Stress, Code Red, dan Simply Red

Motivasi dari posting ini adalah menjauhkan, sejauh mungkin, manusia dari stress. Terutama bila manusia itu adalah mahasiswa, karena mahasiswa adalah pemuda, dan pemuda adalah harapan bangsa. Kek mana atau cem mana jadinya, kalau harapan bangsa dihinggapi “stress” atau bahasa Jawanya “sutris” ?

Akhir-akhir ini, dengan krisis global yang “ekornya” mulai menyapu bumi nusantara khususnya dan ASEAN pada umumnya, banyak orang mulai terserang stress. Banyak di antaranya yang “pralaya” karenanya. Membaca banyaknya orang stress karena masalah sekolah dan masalah finansial, sayapun tersenyum kepada teman-teman saya sambil berbisik “Untung saya tidak kaya dan tidak pinter, karena stress itu biasanya menghinggapi orang kaya dan orang pinter !”..

Jika berjalan-jalan di kampus di Amerika, di University of Wisconsin of Madison, misalnya. Salah seorang “guide” yaitu teman Indonesia yang sedang berkuliah di Wisconsin mengajak saya dan teman-teman dari Indiana-Bloomington memutari kampus dengan mobil di kampus Wisconsin yang indah berbukit-bukit dan mempunyai 2 danau yang indah, tepat di belakang Pusat Kegiatan Mahasiswanya (PKM). Gedung di kampus Wisconsin umumnya berwarna merah bata (brick), walaupun ada yang juga yang terbuat dari limestone atau terbuat dari kaca-kaca dan berarsitektur modern (bukan Victorian umumnya)…

Sampailah kami di ujung jalan melewati Department of Chemical Engineering. Kawan yang jadi guide itupun berujar “Nah, di situlah pak, dulunya ada mahasiswa bunuh diri”. Ujarnya kalem, dan kami berempatpun di mobil tidak berkata apa-apa, hanya berkata dalam hati “Chemical Engineering program at Wisconsin must be a helluva program !”

Dalam perjalanan pulang dari Wisconsin yang plat mobilnya ada bertuliskan “Dairy Land” menuju Bloomington melalui jalan raya I-65 ke arah selatan, sayapun berpikir “Pantas saja mahasiswa Teknik Kimia Wisconsin bunuh diri, mahasiswa UGM nyebur ke Kali Code yang dalam, mahasiswa Cornell menceburkan ke danau hingga tewas, soalnya menandakan bahwa tuntutan kekompetitifan di ketiga universitas itu begitu tinggi”. Daftar ini ditambah dengan NTU (Nanyang Technological University), Singapore yang baru-baru ini diberitakan seorang mahasiswa bunuh diri..

Di Indiana University at Bloomington selama saya belajar Computer Science selama 3 tahun, belum pernah saya dengar adanya mahasiswa bunuh diri karena tuntutan pelajaran yang kompetitif. Walaupun sepulang dari Bloomington beberapa tahun kemudian saya dengar ada seorang mahasiswa Jerman menembak mati seorang mahasiswi Amerika dan pacar Amerikanya, karena patah hati cintanya ditolak. Atau seseorang menjatuhkan diri dari atas gedung Ballantine, tapi ini sebab lain..

Stress yang akut mungkin akan menyebabkan seseorang mempunyai rasa “suicidal” (rasa ingin mengakhiri hidupnya), setidaknya itu yang saya baca di buku kedokteran yang saya beli di ujung jalan Orchard Road. Bagi mahasiswa yang sangat pinter yang biasa nilainya A semua, mendapatkan nilai A- sekalipun juga sudah menyebabkan stress. Hal ini terjadi waktu saya kuliah di Amerika, waktu itu seorang teman dari India tiba-tiba “menghilang” dari kampus dan tidak seorang temannya bahkan sesama dari India, yang tahu dimana ia berada. Seminggu kemudian, dari pelacakan transaksi ATM, rupanya ia menarik uang dari Texas, kata polisi. Teman-temannya lega, karena ia masih hidup. Dan kata seorang teman dekatnya, waktu ia sekolah engineering di India, ia juga pernah menghilang seperti itu sewaktu tahu setelah midtest nilainya bakalan kurang dari A ! Setahun dua tahun lalu, saya cek kawan India yang menghilang itu sudah lulus Ph.D nya dan sekarang sedang menjadi Associate Professor di sebuah universitas di Amerika…

Stress sendirian mungkin masih mending. Jika stress-nya seorang teman akan mempengaruhi performance sekelompok orang teman lainnya, seperti di tentara atau di Marine Corps, tentunya itu menjadi masalah. Seseorang yang lemah dan selalu tertinggal di sebuah kompi Marinir akan dapat membahayakan jiwa semua anggota pasukan di kompi tersebut. Karena dalam suatu pertempuran, lemahnya satu anggota pasukan akan menguras perhatian anggota pasukan lainnya, dan bila hal ini terjadi di suasana tembak menembak di suatu pertempuran, maka keseluruhan anggota kompi akan terancam jiwanya. Maka teman-teman lainnya dalam kompi tersebut biasanya akan “menghukum” kawan yang lemah ini, kadang tanpa diketahui oleh komandan kompinya, dan kadang anggota pasukan yang terlemah diberi hukuman (code red) dengan keterlaluan sampai meninggal. Kalau hal ini terjadi, pasti pelakunya akan diseret oleh Polisi Militer (MP) ke depan pengadilan militer (court martial). Tentunya pula akan banyak melibatkan hakim militer, oditur militer, dan pembela militer yang semuanya adalah lulusan JAG (Judge and Advocate General) seperti di film “A Few Good Men” yang dibintangi Jack Nicholson, Demi Moore, dan Tom Cruise itu (ini salah satu film favorit saya sepanjang masa)…

Apakah selama belajar, saya pernah stress ? Tentu saja !! Sebagai manusia biasa yang tidak pinter dan tidak kaya serta biasa-biasa saja yang terbuat dari darah dan daging dan tulang, tentunya yang namanya stress sesekali menghampiri. Sejak SD saya sudah tahu apa yang namanya stress. Umumnya bukan karena masalah pelajaran, karena waktu SD saya masih termasuk pinter, tapi masalah hubungan dengan orangtua (misalnya orang tua tidak cukup memberi uang saku). Daripada stress, sejak SD saya dan teman-teman suka jalan-jalan “ke kota” (downtown) yang berjarak kira-kira 3,5 km dari tempat tinggal saya. Sepanjang perjalanan banyak sekali yang saya bisa lihat, dari melihat anjing yang galak yang selalu dikurung oleh tuannya di rumah, burung beo yang bisa mengatakan “apa kabar ?” di sebuah rumah, pasar burung (termasuk kucing, kelinci dan marmot), toko mebel, pasar besar, dan yang paling bisa menghilangkan stress adalah…melihat-lihat barang loakan !!!!  Harganya murah (kalau bisa menawar), dan penuh dengan sejarah bagaimana barang tersebut bisa sampai ke pasar loak (jaman saya kecil dulu, tingkat kriminal belum tinggi, jadi pasti barang ini diloakkan sendiri oleh pemiliknya)….

Waktu SMP, sesekali saya juga menderita stress karena sedikit masalah percintaan (karena sudah mulai lamat-lamat tahu cinta itu seperti apa, yang perasaan dag dig dug tidak menentu padahal sedang tidak minum obat flu), masalah hubungan dengan orang tua (uang saku tidak cukup untuk beli baju) dan sebagainya. Tapi karena kesibukan saya ekstrakurikuler di Pramuka, rasa stress sudah banyak diredam karena banyak mengikuti Persami (perkemahan Sabtu-Minggu) dan ketemu teman-teman Pramuka sekolah lain. Rasa stress juga bisa sedikit dikurangi karena saya sudah ikut perkumpulan beladiri yang menyebabkan kita sedikit merasa “tough” (taft). Selain itu, sering di malam hari saya menyamar sebagai orang lain (dengan memakai baju yang berbeda dan kacamata) naik sepeda keliling Madiun, kadang-kadang (dan sering-sering) berakhir dengan mengobrol di rumah Purwoko dan Budi Mulyanto di Jalan Tanjung, atau di rumah Gembes di Jalan Merpati..

Di masa SMA, stress semakin membesar karena ada mata pelajaran-mata pelajaran baru yang semakin sulit seperti Fisika, Kimia dan Mekanika. Jika guru Fisika, Kimia dan Mekanika masuk kelas, perasaan saya…penginnya saya bisa “menghilang” dari kelas ini daripada disuruh maju ke depan dan mengerjakan soal-soal yang tidak masuk akal dan tidak ada ujung pangkalnya ini. Masalah percintrongan juga semakin kental dan membubung tinggi (harapannya), tapi ketemu dengan batu karang yang terjal (kata Rolling Stones “caught between a rock and a hard place”). Untunglah, di pertengahan tahun pertama saya kelas 1 SMA sayapun bergabung dengan perguruan bela diri yang membuat saya diajari bagaimana melakukan konsentrasi (dengan yoga), bagaimana mempunyai endurance (dengan berlari keliling kota di setiap hari Minggu), dan bagaimana bisa mencapai tujuan (disebut dengan “pembinaan”). Bersepeda melalui jalan kampung yang masih becek sambil menenteng bambu wulung sepanjang 4 meter dan melalui gang-gang kecil menuju tempat latihan di SMA 3 juga bisa menghilangkan stress saya. Minimal bisa menyebabkan pikiran saya tercurah (occupied) oleh kegiatan yang positif. Bila setelah latihan sampai rumah kecapekan, saya bisa tidur nyenyak dengan mudahnya…

Semasa di bangku kuliah, stress juga karena masalah-masalah kecil seperti adanya sedikit perasaan cintrong (untung cuman sedikit, soalnya dihapus oleh hujannya kota Bogor yang gede..), tekanan perkuliahan, dan sebagainya. Seperti waktu SMA, sayapun mengelilingi Bogor di daerah sepi dan di daerah tempat tinggal orang kurang beruntung seperti di belakang Bogor Baru (tapi di tahun 2009 sekarang, daerah itu sudah berubah dari daerah kumuh menjadi perumahan-perumahan mewah). Banyaknya kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti seperti Seni Rupa, Majalah, Senat, dan sebagainya juga menyebabkan pikiran saya tercurah ke banyak jurusan (walaupun akhirnya IPK menjadi kempes seperti tempe..)..

Mungkin mulai kelas 1 SMA, waktu Ibu tercinta membelikan saya sebuah tape recorder, saya biasa mendengarkan lagu-lagu yang saya sukai untuk menghilangkan stress. Jika lagu-lagu rock membuat kita bahagia (Uriah Heep, Black Sabbath, Deep Purple, Led Zeppelin, Ten Years After, Nazareth), tapi lagu-lagu slow yang membuat kita tenang pikirannya (Bread, Carpenters, Bimbo waktu lagu-lagunya masih ditulis kebanyakan oleh Iwan Abdurachman). Mendengarkan lagu “Close to You”nya Carpenters dengan vokal Karen Carpenters yang merdu tiada tara, membuat saya terhipnotis dan tenang tidak memikirkan apa-apa lagi…

Sekolah di Amerika, stress semakin menjadi-jadi karena multi sebab. Pisah dengan keluarga, uang kiriman beasiswa dari Indonesia yang tersendat-sendat, tuntutan mata kuliah baru-baru (Computer Structures, Programming Language, Data Structures) dan keharusan mendapat nilai minimal B, membuat saya stress luar biasa. Jika saya tidak terjauhkan dari keluarga, jika saja arus kiriman beasiswa lancar car car, jika saja semua orang bisa membantu saya memahami mata pelajaran yang baru-baru itu, tentunya stress tidak ada atau cenderung nihil. Tapi ini ? Untungnya seperti saat SMA, sayapun lari ke lagu. Mendengarkan “Superman” dinyanyikan Barbra Streisand yang vokalnya sangat aduhai itu, saya bisa merasakan bahwa sayalah Superman itu, yang bisa melakukan apa saja yang saya inginkan karena saya bisa terbang ! Mendengarkan “Bridge over Troubled Water” dari Simon & Garfunkel juga menghipnotis saya bahwa semua kesulitan alias “trouble” itu bisa diselesaikan bila anda mempunyai jembatan alias “bridge” nya. Ditambah dengan prinsip komik Garth, jika kesulitan, panggil Astra !!! Maka untungnya, saya bisa keluar dari kampus Bloomington itu hidup-hidup. Yeah !! I am still alive !!!!

Kuliah di Singapore pun, walaupun semua dibayari oleh pemerintah Singapore dari uang kuliah, menginap di hotel, uang saku bulanan yang lebih dari cukup untuk uang transportasi dan jajan, tidak urung membuat saya stress. Perlakuan pemerintah Singapore sudah sangat excellent dan mereka menyediakan semacam liason officer baik di kampus maupun di gedung MFA (Ministry of Foreign Affair) di Gedung City Hall, membuat saya tenang belajar. Namun yang saya tidak mengerti dengan orang-orang Singapore ini adalah keteraturan hidupnya yang sudah sangat teratur dan perasaan workaholic nya yang menggebu-gebu. Jika kampus di Amerika buka 24 jam sehingga kita bisa bekerja sampai jam 3 pagi menulis program komputer di komputer kampus, maka kampus Singapore tutup jam 21.30 dan baru buka jam 07.30. Kerja di kampus malam hari hampir tidak mungkin. Selain itu, jika sekolah di Amerika tanggal 14 Desember adalah hari terakhir perkuliahan di Fall semester dan setelah itu libur panjang selama 1 bulan, maka kuliah di Singapore seolah tidak ada liburnya kecuali hari kalender merah. Bayangkan di Singapore si professor masih minta demo program pada tanggal 24 Desember jam 4 sore ? Excuse me, Prof, bukankah besok itu orang sudah merayakan Christmas ? Walaupun saya tidak merayakannya, tapi saya berhak libur dan keliling-keliling kota dong ?

Untunglah semua penduduk Singapore menyenangi lagu-lagu Simply Red (mas Resi Bismo juga). Dengarkan lagu “You make me feel brand new” atau “If you don’t know me by now” atau “Say you love me”…maka kalau anda benar menyukainya, anda akan merasa sangat lega dan terhipnotis sehingga merasa tenang serta tidak ada lagi perasaan stress, sutris, atau sebangsanya itu…

Nasi pecel masih enak, cewek-cewek masih manis-manis wajahnya, maka usahakan sepanjang mungkin hidup anda, sampai pada suatu saat anda harus menghadapNya..secara alami dan sudah sesuai dengan ketentuanNya..

22 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Mar 08, 2009 @ 15:31:52

    Secara sederhana cara hilangkan stress ala pak Tri, berdasarkan bacaan diatas : denger lagu, harus ada kegiatan, keliling kota, bergaul ama teman dan cewek, hehehe….

    Saya hampir stress begitu kena pukul KO phk. Tapi setelah membaca beberapa kisah orang sukses, -bacanya sebelum di phk-, semangat dan motivasi untuk memberikan yang terbaik buat dua putriku akhirnya sutris lenyap pergi ke teluk Jakarta bersama banjir kiriman dari Bogor. Mengutip kata pak Totok, saya harus sumeleh dan legowo menerima setiap keadaan. Sekarang lakukan apa yang bisa dikerjakan. Enjoy aja lagi, gitu aja gak repot….

    Uda Alris,
    Emang untuk yang habis PHK, sulit untuk bisa menerima. Tapi saya yakin untuk Uda Alris hanya sutris selama 1-2 hari saja. Karena banyak temen, yang penting bisa terus berkarya dan bergerak terus, banyak kegiatan. Lama-lama pekerjaan akan datang dengan sendirinya kok, mungkin di bidang lain. Itu yang harus diexplore. Sementara ini memang benar, yang penting enjoy aja….gitu aja kok repot …hehehe… 😉

    Reply

  2. vertsignalfire
    Mar 08, 2009 @ 18:47:06

    Wah, tul bangedh thu pak, disini level sutris nya termasuk tinggi yah. T.T Sjak saya disini, bisa diitung kira2 saya ga berantem sama orang cuma 2 hari dalam seminggu, yakni yah hari Sabtu dan Minggu.

    Stiap hari ada ajah orang yg ngajakin ribut, tapi untungnya sih dengan begini sikap defensif saya bisa terlatih dan jadi lebih skillful klo ngadepin orang2 sutris ituh. ^^v

    Vert,
    Yah..harus dicatat tuh yang ngajakin berantem tuh kebanyakan cewek atau cowok. Terus karena sebab apa, masalah pekerjaan atau di luar pekerjaan. Terus yang ngajakin berantem tuh sesama teman kerja atau orang-orang di jalanan…

    Menurut analisis saya, orang situ sukanya main saham. Saya dulu punya teman sekelas yang setiap istirahat kuliah, selalu ke information kiosk dan mencari tahu sahamnya naik atau turun. Bayangkan, ini setiap 1 atau 2 jam sekali. Bisa dibayangkan nggak, kalau saham dia turun ? Hubungannya dengan isterinya juga rada tegang…

    Kalau hidup di kota itu, sebaiknya anda harus pinter-pinter cari hiburan. Kalau saya dulu malam-malam suka ndengerin radio yang siarannya bagus-bagus dan sangat menenteramkan. Yang penting unek-unek harus dikeluarkan, bisa lewat blog, bisa dengan menulis puisi, atau mengarang lagu, atau melukis..

    Saya dulu kalau tingkat stress saya sudah tinggi, diri saya “saya copy” dan saya seolah menjadi orang lain dan mulai mengasihani “Kasihan ya, Tri Djoko itu stress sekali karena kebanyakan programming assignment dan tidak selesai-selesai”. Jadi saya menjadi “orang lain” dan karena itu “bebas stress”. Yang stress adalah “Tri Djoko” dan “saya” “tidak stress kok”…

    Mungkin karena itu, saya keluar dari kampus Bloomington hidup-hidup, well and alive….;-)

    Reply

  3. rumahagung
    Mar 08, 2009 @ 23:29:31

    smoga wkt ngajar saya,n tmn2 (PAW),
    kita2 ga bikin Bapak stress yah Pak..
    hahahahaha..!!

    yah,saya jg sering stress.
    malah gampang stress.
    tp jg gampang “menghilangkan”nya.
    hahahahaha..!!
    jd happy go lucky aj lah….
    hahahahaha..!!

    Agung,
    Wah..sebenarnya saya komplain berat ngajar kelas anda (dan kelas ganda pada umumnya). Lebih enak ngajar kelas Teknik Informatika murni seperti kelasnya Friska (AI), atau kelasnya Angelina (IMK), karena begitu saya masuk kelas…semua mahasiswa diam tidak ada yang bersuara, semuanya mendengarkan. Maklum, kelas ini IPK minimalnya 3.11 !

    Di kelas ganda pada umumnya, semua mahasiswanya akrab satu sama lain mungkin karena senasib dan sepenanggungan, jadi jika ada dosen masuk…dianggap tidak ada ! Saran saya sih gampang, sering-seringlah berkunjung bersama-sama ke kedai kopi, warung makan, game, dsb, tapi begitu masuk kelas, cobalah melihat apa yang akan disampaikan dosen di kelas, bukan melihat siapa dosennya (it is the song, not the singer)..

    Tanpa itu, saya khawatir output dari jurusan ganda nanti yang benar-benar pinter cuman 1-2 orang saja, sedangkan semuanya akan “di bawah par” (sebenarnya bisa mencapai nilai 9 atau 10 di hidup dan kehidupan ini, tapi mencapainya hanya 7 atau 8, kan sayang)…

    Tapi sebenarnya dosen nggak boleh stress, kan dibayar. Mungkin yang membikin dosen stress adalah mike macet, komputer macet, infocus warna tidak jelas atau tidak fokus, dsb.. Tapi karena dosen dibayar, ya dia tidak stress dan tidak boleh stress..

    Reply

  4. rumahagung
    Mar 09, 2009 @ 09:55:29

    iyah Pak.
    saya juga ngrasa gitu.
    atas nama pribadi dan kelas saya,saya minta maaf yg sebesar2nya Pak.
    terus terang saya menaruh hormat yg sangat tinggi terhadap Bapak.
    cuma anak kelas saya emank gt,mentang2 dosennya baik aj,semena2.
    klo dosennya killer,disumpah2in.
    hahahahahha..!!
    sekali lg minta maaf yah Pak.
    hehehehe..!!

    nah,itu Pak.
    makanya saya mao jd dosen.
    kykny kerjanya enjoy.
    hahahaha..!!

    Agung,
    Hehe…ada kakak kelas yang menyebut kelas seperti ini (biasanya di jurusan ganda) sebagai “kelas autis”, soalnya kebanyakan mahasiswa hanya asyik dengan dirinya sendiri…yang benar-benar datang kuliah dan mendengarkan dosen dengan baik hanya 1-2 orang saja (maks 4 orang di satu kelas). Tapi tidak semuanya, kelas2 kecil TI-STAT yang saya ajar mereka saya beri tantangan untuk presentasi dan dapat melakukan presentasi dengan sangat baik, beberapa di antaranya cocok jadi dosen saking jelasnya penjelasannya…(lho ?)….hahaha…

    Reply

  5. adhiguna
    Mar 09, 2009 @ 16:03:48

    Saya punya teman yang temannya sekolah di Kellog Business School. Tapi dia selalu merasa bodoh dan stress terus tiap saat. ..kecenderungan suicidal juga.

    Saya merasa kasihan dengan orang-orang seperti itu yang hidupnya seperti dikejar-kejar setan tiap saat.

    Saya sendiri punya kepribadian tipe A. Selalu kompetitif dan ingin menang, tapi sedikit-sedikit saya hilangkan kebiasaan itu..

    Lebih baik menanamkan mentality nothing to lose. Berusaha sebaik-baiknya tapi santai menghadapi yang terburuk…

    Mas Adhiguna,
    Iya mas…bener tuh, masuk ke universitas beken seperti Kellog Business School di Northwestern University itu sebenarnya idaman setiap orang yang lulus S1, baik di Indonesia maupun di Amerika. Bahkan lulusan S1 Indonesia kalau bisa masuk ke Kellog berarti dianya hebat banget, karena Kellog itu 3 besar Business School di Amerika setelah Harvard Business School dan Wharton Business School (University of Pennsylvania)..

    Tapi begitu sudah “masuk di dalamnya”, kalau menurut istilah saya “rasanya seperti mati berdiri” alias masih mending mati bisa duduk atau terbaring…hahaha… Karena sangat kompetitif, juga menyebabkan mahasiswa yang ada di sana bisa terserang stress, tidak peduli mahasiswa Amerika atau mahasiswa asing…

    Nah, kalau teman Mas Adhiguna itu orang Indonesia dan terserang stress karena masuk Kellog, menurut saya pendidikan di Indonesia kurang mengajarkan cara menulis yang baik, dan cara berbicara yang baik. Singkat kata, mahasiswa Indonesia kurang “artikulatif” padahal artikulasi itu hal yang sangat penting untuk bisa “survive” di sekolah-sekolah yang sulit itu. Saya sering dapat kritik dari professor yang baik hati “You are afraid to say something interesting”…dan yang paling mengejutkan saya dia beri komentar begini …”You are not a shiny intelect”…. Waduh, gimana nggak stress dibilangin begitu…

    Rata-rata orang Indonesia sekolah di sekolah-sekolah bagus seperti itu nilainya paling B, paling banter B+, karena kalau disuruh menulis term paper, kata-katanya sangat standard dan jarang sekali memunculkan sesuatu yang sangat menarik…

    Makanya tahu begitu, saya dulu ngambil S2 dan S3 bukan di Computer Science, atau yang penting dapet Ph.D entah dari universitas manapun di AS….(tapi sayangnya, jauh di dalam hati saya belum mau begitu, penginnya ya lulusan dari universitas terbaik)…

    Reply

  6. totok
    Mar 09, 2009 @ 20:00:47

    BAGI ORANG STRESS
    Gak usah baca buku macem-macem, pake saja falsafah Jawa, ”SUMELEH” dan menerima kenyataan yang ada.

    Selama nafas ini masih bersahabat dengan kita, masih banyak kemungkinan yang bisa kita raih. Kemungkinan lebih baik, atau justru kemungkinan lebih buruk, bisa saja terjadi. Yang penting siap menghadapi setiap permasalahan yang ada di depan mata.

    Reply

  7. _subhan_
    Mar 09, 2009 @ 21:13:09

    ngampus kadang-kadang2 buat stress jg pak, ap lagi kalau deadline tugas dan mentok tok tok…
    😀
    tp cerita orang sukses + song + kopi membuat sutris lambad laun smakin menurun 😀

    Reply

  8. alris
    Mar 10, 2009 @ 01:16:39

    Wah, pak Tri bisa meng-copy diri. Perlu belajar nih untuk menghilangkan sutris. Ngemeng-ngemeng soal pemain saham gampang stress kalo harga sahamnya jatuh atau terjun bebas bisa dimaklumi. Bayangkan aja punya asset dalam bentuk saham sekian milyar dalam tempo sehari bisa cuma bernilai puluhan juta. Apalagi pedagang saham yang salah kelola bukan stress lagi malah bunuh diri seperti kasus manejer PT. SPS tempo hari.
    Hidup cuma sekali, masa mau dibuat sutris apalagi bunuh diri, rugi tenan. Simbah yang dipaksa bos-nya mompa minyak dari perut bumi gak stress, iya kan pak Pur, hehehe…

    Reply

  9. adhiguna
    Mar 10, 2009 @ 17:04:35

    Orang-orang Jepang itu memiliki kecenderungan suicidal yang tinggi.

    Orang Indonesia sih sebenernya nggak memiliki kecenderungan itu…

    Kayak B**** dan pejabat terkait, kesalahan kebijakan mereka menyebabkan kesengsaraan ratusan ribu orang, tapi tetap mereka bisa tidur nyenyak dan nggak stres…

    Mas Adhiguna,
    Orang Jepang mempunyai kecenderungan suicidal karena mereka itu urat malunya tinggi sekali. Makanya di jaman Perang Dunia II dulu para perwira dan serdadu tentara Jepang daripada kalah dan dibunuh atau ditawan musuh lebih baik harakiri secara bersama-sama..Di jaman kinipun, kalau mereka malu, mereka lebih baik harakiri…

    Di Indonesia lain lagi ceritanya mas, salah nggak salah, ya tenang-tenang aja wae. Makanya perlu dipertanyakan apakah orang Indonesia rasa malunya masih tebal atau tidak…;-)

    Reply

  10. adhiguna
    Mar 11, 2009 @ 16:42:34

    Well nggak tau dulu, tapi sekarang Univ Indiana Bloomington adalah salah satu universitas top di US baik untuk CS maupun MBA pak ..

    Susah sekali sekarang masuk sana.

    Kalau boleh ngulang waktu pak, saya mending dulu nggak jadi engineer, mending kuliah ekonomi, law atau finance sampai MBA/JD terus jadi ekonom/analyst/corporate lawyer, nggak jadi orang suruhan terus.

    Engineer itu meskipun PhD tetep aja tukang hehe..

    Btw saya jadi inget komik Dilbert, lulusan MBA Stanford dengan mudah menyuruh engineer lulusan MIT untuk menjilati mobil mereka sampai bersih hehe…

    Mas Adhiguna,
    Wah..jangan sampai ngambil Law dan jadi Lawyer apalagi di Amerika mas…karena semua orang menertawakan kita sebagai orang yang greedy dan banyak dosa (coba lihat filmnya Jim Carey “Liar Liar” dan cari di You Tube Rowan Atkinson “The Man from Hell”)..

    Kalau masalah joke antar universitas seperti antara Stanford-MIT, itu jumlahnya ribuan di AS mas. Anak saya yang sekolah di Fak Hukum Undip sempat terheran-heran ada lulusan ITB masuk perush minyak gajinya puluhan juta. Tapi anak2 FH Undip juga bercanda, “tapi mereka itu semua nanti suruhan kita…”…hahaha…

    Ranking Indiana – Bloomington adalah “The third best MBA program in state universities”, jika univ swasta ikut masuk (Harvard, Stanford, Pennsylvania, Northwesten, Michigan, dsb) maka ranking MBA nya sekitar 12-13..

    CS Indiana Bloomington saya kira masih sekitar 35-37 (dari 450 univ di AS), kalau univ swasta dihilangkan, mungkin the best ten lah…

    Reply

  11. selvy
    Mar 11, 2009 @ 17:26:20

    Pak Tri, ada satu link mungkin bapak tertarik tuk berkunjung http://manusialempung.blogspot.com .Ini blog temannya David Widjaja yg “katanya” bunuh diri itu. Banyak spekulasi ternyata.

    Selvy,
    Saya setiap hari di Jakarta baca 4-6 koran lho (di Singapore selalu baca The Straits Times dan Business Week, majalahnya The Star, She, dan Girl (kalau nggak salah)…hehe..suka ngintip foto cewek Singapore yang manis-manis, soalnya saya dulu mahasiswa di IPB se asrama cowok semua langganan majalah Gadis..hehehe..)..

    Dan blog temannya David yang alamatnya manusialempung itu sudah pernah dibahas tuntas di koran-koran Indonesia. Menurut saya, kalau saya jadi orangtua David, relakan saja kepergian David. Itu sudah destiny dia berakhir seperti itu. Daripada tidak rela nanti jalannya dia “ke sana” tidak lancar. Memang mahasiswa2 pinter di Amerika pun suka dihinggapi perilaku yang macem2. Kalau orang biasa, justru biasa-biasa saja…

    Reply

  12. edratna
    Mar 11, 2009 @ 18:45:32

    Memang enak kok hidup sederhana, yang penting ga punya hutang, ataupun jika punya hanya maks angsuran 30% dari pendapatan bulanan.

    Yang stres biasanya orang2 yang selalu dapat ranking dan uangnya banyak, dan setiap hari bingung mau mengatur investasi uangnya mau ditaruh dimana.

    Bu Edratna,
    Lha..naruh uang aja kok bingung. Lha mbok ditaruh di saya aja. Ntar saya eremi, biar netes…hehehe…

    Reply

  13. simbah
    Mar 11, 2009 @ 20:18:13

    Stress,….biasane nggowo kurban, antarane pisik. Wajah katon tuwo, ngluwihi umur sabenere. Bisa uga awak dadi ketaman lara utawa penyakit. Awit seka olehe nyonggo beban mau. Sing spesifik ngenani rambut sing wis ora gelem lungguh neng sirah, awit sirahe panas kumebul saka daya pikirane mubeng terus…
    Lah piyantun sing bisa ngawekani kabeh mau lan pinter angon setres ya badan wadage, biasa-biasa wae….priye dik Yon…?

    Simbah,
    Katone bener. Stress menyebabkan penurunan fisik lan mendatangkan penyakit, terutama penyakit yang ada hubungannya dengan stress (katanya) seperti : lever, paru-paru, maag, darah tinggi, stroke, gula, dsb…

    Tapi nek wong stress terus rambute gundul-gundul pacul, katone yo ora bener mas….hehehe…

    Sing bener meneh, wong sing ora stress (utowo biso mengelola stress) biasane fisike bagus dan tidak kena penyakit yang serius….paling sedikit pusing-pusing, terutama semasa tanggal tua…hahahaha….

    Reply

  14. TOTOK
    Mar 12, 2009 @ 19:45:22

    Iki cak Tri mungkin Stress mbah, suwi ora ngenet. Jangan-jangan spidine diputus mergo durung dibayar he….he….he

    Lho kok ngerti yen Speedy nang ngomah durung tak bayar ?
    Pancen durung tak bayar soale sambung-putus terus Speedy ne dadi males banget mbayar meh 500 ewu per bulan…

    Reply

  15. TOTOK
    Mar 12, 2009 @ 20:25:16

    SIMBAH :
    Mbah nek nang mbediyun kontak aku yoo nang 0852 333 400 57.

    Reply

  16. simbah
    Mar 14, 2009 @ 14:46:42

    Iyo bener dik Yon,….Totok wis tak cathet nomer tilpunmu mengko yen aku wis mendarat tak tilpun sampeyan….

    Reply

  17. simbah
    Mar 14, 2009 @ 14:54:59

    Pringisi dik Yon…
    Totok, aku dikandani anakku, menowo neng omah diwenehi selebaran SMART_COM. Yokuwi jasa internet sing beaya pasang 350 ewu nggo masang receiver, trus langganane mbayar 50 ewu sepuasnya kanggo sesasi. Menurutmu priye…?
    Lah tagihanku sepidi saiki 200 ewu perwulan, masa promosine wis entek. Biyasane mung 110 ewu. Aku sik mikir-mikir opo sepidiku tak cabut trus ganti lengganan karo sampeyan..?
    Lah nek dik Yon, tagihane 500 ewu yo gak po-po deweke rak kanggo mulang….aku kanggo dolanan je…nek wis jeleh dolanan karo bojoku…he…he…?

    Simbah,
    Iyo aku ngroso rodo rugi langganan Speedy 500 ewu sak wulan ning sering mati, byar pet, lan kudu di-start meneh kanthi nelpon pakai hp neng telpon omah,..

    Saya penginnya ngganti dengan internet mobile seperti Telkomnet Flash, Indosat IM2 atau semacamnya itu…yang kabarnya sebulan cuman Rp 100 ribuan…

    Reply

  18. rumahagung
    Mar 15, 2009 @ 10:15:36

    iyah,Pak.
    bnr…
    autissss…..
    hahahahha..!!
    saya dolo ga autis,jd ketularan nih.
    ampi 4thn saya bersama2 kls autis ini.
    hehehehehhe..!!

    nanya donk Pak,
    tp jawab jujur yah…
    klo saya di kls,menurut penglihatan Bapak sebagai dosen,
    apa saya ckp memperhatikan Bapak??

    Agung,
    Jujur ya…yang mendengarkan saya ngajar full di kelas anda paling cuman 5-10 orang. Denger full dari awal sampai akhir, tidak termasuk anda yang biasanya suka diskusi macam2 selain soal yang diajarkan di kelas..

    Sebenarnya saran saya sih simple aja, yaitu bangun kehidupan akrab di luar kelas misalnya ke mal, ke kafe, ke luar kota retreat, dan sebagainya, tapi begitu di dalam kelas, adalah waktu untuk mendengarkan dosen.

    Tapi kayaknya ini permintaan yang sangat sulit sih…

    Reply

  19. totok
    Mar 15, 2009 @ 22:16:02

    SIMBAH :
    Bener Mbah, ganti internetku wae, sebulan cumak 75 ewu tapi speednet-e tenanan, ora ethok-ethokan.

    Bayar pertama yo sekitar sak mono, iku cumak digawe tuku antene standart. Nek pengin penerimaane bagus, ditukokke antene sing rodo apik.

    Promosiku, bandwidth sampek mediun numpak fiber optik. Aman, nek pas udan ora mbleret koyok nek nggawe V-sat. Baru kemudian nang nggone sampean tak maburno lewat Frekuensi 2,4 Ghz.

    Engko nek sampean wis mendarat, tak pameri kecepatane nang kantorku.

    Reply

  20. totok
    Mar 15, 2009 @ 22:21:17

    CAK TRI
    Lha sampean lak kenal karo wong Indosat, nempil sitik gae nang omah sampean lak lumayan. Lha nek kakehan mbayare, isok didum nang tonggo teparo.

    Aku lagi masangno nang Pusdik perhutani, nagnggo cumak 128 CIR 1 : 2 luamayan bantere, apdahal di-share pirang-pirang kpmputer lan pirang-pirang rumah dinas. (he…he…aku saiki ngerti CIR barang, tapi ojo ditakoni singkatane, aku lali).

    Ojok nggawe sing ”PUTUS NYAMBUNG PUTUS NYAMBUNG” payah…… konco-konco sampean sing nunggu kabare ndiko nang blog, podo kangen pirang-pirang dino ora muncul

    Cak-e Totok-e,
    Neng lingkungan omahku yo wis onok sing jenenge RT-RW-Net sing nganggo antene tinggi koyok neng nggonmu. Iyo iki aku isih kesel karo sing putus-sambung-putus-sambung-terus (emangnya cintrong..kali yee..) tapi mbayari 500 ewu. Aku arep pindah sing wireless ae mbayare mung 100 ewu sak wulan…

    Wah…nek kon wis nyandu karo blog iki, yo wis gawat kuwi jenenge. Soale sing duwe blog durung dilengkapi laptop + wireless internet, dadi nek lungo nek luar kota njur pembaca blog-e kapiran orak entuk tulisan-tulisan sing anyar…

    Dongakno wae rejekiku kempliiiing…taun iki, ben aku isok tuku laptop lan wireless internet nganggo USB. Yo biayane sekitar 8.5 yuto wae wis cukup….

    Reply

  21. totok
    Mar 16, 2009 @ 20:15:06

    Lha wong sampean kan nulis soal jagoan utang nang koperasi. Utange diakehi wae digae tuku laptop, terus gae tuku beras dikurangi, ben sampean ora lemu-lemu.

    Mumpung isok utang cak, bisa dimanfaatkan he….he…. Engko nek wis koyo aku, ora isok utang, lagi kroso, ngertiyo biyen numpuk utang, ben saiki isih isok ngrasakke, yooopo rasane diutangi..

    Eitt…… aku yo duwe utang ternyata. Motor kan sabens asi kudu dibayar, ben ora dijukuk sing duwe he….he

    Reply

  22. rumahagung
    Mar 18, 2009 @ 13:48:01

    hehehehhee…!!
    sekali lg minta maaf Pak,
    semoga blm terlambat maafnya.
    hehehehehe..!!

    saya emank sulit fokus ke satu hal lebih dari 30mnt.
    biasanya saya perlu “refreshing” bntr,
    br bs fokus lg.
    hehehehehehe..!!

    soal bersosialisasi sih emank kurang sih Pak.
    soalny byk “genk2” gt.
    susah deh mao jln2 bareng ato nongkrong bareng.
    ini mao ke bali aj ampir ga jd.
    jdny malah “genk” saya aj yg pergi.
    aduh2…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: