Sate Tukri dan Klaster Warung Makan di Madiun

Menikmati Sate Ayam H. Tukri Sarbeno, Ponorogo

Menikmati Sate Ayam H. Tukri Sarbeno, Ponorogo

Pulang ke Madiun bulan Juni 2009 lalu seperti biasa ketika malam tiba teman-teman dari perusahaan client mengajak keluar hotel untuk mencari makan malam yang mak nyusss. Awalnya ketika ditanya “Mau makan malam dimana ?”, seorang teman, Mas Yudi,  spontan berkata “Di pecel lesehan Bu Maliki aja…”. “Wah..itu sudah pernah kan ? Bagaimana kalau kita jalan ke Ponorogo dan menikmati Sate Ayam Tukri di Ponorogo ?”, tanya Mas Bambang dari perusahaan client…

“Setuju !”, kata kami bertujuh : saya, Mas Satrio, Mas Amien, Mas Yudi, Mas Bambang, Mas Agus, dan Mas Izhar. Berdelapan, kalau Pak Supri pengemudi Innova kami dimasukkan…yang hanya tersenyum-senyum mendengar permintaan kita..

Maka Kijangpun dipacu meluncur di Jalan HOS Cokroaminoto di tengah kota Madiun, belok kanan ke Jalan Brantas, dan lampu merah belok kiri melalui Sleko-Slovakia (Desa Sleko) terus ke Demangan, melalui lampu merah di “Tek-an” (dari kata “Entek-entekan dalan” – in the end of the road), dan Kijangpun meluncur menuju ke Ponorogo malam itu yang jauhnya sekitar 29 km..

“Tenaaang….walaupun jauh nanti saya cerita yang lucu-lucu di tempat-tempat yang biasa saya kenal”, kata saya menawarkan. Tapi tawaran itu jadi buyar melihat pekatnya malam sehingga saya tidak bisa segera mengenali ini sampai daerah mana ? Sewulan terlewati, Pagotan masih bisa kelihatan karena lampunya walau agak temaram. Uteran, Mlilir, terlewati semua sampailah kami melalui gerbang “Selamat Datang di Ponorogo” dengan gambarnya Reog yang terkenal seantero Asia Tenggara itu (saking terkenalnya, negara tetanggapun mau mengakui itu punyanya)…

“Wah…kalau siang hari, pastilah kita mengambil foto dengan latar belakang reog itu..”, kata kami nyaris berbarengan…

Di tengah malam di Ponorogo, yang masih bisa mengenali daerah ini hanyalah Mas Bambang. “Hati-hati lho di Ponorogo ini, kelakuan motornya gila semua…lebih gila dari kelakuan motor di Madiun”, pesan Pak Bambang lagi entah kepada siapa…mungkin kepada Pak Supri yang lagi nyopir…

Perempatan pertama “Terusss…”, kata Mas Bambang. Perempatan kedua “Terusssss…”, kata Mas Bambang lagi. Perempatan ketiga, keempat, kelima “Terusssssss…”, kata Mas Bambang lagi. “Lho…kalau terussss terus, kapan nyampainya ?”, teman-teman semobil yang perutnya udah mulai keroncongan pada protes…

Pada persimpangan berikutnya, akhirnya Innova kamipun belok kiri. Setelah melalui beberapa jalan masuk, kamipun menemukan jalan cukup kecil yang cukup untuk simpangan 2 mobil secara pelan. Innovapun belok kiri, setelah berjalan sekitar 500 meter, di sebuah gang berwarna merah hitam dan lagi-lagi….ada ornamen Reog di gerbangnya…Innovapun akhirnya belok kiri lagi. “Ini dia Gang Sate tempat semua penjual sate ayam di Ponorogo berjualan di rumah-rumah”, kata Mas Bambang yang malam itu didapuk jadi guide dadakan…

Dan…Gang Sate ini benar-benar sempit, karena hanya cukup 1 mobil aja yang melaluinya. Gangnya juga agak berkelok-kelok seperti kelokan pisau kujang. Innova kamipun harus masuk ke halaman rumah dulu sambil menunggu sebuah CRV dan sebuah Taruna keluar dari dalam gang. Setelah mobil jalan sekitar 50 meter terpampanglah plang nama kecil “Sate Ayam H. Tukri Sorbikun” (bukan H. Tukri Sorbino – ralat dari mbak Annez) di sebelah kiri. Akhirnya setelah perjalanan sekitar 30 menit dari pusat kota Madiun, Kijang Innovapun parkir. Dan kesempatan yang baik itu digunakan oleh 4 teman dari Jakarta termasuk saya untuk difoto….kali ini minjem HP-nya Pak Bambang.. ceprett ! Dan terpampanglah foto seperti di awal posting ini…

Kamipun pesan 8 porsi sate ayam pakai lontong. Kira-kira perlu waktu 20 menit lebih sebelum satenya datang ke meja kami. Banyak pengunjung malam itu yang juga menunggu pesanan satenya. Waktu menunggu itu kita gunakan untuk menyeruput teh manis yang datang duluan. Juga menikmati ting-ting kacang yang berbentuk seperti kalkulator itu, kerupuk kulit, madu mongso, dan beberapa nyamikan manis lainnya…(hal ini yang menyebabkan kami kurang menikmati satenya yang porsinya super jumbo…karena perut sudah penuh dengan makanan manis…)..

Akhirnya satenya datang. Satu porsi berisi kira-kira 20 potong lontong yang sedang besarnya. Dan di atas lontong itu terpampanglah 10 sate ayam Ponorogo ukuran jumbo, karena dibandingkan dengan sate ayamnya Pak Bagong, ukuran sate ayam H. Tukri ini benar-benar jumbo…ukurannya besar-besar dan melebar padat…mirip bantalan dudukan Kawasaki Ninja edisi terbaru yang berharga Rp 45 juta itu lho…

Rasanya ? Benar-benar mak nyusss…..worth to wait ! Satu demi satu sate ayam itupun memasuki kerongkongan saya, dan pada sate yang ketujuh…saya mengambil nafas dalam-dalam….kekenyangan !!!! Maka dengan susah payah, kamipun menghabiskan porsi masing-masing. Tidak ada yang tersisa sih…tapi menyelesaikan tugas itu perlu waktu sekitar 30 menit disambi ngobrol ngalor ngidul..

Setelah kenyang, Mas Bambang pun membayari semua bill-nya. “Matur nuwun Mas…”, cuman itu yang bisa kita ucapkan…

Mobilpun keluar Gang Sate yang sempit itu, tapi karena tidak ada mobil lain maka mobil kami dengan sukses mencapai ke jalan besar. “Kalau masih mau, di sebelah timur Gang Sate ini ada Gang Soto, hayo siapa yang masih kuat ?”, tantang Mas Bambang lagi. Kamipun serentak menjawab “Ampuuuun…ini aja sudah membuat kami kenyang”…

Rupanya upaya pemerintah daerah setempat yang mengelompokkan atau membuat klaster warung makan yang sejenis di Kabupaten Ponorogo dan juga Kabupaten Madiun. Ada Klaster Sate Ayam dan Klaster Soto Ayam di Ponorogo yang letaknya sekitar 3-4 blok (perempatan) di sebelah selatan perempatan alun-alun Ponorogo itu..

Waktu pulang dari Madiun menuju Solo untuk mengejar penerbangan Lion Air sore itu, Pak Bani pengemudi yang mengantar kami menyempatkan melewati daerah Teguhan, Maospati dan Glodog melalui jalan-jalan pedalaman. Di sebuah jalan menjelang Jalan Raya Madiun-Solo, Pak Bani menunjukkan adanya satu desa yang hampir semua rumahnya menjual Ayam Panggang atau “ingkung” yang mak nyuss dan semuanya terbuat dari ayam kampung itu. “Saya sering mengantarkan tamu ke sini kok mas”, kata Pak Bani. “Iya mas, kapan-kapan kalau ke Madiun lagi saya mampir sini”, kata saya berjanji…

Dan mata kamipun semakin redup menuju Solo….dan di dalam mimpi kami ditemui meja hidangan penuh dengan sate ayam, soto ayam dan ingkung ayam….Hmmmm…..mak nyusss…

5 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Jul 12, 2009 @ 16:47:40

    Ternyata di Ponorogo ya…memang Ponorogo gudang nya sate uenak

    Reply

  2. alris
    Jul 15, 2009 @ 01:53:13

    Baca ceritanya kayaknya muaantap tuh sate yang dinikmati. Angan-angan saya pengen nyicipi ingkung ayam kampung yang di Ponorogo itu.
    *ingkung ayam kampung peluang bisnis yang mantap juga nih, belut aja bisa sukses di Semarang. hayooo…Alris kapan move-up (nunggu modal dari pak Tri hehehe….)*

    Uda Alris,
    Hehehe….ada salah dikit, kalo sate ayam dan soto ayam klasternya ada di Ponorogo (29 km sebelah selatan Madiun), sedangkan kalau ingkung ayam klasternya ada di daerah Glodog, Maospati (10 km sebelah barat Madiun)…
    Saya juga bisa membayangkan harumnya bau ingkung ayam yang masih hangat, dan ayamnya masih “kemanggang” (ayam umur 1 bulanan)…

    Reply

  3. simbah
    Jul 16, 2009 @ 17:23:40

    Mungkin kalau di Jakarta,…padanannya sate Tegal ya dik Yon?,…dulu di Jl. Pramuka ujung sebelah barat tahun 80-an saya pernah ngudap di sana…irisan dagingnya sak-pupu-pupu gedene…jadi 5 tusuk saja sudah wareg….??

    Simbah,
    Iya…bedanya Sate Tegal kan sate kambing mas, lha Sate Tukri ini adalah Sate Ayam Ponorogo yang seperti biasanya itu cuman porsinya 2-3 kali lebih besar daripada Sate Ayam Ponorogo Pak Bagong….makanya maregi banget…

    Reply

  4. Santoso
    Aug 06, 2009 @ 06:49:24

    Wah memorimu tentang Madiun perlu diluruskan,..dari Jalan Cokroaminoto belok kanan sampai traffic light bukan Jalan Brantas,..tapi yang bener Jalan Musi

    Cak Totok,
    Iya…hehehe….tak kirain nggak ada orang Madiun yang baca…hahaha…

    Reply

  5. annesyaries
    Jul 07, 2015 @ 22:35:25

    Mohon maaf untuk pemilik blog, ada kekeliruan caption pada foto penulisan nama pemilik Sate Ayam Ponorogo, yg benar adalah TUKRI SOBIKUN bukan Sarbeno.
    Terimakasih.
    Salam kenal,
    cucunya 🙂

    Ok mbak Annez, ralat diterima…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: