Bab 6 – Bertemu dokter bedah jantung

Seperti dituliskan dalam Laporan Keluar Pasien (Patient Discharge Report), penyakit jantung saya perlu tindakan lebih lanjut yang disebut operasi “Bentall procedure”. Operasi Bentall procedure artinya pembuluh darah yang keluar dari jantung saya yang disebut Aorta akan dioperasi dan diganti dengan selongsong dari serat Dacron. Kondisi saya yang seperti ini disebut “Aorta Dilatasi”. Selain itu, saya juga menderita kebocoran klep karena darah yang sudah dipompa ke atas oleh jantung saya, karena pembuluh darahnya sudah melebar maka memerlukan tenaga yang lebih, padahal jantung saya hanya itu-itu saja. Sehingga darah yang sudah terpompa ke atas akan jatuh kembali ke bawah dan menghantam klep Aorta – salah satu dari 4 klep jantung yang ada. Akibatnya terjadi apa yang disebut “Regurgitasi”.

Hal itu semua sengaja saya baca penjelasannya di Internet dengan tujuan untuk mencari informasi supaya hati saya jadi tenang karena saya tahu persis apa yang akan dilakukan oleh dokter bila nantinya akan membedah jantung saya dalam suatu operasi yang disebut “Bentall procedure”.

Pada saat saya kontrol bulanan dengan dokter saya yaitu dr. Aryo Suryo, SpJP, saya ditanya tentang tindakan yang perlu dilakukan untuk mengobati sakit saya. Kata dokter “Operasi Bentall procedure itu harus dilakukan segera Pak, soalnya kalau tidak pas tahun depan bapak jantungnya difoto pakai MICT Scan maka pelebaran aorta akan semakin besar Pak, mungkin sekitar 7 cm diameternya”. Kata dokter tersebut dengan maksud memberi informasi, tetapi bagi saya bagaikan sebuah “ancaman” – yaitu kalau saya segera menjalani operasi Bentall procedure maka penyakit jantung saya akan terobati, tetapi bila tidak maka akan semakin parah.

Mengingat banyaknya informasi yang telah saya dapatkan melalui internet, baik dari Googling maupun YouTubing, sayapun jadi berpikir, “Wah…kalau saya tidak menjalani operasi maka kemungkinan saya masih tetap hidup, tetapi umur saya mungkin tinggal 2 tahun, 1 tahun, 6 bulan, bahkan 3 bulan saja”. Mengingat pembuluh darah Aorta saya sudah bengkak sedemikian lebar.

Maka dengan pikiran tersebut mengiang di kepala, sayapun menjawab kata dokter Aryo tadi, “Siap dok, saya siap dioperasi kapan saja, dan mengenai biaya tidak menjadi masalah karena saya mempunyai Askes”. Dokterpun ingin konfirmasi sekali lagi, “Benar Pak, bapak mau dioperasi Bentall procedure ?”. Saya jawab tegas, “Benar dok, iya”.

Akhirnya dr. Aryo menelpon seseorang untuk menanyakan jadwal operasi saya. Setelah beberapa saat berbicara melalui telpon, dokter sayapun mengatakan, “Pak, operasinya dijadwal tanggal 10 Februari 2011, dan dokter bedah jantung yang akan memimpin operasi jantung Bapak adalah dr. Maizul Anwar”. Sayapun mengangguk pelan, dan dokterpun mengisi selembar formulir yang judulnya kalau tidak salah “Surat Pengantar Operasi”.

Pada hari yang ditentukan, sayapun menunggu ketemu dengan dokter bedah jantung yang nantinya akan membedah jantung saya yaitu dr. Maizul Anwar. Kamar prakter beliau di depannya ada tulisannya “Bedah Jantung”. Rupanya ada beberapa orang yang menunggu dr. Maizul di sana, salah satu di antaranya calon pasien yang merupakan pensiunan polisi dan berasal dari Bandung. Setelah menunggu beberapa saat – dr. Maizul sedang berbicara di sebuah seminar pada hari itu – sayapun ketemu dr. Maizul.

Sayapun mengamati dr. Maizul dari dekat karena waktu itu masih ada 1 calon pasien jantung yang sedang menulis sesuatu di meja dokter. Sebentar kemudian, dr. Maizul yang selalu tidak ketinggalan menggunakan kopiah itu bertanya kepada saya setelah beliau beberapa saat membolak-balik berkas Rekam Medis (RM) yang saya punya.

“Ini mana hasil MICT Scan nya ?”, tanya dokter.

“Anu dok, mungkin ketinggalan di ruang perawatan waktu saya dirawat bulan Nopember 2010 kemarin ini”, kata saya serasa mengingat-ingat.

“Ya harus dimasukkan ke berkas RM ini sebagai bahan untuk operasi nanti”, kata dokter

“Baik dok, nanti saya mintakan copynya”, jawab saya.

Setelah itu dr. Maizul mengatakan, “Operasi Bentall procedure itu operasi yang besar, dan hantunya biasanya adalah pendarahan”, kata beliau dengan tenang.

Justru kata-kata dokter yang tenang itu membuat saya berpikir-pikir apa yang dimaksud dengan kata-kata dokter ini.

Setelah saya sadar sehabis operasi dan diceritai oleh saudara saya bahwa saya mengalami pendarahan hebat pasca operasi, saya jadi tahu persis apa yang dimaksud oleh dr. Maizul ini….(bersambung)

1 Comment (+add yours?)

  1. aMie
    Jan 20, 2013 @ 20:35:55

    waaaaahhh dr. maizul anwar juga dokter bedah jantung saya pak,
    iyaaaa dokternya cool bgt, jd bikin kita ga panik.. 😉

    Amie,
    Syukurlah….beliau memang bertangan dingin…jadi pasien yang akan dioperasipun juga tenang…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: