Kisah uang kertas 1 dollar

Ada 4 sahabat, sebut saja namanya Anung, Bambang, Candra, dan Dedi. Keempatnya berasal dari instansi yang berbeda-beda namun ketemu pada saat oleh instansinya masing-masing mereka dikirim tugas belajar di Amerika Serikat..

Pada suatu hari di musim Summer, keempat sahabat itu menyewa mobil untuk berkeliling Amerika. Tibalah mereka di suatu kota di negara bagian Colorado. Di kota terbesar di Colorado ini merekapun berkeliling melihat-lihat suasana. Rupanya di pinggir jalan ada cewek penjual hamburger yang hanya mengenakan pakaian bikini saja. Sambil memesan hamburger, pengunjung boleh memberikan tip 1 dollar dengan cara (maaf…) memasukkan ke G-string si cewek. Ternyata keempat sahabat ini tidak menyia-nyiakan waktu, hilang uang 1 dollar tapi bisa menyentuh G-string si cewek…

Kembali dari membeli hamburger tersebut, keempat sahabat tersebut berjanji, bahwa siapa nanti di antara ke-4 sahabat ini yang nantinya menjadi pejabat tinggi dan sulit ditemui, maka bagi ke-3 sahabat lainnya boleh menggunakan kode uang 1 dollar..

Alkisah, 10-15 tahun setelah peristiwa itu si Anung diangkat menjadi Eselon 2 di sebuah kantor pemerintah yang bergensi. Si Bambang, Candra dan Dedi yang mau ketemu si Anung di kantorpun terpaksa menghadapi beberapa orang sekretaris berlapis-lapis yang masing-masing bilang bahwa Pak Anung sedang pergi. Tak habis akal, ke-3 sahabat ini bertanya kepada Satpam di kantor itu, apa benar Pak Anung pergi ? Si Satpam menjawab, ada kok Pak, Pak Anung ada di dalam kantor…

Ke-3 sahabat inipun sudah kehilangan akal bagaimana bisa ketemu si Anung, sebelum akal habis ternyata mereka masih ingat uang 1 dollar di peristiwa 10-15 tahun yang lalu. Maka merekapun mengeluarkan uang 1 dollar dan diberikan kepada Sekretaris Pak Anung dengan pesan tolong disampaikan kepada Pak Anung…

Ternyata…

Pak Anung-pun tergopoh-gopoh keluar kantornya sambil bilang “Wah…sialan, pasti kalian-kalian ini yang datang ! Sorry ya saya lagi sibuk….kalau nggak ingat uang 1 dollar, tentu saya nggak akan keluar dari kantor saya !”…

[Cerita ini diceritakan oleh salah seorang sahabat saya..]

Kisah seonggok dollar

Pada suatu hari Sabtu yang cerah, seorang teman yang bekerja di sekolah tinggi komputer menanyai saya “Pak Tri, hari Minggu besok bisa nggak datang ke kampus ? Wah..sulit untuk menjawab “permintaan” ini soalnya ini bulan puasa, dan harus masuk kampus hari Minggu pula. Tapi tanpa berpikir saya bilang, “Ya Pak, besok pagi saya akan datang”..

Besoknya saya datang di hari Minggu di bulan puasa yang sepi. Di sebuah ruangan, ternyata saya menghadiri rapat bertiga saja : Ibu Direktur, teman saya itu, dan saya sendiri. Tanpa basa-basi, Ibu Direktur membuka pertemuan bahwa akan ada Training di Bangkok yang harus dihadiri oleh pihak Binus. Waktunya selama 2 minggu, yaitu 1 minggu sebelum Lebaran dan 1 minggu setelah Lebaran. Beasiswa sedang diusahakan diperoleh dari Dikti..

Ternyata teman saya menyatakan tidak bisa, “Saya usul Pak Tri Djoko saja yang ke Bangkok”. Usul diterima, dan saya harus segera mengurus Passport dan Exit-Permit (berhubung saya PNS di KTP saya). Melalui sekretaris Ibu Direktur, passport hijau-pun diurus di Wita Tour dekat Duta Merlin yang memakan waktu 1 hari pembuatannya. Paralel dengan pengurusan passport, sayapun mengurus surat Exit Permit untuk ditunjukkan di Imigrasi Bandara nanti..

Kira-kira H-1 sebelum terbang dengan Thai ke Bangkok, ternyata kabar beasiswa ASEAN dari Dikti belum didapat. Akhirnya Ibu Direktur meminta bantuan sekretarisnya untuk menyiapkan dana untuk pembayaran sendiri, kalau-kalau beasiswanya belum sempat turun padahal sudah harus berangkat ke Bangkok. Sejam kemudian, sekretaris Direktur menelpon saya, “Pak Tri, bisa datang ke sini…ini ada uang yang perlu diambil untuk biaya pelatihan di AIT Bangkok, biaya hidup, dan biaya taksi”…

Sayapun segera meluncur ke ruangan Ibu Direktur di lantai bawah dari laboratorium perangkat lunak. Mbak sekretarispun memberi saya uang dengan nominasi US dollar dan rupiah. Biaya kursus adalah 2000 US dollar, biaya hidup 14 x 25 US dollar, dan biaya taksi di Bangkok 50 US dollar, serta biaya taksi pp di Jakarta. Tidak lupa tiket Thai pp, dan passport hijau..

Singkat cerita, penerbangan dengan Thai di bulan puasa berjalan dengan lancar. Pramugari Thai benar-benar cantik-cantik seperti putri raja, bahkan beberapa teman mengatakan baunya wangi dari sononya dengan alasan “Beras yang mereka makan saja baunya wangi, pasti itu mempengaruhi juga bau tubuhnya”. Celakanya, saya percaya saja dengan apa yang dikatakan teman saya itu…

Penerbangan siang itu selama 4 jam ke Bangkok ternyata membuat saya harus mendarat di Bangkok di waktu maghrib. Di tengah remang-remang bandara Don Muang, sayapun mencari taksi bandara, meloncat ke dalam taksi dan bilang dalam bahasa Inggris akses Amerika, “Sir, I would like to go to AIT, Klong Luang, Pathum Thani…”. Si sopirpun mengangguk cerdas dan segera memacu taksinya di tengah kemacetan kota Bangkok di masa orang-orang pulang kantor…

Setelah sejam tersuruk di tengah kemacetan kota Bangkok, sayapun sampai di kampus AIT. Kalau nggak salah, lampu-lampu di AIT sudah banyak dimatikan di sore hari itu, namun dengan determinasi tinggi sayapun bisa sampai ke AIT Hotel untuk menginap dengan ongkos 25 US dollar per malam. Sayapun masuk ke kamar yang mempunyai 2 tempat tidur berbentuk L itu. Hotel ini cukup nyaman, mungkin kalau di Indonesia mirip sekali dengan Hotel MM UGM yang semalam bertarif Rp 275 ribu itu..

Besoknya, saya sarapan di kantin Hotel, gratis tentunya karena sudah termasuk tarif hotel. O ya malam sebelumnya, sayapun ketemu dengan orang-orang Indonesia yang belajar di AIT dan sayapun ngobrol dengan beberapa alumni IPB adik kelas saya di pinggir kolam yang banyak ditumbuhi pohon teratai, di malam yang gelap gulita itu..

Ternyata, tempat pelatihan juga ada di hotel ini. Welcome reception cukup menarik, dibawakan oleh Direktur Continuing Education AIT yang doktor dari Filipina itu. Di waktu istirahat, sayapun berniat membayar biaya pelatihan dengan uang cash, karena beasiswa ASEAN sudah ditutup dan sudah diambil oleh beberapa teman Indonesia dari Departemen Dalam Negeri dan Pemda DKI Jakarta. Peserta training ada 2 cewek Bangladesh yang bahasa Inggrisnya perfect, 2 cewek India, dan 1 cewek Vietnam, sisanya laki-laki dari Burma, Bhutan, Vietnam, India, Bangladesh, dan Indonesia…

Sampai di kasir, sayapun ditanya oleh kasir cewek Thailand yang manis, “What would you like to pay for, cash, check or credit card ?”. Sayapun menjawab dengan tangkas pakai American English yang tidak kalah perfect, “I would like to pay it cash” sambil saya menunjukkan segepok uang dollar setebal kira-kira 2 cm dengan total nilai 2,000 US dollar yang diberikan oleh mbak Sekretaris Direktur kampus saya di Jakarta…

“Wha..What..Whattt ?”, kata si kasir manis dengan mata terbelalak. Dia bilang, kalau mau bayar dengan Traveller’s Check saja simpel. Ini anda bawa segepok uang 2o US dollaran banyak banget !  Sayapun tersipu malu, apalagi segepok dollar itu dikaretin dengan 2 warna : merah dan putih..

Si kasir perlu waktu sekitar 2 menit untuk menghitung 100 lembar 20 US dollar yang saya berikan, dan sayapun diberi receipt yang nantinya akan saya sampaikan kembali sebagai bukti pengeluaran ke mbak Sekretaris Direktur kampus…

Singkat cerita, pelatihan yang berjalan 2 minggu itu sangat menarik. Ada classroom teaching, simulation, dan tidak lupa kunjungan ke Istana Raja Thailand yang serba emas, kunjungan ke beberapa restoran Thai untuk merasakan Tom Yam Gung “asli”, belanja beberapa souvenir Thai di Boobay Market (semacam Tanah Abang-nya Bangkok), dan beberapa majalah Thai (isinya apa, biarlah saya sendiri yang tahu…hahaha…). Sayapun sempat ketemu teman saya se angkatan di IPB, Haryono, yang sedang mengambil S3 bidang Computer Science di AIT. Saya sempat ke apartemennya, sempat dimasakin sup ayam, dan sempat diajak keliling Bangkok buat beli buku-buku Operating Systems untuk bahan ngajar semester depan..

Moral cerita : dipandang dari Indonesia di tahun 1992, kejadian itu tentu biasa-biasa saja. Tapi dilihat dari Indonesia di tahun 2009 dimana uang 100 US dollar yang kinyis-kinyis seolah baru diseterika ada dimana-mana, tentu membayar dengan 100 lembar uang 20 US dollar-an itu bisa menjadi masalah…

SP memang “SePi”

Mestinya saya tidak perlu bertanya, mengapa SP (semester pendek) di Binus kok sepi banget sih…Tapi karena hari ini saya “kepagian” nyampai kampus buat ngajar SP, ya udah…bertanya kan boleh toh ?

“Student Body” atau “jumlah mahasiswa” di Binus dalam situasi normal sekitar 30,000 mahasiswa, maksudnya di semester normal yaitu Semester Ganjil (Fall Semester) dan Semester Genap (Spring Semester). Namun di Semester Pendek ini (Summer Session) menurut dugaan saya jumlah mahasiswa Binus yang mengambil kesempatan “make up” ini mungkin paling banter seperenamnya atau sekitar 5,000 mahasiswa saja..

Mengapa saya bisa memperkirakan demikian ? Karena dari status Facebook mahasiswa saya semester kemarin, hampir 80% di antaranya bilang mereka saat ini sedang pulang kampung, dikelonin lagi sama emak masing-masing….asyiik !

Secara tradisional, semester pendek memang artinya “SePi”. Waktu saya kuliah di Indiana dulu (1987-1989) dengan student body sekitar 35,000 mahasiswa di Fall semester dan Spring semester, di Summer Session mahasiswa yang ngambil kuliah menyusut hingga 10% saja. Jadi kampus yang di semester “normal” biasanya hingar bingar dan susah bergerak bebas di sekitar kampus, apalagi di “jembatan senggol” dekat Ballentine Hall yang memang dirancang agar mahasiswa dan mahasiswi saling  bersenggolan, namun di Summer Session kampus yang gedenya seperti dari Semanggi di sisi timur sampai Tomang di sisi barat sampai Tol Kebon Jeruk di sisi selatan itu, keadaan sangat sepi pi pi…mirip kuburan. How do you know ?

Caranya gampang. Kesepian itu selain bisa dilihat juga bisa “dirasakan”. Jika dalam semester normal ada 12 undergraduate dormitory dan 1 graduate dormitory yang buka (masing-masing daya tampung sekitar 1,000 mahasiswa), maka di Summer Session semua anak undergraduate itu ditampung di dorm saya yang notabene graduate dorm. Akibatnya, dorm yang biasanya sepi dan menganut “24-hrs quiet policy” di musim Summer menjadi hingar bingar oleh pestanya anak-anak undergrad yang masih “remaja” itu. Di lantai saya bahkan pernah sekelompok mahasiswa undergrad mengeluarkan sound systemnya yang ribuan Watt yang ditaruh di jendela dan menyalakannya keras-keras ! Kalau sudah begitu, lebih baik panggil Polisi Kampus (IUPD) dan dalam waktu 5 menit sekelompok Polisi datang dan mengangkut semua “kenikmatan” anak undergrad itu. Rasain lu !! (dengan penuh rasa kasihan)…

Mahasiswa Binus sih enak, baru semester 2 sudah boleh ngambil SP. Anak saya di ITB  harus menunggu sampai 6 semester untuk dibolehkan ngambil SP. Cuman bedanya, di Binus mahasiswa yang IPK-nya kurang tidak segera dikeluarkan dari kampus (kecuali mengundurkan diri atau atas kemauannya sendiri), sedangkan di ITB setelah 6 semester di kampus dan mahasiswa yang bersangkutan gagal meningkatkan nilai IPK-nya di semester pendek, maka tamatlah riwayatnya….

Enaknya musim kuliah sepi begini, parkir mobil jadi jauh lebih mudah. Nggak enaknya, ada sesuatu di belakang saya yang letaknya di bawah ikat pinggang, kelihatannya ikut menipis dan “sepi”….hehehe….

Daftar harga raket badminton APACS, SOTX, dan VICTOR

Daftar harga raket badminton APACS, SOTX, dan VICTOR ini saya dapatkan dari website berikut : http://kedaiangkasa.com/product/c/2/racquets/

Bedanya dengan informasi di website tersebut, daftar harga di bawah sudah diurutkan dari harga termurah hingga termahal. Bila mau pesan secara online, silahkan kunjungi website di atas.

Semoga berguna..

Salam badminton,

-Tri Djoko

TIPE

HARGA

APACS Edge Saber 100

Rp.    330.000

APACS Edge Saber 10

Rp.    400.000

APACS Nano Power 900 Red/White

Rp .   400.000

APACS Titanium 10

Rp.    420.000

APACS Nano 9900 Power

Rp.    430.000

APACS Nanotech 700 Limited

Rp.    480.000

APACS Visible Hollow 1800

Rp.    600.000

APACS Nano Superlight

Rp.    700.000

APACS Lethal 50

Rp. 1.030.000

APACS Tantrum 200

Rp. 1.100.000

 

TIPE

HARGA

SOTX LG 200

Rp.    280.000

SOTX LG 300

Rp.    320.000

SOTX LG 500

Rp.    350.000

SOTX LG 600+

Rp.    400.000

SOTX LG 800

Rp.    450.000

SOTX Titanium 8+ [H]

Rp.    500.000

SOTX Woven 4L

Rp.    590.000

SOTX Diamond 100

Rp.    600.000

SOTX Diamond 200

Rp.    650.000

SOTX Titanium 11+

Rp.    650.000

SOTX Woven 2i

Rp.    650.000

SOTX Woven 5L

Rp.    650.000

SOTX Woven 6i

Rp.    700.000

SOTX Diamond 300

Rp.    700.000

SOTX Woven 7i

Rp.    800.000

SOTX Diamond 500

Rp.    825.000

SOTX Diamond 600

Rp.    840.000

SOTX Woven 7

Rp.    900.000

SOTX Diamond 700

Rp.    950.000

SOTX Commax Power 1000

Rp.    950.000

SOTX Woven 8A

Rp.    950.000

SOTX Woven 9A

Rp. 1.000.000

SOTX Commax Power 3000

Rp. 1.100.000

SOTX Diamond 800

Rp. 1.200.000

SOTX Woven 11i

Rp. 1.300.000

SOTX Commax Power 5000

Rp. 1.400.000

SOTX Diamond 900

Rp. 1.400.000

SOTX DM Woven 11+

Rp. 1.400.000

SOTX Woven 12

Rp. 1.500.000

SOTX Woven 13

Rp. 1.650.000

SOTX Commax Power 6000

Rp. 1.750.000

SOTX Commax Power 7000

Rp. 2.000.000

SOTX Woven 16

Rp. 2.550.000

 

TIPE

HARGA

VICTOR Thunder 1130

Rp.    274.000

VICTOR Storm 2240

Rp.    274.000

VICTOR Explorer Cls 6500

Rp.    408.000

VICTOR Super Wave Pro 799

Rp.    560.000

VICTOR Challenger 70 Light

Rp.    710.000

VICTOR Super Nano Pro 7

Rp.    738.000

VICTOR Super Nano 3

Rp. 1.078.000

VICTOR Super Nano 5

Rp. 1.078.000

VICTOR Explorer SP 68

Rp. 1.100.000

VICTOR Artery Tec Ti 95 Control

Rp. 1.170.000

VICTOR Artery Tec Ti 98

Rp. 1.170.000

VICTOR Artery Tec Ti 99

Rp. 1.170.000

VICTOR Super Wave 32

Rp. 1.200.000

VICTOR Super Wave 33 Power

Rp. 1.200.000

VICTOR Brave Sword 08

Rp. 1.300.000

VICTOR Brave Sword 09

Rp. 1.300.000

VICTOR Power Wave 12

Rp. 1.300.000

VICTOR Super Wave 35

Rp. 1.430.000

VICTOR Super Wave 36

Rp. 1.430.000

Nama-nama yang hilang dari ingatan

Dengan giatnya saya di bidang per-Facebook-an alias Perpacebokan, banyak teman2 lama yang muncul kembali ke dalam ingatan terutama teman-teman SMA. Tidak hanya teman-teman SMA sekelas, tapi juga teman-teman SMA dari kelas yang lain. Tidak hanya dari kelas IPA saja, tapi juga dari kelas IPS..

Ketemu lagi dengan konco lawas – an old buddy – tentu berita yang menggembirakan. Jika saja, saya bisa ingat semua teman yang ada. Tapi di usia yang udah “beberapa tahun” melebihi 50 tahun (“usia hampir expired”, kata seorang teman), tentunya mem-popup lagi nama dan wajah lama dari suatu stack yang sudah ditimbun selama 34 tahun tentu bukan perkara mudah.

Dan itulah kasusnya dengan saya. Berkali-kali saya mengamati foto teman2 sekelas waktu kelas 3 SMA. Ada beberapa wajah yang kebetulan di setiap foto “nempel terus kayak perangko” dengan saya. Celakanya, saya sudah memijit-mijit dahi saya dan siapa nama arek itu, aku ora ngerti. Padahal di blog ini di laman “Friends” ada daftar teman sekelas saya semuanya. Berbekal nama itu, saya mulai mencocokkan alias menggunakan algoritma pattern matching untuk mengetahui nama-nama teman yang ada pada foto.. Ini baru teman sekelas, apalagi teman yang lain kelas ! Makanya dalam kosakata bahasa Inggris ada beberapa sebutan untuk teman yaitu : friend, pal, partner, buddy, dude, dan yang lain. Maksudnya, kalau teman waktu SMA itu pernah mengalami hal yang sangat teramat sulit dengan kita dulu – misalnya juga teman latihan silat atau karate – kita pasti ingat. Tapi kalau teman yang sekedar ketemu di kelas hanya untuk belajar, dan sekeluar dari kelas nggak pernah bergaul sama sekali, tentu saja mudah lupa…

Ada teman SMA lain kelas yang dulu teman SMP juga tapi juga lain kelas. Setiap pulang sekolah dari sejak SMP, saya selalu beriringan dengan dia naik sepeda. Hampir setiap hari, selama hampir 3 tahun. Dia say Hi di Facebook saya dan menyebutkan nama, alamat, dan status dia sebagai teman SMP dan SMA saya. Tapi karena lain kelas, dengan segala hormat saya terpaksa lupa dan belum ingat siapa dia itu. Padahal foto dia sewaktu “dewasa” sudah saya taut di Facebook..

Ada lagi teman SMA tapi lain kelas, anak ini dulunya termasuk anak golongan “nerd” yang terkenal pinter. Tidak seperti saya yang “bosen jadi orang pinter” sehingga kerjanya cuman begadang, main gitar di tengah malam, dan mengganggu ketenangan tidur tetangga terus. Orangtua saya tidak pernah complain dengan kelakukan saya itu, karena pagi hari jam 5.00 saya pasti bangun (walau baru tidur jam 03.00 atau 04.00), mandi, makan, dan berangkat sekolah setiap hari. Tidak ada istilah “cutting class” alias membolos, sehingga orangtua saya tidak pernah complain. O ya kembali ke teman golongan “nerd” ini, walaupun sudah disertai nama, foto masa SMA dan foto masa “dewasa” sekarang….saya masih tetap penasaran siapa sih dia sebenarnya…

Untuk kasus pertama dan kasus kedua ini, saya benar-benar harus menggaruk kepala saya yang tidak gatal lebih dalam…untuk merefresh long term memory saya…

Untungnya, kasus itu hanya berlaku untuk teman cowok saja. Teman-teman cewek SMP dan SMA, tanpa terkecuali, saya ingat satu per satu…

Long term memory ? Short term memory ? Saya kira teman-teman cowok ditaruh di short term memory dan teman-teman cewek ditaruh di long term memory saya, makanya saya ingat terus…

Hehehe…..;-)

RFID tech goes to Binus campus

Tanggal 9 Juli 2009 ini adalah permulaan dari Semester Pendek di Binus yang bakal berakhir sekitar akhir Agustus 2009 yang akan datang. Ada beberapa pemandangan dan perasaan baru memasukkan Semester Pendek ini..

Pertama, sejak 7 Juli 2009 gedung parkir mobil kampus Anggrek yang berlantai 8 sudah mulai dioperasikan. Adalah mobil-mobil milik mahasiswa Binus yang diharapkan parkir di gedung parkir jangkung ini. Selama anda membawa Binus ID yang berteknologi RFID (Radio Frequency Id), anda dipersilahkan parkir di sana. Cukup menggeser kartu BCA Flazz cum Student ID anda di “tempatnya” maka nama anda akan tercatat memarkirkan mobil. Cara keluar dari tempat parkir juga sama, gesekkan BCA Flazz anda dan anda boleh pulang…tentunya setelah bayar uang parkir..Tempat parkir untuk motor mahasiswa, mobil dosen, mobil staf, dan mobil yayasan tetap di lantai ground dari kampus Anggrek..

Kedua, mulai Semester Pendek 2009 ini kelihatannya Binus sudah serius untuk sepenuhnya menggunakan kartu Flazz yang berteknologi RFID untuk melakukan segala transaksi perkuliahan. Di ruang dosen, untuk menandakan bahwa dosennya hadir, dosen diminta untuk menggesekkan kartu ID Dosen (BCA Flazz) ke tempatnya. Setelah itu, begitu memasuki ruang kelas, dosen juga diminta menggesekkan kartu ID Dosen sampai terbaca “accepted” di RFID readernya. Setiap mahasiswa yang hadir juga satu demi satu diminta untuk menggesekkan kartu ID mahasiswanya ke RFID reader sampai terbaca “accepted”. Setelah itu, dosen diminta mengecek absensi kehadiran mahasiswa yang telah mengabsen dengan menggesekkan kartu ID mahasiswa tadi. Jika ada mahasiswa yang kartu IDnya masih bermasalah tapi yang bersangkutan hadir kuliah, dosen bisa “mem-by-pass” kehadiran dengan meng-klik kolom kehadiran mahasiswa tersebut. Setelah itu, KOMTI alias Ketua Kelas diminta untuk memberikan verifikasi atas materi perkuliahan yang telah diberikan dosen, dengan cara memberi tanda contreng atau centang (check mark) ke materi perkuliahan yang ada pada jam kuliah tersebut (sudah disiapkan oleh Binus bahannya). Jika KOMTI sudah membubuhkan persetujuannya, maka waktunya bagi dosen untuk men-submit absensi kehadiran mahasiswa dan dosen itu ke Bagian Akademis Binus yang pada gilirannya akan memelihara record ini sebagai “audit trail” jika kapan-kapan diperiksa dalam rangka ISO-9000 atau diperiksa oleh pihak eksternal (Dikti/Kopertis III)..

Jadi bagi dosen dan mahasiswa, kartu ID yang berteknologi RFID tadi adalah hal penting pertama yang harus diperhatikan sebelum hadir di perkuliahan yang dilaksanakan di jadwal yang telah ditentukan, di ruang kelas yang telah ditentukan, dan dengan materi perkuliahan yang telah ditentukan…

Does RFID card make your life easier ?

You bet !!! No, at the beginning. Yes, in the long run…

Sate Tukri dan Klaster Warung Makan di Madiun

Menikmati Sate Ayam H. Tukri Sarbeno, Ponorogo

Menikmati Sate Ayam H. Tukri Sarbeno, Ponorogo

Pulang ke Madiun bulan Juni 2009 lalu seperti biasa ketika malam tiba teman-teman dari perusahaan client mengajak keluar hotel untuk mencari makan malam yang mak nyusss. Awalnya ketika ditanya “Mau makan malam dimana ?”, seorang teman, Mas Yudi,  spontan berkata “Di pecel lesehan Bu Maliki aja…”. “Wah..itu sudah pernah kan ? Bagaimana kalau kita jalan ke Ponorogo dan menikmati Sate Ayam Tukri di Ponorogo ?”, tanya Mas Bambang dari perusahaan client…

“Setuju !”, kata kami bertujuh : saya, Mas Satrio, Mas Amien, Mas Yudi, Mas Bambang, Mas Agus, dan Mas Izhar. Berdelapan, kalau Pak Supri pengemudi Innova kami dimasukkan…yang hanya tersenyum-senyum mendengar permintaan kita..

Maka Kijangpun dipacu meluncur di Jalan HOS Cokroaminoto di tengah kota Madiun, belok kanan ke Jalan Brantas, dan lampu merah belok kiri melalui Sleko-Slovakia (Desa Sleko) terus ke Demangan, melalui lampu merah di “Tek-an” (dari kata “Entek-entekan dalan” – in the end of the road), dan Kijangpun meluncur menuju ke Ponorogo malam itu yang jauhnya sekitar 29 km..

“Tenaaang….walaupun jauh nanti saya cerita yang lucu-lucu di tempat-tempat yang biasa saya kenal”, kata saya menawarkan. Tapi tawaran itu jadi buyar melihat pekatnya malam sehingga saya tidak bisa segera mengenali ini sampai daerah mana ? Sewulan terlewati, Pagotan masih bisa kelihatan karena lampunya walau agak temaram. Uteran, Mlilir, terlewati semua sampailah kami melalui gerbang “Selamat Datang di Ponorogo” dengan gambarnya Reog yang terkenal seantero Asia Tenggara itu (saking terkenalnya, negara tetanggapun mau mengakui itu punyanya)…

“Wah…kalau siang hari, pastilah kita mengambil foto dengan latar belakang reog itu..”, kata kami nyaris berbarengan…

Di tengah malam di Ponorogo, yang masih bisa mengenali daerah ini hanyalah Mas Bambang. “Hati-hati lho di Ponorogo ini, kelakuan motornya gila semua…lebih gila dari kelakuan motor di Madiun”, pesan Pak Bambang lagi entah kepada siapa…mungkin kepada Pak Supri yang lagi nyopir…

Perempatan pertama “Terusss…”, kata Mas Bambang. Perempatan kedua “Terusssss…”, kata Mas Bambang lagi. Perempatan ketiga, keempat, kelima “Terusssssss…”, kata Mas Bambang lagi. “Lho…kalau terussss terus, kapan nyampainya ?”, teman-teman semobil yang perutnya udah mulai keroncongan pada protes…

Pada persimpangan berikutnya, akhirnya Innova kamipun belok kiri. Setelah melalui beberapa jalan masuk, kamipun menemukan jalan cukup kecil yang cukup untuk simpangan 2 mobil secara pelan. Innovapun belok kiri, setelah berjalan sekitar 500 meter, di sebuah gang berwarna merah hitam dan lagi-lagi….ada ornamen Reog di gerbangnya…Innovapun akhirnya belok kiri lagi. “Ini dia Gang Sate tempat semua penjual sate ayam di Ponorogo berjualan di rumah-rumah”, kata Mas Bambang yang malam itu didapuk jadi guide dadakan…

Dan…Gang Sate ini benar-benar sempit, karena hanya cukup 1 mobil aja yang melaluinya. Gangnya juga agak berkelok-kelok seperti kelokan pisau kujang. Innova kamipun harus masuk ke halaman rumah dulu sambil menunggu sebuah CRV dan sebuah Taruna keluar dari dalam gang. Setelah mobil jalan sekitar 50 meter terpampanglah plang nama kecil “Sate Ayam H. Tukri Sorbikun” (bukan H. Tukri Sorbino – ralat dari mbak Annez) di sebelah kiri. Akhirnya setelah perjalanan sekitar 30 menit dari pusat kota Madiun, Kijang Innovapun parkir. Dan kesempatan yang baik itu digunakan oleh 4 teman dari Jakarta termasuk saya untuk difoto….kali ini minjem HP-nya Pak Bambang.. ceprett ! Dan terpampanglah foto seperti di awal posting ini…

Kamipun pesan 8 porsi sate ayam pakai lontong. Kira-kira perlu waktu 20 menit lebih sebelum satenya datang ke meja kami. Banyak pengunjung malam itu yang juga menunggu pesanan satenya. Waktu menunggu itu kita gunakan untuk menyeruput teh manis yang datang duluan. Juga menikmati ting-ting kacang yang berbentuk seperti kalkulator itu, kerupuk kulit, madu mongso, dan beberapa nyamikan manis lainnya…(hal ini yang menyebabkan kami kurang menikmati satenya yang porsinya super jumbo…karena perut sudah penuh dengan makanan manis…)..

Akhirnya satenya datang. Satu porsi berisi kira-kira 20 potong lontong yang sedang besarnya. Dan di atas lontong itu terpampanglah 10 sate ayam Ponorogo ukuran jumbo, karena dibandingkan dengan sate ayamnya Pak Bagong, ukuran sate ayam H. Tukri ini benar-benar jumbo…ukurannya besar-besar dan melebar padat…mirip bantalan dudukan Kawasaki Ninja edisi terbaru yang berharga Rp 45 juta itu lho…

Rasanya ? Benar-benar mak nyusss…..worth to wait ! Satu demi satu sate ayam itupun memasuki kerongkongan saya, dan pada sate yang ketujuh…saya mengambil nafas dalam-dalam….kekenyangan !!!! Maka dengan susah payah, kamipun menghabiskan porsi masing-masing. Tidak ada yang tersisa sih…tapi menyelesaikan tugas itu perlu waktu sekitar 30 menit disambi ngobrol ngalor ngidul..

Setelah kenyang, Mas Bambang pun membayari semua bill-nya. “Matur nuwun Mas…”, cuman itu yang bisa kita ucapkan…

Mobilpun keluar Gang Sate yang sempit itu, tapi karena tidak ada mobil lain maka mobil kami dengan sukses mencapai ke jalan besar. “Kalau masih mau, di sebelah timur Gang Sate ini ada Gang Soto, hayo siapa yang masih kuat ?”, tantang Mas Bambang lagi. Kamipun serentak menjawab “Ampuuuun…ini aja sudah membuat kami kenyang”…

Rupanya upaya pemerintah daerah setempat yang mengelompokkan atau membuat klaster warung makan yang sejenis di Kabupaten Ponorogo dan juga Kabupaten Madiun. Ada Klaster Sate Ayam dan Klaster Soto Ayam di Ponorogo yang letaknya sekitar 3-4 blok (perempatan) di sebelah selatan perempatan alun-alun Ponorogo itu..

Waktu pulang dari Madiun menuju Solo untuk mengejar penerbangan Lion Air sore itu, Pak Bani pengemudi yang mengantar kami menyempatkan melewati daerah Teguhan, Maospati dan Glodog melalui jalan-jalan pedalaman. Di sebuah jalan menjelang Jalan Raya Madiun-Solo, Pak Bani menunjukkan adanya satu desa yang hampir semua rumahnya menjual Ayam Panggang atau “ingkung” yang mak nyuss dan semuanya terbuat dari ayam kampung itu. “Saya sering mengantarkan tamu ke sini kok mas”, kata Pak Bani. “Iya mas, kapan-kapan kalau ke Madiun lagi saya mampir sini”, kata saya berjanji…

Dan mata kamipun semakin redup menuju Solo….dan di dalam mimpi kami ditemui meja hidangan penuh dengan sate ayam, soto ayam dan ingkung ayam….Hmmmm…..mak nyusss…

Previous Older Entries