Judul Skripsi Sastra Inggris

Selama beberapa bulan, salah satu judul posting di blog saya “Judul Skripsi Sastra Inggris” banyak dikunjungi para mahasiswa/i dari seluruh penjuru nusantara..

Hari ini tadi (25 Agustus 2009) saya cek di Google ternyata ranking posting saya “Judul Skripsi Sastra Inggris” saya itu drop jauh bahkan bisa dikatakan tidak ada di Google ! Mengapa ? Karena sudah di-copy-paste sama orang-orang yang tidak berhak dan dimuat dalam berbagai situs. Saya cek satu per satu ternyata informasinya tidak sama dengan informasi yang dulunya ada di posting saya.

Kemudian saya cek di blog saya. Alhamdulillah, posting “Judul Skripsi Binus Bimbingan Saya” itu masih ada. Karena saya tidak mau mengecewakan para pembaca blog ini utamanya para mahasiswa/i yang sedang menulis skripsi Sastra Inggris, maka saya berikan link berikut dengan maksud agar ranking di Google naik kembali dan para mahasiswa/i bisa berdiskusi kembali dengan saya mengenai Judul Skripsi Sastra Inggris yang baik…

Ini link posting saya “Judul Skripsi Sastra Inggris” yang lama :  https://triwahjono.wordpress.com/2008/04/27/judul-skripsi-sastra-inggris/#comments

Silahkan dicoba !

Kalau ada pertanyaan, boleh kok ditanyakan di sini …..

The meaning of fasting

The blogging business in Indonesia is so quiet recently due to the popular increase of both Facebook and Tweeter. I don’t want to “purge” this blog as there are still a lot of visitors come and go everyday. To make it a better blog, at least from my perspective, I will change this blog as my own “english magazine”. Sounds cool, doesn’t it ?

Since three days ago I do fasting during the month of Mercy (Ramadhan). As a moslem, if I have no problem with my physic and soul, then it is a obligatory for me to do fasting during the whole month of Ramadhan.

For moslem, by doing fasting one can feel the sorrow of the less fortunate as most of the time they have difficulty to find even undecent food.

During the fasting month, I usually feel weak physically but feel strong mentally..

My Allah follows me during this holy month so I can pass the whole-month test of Ramadhan..

Amen.

Selamat berpuasa Ramadhan 1430 H

Selama sebulan penuh dari tanggal 22 Agustus 2009 sampai 20 September 2009 nanti, umat muslim di Indonesia bakalan menjalankan ibadah puasa. Puasa by definition adalah menahan lapar, haus, dan nafsu-nafsu lainnya dari matahari belum terbit sampai matahari terbenam.

Sebagai umat muslim, sayapun bertekad akan menjalankan ibadah puasa tahun ini secara full. Fisik dan mental sudah dipersiapkan, tinggal pelaksanaan di lapangan nanti yang perlu dilihat. Maklum, tahun ini panasnya bukan main. Bahkan kota Bandung yang terkenal akan dinginnya, tadi siang jam 2.30 masih amat sangat terik panasnya…Maklum, walaupun puasa, kegiatan saya tetap full, business as usual…baik sebagai peneliti maupun sebagai dosen…

Nah, bagaimana kehidupan menulis blog dan Facebook ? Mestinya selama sebulan ini perlu disesuaikan. Jika pada hari-hari biasa siang hari bisa digunakan untuk membaca komentar di Blog dan kemudian membalasnya, begitu juga dengan Facebook, maka saya mohon maaf selama bulan puasa ini membaca komentar Blog dan Facebook hanya akan dilaksanakan setelah usai shalat Taraweh jadi sekitar jam 9 malam sampai jam 12 malam. Selebihnya, ya untuk puasa itu…

Jadi mumpung belum terlambat, saya mengucapkan Selamat Berpuasa Ramadhan 1430 H bagi yang menjalankannya. Semoga puasanya bisa full….

Adios Amigo: dan Pak Rektorpun pergi..

Sabtu 15 Agustus 2009 saya diundang hadir di acara Lepas-Sambut Rektor Binus 2005-2009 dan Rektor Binus 2009-2013. Setelah memarkirkan mobil Camry-un saya di tempat undangan (dikira Panitia di bawah saya ini “undangan” dari pihak eksternal), sayapun berjalan di lorong yang dipenuhi dengan bunga ucapan selamat yang jumlahnya puluhan itu..

Saya rogoh saku saya untuk mengambil hp berkamera dan “Ooops….” saya salah ngambil hp. Mestinya Nokia yang saya bawa, tapi Motorolla CDMA (yang saya beli hanya dengan alasan supaya saya bisa nelpon lebih murah ke anak saya di Balikpapan dengan kartu CDMA Starone). Urung deh, memotret karangan bunga ucapan selamat kepada Rektor Binus yang baru Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo yang berasal dari mantan dosen paling terkenal di Binus: Thompson S.W. (Soesabda Ngoen) dan Januar W. (Wahyudi)..

Sayapun bergegas masuk gedung ke arah lift dan diiringi oleh seorang panitia mahasiswi berpakaian kebaya pink dan seorang Satpam berpakaian jas hitam ala jas Paspampres. “Ke Lantai 4 pak..”, kata mereka berdua berbarengan. Lift yang dimuati bertigapun berhenti di lantai 4. Si mahasiswi panitia tadi mau mengikuti saya terus maksudnya mau menunjukkan jalan tapi saya tolak dengan halus, “Mbak saya sudah tahu tempatnya kok, lagian saya mau mampir ke toilet dulu..”

Sampai di Auditorium Binus hanya 20 orang-an yang sudah hadir. Setelah menunggu 30 menit acarapun dimulai, yang ternyata berlangsung selama 3 jam (09.30 sampai 12.30). Acara Lepas-Sambut Rektor Binus ini dirancang semi formal antara hiburan dan upacara. Hadir antara lain : Prof. Dr. Ir. Satrio Sumantri Brojonegoro (mantan Dirjen Dikti, dosen ITB) dan Prof. Dr. Soeryo Guritno (salah satu petinggi Konsorsium Ilmu Komputer, dosen UGM).

Upacara diselang-seling dengan acara hiburan berupa Paduan Suara Binus “Paramabira” yang sudah kenyang makan asam garam kompetisi paduan suara bahkan hingga ke Spanyol (!!!), dan Ansamble Musik “Binus International School”. Jika Paramabira yang diketuai Aryono – mantan mahasiswa saya – membawakan acara dengan baik, maka Ansamble Musik BIS masih membawakan acaranya dengan gamang. Konon kata seorang pelatih musik dan nyanyi kenalan saya, mengasuh anak remaja SMP adalah yang paling sulit karena suara vokal mereka sedang bertransisi dari vokal anak kecil ke vokal orang dewasa. Begitu pula Ansamble Musik BIS ini, vokal penyanyinya masih di perbatasan, mungkin harus menunggu 2-3 tahun lagi sebelum vokal mereka bisa stabil.

Masalah pengaturan sound system untuk Ansamble Musik ini mungkin juga kurang harmonis, suara keras datang dari suara drum (yang saya lihat setiap instrumennya dipasang mike), sedangkan suara biola dan vokal hanya sayup-sayup saja..sebenarnya tinggal memainkan equalizer saja untuk mengatur harmonisasi suara yang dihasilkan dari ansamble musik BIS ini..

Singkat kata, pelepasan Rektor Binus lama Prof. Dr. Geraldus Polla dan Warek I, II dan III didahului dengan pembacaan Surat Keputusan dari Yayasan Binus. Demikian pula pengangkatan Rektor Binus baru Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo dan Warek I, II, III dan IV yang baru juga didahului oleh pembacaan Surat Keputusan dari Yayasan Binus.

Jika pengangkatan Prof. Har jadi Rektor Binus baru diiringi tayangan film asal-usul Pak Har (sebagian mengulang film pelantikan Pak Har sebagai Professor – wajah saya sempat muncul 1/10 detik di sana), maka pelepasan Prof. Gerald sebagai Rektor Binus lama juga diiringi film sebagai pelengkap “Memori Akhir Jabatan Rektor Binus 2005-2009”.

Yang paling menarik di akhir film tentang Prof. Gerald itu, beliau menyanyi lagu lama “Adios Amigo” atau “Selamat Tinggal Teman” yang aslinya dibawakan oleh James Reeves itu…dan diakhiri dengan tayangan ala AFI di Indosiar 7-8 tahun yang lalu…yaitu Prof. Gerald “tereliminasi” dan terpaksa mengepak kopor dan meninggalkan Binus melalui pintu depan ruang Admisi menuju parkiran mobil…

…dan para hadirinpun ketawa ngakak !

Selamat beristirahat untuk sementara Prof. Gerald dan selamat berkarya untuk Binus Prof. Harjanto…

(p.s.: Semua keluarga alm Bapak Wibowo hadir, kecuali Pak Waluyo. Begitu juga putra dan menantu alm Ibu Th. Widia juga hadir. Sempat terekam kamera ada seorang hadirin di deretan tengah yang mukanya mirip sekali dengan alm Ibu Th. Widia di masa muda – saya tidak tahu apakah ini memang putri Ibu Th. Widia yang menyempatkan diri hadir di Jakarta –  ataukah orang lain yang kebetulan mukanya mirip)

Binusian 2013

Pagi ini tadi ketika menjelang masuk ke kelas untuk mengajar sebuah mata kuliah Semester Pendek, dari escalator yang saya naiki dan dari hallway di depan ruang kelas lantai 2 saya memandang ke bawah para Binusian 2013 sedang mengambil jaket almamater Binus berwarna burgundy red yang mirip jaket almamaternya Boston College itu…

Menarik sekali melihat para student volunteer menawarkan 3 ukuran jaket almamater : S, M dan L kepada setiap Binusian 2013 baik putra ataupun putri. Masing-masing Binusian 2013 kemudian mencoba jaket itu dan bila ukurannya dirasa cocok, iapun mengatakan ukuran itu kepada student volunteer yang menungguinya. Menarik karena kadang tinggi badan si student volunteer terlalu mini dibandingkan ukuran Binusian 2013 yang dilayaninya yang seperti salah satu dari “Two Towers” dalam film “Lord of The Rings” itu. Sebaliknya kadang si student volunteer yang menjulang tinggi seperti Monas sedangkan Binusian 2013 yang dilayaninya seperti Frodo Balgins the hobbit dari Yorkshire itu…

Binusian 2013 adalah sebutan bagi mahasiswa/i baru Binus Angkatan 2009. Sejak 10 tahun yang lalu sebutan mahasiswa Binus “dimundurkan” sesuai dengan masa lulusnya nanti. Jadi mahasiswa/i Binus Angkatan 2009 akan dinamakan Binusian 2013 karena mereka diharapkan lulus tepat waktu 4 tahun kemudian yakni di tahun 2013. Oleh karena itu NIM atau Nomor Induk Mahasiswa mereka yang 10 digit dimulai dengan 13, misalnya 1300000001. Sehingga bagi dosen, staf akademis, maupun pejabat kampus terutama Dekan, Kajur dan Sekjur jika ada mahasiswa bermasalah nantinya yang akan dicek adalah nomor 13 ini. Jika di tahun 2014 nanti masih ada mahasiswa dengan NIM dimulai dari 13, 12, atau bahkan 11, maka mahasiswa-mahasiswa ini adalah mahasiswa “expired” yang masa studinya hampir berakhir di Binus.

Di tahun 1999 dulu semasa saya masih menjabat sebagai seorang Dekan di Binus, para pejabat teras Binus meliputi Rektor, Pembantu Rektor dan para Dekan merapatkan sehari penuh tentang kode Nomor Induk Mahasiswa ini. Selain 10 digit nomor, waktu itu juga diputuskan ditambahkan 5 digit lagi berupa “/” dan “kode jurusan”. Jadi mahasiswa dengan NIM 1300000001/IF adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika (singkatan IF diambil dari singkatan Teknik Informatika bagi mahasiswa ITB), dan NIM 1300000002/MTIF adalah mahasiswa jurusan ganda Matematika-Teknik Informatika…

Bagi dosen seperti saya, melihat mahasiswa baru selalu menarik perhatian. Soalnya kampus ibarat hotel, setiap saat tamu datang dan pergi, tamu lama keluar dan datanglah tamu baru yang menghuni kamar yang sama. Di kampus juga begitu, mahasiswa yang sudah lulus akan meninggalkan kampus dan meja kursinya akan diganti oleh mahasiwa baru..

Kalau semua itu tadi bisa dianggap sebagai “good news“, sebenarnya juga ada “bad news” nya. Konon jumlah mahasiswa baru yang masuk Binus di tahun 2009 ini menurun jumlahnya dibandingkan mahasiwa baru Binus di tahun 2008, 2007 dan tahun sebelumnya. Walaupun persentase penurunannya tidak diketahui persis, tapi yang jelas menurun, katanya. Maka beberapa dosen di ruang dosenpun mempunyai analisisnya sendiri-sendiri. Ada yang bilang ini bukan khas Binus, tapi juga melanda hampir semua Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, yaitu jumlah mahasiswa baru menurun. Jika di tahun 2008 dan 2007 jumlah mahasiswa baru Binus mendekati angka 6.000 orang maka di tahun ini mungkin hanya sekitar 5.800 orang saja.

Di antara analisis dosen itu yang paling masuk akal adalah: jumlah mahasiswa baru mencerminkan situasi ekonomi negara yang sampai saat ini diakui masih dalam keadaan krisis akibat dihantam gelombang sub prime mortgage Amerika Serikat satu dua tahun belakangan ini. Akibatnya banyak bisnis yang bangkrut, minimal lesu, melanda seluruh wilayah nusantara. Akibatnya para orangtua di daerah yang direncanakan bisa mengirim putra-putrinya ke Binus sekarang sudah tidak bisa lagi, dan sebagai gantinya menyekolahkan putra-putri mereka di STMIK atau STIE yang ada di kota mereka baik di Sumatera maupun Kalimantan..

Analisis lainnya, sebagian calon mahasiswa yang mestinya sekolah di Binus mengalihkan buruannya untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri yang memang sudah dibuka “pintu sampingnya“. Dan analisis yang layak dipercayai, beberapa orangtua calon mahasiswa yang cukup berada, tidak jadi mengirimkan putra-putrinya untuk sekolah ke Binus dan mengalihkan buruannya ke universitas-universitas luar negeri, utamanya ke Malaysia..

Binus memang sekolah mahal, kedudukannya sudah nomor 2 termahal di Jakarta setelah UPH. Mungkin ini yang menyebabkan beberapa orangtua calon mahasiswa cukup “keder“…

“Kemahalan” ini juga yang menyebabkan saya dan beberapa teman dosen lainnya, masih tetap mengajar di universitas ini. “Jer basuki mawa beya“, pepatah orang Jawa bilang yang artinya “Harga membawa rupa“. Jika bapak-ibu sekalian menyekolahkan putra-putri Bapak-Ibu ke sekolah mahal, sebagai gantinya putra-putri Bapak-Ibu akan mendapatkan mutu pendidikan yang bagus pula, yang pada gilirannya akan menjamin masa depan putra-putri Bapak-Ibu sendiri..

The sky is the limit ! Jika putra-putri Bapak-Ibu punya kemampuan berlebih, bukan tidak mungkin 4-5-6 tahun dari sekarang putra-putri Bapak-Ibu akan dapat bekerja di bidang IT ataupun di bidang lainnya di sebuah negara makmur di permukaan bumi ini, sebagaimana telah dibuktikan oleh ratusan bahkan ribuan alumni Binus yang sekarang ini telah bekerja di luar negeri…

Oleh karena itu, sekolahkan putra-putri Bapak-Ibu ke Binus, dan jangan ragu-ragu. Kami para dosen ini yang akan menjamin masa depan putra-putri Bapak-Ibu sekalian seperti bunyi sepenggal bait lagu “Gaudeamus Igitur“….Vivat academica…..vivat profesoris….

Kehidupan akademis di kampus itu ada, ya karena para profesor atau para dosennya….

Kesamaan 3M : Mozart, Michael Jackson, Mbak Surip

Pada suatu hari Selasa malam kira-kira tiga-empat tahun yang lalu, saya sedang mendengarkan siaran Radio Prambors sekitar jam 20.30 malam sepulang dari ngajar Algoritma & Pemrograman di Binus Astra Sunter. Malam itu penyiarnya adalah Warman Nasution dalam suatu acara bincang-bincang yang kadang-kadang mengundang tamu khusus seperti Marcell Siahaan. Acara yang dibahas malam itu, Warman minta sharing dari pendengar sekalian yaitu “Menurut anda mana yang benar, “seni untuk seni” (art for art) atau “seni untuk bisnis” (art for business)…”..

Di malam yang sepi tapi macet di tol pelabuhan arah Cawang itu, sayapun segera menyambar hp di kantong lalu menulis sms ke Prambors, tentu saja dengan mengatasnamakan anak saya Ditta, dan segera mengirimkannya kepada Warman Nasution. Lima menit kemudian, Warman membaca “Nah…ini ada sms dari Ditta…dia bilang lebih setuju kepada “seni untuk seni” soalnya kalau “seni untuk bisnis” maka yang akan terjadi adalah KEMATIAN seperti kematian yang dialami oleh Mozart (Wolfgang Amadeus Mozart) karena kebanyakan pekerjaan mengarang lagu akibat seseorang telah memberikannya uang panjar dalam jumlah yang sangat besar…”

Kesamaan antara Mozart, Michael Jackson, dan Mbak Surip adalah : ketiganya menghadapi kematian justru ketika masing-masing mereka bertiga telah menerima sejumlah besar uang panjar sebagai imbalan atas pekerjaan seni yang harus mereka berikan kepada si pemberi uang..

Kalau anda sempat menonton film “Wolfgang Amadeus Mozart” yang sangat menarik itu, di sana diceritakan Mozart yang telah menjadi penggubah lagu istana Austria di Wina, telah menjadi semacam selebritis di istana. Maka banyak teman yang dipunyai oleh sosialita istana seperti Mozart, begitu pula musuh-musuhnya antara lain Salieri yang juga berprofesi sebagai penggubah lagu istana yang sama. Mozart yang waktu itu berumur sekitar 30 tahun dan telah menikah dengan gadis pujaannya, pada suatu sore kedatangan tamu seorang pria bertopeng yang memberikannya segepok uang dalam jumlah ratusan atau ribuan Schilling sebagai panjar untuk sejumlah besar karya-karya musik yang diharapkan ditulis oleh Mozart dalam waktu dekat ini…Penonton film Mozart pun dipaksa bertanya-tanya siapakah gerangan pria bertopeng besi warna perak yang mendatangi rumah Mozart ? Apakah Salieri, musuhnya, ataukah orang lain yang juga memusuhi Mozart ? Apakah maksud pemberian uang dalam jumlah besar itu ? Apakah sebagai hadiah kepada Mozart atas karya-karya musik fenomenalnya, ataukah sebagai “alat” untuk membunuh Mozart karena cepat atau lambat ia akan kecapekan dan stress memikirkan sejumlah besar karya musik yang tidak dapat dibuatnya ? Film bagus inipun akhirnya berakhir muram : yaitu Mozart meninggal dunia di ranjangnya pada usia yang amat sangat muda, 34 tahun. Karya musik terakhirnya adalah “Requiem” dengan nada-nada aneh yang sangat terasa seolah lagu kematian bagi si penggubah lagu ini. Menurut cerita, Requiem ini ditulis Mozart hanya 2 bait saja, dan 2 bait sisanya diteruskan oleh orang lain penggubahan lagunya…

Michael Jackson pun rupanya bernasib sama dengan Mozart karena menerima order “Tour Keliling Dunia” berjudul “That’s it” (yang artinya harafiahnya adalah “Sudah, cukup !” atau bisa juga ditafsirkan sebagai “Habis !” atau “Mati !”). Michael Jackson yang konon punya hutang sebanyak ratusan juta dollar merasa sangat terbantu ketika tawaran manggung sebanyak 50 kali di seluruh dunia dengan jumlah kontrak ratusan juta dollar menghampirinya. Namun dalam persiapan tour yang sangat panjang itu, rasa bosan dan frustasipun merebak ke diri Michael Jackson yang sebenarnya sudah lama sekali tidak pernah manggung lagi. Akibatnya iapun menderita depresi berat yang pada gilirannya tergantung kepada obat-obatan depresan sebagai penghilang depresi…yang membawanya kepada kematian…

Idem ditto dengan Mozart dan Michael Jackson, Mbah Surip pun sebagai pemusik tiba-tiba muncul “out of nowhere” dan tiba-tiba telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari kita : lagunya, gayanya, ceritanya, ketawanya, dan semangatnya semua orang dari anak kecil sampai orang tua untuk menirukan lagunya. Iapun muncul berkali-kali di berbagai tv dalam waktu yang berbeda-beda. Belakangan malah, konon menurut cerita, seseorang telah memberinya sebuah rumah seharga Rp 4 milyar dan sebuah mobil keluaran tahun terakhir. Pagi tadi sebelum kabar meninggalnya mbah Surip merebak, Panji Pragiwaksono dan Steny Agustaf di Hard Rock FM masih membahas mbak Surip dan berkesimpulan bahwa “Menjadi Pemusik Sukses itu Tidak Kenal Usia”…..tapi, tiba-tiba teman sekantor pada ribut mengakses website detik.com yang pagi tadi memang sulit diakses untuk memburu berita meninggalnya mbak Surip…

Ternyata ketiga pemusik yang kebetulan namanya diawali dengan huruf M yaitu : Mozart. Michael Jackson, dan Mbah Surip, meninggal dunia karena sebab yang sama yaitu : menerima order besar untuk membuat karya besar dan massif, namun pada akhirnya proses kreatif dalam diri mereka tidak bisa dipaksakan kecepatannya dan jumlahnya, yang pada akhirnya membuat si pemusik menjadi frustasi, sakit, dan akhirnya meninggal dunia…Ini juga resiko mengambil pemikiran “seni untuk bisnis”….artinya berkarya seni belum cukup jika karya seni tersebut belum dapat memberikan imbalan finansial yang besar…..yang bagi para senimannya sangatlah membahayakan, karena pada akhirnya mental dan fisiknya pasti tidak akan kuat memenuhi tuntutan bisnis ini…

Sebaliknya, seniman yang berpendapat “seni untuk seni” akan selamat dunia akhirat, minimal secara fisik dan mental selamat, namun belum tentu karya seninya bisa mendatangkan keuntungan finansial. Minimal, jiwa raganya akan selamat karena proses kreatifnya akan berjalan dengan pelan, sesuai “ilham” yang datang, dan tidak diburu-buru sehingga tidak mendatangkan stress atau apapun…

Jadi menurut anda mana yang benar, “seni untuk seni” atau “seni untuk bisnis” ?

Tie a yellow ribbon round an old oak tree

Beberapa hari yang lalu terdengar kabar mantan Presiden Filipina Corazon Aquino telah meninggal dunia karena sakit kanker. Seketika itu juga sebenarnya saya pengin menulis posting ini, tapi tenggorokan yang gatal luar biasa dan tubuh yang luruh lemas membatalkan niat saya..

Pada suatu hari di awal tahun 1980an di Filipina, ada seorang senator flamboyan bernama Benigno Aquino yang sedang menanjak popularitasnya karena ia berani melawan kata-kata diktator Filipina pada waktu itu, Ferdinand Marcos. Dengan alasan untuk mengobati sakit jantungnya, akhirnya senator Benigno Aquino diperkenankan untuk menuju Amerika Serikat untuk berobat, walaupun sebenarnya itu merupakan “pembuangan” dirinya..

Tak tahan berpisah dengan negara dan rakyatnya tercinta, beberapa saat kemudian Benigno Aquinopun pulang ke Filipina, walaupun di bawah ancaman pembunuhan begitu ia tiba di bandara Manila. Benigno pulang ke Filipina, dan setibanya di bandara Manila iapun turun dari pesawat yang membawanya dari Amerika. Sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang menyambutnya. Begitu ia menjejakkan kaki di tarmac bandara Manila, seorang assassin memuntahkan pelurunya ke arah dada Benigno dan iapun tersungkur di tarmac bersimbah darah…

Besoknya Benigno Aquino dimakamkan dan dalam perjalanan menuju pemakaman, ratusan ribu rakyat Filipina turun ke jalan melepas pahlawannya. Hampir semuanya berpakaian kuning. Mengapa kuning ?

Konon rakyat Filipina sangat terkesan dengan film berjudul “Tie a yellow ribbon round an old oak tree” yang diputar beberapa tahun sebelumnya. Ceritanya tentang seorang mantan narapidana yang telah selesai menjalani hukumannya selama sekitar 10 tahun. Iapun grogi apakah isterinya masih mau menerimanya. Makanya sebelum pulang ke rumah untuk bertemu isterinya, ia menulis surat kepada isterinya, “Jika kamu masih mencintai saya, ikatlah pita kuning di pohon oak tua yang ada di dekat rumah kita”.

Si narapidanapun naik bis dari penjara menuju ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan, rasa groginyapun semakin besar. Iapun bercerita tentang hukuman penjaranya dan betapa ia masih mencintai isterinya kepada seluruh penumpang bis. Para penumpangpun bersimpati dan ikut merasa deg-degan. Semakin dekat dengan desa asal si narapidana, seisi bis semakin dag dig dug deg deg plas hatinya…

Ajaib !!! Ternyata begitu memasuki desa kelahiran si narapidana, semua pohon oak yang ada di desa itu diikat dengan pita kuning….tanda si isteri narapidana masih bisa menerimanya !!

Cerita itu begitu berkesan bagi rakyat Filipina sehingga waktu Benigno Aquino mau pulang, semua pendukungnya sengaja mengenakan baju kuning. Sepeninggal Benigno, isterinya yang profesinya tidak lain tidak bukan hanyalah ibu rumah tangga biasa – Corazon Aquino – bersedia memimpin ratusan ribu rakyat Filipina untuk berdemo melawan rezim pembunuh suaminya…

Akhirnya Presiden Ferdinand Marcos bersedia mengasingkan diri ke Hawaii, dan Corazon Aquino pun disumpah sebagai Presiden Filipina yang baru…

Dan ketika saya tugas belajar ke Amerika tahun 1987-1989 kemarin, pembicaraan dengan teman-teman Filipina akan mudah dimulai ketika saya menyinggung “pita kuning yang diikat di pohon oak tua” di desa yang sepi….

Lagu “Tie a yellow ribbon round an old oak tree” juga enak didengar dan membawa pesan yang mendalam.

Tidak percaya ? Coba saja dengarkan lagunya….

Previous Older Entries