Operation Lasino

Ceritanya anak saya yang gede yang menikah 1 Nopember 2008 kemarin saat ini sedang menikmati buah pernikahannya, alias saat ini sedang hamil “Si Bagus” empat bulan setengah. Kebetulan suaminya bekerja di sebuah BUMN yang terletak di luar pulau, yang pulang ke Jakarta kadang dua minggu sekali kadang sebulan sekali..

Nah..seperti lazimnya orang hamil, tak terkecuali anak saya – mungkin niru ibunya dulu, juga ngidam. Kalau ibunya dulu sempat ngidam ubi goreng dan jambu bol, yang tidak berhasil saya temukan walaupun kota Bogor sudah saya ubek-ubek. Maka, anak saya itu ngidam bakso Lasino yang warungnya terletak di jejeran warung makanan samping Undip kampus bawah (Imam Barjo) Semarang..

Mengapa bakso Lasino ? Katanya bakso ini so special karena ada bakso rebus dan bakso gorengnya, sudah itu masih ditambah dengan “topping” berupa babat goreng dan usus goreng. Anak saya dan suaminyapun – yang keduanya sama-sama lulusan Undip bawah – pengin pergi jalan-jalan naik pesawat ke Semarang hanya untuk menikmati semangkok bakso Lasino !

Setelah diitung-itung, kata anak saya mereka berdua perlu ongkos Rp 2,4 juta hanya untuk menikmati 2 mangkok bakso Lasino yang semangkok harganya cuman cem-ban (Rp 10 ribu)..

Akhirnya anak saya dan suaminyapun mundur teratur nggak jadi ke Semarang untuk menikmati bakso Lasino karena muahaaalnya itu lho..

Sebagai orangtua yang baik (You Bet !!), saya dan isteripun berniat memenuhi pesanan anak saya bakso Lasino waktu pulang ke Semarang naik mobil minggu kemarin ini. Kami pulang ke Semarang hanya untuk stop-over, karena tujuan kami berdua hanya untuk menjenguk pusara kakak ipar di Pantai Samas, Yogyakarta, sambil terus berziarah ke makam Bapak-Ibu di Madiun. Karena jadwalnya nggak pas, yaitu sampai Semarang dari Madiun Minggu malam, maka saya urung membawa bakso Lasino karena kalau hari Minggu tutup. Sebagai gantinya, anak saya dibelikan 30 biji bakso Tambir dari kulon kreteg Mangunhardjo Madiun. Dan saya jamin rasa bakso Tambir juga bisa menggoyangkan lidah lho !

Walaupun anak saya sudah merasa puas merasakan bakso Tambir yang cara makannya biasanya “dicocolkan” ke sambel itu, tapi sebagai orangtua sayapun belum puas. Untunglah, minggu depannya kantor menugaskan saya perjalanan dinas ke Semarang naik Garuda. Alhamdulillah, bisa menghemat biaya dan waktu. Tapi alamak, cem mana nih caranya membawa bakso plus airnya kalau naik pesawat pula ?

Ya sudah, yang penting disyukurin dulu bisa ke Semarang dengan cara “Abidin” (atas biaya dinas). Sehingga bisa melaksanakan wisata kuliner kecil-kecilan merasakan Sate Pak Widodo dan “Belut Setan” di Jalan Menoreh, Semarang..

Otakpun saya putar keras, menemukan solusi elegan membawa dua mangkok bakso beserta airnya ke Semarang. Akhirnya dengan teman seperjalanan dinas Mas Priyanto, sayapun mampir ke Carrefour yang terletak di “DP Mall” (Diponegoro Mall) di Jalan Pemuda (?). Sayapun beli “cooler box” kecil merk Lion Star seharga Rp 90 rb agar bakso dan airnya yang saya beli bisa dimasukkan ke tas dufel Reebok saya..

Setelah dari DP Mall, sayapun ditemani Mas Pri meluncur pakai Kijang plat merah dipinjami temannya Mas Pri untuk mencari dimana lokasi bakso Lasino. Kalau kompleks Undip Imam Barjo saya bisa menemukan, masak bakso Lasino tidak ketemu. Dengan bertanya ke 3 orang tukang parkir, akhirnya sayapun bisa menemukan warung bakso Lasino yang terletak di sebelah selatan jalan itu. Sayapun pesan 2 mangkok dan membayar Rp 20 ribu (sayangnya, Pak Lasino dalam mencampur bakso tidak secanggih Pak Tambir, sehingga daun sawipun tercampur dengan biji baksonya)..

Esok paginya jam 8.30 saya meninggalkan hotel “S” di Jalan Ahmad Yani dan dengan taksi bergegas ke bandara. Bakso Lasino yang saat itu sudah ditaruh di “cooler box” sudah ditaruh rapi di tas Reebok saya. Begitu rapinya, tapi saya masih khawatir bagaimana mengakali security check di bandara Ahmad Yani, karena konon kabarnya odol dan cairan tidak boleh dibawa masuk ke pesawat !

Singkat cerita, taksipun sampai Ahmad Yani dengan argo Rp 20 rb. Mas Pri-pun membayar tarif argo plus tip buat si sopir taksi, dan tas Reebok sayapun sudah di-scan di security check !!

Lolos !!!

Sebentar kemudian, saya check in dan tas Reebok sayapun saya taruh di bagasi dengan berat 7.6 kg. Tas diberi tali kuning pengaman, dan diberi sticker “CGK” dan dimasukkan ke ban berjalan..

Lolos !!!!

Beberapa menit kemudian sayapun tersenyum-senyum di atas pesawat membayangkan betapa lancarnya “Operation Lasino” yang saya lakukan saat ini.

Mission Accomplished !!!

Dan sorenya anak saya yang ngidam sudah merasakan semangkuk hangat bakso rebus dan bakso goreng Lasino yang di atasnya diberi toping usus goreng dan babad goreng…

Mungkin saya tidak akan pernah melaksanakan operasi yang “serumit” Operation Lasino kali ini….hehehe….siapa tahu ?

7 Comments (+add yours?)

  1. Ardianto
    Apr 28, 2009 @ 20:03:04

    Bakso Tambir? Heu, enak sekali Pak..!
    Dulu waktu kecil, tiap weekend saya bersama kakek hampir selalu mampir ke sana…
    Sambil jemput Ayah saya yang pulang kerja dari Kudus ke Madiun tiap weekend.

    Karena selalu berangkat jam 8-an dari Juron, dan jadwal bis tidak tentu, daripada bosan saya selalu diajak kakek ke situ..

    Kalau tidak di situ ya tempat bakso Pak Mino, warung kaki lima di sebelahnya. Sampai sekarang kalau mampir tempat Pak Mino, beliau masih ingat saya dan Ayah šŸ˜€

    Kadang-kadang, karena belum ada alat komunikasi, Ayah tidak pulang. Pernah, saya dan kakek nunggu sampai jam 4 pagi.. šŸ˜†

    Mas Ardianto,
    Wah..berarti kakek anda itu bapaknya Mas Prihadi yang dari Juron ? Saya masih ingat mukanya, senyumnya, perawakannya, dan keramahannya..

    Dulu waktu SMA dan selepas SMA saya sering main ke Juron kalau Pri ada di rumah, makanya saya juga masih ingat Ibu anda…hehehe…

    Reply

  2. Si Bulet
    May 02, 2009 @ 20:48:29

    Busyeeettt…seru banget cerita si “babe siaga” ini šŸ˜›
    O bebinya cowo ya om? Waahh…asiknya, bentar lagi ad yg diajak tanding bola d rmh dong, kek? hehe…ikut seneng bacanya om.
    Salam buat Desa, te susi dan si rese yg ngangenin ituh (suditong) šŸ™‚

    Mbak Poppy,
    Iya…setelah “diseterika” pakai USG, kelihatan babynya ada tititnya, jadi cowok….Insya Allah. Sekarang juga sudah mulai nendang-nendang perut ibunya kalau dielus-elus. Usia kehamilan emang udah 5 bulan..

    Salam buat keluarga di sini, nanti saya sampaikan. Salam juga buat keluarga Rumah Gong ya mbak…(Dessa malam ini tidur di rumah mertua, Ditta lagi nyante di Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu sana….anggap saya Key West…hehehe…)

    Reply

  3. alris
    May 03, 2009 @ 12:44:40

    Kalau dulu apa-pun dipenuhi buat anak, sekarang buat calon cucu tercinta. Oh…indahnya dunia.
    Beruntung calon si kakek sering bepergian abidin, sungguh beruntung lagi.

    Uda,
    Ya begitulah…hehehe…;-)

    Reply

  4. yuri
    May 04, 2009 @ 23:42:04

    wah, klo ad film mission imposible 4- bapak bs gantiin tom cruise tuh hehe

    Yuri,
    Wah…aya-aya wae….saya lebih ganteng dari Tom Cruise, tahu ?

    Hwekekkekkek…

    Reply

  5. rumahagung
    May 06, 2009 @ 19:29:15

    wah…
    luar biasaa….
    Bapak jadi penyelundup Bakso di bandara…
    hebat2…!!
    hahahaha..!!

    Pak. 10rb itu Ce-ban..
    bukan Cem-ban..
    hehehehehe..!!

    Hwekekkekkekkek….;-)

    Reply

  6. Ardianto
    May 10, 2009 @ 08:02:57

    Iya Pak, bapaknya Pakde Pri. Masih ingat juga tho sama Ibu saya? Kalau di Juron, ibu saya biasanya dipanggil “Yayuk” šŸ˜€

    Mas Ardianto,
    Saya masih ingat bapaknya Pak De Pri dan tentu saja ya bapaknya Ibu anda. Parasnya hampir mirip Pak De Pri, tapi kalau bapaknya agak pendek dan agak lebar. Sedangkan Pak De Pri agak tinggi dan agak kurusan (mungkin karena tinggi, jadi kelihatan kurus)..

    Hehe…saya manggil Ibumu “Dik Yayuk”….suka ngguya-ngguyu kalau ketemu di tangga SMA 1. Tidak pernah say Hi dan tidak pernah mengobrol, tapi yaitu…ngguya ngguyu tadi. Atau kalau lagi ngelamun pas jam istirahat, saya bentak dari belakang “Lha ini adiknya Pri !!!!”…

    Hehehe…

    Reply

  7. ansie
    Dec 16, 2009 @ 16:04:37

    bakso lasino? itu sih favorit saya dulu waktu kuliah. saya demen banget tuh sama itu bakso. menurut saya enak banget deh. ada 2 favorit saya di semarang: bakso lasino dan bakso kumis di simpang lima. wah tapi itu sudah 11 tahun berlalu….dan sampai skrg saya masih mengangankan kapan ya bisa nyobain tuh bakso…….???

    Ansie,
    Yauda…pulang aja ke Semarang sana untuk membeli bakso Lasino sana….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: