Rebutan Cangkir

Ada cerita lucu waktu saya dan kakak-kakak perempuan saya masih kecil dulu. Mungkin ini ceritanya di tahun 1960 atau 1961 waktu keluarga saya sudah pindah ke dusun Ngrowo. Waktu itu kakak perempuan saya yang paling besar sudah kelas 4, kakak perempuan saya yang nomor dua sudah kelas 0, dan saya masih belum sekolah…

Setiap pagi, saudara saya laki-laki yang waktu seumuran anak SMA yang dipanggil “Jeboh” suka membuatkan kami bertiga minuman teh hangat untuk diminum pagi hari, kadang-kadang bersama pisang goreng.

Saya nggak tahu kenapa, ternyata keluarga saya yang barusan pindah rumah dari dusun mBoboran Winongo ke dusun Ngrowo Mojorejo ini tidak mempunyai cangkir atau gelas yang cukup, bahkan untuk kami yang hanya bertiga. Akibatnya, Jeboh kalau membuat teh selalu menggunakan cangkir dan gelas dari berbagai ukuran : ada yang gemuk pendek, ada yang sedang bentuknya, dan ada yang langsing tinggi bentuknya.

Nah, di situlah letak sumber perkelahian kami…

Setiap pagi, kami bertiga selalu ribut rebutan cangkir. Kami sama-sama memilih yang tinggi langsing karena dikira isi tehnya paling banyak. Karena keributan yang kami buat sudah mendekati hebohnya Perang Dunia III, lama-lama Jeboh pun tidak tahan…

“Hey sebentar, jangan ribut-ribut ! Nih, saya mau menunjukkan kalau isi dari ketiga cangkir itu sebenarnya sama. Jadi buat apa kalian ribut-ribut rebutan dan mau berantem segala ?”, katanya dengan nada cukup tinggi.

Lalu diambilnya satu cangkir lagi, di luar ketiga cangkir dan gelas yang sudah berisi teh. Satu per satu isi cangkir dan gelas dituangkan ke cangkir kosong tadi. Kami bertigapun melotot mengamati setiap mm dari ketinggian teh di dalam cangkir kosong tadi.

Ajaib, ternyata isi teh di ketiga cangkir itu sama !!!!

Terima kasih Jeboh, kamu sudah menggagalkan Perang Dunia ke III  !!!

Apakah anda pernah rebutan sesuatu yang “silly thing” seperti itu  di antara saudara-saudara anda ?

11 Comments (+add yours?)

  1. alrisblog
    Mar 04, 2009 @ 23:53:58

    Saya waktu kecil kalo emak saya motong ayam buat dibuat gulai kami pasti rebutan untuk makan kepalanya. Saya sering pesan sama emak kalo kepalanya buat saya. Dan satu lagi rebutan berkat kalo emak pulang dari walimahan. (Ditempat saya waktu kecil berkatnya orang walimahan bukan nasi, tapi aneka macam kue basah dan kering bikinan kampung). Gimana dengan pak Totok dan simbah?

    Reply

  2. Friska
    Mar 05, 2009 @ 00:07:36

    kl skrg malah jadi cerita lucu untuk dikenang yah pak?? 😀

    kl Saya mah dulu kecil sering banget pak rebut2an gitu, secara Saya punya 2 adik perempuan yang hampir sepantaran semua 😛 . Jadi kalau diinget-inget lagi mungkin cerita Saya banyak banget kali yah Pak, bisa dibikin film berseri atau sinetron Lol~

    Friska,
    Ya cerita-cerita anda masa kecil dulu tulis aja di Blog Friska (saya sudah lama nggak ngunjungin nih..). Lama-lama dibuat buku, dan akhirnya siapa tahu ada yang tertarik membuat film dari buku tersebut, seperti yang terjadi dengan “Kambing Jantan” ?

    Reply

  3. totok
    Mar 05, 2009 @ 08:54:14

    UDA ALRIS
    Saya ini termasuk ”masa kecil tak bahagia”. Di rumahku, nggak ada siapa-siapa kecuali, nenek sama bulik. Jadi di rumah aku nggak punya teman kecil.

    Apalagi nenekku, kalau orang Jawa termasuk priyayi. Jalan Sawo dulu, termasuk kawasan elit. Jadi saya bulik (tante) termasuk saya, kalau berteman hanya boleh dengan orang-orang dari keluarga sekitar Jalan Sawo. Itu pun tertentu.

    Yang saya ingat, kami boleh main dengan tetangga yang anaknya Kepala Kantor Perburuhan, Kepala Bank, etc..etc.

    Tapi termasuk badung. Kalau nenek tidur siang, saya pun ”melarikan diri” main apa saja dengan teman-teman yang rumahnya kebanyakan di gang. Bahkan pernah main wayang orang kecil, di Gang Mangga, jaraknya satu blok dengan rumah nenekku.

    Kalau nggak begitu, cari tebu di Ngrowo bahkan sampai sawah di Winongo, yang jaraknya sekitar 3 sampai 4 km. Tebu zaman saya kecil, tahun 60-an, rasanya enak, manis dan empuk. Nggak kayak sekarang. Dulu tanaman tebu dijaga oleh Waker yang galak-galak untuk mengusir hama tebu yang bernama manusia.

    Tapi harus berburu dengan waktu. Soalnya pada saat nenek bangun, saya sudah harus tiba di rumah dan pura-pura tidur. Makanya sampai sekarang, saya terbiasa bekerja dengan tenggat waktu. Karena sudah terbiasa sejak kecil.

    Kalau saya tidak nakal begitu, mungkin sampai saat ini saya jadi orang puritan, dan selalu bergantung pada orang. Sebab sejak kecil saya dididik seperti itu, maklum ikut Kakek dan Nenek yangs ayangnya kepada saya minta ampun, meski galak.

    Tapi sekarang saya merasakan. bagaimana dengan cucu saya he….he…..he…

    Cak Totok,
    Wah…cerita tentang mbah lanang lan mbah wadonmu menarik. Tapi onok kata “Puritan” sing barangkali artine rodo ora cocok karo sing tak pelajari. Sing mbok sebutne “puritan” konotasinya wong kuper, padahal kalau nggak salah “Puritanism” itu isme yang mengajarkan orang disiplin, kerja keras, pantang menyerah, dsb…

    Kapan-kapan deh aku nulis di Blog tentang “Puritan dan Puritanism”. Sementara iki aku nggolek bahanne disik….

    Reply

  4. Sulis
    Mar 05, 2009 @ 15:05:50

    Ternyata hampir semua anak-anak suka rebutan apa saja ya. Saya jadi ingat waktu kecil dulu kadang-kadang rebutan makanan, setelah gede kalau ingat jadi malu sendiri, kenapa saya tidak mengalah sama adik. Anak-anak saya juga begitu, membuat saja jadi wasit yang harus mendekati adil.

    Mbak Sulis,
    Iya tuh mbak, anak kecil suka rebutan hal-hal kecil sampai hal-hal gede, namanya juga anak-anak mbak. Lha nanti kalau sudah masuk SMP biasanya rebutannya sudah tidak seramai waktu kecil, walaupun masih sering terjadi…

    Rebutan, iri-irian, berkelahi, adalah ciri-ciri saudara sekandung. Tapi begitu pisah sehari, mereka saling rindu dan saling menanyakan yang lainnya..

    Aneh ya ?

    Reply

  5. edratna
    Mar 05, 2009 @ 19:45:17

    Aku udah nggak ingat cerita itu

    Aku masih ingat soalnya cerita itu ada unsur matematisnya, gitu… 😉

    Reply

  6. simbah
    Mar 11, 2009 @ 20:28:52

    Rebutan apa saja itu baik-baik saja, wong pada dasarnya hidup itu berkompetisi. Tapi ya pilih-pilih apa yang diperebutkan….priye dik Yon..?

    Simbah,
    Yo…nek rebutane antar saudara itu namanya “sibling rivalry”. Sing paling males rebutan duwit…hehehe….tapi mungkin sing paling seru…cewek ngebutin cowok…atau cowok ngrebutin cewek…kayak di film-film itu..
    Yang paling menakutkan rebutan negara atau rebutan sumber daya, kayak di Perang Dunia II dulu…

    Reply

  7. TOTOK
    Mar 11, 2009 @ 21:36:18

    SIMBAH
    Mbah, wis munggah nang daratan tah???

    Reply

  8. tutinonka
    Mar 14, 2009 @ 12:41:43

    Rebutan teh masih bagus Pak Tri, yang memalukan itu kalau rebutan pangkat, jabatan, harta, termasuk rebutan i***i atau s***i ….. 😀

    Bu Tuti,
    Lha untung saya rebutannya dengan saudara kandung waktu kecil dan cuman cangkir…

    Swear Bu, yang ibu sebutkan itu saya nggak pernah rebutan : saya serahkan aja semuanya sama yang mau rebutan….saya lebih suka rebutan mencari kedamaian dan ketenangan jiwa…(Lho ?)…

    Reply

  9. simbah
    Mar 14, 2009 @ 15:07:17

    Dik Yon,…nek rebutan ‘Yang’ semasa di SMASA aku nate, lah kok saiki nurun neng anakku ugo, rebutan cewek karo kancane…malah direwangi gelut barang….wah jan ngisinake….kae..
    Aku ndisik yo nae rebutan, ning aku sering ngalahe…bareng bocah mau wis bosen karo yange trus bali maneh nang Aku. Aku njawab:” Tak usyah..ye…..tidak menerima sisane Yuyu kangkang”…he…he….tau rasa dia…..
    Totok, mengko nek wis munggah daratan tak kabari….

    Simbah,
    Wah..yen aku, setelah “surplus” Yang di masa SMP, jebul pas SMA dadi “minus” Yang. Soale, sopo Yang sing gelem digonceng nganggo sepeda wektu itu, lha wong jamane wis jaman Honda 90Z, Yamaha L2G, utowo Suzuki S-100, minimal motor bebek. Lha nek aku, pitik lan bebek yo nduwe, tapi motor bebek durung tuku (artosna euweuh, cek urang Sunda mah)..

    Yang sing sisane Yuyu Kangkang paling ora uenak rasane. Aku yo nate, naksir bocah ra gelem, mbosok 1-2 taun kemudian dekne genti naksir aku, aku njawab “Capeeeek deh !!!”…

    Hwekekekkekkek….;-)

    Reply

  10. simbah
    Mar 14, 2009 @ 15:22:34

    Bu Tutinonka, memangnya ada rebutan istri sama suami….we…lah dalah….??? Kalo rebutan jabatan ada…rebutan pangkat juga ada….namanya juga di dunia….tapi rebutan sorga….nggak ada…wong masing-2 bisa mencari sendiri…he..he….

    Reply

  11. totok
    Mar 16, 2009 @ 20:23:23

    Ah, mosok lali parikan ”TEKLEK KECEMPLUNG KALEN TIMBANG GOLEK ALUWUNG BALEN” he….he….

    Tapi, memalukan untuk yang rebutan pangkat dan jabatan (komentar bu Tutinonka) kayaknya sekarang sudah nggak laku lagi. Soale nek gak direbut, kapan pangkat mudun.

    Opo maneh sedilut engkas, wayahe rebutan kursi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: