Kisah seonggok dollar

Pada suatu hari Sabtu yang cerah, seorang teman yang bekerja di sekolah tinggi komputer menanyai saya “Pak Tri, hari Minggu besok bisa nggak datang ke kampus ? Wah..sulit untuk menjawab “permintaan” ini soalnya ini bulan puasa, dan harus masuk kampus hari Minggu pula. Tapi tanpa berpikir saya bilang, “Ya Pak, besok pagi saya akan datang”..

Besoknya saya datang di hari Minggu di bulan puasa yang sepi. Di sebuah ruangan, ternyata saya menghadiri rapat bertiga saja : Ibu Direktur, teman saya itu, dan saya sendiri. Tanpa basa-basi, Ibu Direktur membuka pertemuan bahwa akan ada Training di Bangkok yang harus dihadiri oleh pihak Binus. Waktunya selama 2 minggu, yaitu 1 minggu sebelum Lebaran dan 1 minggu setelah Lebaran. Beasiswa sedang diusahakan diperoleh dari Dikti..

Ternyata teman saya menyatakan tidak bisa, “Saya usul Pak Tri Djoko saja yang ke Bangkok”. Usul diterima, dan saya harus segera mengurus Passport dan Exit-Permit (berhubung saya PNS di KTP saya). Melalui sekretaris Ibu Direktur, passport hijau-pun diurus di Wita Tour dekat Duta Merlin yang memakan waktu 1 hari pembuatannya. Paralel dengan pengurusan passport, sayapun mengurus surat Exit Permit untuk ditunjukkan di Imigrasi Bandara nanti..

Kira-kira H-1 sebelum terbang dengan Thai ke Bangkok, ternyata kabar beasiswa ASEAN dari Dikti belum didapat. Akhirnya Ibu Direktur meminta bantuan sekretarisnya untuk menyiapkan dana untuk pembayaran sendiri, kalau-kalau beasiswanya belum sempat turun padahal sudah harus berangkat ke Bangkok. Sejam kemudian, sekretaris Direktur menelpon saya, “Pak Tri, bisa datang ke sini…ini ada uang yang perlu diambil untuk biaya pelatihan di AIT Bangkok, biaya hidup, dan biaya taksi”…

Sayapun segera meluncur ke ruangan Ibu Direktur di lantai bawah dari laboratorium perangkat lunak. Mbak sekretarispun memberi saya uang dengan nominasi US dollar dan rupiah. Biaya kursus adalah 2000 US dollar, biaya hidup 14 x 25 US dollar, dan biaya taksi di Bangkok 50 US dollar, serta biaya taksi pp di Jakarta. Tidak lupa tiket Thai pp, dan passport hijau..

Singkat cerita, penerbangan dengan Thai di bulan puasa berjalan dengan lancar. Pramugari Thai benar-benar cantik-cantik seperti putri raja, bahkan beberapa teman mengatakan baunya wangi dari sononya dengan alasan “Beras yang mereka makan saja baunya wangi, pasti itu mempengaruhi juga bau tubuhnya”. Celakanya, saya percaya saja dengan apa yang dikatakan teman saya itu…

Penerbangan siang itu selama 4 jam ke Bangkok ternyata membuat saya harus mendarat di Bangkok di waktu maghrib. Di tengah remang-remang bandara Don Muang, sayapun mencari taksi bandara, meloncat ke dalam taksi dan bilang dalam bahasa Inggris akses Amerika, “Sir, I would like to go to AIT, Klong Luang, Pathum Thani…”. Si sopirpun mengangguk cerdas dan segera memacu taksinya di tengah kemacetan kota Bangkok di masa orang-orang pulang kantor…

Setelah sejam tersuruk di tengah kemacetan kota Bangkok, sayapun sampai di kampus AIT. Kalau nggak salah, lampu-lampu di AIT sudah banyak dimatikan di sore hari itu, namun dengan determinasi tinggi sayapun bisa sampai ke AIT Hotel untuk menginap dengan ongkos 25 US dollar per malam. Sayapun masuk ke kamar yang mempunyai 2 tempat tidur berbentuk L itu. Hotel ini cukup nyaman, mungkin kalau di Indonesia mirip sekali dengan Hotel MM UGM yang semalam bertarif Rp 275 ribu itu..

Besoknya, saya sarapan di kantin Hotel, gratis tentunya karena sudah termasuk tarif hotel. O ya malam sebelumnya, sayapun ketemu dengan orang-orang Indonesia yang belajar di AIT dan sayapun ngobrol dengan beberapa alumni IPB adik kelas saya di pinggir kolam yang banyak ditumbuhi pohon teratai, di malam yang gelap gulita itu..

Ternyata, tempat pelatihan juga ada di hotel ini. Welcome reception cukup menarik, dibawakan oleh Direktur Continuing Education AIT yang doktor dari Filipina itu. Di waktu istirahat, sayapun berniat membayar biaya pelatihan dengan uang cash, karena beasiswa ASEAN sudah ditutup dan sudah diambil oleh beberapa teman Indonesia dari Departemen Dalam Negeri dan Pemda DKI Jakarta. Peserta training ada 2 cewek Bangladesh yang bahasa Inggrisnya perfect, 2 cewek India, dan 1 cewek Vietnam, sisanya laki-laki dari Burma, Bhutan, Vietnam, India, Bangladesh, dan Indonesia…

Sampai di kasir, sayapun ditanya oleh kasir cewek Thailand yang manis, “What would you like to pay for, cash, check or credit card ?”. Sayapun menjawab dengan tangkas pakai American English yang tidak kalah perfect, “I would like to pay it cash” sambil saya menunjukkan segepok uang dollar setebal kira-kira 2 cm dengan total nilai 2,000 US dollar yang diberikan oleh mbak Sekretaris Direktur kampus saya di Jakarta…

“Wha..What..Whattt ?”, kata si kasir manis dengan mata terbelalak. Dia bilang, kalau mau bayar dengan Traveller’s Check saja simpel. Ini anda bawa segepok uang 2o US dollaran banyak banget !  Sayapun tersipu malu, apalagi segepok dollar itu dikaretin dengan 2 warna : merah dan putih..

Si kasir perlu waktu sekitar 2 menit untuk menghitung 100 lembar 20 US dollar yang saya berikan, dan sayapun diberi receipt yang nantinya akan saya sampaikan kembali sebagai bukti pengeluaran ke mbak Sekretaris Direktur kampus…

Singkat cerita, pelatihan yang berjalan 2 minggu itu sangat menarik. Ada classroom teaching, simulation, dan tidak lupa kunjungan ke Istana Raja Thailand yang serba emas, kunjungan ke beberapa restoran Thai untuk merasakan Tom Yam Gung “asli”, belanja beberapa souvenir Thai di Boobay Market (semacam Tanah Abang-nya Bangkok), dan beberapa majalah Thai (isinya apa, biarlah saya sendiri yang tahu…hahaha…). Sayapun sempat ketemu teman saya se angkatan di IPB, Haryono, yang sedang mengambil S3 bidang Computer Science di AIT. Saya sempat ke apartemennya, sempat dimasakin sup ayam, dan sempat diajak keliling Bangkok buat beli buku-buku Operating Systems untuk bahan ngajar semester depan..

Moral cerita : dipandang dari Indonesia di tahun 1992, kejadian itu tentu biasa-biasa saja. Tapi dilihat dari Indonesia di tahun 2009 dimana uang 100 US dollar yang kinyis-kinyis seolah baru diseterika ada dimana-mana, tentu membayar dengan 100 lembar uang 20 US dollar-an itu bisa menjadi masalah…

3 Comments (+add yours?)

  1. tutinonka
    Aug 04, 2009 @ 15:00:03

    Wah, makan beras wangi bisa membuat badan beraroma wangi juga ya Pak? Saya mau minum minyak wangi ah, biar dikira nggembol botol parfum … hehehe …

    2000 $ cash? Tebalnya 2 cm? Kalau saya jadi kasir, saya ogah ngitung Pak. Saya minta Pak Tri yang menghitung tumpukan uang itu pakai jari, saya ngitung pakai mulut aja … 😀

    Bu Tuti,
    Makan beras wangi badan jadi bau wangi, itu teori teman2 cowok yang bandel-bandel Bu….istilahnya “bragging” gitu…

    Yang jelas uang $ 2,000 pecahan $ 20 an tebalnya lebih dari 1 cm Bu…ngitungnya aja susah….soalnya “uang hijau” nih Bu, mata juga jadi hijau….;-)

    Reply

  2. simbah
    Aug 08, 2009 @ 13:09:04

    Tak pikir nek ngimpi….kaya tempo hari, jebule beneran…..pantes detil…

    Simbah,
    Hehehe…kadang ngimpi dan beneran iku bedane ming sak ujung rambut….contone ngimpi yang-yangan…hahahaha…

    Reply

  3. ALRIS
    Aug 12, 2009 @ 22:42:04

    Dua ribu dolar kalo kurs sekarang, biaya kursus untuk dua minggu mahal tenan. Itulah enaknya jadi abidin, ya, pak. Semua gratis, tis..tis…
    Kasirnya pasti kinyis-kinyis dan bau badannya kayak beras pandan wangi, hehehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: