Harga Textbook di Seoul

Ada enquiry masuk ke blog saya ini tentang “Harga Textbook di Seoul”.  Kebetulan 8 tahun yang lalu saya sempat tinggal di Seoul selama sekitar 2 bulan dapat dikatakan setiap minggu saya selalu mengubek-ngubek toko buku yang menjual textbook mata kuliah yang saya ajar yaitu Computer Science. Dan ternyata toko buku terbesar yang menjual textbook di Seoul adalah Young Poong Bookstore yang mempunyai beberapa cabang di Seoul yang alamat dan cara akses ke lokasi toko buku tersebut menggunakan subway jurusan mana, dapat dibaca di link ini :  http://wiki.galbijim.com/Young_Poong_Bookstore

Selain senang mengunjungi Young Poong Bookstore, saya juga senang langsung membeli textbook bidang Science and Engineering langsung ke toko bukunya kampus paling top di Korea yaitu Seoul National University (SNU) yang kampusnya berbukit-bukit itu. Karena kampus SNU itu dekat dengan hotel tempat saya menginap dulu di bilangan Yang Jae, maka letak kampus SNU itu saya masih ingat yaitu lokasinya sekitar 5 subway station di sebelah utara Yang Jae subway station, kemudian nyambung bis kota warna krem tua jurusan SNU. Lokasi SNU bookstore juga dekat dengan tempat pemberhentian bis di SNU…

Mengenai harga textbook keluaran Korea, saya kira cukup murah untuk ukuran Indonesia terutama dibandingkan dengan harga buku di amazon.com. Saya membeli sekitar 10 – 15 textbook waktu itu, sebagian dengan hard cover, hanya dengan harga Won 19,000 sampai Won 35,000 yang jika dikurs ke Rupiah (1 Won = Rp 7) adalah sekitar Rp 133.000 – Rp 245,000. Murah kan ? Saya sampai ngiler dan kalau nggak ingat sulit membawanya ke Indonesia, pasti saya sudah beli lebih banyak buku lagi..

Kisaran harga textbook di Korea saya kira hampir sama dengan harga textbook di Singapore yang dijual di sebuah Toko Buku di bilangan Clementi (1 blok ke sebelah utara dari perempatan Holland Avenue-Clementi Avenue), yang bisa dikatakan juga sangat murah sekali…

Jadi…selamat berbelanja textbook di Seoul deh…..!

2 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Jun 11, 2009 @ 16:27:12

    Saya memimpikan buku murah. Kenapa kita tidak kayak India misalnya yang membuat harga buku murah relatif terjangkau rakyat jelata sekalipun. Bagaimana supaya harga buku murah sebaiknya penerbit dalam menerbitkan buku menggaet sponsor kalau perlu beriklan dibuku yang diterbitkan, atau dibiayai perusahaan swasta dengan dana CSR. Hitung-hitung bantu meringankan harga buku.
    Saya kalo beli buku suka hunting ke tempat semacam Palasari (Bandung) atau Kwitang.
    Hidup buku murah…..

    Uda Alris,
    Di tahun 1991-1996 harga buku textbook bikinan luar negeri di Indonesia sangat murah. Saya sering membelinya di toko buku Grafiti di Depok atau di Slipi Jaya Plaza dekat Binus. Setelah krisis 1998 dengan naiknya dollar (dari 2.000 rupiah ke 15.000 rupiah) harga textbook jadi mahal, sehingga jarang yang beli, sehingga penjualpun jarang menjual dengan alasan bukunya banyak dicopy oleh mahasiswa. Selain itu, pemerintah Indonesia masih mengenakan pajak bea masuk yang besar untuk buku sehingga harga buku import mahal, konon bea masuk sampai 35%. Kalau bea masuk 0%, pasti harga buku import murah. Begitu juga kalau buku dalam negeri atau luar negeri bebas PPn (pajak penjualan) pasti harga buku lebih murah lagi. Seingat saya di Amerika, harga makanan dan harga buku itu PPn nya 0% sehingga harga makanan dan harga buku menjadi murah…

    Kalau PPn bisa 0%, tentu buku tidak perlu harus ada iklan kondom, rokok, dan minuman keras (3 komoditi ini yang menggebu-gebu ingin masang iklan, dimanapun, kapanpun)….

    Apakah ini perhatian para capres sekarang ?

    That’s the big question !

    Reply

  2. alris
    Jun 19, 2009 @ 15:59:54

    Saya sangat setuju untuk pendidikan dan kecerdasan segala biaya dalam bentuk pajak dibuat 0%. Ya, bantuan buat orang bisa pintar kenapa tidak, tapi nampaknya selama ini rezim pemerintahan siapapun gak ada yang menerapkan itu. Capres yang sekarang lagi jualanpun saya pikir gak ada yang berpikir ke arah itu. Yang marak malah capres & tim kampanyenya jualan janji gimana narik pemilih sebanyak-banyaknya. Indonesia memang bukan Amrik, jadi tunggu 30 atau 40 tahun lagi baru mungkin kampanye capres pada hal-hal kongkrit, kayak di Amerika capres berani bikin kampanye dengan sodoran angka real. Misal menurunkan/menaikkan pajak anu sekian prosen.

    Uda Alris,
    Wah..kalau saya jadi Presiden atau Menteri Keuangan…pasti pajak buku saya patok 0% biar orang Indonesia pinter semua…

    Debat capres kemarin ini, masih formalitas dan tidak ada pertanyaan baru dibanding wawancara sebelumnya. Kurang kreatif !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: