Beda nasib Prita dan nasib saya

Hari-hari belakangan ini berita tentang Prita, ibu dua anak dan tinggal di Tangerang itu, begitu mengharubirukan koran, TV, dan berita online yaitu tentang perseteruannya dengan RS Omni International sebagai hubungan pengguna jasa – pemberi jasa. Prita yang menulis komplain tentang pelayanan RS Omni International via e-mail yang disebarkan ke teman-teman dekatnya dan akhirnya e-mail itu di-forward ke beberapa mailing-list tanpa sepengetahuannya akhirnya kena masalah hukum karena pihak yang dikeluhkan pelayanannya, yaitu RS Omni International, tidak terima dan melaporkannya ke polisi…

Kurang lebih sebulan lalu saya bersama isteri pulang mudik ke Jawa dalam rangka menghadiri acara 40 hari meninggalnya salah seorang kerabat saya di Yogya, sambil nyambangi rumah orangtua di Madiun. Dalam perjalanan pulang melalui jalan tol Palikanci Cirebon, ban mobil Camry-un saya terkena lobang yang cukup besar dan dalam. Mobil sekecil itu dengan ban ukuran 13 yang kecil, menghantam lobang yang cukup besar, menyebabkan ban depan kanan mobil saya sobek sepanjang 6 cm dengan kedalaman 0,5 cm. Di sebuah rest area saya begitu merenungi kesialan nasib saya terkena lobang tanpa sengaja, dan dalam perjalanan keluar tol di gardu pembayaran saya komplain ke mbak penjaga pintu tol “Mbak…di KM sekian sekian, mobil saya terkena lobang cukup besar dan menyebabkan ban saya sobek 6 cm”. Dengan ramah si mbak penjaga tol menjawab “Ooo…bapak kalau mau komplain silahkan mampir ke kantor kami di sebelah kanan pak !”.

Sayapun belok kanan dan segera memarkir mobil saya di kantor yang berwarna biru itu. Di dalam kantor itu, seorang bapak pegawai senior jalan tol menyambut ramah saya. “Pak, ini saya mau komplain, soalnya di KM sekian sekian ada lobang besar yang menyebabkan ban mobil Camry-un saya sobek. Maksud saya komplain ini hanya memberitahu pak bahwa di KM sekian sekian ada lobang. Adalah merupakan kewajiban saya memberitahu bapak bahwa ada lobang di sana, dan saya harap tidak ada orang lain yang terkena lobang yang sama dan bannya sobek seperti ban mobil saya. Masalah penggantian ban, kalau tidak diberi ganti rugi saya tidak apa-apa, kalau diberi ganti rugi separuh saya sudah bersyukur, dan kalau diganti penuh saya alhamdulillah”, kata saya dengan nada datar tanpa ada nada menuduh dan menuntut…

Akhirnya bapak yang ramah itu, yang belakangan saya tahu bernama Pak Erfan, menelpon bossnya dan melaporkan bahwa ada pelanggan jalan tol komplain ban mobilnya kena lobang. Sayapun diminta mengisi lembar komplain, dan apa yang saya berusaha tuntut. Saya menulis saya menuntut ban mobil saya diganti, tapi secara lisan saya mengatakan tuntutan saya itu dengan sopan seperti tertulis di atas..

Pak Erfanpun dengan tetap tersenyum berkata “Pak, boss saya terima kasih atas laporan bapak, dan berharap ketika bapak pulang dari melawat ke Yogya-Madiun nanti sudilah berkenan bertemu dengan boss saya, sambil kami uruskan ganti rugiĀ  untuk ban bapak”.

Sayapun manggut-manggut, pamit dan segera meluncur ke arah Brebes. Sampai di Tegal saya menemukan toko ban Bridgestone dan segera mengganti ban mobil saya seharga Rp 365.000 plus pentil Rp 10.000 jadi totalnya Rp 375.000. Pulangnya, saya mampir di kantor tol itu, ketemu bossnya Pak Erfan dan dalam hitungan menit amplop berisi Rp 400.000 disodorkan ke saya sebagai ganti rugi ban mobil saya. “Yah..yang Rp 25.000 untuk ongkos mengganti ban pak”, canda teman Pak Erfan. Sayapun tersenyum, isteri saya tersenyum, lalu kita salam-salaman di kantor tol itu.

Rupanya boss Pak Erfan itu tinggal dekat rumah saya, hanya beda 1 exit jalan tol saja…

Nasib Prita yang mbulet, ruwet, dan nyrimpet…..jauh berbeda dengan nasib saya yang mulus, penuh fulus, dan tentu penuh akal bulus (dari pihak saya)…

It’s a matter of how we communicate with other people…..graciously…

Have you ever been in that situation ?

6 Comments (+add yours?)

  1. alrisblog
    Jun 04, 2009 @ 22:19:17

    Lha, Pak Tri emang beja nih, -ssst…saya abis “makan” bukunya Umar Kayam dan Kuntowijoyo, jadi sedikit paham istilah dan filsafat jawa- dibanding saya misalnya. Saya udah hampir satu setengah bulan ini “puasa” dari dunia maya.
    Bicara soal kasus Prita, sebagai seorang praktisi dunia IT bagaimana Pak Tri menanggapi kemalangan yang menimpa dia. Bukankah pasal yang didakwakan ke Prita adalah pasal 27 ayat 3 UU ITE dan pasal 310 dan 311 KUHP.

    Uda Alris,
    Sebagai orang IT, saya cuman cengir-cengir saja melihat pasal-pasal dakwaan terhadap Prita. Agak berlebihan begitu…
    Saya juga mendapat briefing dari isteri saya dan anak saya – keduanya Sarjana Hukum – tentang tidak terpenuhinya unsur-unsur dakwaan ke Prita. Kata anak saya, pencemaran nama baik mestinya tidak ditahan…
    Saya juga mendengar Jaksa Agung bicara bahwa “ada kesalahan prosedur” alias “ketidakprofesionalan” Jaksa Penuntut Umum yang menangani kasus Prita..
    Causes di Facebook sore ini juga tambah 5,000 orang yang mendukung Prita setiap 5 menit !!!!!! Ruaaarrr biasaaa….

    Reply

  2. rumahagung
    Jun 04, 2009 @ 22:45:37

    hahahhaahahhaa..!!
    emank ada2 aj.
    ampe macet lho Pak di skitar penjara wanita tangerang itu. byk mobil polisi dan wartawan.
    hahahahahahhahaha..

    yahhh emank nasib org beda2 Pak.
    hehehehehe..!!

    Agung,
    O ya..penjara wanita Tangerang kan dekat dengan rumahmu ya ?

    Reply

  3. rumahagung
    Jun 05, 2009 @ 12:02:12

    wah,tp td saya ntn di tv,sbnrnya undang2nya jg salah.
    yah undang2 ttg kesehatan,juga undang2 ttg media.
    jd bingung..
    hahahahhaha..!!

    lbh bingung lg kasusnya manohara..
    ktnya nyokapnya yg salah.
    ampe jd “buronan” perancis.
    dan lain2 lah.
    bingung lg sayah..

    tv jd bikin saya makin bingung nih.
    hahahahhahahaahah..!!

    Agung,
    Supaya nggak bingung, makanya belajar hukum dong ! Saya sudah lama saran supaya di Binus dibuka Fakultas Hukum…tapi saya seolah berteriak di padang pasir…hehehe…

    Undang-undang itu ditulis oleh legislatif (bisa atas prakarsa pemerintah, LSM, dsb), diinterpretasikan oleh polisi dan jaksa, serta dijalankan oleh hakim. Hanya masalahnya, benarkah polisi dan jaksa menginterpretasikan hukum (baca: Undang-undang), dan apakah benar hakim menjalankan/ mengoperasikan hukum ?

    Interpretasi hukum, dan operasionalisasi hukum melahirkan jurisprudensi (hukum dalam prakteknya). Makanya kalau interpretasi hukum salah, termasuk UU ITE, bisa dibayangkan betapa kacaunya negara ini di masa depan…

    Reply

  4. rumahagung
    Jun 05, 2009 @ 17:12:50

    iyah Pak. lumayan dkt lah..
    tp macetny cm jln yg disekitar penjara itu aj sih.

    mungkin blm bisa Pak klo buka Fakultas Hukum.
    karena Fakultas Hukum itu perlu fondasi yg sangat kuat,ga kalah kuat dengan fondasi Fakultas Kedokteran.
    lebih dari itu,ttg image binus jg yg ud terlanjur terlalu IT..
    ehehehehehehheehe..!!

    klo saya bilang sih yah,semuanya jg salah nih.
    saya liat email ibu Prita itu,kata2nya tll hiperbolis.
    salah satunya “SEMUA orang dalam managemen RS omni ga profesional”.
    pdhl blm tentu smua,mungkin dr 10 org,cm 6 ato 7 yg ga profesional.
    tmnnya ibu Prita itu jg salah,org curhat kok disebar2in. ember bgt sih.
    RS omninya jg salah,bukannya baek2,malah maen kasar gt.
    pemerintah kita jg salah,bikin undang2 n peraturan yg ga jls dan ga lg sesuai dengan jaman skrg,ditambah pelaksanaan yg amburadul.
    hrsnya semuanya msk penjara tuhhh…
    hahahahahahahhaha..!!

    Agung,
    Kalau pendapat anda benar, penjara bakalan cepat penuh sesak nih……;-)

    Reply

  5. edratna
    Jun 06, 2009 @ 12:29:44

    Nasib Prita memang terlanjur ruwet, kok ya sial banget nasibnya. Lha saya yang suami, anak, saya sendiri pernah dirawat di rumah sakit (rumah sakit Pemerintah lagi), dokter dan perawatnya baik-baik. Bahkan saat saya masih baru menjadi pegawai dan jatahnya kelas 2, perawatannya juga menyenangkan, dokterpun mau diajak diskusi.

    Dulu, saat ibu mertua sakit, dan setelah saya terus terang sama dokter bahwa yang menanggung biaya kami berdua, pasangan muda yang masih mendapat beban membiayai sekolah adik2, maka dokter (kebetulan juga dosen FKUI) mengulurkan tangan, dan ibu mertua dirawat di RSCM…itupun perawatannya bagus sampai beliau menghembuskan nafas penghabisan. Dokterpun tak mau dibayar, jadi kami hanya membayar biaya rumah sakit dan obat2an.

    Namun di satu sisi, sebaiknya perlu ada revisi atau tambahan penjelasan tentang pasal yang bikin ruwet itu..lha para ahli hukum aja bisa bisa beda pendapat dengan penegak hukum begitu. Menonton TV malah bikin pusing…..Saya kira, rumah sakit nya pun citranya makin hancur, hal yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya…. padahal juga menanggung tenaga kerja yang rakyat biasa.

    Andaikata tuntutan nya perdata, ataupun kalau pidana tanpa ditahan lebih dulu, situasinya akan berbeda.

    Tentu saja, ini membuat kita harus berhati-hati….

    Bu Edratna,
    Tuntutan Perdata sudah, Prita harus membayar Rp 261 juta kepada RS Omni menurut Keputusan Pengadilan Negeri Tangerang, tapi kata pakar ilmu hukum jika tuntutan pidana kepada Prita tidak terbukti, otomatis tuntutan perdata-pun gugur…
    Biarlah proses hukum terus berjalan, tak boleh disetop. Yang jelas para Capres, dan masyarakat IT sudah di belakang Prita semua. Karena bagaimanapun ini negara merdeka yang kebebasan berpendapatnya dijamin undang-undang. Orang tidak boleh takut mengemukakan pendapat ! Kalau orang sudah mulai takut mengeluarkan pendapat, mungkin negara ini bukan Indonesia lagi…..tapi Indondeso !!!

    Reply

  6. Trackback: Hapal Semua Teman Sekolahnya Sejak SD Hingga Perguruan Tinggi « Dwiki Setiyawan's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: