Den Mas Ngabehi Loring Pasar

Wah…sebenarnya “Den Mas Ngabehi Loring Pasar” itu gelarnya Sutawijaya sebagai Raja Pertama dari Kerajaan Mataram yang menggantikan kerajaan-kerajaan Islam Jawa sebelumnya yaitu Kerajaan Demak, lalu Kerajaan Pajang…

Kalau dewasa ini anda pergi ke Yogyakarta, silahkan usahakan agar bisa mengunjungi Kota Gede yang terletak di selatan-timur dari kota berjarak sekitar 8 km. Di kota kuno yang masih relatif “asli” itu masih terlihat Pasar Kota Gede yang dahulu didirikan oleh Sutawijaya dengan jalanan di depan pasar yang serbi sempit. Konon, Sutawijaya dulu tinggal di sebuah rumah yang terletak di sebelah utara pasar, maka gelar “Den Mas Ngabehi Loring Pasar”-pun erat menempel pada dirinya seperti diceritakan pada buku silat bersambung “Api Di Bukit Menoreh” karangan S.H. Mintarja (versi e-book bisa dilihat di http://adbmcadangan.wordpress.com/ )….

Di sebelah selatan pasar Kota Gede juga ada makam raja-raja Mataram sampai dengan Panembahan Seda Krapyak beserta dengan keluarga raja. Salah satu makam yang paling “aneh” kelihatannya adalah Makam Ki Ageng Mangir yang konon dulu pemberontak yang sulit ditaklukkan dan untuk menaklukkannya dikirimlah putri cantik putra Sutawijaya yang pada masa tuanya bergelar Panembahan Senopati itu ke daerah tempat Ki Ageng Mangir tinggal, dengan menyamar sebagai “ledek” (penyanyi yang diiringi musik gamelan Jawa)…

Ki Ageng Mangir-pun tertarik, dan berniat menikahi putri cantik yang berprofesi sebagai “ledek” itu. Terlambat diketahui, karena ternyata putri cantik itu adalah anak musuhnya, yaitu Panembahan Senopati. Ketika berdua dengan isterinya Ki Ageng Mangir bersujud di kaki paduka Panembahan Senopati, konon kaki kanan Panembahan Senopati menendang kepala Ki Ageng Mangir hingga tewas di atas batu umpak, tempat duduk raja. Untuk menandakan bahwa separuh tubuhnya pemberontak dan separuh lagi adalah keluarga raja, maka makam Ki Ageng Mangir separuh terletak di dalam tembok makam dan separuhnya lagi terletak di luar tembok makam… (sayang saya beberapa kali ke Kota Gede belum pernah melihat makam yang aneh ini..)..

Nah, terlepas dari cerita di atas, saya menjuluki teman kakak saya yang mempunyai rumah di sebelah utara Pasar Nglames sebagai “Nyi Ngabehi Loring Pasar”, dan menjuluki teman sekantor saya yang rumahnya di sebelah selatan Pasar Sukoharjo sebagai “Den Mas Ngabehi Kidul Pasar” (dia sendiri sering memanggil dirinya “DM Ng. Q Pas”)..

Dan, temen saya Iqbal yang dulu ikut rombongan S&T Training di Korea selama 7 minggu karena setiap hari ia selalu sembahyang di mesjid Seoul yang terletak di ujung Jalan Itaewon dan makan kari di Jalan Itaewon, saya panggil dia “Duke of Itaewon”…

Bahkan sampai sekarang !!!!

Hopo tumon ?   (Holly cow !)…

15 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Mar 02, 2009 @ 17:49:36

    Pertamax, mengamankan tempat.
    Wah raja alias penguasa dari dulu suka memanfaatkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan. Emang makamnya aneh begitu?
    Pak Totok komentar ya.

    Reply

  2. totok
    Mar 02, 2009 @ 18:33:15

    Wowww, sayang kalau sampean belum lihat makamnya Ki Ageng Mangir.

    Aku pernah lihat kesana. Soalnya kebetulan waktu itu ada launching film KI AGENG MANGIR. Nah, waktu itu aku kebetulan jadi redaktur halaman hiburan, (ssttt jangan keras-keras) aku dapat bookingan nulis ceritanya.

    Empat hari aku trutusan di kompleks makam, ketemu sama cewek-cewek sewekan sing lambene abang mergo kakehan nginang. Mereka itu guide amatiran, sing mbantu aku oleh cerito di luar buku sejarah.

    Tapi aku salut cak, kepada guru sejarah kita di SMP (pak sopo yo aku lali, priyantune cilik tuwek, omahe Jalan Pringgondani). Sebab, murid-muridnya ternyata masih hapal dan mau mengenal sejarah kakek moyang he…he.

    Mas Alris.
    Soal melanggengkan kekuasaan, memang dari dulu hingga sekarang (kalau kita baca sejarah) memang bener adanya. Sampai detik ini juga kan? Nggak peduli kampanyenya mbodohin (maaf pakai jakartean) rakyat, yang penting tetep bisa duduk di kursi goyang.

    Meski namanya kursi goyang, tapi jangan sampai ada yang menggoyang. Kekwkwkwk.

    Cak Totok,
    Wah…bener kuwi yo, yen onok film judule “Ki Ageng Mangir” ? Opo sempat tayang di bioskop ? Sopo pemaine ? Tahun piro ? Wah..yen onok tenan, mengko tak goleki versi VCD-ne. Wah, repote urip neng Indonesia nek arep nggoleki lagu lawas, film lawas, buku lawas, kuwi sulite setengah muooodaaar ! Nek nggoleki martabak telor kinyis-kinyis anget, malah gampang ! Lha wong neng ngarepe Stadion Wilis yo wis ono…

    Aku tertarik cerito Ki Ageng Mangir, soale memang Ki Ageng Mangir kuwi sangat spesial. “The special one” jarene Jose Mourinho pelatih sepakbola. Gak onok neng sisi ndonya sing liyane onok cerita koyok Ki Ageng Mangir ini : yo musuh, yo keluarga…

    Guru Sejarah kita yang kurus kering iku jenenge Pak Probo. Beliau kalau bercerita sejarah bisa membuat ruang kelas bergetarrrrrr… rrrrrr…rrrrr (terasa sampai sekarang)…hehehe.. padahal tanpa alat peraga apapun : CD, VCD, atau yang lain. Dan beliau juga killer dalam nilai Sejarah. Makanya kakak saya Mbak Endang dulu sampai-sampai Les Sejarah ke rumah beliau di Jalan Pringgodani. Hopo tumon, lha wong bapakku dewe yo dosen Sejarah. Mergo seneng karo kelase Pak Probo, nilai sejarahku perfek 10 !! Tapi aku tau arep ditangkep Pak Probo mergo aku ngandani cewek sekelas sing lungguhe sejajar aku, 2 bangku di sebelah kanan. Pas “main mata” dan “main mulut”…eh…Pak Probo tahu dan mendekati aku…..Untung ora sido ketangkep ! Hehehe…


    Uda Alris,
    Tidak hanya kerajaan Jawa jaman dulu yang cenderung melanggengkan kekuasaannya. Dari jaman “biblical” (sejarah-sejarah yang diceritakan di kitab-kitab suci : Tauret, Injil, dan Al Quran) sampai jaman Yunani Kuno, Jaman Romawi Kuno, sampai jaman Kerajaan Inggris (The British Empire), sampai USA sekarang, mereka cenderung melanggengkan kekuasaannya. Kalau ada yang mbalelo, sikat ! Saya kira cerita seperti itu akan tetap berlangsung dan bakalan terjadi terus sampai akhir jaman….

    Reply

  3. alris
    Mar 03, 2009 @ 01:16:46

    PRO pak Totok..
    Saya lagi menjalani prinsip hidup Bapak yang dibawah ini :
    “Jadi akhire aku duwe prinsip, lakukan apa yang ada di dekatmu, nanti akan membawa kamu ke muaranya. Iku bener cak, koyok iklane pipo PVC, dimana air mengalir he….he….

    Sejak di phk saya jalankan aja apa yang bisa lakukan. Nasib saya kayaknya sedikit banyak sama karo pak Totok. Kalau bapak saya orang jawa mungkin saya juga dinamakan Prihatin Rahayu Santoso. Waktu STM dan kuliahan saya gak punya waktu buat libur kayak anak-anak lainnya. Itu saatnya saya ikut jualan sayur di pasar raya kota Padang dan kerja bangunan : aduk semen, ngecat, angkat-angkat material batu bata; balok kayu; galian pondasi, dll. Itulah yang bikin saya gak punya rasa malu untuk melakukan pekerjaan apa saja, sing penting halal. Seperti kemaren saya dodolan selimut ke mantan kantor, eh malah dapat pesanan selimut. Seminggu lalu saya dipanggil wawancara kerja saya bawa contoh selimut + katalognya, eh yang pewawancaranya juga beli satu.

    Uda Alris,
    Wah…itu bisnis bagus Uda. Apalagi kalau katalognya dibikin secara website http://www.selimut.com/ hehehe…

    Atau paling tidak http://selimutnyaman. wordpress.com/ mungkin juga laku lho…

    Reply

  4. totok
    Mar 03, 2009 @ 10:06:58

    MAS ALRIS
    Memang sesuai catatan sejarah saya selama setengah abad lebih, kita harus menghadapi apa yang ada di depan mata. Impian boleh-boleh saja, tapi kenyataan harus kita hadapi dengan apa adanya. Sebab kalau tidak, kita jadi seorang pemimpi.

    Tanpa bermaksud menggurui, menurut aku, lakukan apa yang bisa anda lakukan. Tapi aku yakin Uda Alris bisa. Sebab, aku banyak teman dari Padang. Mereka pekerja yang ulet.

    Contoh konkrit yang namanya Masakan Padang, di Jawa dari Kaki Lima, wrung sampai restaurant internasional ada.

    Saya pernah jualan Nasi Pecel Madiun di Kota Malang. Saingan berat saya cuma Warung Padang. Saya pelajari cara mereka, salah satu yang bisa saya ambil adalah, lauknya macam-macam. Jadi konsumen tinggal pilih mana yang disukai.

    Dan ethos kerja orang Padang patut diacungi jempol dua. Tetangga saya warung Padang itu, yang laki jam 2 pagi sudah ke pasar untuk belanja. Istrinya masak di warung. Jam 5 pagi sudah buka untuk melayani mahasiswa yang mau makan pagi.

    Kalau menurut aku, Uda Alris bisa mengikuti jejak saudara-saudara kita dari Padang yang merantau ke Jawa. buka Warung Padang. Apalagi di Malang atau Jogya, tempat anak kuliahan. Pasti laku. Di dua kota itu, tak ada yang namanya warung nggak laku. Sebab, banyak yang butuh makan di warung.

    Lain lagi ceritanya di Madiun. Warung kalau nggak spesifik banget, susah. Istri saya mencoba di Madiun masih belum berhasil.

    Cak Totok dan Cak Alris,
    Bikin aja warung pecel di Madiun buat Ny.Totok dan warung padang di Jakarta/Yogya/Surabaya buat Uda Alris..

    Supaya spesifik, bikin aja nama makanannya yang aneh-aneh atau yang eksotis-eksotis. Selain namanya, kalau perlu juga rasanya, bentuknya dan warnanya. Apalagi MINUMANNYA, SO PASTI HARUS EKSOTIS…

    Dari pengalaman saya makan dengan keluarga di Restoran COZY yang saya sering ceritakan di Blog ini, setelah saya bertanya kepada diri sendiri mengapa datang lagi…datang lagi…dan datang lagi ke COZY ? Ternyata, jawabannya MINUMANNYA. Minumannya bermacam ragam dan diberi nama-nama yang eksotis seperti : Cozy Punch (padahal hanya sari buah), Flamingo (padahal cuman jus jambu biji), Lemon Squash (padahal cuman es jeruk nipis yang rasanya kuecuut..), dsb…

    Bikin aja namanya menjadi : Jember Membara (jus jambu biji yang merah meriah), Blora teduh (jus melon berwarna hijau), Padang Nyaman (jus jeruk berwarna kuning), Kroya Gila (jus belimbing campur sayur seledri), dan Cilegon Membaja (kopi hitam dengan Latte di atasnya), serta Majapahit Menggigit (teh susu dikasih Latte di atasnya). Pokoknya apalah, asal eksotis : warna, rasa, nama, harga….pasti laku kok. Orang Jakarta aja sukanya minum di sebuah kedai kopi internasional yang rasanya pahiit banget, gak enak blas, lah harganya ? Sak sloki kecil harganya Rp 38 ribu. Terpaksa saya beli, daripada dibilang gak bisa bergaya….hahahaha….

    Reply

  5. totok
    Mar 03, 2009 @ 13:21:39

    Betul cak, aku pancen duwe biatan bukak warung maneh. Makane aku tau nulis gae simbah nek arep kontrak nang Dungus. Nggone adem, trus suasanane romantis.

    Iki lagi tak jajagi, tak etung-etung, duwite cukup opo ora. Soale arep tak gae warnet segala. Di Dungus belum ada warnet. apalagi omahe sing arep tak kontrak gede banget, latare ombo. Dadi latare kenek gae dodolan bojoku, lha ruang tamu sing ukurane 5 X 8 meter tak gae warnet. kamare telu, digae turu. Kamar ngarep gae aku, kamar tengah gae bojoku, lha sing mburi isih digolekke sing gelem nuroni hee…..he.

    Tapi nek 3 tahun yo sangat fisible. Sing durung fisible cumak danane. He…he… aku gak utang lho cak.

    Cak-e Totok,
    Wah….sepintas katone rencana sing apik, mbukak Warnet lan Warung nang nDungus. Tapi opo bener, wong nDungus wis perlu Warnet lan Warung ? Opo bener monumen itu akeh pengunjunge sampek mbludak kok perlu warnetan segala, soale jaman biyen sing jenenge nDungus iku yo wis nang ujung dunia…hahaha…

    Masalah utang, gak usah khawatir, saya tanggung. Gak usah khawatir utang neng aku, lha wong aku ra nde dit. Saya tanggung, bahwa aku ra nde dit….hehehe…. (wis akeh diutangi wong, tapi gurung mbalekno..)..

    Reply

  6. totok
    Mar 03, 2009 @ 19:45:26

    Wah, film Ki Ageng Mangir, kiro-kiro tahun 1987. Dadi wis 22 tahun yang lalu. Aku gak ngerti, opo onok yo VCD-ne. Coba digoleki nang You Tube, onok opo ora.

    Lha pemaine aku yo lali, tapi nek gak salah onok Ratno Timur sing biyen dadi Si Buta dari Gua Hantu. Tapi filme yo biasalah, koyok film-film silat Si Pitung etc…etc. Cumak iki bernuansa sejarah sing pancen spektakuler. Bayangkan, ndase digedugno nang umpak sampek pecah he….he. Sadis tenan. Untunge zaman biyen, cobo saiki, mesti digowo polisi.

    Pak Probo, bener cak, aku saiki eling. Priyantune nek ngagem pakaian necis, setlikane mlipit, rikmane yo klimis. Saben dino nek kondur lewat ngarep omahku, sepedane onok suarane crik…crik…crik.

    Tapi sing aku gak eling, koncone dewe sing sampean lirik iku sopo yo????? Nomer loro soko sampean, kiro-kiro Endang Sonya, sing omahe cedake Gembes.

    Pancen areke bening cak, saingane si Indrawati arek PG Soedhono sing gagal kita apelin ha…ha. Rambute sebahu, biasane diore, trus pinggule….waduh,…nawon kemit he…he. (ini kalau Uda Alris baca, pasti komentarnya rame ha…ha).

    Lambene cak, waduh…..semriwing bintang film India Rani Mukerjeee kalah.

    Pasti nyonyah sampean yo sekelas iku yo cak huayuuune. Kenalno po’o. Tapi nek ketemu aku mesti ora wani nggoda sampean, salah-salah dibedil ha….ha.

    Cak-e Totok,
    Ah…riko mau tau aje….hehehe…. 😉

    Reply

  7. alris
    Mar 03, 2009 @ 22:36:58

    PRO pak Tri :
    Saya memang punya cita-cita bikin rumah makan padang yang punya menu khusus. Semacam rumah padang tapi gak menyajikan aneka lauk-pauk, cukup satu atau dua menu aja. Jadi kalo orang pergi ke rumah makan ALRIS misalnya, pasti tujuannya makan dengan rendang entok yang maknyuss dan sayuran seger, atau makan gulai kepala ikan kakap dengan kuah yang nyamleng. Minumannya saya setuju dengan ide pak Tri, nama aneh tapi rasa tiada duanya. Saat ini modal-e gak onok, jadi baru konsep/ide dalam pikiran.

    PRO pak Totok :
    Jadi Endang Sonya saingan sama Indrawati, ya pak Totok. Kalau jaman sekarang si ES mungkin ayune kayak Sandra Dewi, barangkali. Wah, pasti pak Totok udah ngincar terus waktu itu kali ya, hehehe…

    PRO simbah :
    Ayo ikut nimbrung pak Pur.

    Uda Alris,
    ES itu mukanya mirip dengan Shandy Aulia, bintangnya “Eiffel, I’m in Love” dan SI itu mukanya mirip banget dengan Ussy Sulistiawati…

    Reply

  8. totok
    Mar 04, 2009 @ 11:41:53

    Walah, ceritanya makin rame banget. Soal Indrawati, soal Endang Sonya sampek bikin warung di Dungus.

    Saiki Dungus seje karo biyen cak. Wis luwih maju. Soal warnet tak kiro kita harus berani jadi pionir. Pancen aku rodo aneh nek bisnis. Golek sing durung diambah uwong.

    Zamane wartel isih Jaya, hampir smeua orang bikin warnet di kota yang padat penduduknya. Tapi aku justru golek enggon nang Ngrambe, Kabupaten Ngawi, nang ereng-erenge Gunung Lawu. Ternyata mereka ya butuh komunikasi.

    Makane, aku saiki arep njajal nang Dungus. Perhitungane, selama masih ada anak setingkat SMA atau SMP, pasti ada yang mampir. Aku wis bikin jurus jitu. Bagi siapa yang belum paham internet, tak ajari ngenet. Misalnya bikin email, bikin blog, chattin etc. (padahal ngeblog aku yo durung isok he…he).

    Nah dengan serpis ngajari tingkat dasar itu, saya yakin, mereka juga akan semakin familier terhadap internet. Opo maneh SMP saiki wis wajib internet, cumak fasilitase sing durung onok. Terutama nang desa seperti Dungus.

    Pandongane cak, mugo-mugo lancar…car…car.

    Cak-e Totok,
    Oooo…ngono tah latar belakang yok opo sampeyan iku duwe cita-cita mbukak internet neng nDungus barang. Yen kono, cita-citamu kuwi apik le, terusno wae. Kon kudu semangat lan pantang menyerah, lah aku ming ngewenehi donga wae sokok kene (ora menehi modal lho…hehehe…)…

    Tak kiro tujuan sampeyan mulia tenan, iku jenenge menjembatani ketertinggalan informasi (“digital divide”) di daerah-daerah sing angel dijangkau. Sak jane iku program pemerintah. Cobak aku dadi Menteri Kominfo, wah wis jan kon dak ampiri neng omahmu, tak wenehi 3 yuto, terus berangkat neng nDungus. Lha mengko pas pengguntingan pitane aku mbok undang maneh neng nDungus, lan aku arep ngundang semua TV neng Indonesia ben pas aku nggunting pita…cekrek…. langsung disambar puluhan lampu blitz lan sesuke mlebu koran (opo iso yo ?) lan mlebu TiPi (opo cukup yo ?)…hehehe… Sayang aku kok dudu Menkominfo….ming dosen Sisfo wae…hehe…

    Reply

  9. simbah
    Mar 04, 2009 @ 17:20:45

    Aku setuju neng nDungus Tok! Tirunene pak Ci, Ancol ndisik kabare panggonan jim mbuwang anak, disulap dadi panggonan sing moncer. Lha saiki coro-2 sing wis dirintis ‘sang pelopor’ coba dijiplak. Modal…? apike kudu ngutang, sebab nek gak ngutang, gak ono sing mecut diri kita, ning ojo akeh-akeh…mundak kegeden empyak kurang cagak….

    Reply

  10. totok
    Mar 04, 2009 @ 21:41:38

    He…he, sampean isok wae cak. Iki mau sebelum aku mbukak internet, aku lagi mulih soko masang jaringan internete Pusdik perhutani nang Indosat. Ketemu Pak Arif, manajer Indosat madiun.

    Ngomong ngalor ngidul, termasuk bicara soal misi (jare sampean digital devide). Malah soal internet masuk desa, khususnya di sekolah-sekolah, terus disambung. Malah beliau yang mau bikin proposalnya. Lho lak aneh to cak. mestine kan aku, lha iki malah Indosat. Padahal, aku iki opo to cak, wong usaha timik-timik wae durung. Lha wong bayine yo lagi lair, dadi isoke nangis cenger. Nek nangis nang sampean mesti diguyu, soale durung dadi Menkominfo ha….ha.

    Gak usah dadi menteri cak. Aku kawatir sampean malah korupsi goro-goro arep mbantu aku 3 juta ha….ha…. Nek soal pengguntingan pita, nek sampean nang mbediyun, tak cepaki gunting sing paling gede.

    SIMBAH :
    Ojok omong utang mbah, aku isok diseneni Cak TRI. Cagakku wis gak enek, opo maneh empyake. Tapi embuh maneh nek soko Natuna sampean nggawakke aku bibit lengo terus isok tak dol gae modal.

    Cak Totok,
    Wah…iku jenenge Indosat Madiun “mencuri” proposalmu… hwekekekkekkek… Pokoke dieling-eling, kata kuncinya adalah “memerangi jurang digital” di Indonesia, utawa jare wong Amrik “fighting a digital divide” (onok sing wis oleh akses internet, onok sing durung)…utawa nambah “teledensity” (membuat telpon masuk desa, tapi gak ming sambungan telpon-e, tapi ugo isi utowo konten-e, misalnya internet, e-Learning, dsb)…

    Yen Indosat Madiun gelem nggawekno proposal, yo jenenge syukur alhamdulillah. Kon kari lungguh tenguk-tenguk lan ngendangi dengkul wae, “teweot” bakal teko dewe…hehehe…

    Ojo lali mbangun network karo sopo wae, sokok tukang sapu neng kantor Indosat, tukang parkir, satpam, sampai mbak-mbak sing huayu-huayu sing njogo konter neng Indosat kudu mbok sopo… “He Pak, yok opo kabare ?”, “Halo Boss, piye kabare ?”. Masiyo tukang sapu, tukang parkir, utowo satpam kudu mbok celuk “boss”. Lha boss-e tenanan, yen deweke asal-e sokok tanah Sunda, kudu mbok celuk “Hallo Juragan, kumaha wartosna, damang ?”. Yen asale sokok Padang koyok Uda Alris, kudu mbok sopo “Ba’a kaba ? Lah lamo tak basuo, sekali basuo di kantoro Indosato…”…hehehe…

    Intine : jujur, isok dipercaya, semangat 45, kerja keras (bushido), lan ramah !

    “Teweot” ? Aku ming khawatir yen sedelok maneh kon isok tuku omah neng Jalan Kalimantan…hehehe…

    Reply

  11. totok
    Mar 05, 2009 @ 08:25:33

    Pancedn cak, nek dalam wis ketemu, ketoke semua berjalan apa adanya. Tapi nek soal teweot, rasana isih adoh. Sing penting hubungan dijalin apik disik. Itu saja buat aku merupakan suatu karunia.

    Artinya, lagi setahu aku balik kucing nang mbediyun, wis onok dalam (baca:gang) sing isok dilewati. Padahal sing puluhan tahun njepiping nang mbediyun ora ungkrek-ungkrek blas.

    Iki anakku yo lagi ngrancang, internet nang ndeso dilengkapi telepon Voip, cekne keluarga TKI/TKW kita bisa berkomunikasi murah. Dan E-learning pastinya yo sampean sing mbantu. Tapi nek memerangi jurang digital, kayakny itu sih idealisme kita kan (bukan aku tok, tapi yo sampean barang sebagai pakar digi)

    Nek say hi, wis tak lakoni cak. Satpam Indosat wis apal karo wajahku. tapi karo sinmg huayu-huayu durung cak. Soale nek aku rono, deweke isih sibuk nglayani pelanggan. paling-paling aku cumak isok senyum…rodo kecut soale bar soko lapangan.

    Malah dek wingi, Pak Arif (Bos Indosat) takok, berapa karyawan Faster (spidiku he…he). Tak pikir untuk njajagi kekuatan SDM-ku. Tapi ternyata dia menjelaskan, ”Saya pengin mengundang makan rekan-rekan Faster”..

    Wah, aku ndlongop cak. Gak keliru ta???? Padahal usahaku iki opo lho cak, modal keberanian ditambah saran-saran sampean (ini yang paling besar nilainya), trus ditambah modal teweot titik soko Jawa Pos. Umpomo mlaku ngono isih dengap-dengap.

    Soal tuku omah, koyoke isih adoh jangkane. Tapi nek sing ndukur ngijabahi, aku gak arep nang jalan kalimantan (onok opo jl kalimantan) aku pengin nang Dungus, hawane adem he….he

    Sekalian gae ngedem utek. Soale utekku wis mbok stater, lha saiki wis mulai panas, perlu panggonan sing dem-adem hwekekekek.

    Cak-e Totok,
    Iyo aku walaupun minggu ngarep nang Surabaya, durung pasti opok iso mampir mBediyun. Yen ora sido neng mBediyun yo ora opo-opo, mbesuk-mbesuk client-ku sing neng mBediyun kan pasti ngundang,,

    Limang menit kepungkur aku ketemu Witono Basuki neng ngarepe lift, njur tak sopo “Ton, iku lho konco-koncomu SD BO A saben ndino ngrumpi neng Blogku ngrasani sampeyan. Kapan-kapan mampir neng Blogku dong”..Terus dekne nyatet alamate Blogku. Mudah-mudahan cepat atau lambat bergabung berdiskusi…hehehe…

    Reply

  12. totok
    Mar 05, 2009 @ 14:13:45

    Wah, syukur ketemu Witono. Mesti areke saiki lemu, rambute botak (soale S3). Mergo gak pati duwur, dadi wajahe mesti lucu-lucu. Syukur nek deweke isok ngerumpi nang blog iki, tapi opjo diskusi, keduwuren aku ora nyandak.

    Cak,
    Witono ora patio lemu, malah luwih kuru tinimbang aku lan rambute yo ora botak. Isih utuh, lan berwarna hitam. Rupane jik isih koyok neng SMP kae, cuman saiki memang wis katon tuwo, ning isih ok…
    Mbuh dekne kelingan opo ora alamate blog iki, soale aku menehi weruhne dekne lisan wae, ora tertulis..

    Reply

  13. simbah
    Mar 05, 2009 @ 16:14:32

    Nek gak sempat mampir Yo…maklum, soale nama kesibukan gak iso dipridiksi, opo maneh urip neng Jakarta, umure entek neng ndalan. Lah bisaku nulis lang njingglengi bloge Ndiko ki rak gaweyanku mung thenguk-thenguk nemu gethuk…karo ngenteni pengsiun….

    Reply

  14. antonbonie
    Mar 24, 2010 @ 11:33:35

    LUCU

    Reply

  15. etcetera
    Jan 20, 2013 @ 07:45:40

    Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!.Berapa banyak orang Jawa atau pemerhati sejarah yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah cerita tentang kepengecutan P.Senopati, padahal Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://panyutro.blogspot.com/ , akan anda temui kejutan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: