Bab 1 – Awalnya saya sehat-sehat saja..

Awalnya saya sehat-sehat saja. Sampai dengan umur 54 tahun saya tidak pernah terkena penyakit yang serius, paling hanya diare, pilek, sariawan atau masuk angin. Saya juga jarang ke dokter, apalagi rumah sakit, saya tidak pernah ke sana kecuali untuk menjenguk teman atau saudara yang sakit. Ke dokterpun cukup jarang, bisa dibilang hanya setahun sekali. Biasanya ke dokter dekat rumah yang saya sudah anggap sebagai “dokter keluarga”. Yang paling sering adalah, kalau saya mengeluh sakit, saya hanya membeli obat-obatan yang biasa diberikan dokter. Membeli obatnya juga tidak selalu ke apotik, tetapi lebih sering ke toko obat dekat rumah…

Mengapa saya sehat-sehat saja, mungkin bisa diterangkan karena saya orangnya suka bergerak dan beraktivitas. Kalau berjalan saya akan berjalan dengan cara jalan cepat, mungkin karena ibu saya dulu kalau berjalan sangat cepat sehingga bunyi kainnya sampai seperti…wuk..wuk..wuk..

Selain badan yang sedikit kekar alias “built” dan sedikit gemuk, saya tidak punya prevalensi yang lain agar disebut “berbakat” dalam sakit jantung. Tekanan darah saya awalnya darah rendah, tapi seiring berjalannya usia, kadang sudah menyeberang ke darah tinggi dengan tekanan 140/90. Tetapi itu jarang sekali. Saya tidak punya penyakit gula atau diabetes, dan saya tidak menderita gangguan ginjal.

Bahkan setahun terakhir sebelum saya divonis sakit jantung, saya menjalani hidup dengan cara yang sesehat-sehatnya. Saya sering berolahraga nggowes sepeda sampai sejauh 5 km, bahkan 10 km dengan sepeda mountain bike yang saya beli di akhir tahun 2009 itu. Ceritanya, pada suatu waktu universitas tempat saya ngajar menunjuk saya untuk mengganti kelas yang diajar oleh dosen lain teman saya, yaitu Pak Syaiful Karim. Ternyata mengganti kelas selama sebulan uangnya sudah dibelikan sebuah mountain bike merk Polygon, walaupun tipe yang low end.

Jadi selama setahun sebelum saya sakit saya selalu rutin nggowes sepeda. Di sore hari di waktu weekdays, dan di pagi dan sore hari di waktu weekends. Kecuali jika jalanan terlalu becek jika hujan baru turun…

Di sekitar waktu Puasa dan Lebaran 2010 pun saya masih punya banyak kegiatan. Di waktu jelang puasa saya sempat pulang “nyadran” (berziarah) ke makam kedua orang tua saya di Madiun. Bahkan pada waktu Lebaran saya masih kuat menyopir sendiri mobil Avanza E yang saya pinjam dari Koperasi kantor, padahal Jakarta-Semarang pada waktu itu perlu waktu 12 jam.

Sebulan setelah Lebaran, sewaktu saya selesai bersepeda ada rasa yang aneh menyelimuti badan ini. Bila di waktu-waktu yang lalu saya akan merasa “fresh” setelah nggowes sepeda, saat itu saya merasa tidak terlalu fresh setelah nggowes sepeda..

Saya merasa heran….dan ternyata…..(bersambung)

1 Comment (+add yours?)

  1. Alris
    May 03, 2011 @ 21:40:42

    Assalamualaikum ww,
    Lama nian saya tidak berkunjung ke blog Pak Tri, kalau saya tidak salah hitung sudah hampir setahun, tepatnya mungkin sekitar 10 bulan, karena saya ingat bulan Juli 2010 sebelum saya jadi TDB (tangan dibawah alias karyawan) lagi ketika masih di Jakarta saya masih sempat jalan-jalan ke blog Bapak. Sejak Juli 2010 saya terdampar di tengah hutan sawit di pedalaman Ketapang, Kalbar. Nah, malam inilah saya puaskan membaca posting Bapak.

    Saya tidak menyangka sama sekali, jauh dari pikiran saya, kalau Bapak akan kena penyakit jantung itu. Sungguh kejutan, dan bikin terkejut-kejut, ternyata sakit jantung itu tidak memandang bulu, atau tidak memandang trah, dan juga tidak memandang tingkat perekenomian penderitanya. Almarhum ibu saya adalah orang biasa saja, sangat tipikal kaum petani pedesaan yang mendominasi hampir sebagian besar penduduk nusantara, pekerja keras, dan bukan pengkonsumsi berlebihan makanan berlemak (masakan Padang doyan sekali memakai santan) dan tidak pernah makan junk food yang iklannya bikin jakun naik turun. Tapi, -kuat dugaanku- beliau juga meninggal karena serangan jantung. Boleh jadi benar, karena tekanan darah beliau yang sering kelewat tinggi dan sering jantungan.
    Saya tentu ikut prihatin dengan penyakit yang Pak Tri derita itu. Semoga setelah operasi, melewati masa kritis dan keadaan sehat sekarang ini lebih baik dari sebelumnya. Saya ikut berdoa Bapak lebih sehat untuk waktu selanjutnya. Syukur kita panjatkan ke hadirat Ilahi sampai saat ini Bapak sudah sehat kembali.

    Begitu banyak orang yang ikut bersimpati dan berkorban buat kita ternyata itu adalah salah satu sisi baik silaturahmi. Silaturahmi ternyata tidak ternilai, dan Tuhan memberkati kita dengan pertolonganNYA berkat silaturahmi itu. Silaturahmi tidak hanya membawa rejeki, tapi juga menambah umur.

    Salam,
    Alris

    Uda Alris,
    Wah…iya Uda…lah lamo tak basuo….

    Dulu Uda bilang mau ke Serawak tetapi tidak jadi, tetapi sekarang rupanya Uda ke Kalimantan juga….yah tidak jauh lah Uda dari Serawak…hahaha…

    Saya selama hidup 54 tahun tidak pernah sakit berat, apalagi masuk rumah sakit. Kalaupun sakit, saya hanya sakit kepala, sakit perut, masuk angin, atau sariawan saja….jadi surprise juga Uda saya divonis sakit jantung…

    Selamat bekerja Uda…dan selamat menikmati cerita saya….hahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: