Penyakit biasa untuk orang Jakarta

Jika anda tinggal di Indonesia khususnya di kota Jakarta dan sekitarnya, seringkali anda menderita penyakit-penyakit ini : sakit perut, masuk angin, dan sariawan…

Awalnya saya merasa biasa saja kalau dua minggu sekali menderita sakit perut, dua hari sekali menderita masuk angin, dan sebulan sekali terkena sariawan. Saya pikir wah ini penyakit biasa dan gampang menyembuhkannya, jadi buat apa worry ?

Saya pikir awalnya itu penyakit tropis biasa saja. Kalau kita berdiam di negara tropis, tentu resikonya kita bisa terkena salah satu dari penyakit tropis “favorit” tadi yaitu : sakit perut, masuk angin, dan sariawan..

Pada suatu hari di tahun 1992 sayapun menerima surat beasiswa dari pemerintah Republik Singapura untuk belajar IT di negara tersebut selama 9 bulan, dengan embel-embel selama 9 bulan tinggal di hotel dibayari, dan setiap bulannya dapat uang saku, serta round-trip airline ticket.

Mungkin karena tahu saya moslem, pihak MFA (Deparlu Singapura) menempatkan saya di hotel yang dekat dengan perkampungan Melayu di daerah Tanjung Katong. Mungkin biar mudah mendapatkan makanan muslim, mungkin pikir mereka seperti itu. Nah, selama 9 bulan tinggal di Singapura inilah ajaib….tidak sekalipun saya menderita : sakit perut, masuk angin, dan sariawan. Ketiga penyakit itu seolah sudah terhapus dari perbendaharaan tubuh saya.

Tapi sayangnya, itu hanya sewaktu saya tinggal di Singapura. Balik lagi ke Indonesia, dan tinggal di pinggiran Jakarta, penyakit favorit itupun timbul lagi.

Sekarang, bisakah anda mengira-ngira apa sebabnya jika tinggal di Jakarta saya sering menderita sakit perut, masuk angin, dan sariawan ? Sedangkan sewaktu tinggal di kota yang berjarak 1,500 km di utara Jakarta saya tidak pernah sekalipun menderita penyakit itu ?

Inilah analisis saya kecil-kecilan. Makanan yang saya beli di Singapura kurang begitu pedas dibandingkan dengan di Jakarta, karena kepedasan makanan itu bisa saya pilih sendiri. Kalau tinggal di Jakarta, di rumah sambel terasi bikinan isteri saya enak tapi pedas sekali, yang menyebabkan perut sensitif saya kurang begitu bisa menerima. Begitu pula di kantor atau di kamus, makanan yang saya beli cenderung bersambel pedas. Atau dengan kata lain, mana enak makan tanpa sambel pedas di Jakarta ini ? Nah, pedasnya sambel itu yang menyebabkan bakteri di perut saya berontak dan mengakibatkan perut saya seperti diaduk-aduk nggak karuan. Terncem Bo !!!

Di Singapura saya tinggal di hotel yang cukup lumayan mewah, dengan kamar besar dan air hangat tersedia di kamar mandi. Air keranpun dijamin “potable” alias “layak minum sejernih Aqua”. Mandi dengan air hangat, dengan shower ataupun bath tub, membuat saya betah mandi berlama-lama. Termasuk mengguyur punggung saya dengan air hangat selama 10-15 menit. Mungkin ini yang menyebabkan angin-angin jahat urung mampir ke badan, sehingga saya nggak pernah masuk angin selama tinggal 9 bulan di Singapura…

Begitu pulang ke Indonesia, sayapun tinggal di rumah BTN tanpa AC dan yang ada cuman kipas angin. Panasnya Jakarta rupanya tidak enak buat dibawa tidur, kecuali ditemani oleh suara howos-howos kipan angin mengipasi badan yang kepanasan. “Side effect”nya, ya itu tadi…masuk angin….enter wind…hehehe….

Nah, membahas sariawan nih susah-susah gampang. Buku kesehatan SD mengatakan bahwa sariawan alias “scorbut” atau “mouth ulcer” nih gara-garanya kurang vitamin C. Dosis vitamin C saya di rumah cukup tinggi, setiap hari minum 1000 mg vitamin C berupa tablet effervescent (tulisan benar nggak ya ?) dari merk terkenal yang wadahnya orange. En toh, cukup sering saya menderita sariawan ini. Sudah dihajar dengan tablet vitamin C, buah yang cukup, teh dicampur madu, dengan cairan warna hitam yang dioleskan cotton bud dan ditaruh di lubang sariawan, plus minum 3-6 kaleng minuman segar cap kaki sekian, toh sariawan enggan pergi. Kadang saya harus minum 1-2 tablet antibiotik baru namanya si Sari yang tidak rupAwan itu bisa pergi…

Di Singapura ? Ndak…ndak pernah saya kena sariawan. Salah satu penjelasan mengapa di Jakarta saya sering terkena sariawan mungkin mutu udara di sini yang lebih “berisi” daripada di Singapura sana yang udaranya bersih sih sih…

Jadi selama tinggal di Jakarta, siap-siap saja mencari WC yang “siap huni”, balsem untuk masuk angin berikut uang logam untuk kerokan, dan makanan yang kecut-kecut untuk mengusir si Sari…

Alamak !! Repot nian !!

8 Comments (+add yours?)

  1. a3u5z1i
    May 11, 2009 @ 11:13:04

    3 trio itu mah juga pantas disebut sebagai penyakit khas para mahasiswa 🙂

    Auzi,
    O iya ya ?

    Reply

  2. selvy
    May 11, 2009 @ 12:04:07

    Pak Tri,

    Koq tebolak sama sayah pak, saya disini malah slalu sakit perut dan masuk angin (untung ga perna sariwawan sih..)?

    Malah kangen pak, sama sambel yg mak nyos, MSG yang sedep, dan bakteri2 di grobak sodor yg biasa mangkal di pinggir jalan… >..<

    Selvy,
    Seeker the greener pasture….emang orang itu suka saling memandang rumput tetangga, yang dikiranya lebih hijau….;-)
    Saya pikir teh tarik dan nasi goreng Bugis itu sudah paling uenaaak se dunia…hahaha….(dan juga gulai kepala ikan di Tanjung Katong)…

    Reply

  3. selvy
    May 11, 2009 @ 13:50:48

    Nasi goreng Bugis yg sblah mana pak?? Mau nyoba 😀

    Selv,
    Ya dari stasiun MRT Bugis itu lalu muncul ke permukaan tanah, lalu belok ke arah utara (saya lupa 1 atau 2 blok). Nah, nanti di sana ada hawker yang kalau malam ramainya minta ampun. Saya pernah pesan nasi goreng seharga $ 5.00 (lupa persisnya, mungkin antara $ 3.00 – $ 5.00) yang rasanya mantap sekaleee di situ.

    Cuman enak benar, atau karena waktu itu saya lapar….hehe…. Yang jelas, di seantero Singapura ya di situ itu nasi goreng yang paling enak…

    Reply

  4. adhiguna
    May 11, 2009 @ 15:47:31

    Pengalaman saya juga pak Tri, di Indonesia setiap 3 minggu sekali saya pasti sakit, flu, masuk angin. Juga beberapa kali tifus saya kambuh.

    Disini, saya jarang sekali sakit, padahal udaranya jauh dingin dan musim dingin banyak angin juga.

    Saya rasa ini karena kualitas udara dan makanannya pak.

    Pak Tri juga dulu pas di US pasti juga lebih jarang sakit.

    Mas Adhiguna,
    Good point mas…mungkin di LN kualitas udara (ini yang terpenting) dan kualitas makanannya (nomor dua terpenting) sangat bagus, sehingga kita jarang sakit. Mungkin di udara itu nggak mengandung apa-apa, lha kalau di Indonesia mungkin udara penuh bibit-bibit penyakit..

    Selama 9 bulan di Singapura saya cuman sakit sekali yaitu bibir saya bengkak karena alergi. Sebelumnya, di Amerika 3 tahun saya hanya pernah sakit flu sekali, itupun saya baca di koran hampir semua orang Amerika dari coast to coast pada kena flu…

    Di Jakarta, hampir 2 minggu sekali saya sakit : masuk angin, sariawan, sakit perut…hehe…

    Reply

  5. rumahagung
    May 13, 2009 @ 12:02:07

    bener Pak.
    di sini kurang bersih udaranya.
    sampahnya jg kurang bs diatur.
    blm lagi pengolahan air.
    di tambah lagi asap kendaraan.
    mata hari yg mentereng.
    itu smua bikin kekebalan tubuh turun.
    hehehehhehehehhee..!!

    Agung,
    Iya..walau sama-sama negeri tropis, di Singapura itu nyaris tidak ada nyamuk dan tidak ada lalat…….Pohon-pohonannya relatif besar-besar…jadi lebih rindang daripada sebagian besar Jakarta..

    Reply

  6. rumahagung
    May 13, 2009 @ 17:01:42

    benar…
    kykny itu ud dihitung dgn tata kota yg benar deh Pak.
    bnr2 diperkirakan lokasi gedung,taman,hutan kota,dll.
    jumlah mobil n motor aj dibatesin.
    hehehehehhe..!!
    yg asik tuh..
    klo haus,tinggal ke WC..
    hahahahahha..!!

    Reply

  7. simbah
    May 16, 2009 @ 17:52:00

    Memang daerah PondokGede boleh disebut daerahnya Sariawan, selain banyak Petir…(?)
    Dik Yon, kalau ingin menikmati sambel tapi nggak pedes ya coba sambel ijo, biasanya di Rumah Makan Padang.
    Kalau suka mangsuk angin, memang benar biasakan mandi dengan air hangat, hanya saja jangan terlalu panas, bikin kulit jadi kisut…

    Simbah,
    Hehehe….Pondok Gede maupun Jakarta dan sekitarnya emang pusatnya sariawan. Kalau masalah petir, konon di seluruh dunia yang petirnya paling ganas tuh di Bogor dan Depok…
    Saya jarang mandi pakai air hangat kalau di rumah, soalnya di dalam rumah sudah sumuuuuk luar biasa, jadi enaknya ya mandi pakai air dingin…hehehe…

    Reply

  8. nenonenoneno
    May 27, 2009 @ 00:14:21

    hehe. ada ada aja ya, Pak. iya, bener tu. itu juga 3 penyakit utama para mahasiswa (termasuk pas saya jadi mahasiswa dulu). 🙂

    Hahaha….iya ya ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: