Bab 5 – Mencari tanggal operasi yang tepat

Dalam cerita sebelumnya saya katakan bahwa setelah keluar dari perawatan pertama di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, karena masih kurus, pucat dan lemah, maka kemana-mana saya harus diikuti, disertai dan dikawal. Sepulang saya dari Rumah Sakit, kakak saya yang tinggal sekota menawari saya untuk sementara tinggal di rumahnya sampai operasi jantung saya nanti selesai. Mungkin kakak saya khawatir lagi kalau saya pingsan di rumah. Kalau di rumah kakak, banyak yang akan menemani jadi kekhawatiran untuk pingsan agak jauh…

Untung kakak saya selain punya mobil yang bisa dipakai, juga punya saudara yang bisa nyopir. Akhirnya kemanapun saya pergi – entah ngantor atau ngampus – saya selalu disertai si mas atau si mbak yang akan menyopiri, menunggu saya bekerja, dan kadang membelikan makanan buat saya. Yang jelas adalah menyediakan teh manis buat saya minum dalam interval 1 jam – karena di awal-awal saya pulang dari rumah sakit, jika saya merasa lemas maka paling enak kalau diberi minum teh manis.

Singkat kata, walaupun dengan agak tertatih-tatih saya masih bisa pergi ke kantor dan ke kampus. Semua pekerjaan kantor kebetulan diambil alih oleh beberapa teman, tapi pekerjaan ngajar tidak mungkin digantikan – mengingat saya punya 5 kelas mata kuliah Kapita Selekta yang 1 kelasnya berisi 230 mahasiswa (jadi jumlah mahasiswa kelas Kapita Selekta adalah 1.150 mahasiswa).

Untuk melancarkan darah saya, dan terutama menambah kepercayaan diri saya, sayapun ditawari kakak untuk pijat jantung di Jalan Jurang Mangu Barat no. 42 di tempat pijat milik alm Pak Haji Abdullah. Setelah meninggalnya Pak Haji, anak-anak beliau dan menantunya yang meneruskan usaha pijat jantung itu. Sayapun membuat janji dengan Pak Yanto – menantu alm Pak Haji Abdullah – untuk memijat saya setiap hari Sabtu selama 4 minggu berturut-turut. Alhamdullillah, dengan dipijat Pak Yanto kepercayaan diri saya semakin tinggi – minimal tidak merasa mau pingsan kalau sedang jalan.

Di posting sebelumnya sudah saya sampaikan, bahwa setelah pulang dari Rumah Sakit bagi saya ditunjuk seorang dokter jantung yaitu dr. BRM Aryo Suryo, SpJP untuk merawat saya. Sayapun sebulan sekali membuat janji untuk bertemu dengan dr. Aryo. Selain diberi obat-obatan untuk “menstabilkan” jantung saya dan memperlancar nafas saya agar tidak menderita sesak nafas atau “gagal nafas” lagi, dengan dr. Aryo sayapun mendiskusikan apa tindakan selanjutnya untuk mengatasi sakit jantung saya itu.

Sepulang dari rumah sakit sayapun membaca hasil kateterisasi yang saya punya, plus ringkasan perawatan yang dibuat oleh dr. Aryo. Di situ terbaca “tindakan selanjutnya adalah Bentall procedure”…

Sebagai orang IT, sayapun segera melihat Google di internet dan memasukkan string pencarian “Bentall procedure”. Ternyata Bentall procedure adalah operasi jantung untuk mengganti aorta membengkak dengan sejenis selongsong (graft) yang terbuat dari serat dacron – serat yang sama untuk membuat bantal tidur kita di rumah, dan juga mengganti klep aorta yang bocor dengan klep mekanis maupun klep biologis – yang akan saya pilih kemudian.

Setelah saya mengerti betul apa yang dimaksud dengan Bentall procedure, sayapun menyimpulkan bahwa karena aorta saya sudah bengkak selebar 7 cm – semestinya ukurannya hanya 3 cm saja – maka satu-satunya cara untuk menyehatkan kembali jantung saya adalah dengan Bentall procedure yang diprakarsai oleh dr. John Bentall pada tahun 1950an itu. Sayapun juga mengkaji bagaimana masa depan penyakit jantung saya bilamana tidak dilakukan operasi Bentall procedure. Dan jawabannya adalah, mungkin saya masih bisa hidup selama 6 bulan sampai 3 tahun ke depan, tetapi bila aorta yang bengkak itu meletus, maka Wassalam…sayapun akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Dengan pertimbangan ini maka saya memutuskan untuk menjalani operasi Bentall procedure yang biayanya sekitar Rp 105 juta, tetapi yang Rp 90 juta akan ditanggung oleh Askes, dan pasien harus menyediakan dana sisanya sebesar Rp 15 juta.

Maka pada saat kontrol dengan dr. Aryo, sayapun mengemukakan bahwa saya ingin dioperasi Bentall procedure. dr. Aryo mungkin kagum dengan informasi yang saya dapat tentang Bentall procedure ini, dan akhirnya dr. Aryo menelpon dr. Maizul Anwar, SpBTKV – seorang dokter bedah jantung senior yang sering dikatakan terbaik di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Akhirnya didapatkan giliran saya untuk dioperasi Bentall procedure oleh dr. Maizul pada tanggal 10 Februari 2011. Waktu saya menghadap dr. Aryo untuk kontrol ini adalah pertengahan Januari 2011.

dr. Aryo pun menyarankan saya untuk bertemu dengan dr. Maizul sebelum operasi Bentall procedure saya, siapa tahu saya akan bertanya sesuatu. Pada waktu yang telah ditentukan, setelah saya menunggu beberapa saat saya bisa bertemu ke ruang dr. Maizul yang di depan pintunya ditulisi “Bedah Jantung”.

Pada pertemuan dengan saya waktu itu, dr. Maizul hanya berkata singkat “Bentall procedure itu hantunya adalah pendarahan”…

Awalnya saya tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud oleh dr. Maizul itu. Beberapa hari setelah operasi, sayapun diceritai oleh kakak saya dan isteri saya bahwa setelah menjalani operasi saya menderita pendarahan hebat sebanyak 3 kali yang memerlukan beberapa lusin pendonor darah dari kantor, kampus, saudara, dan teman-teman kakak saya dan teman-teman isteri saya….(bersambung)…..

1 Comment (+add yours?)

  1. Alris
    May 03, 2011 @ 22:44:03

    Satu mata kuliah saja bisa mengajar sebanyak itu, wah…. kagum, lho, saya Pak. Biaya Bentall procedure emang bikin keder…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: