Secoret kejadian hari ini

Bila dipikir-pikir dari kejadian-kejadian yang berlalu di hari ini tadi, semakin dipikir semakin saya merasa bahwa saya ini manusia biasa, yang terbuat dari darah dan daging (jangan ditambahi lho : dari tulang dan kentut !)..

Pagi ini saya berangkat dari rumah jam 06.15, sedikit kesiangan karena ritual bangun pagi, sembahyang subuh, mencuci mobil, mencek air minum di mobil, rupanya perlu waktu. Namun saya masih beruntung, hari ini tadi jalanan cukup lancar, dalam arti dari rumah ke kantor anak saya yang besar maupun yang kecil, lalu ke kantor saya sendiri, cuman perlu waktu 1,25 jam. Cukup cepat untuk berkendara di Jakarta untuk jarak sejauh 34 km…

Sampai kantor, yang saya lakukan adalah memparkir mobil di lantai 4, di spot favoritku. Setelah itu, baca koran Warta Kota dan TopSkor di hari itu. Saking asyiknya membaca, saya nggak sadar mantan boss saya sepuluh tahun yang lalu mengintip dari balik Nissan Grand Livina-nya ke arah saya yang sedang asyik membaca. Saya pikir, orang dari kantor lain, maklum Grand Livina bukan mobil favorit di kantor saya yang paling-paling cuman Avanza atau Xenia..

Sesudah “tamat” baca dua koran wajib hari ini, sayapun turun ke gedung II. Mejeng sebentar di kamar mandi, buat “pee” dan ngrapiin rambut, lalu menempelkan sidik jari ke absen. Begitu bunyi “tiiiit” sayapun bergegas naik lift ke lantai saya. Sampai di meja, komputer desktop saya nyala (berarti sepanjang weekend apa nggak dimatiin ?), dengan internet nyambung tapi luambaatnya minta ampun. Ya udah, saya refresh sebentar.

Setelah komputer dan internet OK (kantor saya berlangganan Speedy Unlimited karena pasokan internet dari kantor sendiri kurang reliable), sayapun membaca facebook dan blog saya. Friend request-pun saya ok-in aja biar cepet, dan beberapa mahasiswa saya biasanya juga minta “mafia war request”. Biar mahasiswa saya menang, sayapun ok-in aja biar cepet…

Sebenarnya saya belum “kemput” menjawab komentar2 di blog saya, terutama dari Cak Totok yang sekali kirim komentar bisa 5-10 buah. Tapi boss sudah memanggil untuk rapat Senin-an. Ya udah, sayapun masuk ruang rapat, mengambil sekerat tempe goreng, dan menyeruput teh manis hangat yang terhidang. Rapatpun berlangsung cepet karena dilaksanakan di ruang darurat, bukan di ruang biasanya. Teman2 pun janji ama boss buat mengerjakan tugas kantor lewat web, dan tidak melulu lewat tatap muka. Thanks God, the third wave is coming !!! (3rd wave = gelombang IT yang melanda dunia)..

Habis rapat, perut diraba masih kenyang. Oleh karena itu, sayapun segera turun menuju mobil pas jam makan siang sudah tiba dengan mengucapkan kata-kata ritual ke teman-teman “Hey temens, saya mau mencerdaskan kehidupan bangsa nih”. Dan temens pun menjawab, “Ya pak, silahkan !”..

Sebelum ke mobil, saya diberitahu Koperasi sudah mengeluarkan SHU (Sisa Hasil Usaha). Karena saya termasuk pegawai atau anggota koperasi yang paling senang berutang, sayapun optimis SHU saya tahun ini bisa melebihi tahun kemarin yang sebesar Rp 929 rebu. Tak disangka tak dinyana, di depan kasir saya diberi uang SHU sebanyak 7 digit !!! Memecahkan rekor untuk unit kerja saya..

Segera saya bergegas ke tempat parkir, menstarter Camry-un saya dan menuruni tangga gedung parkir menuju Jalan Thamrin. Di tikungan belokan Jalan Kebon Sirih, lampu lalu lintas berwarna merah, dan sayapun berhenti. Di belakang, ada mobil box bernomor 7591 membunyikan klakson keras-keras, menyalakan lampu besar beberapa kali, dan berteriak-teriak kayak orang gila “Belok kiri terus ! Terus ! Maju !”. Sayapun membentak mereka, “Mau apa lu !”, dan Camry-un sayapun tak beringsut menunggu lampu hijau. Lampu hijau nyala, dan saya biarkan mobil box dan 2 begundal yang nyetir itu lewat duluan. Mereka lewat seperti Lewis Hamilton di sirkuit Sepang ! Srrrriiittt…menderit dengan keras. Tidak ada cara lain selain mengejar Lewis Hamilton gadungan itu ala guru nyopir saya, yaitu Michael Schumacher….Srriiiit..iiik…ikkkk.ikk…Gak sampai 5 detik, Camry-un saya sudah di depan mobil boks tadi. Saya biarkan Camry-un saya barang 10 detik di depan mobil boks itu, sebagai cara mengatakan “Hey. Lu mau apa ?”

Mobil bokspun akhirnya melewati Camry-un saya, dan saya membiarkannya pergi tapi tetap menempel ke ekornya, karena saya tahu dengan cara ini si sopir akan blingsatan seperti Lewis Hamilton mau diselip oleh Felipe Massa..

Ternyata mobil boks tadi menuju ke tempat saya mengajar !!! Alamak !!!

Sampai di kampus, tumben saya mudah menemukan spot parkir di lantai atas. Camry-un saya datang dan perlu 2 orang tukang parkir kampus untuk memarkirkan. “Selamat siang, pak”, kata mereka berdua sopan. Sayapun mengucapkan terima kasih tak terhingga dari kejauhan dengan gesture tangan saya…

Sampai di ruang Akademis waktu mau ngambil absen, ternyata…

Hari ini Off Class !!!!

Oh my God !!! Sudah ke kampus tergesa-gesa dan balapan pula, ternyata hari ini tidak ada kelas (menurut rule di Binus, dosen yang kelasnya berstatus OFC atau off class, tetap diberi renumerasi seperti waktu mengajar biasa)..

Kalau tidak karena saya janji dengan mantan bimbingan saya : Yuliana, Wanda, dan Pepen, tentu saya tidak akan datang ke kampus ini ! Ternyata dari ruang akademis ada pengumuman hari ini ada kegiatan Donor Darah oleh HIMKA Binus (HIMKA = Himpunan Mahasiswa Komputerisasi Akuntansi). Karena salah satu mahasiswa saya yang janji belum datang, sayapun menuju ke ruang 406 buat donor darah…

Rupanya saya disambut dengan karpet merah di depan ruang 406 ! Rupanya beberapa panitia Donor Darah adalah ex mahasiswa saya semester kemarin di kelas Pengantar Teknologi Informasi (PTI). Sayapun mengisi formulir dan menyodorkan kartu donor darah saya yang berwarna pink. Lengan sayapun dipasangi alat untuk mencek tekanan darah. Oh my God ! “Agak tinggi nih pak, bapak penderita tekanan darah tinggi ya ?”, kata perawat laki yang barusan mencek tekanan darah saya. Sayapun menjawab “No way, Jose ! Tekanan darah saya tinggi karena barusan saya balapan mobil ke sini dan kesulitan menemukan tempat parkir di siang bolong yang super panas ini”. Perawatpun tidak bicara lagi, dan saya dipersilahkan tidur di tempat tidur yang kosong…

Perawatpun mulai meraba-raba nadi saya dan memasukkan jarum untuk menyedot darah saya. “Cukup 250 cc aja kok pak”. Rupanya sambil ngalamun dan difoto-foto sama Panitia anak KA, pengambilan darahpun selesai. Saya segera diminta menutup luka dengan kapas, dan melipat lengan tangan saya. Setelah sekitar 10 menit saya melipat lengan saya, perawatpun memberi tensoplat ke bekas luka saya..

Waktu saya berjalan ke luar ruangan, tiba-tiba darah segar membasahi lengan saya yang sebelah kanan. Rupanya, tensoplat tadi belum sepenuhnya menutup luka di lengan saya… Perawat laki yang tadi mengukur tensi sayapun membersihkan ceceran darah di lengan saya dan memberikan tensoplast yang baru..

Setelah minum segelas susu coklat dan semangkuk pop mie, sayapun keluar dari ruangan 406 tadi. Menuju ke ruang akademis buat bertemu 3 mahasiswa yang sudah nunggu dari tadi. Sayapun saya Hi sebentar sama mereka dan bilang mau ke kamar mandi membersihkan baju saya dari noda darah seluas 4 x 8 cm. Sayapun membuka baju di toilet dan mengguyur lengan baju saya dengan air pembilas sampai benar-benar bersih. Tissue pun saya tempelkan ke lengan baju saya agar segera kering…

Puiiih…hari yang panjang. Sudah terlanjur datang ke kampus dan ogah kembali ke kantor di jam-jam yang super panas ini. Selain takut kena macet, soalnya katanya barisan Partai2 Peserta Pemilu 2009 akan berkonvoi melewati kantor saya di Jalan Thamrin, katanya..

Maka, sayapun membenamkan diri di ruang dosen dan menulis posting ini, entah apapun yang saya ceritakan di sini…

Yang penting, sekedar membunuh waktu sampai tiba waktunya saya harus menjemput anak saya yang kecil di bilangan Gambir dan anak saya yang besar di bilangan Menteng Raya, untuk bersama-sama pulang ke rumah, dengan Camry-un…

Oh, what a day !

25 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Mar 16, 2009 @ 20:05:26

    Untung sampean gak ketemu karo tim HARI-HARI YANG ANEH. Bisa masuk tipi boooo…..

    Reply

  2. totok
    Mar 16, 2009 @ 20:42:24

    Aku pengin crito kejadian hari ini tadi Cak Tri. menurut aku yo aneh, yo ora. Tapi lumayan digawe crito.

    Mulai isuk utuk-utuk, aku karo kru wis toto-toto penekan nang tiang antene utama nang daerah Kelun. Opo maneh, dino iki jan panase nggilani. Aku wis suwe nang Malang, saiki kroso banget nek howo mbediyun wis ora nyaman maneh. Padahal udan lagi wae entek.

    Pas jam 12, aku ditelepon karo bos Indosat Madiun. Ngundang makan bersama, baik kru Indosat maupun Kru Faster (brand image internetku cak, cekne gak kalah karo speedy he…e).

    Padahal udangan jam 12.30. Dadi aku karo kru, cacahe wong 8 langsung budal nang Rumah Makan padang, sebelah Sri Ratu. Dadi sampean isok mbayangke cak, rupane anak buahku sing bar mudun soko penekan.

    Isih mending aku ora menek, dadi masiyo klumus-klumus yo isih isok didelok. Soale ora sempat ganti baju opo maneh nang salon.

    Bareng teko panggonan cak, ternyata memang sudah disiapkan di ruang atas (wah koyok tamu penting wae).

    Bareng wis munggah, kru Faster podo ndlongop, lha wong Kru sing digowo Indosat bening-bening katik wedakane lagi dianyari, dadi yo licin tenan. Opo maneh mergawene nang ruangan ber-AC.

    Tapi mereka maklum, sebab kami memang orang lapangan, gaweane penekan pipo ledeng ha….ha…

    Lumayane maneh, di situ kita bisa ngobrol ngalor ngidul ngetan balik ngulon, dana da kesepahaman dalam hubungan ke depan. Kasarane…….proyek bosss……

    Cak Totok,
    Hehehe…aku mocok critamu ngguyu kemekelen…;-)

    Pancene onok bedane technician utawa engineer kuwi karo wong-wong support (marketing, accounting, finance, human resources). Nek sing siji klumus-klumus lan kumel ketok ora adus, lha nek sing arek support ketoke aduse sedino ping pitu, isih ditambah karo parfuman masing-masing sak liter. Yo temtu wae bedo koyo langit lan bumi…

    Tapi mergo onok proyekan, yo sing penting sampeyan sebagai “boss” isok nggolekne order lan kesepakatan-kesepakatan proyek jangka panjang. Istilah-e, bisnismu isok “sustain” utowo dowo uripe…

    Mugo-mugo wae cak !

    O iyo, rumah makan Padang cedake Sri Ratu iku aku ngerti soale nek nginep neng Hotel Merdeka, kadang-kadang aku mangan bengi nduk kono kuwi. Tempate lumayan rame, lan makanane yo lumayan spicy lan isok asli roso Padang-e…

    Reply

  3. alris
    Mar 17, 2009 @ 00:47:29

    Saya mau ke Bogor tadi siang ketemu iring-iringan kampanye damai peserta pemilu di jalan raya Bogor di daerah Cimanggis. Saya mau ke arah Bogor iring-iringan itu arah ke Jakarta, jadi jalur saya lancar, jalur sebaliknya macet, cet, cet….

    Dan saya sangat bersyukur hari ini. Bikin KTP di kantor Kecamatan Bogor Utara cuma sehari langsung selesai melalui jasa baik seorang teman. Gimana ceritanya? Setelah mengantongi surat kehilangan ktp dari polsekta Bogor Utara dilengkapi surat pengantar dari pak RT dan kantor lurah Ciluar saya bersama teman itu pergi ke kantor camat. Si teman ngomong ama kawannya, blablabla… Saya disuruh ke kamar untuk di foto. Jam tiga sore KTP selesai. Trims untuk semua. Biaya-nya? Sangat murah, sesuai standar yang ditetapkan. *sebagai rasa terima kasih, adalah saya titip buat petugas dan saya ikhlas*

    Pulang ke Jakarta, karena ada keperluan lain di Pamulang saya pulang lewat Parung. Sampai pertigaan pasar Parung ambil belokan kiri ke arah Gunung Sindur. Luruuuuus terus….sampai ketemu perempatan yang menuju Serpong dan Pamulang. Ambil kanan sampai deh di Pasar Pamulang. Sejak perumahan Billabong saya sudah diguyur hujan. Jadilah biker hujan-hujanan, dan ketika menulis comment ini gak enak badan.

    Uda Alris,
    Jadi bikin passport-nya nggak Uda ? Apa tawaran dari mancanegara itu jadi diterima ?

    Reply

  4. totok
    Mar 17, 2009 @ 10:18:18

    Bener cak, koyo bumi nek karo langit isih cidek. Lha iki bumi karo planet mars, adoh banget. Nek kru Indosat nggawe parfum soko Prancis, lha nek aku parfum asli produk dalam negeri, eh….produk dalam tubuh sendiri.

    Tapi rasane isuk iki aku malih koyok wong penting. Hasil crito ngalor ngidul, ditanggapi serius.

    Dek wingi kan crito-crito soal bandwidth, dimana punya Indosat bandwidht murni luwih akeh internasionale. Padahal gae wong ndeso, sing akeh digawe bandwidth nasional. Download karo up load juga jarang kepake.

    Nah, isuk iki aku di -sms, nek crito wingi iku wis diunggahno dan dinilai ide bagus. Wowww…. padahal aku yo lagi ngerti jenenge bandwidth. Nek aku isok crito, mergo sering share karo anakku he…he…..

    Tidak beda jauh karo HP cak. Nek saiki wis usum 3G, tapi untuk wong ndeso cukup HP sing isok digawe sms karo telpun. Nah, prediksiku soal internet yo ngono cak, kiro-kiro 5 sampai 10 tahun ke depan, konsumsi internet makin meluas. Sebab wong ndeso-ndeso wis mulai imel-imelan, karo ndelog rego komoditi pertanian nang kuto liyo piro. Opo maneh proyekku internet masuk desa bisa terlaksana, wah…….

    Sayang nang mbediyun cak, ternyata ada kendala dikit untuk percepatan bisnis. Sebab sing jenenge golek marketing, aku sampek ampun-ampun. Tak iklanke nang koran, yo gak onok sing ngambus. Padahal nang mbediyun iku pengangguran sak abreg. Akhire yo kru sing onok terjun bebas (termasuk aku).

    Dadi nek pas gak pasang antene, yo golek mangsa, eh….konsumen. Lha nek wis entuk konsumen, ganti pasang. Saiki cak, alkamdulilah client-ku wis meh satus. Meski belum ada untung, tapi mlaku timik-timik.

    Ada ide untuk pemasaran kaleeee?????????

    Cak Totok,
    Sak jane pemasaran kanggo Faster + Indosat-mu ora susah-susah amat, asal situ mau berpikir “out of the box” (sing ora biosone). Lha nek berpikir biasa, pasti sampeyan nganggep pemasaran kuwi angel. Padahal kalau mau mikir “rodo nyleneh”, pasti kon gampang oleh konsumen…

    Pertama, kon bisa pakai strategi “desa mengepung kota”. Jadi, dalam strategi pemasaran ini, lebih baik wong ndeso-ndeso sekitar mBediyun sing “diracuni” nganggo internet, sak wise kon sukses neng ndeso-ndeso, pasti wong kutho pun akan ikutan nyerbu pesen internetmu..

    Kedua, saiki sing jenenge Facebook kuwi wis kebutuhan sehari-hari, malah kebutuhan jam-jaman, malah kebutuhan menitan. Misale kon duwe account neng Facebook, lan mbok pasang “status = lagi sibuk keringatan masang internet di rumah client nih…”. Lha wong sing moco statusmu biasane langsung saut-sautan saur manuk. Contone, nek aku masang status rada nyeleneh neng Facebook-ku, beberapa menit kemudian semua poro konco sing neng monconegoro atau di dalam negeri langsung memberi komentar aneh-aneh lan lucu-lucu. Lha iki sak jane kan “racun”. Sebagai racun, cepat atau lambat akan merasuki semua jiwa wong mBediyun, dadi pemasaran internetmu akan lancar car car car…

    Soale pilihane sambungan internet ming : 1) mengunjungi warnet 2) makai mobile internet seperti Telkomsel Flash, Indosat IM2, XL dsb 3) langganan Telkom Speedy 4) langganan Faster-mu…

    Jadi, kansmu sakjane cukup gede. Mungkin kon kudu sering-sering kampanye neng sekolah2 SD, SMP, SMA sak Karesidenan MBediyun tentang pentingnya internet. Yah, semacam kampanye terselubung gitu….

    Mengko lengkape kita bisa ngobrol yen aku pas bali neng mBediyun…

    Reply

  5. totok
    Mar 17, 2009 @ 10:55:39

    UDA ALRIS:
    Bicara makan di RM Padang, saya jadi ingat waktu di Malang, saya pernah punya keinginan buka warung Padang.

    Sampai akhirnya saya beli buku khusus masakan Padang. Saya praktekkan, dan ternyata saya bisa. Dengan seorang teman, saya pernah buka PK5 pakai gerobag jualan nasi Padang. Ternyata laris juga, sayang gak tahan lama.

    Kesimpulan saya masak padang. Rasa, nyaris sama. Tapi sayangnya, menurut saya kurang nendang. Barangkali Uda Alris punya rahasianya, boleh dong dibagi. Siapa tahu saya bisa menyalurkan hobiku masak he….he…he.

    Bener lho, ini aku masak sendiri. Bukan iistriku. Kalau istriku bisanya cuman bikin nasi pecel dan soto Jawa….

    Cak Totok dan Uda Alris,
    Katanya agar masakan Padang bisa “nendang”, mesti pakai “bumbu khusus”. Makanya ada cerita, semakin ke utara di pulau Sumateranya, masakan Padang nya semakin mak nyussss…

    Tahun kemarin saya makan masakan Padang di Lampung. Wow…topp markotob. Dua tahun sebelumnya aku makan masakan Padang di Jambi, wah…juan mak nyussss,,,

    “Bumbu khusus” itu kini konon semakin jarang ya..

    Reply

  6. alris
    Mar 18, 2009 @ 01:23:02

    Pro Pak Tri :
    Tawaran dari mancanegar sedang di check kesahihannya. Nanti saya berharap terlalu jauh tapi ternyata bohong, kan seperti jatuh dari ketinggian dan mungkin bisa sangat sakit.

    Mengenai “bumbu khusus” untuk masakan padang saya sendiri belum bisa membuktikan kebenarannya. Saya gak tahu rumah makan yang punya rasa nendang memakai “bumbu khusus” itu. Yang saya tahu rumah makan padang yang punya rasa masakan enak itu juru masaknya dan beberapa bumbu memang sengaja didatangkan dari kampung halaman. Juru masaknya bukan cabutan atau hasil didikan di tempat lain. Bumbu juga sengaja didatangkan dari padang. Walaupun bumbu sama tapi rasa bumbu dari daerah pasti lebih nendang jika dibandingkan dengan bumbu lokal. Martabak Kubang(asli) adalah salah satu contoh yang mendatang bumbu dari kampungnya.

    Pro Pak Totok :
    Jika suatu saat kalo saya ke mBediyun, ketemu Pak Totok dan ada waktu akan saya buatkan gulai entok versi Alris, heheheh…
    Karena dari kecil memperhatikan dan membantu ibu masak sedikit-banyak saya juga bisa memasak. Apalagi sejak tamat smp udah misah dari orang tua mau gak mau harus masak sendiri.

    Reply

  7. totok
    Mar 18, 2009 @ 09:45:46

    CAK TRI & UDA ALRIS
    Itu dia, kata orang memang ada bumbnu khususnya dari daerah Padang sana.

    Termasuk juga ada yang namanya asam kandis. Nah setahuku, asam ya seperti yang ditanam di pinggir jalan oleh Belanda dulu.

    Belanda memang pinter, nanam pohon asam di tepi jalan. Biar daunnya kecil-kecil tapi rindang dan pohonnya kuat. Lha sekarang dihganti pohon Sono Kembang. Memang lebih cepat gedenya, tapi juga cepet ambruknya.

    Yes….. ntar kalau Uda Alris ke mbediyun tak siapkan enthok. Memang saya tahu sendiri, hampir semua teman-teman saya dari Padang, pinter-pinter masak. Makanya dimana-mana Masakan padang laku keras. Bahkan di Malang dulu, saya tahu mereka punya perkumpulan dan arisan secara rutin. Arisannya bukan sepuluh duapuluh ribu, tapi jutaan. ”Gila nggak tuh”.

    Memang saya punya rencana bikin warung yang unik di Madiun, untuk kegiatan istri. Mungkin gulai entok sebuah alternatif yang sangat menarik. Tapi nanti di mbediyun pastinya, gulai entok versi Totok he…he…..

    Eh, tapi ngomong-ngomong Uda Alris kapan ya ke mbediyun???? Jangan-jangan lima tahun lagi ha….ha…ha

    Reply

  8. totok
    Mar 18, 2009 @ 10:02:40

    CAK TRI SOAL INTERNET
    Betul cak, jan-jane memang ora susah-susah amat. Buktine yo mesti entuk pelanggan.

    Desa mengepung kota, secara dogmatis memang belum saya lakukan, tapi secara praktek riil sudah jalan. Misalnya sekarang sudah tak garap sekolah-sekolah di pinggiran kota. (khususnya yang tidak terjangkau Speedy). Tanggapan bagus, dan kini tinggal menunggu hasil rapat masing-masing sekolah. tapi siji loro wis tak pasang.

    Hanya akselerasinya yang tak anggep lambat karena susah cari SDM marketing. Sementara bandwidth yang tak ambil sudah mencukupi.

    Malah client Indosat dilempar ke kita. Soalnya dia kan nggak boleh main di 2,4. Kalau pake frequensi komersial jelas sangat mahal jatuhnya. Apalagi untuk sekolah-sekolah ndeso.

    Tapi tengkiu banget saran-sarannya. Itu jelas sangat membantu saya. Khususnya tentang Desa mengepung kota, pasti penetrasi saya akan ke sana.

    Reply

  9. totok
    Mar 19, 2009 @ 08:28:18

    Isuk-isuk wis onok tamu nang kantor, dadi jam 08.28 aku lagi isok mbukak internet. Trus tak bukak blog sampean, durung onok postingan anyar utowo komentar. Iki mesti spidi sampean ngadat maneh, nek ora wonge sing ngadat.

    Dino iki cak, aku entuk undangan presentasi internet nang Guru-Guru IT se kabupaten Ponorogo. Makane aku yo golek referensi nang internet. Soale IT bagiku kan termasuk barang baru, masiyo wis nyekel komputer sejak zamane 286.

    Sing pinter anakku, sayange deweke kurang canggih nek presentasi. Dadi akhire yo bangkotane sing mudun, anakku sebagai pendamping he…he… Jangan-jangan malah aku engko sing luwih pinter, ha…ha.

    Iki kesempatan besar bagiku untuk jadi marketing, dadi masiyo bensin nang montor kari separo, yo mesti budal.

    Cak Totok,
    Wah..aku durung onok postingan anyar soale sibuk “ternak teri” (nganter anak nganter isteri). Seharian kemarin wira-wiri : rumah – kantor – rumah – Gambir – rumah. Jam 20.00 baru ngandang di rumah soalnya jalanan Jakarta kemarin macet luar biasa, mungkin sebagai imbas bahwa satu penggal ruas jalan sedang terjadi kampanye…

    Sakjane aku wis nulis posting anyar sing judule “Ojok Gumunan” tapi dalam bahasa Indonesia, namun anehnya masih berupa draft dan belum dalam status “published”. Aku yo ora ngerti opo sebabe. Sampek rumah terlalu capek jadi belum sempat lihat lagi postingan yang “gagal” mau…

    Sak jane aku isok nulis postingan, kira-kira 5 postingan per hari. Tapi mengkok, sopo sing arep moco blogku ?

    Sementara iki, blogku sing akeh diwoco malah postingan lawas-lawas, dudu sing anyar….

    Reply

  10. totok
    Mar 19, 2009 @ 20:20:40

    Sing jelas, sing moco yo aku. Soale lak wis tak critakke, nek aku mbukak internet, mesti sing tak bukak disik dewe yo blog iki. Bar iku lagi mbukak liyane.

    Bener cak, nek aku wis kecanduan karo blog sampean. Opo mergo pengin selalu berhubungan dengan konco lawas, karo bernostalgia.

    Simbah yo wis pirang-pirang dino ora muncul, mungkin isih nang tengah laut karo mancing Ikan Hiu.

    Cak-e Totok-e,
    Aku yo ngono cak. Perasaan jaman SMP 2 kae barusan wae kejadian, koyok baru kemarin sore gitu loh…hehehe…. padahal hal itu terjadi 36 tahun yang lalu…

    Mungkin aku duwe sing dijenengake “photographic memory” yokuwi isok kelingan hal-hal sing terjadi di masa lampau, seolah baru terjadi kemarin…hehe…hopo tumon ?

    Sak rombongan konco-koncoku (berempat) sore iki numpak sepur Bima arep nyambangi client neng mBediyun. Aku dewe isik dikongkon nggawe tor lan yen wis tor-e dadi nembe isok mlampah-mlampah neng mBediyun…hehehe…

    Jebule anakku sing cilik yo seneng ngintip omongane awake dewe sing nggawe boso Jowo…jarene “Wah…perlu roaming nih…” (alias dekne ora ngerti…hihihi…)…

    O ya, sampeyan mampire blog-e Bu Tuti Nonka, soale dekne lagi rekaman 14 lagu-lagu kesenangan teman-teman, aku wis oleh CD-ne lan jebul suarane Bu Tuti ora kalah karo Tuti Soebardjo bojone Onny Suryono biyen…sopo ngerti isih kebagian CD yen durung kentek-an….

    Reply

  11. totok
    Mar 20, 2009 @ 12:42:07

    Wah jan ngesakke anak sampean cak. Lha wong anake wong Jowo kok gak Njowo, eh….gak isok boso Jowo. Isoke iya dong …deh, lo,..gue manyun aje…he…heeee.

    Iki jenenge kabar sangat menyenangkan, pasti sedilut engkas aku oleh traktiran masakan padang he….heee. TOR-e ndang didadekno cak, engko ndang meluncur nang mbediyun.

    Nah soal CD-ne bu Tuti, aku jane yo pengin. Nanging (ojo rame-rame), aku ora duwe CD Player, trus komputerku kabeh gak onok CD-ne, isih bolong-bolong kabeh. Dadi trus nek entuk CD arep tak puter nggawe opo? he…he, ojo diguyu lho yoooo,…. memelas banget.

    Pancen bener cak, momori kala kita masih kecil sangat menyenangkan kalau kita ingat. Nang memoriku yo isih gawang-gawang, yo opo yen sampean mlaku biyen, utruk-utruk…. awake rodo maju he…he.

    Aku yo isih kelingan biyen yen nang omah sampean, ngrontoki pelem trus gedebrag-gedebrug nyanyi (bengok-bengok) lagune Koes Plus sing judule Kelelawar.

    Aku yo lamat-lamat isih eling wajahe mbak Endang, bapak ibu sampean, sing sabare ora karuan.

    Pokoke semua mengesankan. Tapi sing jelas awake dewe ora tau rebutan pacar, sebab kriteriane bedo. Nek sampean golekane sing ayu putih menik-menik, lha aku senenge sing ireng manis.

    Tak tunggu kedatanganmu di Mbediyun, engko tak pameri internetku ha…ha……

    Cak Totok,
    Yo wis engko nek oleh rejeki tak tukokne DVD player plus speaker neng Jalan Kalimantan ben sampeyan isok ngrungokne lagu-lagu soko CD/DVD…nek oleh rejeki lho…

    Wah, analisismu tepat banget. Senenganku arek wedok sing putih lan kinclong lan nek sampeyan sing ireng manis. Soale aku rak wis ireng, mengko nek kawin karo arek wedok ireng rak anakku podo ireng kabeh. Lha priye nek pas bengi lampu mati, wong sak omah ireng kabeh, pasti nek bengi sing ketok ming untune putih, kuwi nek pas ngguyu lho. Lha nek pas mencep yo ora ketok opo-opo…hehehe..

    Wah, sampeyan isih kelingan nyanyi “Kelelawar Sayapnya Hitam” neng omahku yo. Ketoke wektu itu sampeyan neng omahku bareng Azis Hidayat, Gembes, Purwoko lan Budi Mulyanto, lan ugo Usman si Arab…

    Sak wise nyanyi “Kelelawar” mau, jebule tonggo-tonggoku podo ngeledek “Kapan nih mas, nyanyi Kelelawar lagi.?”…hehehe….

    Reply

  12. alris
    Mar 20, 2009 @ 17:13:47

    Tariiik Pak Totok, nyanyi Kelelawar lagi, kalo nanti aku ke mBediyun, hehehe….
    Kenapa gak lagu ini, Pak Totok?

    Hitam manis, hitam manis
    yang hitam manis
    paras mu ayu……
    …………………………………………

    Lagu ini dinyangikan oleh : Usman bersaudara, D’Loyd, atau siapa?

    Uda Alris,
    Jaman Bung Karno dulu semua anggota Koes Bersaudara (Nomo, Yon, Yok dan Tony) pernah dipenjara karena menyanyikan lagu-lagu “a moral” seperti “Kelelawar” itu. Di penjara mereka antara lain mengarang lagu “Di dalam Bui” dan “Foorman” (Sipir)…

    Jadi waktu kami bertujuh termasuk Cak Totok ini nyanyi “Kelelawar” di rumah saya, sambil ada issue kalau Koes Plus (minus Nomo, plus Murry) akan mencabut lagu “Kelelawar” ini dari LP mereka karena lagu ini sub standard..

    Lagu “Hitam Manis” saya lupa siapa yang menyanyikannya, dugaan saya Mus Mulyadi atau D’ Lloyds….

    Reply

  13. totok
    Mar 21, 2009 @ 11:14:05

    Ha…ha, isok nyicil ayem onok sing arep nukoke DVD player. opo maneh karo Speaker box pisan, wah…jan enak tenan. Isok ngrungokke lagu ”Leyeh-Leyeh”

    Bener iku cak, anggota gang kita dulu kan arek-arek iku. termasuk Usman, si Arab sing omahe pinggir kali kae.

    Nek tonggo sampean jelas ora ngledek cak, tapi sebel. Lha wong suarane pating gedabrug, cangkem sak mono kehe mangap bareng, ditambah kotekan. Opo maneh wektu iku wayahe wong turu, lha wong pas mulih sekolah bar mangan terus nyangklek sepeda menuju base camp SB 22.

    UDA ALRIS :
    Bolehlah kalau kle mbediyun nanti kita ke karaoke. Pokoknya kalau hanya nyanyi doang 1 jam, nggak pake softdrink, nggak pake camilan, dan nggak pake purel saya masih bisa kok he…he.

    Saya nyanyi bukan hanya kelelawar saja. Lagu-lagu evergreen yang dirilis bu Tutinonka, kebanyakan tak teriakkan kalau pas berkaraoke.

    Beberapa lagu yang tak suka di antaranya :
    1. I don’t wanna to talk about it.
    2. My Way
    3. Why Do You Love Me
    4. Memories.
    5. Imagine (ini penyanyinya senengane cak Tri, soalnya waktu SMP selalu nggambar John Lennon.
    5. Dari pada sakit gigi, lebih baik tidak sakit (punya Meggy Z, penyanyi lanang sing wajahe kayak Cakil he…he).
    6 etc…..

    Pokoknya nggak rugi kalau ajak aku ke karaoke.

    Cak Totok,
    Lho apa di Madiun sekarang sudah banyak Karaoke seperti punyanya Inul yang berlabel “Inul Vista” ? Seingatku di Madiun banyak Discotheque tapi belum terlalu banyak Karaoke..

    Kalau saya bisa nyanyikan lagu-lagu : Beatles (Let it be, I saw you standing there), Bee Gees (First of May, Saturday Night Fever), Hollies (Good morning Mr. Sunshine), Deep Purple (Soldier of Fortune), Led Zeppelin (Stairway to Heaven), sampai lagunya Koes Plus (Why do you love me), Panbers (Cinta remaja), sampai Edi Peregrina (I do love you) dan Victor Wood (lupa lagune)… hehehe…coba aja ntar ditest siapa yang masih hafal lagu-lagu jaman SMP dan SMA…hahaha…

    Reply

  14. alris
    Mar 21, 2009 @ 17:33:38

    Saya senang aja kalo pak Totok yang ajak ke karaoke, tidak akan nolak. Saya pasti jadi pendengar yang baik.
    Kayaknya simbah lagi di mBediyun soale beliau kirim email ke saya katanya dari rumah.

    Reply

  15. totok
    Mar 23, 2009 @ 13:19:19

    Kalau ngetes hapal apa tidak ya ndak di karaoke to. Tapi bener kok cak Tri, sudah ada karaoke lumayan di madiun, tepatnya di jalan ….(wah blank…) pokoknya di terusan Jalan Ringin yang menuju Pecinan, Jalan Barito.

    Aku pernah diajak temen ke situ. Yah,….lumayanlah. Artinya soft drink dan snack-nya muahallllllll.

    Makanya kalau saya mau ajak uda Alris Karaokean di situ, ada catatan, tidak pake soft drink, tidak pake camilan, apalagi pake Purel, wuah……ampun deh….. Pokoke mbacot wae nang kono sak jebole cangkem gak opo-opo..

    Cak Totok,
    Wah…sampeyan niku yok opo sih ? Mosok kon mbacot banter-banter neng karaoke tapi gak diwenehi mangan lan ngombe….yo lemeeeeeesss dong !

    Purel itu opo “public relations” ?

    Reply

  16. simbah
    Mar 23, 2009 @ 14:02:13

    Pringisi,….!
    -> Tok, duwitmu ojo mbok entekne ngge pasang iklan. Mengko suwe-2 sarono gethok tular lak daganganmu payu… contone aku kiye, aku mbukak kios tukang-cukur, bareng wis rong taun nembe laris….pengunjunge roto-2 sedino wong las-lasan lah….aku ndisik yo gawene pasang iklan neng radar-mbediyun kastemerku bareng ditakoni bojoku ngertine ora seko iklan, ning gethok-tular….
    Lah nek kandane dik Yon, yo bener awit deweke rak wis nganggo ngelmu sing wis bisa ditanggung sahih, kathik ono bukti empiris lang nganggo parameter barang…..

    Simbah,
    Neng cedak omahku onok kios tukang cukur sing lariiiise ngaudzubillah.. Nganggo AC, sing nyukur cah enom, lan neng ruang tunggune onok TV flat ukuran 21 inch. Aku gagal terus cukur neng kono soale pas arep cukur sing ngantri jebule wis 3-5 orang sepanjang minggu…

    Dadi yen kios cukure Mas Didiek supoyo payu, yo kudu ditukokne TV flat 21 inch harga sekitar Rp 2.5 jutaan ditanggung sing ngantri luwih rame tinimbang sing ngantri karcis sepakbola…

    Reply

  17. totok
    Mar 23, 2009 @ 19:16:06

    Opo maneh, nek barber shop-e selain TV 21 inc, juga dikasih internet hotspot gratis, tambah laris. Tapi laris sing nongkrong nang kono, lha sing cukur wong sitok, tapi suportere sak kampung he….he.

    Cak Tri, soal istilah Purel nang karaoke utowo nang diskotik, iku pancen rodo nyleneh. Menurut aku dudu public relation, lha wong tugase menemani tamu yang berkaraoke atau jingkrak-jingkrak, terus menawarkan minuman sing regane ngadubilah setan.

    Lha tamune, sebelum pesen minuman, mesti njaluk bonus ngelus-ngelus pupu sing rodo diumbar kiro-kiro 54 cm di bawah pangkal paha. Dadi nek pupune ora didempetno, mesti segitiga berliane ketok melok-melok he…he.

    Nek aku isih sering dolan nang Fire tahun 97 – 98, taripe purel ngancani tamu sak jam Rp 30 ewu, belum termasuk tips gae ngelus-ngelus mau. Lha saiki aku ora ngerti, opo mundak dadi 100 opo rong atus ewu sak jam. Soale aku wis ora pantes mlebu rono.

    SIMBAH :
    Mbah, aku ora tau pasang iklan nang Radar, soale larang. Lha biaya belanja iklan tak gawe nyetak brosur. Aku nyebar brosur nang omah-omah, kantor-kantor, luwih efektif.

    Contone aku dek wingi sore, udan-udan nekad sepedahan motor nang Ngawi, soale wis kadung janji karo salah satu klien. Goncengan karo bojoku mbah. Wah koyok Romi dan Yuli kae, liwat dalam alternatif, Kwadungan.

    Nah, bareng tak tekani, trus aku presentasi (kebetulan omahe pak RT di salah satu perumahan), wah jan luwih cespleng hasile. Wong sak perumahan mau arep pasang internetku kabeh. Dan Pak RT ternyata waktu ke mbediyun pernah dapat brosurku.

    Dongakno berhasil mbah, engko nek wis deal isok gae nraktir sampean karo Cak Tri nek pas nang mbediyun. Perumahane cumak cilik, kiro-kiro 50 omah, dadi mung sak RT, manggone tengah sawah pisan.

    Eh, bareng aku nang Ngawi mbah, aku kelingan sepedahan karo Cak Tri nang Nggeneng goro-goro arep ngapeli Indrawati. Lha wong perumahane cidek karo PG Sudhono he…he. Cuma bedane yen biyen sepedahan karo cak Tri, saiki sepedah motoran karo mantan pacar ha…ha, udan-udan pisan.

    Lha udan-udan tak rewangi budal, soale aku selalu ingat sarane cak Tri, bisnis harus bisa dipercaya, Tentu termasuk janji ketemu karo calon klien mau Mbah. Masiyo udan deres, yo budal. Tapi mulihe kerokan ha….ha….

    Cak Totok,
    Wah…cerito koyo mangkono mau, kok yo wis teko mBediyun to yo….opo kuwi wis tandane jaman edan ?

    Nek neng Singapore mbiyen, miturut Tabloid The Star, purel-e nggae klambi belekan pupu sing jenenge “Ceongsam”. Yen kon durung isok mbayangke, persis karo sing dienggo karo pramugarine Cathay Pacific. Ongkos dikancani purel neng neng Singapore isok 50-100 dollar Sin per jam-e, tapi “if the girl likes you, your fingers can reach the destination” koyok sing mbok critakno mau….hehehe..

    Reply

  18. totok
    Mar 24, 2009 @ 12:08:46

    Crito Cathay Pacific cak, aku tau diundang melok terbang nang Hong Kong waktu pembukaan jalur Surabaya Hong Kong.

    Wah, pancen pramugarine huayuuu-huayuuu, angger moto ketemu moto terus seyumnya lueeebaaarrrrrrrr, bikin hati deg..deg..plas…lap…lap dor. Opo maneh aku termasuk penumpang VVIP (jarene) numpak nang kelas eksekutif mburine pilot, sing dingklike onok tipine, he…he

    Ora koyok maskapai penerbangan Indonesia, nek penumpange nggae klambi butut opo maneh klambine kelas wartawan apek kabeh, noleh wae ora. Seje nek penumpange nggawe jas, nggae tuksedo, terus dasine yo bermerek pisan (maaf aku gak ngerti merek dasi, soale ora tau nganggo ) wah lek ngasih senyuman ora entek-entek.

    Wis tah, enake dadi wartwan yo entuk lungo gratis kuwi cak. Nang Hong Kong seminggu, turu Excelsior Hotel kamare pinggir pantai, wah koyo rojo (gak pake koyo). Sak kamar ijen, saben bengi nontok BF ha….haaa….. awak dadi adem panas.

    Arep nyeluk purel yo ora wani, wong sangune nggae ripis, dadi sing paling murah yo sabun he.,…he…karo mlebu njeding, terus kungkum nang bathub, ngedem knalpot.

    Cak Totok,
    Nek jalur penerbangan luar, aku durung nate nganggo penerbangan Cathay Pacific sing jarene pramugarine nggawe awak adem panas soale nganggo klambi ceongsam (mbuh iki ming cerito opo kenyataane yo koyok ngono…)…

    Sing aku tau numpak Singapore Airlines, sing pramugarine nggawe seragam batik rancangane priyantun Perancis sing jenenge Pierre Balmain (wis bertahan seragam mau sekitar 20 tahun iki), sing konon senyumane pramugari Singapore Airlines sing dijuluki “Singapore Girl” paling misterius sak ndonya…persis senyumane Monalisa….hehe..

    Aku yo nate numpak Thai Airways, sing isok disebut pramugarine paling huayuuu sak ndonya. Konon mergo berase neng negoro Thailand kono menthik (pandan wangi) kabeh, mangkane awake cewek Thailand konon wuangiii-wuanggiii koyok nggae parfum. Terus begitu awake dewe mlebu cockpit, neng mejo wis diwenehi setangkai anggrek nek cah wadon penumpange. Sepanjang perjalanan senyum terus…ramah….atine sopo sing gak terkiwir-kiwir rek !!!

    Pas numpak Garuda penerbangan Jakarta-Denpasar-Tokyo, separuh pramugarine wong Jepun sing ngomonge….maseta…maseta… maseta… Cewek Jepun ugo termasuk sing paling lucu (“cute”) sak ndonya soale rupane dekne wae wis lucu koyok neng komik-komik gaya Manga…

    Nek pramugarine Lufthansa kabeh bule Jerman sing 90% rambute pirang (blonde) lan sisane rambute item. Motone biru (sing ayuuu) utowo moto ijo (sing ayuuu banget). Gawene nawani ngombe “What do you like to drink, Sir !!”…soale waktu kuwi aku terbang kanthi ticket kelas Business…..pokoke full ngombe terus, sayange aku ora isok ngombe sejenis whiskey…padahal neng kelas Bisnis itungane gratis. Dadine setiap ditawari yo nolak terus “I’d like to have Coca Cola”, jareku karo dekne..

    Sing paling mengesankan numpak Boeing 747 e PANAM sing meh bangkrut sokok Los Angeles-Miami. Pesawate wis tuwek, kursine sokok kain onok sing warnane abang onok sing biru, ning kabeh wis kumel lan kucel. Pramugarine yo tuwek-tuwek umur sekitar 35-40 tahun. Ngerti dewe, cewek bule umur sak mono nek nyedaki awake dewe luwih becik awake dewe mlayu sipat kuping soale….koyok ngadepi “rondo bengkarokan”…hehehe…

    Reply

  19. simbah
    Mar 24, 2009 @ 17:20:49

    Lah Sampeyan-sampeyan wis nate kluyuran neng njaban rangkah, aku dewe nganti saiki masiyo rong minggu sepisan nglangkahi Malaya lan spore ning blas gak nate ngleboni. Dadi pasporku resik-sik kae, gak eneng tulisane babarblas. Padahal lehku nggawe paspor wiwit tahun 1983 angger limang tahun diperpanjang…he…he….

    Simbah,
    Mangkane sampeyan nek pas rong minggu onok off, mbok kapan-kapan tour karo bojo neng Singapore atau Malaysia. Aku wingi nglirik brosur sing onok neng kantor, onok sakwijining travel biro sing nawari 3 hari 2 malam di Malaysia biaya per orang cuman Rp 1,65 juta. Berdua berarti Rp 3,30 juta, ditambah sangu ya sekitar Rp 5,0 juta sih cukup…pasti ditanggung mak nyus…

    Reply

  20. totok
    Mar 24, 2009 @ 18:48:59

    Wah sayang pengalaman terbangku, gak terlalu banyak pake maskapai. Paling-paling garuda. Soale, jarene bossku sing paling murah, dan berjiwa nasionalis he….he….

    Bener cak pramugarine Cathay Pacific jan, bikin moto gak isok kedep, melotot terus. Nggawe baju sobek pinggir, sing miturut sampean model cheongsam.

    Opo maneh nang Hong Kong aku yo dijamu nang markase Cathay, weleh-weleh, prasaku nang donyo gak onok wedokan elek. Kabeh ayu-ayu.

    Opo maneh PR (nah yang ini public relation tenanan) huayune ora kaprah. Nek ngomong ababe wangi, gak koyok awake dewe, mambu jengkol he…he…he.

    SIMBAH :
    Lumayan mbah, isok nontok pinggirane Singapure karo Malay. SDemua patut disyukuri dan jadi kenangan indah.

    Pengalamanku ngono iku yo tak gawe kenangan indah. Soale koyok ngimpi, ing ngatase aku termasuk wong gak patek pinter, tapi isok tekan ngendi-endi. Bondone wani takok nrecel karo nyangklong tustel he…he

    Nek cak Tri pancen wis duwe bakat alam pinter ket biyen. Dadi wajar nek deweke isok njajah deso milang kori.

    Reply

  21. simbah
    Mar 28, 2009 @ 09:37:27

    Yah…bener…kabeh kudu disyukuri, umpamane ana sing disesali, kira-2 ya mung, ngapa aku ndisit dadi wong mbeler, malesan, kurang sregep.
    Rupane ngendikane poro sepuh, dadi bocah sing sregep, iku pancen keporo nyoto…

    Simbah,
    Tapi bocah sing sregep, sing mbleler, sing males, sing ra mudengan itu masing-masing punya “garis tangan” atau “destiny” masing-masing lho mas..

    Malah biasanya yang paling pinter paling-paling berujung jadi dosen yang hidupnya ya pas-pasan, tidak kaya tapi juga tidak miskin..

    Malah biasanya yang kaya itu biasanya waktu sekolahnya nggak terlalu cemerlang. Cobak sampeyan ambil sampel 10 pengusaha tersukses di mBediyun itu siapa ? Terus, cateten rekam jejak mereka waktu sekolah dulu. Saya berani taruhan lebih dari 50% nya pasti waktu sekolah males-malesan, nggak nggatekne guru, sak sukanya, dsb…

    Sing serius, paling-paling cuman jadi dosen dan blogger macam saya ini…hahaha…(merangkap “provokator”.. hehehe..)

    Reply

  22. totok
    Mar 29, 2009 @ 20:03:06

    Wis to gak usah menyesali kita ini jadi apa. Yang penting, hidup inis ebenarnya indah. Tinggal bagaimana kita menikmatinya.

    Apalagi kita ini kan masih dikaruniai kesehatan. Kita masih punya kesempatan pegang komputer, ngeblog dan sebagainya. Sementara yang lain masih banyuak tidak punya kesempatan kayak kita ini.

    Dengan kemampuan kita yang ada, kita ketemu lagi. Cak Tri, sudah puluhan tahun nnggak ketemu, akhirnya ketemu di dunia maya. Simbah, sing biyen satru karo aku, akhire isok wawuh liwat udara, masiyo durung ketemu adu arep.

    Sak elek-eleke uripe dewe, tentu masih lebih baik ketimbang sebagian besar saudara-saudara kita. Minimal tenaga dan pikiran kita amsih bisa kita gunakan untuk hidup dengan wajar. Apalagi yang kurang.

    Destiny menurut Cak Tri memang betul. Nek ndelok uripku akeh kebantu karo sing jenenge destiny, dudu dik tiny he….he

    Reply

  23. simbah
    Apr 04, 2009 @ 22:23:32

    Makasih Dik Yon,…kiosk cukurku disamping ber-ac juga ada tv-25 in masiyo gak flat, trus nganggo rungon-2 radio utowo cd, pengunjunge rata-2 perhari belasan orang…yah lumayan untuk melatih diri supoyo ada kegiatan selepas pensiun nanti…..

    Mas Didiek,
    Wah..kayaknya TVnya di Barbershop kuwi perlu diganti dengan LCD TV. Yang 43 inch harga sudah di bawah Rp 5 jeti yang merk El-Ji. Bisa juga lebih murah kalau pakai monitor flat komputer 19 inch cuman Rp 1.5 jeti dan cuman perlu ditambah TV tuner…

    Wah..bener tuh mas, pensiun kudu disiapkan dengan baik. Bukan masalah “teweot” saja yang penting, tapi yang lebih penting masalah merasa masih penting karena masih bisa bekerja…

    O ya mas, pagi ini aku tadi baru bersepeda lipat 3 km, agak susah payah nafasnya, maklum Seli (sepeda lipat) tanpa perseneling, soalnya jalannya dekat rumahku naik turun…

    Reply

  24. totok
    Apr 07, 2009 @ 08:20:48

    Lah, aku perlu kasih masukan soal tulisannya Cak tri, pensiun biar merasa masih penting. Menurut aku perlu ditambah, karena kita masih bisa berbuat sesuatu. Penting atau tidak penting nggak soal, sebab penting bagi siapa dulu dong.

    Kalau bagi kita ya penting dong, nyambung hidup agar lebih hidup.

    Sebab pengalaman kita sudah puluhan tahun, bisa kita terapkan di profesi sambungan apa pun. Misalnya ketika aku buka warung makan di Malang untuk anak kost, ada yang pakai sistem bayar did epan. Biar lebih murah tapi dapat uang cash dan fresh from the pocket he…he.

    Itu salah satu contoh manajemen kec il, bagaimana ngakali agar dapat modal.

    Yah, termasuk sekarang, ternyata saya juga banyak ide yang terserap dari obrolan dengan Cak Tri he…he. Nyerap ilmu lah yaouwww….

    Reply

  25. amif nur'aisyah
    Oct 25, 2010 @ 14:08:11

    ya aw0h. Bpak2 ki lucu eram umungane. . . .suwun,kulo terhibur. Salam manis dari dhek aisyah tulungagung

    Aisyah,
    Hehehehe….syukur, dik Aisyah merasa terhibur…jadi posting itu ada gunanya juga….hahahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: