“Belut Setan” Jl. Menoreh Raya, Semarang

Awalnya nggak sengaja, karena saya nyari kantor BPS Semarang di Jalan Pahlawan tapi ternyata sudah pindah. “Ke Jalan Menoreh Tengah¬†X pak. Tuh dari Sampangan ke arah PDAM yang ke arah UNES itu, begitu ada sate belok kanan”, kata penjaga gedung BPS lama kepada saya dan teman yang mendatanginya..

Kamipun menstart mobil Kijang plat merah pinjaman ke arah daerah Sampangan yang disebutkan, walaupun selama dalam perjalanan kami masih terus dibingungkan “ada sate belok kanan”. Pertanyaannya, ada berapa sate sepanjang Jalan Menoreh ?

Kamipun sempat nanya beberapa kali, tapi setiap kali clue atau hint nya tidak jelas sampai akhirnya Kijang kami sampai ke Gunung Pati tempat kampus UNES yang megah (semegah kampus Undip atas) berdiri. Wah,,pasti ini sudah terlalu jauh, kata teman yang nyopirin Kijang sambil memutar kijangnya balik kanan ke arah Semarang lagi…

Kamipun menuruni jalanan menurun di tanah kapur berpasir tipikal bukit-bukit di Semarang. Kamipun masuk Jalan Menoreh Raya lagi. Tak disangka, ada papan nama Universitas Wahid Hasyim yang beralamat Jalan Menoreh Tengah X”. Kamipun belok kiri dan menemukan kantor BPS sementara yang baru didiami 2 minggu belakangan ini..

Singkat kata, kamipun bisa menemukan kantor BPS dan langsung menuju ke Perpustakaannya untuk membeli buku “Jawa Tengah dalam Angka”. Sambil berbasa-basi dengan ibu yang menjaga perpustakaan yang ternyata berasal dari Jakarta, sayapun sempat curhat “Wah..sulit lho Bu mencari kantor ini, saya tadi diberitahu untuk menemukan warung sate lalu belok kanan, tapi tidak ketemu-ketemu”..

Dan ibu itupun dengan enteng menjawab “Wah..Pak, warung sate Pak Widodo itu enak lho. Bapak sudah nyoba belum ? Malahan pernah dikunjungi pak Bondan Mak Nyus lho”. Sayapun sekenanya menjawab “Ah..masak sih Bu ?”. Dan si ibupun melanjutkan “Wah..pak, di sekitar sini yang enak tidak hanya sate di Pak Widodo itu lho. Di seberangnyapun belutnya juga enak lho pak..”

Saya dan teman sayapun sampai berdiri dari kursi kami masing-masing dan berkata “Ah..yang bener Bu ????”..

Besoknya selepas Jumatan di Masjid Raya Simpang Lima, kami segera meluncur ke Jalan Menoreh Raya. Sampai di tempat “Belut Setan” itu, tempat parkiran sudah penuh dengan sekitar 8 mobil dan 20-an sepeda motor. Dengan susah payah kami bisa parkir di antara mobil-mobil lainnya..

Mendapatkan tempat dudukpun rupanya tidak mudah di warung “Belut Setan” ini karena harus nunggu pengunjung lama selesai makan. Begitu pula, ketika kami makan, dari mbak-mbak, mas-mas, sampai ibu-ibu dan bapak-bapak banyak yang berdiri di belakang kami menunggu bangku kosong…

Dan…masakan “mangut belut” ini sungguh tiada bandingan. Satu porsi nasi serasa kurang. Belum yang sebelum dimasak dibakar atau “di-fufu” lebih dahulu ini, memasaknya dicampur dengan kuah berwarna kehitaman yang pedaaaaasssss bukan main. Sambil makan saya perhatikan kuah saya penuh dengan potongan cabe rawit warna hijau dan merah..

Ranjau !!!

Kalau anda mau makan, jangan sampai di sana jam 13.00 soalnya “Belut Setan” pasti sudah habis, begitu juga “Garang Asem”. Ancar-ancarnya juga mudah. Susuri Jalan Menoreh Raya dari arah Jalan Sampangan, ketika papan petunjuk berwarna putih bertuliskan “Universitas Wahid Hasyim” kelihatan, nah di perempatan itulah adanya warung “Belut Setan” di sisi kiri dari jalan..

Pokoke….mak nyussss tuenaaan !!

Gak nyeseeeel rek !!!

Operation Lasino

Ceritanya anak saya yang gede yang menikah 1 Nopember 2008 kemarin saat ini sedang menikmati buah pernikahannya, alias saat ini sedang hamil “Si Bagus” empat bulan setengah. Kebetulan suaminya bekerja di sebuah BUMN yang terletak di luar pulau, yang pulang ke Jakarta kadang dua minggu sekali kadang sebulan sekali..

Nah..seperti lazimnya orang hamil, tak terkecuali anak saya – mungkin niru ibunya dulu, juga ngidam. Kalau ibunya dulu sempat ngidam ubi goreng dan jambu bol, yang tidak berhasil saya temukan walaupun kota Bogor sudah saya ubek-ubek. Maka, anak saya itu ngidam bakso Lasino yang warungnya terletak di jejeran warung makanan samping Undip kampus bawah (Imam Barjo) Semarang..

Mengapa bakso Lasino ? Katanya bakso ini so special karena ada bakso rebus dan bakso gorengnya, sudah itu masih ditambah dengan “topping” berupa babat goreng dan usus goreng. Anak saya dan suaminyapun – yang keduanya sama-sama lulusan Undip bawah – pengin pergi jalan-jalan naik pesawat ke Semarang hanya untuk menikmati semangkok bakso Lasino !

Setelah diitung-itung, kata anak saya mereka berdua perlu ongkos Rp 2,4 juta hanya untuk menikmati 2 mangkok bakso Lasino yang semangkok harganya cuman cem-ban (Rp 10 ribu)..

Akhirnya anak saya dan suaminyapun mundur teratur nggak jadi ke Semarang untuk menikmati bakso Lasino karena muahaaalnya itu lho..

Sebagai orangtua yang baik (You Bet !!), saya dan isteripun berniat memenuhi pesanan anak saya bakso Lasino waktu pulang ke Semarang naik mobil minggu kemarin ini. Kami pulang ke Semarang hanya untuk stop-over, karena tujuan kami berdua hanya untuk menjenguk pusara kakak ipar di Pantai Samas, Yogyakarta, sambil terus berziarah ke makam Bapak-Ibu di Madiun. Karena jadwalnya nggak pas, yaitu sampai Semarang dari Madiun Minggu malam, maka saya urung membawa bakso Lasino karena kalau hari Minggu tutup. Sebagai gantinya, anak saya dibelikan 30 biji bakso Tambir dari kulon kreteg Mangunhardjo Madiun. Dan saya jamin rasa bakso Tambir juga bisa menggoyangkan lidah lho !

Walaupun anak saya sudah merasa puas merasakan bakso Tambir yang cara makannya biasanya “dicocolkan” ke sambel itu, tapi sebagai orangtua sayapun belum puas. Untunglah, minggu depannya kantor menugaskan saya perjalanan dinas ke Semarang naik Garuda. Alhamdulillah, bisa menghemat biaya dan waktu. Tapi alamak, cem mana nih caranya membawa bakso plus airnya kalau naik pesawat pula ?

Ya sudah, yang penting disyukurin dulu bisa ke Semarang dengan cara “Abidin” (atas biaya dinas). Sehingga bisa melaksanakan wisata kuliner kecil-kecilan merasakan Sate Pak Widodo dan “Belut Setan” di Jalan Menoreh, Semarang..

Otakpun saya putar keras, menemukan solusi elegan membawa dua mangkok bakso beserta airnya ke Semarang. Akhirnya dengan teman seperjalanan dinas Mas Priyanto, sayapun mampir ke Carrefour yang terletak di “DP Mall” (Diponegoro Mall) di Jalan Pemuda (?). Sayapun beli “cooler box” kecil merk Lion Star seharga Rp 90 rb agar bakso dan airnya yang saya beli bisa dimasukkan ke tas dufel Reebok saya..

Setelah dari DP Mall, sayapun ditemani Mas Pri meluncur pakai Kijang plat merah dipinjami temannya Mas Pri untuk mencari dimana lokasi bakso Lasino. Kalau kompleks Undip Imam Barjo saya bisa menemukan, masak bakso Lasino tidak ketemu. Dengan bertanya ke 3 orang tukang parkir, akhirnya sayapun bisa menemukan warung bakso Lasino yang terletak di sebelah selatan jalan itu. Sayapun pesan 2 mangkok dan membayar Rp 20 ribu (sayangnya, Pak Lasino dalam mencampur bakso tidak secanggih Pak Tambir, sehingga daun sawipun tercampur dengan biji baksonya)..

Esok paginya jam 8.30 saya meninggalkan hotel “S” di Jalan Ahmad Yani dan dengan taksi bergegas ke bandara. Bakso Lasino yang saat itu sudah ditaruh di “cooler box” sudah ditaruh rapi di tas Reebok saya. Begitu rapinya, tapi saya masih khawatir bagaimana mengakali security check di bandara Ahmad Yani, karena konon kabarnya odol dan cairan tidak boleh dibawa masuk ke pesawat !

Singkat cerita, taksipun sampai Ahmad Yani dengan argo Rp 20 rb. Mas Pri-pun membayar tarif argo plus tip buat si sopir taksi, dan tas Reebok sayapun sudah di-scan di security check !!

Lolos !!!

Sebentar kemudian, saya check in dan tas Reebok sayapun saya taruh di bagasi dengan berat 7.6 kg. Tas diberi tali kuning pengaman, dan diberi sticker “CGK” dan dimasukkan ke ban berjalan..

Lolos !!!!

Beberapa menit kemudian sayapun tersenyum-senyum di atas pesawat membayangkan betapa lancarnya “Operation Lasino” yang saya lakukan saat ini.

Mission Accomplished !!!

Dan sorenya anak saya yang ngidam sudah merasakan semangkuk hangat bakso rebus dan bakso goreng Lasino yang di atasnya diberi toping usus goreng dan babad goreng…

Mungkin saya tidak akan pernah melaksanakan operasi yang “serumit” Operation Lasino kali ini….hehehe….siapa tahu ?

Kawan Bergelut

Bapak saya seorang dosen pengajar di jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra dan Seni waktu saya usia SD. Sebagai pengajar sastra Indonesia, almari buku bapak saya penuh dengan buku-buku novel sastra terutama sastra Indonesia, sansekerta, arab gundul (orang Singapore dan Malaysia nyebutnya “huruf Jawi”), belanda, dan juga jerman. Setiap waktu luang terutama di waktu libur sekolah bila bapak saya tidak ada di kamarnya, saya suka “membenamkan” diri di kamar sejuk tak ber-AC itu untuk membaca berbagai novel yang ada. Entah mengapa, semakin dibaca semakin saya merasa saya belum membaca apa-apa.

Salah satu novel sastra (eh..bisa nggak disebut “novel” ?) kesukaan saya adalah “Kawan Bergelut” karangan Suman Hs. Saya sudah lupa persisnya apa yang dibahas di novel itu, tapi kalau nggak salah persahabatan putus-sambung antara dua anak manusia karena setiap kali mereka selalu berdebat seru tentang suatu masalah.

Nah, sore ini saya kembali mengingat-ingat kira-kira siapa sih sepanjang hidup saya adalah “kawan bergelut” saya, yaitu seorang teman yang lebih sering saya berdebat tentang suatu hal dengan dia daripada bekerja menyelesaikan suatu masalah…

Kawan bergelut yang pertama adalah seorang teman saya lain kelas sejak SMP. Pada saat saya melanjutkan sekolah ke SMA, kawan yang satu ini juga masuk di SMA yang sama. Karena kawan ini berasal dari luar kota, pada suatu sore hari sewaktu saya sedang bersepah di Jalan Panglima Sudirman di kota saya dia kebetulan sedang naik becak di jurusan yang sama. Sambil mengobrol di jalan, saya bersepeda dia naik becak, tiba-tiba ia bilang “Kayaknya saya harus kost di rumahmu nih”. Lho, emang dia itu siapa ? Anaknya jenderal belang ? Sayapun berdusta bahwa di rumah saya kamarnya terbatas dan semuanya sudah ada penghuninya, walaupun tersisa 2 kamar di pavilyun rumah saya yang belum ditempati. “Wah..di rumahku nggak ada kamar lagi”, kata saya berbohong. Diapun bilang “Pokoknya sekarang ini dengan becak ini, saya mau pergi ke rumahmu dan pengin bertemu dengan ibumu !”, katanya setengah mengancam. Padahal kawan ini SMP dan SMA nya tidak sekelas dengan saya, saya tidak terlalu dekat dengannya yang terlalu “liberal” dan “borjuis”, maka saya berbohong tadi.

Akhirnya sore itu dengan becaknya ia benar-benar pergi ke rumah saya, bertemu ibu saya, dan entah apa yang dibicarakan dengan ibu saya yang jelas ia pakai bahasa yang sangat halus (kok tumben ?), dan ibu sayapun memanggil saya dan bilang. “Nak..temanmu ini mau tinggal di sini. Ya sudah kamar di pavilyun itu besok kamu bersihkan soalnya temenmu itu lusa sudah mau menempati”, kata ibu nggak kalah kalem. Oh my God, mimpi apa saya ya ?

Singkat kata, teman saya tadi akhirnya tinggal di rumah saya selama 3 tahun penuh semasa SMA. Dia hanya pulang kampung jika tanggal muda buat ngambil perbekalan berupa beras 20 kg untuk diberikan kepada ibu saya. Mengenai jumlah uang yang dia bayarkan kepada ibu saya juga saya nggak tahu. Yang jelas kawan tadi sering menggunakan Bapak dan Ibunya buat membujuk ibu saya supaya menerima teman saya tadi. Biasanya bapak dan ibunya datang menggunakan Jip Mambo (sebutan untuk kendaraan penggerak 4 roda buatan Mitsubishi)..

Sejak itu, pola hidup saya berubah. Tiba-tiba saya harus berlangganan koran KOMPAS, karena kawan tadi katanya senang membaca Kompas. Tiba-tiba pula saya juga jadi nonton film 4 kali seminggu, soalnya kawan tadi katanya tidak bisa tidur kalau tidak nonton film di gedung bioskop (untuk menyebutkan nggak bisa tidur kalau nggak nonton TV rupanya ia tidak tega, karena di rumah saya memang tidak punya TV). Tiba-tiba pula di depan kamar pavilyun didirikan papan tempat latihan menendang, sansak karung diisi pasir untuk latihan memukul, dan di tanah bertebaran batu bata, batu beneran, kayu, dan besi buat latihan pemukulan. Pokoknya nggak kalah sama Shaolin Temple deh !

Tapi yang membuat saya termotivasi membuat judul ini, karena kawan ini rupanya belum bisa tidur sebelum berdebat dengan saya sekurangnya 1 jam !!! Tempat berdebatnyapun di pinggir jalan, di waktu malam, dan sebenarnya tepat posisinya di depan kamar bapak saya yang terkenal galak setengah mati !!! Yang kami perdebatkan bisa olahraga, politik, seni, sampai ke astronomi dan astrofisik. Saya masih ingat di suatu malam terang bulan, kira-kira jam 9.30 malam ia ngajak keluar dan akhirnya kami berdebat tentang bagaimana sebuah wahana ruang angkasa memperoleh energi untuk mengelilingi bumi sampai beberapa puluh kali ? FYI, Apollo 13 mendarat di bulan tahun 1969 dan perdebatan ini terjadi tahun 1973, jadi hanya 4 tahun kemudian. Tinggal di kota kecil, tidak punya TV pula, tentu sulit bagi saya bagaimana memahami pesawat ruang angkasa bisa memutari bumi ratusan kali itu. Tapi yang jelas kami berdebat selama 2 jam, cuman berdua, dan sangat seru, dan bapak saya yang biasanya mau tidur diam saja, mungkin bapak juga mendengarkan apa yang kami perdebatkan, tapi tidak campur tangan.

Itu kawan bergelut saya yang pertama, kawan bergelut saya yang kedua adalah teman sekantor yang berasal dari Yogya.

Kawan kedua ini lain dengan kawan pertama. Kawan pertama latar belakangnya IPA, dan kawan kedua ini latar belakangnya IPS. Tapi kalau anda bertanya kepada kawan kedua ini tentang kuliner, politik, sastra, militer, kebudayaan, hal-hal kontemporer, pasti dia bisa menjawab dengan fasih, atau pura-pura fasih.

Kawan kedua ini hapal banget tentang Babad Tanah Jawi, perebutan kekuasaan di Majapahit, Jepang, Pajang sampai jaman kolonial di Jawa. Mengapa seorang raja melakukan sesuatu, ia juga hapal persis penyebabnya, walaupun sekurangnya dari pendapat dia sendiri. Masalah ilmu wilayah secara militer ia juga paham betul, apa beda Mataraman dengan Tapal Kuda dan kenapa seperti itu. Budaya dan kebudayaan ia juga hapal betul, tidak hanya kebudayaan suku-suku yang ada di Indonesia semuanya, tapi juga mengapa orang Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia bersikap yang berbeda-beda tentang suatu issue. Bagaimana perebutan “kekuasaan” antara Amerika Serikat-Jepang-Cina tetap berjalan terus dari jaman baheula sampai jaman kini dan mengapa. Ia juga hapal bedanya antara Puritanism, Confucianism, Budhism, Hinduism, sampai ke agama samawi Judaism, Christianity, dan Islamism. Itu belum lengkap, ia juga hapal gradasi antara conservatism, pacifism, hawkism, liberal, sampai neo liberal.

Tapi dari kawan kedua ini yang saya ingat kata-katanya “Jok, situ jangan baca dan terpaku cerita Nagasasra dan Sabukinten terus, karena cerita SH Mintardja itu terlalu hitam-putih dan tidak ada abu-abunya. Yang baik tetap baik, dan yang jahat tetap jahat dari awal cerita sampai akhir cerita. Tapi baca Kho Ping Ho, tokohnya ada yang berpura-pura baik tapi jahat, dan tokoh yang kelihatannya jahat tapi baik. Kho Ping Ho lebih bisa menggambarkan manusia Indonesia pada kenyataannya dibandingkan dengan SH Mintardja”, katanya 25 tahun yang lalu. Dulu saya tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi sekarang saya baru saja ngeh…

Dapatkah anda menebak siapa nama kawan bergelut saya yang pertama ? Dan siapa nama yang kedua ?

Selain itu, apakah anda juga punya kawan yang berperilaku seperti kawan bergelut bagi saya tersebut ? Siapa namanya dan mengapa alasannya dia bisa anda jadikan kawan bergelut ?

Tapi satu yang jelas, kalau anda punya kawan bergelut anda akan merasa hidup yang lebih hidup. Dan dunia tidak lengkap tanpa mereka itu…

Siapa guru idola saya ?

Ah, pertanyaan sederhana yang sungguh sulit untuk dijawab…

Sebenarnya semua guru yang telah mengajar saya sejak SD, SMP, SMA, universitas, itu semuanya idola saya. Apalagi guru-guru SD yang telah mengajar saya dari manusia tidak berpengetahuan menjadi manusia berpengetahuan, tentu saya mengidolakan guru-guru SD saya…

Pak Soekarno yang lucu dan gemuk, yang suka menyanyi sambil naik ke atas meja kelas di SD Kelas I saya “Jah..Gajah, kowe tak kandani Jah..” tentu merupakan guru idola pertama. Guru saya di kelas II SD yaitu Ibu Soekana yang juga Kepala Sekolah SD saya, idola saya juga. Guru kelas III SD saya yaitu Ibu Pertiwi, juga idola saya, walaupun Ibu ini pernah mengeluarkan saya dari ruang kelas gara-gara teman sebangku ngentut dan di rapor nilai Kelakuan Baik saya adalah “K” alias kurang (Bu….yang ngentut bukan saya Bu ! Bau itu tidak keluar dari “knalpot” saya…). Guru kelas IV saya Ibu Yoso Rukmini juga idola saya, walau beliau sering saya debat karena menyebut “bujur sangkar” sebagai “empat persegi panjang”, Guru kelas V saya Wahyono (muda) yang suka bercerita tentang epik Mahabharata adalah pencerita yang baik karena dengan bercerita kita seolah mengalami (immerse) beneran ke sana, dan yang terakhir guru saya kelas VI SD Bapak Wahyono (sepuh) yang juga bapaknya teman sekelas Etty adalah guru idola saya yang pertama mengajarkan kecintaan saya terhadap Matematika dalam bentuk soal-soal “persamaan tersamar” yang serba maut !

Di SMP guru saya semakin banyak, dan tidak mungkin menyebutkan beliau satu per satu. Tapi guru bahasa Inggris di kelas II yaitu Ibu Wiwiek yang selalu berpakaian rapi adalah guru bahasa Inggris idola saya, yang karena beliau saya terpacu keras belajar bahasa Inggris, antara lain menghapalkan semua nama binatang dalam bahasa Inggris dari “rhino” sampai “dragon fly”. Yang kedua adalah Pak Probo yang mengajar Sejarah Dunia yang selalu bercerita tentang kehebatan Julius Caesar dengan sangat bersemangat dan kamipun tenggelam (immersed) ke cerita beliau..

Di SMA guru saya semakin banyak, dari guru ilmu sosial sampai guru ilmu pasti. Jika saya harus memilih salah satu, saya akan memilih Pak Pribadio yang telah mengajar mata pelajaran Mekanika dengan semangat 45, tapi toh saya tidak ngerti-ngerti juga, karena nilai ujian Mekanika saya kalau nggak 4 ya 5. Dan Pak Pribadio ini punya ciri fisik khusus seperti Freddy Mercury, vokalisnya The Queen karena beliau tinggi langsing, dengan hidung mancung dan kumis persis Freddy..

Di Bogor dosen saya juga banyak yang bagus. Hampir semua dosen Matematika saya yang kebanyakan dari Sumatera Utara, adalah dosen-dosen jempolan. Tapi kalau harus menyebut nama, dosen terbaik mungkin Dr. Sediono M.P. Tjondronegoro (Pak Mommy) yang mengajar dengan bahasa yang jelas dan olah tubuh yang bagaikan bintang film Hollywood. Pak Mommy dosen terbaik untuk ilmu sosial yang pernah mengajar saya. Untuk ilmu Matematika dan Statistika, pastilah yang terbaik Prof. Andi Hakim Nasoetion, terutama alasannya karena Pak Andi kalau sedang mengajar, mengajarnya hanya 15 menit pertama, dan setelah itu cerita ngalor-ngidul tentang ilmu-ilmu kehidupan dan terutama joke-joke beliau yang sangat segar tapi “penuh logika” sehingga mahasiswa pendengarnya selalu ketawa 2 kali (ketawa pertama untuk yang cepat mengerti atau “quick witted”, ketawa kedua untuk mahasiswa yang masih nanya apa sih lucunya cerita Pak Andi itu…hahaha…).

Di Bloomington banyak dosen saya yang bagus-bagus. Ada profesor yang ngajarnya amat sangat jelas, dan kalau ujian suka disuruh break dulu untuk menikmati pizza dan soft drink dingin yang dibawa profesor ke kelas, tapi beliau ini tidak masuk dalam hitungan dosen favorit saya karena walaupun super ramah, ternyata nilainya super pelit. Untuk dosen favorit saya memilih Pak Mills, yang bertubuh subur seperti John Goodman bintang film diThe Flinstone itu. Beliau pernah mengajar Arsitektur Komputer dan proyek saya dinilai A++ dan selalu menawari saya ngambil mata kuliah lainnya dari beliau “But Sir, I am graduating this December”, jawab saya waktu itu…

Setelah bekerja di sebuah lembaga penelitian pemerintah yang dulunya di bawah sebuah perusahaan minyak nasional, saya juga masih menemukan guru-guru baru walaupun saya sudah tidak di bangku kuliah lagi. Dr. B.J. Habibie mengajarkan saya akan ilmu menjual diri yang sangat canggih dan motivasi yang luar biasa. Dr. Wardiman Djojonegoro telah mengajarkan kepada saya bagaimana menaklukkan red tape alias birokrasi pemerintahan. Dan last but not least, Dr. Satrio Budihardjo (Billy) Joedono mengajarkan saya untuk membuat perencanaan masa depan yang matang, “Kalau kamu punya ilmu, kamu makin lama akan semakin kaya. Kalau kamu punya harta, sekali bangkrut habislah dia”, itu salah satu kata-kata beliau yang bertuah kepada kami-kami yang waktu itu masih muda…

Nah, siapa sih guru anda ?

Guru dan “guru”

Di kebudayaan India, guru yang diartikan “orang yang tahu segalanya” dipandang sebagai posisi yang tertinggi. Bahkan di kalangan para ahli komputer yang sering menggunakan sistem operasi open system umumnya dan khususnya UNIX, jika ada trouble pasti muncul pesan “consult a guru”…atau tanyalah guru anda. Jadi, guru juga sudah menjadi kosakata bahasa Inggris (American) yang baku…

Kebetulan saya terlahir ke dunia ini dari bapak dan ibu yang keduanya bekerja sebagai guru. Bila ibu saya dari awal karier sampai puncak kariernya bekerja sebagai guru SD, maka bapak saya yang pernah menjadi pejuang kemerdekaan selepas Perang kembali mengajar, dari SD di Wayut, SMP di Walikukun, SMA C Madiun (SMA 2), dan terakhir sebagai Dosen IKIP Malang Cabang Madiun, dan sewaktu meninggal bapak masih bekerja (belum pensiun) sebagai guru SPG (Sekolah Pendidikan Guru)..

Jadi, masalah pekerjaan guru saya tahu sejak lahir karena kedua orangtua saya adalah guru. Sejak kecil mungkin masih menyusu, saya sudah dikenalkan oleh pekerjaan ibu saya sebagai guru yang pekerjaannya sering dibawa ke rumah. Dan kelihatannya bekerja sebagai guru ini asyik, santai tapi penuh dedikasi. Apalagi di jaman pasca kemerdekaan dulu walau ibu dan bapak saya digaji f 2,- (2 gulden, 2 guilder) tapi buktinya bisa membangun rumah yang cukup besar di kota tempat saya melewatkan masa kecil saya dulu…

Maka tak heran, kami tiga bersaudara mengikuti jejak bapak dan ibu kami sebagai guru. Kakak perempuan tertua walaupun resminya kerja di sebuah bank plat merah tapi menurut ceritanya lebih asyik mengajar calon pejabat bank di lembaga pendidikan bank tersebut. Kakak perempuan kedua, benar-benar kerja asli, 100%, sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi plat merah di Semarang. Sedang saya sebagai anak laki walaupun resminya bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian plat merah di Jakarta, tapi mempunyai pekerjaan sambilan sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat..

Dibesarkan oleh kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru, saya juga sudah hapal apa etika dan norma yang harus dipunyai oleh seorang guru, yaitu : jujur, bekerja keras, bersemangat mengabdi,bersemangat memotivasi, dan tidak pernah mengeluh. Walaupun pada tahun 1960an dan 1970an (sebelum 1973) gaji guru hanya cukup untuk makan, kadang-kadang malah tidak cukup, tapi orangtua tidak pernah mengeluh. Kalau punya beras, ya menanak nasi. Kalau tidak punya, ya makan jagung, bulgur, atau beras TEKAD (singkatan Teknik Angkatan Darat, sebenarnya ketela yang dibentuk seperti bulir beras). Kalau sama sekali tidak punya uang, ya utang di warung Bu Marmi yang terletak 1 blok dari rumah saya…dan membayar nanti waktu gajian. Jika sudah ada nasi tapi nggak punya lauk, maka Bapak akan pergi ke Koperasi Pegawai Negeri yang terletak di bawah Watertoren kota kami, untuk mengutang ikan tengiri asin. Mengenai sayur bayem, kangkung, dan berbagai macam buah seperti pisang, jambu, jeruk, belimbing, surikaya, semuanya sudah ada di kebun kami dengan jumlah melimpah dan tinggal petik…

Dan kehidupan guru walaupun “linear” dan begitu-begitu saja, buktinya kedua orangtua saya bisa menyekolahkan kami bertiga ke sebuah pendidikan tinggi ternama di kota Bogor sampai selesai. Nah, setelah selesai kehidupan dan penghidupan kami ditanggung sendiri : beli rumah, beli kendaraan (bila mampu)..

Dan..itu juga menurun kepada kami bertiga yang putra-putri guru dan berprofesi baik langsung maupun tidak langsung ini sebagai guru. Bisa beli rumah walau mencicil, bisa beli kendaraan walau harus menahan nafas selama 5 tahun, dan karena kami sendiri guru kami punya banyak waktu mengajari anak-anak kami sehingga sampai perguruan tinggi negeri ternama di kota Jakarta, Bandung, dan Semarang. Kami juga membiarkan anak-anak kami untuk mencari hidup dan penghidupannya sendiri, tanpa banyak bantuan orang lain…berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, yang menurut istilah sekarang disebut “mandiri” tapi sering dipelesetkan sebagai “mandi dan cuci sendiri” itu…

Mengapa saya memberi judul posting ini guru dan “guru”, apa bedanya ?

Beda, guru adalah pengajar dengan pengertian jaman dahulu : jujur, sederhana, pantang mengeluh, pantang menyerah, berdedikasi. Sedangkan “guru” adalah pengertian pendidik jaman sekarang yang BELUM TENTU mewarisi sifat seperti guru di jaman dahulu…

Guru di jaman sekarang, terutama setelah era reformasi, sukanya melakukan demo. Demi kebebasan tanpa batas yang ditelurkan oleh era reformasi. Demo untuk meminta kenaikan gaji, demo untuk meminta diangkat sebagai pegawai negeri, bahkan demo terhadap penguasa ! Saya tidak mengatakan hal-hal tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Toh, guru juga manusia biasa. Kata Candil dari The Serious “Guru, juga manusia” jadi bisa lapar, haus, marah, dengki. Jadilah guru berdemo. Tapi tidak akan saya sebut sebagai guru lagi (tanpa tanda kutip), tapi sebagai “guru” (dengan tanda kutip). Karena guru adalah guru seperti definisi awal tadi, yang jujur, berdedikasi, dan seterusnya. Mungkin alam hedonis atau mendewakan material seperti jaman sekarang ini yang membedakan guru dengan “guru”..

Hubungan guru dengan pemerintah juga cukup unik dan berubah terus, sesering nama departemen pemerintah sebagai “boss” para guru. Dulu namanya Departemen PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan), kemudian berubah menjadi Departemen P&K (Pendidikan dan Kebudayaan, alias Depdikbud…sehingga pernah muncul di pojok Kompas istilah “Dirjenbud Depdikbud dag dig dug”..), dan terakhir berubah menjadi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)..

Dahulu kala di tahun 1980an, Depdikbud mewajibkan setiap guru dan dosen mengurus sertifikasi yang disebut Akta I, II, III, IV, dan V. Akta V dikhususkan untuk dosen, dan bagi dosen yang tidak memperoleh sertifikasi Akta V tidak akan naik pangkatnya dan tidak boleh mengajar. Celakanya, prosedur sertifikasi Akta V mungkin waktu itu berbelit-belit sehingga Dr. Dorojatun Kuncorojakti dari UI, Dr. Sofian Effendi dari UGM, dan yang lain-lain walaupun dosen berbobot lulusan luar negeri (Ph.D) tapi toh gagal memperoleh Akta V dan oleh karena itu pangkatnya tidak bisa naik dan sangat terlambat untuk jadi Profesor, padahal secara kualitas semestinya tidak boleh dipertanyakan lagi..

Dua puluh tahun kemudian, Depdiknas juga mempunyai program serupa yang disebut Sertifikasi guru dan dosen. Tapi pemberian sertifikasi didasarkan kepada kuota (mungkin karena masalah dana jika tidak diterapkan kuota), akibatnya setiap hari di halaman-halaman surat pembaca di koran-koran timbul banyak komplain tentang Sertifikasi ini. Misalnya, ada guru senior yang sudah menunggu lama tapi belum disertifikasi, dan antriannya urut kacang (urut, tapi tunggu gilirannya lama). Sertifikasi dosen juga sami mawon. Dosen yang sudah mempunyai JJA (Jabatan Jenjang Akademis) juga masih harus ikut proses sertifikasi, dan sertifikat ini nantinya yang digunakan untuk semacam SIM (Surat Izin Mengajar) dan celaka bagi yang tidak memilikinya, karena tidak boleh mengajar dan tidak mendapat tunjangan mengajar..

(Sssst…di slip gaji terakhir yang saya terima dari universitas tempat saya mengajar, tunjangan JJA saya menerima 2 kali karena ditulis dalam 2 baris yang berbeda dengan jumlah angka yang sama, apa yang satu berupa tunjangan JJA dan satu lagi tunjangan sertifikasi ? Padahal saya belum tersertifikasi lho…)…

Masalah lainnya atau alasan lainnya mengapa saya membedakan antara guru dan “guru” dalam judul posting ini, karena bagi saya keduanya sangat berbeda….

Guru adalah dosen yang tidak peduli jenjang pendidikannya (bisa S1, S2 atau S3), tapi yang bersangkutan punya kemampuan sebagai Guru dalam arti yang saya sebut di dalam sistem operasi UNIX di paragraf pertama yaitu “orang yang serba tahu atau orang yang mempunyai pengetahuan yang tidak terbatas”..

Sedangkan “Guru” adalah orang yang jenjang pendidikannnya cukup tinggi atau sesuai dengan tingkatan dimana ia boleh mengajar, tapi sebenarnya secara kualitas belum sesuai dengan hebatnya gelar yang telah disandangnya alihan “keberatan gelar” dan secara kua teknik dan kua pengalaman, belum sehebat dengan Guru (tanpa tanda petik) tadi…

Celakanya, banyak sekolah atau universitas yang tidak bisa membedakan apa beda Guru dan “Guru”, jadinya “Guru” dipercaya sebagai pengajar dengan disertai harapan yang tinggi dan kurang memperhatikan Guru tadi, padahal kua teknik dan kua pengalaman, Guru lebih baik daripada “Guru”..

Saya termasuk yang mana ?

Ah, saya tidak termasuk yang mana-mana. Saya hanyalah orang biasa, kebetulan kedua orangtua saya guru, dan saya senang mengajar, itu saja.

Mungkin saya ini guru, dalam pengertian “wagu dan kuru” (weird and slim)…

Eh, enggak ding, saya gemuk kok…hehehe…

{tulisan ini saya dedikasikan kepada beberapa guru yang saya tahu suka membaca blog ini}

Cerita tentang hujan dan geledek

[Warning : cerita ini mungkin tidak cocok untuk anak kecil yang belum dewasa. Jika anda belum dewasa, jangan melanjutkan membaca posting ini, atau resiko anda tanggung sendiri. Credit : terima kasih kepada senior saya, Pak Suwito, yang telah menceritakan cerita ini kepada saya di Bloomington, tahun 1987 yang lalu]

Pada suatu  hari di sekitar tahun 1972, di suatu sore hari yang cerah di kota Yogyakarta, berangkatlah sebuah Colt mengangkut penuh penumpang tujuan Bantul-Parang Tritis-Parang Kusumo. Di senja yang mendekati malam itu, Colt tersebut terseok-seok menapaki jalan aspal yang kurang begitu mulus. Hampir semua penumpang Colt jatuh tertidur dengan kepala mengangguk-angguk kecapean.

Tiba-tiba tereakan mbak bakul cabe memecah kesunyian, “Mas..mas…mas…stop..stop mas, saya mau pipis dulu”, kata si mbak tanpa malu-malu. Si sopir yang orang Bantul asli sebenarnya merasa malu hanya mendengarkan permintaan si mbak yang sangat terus terang itu. Biasanya wanita Jawa akan sangat menjaga mulutnya, dengan minimal mengajukan permintaan halus misalnya “Mas…saya harus mampir sebentar ke tempat saudara di pinggir jalan ini”..

Maka dengan nada gusar, si mas Sopir menjawab “Pipis dimana to ? Orang ini di tengah sawah dan nggak ada WC gini”

Si mbak pun menjawab “Hayooo…minggir nggak, kalau nggak minggir nanti saya pipis di Colt ini lho…”

Mendengar “ancaman serius” macam gini, si mas Sopir Colt pun mengalah dan menepikan Coltnya ke pinggir jalan. Si mbak pun berjalan gontai menuju tepi sawah. Diapun dengan tetap berdiri, membelakangi Colt dan sedikit merenggangkan kainnya dan mulai membuang air kecil….

Dan tiba-tiba terdengar suara “Duuuuuuttttt…….”. Rupanya si mbak bakul cabe nggak tahan selain mau pipis rupanya juga mau kentut… Lagi terdengar suara keras memecah kesunyian “Duuuuuutttttt……”

Dan si sopir Colt yang dari tadi sebel dengan tindakan si mbak yang ngomong terus terang dan buang air di pinggir sawah itu berkata “Oooooo….dasar wong wedok nggak mutu, udah kencing masih kentut lagi, memalukan !!!!!!”…

Si mbakpun sambil merapikan kainnya, menjawab kalem “Ya normal to mas, hujan itu selalu disertai geledek”

Si mas sopir Colt yang masih mangkel menjawab “Normal…normal gundulmu amoh !!!”, katanya dengan penuh perasaan sebel…

Si mbakpun dengan santai membuka pintu Colt, duduk kembali, masih dengan senyuman puas tersungging di bibirnya…

Dan si mas Sopir Colt pun masih tetap bersungut-sungut melihat bakul cabe yang sebenarnya wajahnya cukup manis, tapi dengan kelakuan minus itu…

Dan Coltpun kembali berjalan terseok-seok menuju selatan, dan seluruh sisa penumpang lainnya tetap terlelap dalam tidurnya. Tidak sadar kalau “Perang Dunia III” baru saja akan dimulai….

Hahaha….

Tawa terakhir adalah tawa terpanjang…

Ini bicara tentang satu prinsip kehidupan lagi. Siapa yang mempunyai tawa terakhir, dialah yang bakalan tertawa paling panjang. He/She who has the last laugh, laugh longer…..

Banyak kejadian di sekitar kita yang dialami orang-orang di sekitar kita yang menyebabkan orang-orang tersebut tertawa duluan. Misalnya seorang remaja pria naksir temannya remaja putri yang cantik jelita, dan si cantik jelita ini menolak cinta si remaja pria ini. Sebaliknya, remaja putri tadi memutuskan untuk menikah dengan seorang pria lain yang tidak terlalu tampan tapi kaya. Maka bisa diduga si remaja pria tadi akan patah hati berkeping-keping, dan kemungkinannya ia akan pata hati seumur hidupnya, atau kemungkinan lainnya ia akan segera melupakan kepatahhatiannya itu dan segera menemukan cinta yang lain lagi…

Tapi intinya, apakah si remaja pria yang patah hati tadi bisa bersabar ? Nah, itulah masalahnya. Bersabar adalah pekerjaan kedua yang paling sulit dilakukan, setelah pekerjaan menunggu. Bila ternyata, sebagai sambungan dari cerita kita tadi, si remaja putri yang menikahi orang kaya tadi kemudian ditinggal suaminya setelah menikah 10 tahun. Dan sebaliknya, si remaja pria yang mula-mula patah hati tadi, tapi bisa bangkit dari kepatahhatiannya dan kemudian 5 tahun kemudian menemukan remaja putri lain yang tidak kalah cantiknya, dan mereka “happily live ever after” ….maka terbuktilah rumus “siapa tertawa terakhir, dialah yang tertawa paling panjang”…

Saya punya 2 orang teman sekantor, dua-duanya di pertengahan tahun 1980an sama-sama menduduki jabatan setara eselon 3. Sebagai pejabat eselon 3, keduanya berhak membayar murah (disebut “dem”) barang inventaris kantor berupa sepeda motor Yamaha L2S 100 cc berplat merah. Nah, si A teman saya itu sehari-hari sudah mempunyai kendaraan dinas berupa sepeda motor plat merah, dan ketika ada kesempatan men-dem sepeda motor tadi, iapun melakukannya dan kini sepeda motor itu menjadi milik pribadinya dan platnya pun sudah diubah ke plat hitam. Sedangkan si B, karena ia tinggal di kota lain yang jauh dari Jakarta ia memutuskan kendaraan dinasnya dipakai si Z, anak buahnya. Ketika tiba waktunya nge-dem sepeda motor plat merah tadi si Z bertanya kepada si B “Pak B, boleh nggak sepeda motor ini saya yang nge-dem, karena toh sudah sehari-hari saya bawa”. Dan si B dengan enteng menjawab “Terserah sampeyan Pak Z, kalau mau nge-dem silahkanlah. Saya toh sudah punya sepeda motor sendiri yang usianya baru 6 tahun”. Dan si Z pun dengan berseri-seri mengurus proses “dem” tadi ke bagian Perbendaharaan Kantor…

Empat tahun kemudian, apa yang terjadi ? Bagi eselon 3 yang belum pernah mendapatkan kendaraan dinas, diberi kesempatan mendapatkan mobil !!! Ya, mobil !!! Apa yang terjadi ? Si A yang sudah pernah nge-dem sepeda motor kantor tadi ditetapkan tidak berhak (tidak eligible) untuk mengambil mobil karena ia tercatat sudah pernah mengambil sepeda motor. Sedangkan si B, yang jatah sepeda motornya diberikan kepada anak buahnya si Z tadi, masih mempunyai kesempatan mendapatkan mobil karena ia tercatat belum pernah mengambil sepeda motor…

See ? He/She who has the last laugh, laugh longer. Siapa yang mendapatkan kesempatan tertawa yang terakhir, tertawanya bakalan yang paling panjang….

Artinya, siapapun yang bisa sabar sampai kesempatan datang, ia akan menikmati buah kesabarannya tadi dengan sebuah hadiah yang maniiiiisss sekali………

Persoalannya, bisakah anda sabar selama itu ?

Previous Older Entries