Hamilin hinum..

Kebetulan pagi ini tadi di mobil lagi ndengerin radio Hard Rock FM dengan penyiar Panji Pragiwaksono dan Steny Agustaf yang lagi membahas tentang “kebiasaan minum minuman keras” yang dipandu oleh Dokter Felicia, saya jadi ingat judul posting ini…..

Konon kata salah seorang teman saya, tanda-tanda orang mabuk itu kalau dia maunya bilang “Ambilkan minum”…maka yang keluar dari mulutnya justru “Hamilin hinum….”…Hehe..saya tidak tahu ini benar atau guyonan, tapi yang jelas sangat “catching” sekali kata-katanya…

Yang jadi latar belakang saya menulis posting ini karena terus terang saya heran dengan dekadensi moral anak jaman sekarang, terutama yang berkaitan dengan minum minuman keras, yang sebenarnya dilarang oleh sementara agama. Orang Jawapun, menyebut “minum” adalah salah satu dari dosa yang perlu dihindari, selain “madon” (main perempuan), “main” (main kartu atau berjudi), “maling” (mencuri), dan “madat” (menghisap candu atau narkoba)..

Pertanyaannya, apakah penulis blog ini pernah minum ? Hehehe….mau tau aja !! Saya orang jujur, jadi saya of course pernah minum minuman keras. Mengapa, kapan, dan dimana….justru posting ini mau cerita ke arah situ..

Sejak saya kecil, setahu saya orang tua saya dulu yang berprofesi sebagai guru bukanlah peminum minuman keras. Tapi sesekali saya mendapati di kamar bapak saya tersedia anggur kolesom yang selalu ditaruh di dekat jendela kamar depan. Sebagai anak kecil yang keingintahuannya besar, saya sering mencicipi barang 1 sloki anggur kolesom bapak saya itu, dan setelah itu tenggorokan dan dada serasa panas. Begitu juga kalau ibu saya membuat tape ketan hitam, setelah tapenya jadi saya akan makan tape ketan hitam itu dengan lahap. Kalau hari ini tidak habis, besoknya air tape berubah rasa menjadi asam dan kalau diminum memberikan efek seperti anggur kolesom tadi, yaitu panas di tenggorokan dan di dada. Apakah anggur kolesom terbuat dari tape ketan hitam ? Brem Bali yang pernah saya minum waktu SMA juga rasanya mirip air tape..

Waktu SMA, ada seorang teman yang bapaknya suka ngumpulin teman-teman anaknya, dan dihibur dengan kaset lagu-lagu beraliran Hard Rock sampai Soul sampai cikal bakal Hip Hop waktu itu. Bila malam telah jelang jam 12 malam, si bapakpun mulai membawa keluar 1 botol Johnny Walker dan mempersilahkan kami teman-teman anaknya yang “berani” meminumnya. Kalau nggak salah saya berani nyoba, tapi mungkin hanya seperempat sloki, itupun membuat kepala saya kliyengan…Ya itulah kenakalan remaja jaman dulu, minimal orangtua masih mengawasi..

Jika musim liburan SMA tiba, kami sebagai anggota Pramuka sering mengadakan perkemahan ke luar kota. Pada suatu ketika kami berkemah di wilayah Kare, kira-kira 5-10 meter di sebelah timur Dungus yang daerahnya sudah berbukit-bukit dengan hutan-hutan kecil dan tanaman kopi menghampar. Anak cewek tinggal di Log Cabin, sedangkan anak cowok tinggal di tenda-tenda yang berjarak hanya 10-20 meter dari kali. Waktu malam tiba sebelum tidur, seorang teman membuka bekalnya, sebotol minuman Pu-Taw bikinan China yang berasa seperti tape ketan juga, tenggorokan dan dada panas…tapi kami harus cepat tidur karena besok Subuh harus sudah bangun…

Sewaktu kuliah di Bogor, saya juga masih sempat merasakan Pu-Taw bikinan China yang rasanya sama dengan yang di Dungus itu. Tapi cuman satu sloki, lebih dari itu…yang punya nggak boleh hehehe. Maklum, saya sekamar dengan bapak-bapak yang kuliah S2 yang di kamarnya dihiasi botol Martini dan Cinzano (kedua botol itu kosong, tidak ada isinya)..

Setelah bekerja di Jakarta dan pada suatu ketika saya dan teman saya Sudjud Suratri ditugaskan mengikuti pelatihan tentang transportasi udara di Ottobrunn, Jerman, oleh teman sekantor di Jerman kami berdua diajak pulang kampung untuk merayakan Leonhardi Fest. Pesta yang dipenuhi dengan karnaval dokar-dokar Jerman yang kuda-kudanya berkaki super gede yang dinaiki sama cewek Jerman bermata biru, berambut blonde, dan berbaju Ibu Tani itu memang menarik. Selepas lihat karnaval acara diteruskan dengan barbeque ayam, daging dan ikan. Perut kenyang karena makan banyak, si teman Jerman masih menyodorkan minuman yang berlabel “Bauer” (Petani) dan memang bergambar petani. Saya dan Sudjud-pun menenggak 1 sloki yang diberikan, dan kurang dari 5 menit kepala rasanya berputar-putar…..”Hamilin hinum !”… Sudjud bolak balik ke kamar mandi dengan maksud menggelontorkannya…Di dalam remang-remang cahaya mata saya, saya sempat melirik tulisan “38% alcohol”…Wah, pantas aja !!!

Selain itu, penduduk Jerman rupanya paling senang meminum bir, tidak laki tidak perempuan, tidak tua tidak muda. Di kantor tempat pelatihan saya di Jerman, setiap makan siang saya lirik cewek-cewek di sana selalu pesan 1 botol besar bir. Merk yang terkenal tentulah Lowenbrau, Heineken (ada yang bilang merk Jerman, ada yang bilang merk Belanda), Paulaner dan Ayinger…Ini pada hari-hari biasa, nggak tahu apa yang terjadi pada saat Oktober Fest…pesta bir terbesar di dunia yang dilaksanakan di Munchen setiap bulan Oktober itu..

Pada saat sekolah di Bloomington, terutama saat nonton bareng pertandingan American Football dimana team kami Indiana Hoosiers sedang bertanding baik kandang maupun tandang yang disiarkan langsung oleh televisi, saya biasanya yang bertugas menyiapkan minuman bagi “supporter Indonesia” yang berjumlah 5-10 orang. Biasanya saya beli six-pack wine cooler merk “Matilda” yang buatan Australia itu. Rasanya mirip-mirip dengan Pu-Taw buatan China yang saya minum di Dungus atau Bogor dulu..

Biasanya saya beli wine-cooler nya hari Sabtu untuk pertandingan Sabtu atau Minggu. Pada suatu hari, saya terlupa beli wine cooler “Matilda” dan saya pergi ke toko Village Pantry di depan asrama saya. “I would like to have six-pack Matilda wine cooler, please”, kata saya. “No Sir, you can not”, jawab si mbak pelayan yang berkulit putih, bermata hijau dan berambung pirang. “Why is that so ?”, saya menanyakan alasannya. “Because it’s Sunday Sir”, jawabnya sopan. “So, I can’t by wine cooler on Sunday ? Why”, tanya saya semakin penasaran. “Because it’s a state law Sir”, jawabnya cukup sopan…. Dan sayapun masih bertanya-tanya mengapa dari hari Senin sampai Sabtu saya bisa beli wine cooler tapi kalau Minggu nggak bisa. Pakai hukum negara bagian (state law), pula.

Sayapun lalu bertanya ke seorang teman Amerika tentang hal ini, dan iapun menjelaskan. “Tri, menurut pendapat orang-orang Indiana sini sebaiknya minuman keras tidak diperjualbelikan di hari Minggu ketika orang-orang pergi ke gereja. Alasannya, pemerintah maupun pemuka agama tidak mau ada orang mabuk di depan gereja pada hari Minggu, kalau hari-hari lainnya mereka mabuk sih biarkan saja”, kata teman saya yang tambun mirip aktor John Goodman itu…

Dan…sayapun menggaruk-garuk kepala saya yang tidak gatal….

1 Comment (+add yours?)

  1. yuri
    Jul 11, 2009 @ 15:00:29

    saya pernah nyoba dikit jonny si pejalan kaki ‘jonny walker’ papa saya. dbeli bkn buat dminum seh, cuma buat pengawet rahim rusa kalimantan

    Yuri,
    I understand….sebagai devoted Adventist pasti anda tidak akan menjamah…minuman “naga” itu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: