Hak untuk memilih..

Awalnya saya memandang enteng salah satu hak saya sebagai warganegara Indonesia yaitu hak untuk memilih (the right to vote), sampai pada suatu hari saya berkesempatan sekolah di Amerika…

Di Amerika, kampus saya adalah sebuah kota kecil dengan penduduk sekitar 200.000 orang yang hidup karena adanya kampus dimana saya melanjutkan studi. Jumlah mahasiswa di kampus saya sendiri sekitar 35.000 orang dan sebagian besar adalah orang Amerika kulit putih, mungkin jumlahnya sekitar 60-70% dari populasi…

Pada suatu hari, saya pergi ke kampus untuk kuliah dengan menumpang bis kampus yang membayarnya per semester $ 65 itu. Bis kampus yang berwarna dominan putih dengan strip merah, melambangkan warna-warna kampus saya. Nah, di bis kampus itu saya biasanya melihat 2 sampai 5 orang wanita berkulit hitam yang selalu duduk di barisan terdepan bis. Waktu itu sudah di tahun 1987..

Dari beberapa bacaan yang saya baca setelah tiba di Amerika ini, saya baru tahu bahwa baru pada tahun 1963 penduduk Amerika yang berkulit hitam boleh menduduki baris terdepan dari sebuah bis kota atau bis kampus. Sebelum tahun 1963 di seluruh negara Amerika, penduduk kulit hitam hanya boleh menduduki 2 baris paling belakang saja !!

Sampailah pada suatu hari di negara bagian Alabama yang banyak penduduk kulit hitamnya, seorang ibu berkulit hitam menolak permintaan sopir untuk duduk di 2 baris paling belakang ! Setelah terjadi perdebatan seru, termasuk didukung oleh Pendeta Martin Luther King, maka penduduk kulit hitam boleh menduduki tempat duduk yang mana saja di sebuah bis. Itupun melalui perjuangan panjang, ditandai dengan demo warga kulit hitam secara besar-besaran di seluruh negeri, terutama di negara bagian Alabama. Ditandai juga dengan pidato terkenal dari Martin Luther King berjudul “I have a dream” yang intinya beliau bermimpi bahwa di Amerika nanti akan duduk orang kulit putih dan orang kulit hitam sama tinggi, tidak ada tuan dan tidak budak lagi. Pidato persamaan hak yang dilakukan Martin Luther King adalah tindakan keberanian yang luar biasa karena perjuangannya sangat berat sekali…yang pada akhirnya membawa maut kepada bapak pendeta itu…

Selain diberi hak-hak sipil seperti boleh duduk dimana saja di dalam bis kota atau bis kampus, penduduk kulit hitam juga diberi hak untuk memberikan suaranya pada pemilihan umum. Ya…sebuah hak yang luar biasa, yaitu hak untuk memilih atau the right to vote…

Bisa dibayangkan seseorang yang hidup tanpa hak untuk memilih, misalnya orang-orang Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Amerika sekalipun, maksimum yang dia punyai hanyalah sebuah “green card” atau “permanent residency”. Artinya, semua haknya sama dengan warga negara Amerika, kecuali….hak untuk memilih itu tadi…

Biasanya di siang hari yang sepi, ketika bis kampus di kota saya hanya beberapa orang penumpangnya, dan saya melihat beberapa mahasiswi kulit hitam duduk di barisan depan dari bis, saya terbayang-bayang bahwa “hak istimewa” itu baru mereka dapatkan sekitar 24 tahun sebelumnya !

Moral of the story, jika anda ingin merasa sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai hak-hak istimewa seperti hak untuk memilih, maka gunakan hak itu semaksimal mungkin dengan cara mendatangi TPS setempat dan melakukan pilihan di bilik suara…

Selamat memilih !!!

Anda warga negara yang hebat !!!!!!

5 Comments (+add yours?)

  1. heri koesnadi
    Apr 08, 2009 @ 00:13:06

    seharusnya yang golput itu membaca tulisan ini yah pak…

    Reply

  2. alris
    Apr 08, 2009 @ 00:31:03

    Mari datangi bilik suara tgl 9 april ini, gunakan hak pilih sesuai pilihan hati nurani *gak ada hubungannya sama partai*
    Kalo gak ada caleg yang sreg di hati, tinggal suaranya dibagi rata ke semua partai peserta pemilu, adilkan. Bukankah yang susah itu jadi orang adil?
    Btw, angka orang gak milih alias tidak ikut pemilu di Amrik sana bukankah juga tinggi? hopo tumon….

    Reply

  3. Totok
    Apr 08, 2009 @ 09:16:10

    Lha persoalannya ada yang bisa dipilih nggak???? Ada yang bisa kita yakini nggak??? Berapa kali kita ikut Pemilu, berapa kali kita kecewa terhadap wakil-wakil kita. Dan untuk berapa kali lagi kita harus kecewa melihat ulah wakil rakyat yang dum-duman duit negara hingga masuk bui.

    Yang ketangkep dan yang nggak ketangkep, nggak tahu banyak mana.

    Mungkin padanannya agak beda antara kulit hitam dan sawo matang he…heee…..

    Saya bukan penganjur Golput, tapi saya pribadi nggak yakin terhadap caleg-caleg itu kalau sudah duduk di kursi goyang….

    Reply

  4. kunderemp
    Apr 08, 2009 @ 10:03:07

    seorang ibu berkulit hitam menolak permintaan sopir untuk duduk di 2 baris paling belakang

    Memangnya, Rosa Park sudah punya anak saat itu? Memangnya dia sudah menikah saat itu? Sekedar penasaran.. 😛

    Tapi keren lho.. sampai mengorganisasi pemboikotan bis-bis di Montgomery. Saya sendiri pernah di Montgomery dan memang banyak kulit hitam.

    Tetapi, sebenarnya, Martin Luther King, Malcolm X, Rosa Parks, baru sebagian kecil dari kisah perjuangan kulit hitam. Ada Thurgood Marshall yang merupakah hakim kulit hitam pertama (tahun 1967).

    Mas Kunderemp,
    O ya, saya baru ingat seorang Ibu yang menolak duduk di baris belakang itu adalah Rosa Park. Kalau tidak salah ia meninggal beberapa tahun yang lalu di umur 90+ ya ?

    Saya tidak bilang Rosa Park punya anak atau tidak lho. Yang saya bilang “warga kulit hitam hanya berhak duduk di deretan kursi paling belakang dan di deretan kursi no.2 dari belakang di dalam bis kota” dan tidak berarti Rosa Park naik bis kota dengan seluruh anggota keluarganya. Kalau nggak salah ceritanya ia bepergian sendiri dengan bis kota dan dia (kalau tidak salah) duduk di deretan kursi paling depan !!

    Mengenai Thurgood Marshall, pernah ditulis di Kompas beberapa bulan yang lalu. Sisanya : Martin Luther King, Malcolm X, dan Rosa Park sudah pernah dibuatkan film-nya…

    Reply

  5. edratna
    Apr 08, 2009 @ 12:51:11

    Lha DPT nya baru diterima saat aku pulang dari Lembang hari Minggu…dan travel dari Bandung ke Jakarta sudah habis Rabu. Akhirnya bokap terpaksa ke Jakarta malam ini, dan setelah memilih, langsung tancap gas pulang ke Bandung lagi. Si bungsu harus presentasi hari Senin…

    Milih apa ya…hehehe…masih bingung

    Bu Edratna,
    Lho…Pak De penduduk Cilandak apa Buah Batu sih ?
    Untung semua anggota keluarga di rumah menerima semua panggilan pemilu besok pagi (form C4), apa mungkin karena saya Pak RT maka datanya bener ? Hahaha…

    Bos saya di BPPT (Kepala BPPT) dan keluarganya tidak satupun menerima panggilan memilih dalam pemilu. Kabarnya Syaiful Mujani dari Indobarometer sekeluarga juga tidak mendapat panggilan memilih…

    Makanya berbahagialah bagi yang sudah menerima surat panggilan memilih. Kalau bingung mau milih apa, pilih aja sesuai hati nurani (gak ada hubungannya dengan nama partai lho..)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: