Bab 5 – Mencari tanggal operasi yang tepat

Dalam cerita sebelumnya saya katakan bahwa setelah keluar dari perawatan pertama di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, karena masih kurus, pucat dan lemah, maka kemana-mana saya harus diikuti, disertai dan dikawal. Sepulang saya dari Rumah Sakit, kakak saya yang tinggal sekota menawari saya untuk sementara tinggal di rumahnya sampai operasi jantung saya nanti selesai. Mungkin kakak saya khawatir lagi kalau saya pingsan di rumah. Kalau di rumah kakak, banyak yang akan menemani jadi kekhawatiran untuk pingsan agak jauh…

Untung kakak saya selain punya mobil yang bisa dipakai, juga punya saudara yang bisa nyopir. Akhirnya kemanapun saya pergi – entah ngantor atau ngampus – saya selalu disertai si mas atau si mbak yang akan menyopiri, menunggu saya bekerja, dan kadang membelikan makanan buat saya. Yang jelas adalah menyediakan teh manis buat saya minum dalam interval 1 jam – karena di awal-awal saya pulang dari rumah sakit, jika saya merasa lemas maka paling enak kalau diberi minum teh manis. More

Bab 4 – Kembali ngantor dan ngajar, bagai hidup di dua dunia

Akar masalah mengapa saya pingsan itu sebenarnya hal sepele. Pertama, saya belum terlalu fit setelah menderita “hilang nafas” dan akhirnya dibawa ke RS Jantung Harapan Kita. Kedua, karena belum fit maka saya masih memerlukan respirator di hidung yang membantu pernafasan saya. Ketiga, saya agak lemas setelah pagi itu diajak ke ruang Echo dan Vasculer yang keduanya perlu antri dan ruangannya agak sempit. Keempat, saya sudah kadung kebelet BAB sehingga tidak ada waktu untuk mempunyai “second thought” tentang apa yang akan saya lakukan…

Siang itu walaupun saya kadung kebelet BAB, tapi sebenarnya saya tidak terlalu kuat buat melakukan BAB di Toilet. Semestinya saya minta diambilkan “kursi toilet” sehingga saya bisa BAB di dekat tempat tidur saya. Tapi karena saya agak “merasa jagoan” – ini penjelasan suster kepada isteri saya – sayapun langsung menuju ke Toilet, menutup pintu, mencopot celana pasien dan duduk di toilet. Itu saja yang saya ingat…. More

Bab 3 – Masuk UGD untuk perawatan pertama

Taksi Pusaka-pun sedikit terseok-seok menerjang lalu lintas Jakarta yang tumben malam Minggu itu agak sepi. Tolpun juga sepi…sehingga di malam itu taksi yang saya naiki bisa berlari agak cepat. Tanpa terasa taksipun keluar di pintu exit depan Slipi Jaya Plaza, dan setelah mengambil U-Turn di bawah flyover Tomang, taksipun masuk ke RS Jantung Harapan Kita…

Sayapun tetap berpikir bahwa selama 54 tahun saya sehat wal afiat dan tidak pernah masuk rumah sakit, kok sekarang divonis sakit jantung.. Tanpa terasa taksipun masuk ke halaman RS Harapan Kita dan kami salah jalan ! Ternyata UGD yang kami tuju waktu itu UGD untuk Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita. Pak Satpampun menunjukkan jalan ke UGD RS Jantung Harapan Kita. More

Bab 2 – Divonis sakit jantung

Dan ternyata….saya sakit jantung. Yang mendeteksi pertama kali menggunakan stetoskop dan dapat menangkan “murmur” yang aneh di stetoskop dan menyimpulkan saya sakit jantung dan bukan sakit paru-paru adalah Dr. dr. Hertati, dokter tetangga saya. Padahal dua dokter lainnya yang praktek dekat tempat tinggal saya menganggap saya hanya sakit maag dan sakit pernafasan saja…

Setelah saya keluar dari Rumah Sakit waktu perawatan pertama saya dari 6-18 Nopember 2010, banyak teman dan saudara yang menanyakan kepada saya apa sih gejalanya orang sakit jantung itu. Saya jawab, khusus untuk saya, ada beberapa gejala yang menonjol. Gejala pertama, biasanya saya bisa menuju tempat parkir kantor di lantai 5 dengan menggendong backpack berisi penuh buku dengan mudah, tapi waktu itu setelah mendaki ke atas 1 tingkat saja saya sudah ngos-ngosan dan harus beristirahat dulu. Gejala kedua, biasanya kalau lagi ngajar saya bisa berkata-kata beberapa menit tanpa terputus, tetapi waktu itu saya berbicara sekitar 5 menit saja sudah ngos-ngosan. Saya ingat waktu itu sedang mengajar mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi (PTI), dan saya merasa berat banget mengajarnya, kaki gemetar dan nafas ngos-ngosan. Gejala ketiga, tangan suka kesemutan (“gringgingen” bahasa Jawanya). Gejala keempat, punggung saya pegalnya bukan main…dari pinggang ke atas sampai leher serasa pengin dikerokin, biasanya dengan minum Paramex semua pegel sudah ilang keesokan harinya, tapi kali ini pegel masih sangat terasa… More

Bab 1 – Awalnya saya sehat-sehat saja..

Awalnya saya sehat-sehat saja. Sampai dengan umur 54 tahun saya tidak pernah terkena penyakit yang serius, paling hanya diare, pilek, sariawan atau masuk angin. Saya juga jarang ke dokter, apalagi rumah sakit, saya tidak pernah ke sana kecuali untuk menjenguk teman atau saudara yang sakit. Ke dokterpun cukup jarang, bisa dibilang hanya setahun sekali. Biasanya ke dokter dekat rumah yang saya sudah anggap sebagai “dokter keluarga”. Yang paling sering adalah, kalau saya mengeluh sakit, saya hanya membeli obat-obatan yang biasa diberikan dokter. Membeli obatnya juga tidak selalu ke apotik, tetapi lebih sering ke toko obat dekat rumah…

Mengapa saya sehat-sehat saja, mungkin bisa diterangkan karena saya orangnya suka bergerak dan beraktivitas. Kalau berjalan saya akan berjalan dengan cara jalan cepat, mungkin karena ibu saya dulu kalau berjalan sangat cepat sehingga bunyi kainnya sampai seperti…wuk..wuk..wuk.. More