teman Facebook saya : “Nggak prof nggak apa-apa pak, yang penting enjoy aja”, kata Suhendro Ceng. “Yang penting tetap disayangi dan dicintai mahasiswa Pak”, kata Agung Lay. “Yang penting tetap dikejar angka kreditnya Mas”, kata adik kelas saya di IPB, Maya Purwanti. “Yang penting makan enak Pak”, kata Yohannes Polla…

Lho ?

What is the color of your parachute ?

Judul tulisan ini mengingatkan saya akan judul sebuah tulisan di majalah Reader’s Digest sekitar tahun 1980an dulu. Mungkin bahasa Inggris saya pada waktu itu belum semantap sekarang, jadi saya belum juga “ngeh” apakah arti judul itu ya ?

Nah, musim jelang Pemilu seperti sekarang ini boleh dong kalau saya bertanya “Apa warna anda ?” Maksudnya mungkin, warna apa yang kelak akan anda contreng (bukan coblos lho) di hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti ? Hijaukah, kuningkah, birukah, merahkah, putihkah, marunkah, hijaumudakah ?

Dari pengalaman Pemilu-pemilu sebelumnya, saya yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta, selalu diberi 3 surat suara untuk Wakil Rakyat (DPR, DPRD Jawa Barat, DPRD Kota Bekasi) dan 1 surat suara untuk Wakil Daerah (DPD mewakili Jabar)..

Nah, karena diberi 3 pilihan, maka biasanya saya memilih tidak hanya dan tidak harus satu warna saja : misalnya putiiiih semua, atau kuniiiiiing semua, atau meraaaaah semua, atau biruuuuu semua…

Di Pemilu yang lalu, saya memilih “buah semangka”, yang hijau di luarnya dan di dalamnya…….

Ah, situ mau tau aja sih !!!

Tapi yang heboh waktu Pemilu 1987 karena waktu itu saya lagi tugas belajar ke Amerika Serikat. Seminggu sebelum di Indonesia dilaksanakan Pemilu, saya sudah dapat 1 amplop berisi kartu suara dari KBRI Washington, DC. Dan segera surat itu saya buka, 2 kertas suaranya saya coblos (waktu itu masih mencoblos, dan karena LN termasuk DKI maka saya hanya dapat 2 surat suara) dan segera saya masukkan amplop berperangko yang sudah saya sediakan, dan saya drop dari “chute mail” di lantai 4 tempat saya tinggal, dan mungkin surat itu akan jatuh di kantong pos di lantai 1, dan segera dikirim kembali ke Washington DC..

Jadi, siapa bilang Pemilu dilaksanakan di hari yang sama ? Saya, 22 tahun yang lalu, seminggu sebelum Pemilu bahkan sudah mencoblos…

Dan I’ll tell you what, mencoblos duluan itu rasanya sangat ueenaaaakkkk….hahahaha…

Jangan mudah merasa heran

Posting ini sebenarnya mau saya beri judul “Ojo Nggumunan”. Tapi kalau diberi judul posting bahasa Jawa, mungkin tidak banyak orang yang tahu apa maksudnya..

Ceritanya ketika saya kelas 3 SMP di Madiun tahun 1972 yang lalu, saya masih ikut salah satu perguruan silat terkenal yang ada di Madiun. Bagi saya pribadi, ikut silat bukan untuk gagah-gagahan tapi lebih untuk mengisi waktu luang dan berpikir yang positif terus..

Pada suatu malam bulan purnama, di lokasi latihan di Gedung KPT di sebelah utara Stadion Madiun, selain pelatih saya datanglah seorang kakak kelas yang tangannya patah dan sedang di-gips, jadi di tangan sebelah kanannya ia “menggendong” tangannya yang patah itu. Nama kakak kelas itu adalah Sunaryo, yang kelihatannya orangnya cukup sableng dan bicaranya ceplas-ceplos..

Biasanya latihan silat dibagi tiga periode. Periode pertama adalah latihan fisik alias senam, periode kedua adalah latihan jurus, dan periode ketiga adalah latihan sambung atau perkelahian jarak dekat. Nah, di antara periode yang diisi waktu istirahat itulah kakak kelas saya yang bernama Sunaryo itu memberi sedikit nasehat kepada kita adik-adik kelasnya..

“Ojo nggumunan (jangan mudah merasa heran)”, katanya membuka percakapan. “Di dunia ini nanti di mata penglihatan adik-adik ini akan dihadapi hal-hal yang tidak biasa. Jangan sedikit-sedikit merasa heran bila ada orang yang berbaju asing dan lain dengan kita, ada orang yang makan makanan yang tidak biasa kita makan, dan ada orang yang agamanya beda dengan kita, ada orang yang bentuk fisiknya beda dengan kita, ada orang yang kegemarannya beda dengan kita, bahkan ada orang yang kekayaannya beda dengan yang biasa kita lihat”, sambungnya tanpa bermaksud berpanjang lebar. Mukanya yang kusam dengan rambut gondrongnya yang tidak teratur, namun dengan kata-kata yang tulus ia mencoba menasehati kita, yang waktu itu masing “remaja tanggung” seumuran SMP semua…

Kitapun manggut-manggut mendengarnya. Karena tidak ada forum tanya jawab, ya kita hanya mendengarkan saja. Tapi di udara semilir malam, diterangi dengan cahaya bulan purnama yang terang benderang, sangat kontras dengan kondisi kantor itu di malam hari yang kurang lampu penerangan.

“Jadi, apapun yang terjadi dengan adik-adik nanti di masa yang akan datang, jangan berkomentar, jangan merasa heran, jangan berkata-kata, jangan clometan, tapi sebaiknya diam saja. Karena kalau melihat keanehan di dunia ini anda diam saja, berarti anda sudah memahami bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia, tapi juga berbagai makhluknya, dengan berbagai kebiasaannya masing-masing. Mudah-mudahan dengan sikap “tidak mudah merasa heran” adik-adik ini bisa pergi kemana-mana di dunia ini. Mudah-mudahan”, katanya menutup kuliah 7 menit di sela-sela latihan silat yang dihadiri antara lain oleh Sudiarto, Purwoko Adi alias Simbah, Witono Basuki, Joni, saya sendiri, dan beberapa teman lain ini..

Anehnya, nasehat yang sangat sederhana ini sangat terpatri di dalam pikiran saya. Sekalipun saya tidak pernah berkomentar melihat keanehan-keanehan yang nantinya saya hadapi, baik dengan hidup di kota besar (kota yang lebih besar dari Madiun), atau bahkan hidup di luar negeri..

Nasehat sederhana, ojo nggumunan alias jangan mudah merasa heran, namun efeknya bagi saya pribadi masih terpatri sampai sekarang..

Secoret kejadian hari ini

Bila dipikir-pikir dari kejadian-kejadian yang berlalu di hari ini tadi, semakin dipikir semakin saya merasa bahwa saya ini manusia biasa, yang terbuat dari darah dan daging (jangan ditambahi lho : dari tulang dan kentut !)..

Pagi ini saya berangkat dari rumah jam 06.15, sedikit kesiangan karena ritual bangun pagi, sembahyang subuh, mencuci mobil, mencek air minum di mobil, rupanya perlu waktu. Namun saya masih beruntung, hari ini tadi jalanan cukup lancar, dalam arti dari rumah ke kantor anak saya yang besar maupun yang kecil, lalu ke kantor saya sendiri, cuman perlu waktu 1,25 jam. Cukup cepat untuk berkendara di Jakarta untuk jarak sejauh 34 km…

Sampai kantor, yang saya lakukan adalah memparkir mobil di lantai 4, di spot favoritku. Setelah itu, baca koran Warta Kota dan TopSkor di hari itu. Saking asyiknya membaca, saya nggak sadar mantan boss saya sepuluh tahun yang lalu mengintip dari balik Nissan Grand Livina-nya ke arah saya yang sedang asyik membaca. Saya pikir, orang dari kantor lain, maklum Grand Livina bukan mobil favorit di kantor saya yang paling-paling cuman Avanza atau Xenia..

Sesudah “tamat” baca dua koran wajib hari ini, sayapun turun ke gedung II. Mejeng sebentar di kamar mandi, buat “pee” dan ngrapiin rambut, lalu menempelkan sidik jari ke absen. Begitu bunyi “tiiiit” sayapun bergegas naik lift ke lantai saya. Sampai di meja, komputer desktop saya nyala (berarti sepanjang weekend apa nggak dimatiin ?), dengan internet nyambung tapi luambaatnya minta ampun. Ya udah, saya refresh sebentar.

Setelah komputer dan internet OK (kantor saya berlangganan Speedy Unlimited karena pasokan internet dari kantor sendiri kurang reliable), sayapun membaca facebook dan blog saya. Friend request-pun saya ok-in aja biar cepet, dan beberapa mahasiswa saya biasanya juga minta “mafia war request”. Biar mahasiswa saya menang, sayapun ok-in aja biar cepet…

Sebenarnya saya belum “kemput” menjawab komentar2 di blog saya, terutama dari Cak Totok yang sekali kirim komentar bisa 5-10 buah. Tapi boss sudah memanggil untuk rapat Senin-an. Ya udah, sayapun masuk ruang rapat, mengambil sekerat tempe goreng, dan menyeruput teh manis hangat yang terhidang. Rapatpun berlangsung cepet karena dilaksanakan di ruang darurat, bukan di ruang biasanya. Teman2 pun janji ama boss buat mengerjakan tugas kantor lewat web, dan tidak melulu lewat tatap muka. Thanks God, the third wave is coming !!! (3rd wave = gelombang IT yang melanda dunia)..

Habis rapat, perut diraba masih kenyang. Oleh karena itu, sayapun segera turun menuju mobil pas jam makan siang sudah tiba dengan mengucapkan kata-kata ritual ke teman-teman “Hey temens, saya mau mencerdaskan kehidupan bangsa nih”. Dan temens pun menjawab, “Ya pak, silahkan !”..

Sebelum ke mobil, saya diberitahu Koperasi sudah mengeluarkan SHU (Sisa Hasil Usaha). Karena saya termasuk pegawai atau anggota koperasi yang paling senang berutang, sayapun optimis SHU saya tahun ini bisa melebihi tahun kemarin yang sebesar Rp 929 rebu. Tak disangka tak dinyana, di depan kasir saya diberi uang SHU sebanyak 7 digit !!! Memecahkan rekor untuk unit kerja saya..

Segera saya bergegas ke tempat parkir, menstarter Camry-un saya dan menuruni tangga gedung parkir menuju Jalan Thamrin. Di tikungan belokan Jalan Kebon Sirih, lampu lalu lintas berwarna merah, dan sayapun berhenti. Di belakang, ada mobil box bernomor 7591 membunyikan klakson keras-keras, menyalakan lampu besar beberapa kali, dan berteriak-teriak kayak orang gila “Belok kiri terus ! Terus ! Maju !”. Sayapun membentak mereka, “Mau apa lu !”, dan Camry-un sayapun tak beringsut menunggu lampu hijau. Lampu hijau nyala, dan saya biarkan mobil box dan 2 begundal yang nyetir itu lewat duluan. Mereka lewat seperti Lewis Hamilton di sirkuit Sepang ! Srrrriiittt…menderit dengan keras. Tidak ada cara lain selain mengejar Lewis Hamilton gadungan itu ala guru nyopir saya, yaitu Michael Schumacher….Srriiiit..iiik…ikkkk.ikk…Gak sampai 5 detik, Camry-un saya sudah di depan mobil boks tadi. Saya biarkan Camry-un saya barang 10 detik di depan mobil boks itu, sebagai cara mengatakan “Hey. Lu mau apa ?”

Mobil bokspun akhirnya melewati Camry-un saya, dan saya membiarkannya pergi tapi tetap menempel ke ekornya, karena saya tahu dengan cara ini si sopir akan blingsatan seperti Lewis Hamilton mau diselip oleh Felipe Massa..

Ternyata mobil boks tadi menuju ke tempat saya mengajar !!! Alamak !!!

Sampai di kampus, tumben saya mudah menemukan spot parkir di lantai atas. Camry-un saya datang dan perlu 2 orang tukang parkir kampus untuk memarkirkan. “Selamat siang, pak”, kata mereka berdua sopan. Sayapun mengucapkan terima kasih tak terhingga dari kejauhan dengan gesture tangan saya…

Sampai di ruang Akademis waktu mau ngambil absen, ternyata…

Hari ini Off Class !!!!

Oh my God !!! Sudah ke kampus tergesa-gesa dan balapan pula, ternyata hari ini tidak ada kelas (menurut rule di Binus, dosen yang kelasnya berstatus OFC atau off class, tetap diberi renumerasi seperti waktu mengajar biasa)..

Kalau tidak karena saya janji dengan mantan bimbingan saya : Yuliana, Wanda, dan Pepen, tentu saya tidak akan datang ke kampus ini ! Ternyata dari ruang akademis ada pengumuman hari ini ada kegiatan Donor Darah oleh HIMKA Binus (HIMKA = Himpunan Mahasiswa Komputerisasi Akuntansi). Karena salah satu mahasiswa saya yang janji belum datang, sayapun menuju ke ruang 406 buat donor darah…

Rupanya saya disambut dengan karpet merah di depan ruang 406 ! Rupanya beberapa panitia Donor Darah adalah ex mahasiswa saya semester kemarin di kelas Pengantar Teknologi Informasi (PTI). Sayapun mengisi formulir dan menyodorkan kartu donor darah saya yang berwarna pink. Lengan sayapun dipasangi alat untuk mencek tekanan darah. Oh my God ! “Agak tinggi nih pak, bapak penderita tekanan darah tinggi ya ?”, kata perawat laki yang barusan mencek tekanan darah saya. Sayapun menjawab “No way, Jose ! Tekanan darah saya tinggi karena barusan saya balapan mobil ke sini dan kesulitan menemukan tempat parkir di siang bolong yang super panas ini”. Perawatpun tidak bicara lagi, dan saya dipersilahkan tidur di tempat tidur yang kosong…

Perawatpun mulai meraba-raba nadi saya dan memasukkan jarum untuk menyedot darah saya. “Cukup 250 cc aja kok pak”. Rupanya sambil ngalamun dan difoto-foto sama Panitia anak KA, pengambilan darahpun selesai. Saya segera diminta menutup luka dengan kapas, dan melipat lengan tangan saya. Setelah sekitar 10 menit saya melipat lengan saya, perawatpun memberi tensoplat ke bekas luka saya..

Waktu saya berjalan ke luar ruangan, tiba-tiba darah segar membasahi lengan saya yang sebelah kanan. Rupanya, tensoplat tadi belum sepenuhnya menutup luka di lengan saya… Perawat laki yang tadi mengukur tensi sayapun membersihkan ceceran darah di lengan saya dan memberikan tensoplast yang baru..

Setelah minum segelas susu coklat dan semangkuk pop mie, sayapun keluar dari ruangan 406 tadi. Menuju ke ruang akademis buat bertemu 3 mahasiswa yang sudah nunggu dari tadi. Sayapun saya Hi sebentar sama mereka dan bilang mau ke kamar mandi membersihkan baju saya dari noda darah seluas 4 x 8 cm. Sayapun membuka baju di toilet dan mengguyur lengan baju saya dengan air pembilas sampai benar-benar bersih. Tissue pun saya tempelkan ke lengan baju saya agar segera kering…

Puiiih…hari yang panjang. Sudah terlanjur datang ke kampus dan ogah kembali ke kantor di jam-jam yang super panas ini. Selain takut kena macet, soalnya katanya barisan Partai2 Peserta Pemilu 2009 akan berkonvoi melewati kantor saya di Jalan Thamrin, katanya..

Maka, sayapun membenamkan diri di ruang dosen dan menulis posting ini, entah apapun yang saya ceritakan di sini…

Yang penting, sekedar membunuh waktu sampai tiba waktunya saya harus menjemput anak saya yang kecil di bilangan Gambir dan anak saya yang besar di bilangan Menteng Raya, untuk bersama-sama pulang ke rumah, dengan Camry-un…

Oh, what a day !

Previous Older Entries