What is the color of your parachute ?

Judul tulisan ini mengingatkan saya akan judul sebuah tulisan di majalah Reader’s Digest sekitar tahun 1980an dulu. Mungkin bahasa Inggris saya pada waktu itu belum semantap sekarang, jadi saya belum juga “ngeh” apakah arti judul itu ya ?

Nah, musim jelang Pemilu seperti sekarang ini boleh dong kalau saya bertanya “Apa warna anda ?” Maksudnya mungkin, warna apa yang kelak akan anda contreng (bukan coblos lho) di hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti ? Hijaukah, kuningkah, birukah, merahkah, putihkah, marunkah, hijaumudakah ?

Dari pengalaman Pemilu-pemilu sebelumnya, saya yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta, selalu diberi 3 surat suara untuk Wakil Rakyat (DPR, DPRD Jawa Barat, DPRD Kota Bekasi) dan 1 surat suara untuk Wakil Daerah (DPD mewakili Jabar)..

Nah, karena diberi 3 pilihan, maka biasanya saya memilih tidak hanya dan tidak harus satu warna saja : misalnya putiiiih semua, atau kuniiiiiing semua, atau meraaaaah semua, atau biruuuuu semua…

Di Pemilu yang lalu, saya memilih “buah semangka”, yang hijau di luarnya dan di dalamnya…….

Ah, situ mau tau aja sih !!!

Tapi yang heboh waktu Pemilu 1987 karena waktu itu saya lagi tugas belajar ke Amerika Serikat. Seminggu sebelum di Indonesia dilaksanakan Pemilu, saya sudah dapat 1 amplop berisi kartu suara dari KBRI Washington, DC. Dan segera surat itu saya buka, 2 kertas suaranya saya coblos (waktu itu masih mencoblos, dan karena LN termasuk DKI maka saya hanya dapat 2 surat suara) dan segera saya masukkan amplop berperangko yang sudah saya sediakan, dan saya drop dari “chute mail” di lantai 4 tempat saya tinggal, dan mungkin surat itu akan jatuh di kantong pos di lantai 1, dan segera dikirim kembali ke Washington DC..

Jadi, siapa bilang Pemilu dilaksanakan di hari yang sama ? Saya, 22 tahun yang lalu, seminggu sebelum Pemilu bahkan sudah mencoblos…

Dan I’ll tell you what, mencoblos duluan itu rasanya sangat ueenaaaakkkk….hahahaha…

34 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Mar 22, 2009 @ 20:30:00

    Hueeenak itu kan liat-liat yang dicobloslah. Kalau mencoblos partai, mana enaknya sih. Coba bayangkan, berapa banyak legislator kita yang masuk bui gara-gara korupsi sekarang ini.

    Saya tidak menganjurkan sebagai golput, tapi untuk saya pribadi, kalau saya mencoblos (mencontreng) enak di situ ndak enak di saya.

    Bayangkan, saya harus siap pagi-pagi untuk ke TPS, jalan kaki lagi. Mending pilihan lurah, konstituen ada yang disewakan bus, agar nggak perlu jalan kaki ke TPS.

    Belum lagi banyak caleg yang motivasinya cuma agar dapat pekerjaan dan dapat gaji 5 tahun, lumayan. Saya pernah baca salah stau di media Jatim, ada daerah yang 70 persen calegnya nggak punya npekerjaan tetap. he…he…he.

    Belum lagi kalau yang kita pilih jadi. Mereka yang dapat bayaran tiap bulan, dapat tips untuk ngedog salah satu peraturan. Dan lain-lainnya, pasti mereka merasa mak nyusssss.

    Cak-e Totok,
    Wah…nyoblos atau nyontreng itu HAK sebagai warganegara lho, yang mestinya kudu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bayangkan, kalau anda tidak punya hak nyoblos di Pemilu, seperti yang dialami saudara kita kulit hitam di Amerika Serikat sebelum tahun 1963… Bayangkan, kudu membayar pajak tapi pas waktu Pemilu tidak boleh atau tidak berhak nyoblos…apa nggak sakit tuh ?

    Makanya usahakan datang ke TPS…sekedar menghormati hak itu. Masalah di TPS nanti semua orang situ coblos (terutama caleg yang cantik-cantik…hehehe…)…lha itu masalah situ….;-)

    Emang idealnya pilihan partai cuman 5 di Indonesia ini. Dan daftar caleg nggak usah dijentreng kayak orang kurang kerjaan gitu. Bayangkan, nanti waktu Pemilu saya hanya memilih SATU SAJA dari 36 x 12 = 432 pilihan caleg !!!! Ya, hanya memilih satu dari 432 pilihan !!! Apa nggak bingung tuh, walaupun 432 pilihan tuh secantik bintang Hollywood atau Bollywood atau Multivisionwood semua…hahaha…

    Memang bangsa kita itu konyol : jumlah bank kebanyakan (idealnya cuman 10 bank saja), karena ada ratusan bank di negara kita. Jumlah partai juga kebanyakan, mestinya cuman 5 saja atau maksimal 10 saja seperti Pemilu 1971 kalau nggak salah…

    Memang bener kata sampeyan, banyak penganggur yang pengin jadi caleg di negara kita, makanya untuk DAPIL saya saja ada 432 caleg !!! Masyak ampyun-ampyuuuun……

    Reply

  2. edratna
    Mar 22, 2009 @ 21:09:23

    Sekarang mencontreng…..untuk pertama kalinya. Dan masih bingung, lha banyak banget

    Kata TVOne, mencoblos gambar partai juga sah kok…maklum, rakyat kita kan belum biasa mencontreng… karena mencontreng itu rasanya kurang afdol, gitu…

    Iya, masak kita disuruh milih SATU SAJA dari 36 x 12 = 432 caleg !!! Wah…ini benar-benar gilaaaa !!!

    Reply

  3. rumahagung
    Mar 22, 2009 @ 22:32:20

    38 partai nasional + 6 partai lokal aceh.
    wadohhh….
    milih partainya aj bingung.
    apa lagi calegnya…
    hahahahahhaha..!!

    pdhl sejak SMA,
    saya mendambakan pemilu indonesia yg cm 2 atao 3 partai saja.
    hehehehehe..!!

    Reply

  4. alris
    Mar 23, 2009 @ 01:14:16

    Saya juga tidak menganjurkan untuk golput. Bener kata pak Totok, saya contreng enak disitu gak enak disaya. Saya nanti berlaku adil aja untuk pemilu legislatif, tak contreng semua lambang partai. Untuk pilpres saya akan contreng satu caleg aja, untuk yang satu ini saya harus berpihak sebagaimana pilkada.

    Reply

  5. totok
    Mar 23, 2009 @ 13:11:16

    Memang, saya kan anjurkan jangan golput. Tapi kalau dicontreng semua kan boleh-boleh saja.

    Di Indonesia cak, ada 2 macam hak. Hak yang harus diperjuangkan, kalau perlu sampek matek. dan yang satunya hak yang harus dikejar-kejar. Misalnya hak yang sudah diatur dalam undang-undang, tentang pekerjaan, kesejahteraan etc-etc., itu hak yang harus diperjuangkan. Sedang hak yang satu ini, kita malah dikejar-kejar, disuruh-suruh……. Bahkan kalau perlu setiap detik diiklankan di tipi, agar kita memakai hak yang satu ini, yaitu nyontreng. Itulah hebatnya Indonesia.

    Saya, dan tentunya anak cucu kita merindukan pemerintah mengejar-ngejar kita pakai iklan segala, ”Hai rakyat Indonesia, ini lho pekerjaan, jangan nganggur. Nganggur itu nggak bagus, karena itu anda harus kerja dan pemerintah sudah menyiapkan lapangan kerja untuk Anda.”

    Udah nggak ada lapangan kerja, yang mau berusaha (misalnya Pedagang kaki Lima) diuber-uber trantip. Usaha belum apa-apa sudah disodori dan ditanya NPWP etc..etc.

    Untung Uda Alris jualan selimut Jepang nggak dikejar-kejar trantip. Paling-paling dikejar operator internet kalau ngutang he….he…he

    Cak-e Totok,
    Wah…jadi seru nih beda antara hak dan kewajiban.. Nek ngge aku dewe, biasane aku dengan antusias nyoblos neng Pemilu karena waktu itu satu-satunya kesempatan untuk merasa punya kekuasaan : coblos sana, coblos sini…

    Mungkin kerosone dadi bedo sakwise ora nyoblos ning nyontreng. Itupun nyontreng nama orang lan partai, padahal awake dewe kan ora kenal karo uwonge sing dicontreng mau. Lha salah sijining jalan keluar yo contreng wae partaine, dudu uwonge…

    Miturut aku salahe wong Indonesia nggawe partai cik akehe lan jumlah caleg ugo cik akehe. Mungkin yen nyoblos partai thok, uwong gak ngeroso terbebani…

    Tapi ngeroso terbebani iku normal kok, soale neng kampus aku ngajar mata kuliah kuwi, jenenge “Interaksi Manusia dan Komputer” (IMK)….

    Reply

  6. simbah
    Mar 23, 2009 @ 14:15:39

    Nek nyonteng caleg aku sik mbingung….mengko nek wis tak pilih njur korupsi trus priye….bukannya prasangka-buruk tapi nyatane…? Nek president, jelas aku nyawang satrio-piningit sing wis katon trek-rekorde….
    -> Priye dik Yon….?

    Simbah,
    Pancen sing dak delok soko Tipi kiro-kiro 80% calon pemilih arep ming nyontreng parpol wae lan ora nyontreng calege. Soale kan rodo kagok nyontreng caleg ning ora kenal karo calege (enak di situ nggak enak di sini, kata Cak Totok)…

    Masalah nyontreng Presiden neng Pemilu Juli mengko, mengko wae dibahas. Sing penting melu Pemilu legislatif disik. Tapi yen sampeyan nate moco buku karangan Machiavelli, sebaik-baiknya dan sesukses-suksesnya pemerintah, rakyat jelata penginnya mengganti pemerintah karena dengan cara ini rakyat jelata memandang masa depannya akan lebih cerah karena menaruh harapan baru pada pemimpin baru….

    Reply

  7. totok
    Mar 23, 2009 @ 18:52:55

    Yo wis, kalau gitu pemerintahan kita ganti, kita contreng partai baru saja agar punya harapan baru he….he…. Soale sing lama, kayaknya sih, nggak sukses ya….

    Harapan baru itu bisa lebih baik, tapi juga bisa lebih parah.

    Cak-e Totok,
    Aku nggak bilang begitu lho. Saya baca buku karangan Machiavelli yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahwa “rakyat jelata” (people in the street) “cenderung” pengin mengganti pemerintahan karena dengan demikian mereka “merasa” akan mempunyai harapan baru…

    Menurut saya “hukum Machiavelli” itu kuat banget ibarat Hukum Newton di Fisika…

    Benar atau salah, kita tunggu sampai akhir Juli 2009…hehehe…

    “Harapan” menurut rakyat jelata tadi so pasti harapan yang lebih baik. Kalau harapan yang lebih buruk, namanya adalah “keputusasaan” sebagai lawan kata dari “harapan”…

    Reply

  8. alris
    Mar 23, 2009 @ 21:21:48

    Aku sih nek pemilu legislatif tetep pada pendirian adil, semua partai kebagian, jadi tak contreng kabeh. Kalo contreng cuma satu doang enak disitu gak enak di gua, wekekeke…

    Saya merindukan apa yang dibilang pak Totok, ”Hai rakyat Indonesia, ini lho pekerjaan, jangan nganggur. Nganggur itu nggak bagus, karena itu anda harus kerja dan pemerintah sudah menyiapkan lapangan kerja untuk Anda.”
    *dasar pikiran unemployment*

    Satu lagi yang saya rindukan, saat anak saya tamat sekolahnya nanti dia tidak merindukan jadi jadi ambtenaren atau werknemers in de particuliere sector. Saya rindukan dia jadi usahawan supaya gak kena phk kayak bapaknya, hehehe….

    Reply

  9. totok
    Mar 23, 2009 @ 22:06:25

    UDA ALRIS :
    Orang Jawa bilang ngudoroso, artinya ngelantur sendirian. Misalnya begini: Seandainya aku jadi presiden, semua sektor pekerjaan dibuka.

    Mental orang Indonesia yang ambtenar minded, harus dibrantas. Sebab yang namanya pekerjaan bukan hanya jadi PNS, bukan yang kerja kantoran aja.

    Coba tengok Pasar-Pasar di mana saja, toh para pedagang bisa hidup layak. Coba tengok pedagang kaki lima, mereka kalau diberi tempat usaha bisa menghidupi anak istri plus nyekolahin anaknya.

    Sayangnya, masih banyak pejabat kita yang sok bersih. Kota harus bersih, PKL digusur karena mengganggu pemandangan, tanpa memberi solusi tempat memadai.

    Coba tengok juga Om Bob Sadino, bisa begini dari jualan telur beberapa biji. Sekarang punya kemchick, punya flat mewah yang tiap saat diiklankan di tipi.

    Banyak contoh usahawan sukses kita yang berangkat dari nol. Mereka bisa kita jadikan contoh. Jadi jangan matikan usaha kecil semacam PKL. Kalau aku jadi presiden, setiap kota harus menyiapkan lahan untuk PKL dan dipromosikan agar mereka juga hidup.

    Eh,…akhirnya ngelantur beneran he…he

    Cak-e Totok,
    Miturut “guruku” Pak Lee Kuan Yew sokok negoro Singo (Singopuro), pemerintah sing becik kuwi mikirne 10% tertinggi ing populasi (wong sugih-sugih) lan mikirne ugo 10% terendah ing populasi (wong mlarat-mlarat). Yen isok koyo mengkono, wah jan ndonya iki panggonan sing apik kanggo urip sakabehing manungso..

    Pemerintahe awake dewe sithik-sithik ngomong “Pro Poor, Pro Jobs, Pro Growth” sing meh podho karo sing disampekno karo Pak Lee mau, ning opo yo iyo kabeh kuwi mau wis kedaden neng Indonesio kito tercinto iki…hehehe…

    Reply

  10. totok
    Mar 24, 2009 @ 11:43:14

    Lhadalah, yen sampean nulis “Pro Poor, Pro Jobs, Pro Growth” mesti saben dino melototi baliho nang pinggir dalam.

    Terus isih ono tambahan : Waktunya rakyat bicara. Yo ngomongo thok wae, contone korban lapindo bengok-bengok iku lak yo mergo ”WAKTUNYA RAKYAT BICARA”, silahkan bicara, soal ditanggapi atau tidak urusan nanti Bung.

    Ada lagi ”WAKTUNYA RAKYAT BERDEMOKRASI” alias antem-anteman dewe atas nama demokrasi.

    ada lagi ”WAKTUNYA RAKYAT BERDAULAT”, nah ini dia, aku gak ngerti karepe. Opo mungkin karepe caleg, silahkan berdaulat untuk memenangkan saya he…he…

    kokm aku belum ketemu slogan, ”WAKTUNYA RAKYAT SEJAHTERA”, soale sing sejahtera pasti caleg nek dadi. Dadi durung wani nggawe slogan iku cak.

    Mugo-mugo cak, pilihan presiden utowo pilihan legislator iku isok dadi setahun pisan. Sebab biar rakyat nggak kesulitan cari minyak tanah lagi. Saiki penak cak, setahun sebelum Pilpres, minyak tanah jan gampang golekane, nang tonggo cidek wis onok. Lha sak durunge kae, akeh wong kalungan jerigen mideringrat (alias muter nang ratan) golek sing jenenge minyak tanah.

    Saiki wis adem ayem, mungkin bapak-bapak kita sudah nggak lagi kebebanan pikiran gimana nanti kalau minyak bumi habis. yang penting tebar pesona, agar rakyat gak kebingungan kalungan jerigen. Mbuh maneh mengko nek wis dadi,….hahahahaha

    Cak-e Totok,
    Sing aku durung ngerti, memoryne rakyat jelata itu pendek atau panjang. Nek memory pendek, ya yang kemarin kalungan jerigen kemana-mana nyari minyak tanah susahnya setengah mampus, itu juga bakal nggak keinget. Lha wong apa yang terjadi hari kemarin saja sudah tidak ingat…Lha dha lah berbahaya mempunyai rakyat seperti ini karena nggak pernah belajar dengan apa yang telah terjadi sebelumnya…

    Lha nek memory ne rakyat itu panjang, dan ingat selalu apa yang terjadi di 5 tahun sebelumnya, lha enak kita karena rakyat sudah bisa belajar apa yang terjadi kemarin sampai 5 tahun yang lalu, sehingga kalau lain kali membuat pilihan ia akan membuat pilihan yang “maknyusss..” dan bukan pilihan yang “brebet..brebet..brebet…”…

    Reply

  11. simbah
    Mar 24, 2009 @ 17:03:05

    Poro sedulur,….Anda barangkali pernah tahu pemkot mana saja di Nusantara yang tidak pernah menggusur dan mengobrak-abrik PKL atau sebangsanya…?
    Setahuku hanya kota Ngayogyokarto Hadiningrat dan Surakarta saja, yang mengorangkan harkat orang kecil. Neng mbediyun dewe kadang-2 pamongpraja malah ngamplengi tukang dodol neng pinggir trotoir…lah….?

    Simbah,
    Setahuku mung Walikota Solo sing ngajak ngobrol lan ngajak maem enak pedagang2 kecil neng ngarepe keraton Solo, maem enak beberapa kali sampek wong2 cilik mau gelem yen arep “ditoto” lan “dipindah” tanpa dikongkon…

    Dadi ketoke Tramtib neng Solo gak patiyo angel kerjone…

    Reply

  12. totok
    Mar 24, 2009 @ 18:33:46

    Memori kita terkadang ilang gara-gara dikasih angpao 20 rebu sampai 50 rebu. Dadi nek onok caleg moro menehi angpao, yo iku sing dipilih.

    Makane cak, poro caleg sing sok dolan nang kantorku, termasuk konco-koncoku dewe sering ngobrol, nek gak duwe duit ojo ngimpi dadi legislator.

    Jadi nek tak delok perbedaane antare caleg kawakan karo caleg anyaran. Caleg kawakan diem duduk manis di rumah, sing mlaku duite. Lha caleg anaran, mlaku nggawe sikile, sampek nang tipi onok berita caleg ngamen barang.

    Opo nek ngono iku berarti ”MERAKYAT”??? Tak kiro yo ora cak, mergo gak duwe duit.

    Lha nek sampean isih bingung memorine rakyat jelata panjang opo pendek, bingung maneh nek nontok memoriku. Ora panjang ora pendek he…he.

    SIMBAH :
    Bener Mbah, Yogya dan Solo memang surganya PKL. Sehingga kota Solo iku predikate kota tak pernah tidur. Dadi wong luar kota nek nang Solo, kapan saja ndak perlu kawatir kaliren.

    Aku nek nontok tipi penggusuran PKL rasane trenyuh cak. Soale aku dewe yo tahu dadi PKL sing tau diuber-uber. Gak trantib gak preman podo wae. Nek trantip nggawe uniform, nek preman uniform-e tato sekujur badan..

    Dadi nek dirinci sing diadepi PKL dalam sebuah siklus kehidupan malam sbb:

    1. Petugas plengser, ngekeki karcis. Setiap PKL ditarik sewu repis, tapi karcise paling cumak 5 lembar alias 500 repis.
    2. Preman, PKL arep bukak anyaran ditekani preman, ngomong nek panggonan iku termasuk wilayah kekuasaane. Ngomong ngalor ngidul ujung-ununge njaluk persenan saben bengi.
    3. Plengser karo Preman mari, ganti trantip atas nama Perda nomor sekian jo sekian, Anda dilarang berjualan di daereah ini. Trus diobrak.
    4. Begitu diobrak, PKL golek panggonan liyo maneh, akhire kembali lagi ke siklus 1,2, 3 dan seterusnya.

    Itu lho cak nasibe rakyat kecil kita. Padahal mereka itu sebagian besar juga korban PHK. Duwe anak bojo, opo maneh anake sekolah. Cobo nek sampean nang laut sekalian mbayangno di antara riak gelombang he….he.

    Padahal sing jenenge walikota iku, kampanyene mesti demi wong cilik. Mestine, mereka itu nggak perlu mikir pusing-pusing. PKL dikasih tempat saja, gak kawatir diobrak, sudah bisa hidup.

    Madiun saiki lumayan. Aloon-Aloon karo halaman luar Stadion Wilis digawe lahan PKL. Akus ering ngopi mrono, mereka seneng, paling tidak sehari bisa bawa pulang duit resik 40 ewu. nek pas malam prei isok sampek 100 ewu. Padahal cumak dodol kopi karo sego jotos.

    Makane cak : Rakyat kecil ndak perlu dikasih BTL, kasih saja lahan untuk usaha kecil-kecilan. Mereka bisa hidup, lebih survive ketimbang kebanyakan pegawe.

    Reply

  13. Prihadi Setyo Darmanto
    Mar 24, 2009 @ 20:23:30

    Yon. wah diskusi nyontrengnya memanjang melebar dan sesudah membaca hatiku malah ikutan trenyuh membayangkan nasib rakyat yang kurang beruntung. Apa ya yang bisa kita lakukan? Barangkali sering membeli dagangannya yach untuk memutar ekonomi? Salam, prihadi.

    Mas Prihadi,
    Iya bener nih Mas Pri. Sing paling penting adalah empati kita terhadap rakyat kecil harus ada, dari masing-masing pribadi kita atau dari masing-masing keluarga kita..

    Masih ingat kan, mengapa dulu Presiden Suharto pengin kita libur di hari Sabtu, katanya “agar para pegawai dapat pergi ke luar kota, ke desa-desa dan membeli hasil bumi dan hasil karya penduduk desa”…itu dulu mas. Sekarang apa yang terjadi ? Yang terjadi setiap hari Sabtu penduduk Jakarta pada tumplek blek ke kota sampeyan untuk memborong baju dan pernik2nya di FO-FO yang ada. Untung di FO Jalan Riau aku lihat banyak pedagang kecil (penjual es krim, misalnya) pada ikut kebagian rejeki…

    Akhirnya, kalau pemerintah kita di tingkat apapun (kota, kabupaten, propinsi, nasional) pada punya empati kepada wong cilik, pastilah wong cilik juga ikut sejahtera hidupnya…

    Apa yang harus kita lakukan ? Menurut saya, mari gunakan hak pilih kita di tanggal 9 April 2009 nanti sehingga bener-bener bisa milih partai (atau calegnya) yang kira-kira “full proof” bisa mengangkat derajat wong cilik…

    Satu kali contrengan, bisa mengubah dunia…

    Gitu mas, kira-kira…

    Reply

  14. alris
    Mar 24, 2009 @ 22:52:55

    PRO PAK TOTOK :
    Iya,pak Totok. Kadang saya suka ngudoroso. Tapi mending ngudoroso, dari pada ngelantur ngajak orang lain seperti baliho caleg.
    Saya beruntung pak sempat jadi PKL di Tanah Abang sebelum jadi travailleurs du secteur privé kata orang perancis. Jadi begitu kena phk memory dan jejak pengalaman survive waktu awal-awal di Jakarta kembali bisa digunakan. Coba kalo saya mengandalkan hidup dari katabelece, begitu kena phk pasti udah sutris duluan.*eh kok jadi curhat begini hehehe…*

    PRO PAK TRI :
    Terima kasih, blog sampeyan udah jadi media curhat, debat, argumentasi, nostalgia, informasi dan bahkan juga woro-woro, wakakaka….

    Uda Alris,
    Gak apa-apa kok, blog ini buat nampung uneg-uneg temen-temen, berdebat, dan bernostalgila. Maklum, Simbah alias Mas Didiek itu sudah temen saya sejak kelas IV SD (1967)belajar nari Hanoman di rumah saya dengan Guru Pak Sarmo..
    Dan Totok itu temen sekelas saya sejak kelas 1 SMP 2 (1970) dulu, dan paling banyak nyimpan rahasia pribadi saya, lha kalau nggak dibolehkan komentar di Blog ini nanti rahasia saya kan bisa dikirim ke Infotainment…hehehehe….

    Mengenai “jatuh bangun”, orang terkuat bukanlah orang yang tidak pernah jatuh. Orang terkuat adalah orang yang jatuh dan bisa bangkit kembali…

    Eee…ngomong2, Uda jadi ketemu artis Anita Sarawak nggak ?

    Reply

  15. totok
    Mar 25, 2009 @ 09:08:44

    Yes, bapak-bapak memang bener. Untuk mengentas kemiskinan sebenarnya tidak mesti dengan ide besar. Cukup ide yang kayaknya kecil, lbur Sabtu trus disarankan berlibur ke desa, akhirnya terjadilah perputaran keuangan, sehingga rakyat miskin pun bisa menikmati.

    Sebab, kalau dihitung, agar bisa hidup, rakyat miskin nggak perlu duit puluhan juta. Di desa, rata-rata penghasilan 20 rebu /hari sudah bisa hidup.

    Soalnya rakyat desa, untuk makan dapat mengandalkan alam. Mau nyayur terong gak perlu beli, mau daun ketela, daun pepaya, daun kenikir tinggal ambil. Mau protein tinggal nabur benih lele. Kurang apalagi.

    Jadi sekarang ini uang 23 triliun untuk BLT, menurut saya jelas membodohi rakyat. Rakyat sudah diajari untuk menadahkan tangan, dan selalu berharap ada bantuan pemerintah.

    ”PAKAI PRODUKSI DALAM NEGERI” hanya sekadar slogan. Kenyataannya, beli jeruk saja mereknya Lokam, sementara kayak jeruk Pulung dibiarkan modar dimakan virus CVPD.

    Bener tuh ketik azamannya Pak Harto, saya masih jadi wartawan. Tiap Sabtu pejabat Pemprov Jatim diajak gubernurnya mengunjungi desa, back to village. Di situ segala macam produk desa bisa terjual. Dan itu diikuti semua bupati di wilayah masing-masing. Jadi, lumayan, biar cuma seminggus ekali, dagangan wong ndeso laris manis.

    Dampaknya, mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas produk mereka. Misalnya Jenang Ponorogo yang biasanya segede bantal, terus dibikin kecil dikemas secara manis, sehingga orang yang beli tinggal ngemplok, nggak perlu tangannya gubrat jenang.

    Itu ide kecil, tapi hasilnya besar.

    Cak Totok,
    Ide kecil lainnya, kalau kita mau makan, lebih baik nggak usah masak sendiri tapi beli dari bakul jajanan yang lewat pakai gerobak, pakai angkring, atau dipikul…

    Kalau isteri saya lagi ke luar kota, misalnya ke Malang untuk bimbingan dengan Profesornya, maka di rumah aku lebih baik nggak masak tapi beli bakul-bakul yang lewat depan rumah saya : ada sate madura, sate padang, bubur ayam, soto ayam, siomay, bakwan malang, bakso, cemoe, sekoteng, bajigur, dsb.. Kebetulan jalan di depan rumah saya hampir setiap 10 menit ada bakul-bakul yang lewat, jadi tinggal nyegat…

    Rata-rata semangkok harganya Rp 5.000, untuk bertiga lebih murah beli daripada masak sendiri karena bisa kecapaian belanjanya, masaknya, nyuci peralatan masak, nyuci piring. Kalau jajan, ya tinggal pesan, makan, bayar, mangkoknya ditinggal di tempat cucian buat dicuci sama mpoknya besok pagi…

    Gerakan kembali ke desa setiap Sabtu, memang bisa membeli produk-produk pedesaan, yang pada gilirannya petani sejahtera….sehingga cita-cita kita menciptakan bumi yang bisa dinikmati hidup dan kehidupannya oleh semua orang penghuninya…(the earth, the best place to live for all of us..)..

    Reply

  16. totok
    Mar 25, 2009 @ 17:53:20

    Nah, seandainya para pejabat kita, para ambtenar kita, para wakil rakyat kita, dan kita-kita semua, punya pikiran seperti cak Tri, maka berbahagialah orang kecil, seperti bakul-bakul tadi.

    Slogan wong cilik melu gumuyu itu gampang. Soalnya wong cilik bisa tertawa kalau dagangannya hari itu habis terjual. Sebab dari situ dia bisa kulakan lagi, dia bisa beli beras lagi, bisa menyisihkan untuk sekolah anaknya lagi etc…etc.

    Dan itu haruslah dari empati kita-kita yang, minimal mampu membeli dagangan mereka. Saya sering ngelus dada ketika di Malang, melihat waralaba Amerika dijejali pengunjung yang rata-rata naik roda empat. Sementara di sisi lain, ada bakuil mie ayam yang suntuk menunggu pembeli.

    Hanya permasalahannya, saya kok nggak yakin kalau temen-temen kita yang sudah hidup nyaman di perumahan dinas DPR RI, mau menyempatkan diri (lagi) makan-makan ke kaki lima.

    Sebab yang saya tahu, saya punya tetangga, baru jadi anggota DPRD saja, makannya sudah di McD, di Pizza dan makanan yang nggak pernah mampir di lidah mereka sebelumnya.

    Makanya saya agak sarkastik bilang, caleg yang bondo dengkul, kalau sudah jadi legislator pasti mereparasi dan merenovasi dengkulnya menjadi shock breaker plus velg rising lengkap dengan ban tubeless-nya. Sebab katagori yang ini, sudah termasuk kere munggah bale he…he. Kapan lagi bisa naik mobil…..

    Makanya cak, gerakan kembali ke desa memang layak digalakkan. Sebab itu langsung menyentuh kehidupan rakyat, itu juga membuat rakyat termotivasi untuk membuat produk khas desa yang layak jual. Diversifikasi menu pun bisa digalakkan, ketela pohung dibikin menu sesuai desa itu, dikemas yang cantik dan menarik.

    Mugo-mugo cak, Pak SBY moco blog sampean iki. Dadi deweke gak perlu ngetokke duit 23 triliun gawe BLT, terus nang tipi ketok masyarakat kita antri sampek semaput. Itukah kebanggaan SBY????

    Opo maneh saiki lawan politike ngritik nek BLT berbau kampanye, mergo dibagi menjelang Pemilu. Penilaian seperti itu wajar, meski SBY membantah. Sebab kalau kita nalar, kemungkinan kesitu kan mesti ada he….he….. kancil digoblokin.

    Cak Totok,
    Ya mudah-mudahan gerakan “mari kembali ke desa membeli hasil produksi petani di desa” bisa segera diwujudkan oleh pemerintah di segala tingkatan, oleh tokoh masyarakat, termasuk oleh guru2 di sekolah..

    Memaksa wakil rakyat juga kembali ke desa pada hari Sabtu tentu tidak mudah, makanya pilih wakil rakyat yang bener…yang track record-nya bagus dan empatinya untuk rakyat kecil besar…jangan milih wakil rakyat yang abal-abal…

    Saya kira tidak hanya Presiden SBY yang harus membaca blog dan posting ini, semua calon presiden yang akan menantang SBY di Pilpres nantipun juga wajib membaca blog ini…

    Mengenai BLT (Bantuan Langsung Tunai atau Unconditional Cash Transfer, UCT) sebenarnya sudah mau diubah menjadi BLB (Bantuan Tunai Bersyarat atau Conditional Cash Transfer,CCT) karena tahun 2008 kemarin saya hampir dapat Proyek dengan judul CCT yang dibiayai oleh Uni Eropa…

    Masalah CCT ini, baiklah kita mengaca ke Singapore. Di negara pulau itu banyak kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah tua renta masih bekerja membersihkan WC di kampus-kampus sampai stasiun-stasiun MRT. Saya tanya ke seorang teman Singapore, mengapa begitu ? Jawabnya, soalnya kalau si kakek atau si nenek tidak kerja, maka dia tidak dapat “gaji” dari pemerintah alias gigit jari saja kalau tidak bekerja…

    Orang tidak bekerja diberi uang seenaknya itu jelas kebijakan ngawur, seperti kata pepatah “Jangan berikan ikan, tapi berilah pancing” rupanya tidak pernah didengarkan oleh pemerintah kita yang sekarang ini…beginilah jadinya…

    Reply

  17. totok
    Mar 25, 2009 @ 21:28:43

    Ini berita menarik, nek proyek sampean goal, he…..he, aku lak yo termasuk orang yang layak mendapatkan to. Aku kan termasuk kakek-kakek, tapi nggak mau bersihkan WC, tapi memperluas teknologi informasi ke pedesaan, he….he

    Cak-e Totok,
    Forget it ! Saya sudah gagal mendapatkan proyek itu tahun lalu (coba baca deh “saya hampir mendapatkan proyek itu tahun lalu”). Akhirnya saya dapat proyek OSS (“One Stop Service” atau “Pelayanan Satu Atap”) seperti yang terjadi di Kab. Sragen itu…

    Dan saya nggak tahu siapa yang ngerjain proyek CCT itu. Tapi yang jelas sampai sekarang CCT tidak pernah dipakai, makanya UCT atau BLT jalan terus sampai sekarang, bahkan sebelum Pemilu Legislatif malah secara demonstratif masih dibagikan…

    Reply

  18. alris
    Mar 26, 2009 @ 00:36:50

    PRO PAK TRI :
    Saya belum jadi ketemu Anita Sarawak, bukan jodoh saya pak. Sekarang lebih baik membentuk jaringan pemasaran japanese blanket, ini yang sudah nyata. Pak Totok ikut membantu memasarkan di mBediyun dan Malang. Btw, orang minyak biasanya gak rewel dengan harga untuk barang dengan kualitas bagus. Saya memimpikan untuk bisa masuk memasarkan selimut lewat orang dalam ke perusahaan minyak. Pak Tri bisa bantu?

    PRO PAK TOTOK :
    Sesuatu yang besar emang dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Sole Agent selimut jepang ini dulunya karyawan Astra dengan jabatan terakhir di pabrik mobil Asisten Manajer Perencanaan. Kalau dia berfikir untuk kesejahteraan keluarga dia sudah sejahtera dengan gaji yang diberikan oleh perusahaan tempat dia bekerja dulu. Dia mulai memasarkan produk selimut jepang dengan menawarkan ke rekan-rekan kerjanya. Seiring perjalanan waktu, kegigihan dia berusaha dan ridho Allah swt tentunya, dia berani meninggalakan zona nyaman dan karir yang sudah dijalaninya belasan tahun untuk berusahan sendiri.
    Jadi andaikan proyek CCT pak Tri gol saya juga mau minjem duit nih buat modal membesarkan usaha selimut jepang dan belut setengah kering, hehehe…
    Semoga blog ini dibaca oleh SBY, JK, capres, caleg. Pak presiden, mbok duit 23 T dibuat untuk modal bergulir jangan dihamburkan blasss… Bapak saya, waktu saya kecil, kebagian memelihara sapi banpres dibuat modal bergulir. Kalau sapinya sudah beranak dua, induk dan satu anaknya dikembalikan lagi ke pemerintah desa untuk digulirkan ke yang lain. Ini duit 23 T dibagi-bagi doang tanpa ada usaha dari sipenerima. Wah, ini bukan lagi ancor pese na telor. Tapi bisa ancur beneran, dek remma?

    Uda,
    Saya gagal mendapatkan proyek itu tahun lalu. Baca tulisannya “saya hampir mendapatkan proyek itu tahun lalu”

    Tapi saya berhasil mendapatkan proyek lain yang judulnya OSS (“One Stop Service”). Lumayan, cring cring nya berupa Euro..

    Tapi sudah habis buat mantu tahun lalu…habis babar blass….

    Reply

  19. totok
    Mar 26, 2009 @ 11:54:17

    Saya semalam baru melihat tipi acaranya BAROMETER, tapi menurut aku debat kusir para caleg.

    Nah dari Demokrat bilang bahwa BLT merupakan empati pemerintah kepada rakyatnya yang menderita. ”Nggak salah kan kalau pemerintah berempati kepada rakyatnya. Uang segitu buat kita nggak ada artinya, tapi bagi mereka berarti.” katanya.

    Nah disitu juga ditayangkan kampanye Megawati. Dia bilang ”Ibu-ibu yang berdempet-dempetan itu sudah menjatuhkan harga dirinya hanya untuk uang 200 rebu.”

    Saya hanya ngelus dada. Saya tidak apriori soal empati SBY. Tapi caranya memang menurut saya tidak mendidik.

    Mending seperti yang ditulis Uda Alris, rakyat dikasih bantuan bergulir seperti sapi Banpres waktu rezim Soeharto. 23 T bukan duit dikit, meski untuk ukuran negara cuman sak iprit. Tapi dengan empati secara jenius, dengan ide-ide brilian, akan membuat harga diri rakyat tidak tergadaikan.

    Saya sempat mengalami keterpurukan yang kondisinya lebih parah dibanding penerima BLT. Tapi saya tak mau menerima bantuan semacam itu. Mending saya berlangganan bank titil, meski bunganya mencekik. Tapi saya masih punya harga diri, karena saya masih punya tenaga dan pikiran yang bisa digunakan untuk memutar roda ekonomi keluarga.

    Berkat bank titil itulah saya sedikit demi sedikit bisa bangkit. Jadi menurut saya, pahlawan bakul-bakul kecil adalah bank titil. Bukan bank yang gedungnya megah-megah dengan lebel plat merah itu.

    Bank titil tak perlu gembar-gembor, petugasnya mendatangi bakul-bakul untuk ditawari modal, dan seminggu sekali diambil angsurannya. Ternyata rakyat kecil termasuk orang patuh. Buktinya nggak ada yang namanya bank titil bangkrut, atau agunanya nggak sesuai pinjaman dan nasabahnya kabur.

    Besar kecilnya pinjaman benar-benar disesuaikan track record nasabah, agunannya adalah kepercayaan. Aku pernah pinjam mulai Rp 200 rebu sampai dipercaya sampai 5 jeti, waktu jadi bakul pecel di Malang.

    Kalau orang nggak pernah merasakan jadi konglomelarat mesti bilang bank titil tak ubahnya rentenir. Tapi saya justru bilang, bank titil adalah pioner bagi kesejahteraan rakyat.

    Dengan pinjaman tanpa agunan, tanpa syarat bertele-tele, rakyat dapat modal agar bisa bekerja dan berusaha. Soal bunga tinggi itu wajar, sebagai ongkos resiko, dan rakyat tak perlu naik becak hanya untuk setor duit ke bank yang gedenya gak seberapa.

    Nah, nek sampean dapat proyek OSS atau sebangsanya lagi, koncone yo dilirik. Gak perlu dikasih, tapi cara bergulir tadi bisa dilakukan, karena kita masih tetap berkeringat untuk mendapatkan uang buat makan.

    Cak Totok,
    Berita koran-koran Jakarta hari ini, banyak rakyat penerima BLT ketika diwawancara juga merasa tidak enak antri panas-panas dapat uang Rp 200 ribu dan sampai rumah uang itu habis begitu saja. Sudah itu antrinya berdesak-desakan.. Yang lebih miris lagi, banyak orang yang tidak kebagian BLT padahal termasuk golongan pra-sejahtera…

    Bank Titil (untung pakai “l” bukan pakai “t”) memang umum di pedesaan. Bunga cukup besar tapi dijamin mudah dapat pinjamannya. Daripada bank pemerintah yang diawasi BI, merekapun juga tidak bisa seenak udelnya memberikan kredit kecuali bagi yang memenuhi persyaratan ini itu…

    Reply

  20. alris
    Mar 26, 2009 @ 12:57:01

    Mantaaap, saya setuju, pak Totok.
    Wah untung saya gak nonton acara yang pak Totok tonton itu, bisa sutris dan nangis saya mendengar argumen caleg yang tidak cerdas itu. Empati sih boleh aja siapa yang larang, –kan situ lagi pegang kuasa– tapi berempati dengan cara yang smart dong. Kalo caranya gitu gak beda dengan cara pemberian zakat fitrah yang dilakukan oleh salah seorang warga di jawa timur.
    Saya juga gak simpati sama mantan presiden yang kerjanya obral murah aset negara. Kalo dia berkuasa lagi bisa-bisa Indonesia ini digadaikan.
    Yang saya rindukan pemimpin seperti mantan perdana mentri malaysia, Mahathir Mohammad, yang punya empati dan kebijakan cespleng buat pribumi. Kalo pemerintah kita punya kebijakan buat pemodal. Contoh penggusuran pedagang tradisional di Pasar Koja Jakarta Utara. Bayangin orang lagi dagang di gusur pake buldoser dan beko (excavator).

    Wow..wow..wow…ketahuan deh, apa warna parasut yang Uda punya…. 😉

    Reply

  21. totok
    Mar 27, 2009 @ 11:41:53

    He…he…rasa-sayanya Cak Tri, yang komentar di sini semuanya nggak punya parasut. Jadi kayak iklan minuman di tipi kae lho, melayang tanpa parasut, ha…ha…. terjun bebas.

    Karena terjun bebas, maka ngomongnya ya sak enak udelnya sendiri. Nggak peduli yang punya parasut merah telinganya, tapi itulah salah satu suara rakyat.

    Bayangkan saja BLT 23 Triliun, itu kalau untuk menggerakkan ekonomi pedesaan dengan koperasi dan disalurkan untuk kegiatan ekonomis pasti lebih elegan dan membuat rakyat terhormat.

    Apalagi kalau pola kerja mengadopsi pola kerja bank titil, yakni jemput bola, nggak pake macem-macem agunan, trus setiap minggu ditagih, dilihat perkembangannya, pastilah ekonomi rakyat kecil akan bergerak.

    Contohnya : Jualan nasi pecel atau apa sajalah dengan modal 200 rebu, atau jualan pulsa bikin counter di rumah, sudah bisa kerja. Nah, seminggu sekali harus angsur, pasti bisa. Apalagi nggak pake bunga, cuma jasa saja untuk yang nagih.

    Sedang PNPM juga kita tahu, siapa yang dibantu. He…he…hepadune ora oleh…..

    Reply

  22. alris
    Mar 27, 2009 @ 13:58:16

    Warna parasut saya kayak pelangi. Saya belum nentukan pilihan. Yang jelas kalo pemilu legislatif saya contreng semua, adilkan, semua kebagian. Kalo pemilu presiden nentukan pilihan di kamar contreng, tapi ya kriterianya kayak saya sebutin dikomentar diatas.
    PNPM juga susah untuk mendapatkannya. Yang gampang ya, bank titil. Prosedur gak berbelit, garansi cuma kepercayaan. Lha, yang susahkan pemerintah gak percaya sama rakyatnya. Jadilah bank titil yang menaruh kepercayaan, dengan harga resiko bunga tinggi. Dek remma?

    Reply

  23. simbah
    Mar 28, 2009 @ 08:38:30

    Dik Yon,…! saya setuju uraian mas Prihadi, bahwa kita baiknya juga membeli penganan dari para bakul kecil. Tapi ada kendala, siapa bisa menjamin kalau masakannya higienes…? Meski dari segi rasa tidak kalah dengan masakan Hotel bintang-5…?
    Saya ingat almarhum Ayah, beliau meninggal sewaktu ada pageblug virus hepatitis-b, yang waktu itu dikenal dengan sakit kuning atau liver, lah penularannya lewat sendok, piring atau masakannya yang tidak bersih. Ayah sebagai pekerja lapangan suka mengudap di mana saja ada warung…disitulah kenanya.
    Saya pernah baca koran, didaerah Bogor para bakul jajanan diberi penyuluhan dari IPB cara memasak makanan yg higienes, jadi aman dimakan anak-2 maupun orang dewasa, bagaimana kota lain sudah ada yang meniru belum ya…? Sewaktu saya tinggal di Pd.Gede dulu, pernah jalan-2 ke perkampungan yang rata-2 penghuninya bakul gado-2 dan sate ayam, tapi memprosesnya…? Daging ayam yang telah disunduki dengan biting diletakkan begitu saja di lantai yang kotor, tanpa dialasi…alamaak….begitu juga mencuci sayur gado-2 dengan air seadanya….wah….
    Tapi herannya, sebelum tahu cara masaknya kok nggak sakit perut…
    Habis tahu itu makan ya milih-2 meskipun gak yakin juga…

    Mas Didiek,
    Itu tadi Mas Prihadi Setyo Darmanto, teman saya sekelas di 3Pas2 yang bergelar “Den Mas Ngabehi Loring Pasar” soalnya rumahnya di sebelah utara Pasar Nglames…hehe…

    Ya yang paling penting punya empati sama wong cilik. Kedua, yen bisa mbok yao sekali-sekali membeli produk yang dihasilkan wong cilik, bisa beli pisang dari kebunnya, jambu dari halamannya, ataupun kudapan yang dia hasilkan.

    Sebagai orang kota, kita memang mempunyai Sindroma Michael Jackson yaitu nggak mau sesuatu yang kotor-kotor dan jorok-jorok (padahal banyak orang yang pengin dipanggil “doktor”, padahal artinya “ngodok nu kotor-kotor”…hehehe…).. Makanya, makan yang di pinggir jalan juga nggak mau. Sebenarnya, cara memilih makanan pinggir jalan sih gampang, yaitu kalau yang beli berjibun dan berjubel so pasti di situ makanannya enak n hygienis. Lha kalau nanti kena penyakit, ya kenanya secara “berjamaah” gitu…jadi bukan kita sendiri yang kena…

    Orang Jakarta bilang, yang penting beli “masakan bintang lima dengan harga kaki lima”,,,,nah ini baru seru !

    Reply

  24. totok
    Mar 28, 2009 @ 09:30:09

    CAK DIDIK :
    Sampean betul cak. Itulah pentingnya bahwa masyarakat bawah juga diberi pengetahuan tentang kesehatan, kebersihan dan lainnya.

    Maka, kalau IPB sudah memulai, mestinya semua Perguruan Tinggi juga ikut ambil bagian dalam menyehatkan masyarakat ini. Sekarang di mana-mana ada PT, tinggalk bagaimana mereka mengetrapkan tri dharma perguruan tinggi, yang salah satunya (kalau nggak keliru lho ya, wong aku bukan mahasiwa he…he) juga pengabdian kepada masyarakat.

    Jadi setiap lini ada keterkaitan. Yang lain bengok-bengok agar makanan rakyat kecil dibeli agar dia bisa hidup, sementara yang satunya kasih penyuluhan agar makanan kelas bawah juga higienis, yang lainnya mikirin gimana agar mereka itu dapat modal agar bisa meningkatkan taraf kehidupan.

    Jadi menurut aku, semua pemerintahan bikin departemen-departemen memang untuk ngurusin banyak halk dan disatukan visi misinya. Jangan yang lahan basah saja diopeni.

    Apalagi kita lebih suka bikin gebrakan, tapi ya cuman gebrakan doang tanpa tindak lanjut. Contohnya, beberapa waktu lalu rame-rame soal bakso tanpa boraxs. Semuanya turun dan makan bakso, termasuk menteri. Tapi setelah itu, ya adem ayem lagi.

    Nah, akhirnya pengertian kawulo cilik yang memang rada-rada mepet itu begini ‘”Woww, boraxs nggak boleh kalau lagi operasi, kalau sudah selesai,….ya boleh lagi dong.”

    Tapi semua itu tetap ada keterkaitannya dengan pendidikan dan pola pikir. Contohnya : istriku sekarang di rumah jualan gorengan, lauk-pauk, dan sebagainya. Percaya nggak, dia nggak pernah pake minyak curah eceran, tapi minyak kemasan bermerek yang ada tulisannya non kolesterol.

    Dengan harga jual rata-rata 500 perak, dengan memakai minyak seliter sekitar 11 sampai 12 rebu, jelas keuntungannya cuma ikut makan doang. Tapi yang jelas, pembeli sehat, saya sendiri kalau makan ya sehat he….he….

    Tentu saya tidak minta agar para bakul ngikutin jejak istri saya pake minyak kemasan bermerek. Minimal, dengan mereka sadar akan kesehatan, maka pengolahan pun dilakukan sebaik mungkin.

    Wah…..serius nih ye………..

    Cak Totok,
    Kalau bakul obat alias pabrik farmasi itu dikasih petunjuk “Tatacara Pembuatan Obat yang Baik” mestinya bakul-bakul pinggir jalan itu ya dikasih pedoman “Tatacara Pembuatan Makanan Rakyat yang Baik”, yang berisi tatacara pemilihan bahan makanan, cara memasak, bumbu yang sebaiknya dimasukkan, bumbu yang dilarang untuk dimasukkan (formalin, boraks, dsb), dsb. Dengan demikian, makanan yang diproduksi rakyat juga bisa menjadi baik…

    Tapi apa itu semua lantas membuat makanan yang dibuat rakyat semakin laku ?

    Lha tergantung. Kalau yang menjual ibu-ibu tua, mrengut, dan tidak pernah berkomunikasi dengan pembeli, ya tamtu saja pembelinya cukup beli cuman sekali itu saja. Tapi kalau penjualnya nanya dengan sopan, baik-baik, apa yang mau dipesan ? Wah tentu pembeli seneng dan bisa kembali ke sana lagi. Tapi saya memperhatikan di lingkungan tempat tinggal saya sekarang, makanan yang dijual di restoran itu bakal laku keras kalau lagi tanggal muda (di bawah tanggal 10) atau pas anak-anak lagi liburan. Kalau sudah tanggal tua, hujan, dan anak-anak lagi ujian, kasihan tuh penjual makanan jadi karena nggak ada pembelinya…

    Eh….apa sebaiknya isteri anda mbukak restoran Nasi Pecel “Bu Totok” saja ? Kan pernah sukses di Malang dulu itu. Siapa tahu bisa nyaingi Bu Wir Kabul, Mbok Gembrot, dan Bu Narpada…(eh apa nama warung pecel lesehan di depan Fire itu ?)…

    Reply

  25. totok
    Mar 29, 2009 @ 19:51:30

    Weleh-weleh cak, dodol sego pecel nang mbediyun saingan wis akeh. Masiyo kabeh yo payu, tapi aku justru saiki punya rencana lain.

    Nang ngarep kantorku arep tak pasang tenda, nek bengi arep dodol nasi uduk ayam panggang. Nang mbediyun cumak onok wong siji sing dodol, dadi pangsa pasare isih lumayan.

    Iki mau lagi etung-etungan modal. gae tuku tenda, gae etalasene. Pelanggan isok tak sediani lesehan nang garasi utowo nang halaman sing wis onok payone. Tendo dipasang nang pinggir dalam cekne ketok melok-melok. Opo maneh nang ngarepku kan onok gereja gede, dadi nek jumat sabtu minggu rame.

    Dongakno cak, mugo-mugo mlaku. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, jarene. Lha aku bengi ngecek traffic, internetan, sekaligus dodolan entuk teweot he….heee……

    Wah, aku gak patek apal sing nang ngarrepe fire. Tapi nek bu Wir Kabul, aku wis faseh. Iku ponakane bu Kabul sing biyen tau nyantrik nang kono, dodol nang Suroboyo, kebetulan cedak omahku biyen. Saiki, cak, omahe telu, munggah kaji ping telu, mobile kinyis-kinyis lagi metu soko toko. Jan, wong mbediyun yen wani ngumboro akeh suksese. termasuk sampean he…he

    Reply

  26. simbah
    Mar 29, 2009 @ 20:21:15

    Dik Yon / Dik Totok, . .sampeyan pernah mampir belum? barangkali bisa jadi contoh. Di perempatan gang tengah, sebelah kidule sekolahan PGA ada warung nasi pecel mBak Eni. Kalo meracik tangannya disarungi pake kantong plastik, baru kalo pegang duit, kantong plastiknya dilepas. Boleh diharapkan yang lain-lainya juga bersih. Cuman kalo ngomong kenceng suaranya.
    Dik Totok, coba kalo anda jadi buka Depot Makan, amat-amati warung KFC atau CFC, soalnya kayaknya untuk kebersihan mereka gak bisa kompromi. Amat-amati deh…

    Mas Didiek,
    Wah..mengko yen bali mBediyun, tak sempatkan mencoba mencicipi mbak Eni…eh..pecele mbak Eni. Sayange pas aku mulih pasti ming 2-3 hari saja dan full kerja jadi nggak sempat mampir-mampir kesana kemari. Opo maneh, esuk-awan-sore-bengi mangan sego pecel terus, padahal wetengku termasuk jenis sensitif yang tidak bisa makan pedas..

    Reply

  27. simbah
    Mar 30, 2009 @ 22:06:35

    Lah….kepriben Dik Yon..? sambel pecel kan bisa minta yang gak pedes, trus sedang dan yang terakhir pedas…dus minta saja yang sedeng….
    Di kompas menjulukinya dengan Salad van java….

    Mas Didiek,
    Iyo..yo..aku lali nek sambel pecel kuwi nggak mesti pedes. Sing ora pedes yo ono…

    Tapi opo enake mangan pecel sing sambele ora pedes ?

    Reply

  28. simbah
    Apr 02, 2009 @ 04:19:19

    Prihadi Setyo Darmanto,…aku berusaha keras untuk mengorek-korek ingatan…kayaknya dulu sewaktu SMASA tubuhnya jangkung, ya Dik Yon….? Ingat sewaktu 3pas4 diskors gara-2 nyambit pak Karni pake kapur tulis, aku numpang belajar di 3pas2, maksudku supaya nggak ketinggalan pelajaran. Sampai 3pas4 dibuka kembali…
    Ranking pertama, antara 3pas1 dan 3pas2 satu tingkat, baru 3pas3 dan paling bontot 3pas4, dari segi kemampuan otak…

    Simbah,
    Ya..dulu mas Pri itu item, jangkung, dengan mata tajam seperti Sidanti dan hidung mancung mirip orang Arab atau India…

    Di 3Pas1 yang masuk ITB 4 orang (Rismarini, Mulyono, Agus Triwiyono, Dharma Setiawan), dan 3Pas2 yang masuk ITB 6 orang (Prihadi Setyo Darmanto, Muhammad, Eddy Asmanto, Sunaryo (Mbing), Dewi, dan Kris Pudjiastuti)….. dari sini kelihatan 3Pas2 setingkat lebih tinggi daripada 3Pas1… apalagi yang dari 3Pas2 bisa jadi dosen ITB…hehehe…

    3Pas3 dan 3Pas4 memang nyaris tidak terdengar secara akademis, tapi katanya sekarang paling banyak orang kayanya…hahaha…

    Reply

  29. simbah
    Apr 03, 2009 @ 00:44:16

    Iya…ya…Dik Yon, saya masih ingat semuanya. Rismarini itu juga bulik saya. Agus Triwiyono kalau gak keliru dulu tinggal di jl. Jayengan, mBakyunya juga mengajar bahasa Inggris di SMASA, Mulyono masih ingat wajahnya. Hanya yang lamat-lamat Muhamad dan Dewi saja.
    Benar….3Pas3 dan 3pas4, ….nyaris tak terdengar…..kabarnya pada jadi pengusaha…
    Sewaktu reuni akbar 2005 lalu, kebanyakan yang hadir dari 3Sos 1 maupun 2.
    Memang oleh almarhum pak Bandi, kelasnya dipontho-pontho, supaya yang kurang pinter tidak keponthalan ngejar yang pinter….
    Ada yang mengkawatirkan, kalau reuni jadi ajang pamer. Pamer kesuksesan atau pamer jabatan, jadi yang tidak menjadi orang pada minder, jarang yang mau hadir….
    Memang saya lihat yang membawa mobil mewah ada beberapa, tapi waktu itu saya numpak becak saja, soalnya saya kangen dengan teman-teman dulu, saya sendiri gak minder, karena merasa bukan murid pintar, jadi kalau gak jadi apa-apa ya…maklum saja…
    Mereka surprise, melihat kondisi penampilan saya ….ketawa ngakak…he…he…

    Simbah,
    Muhammad Harianto..anaknya kecil-kecil putih, panggilannya “Nabi”, masih adik keponakannya Yuke dan Tommy kakak kelas kita yang juga masuk ITB (Tommy dan Yuke kakak beradik, kalau nggak salah waktu itu bapaknya jadi Administratur PG Soedhono).

    Kemana-mana “Nabi” ini runtang-runtung sama Mas Pri. “Nabi” juga naksir Lis, teman kita di SMP 2 dulu, eh tapi cuman naksir doang waktu SMA. Selepas lulus SMA, Lis yang rumahnya Jalan Merpati itu malah diperisteri oleh Sugeng, 3Pas2 juga yang kemudian jadi Dokter. Jadi 3Pas2 itu selain yang masuk ITB ada 6, yang masuk Kedokteran ada 3 (Yuliati dan Sugeng di Unair, dan Hindyah di Undip)..yang masuk kotak juga banyak, salah satunya saya haha,,,,,,

    Reuni SMA 1 2005 saya gak tahu, makanya gak datang. Walaupun Kikiek dikit-dikit sms saya, rupanya masalah Reuni dia malah lupa sms saya. Kalaupun disuruh datang, saya juga keponthal-ponthal, soalnya apa yang bisa dipamerin dari diri saya. Jaman SMA saja, si Haryono (ex IIIc SMP 2) ngeledek saya “Wah…ini dia OSIS kurang ragad…” waktu saya datang di pertemuan OSIS di rumah Heris Pamuntjar di Jl. Sumatra dengan naik sepeda, soalnya yang lain pada naik motor…

    Saya juga males ketemu dengan teman SMA karena menurut perasaan saya, masa SMA saya bukan masa yang patut dikenang. Kenangan saya masih lebih indah di SMP 2 dulu….hehe…

    Kalau Dewi, itu anak PG Soedhono juga. Mukanya dan perawakannya mirip Julia Perez jaman sekarang, termasuk bentuk rambutnya. Pasti Mas Didiek masih ingat lah…

    Reply

  30. alris
    Apr 04, 2009 @ 01:39:22

    Saya salut atas daya ingat Pak Tri. Bisa hapal siapa yang masuk ITB, kedokteran dan siapa disunting oleh siapa. Btw, sebelum pemilu tahun 2004 lalu pak Kikiek laris manis nongol di banyak tv. Sekarang kok sepi tiada berita tentang beliau.

    Uda,
    Gampang aja…saya hafal semua teman SMA yang masuk ITB, soalnya…saya gagal masuk ITB !!!

    Hwekekkekkekkek… 😉

    Reply

  31. simbah
    Apr 04, 2009 @ 21:39:41

    Ha…ha….lucu banget uraiannya dik Yon..!
    Wooo…Alahh…..Nabi….Nabi…..namamu kok merakyat banget….Muhamad Hariyanto…jauh benar dengan Tri Djoko Wahyono…..
    Iya memang, zaman membawa nama. Dulu nama-nama Endang, Bambang, Budi, Tatiek, Edi….satu sekolah atau satu kampung mesti ada yang nyamain….seperti nama Asep di tanah sunda…Dus bukan namanya yang jelek, atau indah tapi orang-tua dulu memberi nama selalu ada maknanya, lain dengan Shakespeare, apalah arti sebuah nama…bagi orang suku jawa nama mengandung harapan….ya…?

    Dik Yon berkesan semasa di SMP2, justru kebalikan dengan saya, di SMP saya belum akil balik, justru di SMASA saya baru ngerti cara bergerilya…ndolani…cah-cah ayu…he…he..tapi belum ngapeli loh ya….baru dolan saja…

    Wah,….Sugeng yang tinggal di jl. Branjangan itu ya….masih ingat juga wajahnya…

    Soal pamer, itu bagi yang perlu dan mungkin suatu keharusan. Karena profesinya menuntut untuk itu. Profesi sebagai Dosen walau tidak dipamerkan, adalah profesi kelas tersendiri (ingat, iklan mobil be-em-we)…meski low profile, orang akan tahu apa isi yang ada dibalik benaknya. Dimanapun dia bisa masuk. Seperti Guru sebagai pendidik, bukan guru hanya sebatas ‘mata pencaharian’.
    Kebetulan di klan keluarga saya, dari mbah buyut sampek sak cindil abange, mayoritas dadi guru…dari SMA sampai SD, kecuali saya. Meski dari segi materi memang pas, tidak kurang, tidak juga berlebih, tapi penghargaan dan penghormatan dari tetangga kiri kanan tidak pernah pudar…..contohnya, sewaktu saya dulu apel, biasanya Ibu si gadis ikut nemoni sebentar, tanya ini-itu, setelah tahu, ibu saya sebagai guru…mereka langsung percaya 100%, bahwa anak gadisnya akan aman disamping saya…he…he….percaya tidak…??
    Lah setelah sekian tahun tidak ‘jadian’ itu urusan Tuhan…..bukan..?

    Mas Didiek,
    Sugeng rumahnya bukan di Jalan Branjangan tapi di Jalan Irian Barat, persis sis di sebelah selatan Kantornya Pak Wali. Muhammad Hariyanto dulu sempat terkenal di SMA, anaknya kecil tapi lincah kayak bal bekel dan dia ada di mana-mana, apalagi terkenal sebagai adik keponakannya Yuke, wah..tambah terkenal aja dia…

    Masa SMA saya dulu sudah berakhir di akhir minggu pertama, karena sesuatu alasan. Selebihnya, selama 3 tahun sesudahnya aku cuman “nderek urip” saja..seolah-olah aku ini tidak ada, karena memang jarang muncul ke permukaan. Saya bersepeda keliling Madiun jika kota itu sudah pada tidur senyap..hehe…

    Wah…kalau jaman dulu banyak gebetan, seru dong. Soalnya tidak hanya dari kawan2 cewek se angkatan, tapi cewek2 di bawah kita juga banyak yang kategori “jablay”.. haha… jadi peluangnya sangat besar untuk dolan ke rumah mereka, kalau mau…

    Dalam hal cintrong masa SMA, saya dulu cuman provokator, bukan pelaku. Misalnya ada adik kelas kalau nggak salah namanya Ratih, kelihatan jablay banget nggak ada yang tertarik sama dia. Nah, sebagai pemandu bakat…saya gembor-gembor ke semua cowok sak SMA bahwa si Ratih itu rupanya bagaikan “pinang dibelah dua” sama Jessy Gusman. Eh…sejak hari itu, setiap malam minggu konon si Ratih banyak yang ngapelin…hehehe…

    Ya,,,kesenangan-kesenangan jadi provokator cintrong macem itulah, yang membuat saya tetap hidup sampai lulus SMA. Begitu masuk kota Bogor, saya memasuki kehidupan yang ketat dan tanpa jeda berpikir. Berpikir terus, soalnya 4 tahun harus selesai sekolahnya….

    Reply

  32. totok
    Apr 05, 2009 @ 11:31:31

    Masa pacaran memang hueeenak tenan, dari SD aku udah berani nyium teman kelas, terus SMP dilanjut SMA., Eh, kebabalasan, ketika dah kerja, dah punya istri dan anak, kok ya masih pacaran terus.

    Lha herannya, sing diajak pacaran kok ya gelem-geleme giotu lhoooohhhh. Padahal udah ngerti kalau aku udah ada buntutnya he….he, Rejeki kaleee, atau orang Surabaya bilang sunate tepak.

    Wah…dasar wartawan !

    Reply

  33. alris
    Apr 06, 2009 @ 23:48:47

    Sunate tepak, opo lakone pak Totok…

    Reply

  34. totok
    Apr 07, 2009 @ 08:13:12

    UDA ALRIS :
    Lakone Arjuna Mencari Cinta,…..eh ntar dituntut ama yang udah pake kalimat itu he…he

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: