Bab 8 – Masuk ruang Pre Ops dan ritual yang dijalani

Menunggu hampir sebulan sampai hari operasi tiba bisa terasa cepat ataupun terasa lambat, tergantung dari sudut mana memandangnya. Terasa cepat karena banyak persiapan yang perlu dilakukan dalam waktu kurang dari sebulan ini, dengan sebagian besar mencari informasi dari internet melalui Google maupun YouTube. Google untuk mencari informasi tekstual, dan YouTube untuk mencari video-video operasi Bentall procedure.

Kakak saya – yang rumahnya saya tempati sebelum operasi jantung – suka bertanya kepada saya tentang hal ini itu. Untungnya saya jawab dengan cukup mantap berkat Googling yang lama. Untungnya juga saya punya “photographic memory” yaitu bisa mengingat hal yang banyak atau detail secara lengkap. Jadi dengan penjelasan saya, kakak saya kelihatannya sudah cukup puas.

Oh ya, baik informasi tekstual melalui Googling maupun melihat video di YouTube, keduanya tidak saya copy+paste, tetapi hanya saya “bookmark” saja sehingga kapan-kapan saya memerlukan informasi tersebut saya bisa tinggal klik saja.

Dari hasil melihat video di YouTube bila ada video yang sangat relevan dengan operasi Bentall procedure, link-nya sering saya pasang di Facebook saya, sehingga banyak teman Facebook yang bisa melihatnya. Tetapi kayaknya lebih banyak lagi yang tidak mau melihatnya atau tidak kuat melihatnya. Contohnya teman-teman kantor saya yang lebih banyak yang menolak daripada menerima ajakan saya untuk melihat-lihat video yang telah berhasil saya link di Facebook.

“Ah enggak tega, terlalu banyak darahnya”, demikian alasan mereka.

Tetapi melihat banyaknya link yang saya berikan di “wall” dari Facebook saya, ada teman sekantor yang berani bertanya, “Pak Tri, dengan melihat video operasi itu Pak Tri semakin takut atau semakin mantap untuk menjalani operasi ?”. Yang tentu saja saya jawab, “Ya tentu semakin mantap dong Pak, soalnya saya jadi tahu what is exactly will be done with my heart. Kalau saya nggak melihat video tersebut barangkali saya sudah ketakutan setengah mati”.

Seperti saya sudah ceritakan sebelumnya, operasi Bentall procedure terhadap jantung saya yang sakit akan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 10 Februari 2011. Karena saya tidak diberitahu sebelumnya kapan harus mulai masuk rumah sakit, maka pada hari Selasa, tanggal 8 Februari 2011 saya sudah mengurus surat-surat di RS Jantung Harapan Kita, dengan harapan hari itu juga saya bisa masuk ruang perawatan agar secara fisik dan mental saya siap dengan operasi bedah jantung yang akan saya alami.

Rupanya perkiraan saya salah, setelah surat-surat yang diperlukan saya serahkan ke staf Pendaftaran Rawat Inap yang ada, maka saya berharap beberapa saat kemudian saya dipersilahkan masuk ke ruang perawatan. Saya tunggu hamper 3,5 jam rupanya staf tersebut tidak memberi kabar kepada saya. Setelah saya masuk ruangan dan menanyakannya, dengan kalemnya staf tersebut bilang, “Kan Bapak tinggal di dalam kota, jadi sebaiknya sekarang Bapak pulang dulu ke rumah dan tidur di rumah dengan nyenyak, dan baru esok hari atau sehari sebelum operasi Bapak lapor ke sini, pasti kita terima. Soalnya kalau hari ini tidak ada ruang perawatan yang kosong Pak”.

Sayapun mengangguk-angguk tanpa berkata-kata dan langsung menuju mobil untuk pulang kembali ke rumah kakak.

Esok paginya yaitu hari Rabu, tanggal 9 Februari 2011 sayapun kembali melapor ke staf Pendaftaran Rawat Inap. Semua surat diproses, dan tepat jam 10 siang sayapun diantar oleh staf tersebut untuk menuju ke ruang Pre Ops atau ruang IWB (Intermediate Ward – Bedah).

Saya mendapat tempat tidur yang dekat dengan jendela, “Supaya Bapak bisa menikmati hijaunya dedaunan di luar sana Pak”, demikian kata staf yang mengantar saya tadi. Oleh perawat yang menjaga ruangan Pre Ops sayapun dibawakan baju pasien berwarna biru muda, “Pak, silahkan ganti baju Bapak dengan baju pasien ini Pak supaya kita tahu mana pasien dan mana bukan pasien, termasuk kalau ada pasien yang melarikan diri kita jadi tahu”. Alasan si perawat tersebut membuat saya tersenyum, dan sayapun lalu menuju ke kamar mandi untuk ganti baju.

Rupanya siang itu Medical Record (MR) saya sudah ada di meja Pre Ops, lalu saya serahkan copy hasil MICT Scan untuk melengkapi MR saya. Rupanya pula, seorang dokter ditugaskan untuk memasukkan data pasien dan data lainnya ke computer untuk memperlancar operasi bedah jantung esok harinya. Seperti diketahui, semua data pasien akan masuk ke komputer termasuk hasil laboratorium, hasil X-ray, dan sebagainya.

Dokter yang ditugaskan mencatat MR tadi menghampiri saya dan bertanya, “Pak, dalam operasi Bentall procedure besok Bapak ingin klep aorta-nya diganti dengan klep biologis atau klep mekanis Pak ?”. Pertanyaan yang sudah saya tunggu-tunggu sehingga sayapun menjawab dengan cepat, “Klep mekanis Dok, yang stainless steel ya Dok”.

Soalnya dari Googling saya tahu kelebihan dan kelemahan baik klep biologis ataupun klep mekanis. Klep biologis yang biasanya berasal dari klep babi, klep sapi, atau klep donor (cadaver) mempunyai sifat mirip dengan klep awal sehingga tidak memerlukan pil pengencer darah untuk operasinya, tetapi kelemahannya adalah daya tahannya yang konon singkat, yaitu antara 4-5 tahun dan setelah itu perlu diganti lagi dengan operasi bedah jantung. Sedangkan klep mekanis bias tahan seumur hidup (for a lifetime) namun si pasien harus meminum pil pengencer darah seumur hidupnya – salah satu obat pengencer darah adalah Simarc atau Warfarin yang merupakan obat yang cukup berbahaya bagi tubuh saya…nanti deh saya ceritakan tentang masalah ini…

Setelah dokter yang menanyakan klep apa yang mau dipasang ke tubuh saya tadi pergi, sayapun berusaha tidur sebentar. Rupanya dirawat di rumah sakit mirip dengan terbang dengan pesawat terbang jarak jauh (long haul aircraft), yaitu lebih baik kita tidur sebisa mungkin supaya tidak capai.

Tidak lama kemudian di siang itu, datanglah seorang dokter lain ke tempat tidur saya. Sebenarnya beliau ini tidak terlihat sebagai seorang dokter karena tidak memakai baju dokter yang berbentuk jas putih, tapi memakai baju safari biasa berwarna coklat. Dimulai dengan jabatan tangan dan sapaan, “Apa kabar Pak ?” dan kemudian saya jawab, “Baik Dok…”, kamipun segera terlibat pembicaraan yang akrab.

Itu karena dokter tadi, dr. Dwito, SpAn, menanyakan kepada saya, “Bagaimana perasaan Bapak menjelang operasi esok hari ?” dan saya jawab, “Bahagia Dok…Saya bahagia bahwa besok saya dioperasi, karena dengan banyak membaca artikel di Internet saya jadi tahu bahwa operasi Bentall procedure ini adalah cara satu-satunya saya bisa kembali sehat seperti semua…” kata saya yang tumben cukup lancar memberi argument seperti itu.

Dokter Dwito yang ternyata keponakannya Pak Harahap – salah satu pioneer BPPT yang  kemudian bekerja di PT. PAL Surabaya dan lulusan Jerman – dan beliau juga murid dr. Herdy, SpAn – kakak teman saya Hermawan Sulistyo yang mengajar spesialisasi Anestesi di FK Unair – ini lalu berkata, “Wah…jarang-jarang sekali saya menemukan pasien seperti Bapak yang mengatakan nada optimisme seperti ini, biasanya kebanyakan pasien malah ragu-ragu untuk dioperasi padahal besok pagi mau dioperasi…”. Ternyata dr. Dwito adalah dokter anestesi yang bertugas untuk menanyakan umur, berat badan, dan tinggi badan saya, dengan maksud untuk mencari “dosis anestesi” yang tepat bagi operasi jantung saya besok pagi…

Setelah dr. Dwito berlalu, sekali lagi saya mencoba memicingkan mata saya barang sebentar dan mencoba untuk tidur yang “berkualitas”. Konon Prof. Andi Hakim Nasoetion – dosen saya di IPB dulu – mengatakan di salah satu kumpulan karangannya bahwa “lamanya waktu tidur tidak mempengaruhi kualitas tidur seseorang” dan bahwa “bagi mahasiswa, disarankan untuk tidur singkat barang 10-15 menit, tapi sangat berkualitas”. Maka, sayapun mencoba tidur sebentar…

Setelah bangun dari tidur yang “sebentar tapi berkualitas” ini sayapun mencoba memandang pohon-pohonan yang ada di luar ruang perawatan IWB. Terlihat di luar sana beberapa pohon angsana daunnya hijau melambai-lambai. Berbahagialah anda yang tinggal di Indonesia, yang setiap pohon bisa dikatakan “ever green” dan tidak pernah meranggas seperti yang ada di Negara empat musim. Lambaian pohon angsana itu juga saya pikirkan apa maksudnya, apakah lambaian perpisahan dengan saya ataukah lambaian ucapan selamat dioperasi besok pagi.

Tak lama kemudian datanglah seorang pegawai RS Jantung Harapan Kita ke tempat tidur saya. Dari pakaiannya yang berwarna coklat dan memakai peci hitam, saya tahu beliau adalah seorang ustadz, hanya sayang saya lupa nama beliau karena terlalu bersemangat menanti apa yang beliau akan katakan. Segera beliau menjabat tangan saya sambil menyebutkan nama beliau dan menyatakan kedatangan beliau, “Pak…saya ke sini untuk memberi motivasi secara agama Islam kepada Bapak yang besok katanya mau dioperasi bedah jantung…”. Wah..berarti di RS Jantung Harapan Kita ada pendeta, pastor, pedanda, dan biksu juga – kata saya di dalam hati. Dan Pak ustadzpun lalu memberi intro sebagai berikut :

“Pak…kebetulan ibu saya orang Cirebon dan bapak saya orang Banten. Bapak kan tahu di dua daerah ini kadar agama Islam mereka kan kuat. Saya sudah mengelana dari Cirebon sampai Banten, dan kesimpulannya tidak ada seorang Kyaipun baik di Cirebon maupun Banten yang bisa menyembuhkan penyakit Bapak yaitu penyakit jantung. Benar kan Pak ?”. Sayapun diam-diam mengangguk…

Pak Ustadzpun meneruskan, “Oleh karena itu Pak, Bapak sudah beruntung bisa datang ke rumah sakit yang cukup bagus ini untuk meminta pertolongan kepada para dokter yang ada di sini untuk menyembuhkan penyakit jantung yang Bapak derita. Benar kan Pak ?”. Sayapun mengangguk pelan.

Obrolan dengan Pak Ustadz pada siang menjelang sore di H-1 jelang hari operasi saya itu akhirnya berakhir. Sayapun segera menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah sembuh dari penyakit jantung gagal nafas yang pertama memang saya berangsur membaik kesehatannya, dan sayapun bisa mandi sendiri. Mengapa harus mandi ? Karena perawat di RS Jantung Harapan Kita termasuk tidak suka kalau melihat pasien yang belum mandi, soalnya biasanya setelah mandi sore akan disuguhi makan malam yang biasanya dilanjutkan dengan minum obat sore – selain untuk menerima tamu untuk jam besuk sore dari jam 17.00 sampai 18.00 – dan sekitar jam 8.00 malam diberikan obat malam.

Pada pukul 19.30 malam hari sebelum operasi, saya dibawa masuk ke ruang briefing di Lantai 2 di seberang ruang ICU. Dari pihak keluarga saya ikut mendengarkan briefing isteri saya Susi dan kakak saya Enny – yang sibuk menulis ke dalam notesnya apa saja yang diterangkan oleh perawat tentang operasi bedah jantung yang akan saya jalani esok hari. Malam itu, ada 4 pasien yang ikut briefing – padahal mestinya 6 pasien mengingat dalam sehari RS Jantung Harapan Kita akan mengoperasi jantung 6 pasien dewasa (saya tidak tahu berapa pasien anak-anak dan remaja yang dioperasi), tentunya dengan keluarga masing-masing. Suster yang memberikan briefing berlogat Batak dan bicaranya terlalu jelas – kata lain dari terlalu pelan – sehingga belum-belum sudah banyak hadirin yang angkat tangan untuk menanyakan sesuatu. Tetapi si Suster pemberi briefing ini bisa menjawab pertanyaan dengan jelas (belakangan saya baru sadar kalau tidak ada pertanyaan tentang resiko pendarahan yang dialami pasien bedah jantung). Tepat jam 20.45 briefingpun selesai setelah semua pertanyaan hadirin yang ikut briefing bisa dijawab dengan jelas oleh suster yang memberikan briefing.

Hari yang cukup melelahkan, tetapi juga hari yang penuh pengharapan akan kesembuhan sakit jantung saya, walaupun esok hari saya harus dioperasi bedah jantung. Mengingat-ingat itu semua, akhirnya sayapun jatuh tertidur pulas.

Tepat jam 12 malam saya dibangunkan oleh petugas dapur berbaju coklat, yang membawa piring kecil berisi kue pie berisi strawberry, dan secangkir teh manis hangat. “Ini makanan terakhir sebelum Bapak dioperasi besok pagi Pak”, kata si petugas dapur.

Di ruang IWB itu, semua pasien yang esok harinya akan dioperasi diberikan makanan serupa, terutama pasien yang akan masuk ruang operasi pada pukul 07.30. Sedangkan bagi pasien yang akan masuk ruang operasi pukul 13.30 roti dan the manis hangat akan diberikan pada pukul 06.00.

Sebelum saya kembali tidur, saya melirik jam tangan saya….ternyata sudah memasuki hari Kamis, tanggal 10 Februari 2011…hari operasi saya….(bersambung)

2 Comments (+add yours?)

  1. Alris
    May 03, 2011 @ 23:16:24

    Sewaktu operasi bahu saya yang patah beberapa tahun lalu, untuk menenangkan diri saya yang gelisah, saya terpakasa diberi suntikan penenang. Gak kebayang deh kalo operasi jantung. Dan saya sangat tidak berharap ada penyakit jantung ini. Amin, ya Allah.

    Reply

  2. tridjoko
    May 04, 2011 @ 14:55:26

    Amin Uda Alris. Wah…lah lamo tak basuo…kemana aja selama ini ? Mudah-mudahan Uda Alris sukses selalu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: