Istora Senayan : Hall Badminton Terbising Se Dunia

Istora Senayan is the loudest, the craziest, and the most annoying badminton hall in the whole world with the most fanatic spectators“, kata seorang pemain badminton asing yang pernah main di Istora Senayan dan tidak mudah melupakan pengalaman unik, mengagumkan, tapi mengganggu yang disebabkan main di Istora Senayan…

Coba bandingkan penonton badminton All England di Wembley, Inggris sana di tahun 1970-an dan 1980-an jaman dahulu waktu Rudy Hartono dan Liem Swee King masih “The King of England”. Penontonnya begitu sopan, tidak bernafas dan tidak bertepuk tangan sampai rally-rally bola panjang atau smash yang menghunjam mengakhiri sebuah permainan. Ya..kalau di All England penontonnya sopan ibarat menonton Classic Music Performance, dan itu terus berlanjut setelah stadion Wembley tidak digunakan lagi buat All England karena telah dipindahkan ke Birmingham, di Istora Senayan penontonnya begitu urakan….ibarat menonton sepak bola !!!

Apakah pemain badminton asing yang main di Istora Senayan menjadi terganggu karenanya ? Tentu sebagian merasa terganggu terutama saat akan melakukan serve penonton Istora masih bersorak sorai tanpa henti. Tapi beberapa di antaranya malah merasa senang main di Istora Senayan karena fanatisme penonton yang “get into it” yang nyaris tidak bisa disamai oleh Badminton Hall lainnya di seluruh dunia…

Tidak kurang dari pemain Denmark yang cantik di jaman dulu, Lene Koppen, pemain Denmark yang urakan tapi sekarang sudah almarhum, Svend Pri, sampai dengan pemain-pemain sekarang terutama yang dari daratan Eropa…masih merasa terhormat dan beruntung untuk bisa main di Istora Senayan. Makanya Indonesian Open 2009 yang hari ini sudah memasuki babak final benar-benar dibanjiri oleh para pemain badminton dari seluruh dunia : Eropa, China, Malaysia, Hongkong, Korea, Jepang, sampai mungkin USA…

Saya belum pernah nonton badminton langsung di Istora Senayan karena alasan praktis : kalau bisa menonton di TV mengapa harus datang sendiri ke Istora yang kabarnya harga tiketnya bisa dilipatgandakan harganya oleh calo ?

Dari melihat ulah penonton Indonesia di Istora Senayan seperti yang saya lihat di TV, walaupun saya enjoy melihat segala tingkah polah mereka seperti Greysia Polii dan kawan-kawannya atau Agnes Monica yang tidak kunjung menikah, dengan teman-temannya, tapi saya menyayangkan satu hal….yaitu penonton badminton di Istora Senayan di Indonesia Open 2009 ini baju yang dipakainya terlalu beragam warnanya : ada yang hitam, coklat, biru atau hijau. Padahal itu semua bukan warna Indonesia. Jika penonton ingin menghasilkan efek yang luar biasa di TV mestinya sebagian besar menonton harus memakai baju dengan warna yang Indonesia Banget, yaitu merah…atau putih…atau merah putih…

Setiap ada peristiwa badminton yang besar di Indonesia, apakah itu Indonesia Open, Thomas Cup dan Uber Cup, Sudirman Cup, sampai Olimpiade, biasanya semua penduduk Indonesia ikutan tergila-gila main badminton : di lapangan badminton, di jalan-jalan pemukiman, di lapangan bola, di dalam rumah…dan sebagainya…

Itu bagus buat bisnis penjualan raket badminton, cock, net, sampai semua aksesoris personal seperti kaos, celana, kaos kaki, dan sepatu….

Big Time, Big Crowd, Big Business !!!

4 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Jun 21, 2009 @ 23:34:05

    Saya sedih dikejuaraan kali ini kita gak dapat gelar satupun, kecuali gelar penonton paling berisik di seantero dunia. Kita bangga juga pelatih Malaysia yang asal Indonesia, Rexy Mainaki, berjaya di tanah airnya.
    Btw, soal penonton berisik kayaknya super berisik penonton sepakbola Afsel. Coba deh tonton di tv kejuaraan sepakbola piala konfederasi. Itu penonton sepanjang pertandingan gak ada hentinya meniup terompet yang bikin telinga budek kalo gak biasa mendengarnya. Kalo saya nonton di stadion seperti itu pasti gak betah. Sepertinya penonton tenis rada asik dan cool. Liat tuh penonton tenis Wimbeldon kayaknya keliatan sopan dan rapi jali.

    Uda Alris,
    Ya mungkin pemain badminton Indonesia sudah merasa puas, meremehkan lawan, atau dalam kondisi cidera dan banyak masalah nonteknis lainnya seperti gaji yang tidak meningkat, membuat permainan mereka seluruhnya buruk….

    Mengenai bisingnya Istora Senayan, beberapa pemain bule sangat menikmatinya, makanya hampir semua pemain Eropa menyerbu Jakarta walaupun tidak sampai tampil di final…

    Reply

  2. edratna
    Jun 23, 2009 @ 06:05:22

    Penonton Indonesia akan selalu hiruk pikuk, walau gacoannya kalah, mereka ganti menyemangati yang lainnya

    Sebenarna sih asal tak berakhir tawuran, sorak sorai itu juga menyenangkan….situasi ramai itu menjadi diingat pemain yang pernah ke sini.

    Bu Edratna,
    Yah..mungkin penonton asing di Istora Senayan pada bingung, soalnya waktu final bulutangkis penonton Istora membela lawannya China, yaitu Korea dan India. Tapi pas pemain China akhirnya lawan Malaysia, eh….penonton Istora malah membela China…..

    Reply

  3. subhan
    Jun 24, 2009 @ 06:09:00

    Wah pas perempat final Thomas dan Uber Cup Pagi2 jam 6an, sy ngantri di senayan. Isinya yang ngantri calo smua pak, parah! badan nya gede2 abis itu sekali beli 10-15 tiket lg. ckckck…. dasar Indonesia- itu bisnisnya orang atas jg kali yak. Masih mending bisnis kaos, racket, atau balon2 supporter deh… hihi..

    Subhan,
    Ya…antara lain karena alasan itulah saya lebih suka nonton badminton dari layar kaca di rumah sambil menikmati kacang goreng dan teh manis hangat….hehehe….;-)

    Reply

  4. bekok
    May 19, 2016 @ 21:58:48

    Penonton yg heboh, kampungan. Tp kampungan terkadang keren

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: