Binus rekrut mahasiswa dengan word of mouth

Mungkin kalau ada yang saya herankan, adalah mengapa universitas tempat saya ngajar ini kurang sekali memasang iklan ? Saya lihat universitas-universitas swasta lainnya di Jakarta gencar beriklan di koran, radio, tv, internet, termasuk pula universitas negeri yang punya program internasional. Binus ? Sedikit, kalau tidak bisa dikatakan : nothing !

Jadi bagaimana Binus merekrut mahasiswa barunya ? Dengan “getok tular” alias by the word of mouth. Apakah itu cukup ampuh ? You bet !

Di Binus mahasiswa angkatan 2009 yang akan masuk kuliah mulai akhir Agustus atau awal September 2009 disebut dengan “Binusian 2013”. Angka 2013 menandakan kapan angkatan (ada yang bilang “cohort” ada yang bilang “batch”) ini akan diwisuda. Artinya, jika saya diberi berkah umur panjang dan diberi keberuntungan tetap bisa mengajar di Binus, nanti di tahun 2014 atau 2015 bila masih ada mahasiswa di kelas saya yang NIM-nya 13000xxxxx berarti ia “mahasiswa kadaluarsa”, “mahasiswa swasta” (seperti istilah di ITB) alias “mahasiswa recidivist” (seperti istilah di UI atau IPB)…

Secara tradisional mahasiswa Binus adalah : 30% mahasiswa dari Tangerang, 30% dari Sumatera, dan 40% sisanya mahasiswa campuran dari Jabodetabek (minus Tangerang), Jawa Tengah, Kalimantan (terutama Kalbar), Bali, Nusra, dan juga Sulawesi (terutama Sulsel dan Sulut). Dari komposisi mahasiswa seperti ini, Binus kelihatannya tidak bisa disebut sebagai “universitas nasional” yang mahasiswanya menyebar rata dari NAD sampai Papua..

Ciri-ciri mahasiswa Binus adalah mahasiswa konservatif yang dicirikan dengan ikatan keluarga yang kuat. Maksudnya, orangtua mahasiswa Binus erat hubungannya dengan putra-putrinya yang sedang kuliah di Binus, dan para orangtua itu terutama yang dari jauh, mempercayakan sepenuhnya putra-putrinya berkuliah di Binus sampai selesai, tentunya dengan doa “Semoga lancar selalu..”..Maka tidak mengherankan mendapati, terutama menurut pengamatan saya sebagai dosen, banyak kakak-adik yang berkuliah di Binus. Tapi saya belum tahu, apakah sudah ada lulusan Binus yang anaknya juga masuk Binus ? Kalau yang dimaksud Universitas Binus, mungkin belum ada ya. Kecuali Binus School (TK, SD, SMP, SMA) yang terletak di Simprug (yang gedungnya mirip CPU komputer itu) dan di Serpong (yang sangat environmentally friendly itu)…

Sebenarnya ada rahasia kecil mengapa antar mahasiswa Binus tidak pernah ada perkelahian. Salah satunya adalah mahasiswa baru yang mau masuk Binus sebelumnya harus menandatangani selembar perjanjian di atas kertas warna merah jambu (saya menyebutnya “Perjanjian Merah Jambu) yang ditandatangani orang tua di atas meterai Rp 6.000. Banyak hal yang diperjanjikan antara Binus dan para mahasiswa baru itu, dengan point pertama (saya masih hafal, soalnya dulu saya termasuk yang merancang formulir merah jambu itu) “Mahasiswa dilarang memeras milik orang lain”…

Wah..”dilarang memeras milik orang lain” ? Mudah-mudahan anda sadar sepenuhnya what is the meaning of that sentence. Mind you !!

Mahasiswa bila berkelahi sesamanya atau ada pengeroyokan terhadap mahasiswa lain, juga akan dikeluarkan dari kampus “in the first offence”, bahkan pada tindakan pertama sekalipun !

Sebenarnya Binus itu kampus yang relatif damai, dengan catatan di dalam pagar kampus Binus. Sedangkan di luar kampus Binus, dengan mahasiswa total sejumlah hampir 30,000 orang tentunya terpengaruh juga oleh situasi dan kondisi keamanan Jakarta pada umumnya.

Tapi sebagai dosen, saya ingin bertanya kepada para orang tua calon mahasiswa Binus, “Ada nggak sih kampus lain yang seaman Binus ?”. Jawabnya adalah, “Sangat jarang”.

Tapi kalau pertanyaannya, “Ada nggak sih kampus lain yang lebih murah dari Binus ?” dan jawabannya adalah “Banyak !”. Sedangkan kalau ditanya “Ada nggak sih kampus lain yang lebih mahal dari Binus ?” maka jawaban yang tepat adalah “Ada, tapi tidak banyak”..

Mungkin justru di situlah letak kuncinya. Di tahun 1996 yang lalu bila Yayasan Binus mensurvai mahasiswa Binang alasan mengapa memilih Univ Binus, jawabannya adalah “Karena murah” (waktu itu studi 4 tahun total biaya hanya Rp 4.600.000), sekarang ini di tahun 2009 saya duga jumlah biaya yang akan dikeluarkan oleh orang tua untuk menyekolahkan ke Binus tidak kurang dari Rp 55 juta selama 4 tahun (Rp 25 juta + Rp 10 juta + Rp 10 juta + Rp 10 juta) tapi itu hanya uang sekolahnya saja. Sedangkan uang saku bulanan tergantung kemampuan orang tua, saya duga antara Rp 500 ribu sampai Rp 3 juta per bulan, tergantung kepada rumah kost yang dipilih…

Yang jelas, dengan word of mouth alias “getok tular”, mahasiswa baru tetap membanjiri Binus walaupun iklan yang dipasang Binus sedikit kalau tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali…

Benarkah begitu ?

3 Comments (+add yours?)

  1. ~subhan
    May 25, 2009 @ 12:02:11

    iy pak, Binus ga pernah muncul di TV dan sy juga tidak pernah mendengar d radio, tp kalau di Koran pernah pak, Kompas gt loh, haha…
    btw pak klo “memeras cinta mahasiswi binus, boleh donk?”hehe..

    smenjak awal msuk binus, saya sempat hitung2 tuh (kuliah+jajan) berapa yang nantinya di keluarkan sm Ortu saya jika saya sy berkuliah d binus. Trus semenjak mendapatkan mata kuliah manajemen proyek, sy berfikir brp waktu yg saya butuhkan untuk ‘mengembalikan uang kuliah yg ortu sy keluarkan’?apa lg di tuntut persaingan di dunia kerja yg semakin keras.
    huaa,, :((

    Subhan,
    Hahaha…maksud “dilarang memeras milik mahasiswa/i lain” adalah mahasiswa dilarang mengkompas atau membully mahasiswa lain dengan meminta uangnya…

    Tapi konotasinya kan “memeras milik mahasiswa/i lain” kan bisa memeras apa saja….tidak hanya uang….tapi……hihihi…(malu ah ngomongnya)….

    Reply

  2. rumahagung
    May 27, 2009 @ 08:06:37

    iyah sih Pak.
    Binus masuk prambors klo ada event gede doank..
    jarang bgt buat promosinya.
    saya jg msk binus gara2 “heard from the grapevine”.
    hehehehehhehe..!!

    klo soal harga,
    saya pikir Binus termasuk yg plg murah.
    secara rata2 smua jurusan,kecuali FK dan FH.
    dibanding 3 univ di grogol,
    Binus lbh murah kok.
    ama 2 univ di semanggi jg msh lbh murah.
    apa lg dibanding 3 univ di tangerang itu.
    JAUHHHHHHHHHHH sekali Pak.
    makanya anak Tangerang berbondong2 ke Binus n grogol.
    hehehehehheehehe..!!

    Agung,
    Oo..gitu tho ?

    Reply

  3. donZz
    Jul 23, 2009 @ 15:49:44

    Hemm,,
    manajemeN dibinus bgus gag??
    soalnya w dnger2 jrusan itu pling santai..
    tepat dngan karakter w..
    coz w bkan type orang rajiN,,hohoho..

    Dozz,
    Jurusan Manajemen di Binus dapat Peringkat “A” dari BAN-PT, jadi salah satu jurusan terbaik di Binus…

    Kalau anda tipe orang yang tidak rajin, jangan masuk Binus. Di Binus tugas-tugasnya banyak, semuanya menggunakan komputer. Kalau anda tidak rajin pasti keteteran…

    Cari universitas lain yang bagus, mungkin ada yang lebih cocok buat anda..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: