Makanan dan “utility function”

Saya belajar tentang “utility function” waktu mengambil mata kuliah Ekonomi Mikro di Departemen Sosek IPB tahun 1977 dulu. Sejak itu, berkali-kali saya ketemu penerapan dari “utility function” di penyelesaian masalah Transportasi Udara sampai masalah sehari-hari, yaitu makan…

Secara singkat, hubungan ‘utility function’ dengan makanan adalah, bila kita makan 1 piring nasi itu cukup ok dan mengenyangkan, tapi kalau makan 2 piring nasi akan membuat kita super kenyang dan menimbulkan rasa tidak nyaman di perut, makan 3 piring nasi akan membuat kita kecapaian makan, dan makan 4 piring nasi mungkin akan berakhir dengan….muntah !

Artinya, jumlah piring nasi optimal mungkin 2 piring, dan sejak piring ke-3 maka “utility function” dari nasi akan semakin turun fungsinya, dan piring nasi ke-4 akan berpotongan dengan sumbu X, yang menyatakan kita “muntah”…

Ketika lulus dari ujian skripsi di Departemen Statistika dan Komputasi IPB pada Maret 1980, saya lalu mentraktir teman-teman se rumah kost yang jumlahnya 15 orang. Saya lalu pesan 15 x 8 tusuk sate = 120 tusuk sate. Mengapa saya berani hanya memesan 8 tusuk sate per orang ? Karena saya pernah mengadakan penelitian kecil-kecilan bahwa utility function optimal bagi rata-rata manusia laki-laki dewasa adalah 8 tusuk sate. Artinya, tusuk sate ke-9, ke-10 dan sebagainya justru akan membuat utility function-nya menurun dan cenderung akan ditolak oleh perut….mungkin tusuk sate ke-20 yang dimakan manusia akan membuatnya muntah !

Pada suatu saat, isteri saya sedang sekolah ngambil S3 di Malang sedangkan anak saya yang kecil sedang menyelesaikan studi S1-nya di Bandung. Saya di rumah hanya berdua dengan anak saya yang besar lulusan S1 di Semarang yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Setiap tanggal 26 anak saya yang besar itu gajian, dan biasanya ia mengajak saya sebagai bapaknya untuk makan-makan di luar, ia yang mbayarin. Nah, makanan favoritnya adalah pizza. Walaupun saya suka pizza, tapi saya tidak terlalu “gila” akan pizza, terutama merk-merk pizza yang beredar di Indonesia (no offense, pizza kesukaan saya adalah Domino Pizza yang tidak ada dijual di Indonesia)..

Akibatnya, makan pizza berdua dengan jenis pesanan 2 pizza berukuran besar berbeda “topping’ sangatlah sulit bagi kami berdua untuk menghabiskannya. Maklum, selain pesan pizza kami juga pesan garlic bread, chicken wing, dan burchetta yang kami maksudkan sebagai “makanan pembuka”. Kadang-kadang kami juga pesan “puff” soup…yang cukup mengenyangkan, apalagi biasanya saya pesan Milk Shake sebagai minumannya…dan anda tahu, milk shake itu membuat perut cepat kenyang dan mata ngantuk…. Untung selama diajak makan pizza itu, saya tidak pernah mau muntah….karena jumlah yang dipesan pas di jumlah optimal..

Bagaimana dengan nasi pecel pincuk sebagai “makanan kebangsaan” saya yang saya sukai sejak masa kecil ? Pincuk pecel pertama dengan cepat masuk perut, pincuk kedua cukup cepat masuk perut, tapi setelah pincuk kedua dan 1 gelas teh nas-gi-telĀ (panas, legi, kentel) kayaknya saya tidak mau kalau ditawarin pincuk pecel ketiga….karena kebanyakan !!!