Kesamaan 3M : Mozart, Michael Jackson, Mbak Surip

Pada suatu hari Selasa malam kira-kira tiga-empat tahun yang lalu, saya sedang mendengarkan siaran Radio Prambors sekitar jam 20.30 malam sepulang dari ngajar Algoritma & Pemrograman di Binus Astra Sunter. Malam itu penyiarnya adalah Warman Nasution dalam suatu acara bincang-bincang yang kadang-kadang mengundang tamu khusus seperti Marcell Siahaan. Acara yang dibahas malam itu, Warman minta sharing dari pendengar sekalian yaitu “Menurut anda mana yang benar, “seni untuk seni” (art for art) atau “seni untuk bisnis” (art for business)…”..

Di malam yang sepi tapi macet di tol pelabuhan arah Cawang itu, sayapun segera menyambar hp di kantong lalu menulis sms ke Prambors, tentu saja dengan mengatasnamakan anak saya Ditta, dan segera mengirimkannya kepada Warman Nasution. Lima menit kemudian, Warman membaca “Nah…ini ada sms dari Ditta…dia bilang lebih setuju kepada “seni untuk seni” soalnya kalau “seni untuk bisnis” maka yang akan terjadi adalah KEMATIAN seperti kematian yang dialami oleh Mozart (Wolfgang Amadeus Mozart) karena kebanyakan pekerjaan mengarang lagu akibat seseorang telah memberikannya uang panjar dalam jumlah yang sangat besar…”

Kesamaan antara Mozart, Michael Jackson, dan Mbak Surip adalah : ketiganya menghadapi kematian justru ketika masing-masing mereka bertiga telah menerima sejumlah besar uang panjar sebagai imbalan atas pekerjaan seni yang harus mereka berikan kepada si pemberi uang..

Kalau anda sempat menonton film “Wolfgang Amadeus Mozart” yang sangat menarik itu, di sana diceritakan Mozart yang telah menjadi penggubah lagu istana Austria di Wina, telah menjadi semacam selebritis di istana. Maka banyak teman yang dipunyai oleh sosialita istana seperti Mozart, begitu pula musuh-musuhnya antara lain Salieri yang juga berprofesi sebagai penggubah lagu istana yang sama. Mozart yang waktu itu berumur sekitar 30 tahun dan telah menikah dengan gadis pujaannya, pada suatu sore kedatangan tamu seorang pria bertopeng yang memberikannya segepok uang dalam jumlah ratusan atau ribuan Schilling sebagai panjar untuk sejumlah besar karya-karya musik yang diharapkan ditulis oleh Mozart dalam waktu dekat ini…Penonton film Mozart pun dipaksa bertanya-tanya siapakah gerangan pria bertopeng besi warna perak yang mendatangi rumah Mozart ? Apakah Salieri, musuhnya, ataukah orang lain yang juga memusuhi Mozart ? Apakah maksud pemberian uang dalam jumlah besar itu ? Apakah sebagai hadiah kepada Mozart atas karya-karya musik fenomenalnya, ataukah sebagai “alat” untuk membunuh Mozart karena cepat atau lambat ia akan kecapekan dan stress memikirkan sejumlah besar karya musik yang tidak dapat dibuatnya ? Film bagus inipun akhirnya berakhir muram : yaitu Mozart meninggal dunia di ranjangnya pada usia yang amat sangat muda, 34 tahun. Karya musik terakhirnya adalah “Requiem” dengan nada-nada aneh yang sangat terasa seolah lagu kematian bagi si penggubah lagu ini. Menurut cerita, Requiem ini ditulis Mozart hanya 2 bait saja, dan 2 bait sisanya diteruskan oleh orang lain penggubahan lagunya…

Michael Jackson pun rupanya bernasib sama dengan Mozart karena menerima order “Tour Keliling Dunia” berjudul “That’s it” (yang artinya harafiahnya adalah “Sudah, cukup !” atau bisa juga ditafsirkan sebagai “Habis !” atau “Mati !”). Michael Jackson yang konon punya hutang sebanyak ratusan juta dollar merasa sangat terbantu ketika tawaran manggung sebanyak 50 kali di seluruh dunia dengan jumlah kontrak ratusan juta dollar menghampirinya. Namun dalam persiapan tour yang sangat panjang itu, rasa bosan dan frustasipun merebak ke diri Michael Jackson yang sebenarnya sudah lama sekali tidak pernah manggung lagi. Akibatnya iapun menderita depresi berat yang pada gilirannya tergantung kepada obat-obatan depresan sebagai penghilang depresi…yang membawanya kepada kematian…

Idem ditto dengan Mozart dan Michael Jackson, Mbah Surip pun sebagai pemusik tiba-tiba muncul “out of nowhere” dan tiba-tiba telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari kita : lagunya, gayanya, ceritanya, ketawanya, dan semangatnya semua orang dari anak kecil sampai orang tua untuk menirukan lagunya. Iapun muncul berkali-kali di berbagai tv dalam waktu yang berbeda-beda. Belakangan malah, konon menurut cerita, seseorang telah memberinya sebuah rumah seharga Rp 4 milyar dan sebuah mobil keluaran tahun terakhir. Pagi tadi sebelum kabar meninggalnya mbah Surip merebak, Panji Pragiwaksono dan Steny Agustaf di Hard Rock FM masih membahas mbak Surip dan berkesimpulan bahwa “Menjadi Pemusik Sukses itu Tidak Kenal Usia”…..tapi, tiba-tiba teman sekantor pada ribut mengakses website detik.com yang pagi tadi memang sulit diakses untuk memburu berita meninggalnya mbak Surip…

Ternyata ketiga pemusik yang kebetulan namanya diawali dengan huruf M yaitu : Mozart. Michael Jackson, dan Mbah Surip, meninggal dunia karena sebab yang sama yaitu : menerima order besar untuk membuat karya besar dan massif, namun pada akhirnya proses kreatif dalam diri mereka tidak bisa dipaksakan kecepatannya dan jumlahnya, yang pada akhirnya membuat si pemusik menjadi frustasi, sakit, dan akhirnya meninggal dunia…Ini juga resiko mengambil pemikiran “seni untuk bisnis”….artinya berkarya seni belum cukup jika karya seni tersebut belum dapat memberikan imbalan finansial yang besar…..yang bagi para senimannya sangatlah membahayakan, karena pada akhirnya mental dan fisiknya pasti tidak akan kuat memenuhi tuntutan bisnis ini…

Sebaliknya, seniman yang berpendapat “seni untuk seni” akan selamat dunia akhirat, minimal secara fisik dan mental selamat, namun belum tentu karya seninya bisa mendatangkan keuntungan finansial. Minimal, jiwa raganya akan selamat karena proses kreatifnya akan berjalan dengan pelan, sesuai “ilham” yang datang, dan tidak diburu-buru sehingga tidak mendatangkan stress atau apapun…

Jadi menurut anda mana yang benar, “seni untuk seni” atau “seni untuk bisnis” ?

3 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Aug 08, 2009 @ 11:42:23

    Benar juga dik Yon,…almarhum WS Rendra, hasil karyanya gak dikomersi-ilkan, jadi agak panjang juga usianya, meski hanya mencapai 73th. Kalau saya mau meniru almarhum mBah Surip, bisa saja. Tapi siapa jaman sekarang yang mau nanggap Anoman-Anggodo dan Janoko-Cakil…?? Wong di kampung sekarang kalau ada hajatan yang ditanggap organ tunggal….dan yang nyanyi bikin hati empot-empotan..he..he…?

    Simbah,
    Ya udah nanti kalau saya sunatan (maning), saya nanggap sampeyan supaya nari Anoman-Anggodo dan Janoko-Cakil……hehehehe…..;-)

    Reply

  2. yuri
    Aug 12, 2009 @ 08:39:34

    pak, mozart pas mo meninggal selain sakit keras juga buta mangka na lagu na ngeri. jg bkn dia yg nulis krn dia dah ga bs bangun dr tempat tidur. saya walau blom jd musisi prof tp saya liat klo bidang seni d indo beda sm luar. art 4 art d indo mah ga bakal bs idup. salah1 pemain oboe terbaik indo, hidup dgn filosofi itu en sampe skarang yah begitu2 aj.

    Reply

  3. Trackback: Hapal Semua Teman Sekolahnya Sejak SD Hingga Perguruan Tinggi « Dwiki Setiyawan's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: