Kumaha atuh Teh Ivanna ?

Ivanna Lie, adalah salah satu mantan pemain bulutangkis putri Indonesia yang paling saya kagumi. Selain permainan bulutangkisnya di masa lalu yang mengagumkan, Ivanna juga berwajah super manis. Mungkin setara dengan Yuni Kartika, Rosiana Tendean, Sarwendah, dan Deyana Lomban super manis wajahnya…

Tiga hari terakhir ini Ivanna Lie bersama Broto Hippy dari majalah Bola dan Adi Nugroho mantan presenter AFI yang penuh tangis itu, bertiga memandu hajatan Indonesia Open 2009..

Apa yang dikatakan Bung Broto Hippy standar wartawan Bola lah, penuh informasi. Apa yang dikatakan Adi “Ryan Secrest” Nugroho juga standar presenter, tapi surprisingly apa yang dikatakan Teh Ivanna bagi saya perlu digarisbawahi dengan tinta merah…karena mengganggu teh…

Pas memandu Final Indonesia Open 2009 Minggu siang dan sore tadi, Ivanna berkali-kali bilang “Tinggi badan Saina Nehwal yang lebih pendek dari Wang Lin mungkin akan membuatnya kesulitan melawan Wang Lin”. Apakah benar ? Wrong !! Di layar TV Trans7 saya lihat tinggi Wang Lin 170 cm, dan tinggi Saina Nehwal yang dilatih mantan pemain bulu tangkis Indonesia Atik Jauhari itu juga 170 cm. Tingginya sama, makanya Teh Ivanna….lain kali sebelum berkomentar sebaiknya teh apa yang ditulis di TV dibaca betul….karena penyiar olahraga TV luar negeri selalu melirik ke layar TV sambil berkomentar….

Begitu juga waktu pasangan putri Malaysia Chin Eei Hui/Wong Pei Tty bertemu di final dengan pasangan putri China Cheng Shu/Zhao Yunlie. Sekali lagi Teh Ivanna membuat blunder “Pasangan ganda putri Malaysia ini mempunyai tubuh yang lebih pendek daripada pasangan ganda putri China, jadi saya kira pasangan ganda putri Malaysia akan kesulitan melawan pasangan ganda putri China yang jangkung-jangkung”…

What ? Mengenai tinggi badan ? Again ?

Sebaiknya Teh Ivanna lebih percaya kepada ranking dunia pasangan ganda putri, daripada melihat secara fisik ke tinggi badan mereka. Ternyata sebelum bertemu di final Indonesia Open 2009 tadi, pasangan ganda putri Malaysia Chin Eei Hui/Wong Pei Tty adalah Ranking No.1 dunia sedangkan pasangan ganda putri China Cheng Shu/Zhao Yunlie kalau tidak salah Ranking No.3 dunia. Ranking dunia itu tidak dibuat dengan ujug-ujug, tapi dengan perhitungan matang hasil peraihan point di beberapa Grand Slam/Super Series. Jadi, ranking juga menunjukkan “Odd” alias “kans” mereka menang satu terhadap yang lain, yang semestinya lebih dipercaya daripada sekedar melihat tinggi badan…

Benar, akhirnya Saina Nehwal menang atas Wang Lin, dan pasangan ganda putri Malaysia Chin Eei Hui/Wong Pei Tty yang dibilang “pendek” oleh Teh Ivanna itu menang atas pemain ganda putri jangkung China Cheng Shu/Zhao Yunlie. Apa yang dikesankan Teh Ivanna dari awal, tidak terjadi. Mestinya Teh Ivanna malu lho….

Saya bukan pemain bulutangkis dan bukan pengamat bulutangkis, saya hanyalah orang IT biasa yang punya blog dan kebetulan…blog saya ini banyak dibaca oleh komunitas bulutangkis di tanah air…makanya saya menulis posting ini…

Setahu saya, di permainan bulutangkis yang sangat diperlukan bukan tinggi badan, tapi speed, endurance, dan power. Speed adalah kecepatan melangkah, endurance adalah ketahanan tubuh terhadap kecapaian karena main bulutangkis, dan power…nah ini yang paling sulit dijelaskan. Pemain bulutangkis yang punya power besar biasanya hanya perlu satu gerakan sederhana untuk melakukan hal-hal yang sulit. Pemain putri Indonesia yang mempunyai ketiga hal ini yakni speed, endurance dan power sudah tentu adalah Susi Susanti. Malahan Susi Susanti punya kelenturan tubuh yang luar biasa, dicirikan dengan mampunya Susi melakukan split, yaitu kaki menyilang berlawanan arah lurus ke depan dan satunya lagi lurus ke belakang…

Jadi teori tinggi badan memperbesar “odd” atau “kans” menang itu salah Teh Ivanna…. Kalau teori Teh Ivanna benar, berarti pemain bulutangkis putri Indonesia yang paling berprestasi pasti Verawati atau Rosiana Tendean yang benar-benar jangkung. Nyatanya, pemain putri Indonesia yang paling berprestasi adalah Susi Susanti. Jadi “teori tinggi badan” ini sudah gugur sejak awal…

Saya masih ingin melihat Teh Ivanna di TV lagi menjadi komentator, tapi dengan syarat…pengetahuan Teh Ivanna ditingkatkan seiring dengan semakin kritisnya penonton bulutangkis di Indonesia sekarang ini…

Gitu kan Teh ?

3 Comments (+add yours?)

  1. subhan
    Jun 25, 2009 @ 01:12:24

    pak tulisan bapak di duplikasi di http://yovieonly.blogspot.com/2009/05/cara-berlogika-mario-teguh.html, trus dia orang kok tidak menyebutkan sumbernya yach.

    😀

    Subhan,
    Biar aja….kalau menyebar ilmu kan dapat pahala dunia akherat….nama saya dikutip ataupun tidak….hehehe…I don’t care…

    Reply

  2. alris
    Jun 25, 2009 @ 21:02:34

    Saya ngikutin -dalam arti nonton layar tv- final tunggal putri dan ganda putri Indonesia Open 2009 kemaren. Memang prediksi mba Ivana Lie banyak melencengnya, malah yang diprediksi memutarbalikkan keadaan. Iki priye…
    Pak Tri, emang kayaknya susah mencari pengganti Susi Susanti, kenapa ya?

    Uda Alris,
    Kenapa sulit mencari pengganti Susi Susanti ?

    Wah…benar-benar pertanyaan bagus…..;-)

    Tapi Uda mau jawaban jujur atau tidak jujur ?

    Jawaban tidak jujur, memang sejak 1995 di Indonesia tidak ada pemain tunggal putri yang sehebat Susi Susanti lagi…..makanya sulit mencari penggantinya…

    Jawaban jujur, pasti ada yang salah dengan “Pemandu Bakat Badminton” yang ada di Indonesia. Di klub-klub macam Suryanaga (Surabaya), Djarum (Kudus), Tangkas dan Jayaraya (Jakarta) pasti banyak stock pemain tunggal putri yang bagus….tapi pemain itu belum diasah dan mungkin gagal masuk Pelatnas karena pertimbangan non teknis……padahal ibarat intan dia itu bibit yang ciamik banget, tapi karena tidak diasah maka tidak muncul ke permukaan….sehingga kesannya tidak ada pengganti Susi Susanti…

    Sebenarnya Mia Audina adalah pengganti yang tepat bagi Susi Susanti, atau Phe Zebadiah….atau yang lain…..sayang Mia Audina keburu pindah ke Belanda…

    Reply

  3. edratna
    Jun 29, 2009 @ 11:17:48

    Udah nonton film “King”?
    Ada Ivana Lie (kalau tak salah)….

    Bu Edratna,
    Belum……ini lagi ngantri mau nonton satu-satu, malam ini mau nonton di Tamini 21 “Garuda Di Dadaku”….

    Besok-besok baru nonton “King” kalau sudah masuk Tamini 21…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: