Ketemu kanca, di Surabaya

Selama tiga hari dua malam minggu kemarin ini saya dan dua orang teman sekantor dapat tugas meneliti transportasi di Surabaya. Kebetulan jadwal mengajar lagi off class, jadi tawaran pergi ke Surabaya segera saya sambar..

Dan pagi itu setelah mengantar anak saya di bilangan Gambir, mobil Camry-un langsung saya inepkan parkirnya di Gambir yang kabarnya ongkos parkirnya cukup murah, yaitu Rp 36 ribu per bulan, jadi hampir sebanding dengan ongkos taksi dari rumah pulang-pergi, bahkan sedikit lebih murah..

Dari Gambir, saya pun berbajaj ria ke kantor. Di kantor, seperti biasa, ada rapat sampai jam 12.30. Setelah saya makan siang dengan nasi padang yang “salah lauk” (ayam bakar keliru diberi ayam goreng yang tasteless), kami bertigapun mulai mengambil taksi Express untuk menuju bandara. Rupanya sopirnya orang Tegal lucu sekali, jadi sepanjang perjalanan menuju bandara kami bertiga ketawa terus. Misalnya sahut-menyahut “puisi” ala bahasa Tegalan-Cirebonan-Indramayuan “Mangane beling berake botol,……….” dst dst…

Singkat kata, di udara dengan pesawat Garuda yang terbang di ketinggian 33,000 kaki di atas permukaan laut, kami ketemu gumpalan-gumpalan awan hitam yang sebentar lagi bakal segera jadi hujan.

Kamipun mendarat di Bandara Juanda Surabaya yang konon milik Angkatan Laut itu, sehingga rasanya sedikit lebih aman daripada berada di banda Soekarno-Hatta. Kamipun naik taksi ke hotel yang sekali jalan bertarip Rp 90 ribu itu..

Setelah masuk hotel langganan kami, kamipun sempat mandi dan setelah sembahyang maghrib kamipun segera mencari makan di luar. Mendungpun semakin hitam, dan diantar taksi hotel kamipun sudah tiba di sebuah warung tenda di Kedung Doro. Sebelum ikan baronang yang kami pesan matang, hujanpun turun bak ditumpahkan dari langit. Arang si tukang warungpun basah, dan akhirnya ikan digoreng, tidak jadi dibakar.

Sayapun menghibur dua teman lain yang tidak menikmati makan malam di tengah hujan sangat deras itu “Hey..hey..saya ini blogger, kalau perjalanan kita biasa-biasa aja, apa yang bisa saya tulis ? Kalau hujan deras sampai kita duduk sambil menyingsingkan pipa celana seperti ini, justru bagus buat ditulis di blog saya”, kata saya amat sangat kalem di tengah “thunderstorm” dengan hujan lebat plus halilintar yang menggelegar setiap 2 menit..

Mencegat taksipun, kami minta tolong si penjaga warung tenda. Celakanya, saya satu-satunya yang memakai sepatu di malam yang super basah itu. Setelah dua teman berlari masuk taksi dipayungi si mas penjaga warung tenda, sayapun bertelanjang kaki menuju taksi karena sepatu sudah saya bungkus pakai tas kresek hitam. Taksipun merambat pelan kembali menuju hotel kami, dan dimana-mana terlihat banjir sudah menggenangi jalanan, dengan kedalaman rata-rata setengah ban mobil kijang…

Jika malam sebelumnya kami bertiga kurang tidur di rumah masing-masing karena nonton Real Madrid dibantai Liverpool, maka malam ini setelah kehujanan kamipun tidak bisa tidur karena nunggu pertandingan seru MU-Inter di Star Sport..

Paginya dengan langkah gontai dan mata sembab kami bertiga menuju kantor pemerintah yang kami tuju di bilangan Ketintang. Di tengah perjalanan sebuah sms masuk, rupanya dari teman Facebook yang dulu se angkatan dengan saya di IPB, angkatan 76 “Mas Tri, saya Dwi. Saya dapet nomor hp anda dari Waluyo. Kalau ada waktu, kita bisa ketemu”. Sms saya lihat sebentar, dan segera saya lupakan, karena tugas kantor belum selesai. Di dalam kantor yang kami kunjungi, ketika kami sedang ramai berdiskusi, sebuah telpon masuk “Sebentar nanti saya hubungi, saya lagi rapat nih”. Pasti dari mas Dwi..

Lepas dari kantor ini kami diantar taksi hotel (yang berupa Toyota Kijang Diesel) berkeliling Surabaya melihat transportasi kota yang ada. Sayangnya, untuk kota sebesar Surabaya ini belum ada BRT (Bus Rapid Transit) dan yang ada cuman angkot kecil bermerk Suzuki atau Daihatsu seperti di pinggiran kota Jakarta. Perjalanan kami meninjau sistem transportasi perkotaan berakhir di Jembatan Suramadu dari kata “Surabaya-Madura”. Jembatan sepanjang 7 kilometer koma sekian itu rupanya nyaris jadi, alias kurang 35 meter lagi dan konon akan diresmikan setelah Pemilu Legislatif, sebelum Pemilu Presiden..

Pulang dari Suramadu, kami bertigapun minta diantar ke Genteng Kali buat cari oleh-oleh. Bila Desember kemarin kami masuk toko “Bhek”, kali ini kami masuk toko “Bhek Putra” yang konon anaknya Pak Bhek. Untuk makan siang kamipun menyantap bebek goreng persis di sebuah angkringan di depan Pasar Genteng. Rasanya ? Setahu saya tidak ada bebek goreng di Jakarta yang seempuk, se-spicy, dan serenyah ini. Dua nasi bebek dengan 3 teh botol hanya membayar Rp 32 ribu..

Dengan masing-masing menjinjing oleh-oleh khas Surabaya dari toko “Bhek Putra”, pekerjaan kita siang itu sudah selesai..

Sampai hotel, saya sms mas Dwi “Hello sam Iwd, saya sudah selesai nih kerjanya, boleh dong saya dijemput di hotel”. Mas Dwipun nggak sampai semenit nelpon “Ok, tunggu di hotel ya”. Dua puluh menit kemudian Mas Dwi datang di hotel dan menunggu di lounge,  sayapun turun, salaman dan hampir bersamaan bilang “Wah, situ kelihatan masih muda seperti dulu ya”….hehehe….kayak di Extravaganza saja..

Setelah ngobrol ngalor ngidul selama 10 menit, sayapun diajak berkijang diesel ria keliling Surabaya dan berakhir di situs Lumpur Lapindo. Saya begitu tercekat melihat bencana nasional, mungkin bencana dunia, di Lapindo ini. Tanggul lumpur sudah setinggi 15 meter, dan ada 10 kilometer berbentuk cincin mengelilingi ledakan lumpur ini. Jika keliling lingkaran mempunyai rumus 2*Phi*r maka r sekitar 1,5 km dan diameter lingkaran berjarak 3 km…Luar biasa besar !!

Pulang dari Porong, kamipun mampir ke sebuah restoran yang sudah pernah saya coba di bulan Desember waktu mengunjungi Surabaya dengan 6 teman lainnya dulu, walaupun namanya saja yang sama tapi  lokasinya berbeda. Sambil menikmati bandeng goreng tak bertulang, kamipun ngobrol ngalor ngidul, full ketawa-ketiwi….

Setelah tanya keluarga masing-masing, Mas Dwi pun mengantar saya pulang ke hotel menjelang sore hari..

Ini semua gara-gara status saya di Facebook saya isi “Tri Djoko on the way to Surabaya” dan Mas Dwi yang juga ikut Facebook sempat melihatnya dan menanya semua teman apa tahu nomor HP saya…

Sebelumnya, Mas Dwi saya ajak nonton Java Jazz di Jakarta untuk melihat aksi Jazon Mraz tapi rencana itu batal karena “tidak feasible”. Sejak sekolah di IPB dulu kami berdua pecinta jazz, cuman bedanya saya lebih ke Al Jereau, Michael Frank, dan Heatwave tapi Mas Dwi lebih ke Le Retenour…

Wah, gara-gara Facebook, bisa bertemu teman se angkatan di IPB yang sudah tidak ketemu selama 29 tahun sejak kami berdua lulus diwisuda di Gedung Olahraga Darmaga, tepat bulan Maret 1980 dulu..

Terima kasih Mas Dwi, saya sudah ditemeni keliling-keliling Surabaya. Dan bandeng goreng tanpa duri di Primarasa itu, bener-bener Prima rasanya, apalagi ditemani dengan Es Kopyor Gembira…soalnya sirupnya berwarna merah..hahaha….

4 Comments (+add yours?)

  1. rumahagung
    Mar 15, 2009 @ 10:12:48

    Pak,di salah satu resto di pluit ada yg menyediakan bebek.
    tp dimasak ala chinesse.
    hehehehehe..!!
    wah,empuk,crispy,dan mantab lah.
    cuma mahal Pak.
    ehhehehehehe..1!

    Reply

  2. totok
    Mar 15, 2009 @ 22:33:28

    Memang asyik ketemu teman lama, bisa ketawa-ketiwi, bisa cerita ngalor ngidul.

    Nah nek moco tulisan sampean, mengko nek sampean tekan mbediyun tenan, trus tak pusing-pusing-kan pake apa ya. Pake diesel ya nggak ada, onoke sepeda motor bebek kawasaki hasil kreditan sing durung lunas. Aku kawatir nek pusing-pusing pake itu sampen mulih terus masuk angin, gak onok sing ngeroki he….he.

    Tapi nek cumak nasi bebek, wah, nang mbediyun akeh cak. Regone yo meh podo karo sing sampean critakke, dadi mungkin aku yo isih isok nraktir. Tapi luwih asyik maneh nek sampean sing nraktir.

    Dadi engko pas mbayari, ethok-ethoke aku ngetokke dompet (gawe jaim-jaiman wae) tapi terus sampean sing ndisiki. Yo iku jan-jane sing tak karepke,…he…he…he. Ngrasakno duite dosen iku koyok opo rasane. Rasane yo tetep bebek…..

    Cak-e Totok,
    Wah…nek masalah transportasi nek pas aku neng mBediyun, ojok didadekno masalah. Aku wong-e gampangan, yen onok mersi…yo iso.., yen onone ming speda motor…yo oke, yen onone sepeda onthel…yo monggo (Simbah dek ketemu aku neng Hotel Merdeka mBediyun ndisik, dekne nganggo sepeda), yen arep numpak becak…yok ayo ongkos becake ditanggung cah loro, lha yen arep mlaku…yo kebangeten, mosok konco wis 36 taun ora nate ketemu mboso ketemu kok dikongkon mlaku….

    Masalah traktir-mentraktir, ojok didadekno bajul. Yen aku duwe rejeki, yo mengko tak bayari neng restoran sing paling uenaaak sak mBediyun (onok, sing arah neng nDungus sebelah kiri jalan kae lho, aku nate kok nulis posting-e). Yen aku lan awakmu ora nde dit, yo wis nyedit wae karo mangan pecel pojok…

    Aku bar oleh kabar yen client-ku neng mBediyun wis ngundang aku lan arek-arek kantor kanggo berkunjung ke mBediyun maneh. Cumak aku durung oleh kabar kapan neng mBediyun-e. Mungkin sekitar April-Mei paling cepet. Mengko tak cek-e neng koncoku, sopo ngerti onok berita apik, soale wis suwe aku durung mulih neng mBediyun iki, wingi pas neng Suroboyo durung sempat mampir mBediyun…

    Reply

  3. totok
    Mar 16, 2009 @ 20:10:51

    Wah, yo tak tunggu berita baiknya itu. Soale aku kangen banget karo konco-konco lawas, termasuk Simbah sing ternyata pernah satru karo aku.

    Sopo ngerti onok wektu gae nongkrong sinambi menikmati kledek Pesu. Wah, aku lali duwe janji nulis kledek Pesu. Soale aku rodo sibuk, dadi durung sempat klayapan bengi.

    Mugo-mugo pas sampean nang mbediyun, Simbah yo pas ndarat. Sopo ngerti deweke nggowo iwak laut soko Natuna, kan isok digawe ikan bakar he….he

    Reply

  4. simbah
    Mar 30, 2009 @ 00:24:08

    Dik Yon,…kalau mau masuk facebook, apa harus punya akun dulu..? Dan data-data yang diminta apa harus aktual..?
    Kawatir kalau data aktual, nanti membahayakan dikemudian hari …?? Maklum sik ndesit…..

    Mas Didiek,
    Iya mas, untuk masuk Facebook harus punya account Facebook lebih dahulu, lalu Friends bisa ditambah sambil jalan. Banyak orang yang takut bermain di Facebook, tapi menurut saya Facebook cukup aman dibandingkan Friendster yang banyak disalahgunakan. Alasannya, di Facebook semua orang yang kita ADD sebagai FRIENDS adalah ORANG YANG SUDAH KITA KENAL. Kalau kita tidak kenal seseorang, ya jangan di-add. Atau kalau ada orang yang nge-add kita, ya ditolak (di-ignore) saja…

    Terus data yang kita masukkan bisa data real atau data fiktif. Lalu siapa yang boleh melihat data kita juga bisa kita definisikan, mau JUST FRIENDS saja atau ALL PEOPLE.

    Tapi menurut saya sih, kalau kita main di Facebook dan data kita dibuat fiktif, terus mengapa pula kita main di Facebook ?

    FYI, sudah sekitar 10-20 orang teman kita se angkatan di SMA 1 Madiun yang sudah ada di Facebook…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: