Bab 28 – Penutup

Setelah menulis serangkaian posting Blog ini, anda tentu bisa menebak seperti apa perasaan saya. Perasaan saya rasanya seperti telah menunaikan tugas yang berat, yang dalam jangka lama saya terjebak ke dalam jurang “proscatination” yang menurut orang Betawi adalah “jurus ntar sok” yang artinya selalu berjanji…ntar…besok… ntar…besok ini. Memang saya sudah sering diminta, terutama oleh kakak saya Enny, untuk segera menuliskan pengalaman menjalani operasi bedah jantung ini karena kalau penulisannya ditunda-tunda akan semakin lupa akan peristiwa-peristiwa yang telah saya lalui : suka, duka, senang, seram, dan terutama perasaan berada di ujung maut itu seperti apa..

Dan ternyata  setelah operasi bedah jantung yang saya alami, sayapun tanpa terduga menderita sindroma lupa nama orang atau nama tokoh, dan lupa istilah-istilah populer yang sebelum ini amat sangat saya hapalkan. Belakangan dari komunikasi dengan sesama alumni SMA 1 Madiun, saya menemukan sindroma baru yang menimpa saya, yaitu lupa angka Romawi ! Ketahuan karena teman-teman saya alumni SMA 1 Madiun mengajukan banyak protes ke saya karena saya salah menulis angka Romawi I (satu) yang mixed up dengan angka Romawi II (dua). Anda tahu, saya serius atau tidak serius di sini kan ?  :)) More

Bab 27 – Terinspirasi oleh “Scar Trek”

Sebelum saya menjalani operasi bedah jantung yang disebut “Bentall procedure” yang lalu, saya sudah survai ke berbagai sumber terutama melalui Google, YouTube, dan terutama http://books.google.com  untuk mencari tahu buku-buku dalam bahasa Inggris yang menulis tentang penyakit jantung atau pengalaman pasien penyakit jantung sebelum, selama, dan sesudah operasi. Tentu saja saya menemukan beberapa buku yang berguna dan sesuai dengan apa yang saya cari, namun karena di Google Book itu tidak semua chapter buku bisa saya lihat – biasanya yang bisa saya lihat hanya Chapter 1, 2 dan 3 saja – maka saya masih memandang menulis serangkaian posting di Blog ini sebagai “fill in the blank” alias menuliskan apa yang belum dituliskan oleh orang sebelumnya. Apalagi tulisan saya ini kan ditulis di dalam bahasa Indonesia – bahasa yang digunakan oleh 250 juta orang Indonesia – siapa tahu barang 10 orang atau 100 orang secara tidak sengaja akan membaca blog saya ini ?

Sayapun membaca banyak buku dalam bahasa Inggris di Google Book, antara lain dari ex pasien operasi klep jantung dobel, yaitu ia telah mengalami operasi “klep aorta” dan operasi “klep mitral”. Namun yang mengagumkan dari kawan yang menulis buku ini….ia menceritakan pengalamannya dengan semangat, yang tentu saja maksudnya untuk memberi semangat kepada para pembaca buku kelak, terutama kepada orang-orang yang akan segera menjalani operasi jantung, yang biasanya selalu diliputi keragu-raguan apakah operasi bedah jantung akan dijalani apa tidak…yang menurut saya keragu-raguan itu berasal dari kurangnya informasi yang ia dapatkan selama ini… Hanya sayang, buku bagus yang saya maksud ini hanya nampak Chapter 1, 2 dan 3 nya saja sedangkan Chapter lainnya ditutupi di Google Book sehingga sayapun penasaran dengan buku ini. Sebenarnya bukan harganya yang USD 20,- tapi bagi orang Indonesia membeli buku di Amazon.com kan tidak mudah, terutama bagi pemilik kartu kredit dari bank pemerintah seperti saya ini. Mudah, mungkin bagi pemilik kartu kredit bank asing yang berasal dari bank di Amerika sana (you know what I mean)… More

Bab 26 – Yang bertanya kepada saya tentang penyakit jantungpun banyak

Sebelum “menulis buku” atau tepatnya “menulis serangkaian posting di Blog saya” ini saya sudah bertanya-tanya, mengapa Tuhan memilih saya untuk mengalami sakit jantung dan menjalani operasi bedah jantung untuk mengganti pembuluh darah aorta dan mengganti klep aorta saya – yang disebut Bentall procedure – ini ? Why me ? Kata saya di dalam hati. Sejenak kemudian, jawabannyapun bisa saya dapatkan, secepat grabbing oxygen from the air. Yaitu jawabannya, karena saya senang menulis Blog…sehingga kalaupun saya sakit jantung dan menjalani operasi jantung, semuanya akan saya tuliskan di serangkaian posting di Blog yang mungkin akan berguna bagi pembaca Blog saya…dan dengan demikian saya sudah melakukan salah satu tugas kemanusiaan – yaitu sharing dengan sesama…

Bahkan selama penulisan “buku” alias “serangkaian” posting ini saya sudah menerima berbagai pertanyaan tentang penyakit jantung. Tentu saja berasal dari teman-teman saya, teman dosen saya, mahasiswa atau ex mahasiswa saya, saudara saya, kenalan saya, atau bahkan dari teman-teman baru yang datang dari antah berantah yang sebelumnya tidak pernah saya kenal. Sayapun dengan senang hati mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, baik secara lisan, melalui comment di Blog saya, melalui Facebook message, melalui SMS, atau melalui e-mail. Bahkan dalam hati saya berpikir, semakin banyak yang bertanya semakin bagus, karena berarti Blog saya dibaca oleh banyak orang dan banyak orang pula yang memerlukan informasi seputar penyakit jantung dari sudut pandang pasien jantung yang awam seperti saya ini.. More

Bab 25 – Kembali ngantor dan ngajar lagi

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah setelah menghuni ruang ICU, ruang Intermediate IWB+IWM, dan ruang perawatan di RS Jantung Harapan Kita selama 29 hari. Dengan catatan, 15 hari setelah operasi saya sebenarnya sudah diperbolehkan pulang, namun ternyata saya diam-diam mengalami pendarahan lambung (internal bleeding) yang akhirnya membuat saya pingsan di kamar mandi rumah saya. Alhasil, saya hanya semalam saja di rumah saya dan besoknya dilarikan lagi ke UGD RS Jantung Harapan Kita. Dari UGD, terus dipindahkan ke ruang Intermediate IWM selama seminggu, dan kemudian ditransfer ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 5.

Sebenarnya sejak sebelum operasipun saya sudah mempersiapkan surat ijin yang diperlukan agar saya diperbolehkan tidak ngantor dan tidak ngajar. Saya minta ijin ke kantor selama 2,5 bulan terhitung dari tanggal 8 Februari 2011 (H-2 operasi saya) sampai 16 April 2011. Sedangkan ke pihak manajemen kampus, saya minta ijin selama 4 minggu pertama masa perkuliahan (pertemuan ke-1 hingga pertemuan ke-4). Sehingga selama “nge-kost” di RS Jantung Harapan Kita sayapun selalu teringat-ingat dan memikir-mikir kapan sebaiknya saya mulai ngantor dan ngajar ? Apakah harus stick to the original plan, yaitu masuk kantor setelah 2,5 bulan absen dan mulai mengajar pada perkuliahan pertemuan ke-5 ? More

Bab 24 – Masih ada masalah keenceran darah dan detak jantung

Operasi bedah jantung baik itu operasi by-pass (CABG = Cononary Artery Bypass Graft) maupun operasi Bentall procedure (PTCA), bukanlah “panacea” yang sekali diadakan tindakan lalu masalah selesai. Seperti juga teknik-teknik lainnya di dunia ini, operasi jantung juga menyisakan sejenis “side effect”. Seperti diketahui pasien ex operasi bypass dan ex operasi Bentall procedure (operasi klep, bahasa gaulnya) menyisakan side effect yang cukup serius untuk diperhatikan. Bagi pasien ex operasi bypass, kebanyakan menderita batuk-batuk yang terus-menerus. Sedangkan bagi pasien ex operasi klep karena harus minum obat pengencer darah Simarc, maka keenceran darahnya harus dimonitor agar tidak terlalu pekat dan tidak terlalu encer, ya nilai INR-nya (International Normalized Ratio) antar 2.00 – 3.00 – walaupun untuk kasus saya sebaiknya nilai INR antara 2.00 – 2.50 karena nilai INR yang lebih besar dari 2.50 akan menyebabkan pendarahan di lambung saya…

Pada intinya keenceran darah yang kental akan menyenangkan perut saya tetapi memberatkan klep mekanis saya dalam bekerja. Sedangkan keenceran darah yang terlalu kental akan menyenangkan jantung saya – karena klep St. Jude Medical No. 27 yang saya pakai memerlukan keenceran darah yang lumayan – tetapi sangat menyakitkan bagi lambung saya – karena bisa terjadi pendarahan. Makanya selama program rehabilitasi fase II dan fase III saya putuskan untuk pergi ke Laboratorium yang terletak di Gedung I Lantai 1 untuk mencek darah saya dengan mengukur nilai INR-nya. Cek darah itu bahkan saya lakukan 2 kali per minggu – yaitu di hari Senin dan Jumat – untuk bisa menetapkan “pola” dosis obat pengencer darah Simarc yang perlu saya minum per minggu-nya… More

Bab 23 – Ikut rehabilitasi fase II

Setiap pasien ex operasi bedah jantung di RS Harapan Kita diharapkan untuk mengikuti program rehabilitasi secara lengkap – fase I, fase II, dan fase III – agar setelah selesai program rehabilitasi pasien bisa kembali sehat dan bugar seperti semula sebelum dioperasi. Rehabilitasi fase I adalah diajar senam, naik sepeda statis, dan jalan kaki sewaktu pasien masih mengenakan baju pasien yang berwarna biru muda. Rehabilitasi fase II pasien diminta untuk mengenakan seragam berupa celana training berwarna biru tua dan berstrip merah di sampingnya, sepatu olahraga, dan baju berwarna merah dan putih yang di lengan kirinya ada tulisan “Rehabilitasi Kardiovaskuler”. Tujuan fase II ini setelah saya selesai menjalaninya adalah untuk memperkuat otot-otot kaki, oleh karena itu di fase II ini diajarkan senam, naik sepeda statis, dan jalan kaki 1000 m, 1200 m, 1400 m, dan besoknya meningkat menjadi 1600 m, 1700 m, dan 1800 m. Bagi pasien yang sudah jalan sejauh 1800 m, besoknya sudah boleh latihan dengan menggunakan treadmill selama 25 menit, dengan kecepatan 3 – 4 km/jam…

Jika pada rehabilitasi fase I si pasien masih tinggal di ruang perawatan di RS Harapan Kita, maka rehabilitasi fase II pasien sudah keluar dari Rumah Sakit dan pulang ke rumah masing-masing – bagi pasien yang tinggal di Jabodetabek, atau pulang ke wisma Bidakara atau kost-kostan di rumah penduduk – bagi pasien yang berasal dari luar kota. Sebenarnya bagi pasien dalam kota dan pasien luar kota, mulai di rehabilitasi tahap II ini pengeluaran akan banyak, yaitu untuk biaya transportasi menggunakan taksi dan uang makan selama rehabilitasi bagi pasien yang tinggal di dalam kota. Transportasipun terpaksa menggunakan taksi soalnya pasien ex operasi bedah jantung tentunya belum terlalu fit untuk naik transportasi umum berupa bis kota atau busway yang ada di Jakarta. Bagi pasien dari luar kota, masa menjalani program rehabilitasi tahap II pun cukup berat, karena si pasien dan 1-2 orang keluarganya harus tinggal di Wisma Bidakara yang terletak di sebelah gedung II, atau tinggal di rumah kost-kostan di perkampungan penduduk, yang mana kedua pilihan itu tetap saja memerlukan pengeluaran ongkos yang tidak sedikit. More

Bab 22 – Setelah sebulan di RS, sayapun boleh pulang

Pulang – kata-kata dengan enam huruf ini ternyata yang amat sangat didambakan oleh seorang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Selain pulang, mungkin “makan” adalah kata-kata yang sangat bermakna bagi pasien…

Bila hari-hari terakhir di ruang perawatan sehabis saya menjalani operasi jantung saya jalani dengan berolahraga pagi dalam rangka rehabilitasi, makan enak yang mengandung protein tinggi untuk menyembuhkan luka hasil operasi saya, dan tidur yang nyenyak. Maka pada masa perawatan kedua – yaitu perawatan sejak saya terkena pendarahan lambung – hari-hari terakhir adalah hari-hari yang menegangkan… More

Previous Older Entries