Tiga pertanyaan tersulit

Ketika menjalani les Inggris jelang pemberangkatan saya dan teman-teman untuk studi ke Amerika dan Inggris di American Language Training (ALT) Cideng (photo ada di “Gallery”), kami diajari tidak hanya bagaimana seluk beluk menghadapi test TOEFL dan GRE, tapi juga diajari manner dan habit yang ada di Inggris maupun di Amerika..

Kata salah seorang guru bahasa Inggris yang saya lupa apakah Paul Cumming (setahun sebelumnya ia pelatih Sepakbola Manokwari), Steve Kupper-Herr, Beth Kupper-Herr, atau Maria Sit, ada tiga pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan ke orang bule alias orang Inggris atau orang Amerika. Pertama, jangan tanyakan umur ke seorang wanita. Kedua, jangan tanyakan gajinya berapa ke seorang yang sudah bekerja. Dan Ketiga, jangan tanyakan mengapa sampai sekarang belum punya anak kepada sepasang pengantin baru maupun pengantin lama… dan kamipun manggut-manggut dan berniat dalam hati untuk mengikuti nasehat bijak itu…

Satu lagi nasehat mereka, yaitu : setiap orang bule itu mempunyai “buble” alias semacam gelembung yang melengkapi mereka. Pada saat kami diberitahu hal ini, kami nggak bisa membayangkan apa bentuk gelembung itu. Ketika sampai Amerika, ternyata gelembung itu artinya orang Amerika tidak begitu mudah akrab ke orang yang baru dikenalnya, tapi akan akrab sekali bila kita sudah mengenalnya dengan baik dan cukup lama..

Memang setelah beberapa kali ke luar negeri dan mengunjungi beberapa negara, ada beberapa pertanyaan orang asing kepada kita orang Indonesia ini yang sulit dijawab.

Pertama, ketika saya dan teman saya Sudjud Suratri mengunjungi Munchen di Jerman Barat pada waktu itu, Herr Volker Strunk yang suka mengantar kami keliling Munchen bertanya, “Berapa kali gaji bulanan kalian harga sebuah mobil itu ?”. Dan kamipun kelabakan menjawabnya. “Ooh…well….waktu saya masuk BPPT, BPPT masih di bawah oil company yang bernama Pertamina jadi gaji kami standar perusahaan minyak lah, ya mungkin sekitar 2 tahun alias 24 bulan kami harus tabung gaji kami buat beli mobil”. Yah, kami berbohong, tapi maksud berbohong kami baik, dan mudah-mudahan berpahala. Jawaban yang benar mungkin, 10 tahun gaji !!!! Si Jerman pun mengangguk-angguk….

Kedua, ketika saya bersekolah di Amerika, seorang cewek Amerika yang pernah jadi anggota Peace Corps di Afrika dan pernah tinggal di Thailand dan Jepang pada suatu hari bersama dengan seorang tamu dari China bertanya “Tri, mengapa sih orang Indonesia sangat benci dengan huruf Cina ? Seorang teman saya jadi turis dan menginap di Hotel Indonesia dan ia bawa lukisan Cina yang bagus sekali dengan huruf Cina di atasnya, eh nggak tahunya lukisan itu hilang di hotel begitu saja dan ketika ditanyakan ke security, si security malah menyalahkan mengapa ia membawa huruf Cina ke Indonesia”. Wah..benar-benar pertanyaan yang sulit dijawab di jaman Orde Baru yang Presidennya masih Presiden Suharto. Kalau jaman sekarang sih, sejak Presiden Abdurachman Wahid menjabat dan huruf Cina dan bahasa Cina diperbolehkan, Metro TV bahkan punya siaran berita khusus bahasa China yang disebut Metro Xinwen. Tapi dulu, saya hanya menjawab begini “Menurut saya, orang Indonesia terlalu takut dengan huruf Cina karena hampir semua orang Indonesia tidak bisa membacanya. Sehingga takut kalau di huruf Cina itu disusupi sama ajaran komunis”, jawaban saya sekenanya. Pada waktu itu, sebagai pemegang paspor biru alias paspor pemerintah, di dalam paspor biru itu ada tulisannya “Tidak berlaku untuk ke Israel ataupun Taiwan” yang terus terang sayapun sulit mengerti kenapa…

Sewaktu saya belajar di Singapore, seorang dosen saya yang bernama Ms. Geraldine bertanya “Tri, why in Indonesia there are so many beggars ?”. Waduh, pertanyaan yang tak terkira yang sangat sulit dijawab. Sayapun menjawab sekenanya “Karena Indonesia sedemikian besar, yang tidak mungkin semuanya kaya, dan di dalam kitab suci kami dianjurkan untuk memberi sedekah kepada orang miskin, maka ada banyak pengemis di Indonesia”. Dibanding dengan 2 pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ketiga ini terus terang juga membuat saya gondok dan merasa direndahkan. Dalam hati saya berkata “Emang Singapore aja negara yang maju dan tidak punya pengemis ?”. Sepulang dari kuliah di bilangan Clementi, sayapun naik MRT turun di City Hall. Keluar dari stasiun City Hall, saya melewati sebuah gedung yang sedang direnovasi sehingga di luar gedung dibangun semacam pergola panjang untuk pejalan kaki. Dengan terkejut saya dapati seorang pengemis dari ras India sedang menengadahkan tangan, mengemis ! Ya mengemis !..

Di dalam hatipun saya tersenyum, karena tidak hanya Jakarta yang punya pengemis, ternyata di Singapore-pun ada !

Nah, menurut anda, apa 3 pertanyaan tersulit yang diajukan oleh teman anda di Indonesia untuk dijawab ?

Sebenarnya saya sudah punya 3 pertanyaan itu, tapi karena ini sudah jam 1.00 pagi, saya lebih baik tidur daripada menambah 6 paragraf lagi di posting ini…

1 Comment (+add yours?)

  1. rumahagung
    Mar 15, 2009 @ 10:00:47

    hahahahaha..!!
    semoga pas saya ke luar sana,ga ada pertanyaan aneh2 lg yah Pak.
    hehehehehe..!!
    tp selama ini saya ke luar,ga pernah ada pertanyaan aneh2.
    tmn chat saya yg dr bbrp negara jg,ga suka nanya yg lucu2 gt.
    hehehehehe..!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: