Bab 11 – Sadar pertama dan kena halusinasi

Seperti saya sampaikan pada Bab sebelumnya, sebenarnya saya sepenuhnya tidak tahu apa yang terjadi selama saya dioperasi. Jangankan itu, kesadaran terakhir saya adalah ketika seorang dokter ahli anestesi menyuntikkan sesuatu di lengan kanan saya dan kemudian setelah diajak ngobrol sebentar, sayapun jatuh pada tidur yang sangat pulas…

Karena pada saat saya tidak sadar saya tidak tahu apapun yang terjadi dengan saya, maka saya hanya mengandalkan cerita saudara, cerita teman, dan cerita mahasiswa saya untuk “merekonstruksi” cerita apa sih yang sebenarnya terjadi dengan saya pada waktu itu ¿

Saya sewaktu dirawat di ruang ICU RS Jantung Harapan Kita

Kalaupun terjadi pendarahan yang berdarah-darah setelah saya dioperasi – yang konon sampai 3 kali mengalami pendarahan hebat – sayapun hanya mendengarnya dari cerita. Makanya saya sempat kaget dan tidak tahu apa maksudnya ketika salah seorang mahasiswa saya mengirimkan sms, “Pak kapan itu saya melihat Bapak di ruang ICU, tetapi Bapak belum sadar..”. Saya tidak tahu apa maksudnya, walaupun awalnya saya mengira mahasiswa tersebut Oomnya yang dioperasi berdekatan waktunya dengan waktu saya dioperasi, sedang mengunjungi Oomnya di ICU. Padahal yang terjadi adalah, banyak mahasiswa saya dari Binus – termasuk mahasiswa lain yang saya tidak kenal – pada berdatangan ke RS Jantung Harapan Kita karena akan mendonorkan darahnya kepada saya – baik darah beku maupun darah segar.

Kalau pasien lain ada yang cepat siuman setelah operasi, tetapi saya ingat nasehat perawat di malam sebelum operasi, “Bapak Ibu sekalian, berapa lama seorang pasien akan sadar kembali dari pengaruh anestesi di ruang operasi, tergantung sepenuhnya kepada kondisi fisik dari pasien yang bersangkutan”. Setelah dioperasi sayapun sadar apa maksud yang dikatakan suster barusan, yaitu ada yang cepat sadar setelah dioperasi – biasanya pasien yang dioperasi by-pass jantung – dan ada yang lambat sadar setelah dioperasi – yang umumnya adalah pasien yang mengalami operasi pergantian klep jantung (setiap jantung manusia mempunyai 4 klep dengan nama masing-masing).

Seingat saya, saya mulai sadar pada pukul 17.30 sore. Namun yang saya tidak tahu di hari apa saya sadar. Apakah Jumat sore ataukah Sabtu sore (sampai hari inipun saya tidak tahu). Pertama saya sadar, pandangan kepada ruang ICU berikut para perawat dan para pasien yang ada di sana merupakan pandangan buram dan tidak jelas, malahan sering gambarnya bertumpuk 4 atau 5 “copy”. Sewaktu seorang suster menyapa saya, “Wah…Bapak sudah siuman” sambil tersenyum, sayapun membalas dengan tersenyum walaupun suster tersebut kepalanya ada 4, badannya ada 4, tanggannya ada 8,…persis Rahwana di komik “Arjuna Sasrabahu” yang dulu suka saya baca ketika SD.

Tidak hanya gambar perawat, dokter, pasien lain, atau saudara saya yang dobel-dobel sampai 4 atau 5 dobel…tetapi kesadaran saya belum sepenuhnya pulih. Seolah saya berusaha sadar sesadar-sadarnya sementara obat tidur mempengaruhi saya untuk tidur setidur-tidurnya. Akibatnya terjadi “perang” yang seru…antara kemauan untuk sadar melawan kemauan untuk tidur. Dengan sisa obat bius yang ada di tubuh saya barangkali, sayapun melihat gambar “dunia” yang saya lihat dobel dan lebih jelek lagi….berputar-putar searah jarum jam dengan warna-warni yang menyertainya. Belakangan jika menjelaskan hal ini kepada seorang teman, saya menggunakan kata-kata, “Itu lho…persis menyetel lagu dalam Windows Media Player tetapi gerakan gambarnya 10 x lebih cepat daripada gerakan melingkar gambaran music dalam Windows Media Player..”…

Ternyata, saya terkena halusinasi….

Halusinasi adalah gambaran kita tentang apa yang kita hadapi sekarang, namun dengan beberapa penambahan atau pengurangan terhadap gambar, suara, atau sifat yang ada. DI dalam halusinasi gambar yang ada yang dilihat oleh mata kita bisa bertambah atau berkurang, begitu pula suara yang kita dengar bisa bertambah atau berkurang dibandingkan dengan yang senyatanya, apalagi sifat seseorang….bisa diubah dengan mudah oleh halusinasi kita…

Sore itu…(menurut halusinasi saya, ini jam 18.00 sore)….di depan tempat tidur saya di ICU ada 3 pasien yang berbaring. Paling kiri adalah seseorang yang selalu pakai bahasa Padang dalam berkomunikasi, berkulit agak hitam, kebanyakan diam saja, dan sesekali paru-parunya perlu “diuapin” agar mucus yang ada di dadanya bisa cair. Persis di depan saya adalah Pak Waluyo yang berasal dari Lampung dan malam sebelum operasi mengikuti briefing bareng dengan saya. Pasien paling kanan di seberang saya adalah seorang pasien yang istimewa karena di mulutnya selalu diberikan kantong udara yang kembang-kempis seiring dengan keluar masuknya nafas. Tangan pasien paling kanan ini diikat dengan besi di tempat tidur pasien. Ternyata pasien paling kanan ini paling banyak berisik dengan cara memukul-mukulkan tangannya ke palang besi yang ada di tempat tidur. Pasien di kiri dan kanan saya tidak bisa saya lihat, dan mereka baik-baik saja, pendiam (belakangan saya tahu kalau selama saya belum siuman, 3 di antara pasien di kanan kiri saya itu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa)..

Pasien-pasien di ruang ICU ini dijaga oleh 2 orang dokter, yaitu 1 dokter bedah yang sedang belajar di Harapan Kita, dan 1 dokter anestesi yang paling sering muncul di ruang ICU. Ada 5 perawat yang menjaga ruang ICU ini, yaitu 3 perawat pria dan 2 perawat wanita atau suster. Pekerjaan para dokter ini mencek pasien kesana-kemari, sedangkan pekerjaan perawat di ruang ICU lebih serius lagi – yaitu mereka mengisi formulir bergaris ukuran A3 yang kelihatannya setiap 5 menit harus dituliskan perkembangannya di formulir. Setiap perawat menulis kemajuan 2 orang pasien di ruang ICU itu…

Tiba-tiba saya merasa “gambar” atau “pandangan” yang bisa saya tangkap dari ruang ICU ini semakin suram. Dan saya mendengar beberapa suara yang cukup menyeramkan. Diiringi oleh suara musik yang keluar dari beberapa radio, dengan jenis musik house music yang berdentam-dentam….

“Ini saya kasih obat bius ya…lumayan bisa tahan 10 jam…jadi kamu bangun lagi 10 jam kemudian…”, seorang suster menyuntikkan obat bius di lengan kanan saya…

“Geledah saja semua saku pasien…”, kata seorang perawat…

“Buka dompetnya, ambil duwitnya….”, kata perawat yang lain…

“Ayooo…semua pejamkan mata…jangan sampai ada yang melek…”, kata perawat lainnya

“Awas kalau sampai melek, saya colok matanya…”, kata perawat lainnya lebih keras lagi…

Sayapun berusaha membuka mata saya dan tampak gambar di depan saya yang sama sekali berbeda (dengan gambaran setelah saya sadar sepenuhnya…esok harinya)… Saya merasa tempat tidur pasien saya di ICU telah digeser ke sebuah laboratorium – karena saya lihat beberapa sink (tempat cuci basah) dan keran yang ada di atasnya. Posisi sink itu hanya 1 meteran dari tempat tidur saya…

Sesuai dengan ancaman yang saya terima, sayapun hanya berani mengintip (membuka mata sedikit) karena membuka mata dilarang. Sayapun juga menyesali diri mengapa saya tidak membawa dompet. Kalau saya tidak membawa dompet, pasti saya akan dihukum keras dan saya harus melakukan sesuatu yang tentunya sangat buruk akibatnya bagi saya, demikian pikir saya…

Sebentar kemudian, saya mendengar suara :

“Mari kita berpesta….yaaa…ini sudah jam 6.00 sore waktunya berpesta ¡”, kata seorang perawat sambil menyetel radionya keras-keras. Saya melihat juga 2 perawat lainnya juga menyetel radionya masing-masing. Jadi ada 3 suara radio yang masuk ke telinga saya….

Setelah beberapa saat berlangsung “kegilaan” ini, sayapun mengambil nafas dalam-dalam. Tak berapa lama kemudian, menurut pandangan saya seorang dokter menelpon seseorang di ruang sebelah namun suaranya cukup keras sehingga saya dapat mendengar detil percakapannya…

“Iya Boss, mohon maaf…kali ini kami tidak bisa mengumpulkan uang dalam jumlah banyak”, kata dokter itu mengiba-iba.

“Tapi kan sebelumnya kami kan berhasil menyerahkan setoran sebanyak Rp 17 juta untuk Perjuangan Rakyat…”, kata dokter itu mencoba memberi alasan.

“Iya Boss….Iya Boss…”, dokter itu berusaha menutup pembicaraan…

Sambil tetap memejamkan mata, sayapun berpikir betapa jahatnya dokter-dokter dan perawat-perawat di rumah sakit ini. Jantung sayapun berdegup keras.

Tiba-tiba terdengar suara, “Pak, minum obatnya Pak…”, kata seorang suster yang tadi di gambaran saya menari-nari di depan saya.

Sayapun bertanya, “Suster, obat ini bakal membunuh saya atau bakal menyehatkan saya ¿” dengan suara yang cukup tegas…

Susterpun menjawab, “Ya Alloh Pak…saya kan pakai jilbab…nih lihat jilbab saya, masak saya mau menipu Bapak”, kata suster itu serius.

Sayapun lalu meminum beberapa pil yang 2 di antaranya besar-besar itu (pil berbentuk caplet yang cukup besar dan berwarna biru muda itu belakangan saya tahu itu Paracetamol untuk pain reliever)…

Tak lama kemudian, saya jatuh tertidur….dengan mengucapkan ayat kursi karena seolah ada huruf Arab warna-warni – merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu – yang memutar cepat ke arah kanan persis seperti tampilan musik pada Windows Media Player, hanya saja ini putarannya jauh lebih cepat dan membuat saya pusing….

Tiba-tiba sayapun sadar sesadar-sadarnya. Saya lihat “gambar” atau “pemandangan mata” yang ada di depan saya sudah berhenti berputar, dan digantikan dengan pemandangan yang jernih dan terang. Tapi sayapun menghela nafas panjang karena telah lepas dari “perampokan” uang di dompet-dompet pasien lainnya. Saya merasa beruntung karena saya masih hidup. Rupanya inilah akhir dari halusinasi saya di ruang ICU….

Siang harinya (saya merasa ini siang) pada saat jam besuk jam 11.00-12.00, anak saya Dessa dan suaminya masuk ke dalam ruangan. Walaupun saya sudah selesai kena halusinasi, tetapi efek dari halusinasi masih ada….

Sayapun berkata kepada Dessa (belakangan ia membenarkan saya mengatakan ini), “Dess…keluarkan papa dari ruangan ini, semua perawat dan dokter yang ada jahat-jahat semua dan mau membunuh papa ¡”, kata saya dengan pelan namun tegas…

Anak saya Dessa-pun menggandeng suaminya keluar dari ruangan cepat-cepat dengan mata Dessa tetap menatap mata saya, yang keluar dari mulutnya cuman, “Enggak pa…enggak pa….enggak pa”. Dan akhirnya Dessa-pun sampai di pintu keluar ICU dan menghilang…

Sayapun menimbang-nimbang untuk melarikan diri dari ICU ini. Walaupun di mulut saya masih tersumpal dengan respirator (alat pernafasan berupa selang diameter 1 cm yang dimasukkan ke mulut saya), sayapun melihat 3 saluran infus di leher kiri saya dan 3 saluran infus di sebelah kanan saya. Saya dengan cepat menilai manakah di antara saluran infus di kiri leher dan di kanan leher yang paling tidak berbahaya…

Saya memutuskan saluran infus di sebelah kanan saya yang paling aman untuk dilepas, dan sayapun segera mencopoti semua saluran infus di sebelah kanan leher saya. Dan sayapun berusaha turun dari tempat tidur ICU yang sebenarnya disetel cukup tinggi itu…dengan maksud berniat untuk melarikan diri…

“He…he…he…perawat….perawat….itu ada pasien yang mau melarikan diri..”, jerit seorang perempuan pengunjung yang menyambangi saudaranya di ruang ICU…

Tiga perawat priapun datang ke tempat tidur saya dan menekan dada saya sehingga rata dengan tempat tidur.

“Saya mau kerjasama….saya mau kerjasama….saya mau tinggal di sini kalau mas mau kerjasama…”, kata saya kepada ketiga perawat yang masih menekan dada saya ke tempat tidur…

“Ya kita mau bekerjasama, jadi Bapak tenang saja di sini…”, kata seorang perawat…

Dan sayapun jatuh tertidur tidak lama kemudian…..(bersambung).

5 Comments (+add yours?)

  1. Alris
    May 09, 2011 @ 20:45:21

    Halusinasi ternyata membahayakan nyawa. Ih….serem.

    Reply

  2. Sastra Bangun
    May 16, 2012 @ 15:58:11

    Kalau saya 2 bln yang lalu operasi by pass, selama 4 hari di ruang ICU, wah saya sering mimpi yang aneh- aneh, termasuk kebiasaan saya di kampung dulu pak Tri

    Bang Sastra,
    O iya gitu ya Bang….

    Reply

  3. edy syahputra
    Dec 19, 2012 @ 14:14:11

    klo sy tgl 31 jan 2011 ops klep mitral bocor, alhmd…gak dganti hanya diperbaiki aja…! tp sy gakda tu mengalami hal2 yg aneh2…hanya 1 mlm di rg ICU..!

    Reply

  4. Hadi
    Apr 30, 2013 @ 16:56:48

    Bp Edy boleh mnt no hp nya utk sharing masalah op katup,terima kasih

    Mas Hadi,
    Maaf nama saya bukan Edy, dan maaf saya tidak bisa men-share no HP saya di Blog ini.
    Pertanyaan anda ditulis di sini saja, biar pembaca yang lain bisa melihat pertanyaan anda dan jawaban dari saya

    Reply

  5. Husni
    Oct 04, 2016 @ 00:20:34

    2 katub saya bocor dan oprasi tgl 27 oktober 2014 di Harapan kita… sy di ICCU 3 hari terus pindah ke ruang intermidiet selama 2 minggu karena detak jantung saya tunggal 5 %… Alhamdulillah sy tdk mengalami halusinasi..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: