Operation Otong

Cerita ini sebagai lanjutan dari cerita sebelumnya berjudul “Operation Lasino”. Kehamilan anak pertama sayapun sudah berusia 6 bulan, sehingga sudah aman untuk dibawa ke luar kota menyusul suaminya di sebuah kota di Kalimantan, Balikpapan !

O ya, bahkan sejak sebelum jenis kelamin calon cucu saya terlihat oleh USG, anak saya memanggil janin di kandungannya dengan nama “Otong”. Jika si Otong bergerak-gerak menendang-nendang mengikuti irama musik rock, anak saya akan bilang “Iih..Otong nendang-nendang nih”. Tapi begitu irama musik diganti musik klasik kalem sejenis Die Kleine Eine Nacht Muzik dan Otong diam tertidur, anak sayapun berkata “Wah..Otong tidur ya ?”. Isteri saya sendiri memanggil janin calon cucunya dengan nama “Bagus”…misalnya sambil mengelus-elus kehamilan anak saya, isteri saya sambil berkata “Bagus…jangan nakal ya..”..

Pertanyaannya sekarang, bagaimana membawa si ibu hamil ini dengan selamat ke Balikpapan ? Walaupun harga tiketnya lebih mahal, saya lebih suka membawanya pakai Garuda Indonesia karena alasan : terminal lebih sepi, jadwal pemberangkatan on time, jenis pesawatnya lebih baru, dan pelayanan kabin termasuk makanan dan minuman tidak bermasalah. Kalau biasanya bila ingin ke luar kota naik pesawat saya selalu menaruh mobil di stasiun Gambir kemudian naik bis Damri dari Gambir ke Bandara Soekarno-Hatta, kali ini karena membawa baju-baju sebanyak 4 tas duffel, saya memutuskan naik taksi saja dari rumah langsung ke Bandara karena lebih simpel dan tidak ribet. Memilih taksinyapun yang terbaik yang ada di Jakarta, Blue Bird group..

Pada hari yang ditentukan, taksi sudah menunggu di depan rumah sejak jam 5.15. Sayapun persilahkan si sopir untuk menunggu sebentar. Tepat jam 5.30 saya, isteri dan anak saya yang hamil tadipun segera masuk taksi, dengan bagasi penuh dengan tas-tas kami. Taksipun segera meluncur ke jalan tol JORR, nyambung ke Jagorawi, masuk ke Tol Dalam Kota arah Pelabuhan, belok kiri ke arah bandara dan melalui kota lama Jakarta, Batavia, yang dicirikan dengan serangkaian gudang-gudang VOC dan menara pengatur lalu lintas laut yang sekarang sudah menjadi Museum Bahari..

Akhirnya dengan kecepatan konstan 110 km/jam taksi kamipun mencapai Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, setelah menempuh jarak sekitar 70 km. Argo taksi menunjukkan angka Rp 186.000 dan sayapun membayar jumlah itu berikut sejumlah tip untuk si sopir taksi yang baik dan sabar ini, Mas Fani. Sayapun menyalami mas sopir setelah semua barang diturunkan dan mengucap terima kasih. Sayapun lalu meminta salah seorang porter bandara untuk membawa barang-barang kami berupa 5 tas besar, setelah bertanya “Ini semua bisa dibawa sampai ke ruang check in ya ?” dan dijawab “Bisa pak !”. Tiket elektronik Garudapun kami siapkan berikut 3 KTP. Untung ada porter jadi si porter yang berinisiatif membawa setiap tas untuk diberi tali bagasi berwarna kuning yang gratis untuk penerbangan Garuda ini. Sebentar kemudianpun saya sudah di depan counter check in Garuda yang bertuliskan “General Check In” ini (tulisan di counter lain ada “Frequent Flyer” dan “Silver Class”), 3 tiket elektronik saya sodorkan, 3 KTP saya sodorkan, uang Rp 100 ribu saya sodorkan untuk membayar 3 airport tax, dan sebentar kemudian 3 lembar boarding passpun sudah saya terima…

Sudah selesai, siap masuk pesawat ?

Belum ! Karena anak saya ibu yang sedang mengandung, maka harus menyertakan surat keterangan dari Dokter bahwa kandungannya tidak bermasalah, dan untuk itu anak saya menuju counter khusus kesehatan Garuda dan diharuskan mengisi formulir bermeterai Rp 6000 yang intinya kalau ada kenapa-kenapa, airline tidak bertanggung jawab dan sepenuhnya tanggung jawab penumpang. Anak saya di perjanjian itu disebut “expectant mother” alias ibu yang sedang mengandung…

Selesai dengan menandatangani perjanjian “expectant mother” kamipun meluncur ke gate F di Bandara Soekarno Hatta. Karena waktu masih 1 jam, kamipun nongkrong menikmati teh manis hangat di sebuah restoran di dalam bandara. Sayangnya, isteri saya tidak mau memilih restoran bergaya Bali yang sepi, tapi sebaliknya memilih restoran yang ramai. “Ah…kalau sepi pasti makanannya tidak enak, kalau ramai pasti makanannya enak..”, kata isteri saya. Padahal di restoran ramai itu memang banyak orang makan, tapi lebih banyak lagi orang yang merokok ! Alamak ! Pasti ini tidak baik bagi si expectant mother tadi..

Kami sempat menikmati teh manis hangat sekitar 30 menit, lalu menuju gate F2. Melalui security check, kami bertigapun lalu menuju gate F2 tempat “garbarata” atau “belalai gajah” dihubungkan dengan pesawat Garuda yang akan menerbangkan kami ke Balikpapan. Tidak sampai menunggu 30 menit, para penumpangpun sudah diminta boarding. Kebetulan barisan tempat duduk kami nomor 6, jadi cukup di barisan depan, untuk itu gak perlu tergesa-gesa ke pesawat.

Masuk pesawat dengan langkah gontai karena antrian di belalai gajah masih padat, kamipun menemukan barisan tempat duduk nomor 2 terdepan di kelas ekonomi. Pesawat Garuda yang kami naiki termasuk jenis terbaru, yaitu Boeing 737-800 NG (new generation) yang lebih lebar dari type sebelumnya dan bisa mengangkut 8 penumpang kelas bisnis dan 144 penumpang kelas ekonomi. Setelah prosedur penyampaian tatacara keselamatan yang ditayangkan lewat layar kecil di atas setiap tempat duduk, pesawatpun taxi untuk menunggu take-off. Tepat jam 08.15 pesawatpun take-off menuju Balikpapan yang bakal memakan waktu 1 jam 50 menit..

Sebelum naik, pramugari Garuda yang ramah menawarkan permen, dan selama penerbangan kamipun ditawari makan berupa kweetiau sapi bumbu merica atau nasi kuning ayam. Tak lupa apple ciderpun juga dihidangkan dan ditutup dengan satu cup ice cream Walls rasa vanilla…

Asyik makan, anak saya dan si Otongnya ternyata asyik-asyik aja walaupun pesawat berkali-kali menemui cuaca buruk dan harus berjalan dengan bumpy-bumpy. Tepat jam 10.05 pesawat Garuda  sudah approach ke Bandara Sepinggan International Airport di Balikpapan yang terletak persis di tepi laut mirip di Bali ini. Setelah pergi ke toilet untuk menumpahkan segala kekebletan, kamipun nongkrong di jalur baggage claim dan tidak lama kemudian keempat tas duffle punya kami ditemukan dan kali ini saya memanggil porter lagi untuk menuju ke mobil (pinjaman) menantu saya, sebuah Kijang Krista warna krem..

Sayapun segera terpikat dan kagum dengan kota Balikpapan yang bisa dibilang salah satu kota paling bersih di Indonesia ini. Besok paginya saya lihat di koran lokal bernama Tribun Balikpapan kalau tidak salah, Walikota Balikpapan Imhaad Hasyim membawa piala Adipura sebagai tanda betapa bersihnya kota ini..

Tidak sampai 10 menit, kami berempatpun sudah sampai ke rumah kontrakan anak saya dan suaminya. Sebuah perumahan dekat bandara yang katanya juga dekat dengan tempat kerja menantu saya (sekitar 1 km) dan tempat kerja anak saya yang baru (sekitar 1,5 km). Rumah kontrakan anak saya dan suaminya ini juga di perumahan yang cukup dekat dengan jalan besar, tanpa pagar seperti laiknya kebanyakan rumah di Balikpapan, dan serasa damai sekali….insya Allah..

Tidak ada complaint tentang kota Balikpapan yang bersih, unik dan indah ini, kecuali teriknya matahari di garis katulistiwa yang serasa panas sekali persis di atas kepala…maklum ini bulan Juni yang matahari masih di belahan bumi sebelah utara….pantas saja panas sekali…

Yang jelas, si Otong kelihatan senang tinggal di kota Balikpapan karena di perut ibunya ia kelihatan diam saja dan hanya sekali-sekali melakukan gerakan kecil tapi teratur karena mungkin “cegukan”, dan mudah-mudahan ia akan mendapat manfaat dari keberanian para pelaut Bugis yang keturunannya banyak tinggal di Kota Balikpapan ini, dan juga mendapat manfaat dari keahlian meracik obat-obatan tradisional dari tanaman dan kayu-kayuan yang ada di Kalimantan dari suku Dayak yang merupakan penduduk asli pulau Kalimantan ini…

Semoga. Insya Allah…

5 Comments (+add yours?)

  1. selvy
    Jun 10, 2009 @ 22:53:46

    amiiin, mudah2an lancar yah pak, biar cucunya sehat ^^v

    Selvy,
    Terima kasih doanya….;-)

    Reply

  2. [Gm]
    Jun 11, 2009 @ 21:45:40

    maap, pak… airport tax di Soekarno-Hatta untuk penerbangan domestik bukannya 40ribu/orang ya? Jadi harusnya duit 100rebu-nya gak cukup dong? :D… atau bisa dapet diskon nih? Hehe.

    Hiks… saya jadi kangen Balikpapan, pak.

    Semoga lancar dan selamat menikmati BPN, pak 🙂

    Mas Goyo,
    Wah…lah lamo tak basuo mas…..;-)

    Perasaan saya membayar Rp 100.000 plus uang isteri (minjem) Rp 20.000, ya mas…airport tax di Soekarno-Hatta memang Rp 40.000 per orang. Salah tulis di blog saya ini sudah biasa karena blog saya tulis “on the fly”, tanpa mikir berkepanjangan, dan dengan kecepatan pengetikan ibarat jet Sukhoi-27…hahaha… dan kalau salah, kan memberi kesempatan bagi pembaca buat membetulkannya…seperti yang Mas Goyo lakukan …hahaha…

    Wah…mas Goyo juga Balikpapaner ya.?

    Lain kali saya nulis posting tentang kota Balikpapan deh….tunggu tanggal mainnya….

    Reply

  3. [Gm]
    Jun 12, 2009 @ 19:09:25

    Waduh, tergantung definisi Bapak tentang apakah itu ‘Balikpapaner’ hehehe… saya bukan orang asli sonoh sih, pak… cuman waktu 2005-2006 kerja di sana, dan merasa sangat betah… pengen balik lagi suatu saat nanti :-)…

    Siap! ditunggu posting tentang BPN-nya… oh iya, jangan lupa pas pulang ke Jakarta bawa oleh-oleh kepiting kenari hehehe.. untuk saya yang asem-manis ya, pak :-). Terima kasih sebelumnya…

    Mas Goyo,
    Hehehe…saya pulangnya dari BPN kan sudah Senin siang kemarin ini, so pasti bawa oleh-oleh Kepiting Kenari Bumbu Lada Hitam bikinan Dandisto dekat Bandara Sepinggan. Dua box pula, satu box dimakan Senin malam dan satu box lagi besok malamnya (soalnya kalau siang kan kerja)…

    Iya mas, posting tentang BPN sedang dibuat nih…tunggu tanggal mainnya…;-)

    Reply

  4. edratna
    Jun 14, 2009 @ 10:37:27

    Dessa udah berangkat ya? Wahh semoga baik-baik aja….dan melahirkan dengan selamat.

    Terima kasih doanya…;-)

    Reply

  5. putrazs
    Mar 25, 2010 @ 17:04:49

    pak sya btulkan sdkit ya pak redaksiny, walikota balikpapan Bpk.Imdaad Hamid. dan tahun ini Bpp ikut kompetisi clean & healthy city region asean brsma 5kota lain, Jkt,padang, trus klo g slah mkasar ma sby, smga kel bpk serta kel dan cucu bpk yg d bpp slalu dlm lindungan Tuhan YME,amin

    Putrazs,
    Iya saya tahu nama bapak walikotanya soalnya waktu nginap di rumah anak saya di Balikpapan, bapak walikota baru saja pulang dari mana gitu…dengan setumpuk piala…dan pakai diarak segala….

    Dari segi bersihnya sih Balikpapan ok banget, mudah-mudahan menang ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: