Mengajar ala Schaum’s Series

Saya tahu persis, universitas-universitas di Jakarta yang dulunya ex STMIK seperti Bina Nusantara, Gunadarma, dan Budi Luhur, walaupun sudah bertransformasi dan “berganti baju” sebagai sebuah universitas namun dalam kenyataan operasional belajar-mengajarnya masih kental dengan suasana seperti di jaman STMIK dulu… STMIK sebagai “nama resmi” sebuah sekolah komputer biasanya kegiatan belaja-mengajarnya dibagi menjadi penggalan-penggalan 100 menit waktu kuliah untuk 2 sks…

Makanya sampai hari ini, kalau anda sedang mengendarai mobil atau naik angkot di Jakarta, usahakan tidak melalui Binus, Gunadarma,atau Budi Luhur di waktu selesainya perkuliahan yaitu jam 9.00, 11.00, 13.00, 15.00, 17.00 dan 21.00. Karena dijamin jalanan depan kampus akan macet total. Apalagi bila mobil atau angkot yang anda naiki tak ber-AC. Alamak panasnya !!

Bila di Fasilkom UI atau STEI ITB bisa dikatakan yang unggul adalah “bahan dasarnya” berupa mahasiswa yang diterima di program, maka “kenggulan” dari universitas-universitas ex STMIK adalah dalam hal prosesnya. Mengapa demikian ? Karena menurut saya, ex STMIK yang sudah kental nuansa komputernya akan lebih mudah men-“tune up” business processnya daripada mensyaratkan tingginya IPK calon mahasiswa..

Satu lagi, perkuliahan di universitas ex STMIK masih persis dengan semasa STMIK yaitu : dosen menjelaskan teori sebentar, diikuti dengan dosen memberi contoh cara penggunaan rumus dalam menyelesaikan sebuah problema, dan terakhir dosen memberikan popquiz kepada mahasiswa.. Jadi, dari teori sampai latihan soal bagi dosen dan bagi mahasiswa semuanya dikerjakan di kelas, dalam penggalan waktu yang sama..

Pernahkah anda tahu buku textbook yang bernama Schaum’s Series yang populer di Indonesia sejak pertengahan tahun 1970an ? Schaum’s Series yang terbitan McGraw-Hill itu adalah textbook sederhana yang tulisannya sengaja menggunakan font yang besar biar mudah dibaca, tata bahasanya juga sederhana dan straightforward, dilengkapi dengan contoh-contoh soal dengan penyelesaiannya, dan diakhiri dengan soal-soal latihan…

Buku Schaum’s Series itu di jaman tahun 1970an dan 1980an dulu sangat mengagumkan. Belinya di toko yang bagus ber-AC, harganya murah, dan enak dibaca serta sangat berguna untuk menghadang kisi-kisi soal ujian..

Nah, kira-kira sejak 10 tahun terakhir ini saya mengajar di Binus dengan cara pendekatan ala Schaum’s Series, yaitu : menjelaskan teori kepada mahasiswa, memberikan contoh soal berikut dengan penyelesaiannya dan diakhiri dengan memberikan soal-soal latihan. Semua ini dikerjakan di dalam kelas, dan so far saya sendiri senang menjalaninya karena sederhana dan tepat sasaran. Kelihatannya, mahasiswa juga senang dengan metode pengajaran seperti itu..

Mungkin tidak terlalu hebat, dan tidak akan membuat mahasiswa saya sebagai calon Ph.D student di universitas terkenal di Amerika, tapi setidaknya saya menyiapkan calon mahasiswa pascasarjana yang tanggap terhadap persoalan dan kasus-kasus baru…

Kayaknya sih begitu…

5 Comments (+add yours?)

  1. prihadisetyo
    Mar 31, 2009 @ 20:34:37

    Wah, rasanya agak beda dengan ngajar di ITB. Yang saya alami, beberapa mahasiswa saya memang calon PhD dari berbagai universitas di dunia sehingga muatan sainsnya musti diberikan. Akibatnya, waktunya gak pernah cukup walaupun sudah saya luangkan 2 jam per minggu untuk tutorial (tambahan pembahasan soal-soal) di luar kuliah resmi untuk 2 sks (2 jam kuliah/minggu). Anehnya hasil rata-ratanya juga gak bagus-bagus amat, tapi yang bisa nerusin sekolah PhD di luar negeri hasilnya bagus-bagus. Opo tumon mantan bimbinganku S1 dan S2 sudah ada 3 orang yang PhD? Saya sebenarnya lebih cocok cara sampeyan ngajar, tapi agak sulit dilaksanakan di ITB karena kadang (sering kali) pertanyaan mereka mesti dijawab secara sains, tidak cukup dengan hal-hal praktis. Ini hanya sharing aja ya, thanks. Salam, PSD.

    Mas Pri,
    Wah…tentu saja ngajar di Binus dengan ngajar di ITB beda jauuuuh… Apalagi Binusnya S1 dibanding ITBnya S2 dan S3…

    Memang kalau ngajar S1 kan cukup dengan pendekatan ala Schaum mas,tapi kalau ngajar S1 di ITB mungkin nggak bisa juga makai cara Schaum (tapi saya dengar beberapa dosen ITB ngajarnya lebih jelek dari cara Schaum lho. Mungkin dosennya pandaiii tapi nggak bisa ngajar)..

    Saya pernah ngikuti kuliah di level Ph.D, waktu ditanya tentang paradigma “call/cc” dalam bahasa LISP, professornya menjelaskan dalam 11 halaman papan tulis !!!

    Hehehe…

    Begitu juga ada Ph.D lulusan Amerika datang ke IPB dan waktu ngajar kita tanya “Pak, 1/2 ! itu berapa ?”. Dan Ph.D itu menjelaskan dalam 10 halaman white board !!

    Reply

  2. rumahagung
    Mar 31, 2009 @ 21:46:00

    luar biasa Pak.
    saya emank paling suka dengan metode Bapak di kls.
    jarang dosen pake metode Bapak.
    hehehehehehe..!!

    btw,td thx lho Pak,di kls AI 06PAW.
    hehehehehehhe…!!

    Reply

  3. adhiguna mahendra
    Apr 01, 2009 @ 18:35:17

    Menurut saya metode Schaum yang terbaik.

    American textbook + Schaum untuk latihan soal mempersiapkan mahasiswa untuk mengerti teori sekaligus problem solving.

    4 Aspek yang paling penting menurut saya :
    Theory, problem sets&solutions, scientific project dan real world project.

    Saya tahu banyak dosen Indonesia terutama dari ITB, UI, UGM,IPB yang hanya mengutamakan aspek scientific tanpa mempertimbangkan kemampuan problem solving dan practical industrial applications..

    Saya rasa dosen-dosen tersebut harus membuka mata sedikit dan merasakan bekerja di real industry dulu. Menjelaskan teori Fourier dengan mengaplikasikan teori Fourier untuk mengimplementasikan FFT filter pada FPGA device di real industry adalah dua hal yang sangat berbeda.

    Kalau kita lihat kurikulumnya MIT, mereka fokus ke problem solving terus menerus dengan banyak sekali menyuruh mahasiswanya mengerjakan bebagai macam problem-sets secara individual atau berkelompok kemudian mahasiswa diberi berbagai macam proyek yang aplikatif.

    Mas Adhiguna,
    Wah…Mas Adhiguna bisa membaca pikiran saya ya ?

    Itu sebenarnya yang mau saya katakan. Sistem pendidikan di Binus, minimal cara mengajar saya di Binus itu pakai pendekatan Schaum Series yang tidak hanya membahas teori fundamentalnya, tapi juga menyelesaikan problem sets yang ada (kadang saya ambil dari 2-5 buku yang berbeda)…

    Sedangkan masalah penerapan teori di real world akan dialami mahasiswa Binus waktu mengerjakan KP (Kerja Praktek, Internship) di perusahaan yang ia pilih. Sedangkan Big Project dikerjakan waktu mahasiswa Binus mengambil Skripsi, soalnya Skripsi di Binus biasanya berupa Big Project yang dikerubut 2-3 mahasiswa sekaligus…

    Wah…dapat “pencerahan” dari Mas Adhiguna, saya pribadi sebagai dosen semakin mantap untuk “Menshaumkan Binus, dan Membinuskan Schaum”…

    Walau…apalah itu artinya ?

    Reply

  4. kunderemp "an-narkaulipsiy" ratnawati hardjito
    Apr 02, 2009 @ 04:49:19

    sebelas halaman papan tulis itu kayak apa yah? Gak terbayang… setahuku, paling banter cuma tiga halaman papan tulis..

    Mas Kunderemp,
    Di beberapa kelas di kampus saya, terutama di gedung-gedung tempat Dept Mathematics atau Dept Computer Science berada, jumlah papan tulis (black board) ada sekitar 8 di dalam satu kelas. Jadi ada 2 di depan, 2 di samping kanan, 2 di belakang, dan 2 di samping kiri. Jadi kalau professor ingin mem-prove suatu theorem, lemma, corollary, dsb..dia menulisnya dari papan tulis depan, pindah ke kanan, pindah ke belakang, pindah ke kiri, dan akhirnya nyambung lagi depan, dst…

    Jadi para mahasiswanya juga harus memutar-mutar kursinya biar bisa mencatat apa yang ditulis professor. Memang di pendidikan Amerika, proof itu penting sekali. Kalau nggak percaya, coba deh nonton film favorit saya “Good Will Hunting” yang dibintangi Matt Damon dengan Robin Williams..

    Kalau belum pernah lihat kelas dengan 8 papan tulis, silahkan datang ke Bloomington, Indiana. Letaknya di Lindley Hall. Dari Fairfields, Iowa paling 8-10 jam perjalanan saja…

    Reply

  5. alris
    Apr 04, 2009 @ 01:20:03

    Saya mendukung cara mengajar dengan metode yang Pak Tri terapkan. Kayaknya cocok dengan pola pendidikan kita. Buat apa pintar, begitu turun gunung, maksudnya selesai kuliah malah bingung gak bisa beradaptasi dengan dunia nyata. Bukan membantu menyelesaikan masalah, malah bikin pemerintah bingung mikirin pengangguran terdidik kayak saya, hwekekeke…*itu juga kalo pemerintah care dengan pengangguran, sebab selama ini kesannya sabodo teuing*

    Kalo saya masuk jurusan matematika atau statistik bisa jadi saya gak lulus-lulus mungkin. Bayangin untuk menjelaskan apa itu 1/2, bisa menghabiskan 10 halaman white board. Saya yang kebagian matematika waktu kuliah dulu hanya 4 sks dan 2 sks statistik sudah berusaha jungkir balik untuk bisa lulus. Apakah karena saya bodoh? Bukan, hanya kurang latihan otak kiri. Buktinya ada dua orang teman sekelas saya waktu kuliah S1 dulu melanjutkan S2 nya ke jurusan statistik IPB. Kalo teman-teman saya itu bisa menyelesaikan S2 di statistik IPB dengan IPK diatas 3 koma sekian, seharusnya saya juga bisa. Maksudnya bisa klenger, hahaha….

    Uda,
    Ralat dikit, menghitung 0.5 ! (setengah faktorial) itu berapa, perlu dihitung dengan Moment Generating Function sampai sekitar 11 papan tulis…

    Kalau sekolah di IPB saja sudah klenger, saya merasakan sekolah di Dept of Mathematics di US lebih kelenger lagi, bahkan seolah mati berdiri… Soal ujiannya semuanya prove ini, prove itu…

    Bisa dilihat di film “Good Will Hunting” ada profesor yang nangis mau lihat uraian “proof” dari suatu theorem yang ternyata dibuat oleh….seorang OB (office boy) !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: