Bab 3 – Masuk UGD untuk perawatan pertama

Taksi Pusaka-pun sedikit terseok-seok menerjang lalu lintas Jakarta yang tumben malam Minggu itu agak sepi. Tolpun juga sepi…sehingga di malam itu taksi yang saya naiki bisa berlari agak cepat. Tanpa terasa taksipun keluar di pintu exit depan Slipi Jaya Plaza, dan setelah mengambil U-Turn di bawah flyover Tomang, taksipun masuk ke RS Jantung Harapan Kita…

Sayapun tetap berpikir bahwa selama 54 tahun saya sehat wal afiat dan tidak pernah masuk rumah sakit, kok sekarang divonis sakit jantung.. Tanpa terasa taksipun masuk ke halaman RS Harapan Kita dan kami salah jalan ! Ternyata UGD yang kami tuju waktu itu UGD untuk Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita. Pak Satpampun menunjukkan jalan ke UGD RS Jantung Harapan Kita.

Taksipun memutar kembali, dan akhirnya sampailah kami di bawah plang biru dengan tulisan putih yang terbaca “Unit Gawat Darurat”. Sayapun melirik ke argometer taksi yang menunjuk ke Rp 68 ribu…tapi malam itu sopir taksi saya bayar Rp 100 ribu. Setelah mengucap beribu terima kasih, taksipun pergi. Sayapun masuk ke pintu UGD dan menemui seorang dokter jaga UGD yang berpakaian hijau tua. Kalau nggak salah namanya Dr. Ricardus…

Maka terjadilah tanya jawab singkat yang setelah saya pikir agak lucu malam itu.
Saya     : Dok, saya mau dirawat di UGD sini
Dokter : Lho, siapa yang sakit Pak ?
Saya     : Yang sakit saya Dok
Dokter : Lho, mana pengantarnya ? (Wah..Indonesia ini kok aneh, kok malah pengantar ditanya)
Saya     : Nggak ada yang ngantar Dok
Dokter : Jadi Bapak sendirian ke sini ?
Saya     : Iya Dok…saya sendirian ke sini

Akhirnya sayapun menyerahkan hasil EKG dan Rontgen dari RS Haji Pondok Gede berikut dengan surat pengantar dari dokter jantung. Dokter jaga di UGD yang jumlahnya 3 pun mengerubuti surat-surat yang saya serahkan, dan sayapun dipersilahkan duduk di kursi roda.

Tiba-tiba 3 orang calon dokter yang berpakaian putih : 1 laki-laki dan 2 perempuan datang ke saya yang lagi duduk di atas kursi roda. Dengan sopan salah satu calon dokter tersebut meminta izin, “Maaf Pak, saya mau memeriksa Bapak”. Sayapun mengangguk dan segera calon dokter tersebut menempel-nempelkan stetoskopnya ke jantung saya di beberapa titik. Iapun memandangi kedua teman calon dokternya tanpa berkata-kata. Dua calon dokter lainnyapun bergiliran memeriksa saya dengan stetoskop yang dibawanya.

“Ada debur jantung aneh….ada murmur”, kata salah seorang calon dokter itu..

Setelah menunggu sekitar 30 menit di kursi roda, sayapun dipindahkan ke tempat tidur pasien yang ada di ruang UGD. Rasanya jadi agak lumayan karena saya bisa meluruskan punggung saya dan saya mendapat selimut pasien yang berwarna biru tua, khas UGD. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 8 malam..

Sekitar jam 10 malam seorang dokter jaga menanyai saya, “Bapak dirawat di sini ditanggung oleh Askes ya Pak ?”. Sayapun menjawab, “Iya dok” kata saya sambil merogoh dompet saya yang ada kartu Askes berwarna kuning, dan kartu Askespun saya keluarkan dari dompet saya karena waktu itu saya masih memakai pakaian biasa, belum pakaian pasien. Tidak berapa lama kemudian, dokter jagapun menanyai sekali lagi, dimana keluarga saya ?

Sayapun menelpon isteri saya yang malam itu mungkin tidur dengan anak saya Ditta. “Ma, mama disuruh ke Rumah Sakit Harapan Kita nih…dokter mau minta tandatangan mama”. “Lho, kamu dirawat di Harapan Kita to, bukan di RS Haji Pondok Gede ?”, tanyanya. Rupanya isteri saya mengira setelah diperiksa oleh dokter jantung di RS Haji Pondok Gede sayapun dirawat di sana. Sayapun menjawab, “Enggak, ini saya di RS Jantung Harapan Kita”…

Akhirnya isteri saya dan anak saya Ditta sampai ke RS Jantung Harapan Kita sekitar jam 11 malam. Rupanya isteri saya diminta menandatangani formulir Askes untuk klaim pembayaran perawatan nanti. Selain itu, rupanya dokter jaga membisiki isteri saya bahwa malam ini saya harus diperiksa dengan MICT Scan dan nantinya harus membayar sebesar Rp 2,8 juta karena MICT Scan tidak dijamin oleh Askes.

Sekitar jam 00.30 pun saya masuk ke ruang MICT Scan dengan cara didorong tempat tidur saya ke ruang sebelah ruang UGD. Sayapun disuruh tidur terlentang di tempat tidur MICT Scan dan si operatorpun sedikit mengkocok-kocok saya ke belakang ke depan ke kiri ke kanan dan ke atas serta ke bawah. Beberapa hari kemudian sayapun terkagum-kagum melihat hasil MICT Scan yang memotret jantung saya beautifully…dan ternyata jantung itu seperti kentang yang masih penuh dengan akar-akarnya !

Singkat kata, setelah dari ruang MICT Scan sayapun dirawat di ruang IWM (Intermediate Ward Medic) di Lantai 3. Sayapun mendapat 2 macam infus, dan di hidung saya dipasang respirator untuk membantu pernafasan saya. Besok paginya sayapun dibawa ke ruang EchoKardioGraphy dan ruang Vasculer. Karena “tindakan” dibawa ke ruang Echo dan Vasculer itu dilakukan dengan mencopot respirator yang ada di hidung saya, sayapun merasa agak sesak nafas..

Siang itu setelah kembali ke ruang perawatan IWM dan setelah diambil “tindakan” berupa Echo dan Vasculer, sayapun pengin BAB ke Toilet. Waktu itu saya sudah agak berkunang-kunang, tapi karena BAB saya sudah hampir keluar sayapun meminta izin suster untuk bisa BAB di Toilet. “Tapi pintunya jangan ditutup ya Pak”, pesan susternya..

Rupanya siang itu terjadi kejadian yang luar biasa !!! Saya pingsan di kamar mandi !!!!

(Bersambung…)…

1 Comment (+add yours?)

  1. Alris
    May 03, 2011 @ 22:28:41

    Ya, lucu lah, Pak. Biasanya memang yang mau dirawat itu ada pengantarnya. 🙂 Tapi pasien ini luar biasa, hehehe….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: