Falsafah Buto Mati

Ketika dengan beberapa teman dari Indonesia yang sedang kuliah di Bloomington, Indiana saya berjalan-jalan mengelilingi kampus, tampak di mata saya gedung-gedung kampus yang dipisahkan oleh padang rumput (lawn, pasture) yang luas. Saking luasnya padang-padang rumput itu (mungkin hanya bisa dikalahkan oleh kampus Iowa State di Ames, Iowa, menurut ceritanya Kang Bahtiar S. Abbas sih..), saya sering melempar joke dengan teman-teman saya tadi…

“Eh..tau nggak, padang rumput ini kalau ada di Indonesia tidak akan bertahan lama. Dalam waktu 10 tahun di situ sudah berdiri tambal ban, lapak pengumpulan barang pemulung, warung padang, lapo tuak, warung tegal, warung bakso, warung es doger, dan warung rawon setan”, kata saya melemparkan pengumpamaan.

Teman-teman yang lain pada tertawa renyah.. Tapi hanya sementara, karena kemudian kami terlibat diskusi serius sambil makan kacang mete goreng (cashew) dan minum Gatorade rasa lime. Inti diskusinya, mengapa hukum di Amerika ini bisa mempertahankan semuanya tetap pada tempatnya (keep intact) selama puluhan bahkan ratusan tahun, dan mengapa di Indonesia kejadiannya bisa sebaliknya…yaitu dalam waktu singkat padang rumput seperti itu bisa berubah dengan cepat ?

Ternyata, masalahnya terletak pada apa yang kami sebut “Falsafah Buto Mati”….

Nah lu, apa pula itu ?

Waktu saya melewatkan masa kecil di kota Madiun, seusia kelas 1-4 SD, begitu seringnya saya nonton wayang kulit dan wayang orang di Gedung Sebda yang ada di tengah-tengah kota Madiun. Setiap malam minggu kalau terdengar ada orang kaya mau menikahkan anaknya, saya bisa nebak pasti orang kaya tersebut bakal nanggap wayang kulit untuk memeriahkan pesta putra atau putrinya. Dengan dalang kondang pula, yang waktu itu beredar nama-nama : Gondomono untuk dalang lokal yang berkualitas terbaik karena sabetan wayangnya bisa dibandingkan dengan Ki Manteb “Oye” Sudarsono sekarang ini. Untuk kualitas yang tiada bandingnya, dan orang yang mendatangkan juga harus kaya sekali, ada Ki Nartosabdo dari Semarang…apalagi kalau sindennya adalah Nyi Tjondrolukito yang suaranya sebening suara Karen Carpenters itu…

Jadi nonton wayang kulit di tetangga yang sedang punya gawe setiap akhir pekan itu sudah suatu keharusan, dan jaraknya dari rumah saya bisa 1-2 blok (200 meter), tapi bisa 20-30 blok (3 km) dari rumah saya. Sedangkan nonton wayang orang saya lakukan bersama Ibu dan kedua kakak perempuan saya di setiap awal bulan bila Ibu habis gajian. Kamipun naik beca berempat menuju Gedung Sebda yang letaknya sekitar 1-2 blok di sebelah selatan Klenteng Madiun itu.

Nah, dari seringnya nonton wayang kulit dan wayang orang saya bisa menyimpulkan ada tokoh-tokoh jahat di wayang yang disebut Buto alias Raksasa, yang pekerjaannya suka merampas harta orang miskin lalu ditumpuknya bertumpuk-tumpuk. Nah, bila datang suatu kesatria yang diganggu para Buto itu lalu kesatrianya bisa mengalahkan Buto sampai Butonya mati, maka kini giliran rakyat jelata yang bergantian mengambil barang-barang buto yang mati tadi. Falsafah Buto Mati, yang kira-kira artinya perlu ada pengawasan terhadap apa saja untuk menciptakan “law and order”, bisa berupa hukum atau peraturan itu sendiri, aparat pengawasannya, dan aparat penegak hukumnya. Kalau tidak “law and order” tidak bakal ada, dan yang ada hanyalah “chaos” atau kondisi “Buto mati”…

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi “Buto Mati” ini sering saya lihat baik di level masyarakat terbawah sampai dengan level masyarakat tertinggi, dari segi pandang strata pendidikan maupun strata ekonomi. Masyarakat berbuat sesukanya karena tiadanya pengawasan, buku-buku yang diambilin orang karena boss tiba-tiba pindah, atau barang-barang kantor dibawa pulang ketika sebuah kantor pindah atau sebuah lembaga dilikuidasi, dan sebagainya..

Dan, kini 20 tahun setelah saya lulus dari Bloomington, saya masih berani bertaruh 500 perak bahwa kalau saya pergi ke Bloomington lagi masih akan bisa melihat padang-padang rumput yang luas di sekitar asrama saya Eigenmann Hall dulu, karena bisa dipastikan “sang Buto” masih di sana….

Tidak ada “Buto Mati” di Amerika…

3 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Apr 12, 2009 @ 10:40:40

    Aku mau koreksi dikit, yang di selatan Klenteng, tepatnya di Jalan Ringin atau 1 blok (istilah sampean) dari rumahku di Jalan Sawo, namanya bukan Gedung Sebda, tapi gedung FATIMAH.

    Lha gedung Sebda itu di Jalan Irian Jaya, belakangnya Pemkot Madiun, yang sekarang juga dipakai kntor oleh Pemkot, nggak tahu bagian apa di situ.

    Cak Totok,
    Wah…terima kasih koreksinya, tak kirain Sebda itu yang di Jalan Ringin, depan rumahnya Muryati teman kita SMP 2 dulu..ternyata namanya Gedung Fatimah ya ? Dulu perpisahan SMP 2 kan di situ, semua cewek-cewek pakai baju bagus dan manglingi….tapi ada yang paling cakep…hehehe…

    Reply

  2. totok
    Apr 12, 2009 @ 20:32:27

    Yang pling cakep siapa tuh????? Sampean kok ya masih inget lho, berarti bener, cinta pertama dibawa sampai mati, he…he….

    Iya Muryati kemana ya sekarang? Temen-temen SMP 2, pada ilang jluntrungannya, saya cari-cari di FB (halah wong baru bisa aja kok) nggak ketemu tuh, yang ketemu malah wartawan edan-edan kabeh.

    Eh, itu kalau nulis panjang terus ditaok di tepi kiri FB gimana caranya ya? Ajarin dong. Terus aku dapat kiriman foto, di foto itu ada ditulis namanya yang bisa ilang kalau nggak kursor di masukkan ke situ, gimana tuh. ???? He…he katrok.

    Cak Totok,
    Setahu saya Muryati dulu sempat masuk IPB tahun 1977 (setahun setelah saya). Waktu itu ia dipacari anak Kehutanan yang berasa dari sekitar Madiun (lupa Cepu atau Blora). Mungkin sekarang ia sudah jadi nyonya besar pejabat Perhutani..

    Nulis panjang ditaruh di sebelah kiri FB itu, tinggal klik lambang “pensil” yang artinya Edit. Klik aja dan kalau sudah klik “Enter”, maka tulisan di sebelah kiri bisa kelihatan..

    Untuk foto yang kalau cursor kita taruh di wajah kita ada tulisan nama itu, namanya “Tag”. Situ juga bisa nge-tag foto temen yang belum di-Tag. Misalnya di foto ada temenmu yang namanya Paimo, Paijo dan Paidin. Maka di bawah foto cari link untuk “Tag Photo”. Kalau ada, klik “Tag Photo” lalu cursor kita arahkan ke wajah Paimo, terus nanti kita diminta menulis, lha tulis aja “Paimo”, dst. Kalau sudah selesai, klik “Done Tagging”. Gampang kan ?

    Reply

  3. totok
    Apr 13, 2009 @ 11:37:01

    Nah, kalau udah tahu caranya kan gampang, kalau belum itu yang repot. Ini mah, namanya dosen jarak jauh he…he…

    Hihihi….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: