Temen saya sudah Prof(essor), eh saya masih Prov(okator)

“Status” saya ini tadi sudah saya tulis di FB dan yang komentarnya audzubillah banyaknya…

Kira-kira akhir Januari 2009 yang lalu, di ruang dosen datang menghampiri saya Ibu Diah dosen Teknik Industri “Sssttt..pak jangan keras-keras, nanti bulan Maret bapak akan diundang menghadiri pelantikan Pak Har sebagai Professor”, bisik Bu Diah yang isterinya Pak Harjanto Prabowo itu nyaris tidak kedengaran…

Dasar saya orang Jawa Timur yang nggak bisa ngomong pelan, setengah berteriak saya jawab “Oh yaaa ? Selamat dong Bu ! Tolong sampaikan ucapan selamat saya untuk Pak Har ya…”. Dan…seluruh penghuni ruang dosen Binuspun langsung nengok ke saya….rupanya mereka belum dapat kabar baik ini…

Dan sekitar pertengahan Pebruari kemarin ini, melalui Facebook saya tulis begini di Wall Pak Harjanto “Prof…selamat ya !!! Nanti pelantikannya ngundang-ngundang saya lho….”, saya menulis wanti-wanti. Dan beberapa menit kemudian Pak Har pun nulis di Wall saya “Iya Pak Tri, so pasti. Pak Tri pasti diundang, bahkan ada di urutan teratas daftar undangan…”..

What ? “Urutan teratas daftar undangan” ? No kidding, Pak Har..

Dan karena wanti-wanti dengan pesan “bapak ada di urutan teratas daftar undangan” ini menyebabkan saya menyempatkan diri datang ke kampus Binus pagi-pagi ini tadi sekitar jam 09.00. Karena saya membayangkan parkiran Binus Kampus Anggrek bakal berjubel, maka untuk amannya saya tinggal mobil Camry-un saya di kantor, dan sayapun nyegat taksi berwarna pink yang melintas di depan lobby kantor saya. Nggak sampai 20 menit, taksipun sudah mendarat di Jalan Kebon Jeruk Raya, depan Kampus Anggrek.. sayapun membayar Rp 25 ribu padahal argo bilang hanya Rp 19 ribu…

Menyeberangi zebra cross, kaki sayapun menjejak di halaman kampus Anggrek yang tumben semi mamring kayak di kuburan. Lho, kemana mobil-mobil yang biasa parkir di sini berada ? “Ada di gedung parkiran belakang Pak !”, sahut Pak Johan dan Pak Henkie yang tiba-tiba muncul dari belakang, seolah mereka berdua bisa membaca isi hati saya. Sayapun bergegas masuk ke gedung sambil ditakut-takuti sama mereka berdua, “Pak, kalau nggak bawa undangan nggak boleh masuk lho”….yang saya jawab dengan ketawa hahahaha….”Binus gitu lho, emang siapa yang punya ?”

Baru jalan 20 meter, seorang panitia yang berpakaian kebaya warna putih dan kain menyapa kami dengan senyuman tipis dan dengan bergegas mengantar kami menuju lift di lantai 1 Kampus Anggrek. Di depan lift pun banyak mahasiswi panitia yang menyambut kami yang semuanya berpakaian kebaya, semuanya cantik-cantik…hehehe….

Kamipun turun di lantai 4, dan dianjurkan menuju Auditorium Binus yang baru. Di depan Auditorium, serombongan Panitia sudah menyambut kami. Kamipun pengin mengisi absen di depan, tapi dibilangin “Pak ini buat VIP/VVIP”…dan kami bertigapun menjawab serentak “Oh ya ?”…Mungkin karena mendengarkan tereakan kami, rupanya (Bu) Reina mengantarkan kami untuk absen di dalam, yang selanjutnya kami diantar masuk Auditorium…

Ternyata pada jam 9.45 belum ada 50 orang yang ada di dalam Auditorium..

Sayapun sempat ngobrol dengan Pak Johan dan Pak Henkie, sambil baca-baca paket yang diberikan berupa tas dengan Buku Testimonial tentang Pak Harjanto Prabowo oleh anggota Yayasan Binus, orang-orang terkenal, sampai driver macam Pak Yono dan Pak Imam. Buku Kedua berupa buku Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Manajemen Sistem Informasi oleh Prof.Dr.Ir. Harjanto Prabowo, MM..

Singkat cerita, dengan diiringi lagu “Gaudeamus Igitur” Senat Guru Besar Binus masuk ruangan, sebagian besar wajah sudah saya kenal seperti Guru Besar pertama Binus Prof. Dr. Ir. Edi Abdurachman, MSc, tapi ada beberapa wajah yang saya tidak kenal, dan ternyata rupanya ada Prof. Suryo Guritno dari UGM yang saya sempat kenal waktu mengurus Konsorsium membahas tiga jurusan TI, SI, dan SK di tahun-tahun 1999 dulu…

Saya pikir Pak Harjanto akan menangis terharu waktu membawakan pidato pengukuhan Guru Besarnya, tapi ternyata dugaan saya salah dan Pak Har membawakan pidatonya dengan excellent (tapi karena lampu ruangan dimatikan, saya gunakan waktu itu juga untuk tidur…)..

Dan rupanya Pak Har baru terbata-bata menangis waktu mengucapkan terima kasih kepada guru-guru Pak Har dari Guru SD, Guru SMP, dan Guru SMA, sampai pengajarnya di Teknik Elektro Undip, dan lebih tercekat lagi mulut Pak Har waktu mengucapkan terima kasih kepada Almarhum Ibu Th. Widia S. mantan Rektor Binus….dan sayapun ikut menitikkan air mata pula mengingat Ibu yang saya kenal sekian lama dan ternyata sekarang setelah Binus seperti ini Ibu tidak ada di sekitar kita lagi…

Sebenarnya cita-cita terbesar saya di tahun 1995 adalah “menjadi profesor sebelum usia 50 tahun” dan “naik haji sebelum tahun 2005”. Ternyata, kedua cita-cita saya itu perlu “disesuaikan” dengan tuntutan jaman. Setelah adanya ketentuan baru pemerintah yang hanya membolehkan orang yang bergelar doktor untuk menjadi profesor, maka cita-cita saya yang pertama sudah gugur.. Dan waktu saya sudah tidak bekerja lagi (sebagai pejabat struktural) di Binus sejak tahun 2000, maka cita-cita saya yang keduapun terlalu berat untuk dikejar…

Tinggallah kemungkinan saya yang bisa dicapai di depan mata adalah jadi Prov (dengan huruf “v”) yang artinya “Provokator”…hehehe… Untung saya tipe provokator yang baik, yang selalu memprovokatori mahasiswa untuk : rajin belajar, kerjakan PR, rajin belajar bahasa Inggris, punya cita-cita tinggi seperti sekolah di luar negeri, dan semua hal-hal yang baik lainnya…

Tidak jadi Prof(essor) tidak apa-apa, seperti komentar para teman Facebook saya : “Nggak prof nggak apa-apa pak, yang penting enjoy aja”, kata Suhendro Ceng. “Yang penting tetap disayangi dan dicintai mahasiswa Pak”, kata Agung Lay. “Yang penting tetap dikejar angka kreditnya Mas”, kata adik kelas saya di IPB, Maya Purwanti. “Yang penting makan enak Pak”, kata Yohannes Polla…

Lho ?

14 Comments (+add yours?)

  1. rumahagung
    Mar 25, 2009 @ 22:51:31

    wahhh…
    komentarnya Ronald mantab kali…
    hahahahhahaha..!!

    Agung,
    Emang, komentar dia selalu mantabbbb…hehe…;-)

    Reply

  2. alris
    Mar 26, 2009 @ 00:43:59

    Selamat buat teman pak Tri, Prof. Har.
    Saya baru tahu ada aturan pemerintah yang bisa jadi profesor itu adalah orang yang sudah bergelar doktor. Ada tuh pengobatan alternatif yang bergelar profesor padahal mereka gak punya gelar doktor, berarti dia ngalahin pemerintah, wekekeke….

    Uda,
    Iya…jaman dulu pernah ada jago karate dan jago pengobatan bergelar Profesor…..tapi tentunya gelar Profesor itu bukan buat ngajar di kelas dan bukan buat membimbing para Doktor lainnya…

    Kalau saya pengin mendapatkan gelar Profesor seperti itu, berarti saya keluar dari dosen dan menjual obat…hehehe….

    Reply

  3. liswari
    Mar 26, 2009 @ 03:23:41

    hehehe… and you did provoked me very well…

    Good job provokator!! :p

    Hehehe….kenaaaaa deh !! 😉

    Reply

  4. liswari
    Mar 26, 2009 @ 20:42:36

    Om,

    Ini yg disebut berbesar hati.. bisa take it easy dan ikut happy dgn pencapaian orang lain… 🙂

    Not everybody can do it…

    Sippp … tetep jadi provokator aja om.. aku dukung kok hehehe

    Mbak Lis,
    Tentu saja saya sangat bahagia teman saya bisa mencapai gelar Professor, gelar tertinggi di bidang akademis. Makanya saya jauh-jauh (nggak sampai 10 km lah..haha..) datang ke acara pengukuhan beliau. Yang menarik, dan Pak Harjanto Prabowo itu juga tahu, Pak Har itu dulu boss saya sekaligus anak buah saya..

    How come ?

    Di tahun 1998-1999, saya waktu itu memegang Ka Biro Kemahasiswaan nah Pak Har adalah boss saya karena beliau sebagai Direktur Operasi. Tapi di satu sisi, saya sebagai Dekan Fakultas Teknik, dan Pak Har sebagai Kajur Teknik Industri itu adalah anak buah saya…

    Hubungan yang khas dan aneh kan ?

    Mengenai gelar professor atau gelar lainnya, saya nggak terlalu mempedulikannya. Bahkan di kantor saya ditawari gelar Perekayasa Madya dan bisa “memperpanjang” pensiun selama 5 tahun (dari umur 55 ke 60), tapi kayaknya saya tidak tertarik. Saya lebih baik pensiun tepat di umur 55 dan setelah itu bisa melakukan apa saja yang ingin saya lakukan. Mungkin tetap jadi dosen (part time) di Binus, tetap jadi konsultan transportasi (jika teman2 BPPT ngajak), dan tetap jadi konsultan IT (sertifikasi CISA, CISM dan CISSP yang kemarin terbengkalai bisa diurus kembali). Yang jelas client sebagai konsultan IT sudah tersedia, dan enaknya lokasinya persis di kota kelahiran saya…hahaha…

    Don’t worry mbak. Yang jelas, aku akan tetap jadi provokator…bagi orang-orang yang ingin lebih baik kehidupannya…

    Reply

  5. totok
    Mar 27, 2009 @ 18:24:16

    Yo cak ndang pensiun, terus nglaras awak nang Dungus. urip nang Jakarta sutris terus

    Cak Totok,
    Sak wise meh 30 taun urip nang Jakarta aku yo takon neng awakku dewe, sutris ngendi urip neng mBediyun opo urip neng Jakarta ? Urip neng mBediyun wektu luang pasti akeh, ning “teweot” opo yo akeh ? Sementara, urip neng Jakarta “teweot” akeh neng budal esuk mulih wengi mbanting tulang golek sesuap nasi segenggam berlian…hahaha..

    Ning aku 3 taun meneh wis pangsiun, opsine aku tambah 5 taun meneh dadi 8 taun meneh lagi pangsiun…

    Nek wis pangsiun, nek ndelok lagune Kris Biantoro kuwi yo enak banget. Kari lungguh leyeh-leyeh, digawekno teh manis kenthel karo bojo, terus meteti “Si Badut” perkutut sing lagi manggung…bar kuwi badut-e dewe sing manggung…hwekekkekkek…

    Reply

  6. simbah
    Mar 28, 2009 @ 13:44:17

    Dik Yon,…saya kok punya penerawangan..(???), bahwa nanti kalau anda pensiun bukannya banyak waktu ….. Justru makin sibuk..!! jangan-jangan untuk mbukak blog anda sendiri saja gak sempat lagi….
    how come….coba saja…lihat nanti….he…he…
    Tapi anyway, meski pensiun harus selalu berusaha sibuk, apapun itu…..

    Mas Didiek,
    Hehehe….siapa tahu penerawangan anda itu benar mas ? Soale udah dapet SHT ditambah 25 tahun bertapa di Samudera seperti “Dewa Ruci” siapa tahu si mas ini bakat menerawang-menerawang… 😉

    Blog saya ini memang jauh berbeda sifatnya dengan blog orang lain mas. Kalau blog orang lain biasanya komentar diberikan kepada posting yang terbaru, tapi blog ini karena merangkap “blog sumber pengetahuan” maka posting-posting yang lama malahan dapat kunjungan yang terbanyak…

    Sebenarnya pensiun nggak pensiun, orang harus tetap sibuk apalagi orang setua kita-kita ini. Kalau otak tetap dipakai, mudah-mudahan tetap fresh terus..hehehe…

    Reply

  7. selvy
    Mar 28, 2009 @ 18:22:28

    Karna pak Tri perna jadi dosen saya, saya jadi semangat ambil peminatan IS, lulus tepat waktu, dan cepat dapet kerjaan. Singkat kata, berkat pak Tri yang prov(okator) lah saya bisa jadi saya yg seperti sekarang ini. Terima kasih banyak, Pak!

    The teaching of a teacher is long felt after the class goes on. ^^v

    Teteup ber-prov(okator) ria pak. Pak Tri dah mengubah hidup banyak orang loh 😉

    P.S: Selamat untuk pak Har! ^^

    Selvy,
    Wah…seandainya saja semua mahasiswa/i saya profile-nya seperti Selvy, tentu masalah mengajar menjadi mudah…hehehe…. Tapi kan tidak bisa seperti itu kenyataannya…

    Bagi saya yang aneh adalah, kalau saya tidak serius dalam mengajar suatu kelas dan di kelas tersebut saya banyak cerita ngalor ngidul, motivasi mahasiswanya malahan tinggi dan mereka nanti pasti melanjutkan kuliah atau pergi ke luar negeri seperti Selvy..

    Aneh kan ? Kalau saya mengajar serius tidak pernah diselingi cerita, mahasiswa malah bosan dan motivasi belajarnya malahan menurun…

    Jadi, ada apa ini rupanya ?

    Saya dulu paling terkesan dengan guru atau dosen yang banyak diselingi cerita selama beliau mengajar. Karena dengan cerita, saya bisa tahu beliau guru atau dosen seperti apa, dan saya juga bisa tahu seberapa “dalam” kah ilmunya ?

    Karena itu saya memfavoritkan dosen saya dulu (alm) Prof Andi Hakim Nasoetion yang biasanya mengajar serius selama 15 menit saja, dan seterusnya beliau cerita terus tentang joke, motivasi, dan perkembangan ilmu di dunia ini…

    Reply

  8. edratna
    Mar 29, 2009 @ 06:21:14

    Tujuan hidup memang mesti disesuaikan, saya dulu juga karir cukup sejalan dengan kehidupan rumah tangga, yang lebih utama jika udah punya anak, adalah bagaimana membesarkan anak-anak sampai mereka bisa mandiri. Dan ternyata ini lebih berat dibanding mengejar karir.

    Bagi kita, apapun waktu yang tersisa dari hidup ini adalah bagaimana membantu orang lain walau hanya bisa sedikit, berbagi pengetahuan dan kemampuan….
    Kita tak bisa hanya melihat sekeliling, karena kemungkinan rejeki dan nasib tiap orang berbeda.

    Bu Edratna,
    Yang penting kita-kita ini “keep moving” dan “keep rocking” saja…..
    Hidup mengalir seperti air, dan kita tinggal mengikuti saja arah mana yang membawa kita…

    Reply

  9. totok
    Mar 29, 2009 @ 19:42:35

    Memang nek dietung-etung antara teweot karo liyane, tergantung endi sing awake dewe pilih.

    Mungkin mergo aku wis tau nglakoni, dadi isok ngomong nek urip nang ndeso teweote ora pati akeh tapi H2O-ne sing okeh, dadi urusan paru-paru luwih entuk jatah ketimbang urusan liyane.

    Dadi, rasane urip isok luwih seger isih onok wektu gae kegiatan sosial kemasyarakatan (minimal nang RT) sing biyen blas ora tau isok nglakoni.

    Opo maneh nek awake dewe isok golek kegiatan sing onok teweote, dadi akhire urip isok seimbang. (ora provokator lho yoooo).

    Lan maneh, nang mbediyun, isuk-isuk sarapans ego pecel 2 ewu wis wareg he…..he… dadi seimbang karo teweot sing dientukke.

    Reply

  10. totok
    Mar 30, 2009 @ 08:18:42

    CAK TRI :
    Mau nanyak dikit nih, tapi serius. Aku ngetes kecepatan bandwidht nggawe sijiwae speedtes, kok kadang mudun kadang mundak, opo’o cak????

    Isuk iki mau tak tes, kecepatan koneksi 25.500 kbps, 3125 bytes/sec. iKU ARTINE OPO CAK. Padahal wingi bengi tak tes gak onok sak mono.

    Tulung yo sampean jelasno.

    Reply

  11. totok
    Mar 30, 2009 @ 08:34:45

    TAMBAHAN :
    Terus tak tes maneh nang Speedtest.net, server Singapore distance 550 ml. Hasile :
    Ping 205 Ms
    DOWLOAD 0.26 mb/s
    * MP3 file (5mb) 3 min
    * Video Clips (35 mb) 18 min
    * Movie (800 mb) 417 min

    UPLOAD 0.22 mb/s
    * Email attachment 1 mb 1 min
    * photo galerry 8 mb 9 min
    * Video Clip 35 mb 41 min.

    Sorry, soal ngene iki aku rodo katrok, tapi perlu ngerti. soale dolanane gae golek teweot saben dino yo iki. Takok anakku, mesti diguyu, gak dijelaske rinci.

    Cak Totok,
    Walaupun aku wong Computer Science, tapi secara pribadi aku nggak terlalu setuju dengan Speedtest.net dan sebagainya untuk mengukur seberapa cepatkah koneksi kita ?

    Contone, suhu udara utawa temperatur. Disebutkan suhu udara 36 derajat Celcius di Madiun di waktu siang hari nanti. Lha apa yang terasa di badan tetap 36 derajat Celcius alias puanaaas ? Belum tentu, soale onok sing disebut “wind chill” yokuwi tiupan angin yang terasa di badan, “wind chill” biasanya minus 10 derajat Fahrenheit kalau di negara 4 musim, tapi kalau di Indonesia tak kiro wind chill plus 5 derajat Celcius di musim panas kayak gini ini..

    Tapi etungan kayak gini ini perlu JIKA CAK TOTOK MAU MEMBANDINGKAN ANTARA KONEKSI LEWAT FASTER ATAU SPEEDY. Karena yang dibandingkan angka head-to-head, satu demi satu angka dibandingkan. Secara pemasaran sampeyan bisa bilang, “Kalau Speedy bisa lebih cepat daripada Faster, saya berani potong leher !”. Padahal maksudnya “leher ayam” dan bukan leher kita…hahaha…lha kalau leher kita dipotong, yok opo ambegane…hehehe..

    O ya, menurut saya pribadi kecepatan sambungan internet itu bisa kita rasakan kok. Sama dengan nyopir mobil, kalau kuenceeeng ya kuenceeeng, tanpa lihat speedometer aku tahu ini kecepatan 80, 100, 120, 140, atau 160….

    Reply

  12. totok
    Mar 30, 2009 @ 08:37:51

    INFO TAMBAHAN :
    Aku nggawe komputer rakitan P4 1.8, memori 256 tambah 128. Bandwidth terpasang nang ruanganku dibatasi 256 mbps.

    Reply

  13. totok
    Mar 30, 2009 @ 13:12:47

    SAYA KOPIKAN TULISAN BU TUTI, SIAPA TAHU ENTE BELUM BACEEE…….

    PADAHAL, SALAH SATU BLOG YANG MENARIK ISINYA LHO CAK TRI, MESKI AKU JARANG KASIH KOMEN (SOALE ORA GADUK) TAPIS ELALU TAK BACA, SETELAH LIHAT BLOG SAMPEAN….

    SUDAH TIBA WAKTUNYA …

    Sahabat,

    Dalam perjalanan hidup kita, ada kalanya kita berjalan sesuai dengan jalur yang seharusnya, on the track, namun ada kalanya kita melenceng, keluar dari jalur, bahkan tersesat. Ada kalanya keluar dari jalur itu terjadi di luar keinginan dan kemampuan kita, namun ada kalanya kita lakukan dengan sadar, bahkan terencana.

    Selama tiga tahun terakhir, saya telah keluar dari track kehidupan yang seharusnya saya jalani. Saya telah ‘mengkhianati’ komitmen yang seharusnya saya pegang teguh dan saya laksanakan dengan sungguh-sunguh. Saya telah menjadi naughty girl yang egois, bersenang-senang dengan diri sendiri, dan tidak peduli pada kepentingan pihak lain.

    Sekarang tiba waktunya bagi saya untuk kembali ke ‘jalan yang benar’. It’s the time to go back to the track …

    September 2004, saya diberi mandat oleh Universitas Islam Indonesia (UII) untuk studi lanjut S3. Mandat itu diberikan dengan sangat mendadak. Hanya dalam waktu sekitar 2 minggu, tiba-tiba saya harus sekolah lagi. Padahal saat itu saya masih mengemban beberapa tugas struktural dan fungsional, yang tidak bisa seketika saya lepaskan. Sebagai Kepala Bidang Akademik di Magister Teknik Sipil (S2), masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan. Sebagai dosen di Jurusan Teknik Sipil (S1) saya masih memegang beberapa mata kuliah, yang tidak bisa saya limpahkan begitu saja kepada dosen lain di tengah-tengah semester. Tesis mahasiswa S2 yang saya bimbing ada sekitar 15, dan skripsi mahasiswa S1 sekitar 15 juga. Saya tidak tega melepaskan bimbingan tesis dan skripsi, karena akan menyulitkan mahasiswa jika harus ganti pembimbing.

    So, maka sodara-sodara … semester pertama studi S3 di Program Doktor Teknik Sipil (DTS) Universitas Diponegoro Semarang saya jalani dengan amburadul … dul. Konsentrasi pikiran dan alokasi waktu untuk studi hanya 10%, yang 90% masih tersita untuk tugas-tugas di UII. Semester kedua, tugas-tugas di UII ternyata belum tuntas juga, terutama membimbing tesis dan skripsi. Tugas Kabid Akademik di MTS sudah saya lepaskan, tetapi masih mengajar. Beban mengajar di S1 sudah pula dikurangi. Konsentrasi pikiran dan waktu untuk studi S3 agak naik, menjadi sekitar 50%.

    Semester tiga, saya baru benar-benar off dari semua tugas di UII. Bersamaan dengan itu, mata kuliah yang harus saya tempuh di S3 pun selesai, dan masuk ke tahap penyusunan proposal disertasi. Di titik inilah, jalan saya mulai ngeloyor, melenceng dari track yang seharusnya ….

    Selesai menempuh mata kuliah, berarti selesai pula dari kegiatan terjadwal yang diprogramkan oleh kampus. Penyusunan proposal disertasi, penelitian, dan seterusnya, sepenuhnya adalah kegiatan mandiri mahasiswa. Mau kerja, mau kagak, tidak ada lagi tenggat waktu yang harus dipenuhi. Ditambah sudah bebasnya saya dari segala tugas di UII, jadilah saya seperti kuda lepas kendali (lari deh si kuda kemana-mana dengan bebas merdeka dan suka ria … hehehe …)

    Bayangkan ….

    Selama 17 tahun saya tak pernah lepas dari kesibukan yang padat dan menyita waktu. Beberapa tahun setelah menjadi dosen di UII, saya memutuskan untuk kuliah S1 lagi di Teknik Sipil. Oh ya, saya belum cerita ya? Begini. Saya adalah lulusan Fakultas Teknik UGM, Jurusan Teknik Geodesi. Nah, karena satu dan lain hal (kalau diceritakan bisa jadi satu posting sendiri … ), saya masuk menjadi dosen di Jurusan Teknik Sipil UII. Agar tidak plonga-plongo, bengong dan bego di lingkungan teman-teman yang ilmunya beda, saya memutuskan untuk kuliah S1 lagi di jurusan teknik sipil. Dengan status dosen full time, saya kuliah lagi di jurusan yang … woii, banyak banget praktikum dan tugas-tugas di luar kelasnya (kisah tentang ini pun bisa jadi satu posting sendiri yang panjaaaang … ).

    Lulus dari S1 Teknik Sipil UMY (dengan IP 3,4 … halah!), saya kuliah S2 di Magister Teknik Sipil UII mengambil bidang Manajemen Konstruksi. Belajar lagi, sibuk lagi, dan alhamdulillah … lulus lagi. Begitu selesai S2, tugas datang silih berganti dari fakultas dan universitas. Singkat kata, sibuk … buk!

    Nah, kembali ke cerita di atas, begitu selesai menempuh mata kuliah di DTS Undip, dan lepas dari segala tugas di UII, saya merasa bebas merdeka! Lebih bebas dan lebih merdeka dibanding rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Tapi disitulah nahasnya. Rupanya saya tipe orang yang memang harus ditindas agar bisa disiplin (uhuk … uhuk … maafkan saya). Begitu diberi kebebasan, saya jadi seperti kuda lepas kendali. Lari kegirangan kemana-mana, menjejak padang rumput dan menjelajah hutan belantara, menyeberang sungai dan mendaki gunung (untung nggak nyebur ke kawah … hihi …)

    Saya melakukan segala hal yang dulu tidak sempat saya lakukan karena tidak punya waktu dan kesempatan. Merombak selemari pakaian yang sudah jadul tapi sayang dibuang (wah, kalau sudah pegang gunting dan jarum, saya bisa lupa tidur). Mengawasi pembangunan dan menata interior Caty’s House (perlu waktu setahun lebih tuh). Melahap setumpuk hamburger … eh, bukan … setumpuk buku, mulai dari novel, buku psikologi populer, dan segala macam. Asyik bikin berbagai program kebudayaan di Lembaga Kebudayaan ‘Aisyiyah. Jalan-jalan ke berbagai tempat di dalam dan luar negri (alhamdulillah selalu ada yang mau mbayarin .. hehe …). Belajar melukis, yang kemudian saya stop karena timbul niat mau kembali serius sekolah (meskipun akhirnya bohong, nggak jadi kembali ke kampus … ). Belajar fotografi (meskipun sampai sekarang masih tetap memotret dengan ‘auto mode’ … hihihi … ). Belajar dansa chacha, rumba, waltz, jive, salsa, samba, dan lain-lain (yang sampai sekarang sulit distop karena ternyata saya sangat suka … ). Belajar tarik suara (dan akhirnya menghasilkan CD yang sudah diobral habis). Dan selama setahun terakhir, berasyik-masyuk dengan blog, dunia baru yang begitu mempesona dan menyihir saya, membuat saya serasa menemukan kekasih baru.

    Lalu meledaklah petir itu!

    Pascasarjana Undip tiba-tiba mengeluarkan peraturan, bahwa studi S3 harus diselesaikan dalam waktu 5 tahun! What??!! Five years? It’s nightmare!

    Jadi, beginilah rasanya mati berdiri … oh, bukan … pingsan berdiri. Selama ini saya melihat teman-teman menyelesaikan S3 dalam waktu yang lamaaa (banyak juga sih yang cepat, tapi saya berpatokan pada yang lama … hehehe … ), sehingga saya pun berencana untuk selesai dalam waktu paling nggak 7 tahun. Itulah sebabnya saya santai-santai dulu, main-main dulu. Maka, saya kelabakan seperti ayam dicabuti bulunya ketika dipatok harus selesai dalam 5 tahun! It means, sangat sedikit waktu yang tersisa bagi saya. From now on, I have to dedicate every single day to do my dissertation.

    Setelah perang batin dahsyat selama berminggu-minggu, saya sampai pada ketetapan hati untuk berhenti ngeblog. Sampai segitunyakah? Ya. Karena ngeblog benar-benar telah menyita waktu dan perhatian saya. Kebahagiaan yang saya peroleh dari ngeblog telah membuat saya addicted. Jika dituruti, maka keasyikan ngeblog ini tidak akan ada akhirnya. Saya ikuti sampai kapan pun, ngeblog tidak akan pernah selesai. Maka, saya harus berhenti disini. Setahun atau dua tahun lagi (semoga) jika ‘masa hukuman’ saya sudah selesai, saya pasti akan kembali ke dunia blog. And you’ll still there, wouldn’t you?

    It’s the time to say good bye to blogsphere …

    It’s the time to go back to the right track …

    It’s the time to leaving all of madnesses in my life …

    Ibarat berpisah dengan kekasih tercinta (’pasangan resmi’ saya kan pekerjaan di kampus …) , tentu sangat berat bagi saya berhenti ngeblog. Tetapi saya harus. I have to do that. Jika suatu ketika saya tidak dapat menahan diri, dan nulis lagi di blog, berarti saya sedang ’selingkuh’. Yah, namanya juga cinta, pasti suatu ketika rasa rindu itu tak bisa ditahan …..

    Terimakasih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada sahabat semua, yang telah dengan setia, hangat, dan akrab menyapa saya, serta menjalin persahabatan yang demikian erat. Absennya saya ngeblog bukan berarti persahabatan itu putus. Absolutely not! Saya akan berusaha untuk mengunjungi blog teman-teman secara berkala. Dan veranda ini akan saya biarkan tetap terbuka, tetap welcome jika ada sahabat yang ingin mampir. Lagipula, teman-teman tahu nomor ponsel saya, jadi kapan pun kita bisa menjalin komunikasi (selama ada pulsa … )

    Saya juga mohon maaf jika selama ini ada kata-kata saya yang tidak pantas, tidak manis, tidak gurih, dan malah pedes, pahit, atau asem. Sesungguhnya, saya orang yang manis dan baik hati (heiyyyahhh!), jadi kalau ada hal-hal yang kurang baik terucap, pastilah itu kekhilafan, atau hanya sekedar bercanda.

    (halah, kalimat perpisahannya kok bertele-tele amat …. pergi dah sono!)

    Cak Totok,
    Wah..posting Bu Tuti yang ini saya belum membaca je….
    Rupanya Bu Tuti cuti dulu dari ngeblog supaya selesai disertasinya….

    Memang ngambil S3 itu kalau nggak diingetin pasti ndleler….lupa ! Isteri saya saja di depan komputer sih sering, tapi bukan menulis apa-apa melainkan kebanyakan main ZUMA…hahaha…

    Yah, walaupun isteri saya masa studinya belum 2 tahun, tapi harus tetap diingatkan biar cepat selesai. Normal-normalnya ya selesai 3 atau 3,5 tahun lah…

    Reply

  14. prihadisetyo
    Mar 31, 2009 @ 20:22:20

    Mas Tri Djoko,
    Barangkali Prov(okator) justru lebih diperlukan saat ini di Indonesia, karena kalo Prof(esor) kan tugasnya mendidik Doktor, tapi pengalaman menunjukkan bahwa kandidatnya tidak banyak. Sedangkan kandidat yang perlu diprovokasi agar bangsa ini maju justru lebih banyak, maksudnya maju sekolahe, maju inovasine, maju ekonomine dan…… makin pinter ngapusine seperti oknum-oknum caleg yang sebenarnya mencalegkan karena untuk tujuan mencari kehidupan he-he-he. Salam, PSD

    Mas Pri,
    Mungkin saat ini jumlah Prov(okator) di Indonesia 1000 kali jumlah Prof(essor) di Indonesia…hehehe…

    Kalau Professor perlu tunjangan Guru Besar yang besarnya buesaaar, maka Provokator agak mulia karena tidak perlu tunjangan apapun, kecuali segelas dua gelas Aqua untuk melancarkan tenggorokan…hahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: