Bab 12 – Lulus dari ICU, masuk ruang Intermediate IWB

Syarat bagi seorang pasien untuk lulus dari ICU cukup berat. Seperti diketahui, setelah dioperasi bedah jantung, jantung akan bengkak dan mengeluarkan banyak darah dan cairan tubuh lainnya. Oleh karena itu, setiap pasien bedah jantung di ruang ICU akan “dilubangi” tubuhnya di beberapa tempat.

Bagi saya pribadi yang menjalani operasi Bentall procedure, ada 10 lubang, 2 saluran dan 1 bekas sayatan. Ke-10 lubang itu adalah : 3 lubang di leher sebelah kiri saya, 3 lubang di leher sebelah kanan, 3 lubang di perut (di atas diafragma, jadi masih di rongga dada), dan 1 lubang di paha kiri (konon lubang ini yang paling berbahaya, dan kalau tidak salah diberi nama ABB – barangkali singkatan dari Arteri Besar Berbahaya…hahaha). Satu saluran yaitu selang respirator yang diameternya 1 cm dimasukkan ke mulut saya menuju dada, tujuannya untuk mengurangi sesak nafas yang mungkin menghinggapi pasien jantung yang baru dioperasi. Saluran lainnya adalah “jumper” untuk alat kencing saya yang diberi selang dan dimasukkan ke semacam kantong plastik – gunanya apabila pasien mau “pee” supaya tidak perlu turun dari tempat tidur.

Yang terakhir bekas sayatan memanjang sepanjang 22,5 cm yang dulunya dipakai untuk membuka rongga dada, mulai dari dada di bawah leher (tetapi masih di bawah kancing paling atas kalau hem cowok – sehingga hasil operasi tidak terlihat ketika kita memakai hem) sampai dengan 5 cm di atas diafragma.

Konon jantung yang baru dioperasi akan mengeluarkan banyak darah dan berbagai cairan lainnya, yang akan dikeluarkan dari 3 lubang yang terletak di bawah sayatan memanjang. Kata seorang dokter, “Idenya…tidak mungkin menunggu selesai operasi sampai darah di jantung mongering dan semua cairan sudah berhenti mengalir dan baru menjahit dada bekas operasi…”. Oleh karena itu, segera setelah operasi bukaan sayatan di dada ditutup dulu, baru darah dan cairan lainnya dikeluarkan melalui 3 lubang di perut yang sengaja dibuat untuk itu.

Tiga lubang di perut (sebenarnya belum perut, karena masih di atas diafragma, by definition itu masih rongga dada) itu selanjutnya dihubungkan dengan 3 macam selang yang berbeda dan dihubungkan dengan “mesin pencuci darah” yang bentuknya seperti accu mobil tapi lebih ramping dan berwarna putih. Setiap hari suster dan perawat harus mengisi laporan tinggal berapa darah dan cairan yang mengalir dari tubuh seorang pasien, dengan cara mengambil kira-kira selang plastic sekitar 1,5 meter panjangnya yang akan diukurkan dengan selang plastic yang keluar dari lubang di perut pasien. Dengan demikian, suster atau perawat bisa menebak jumlah darah dan cairan lainnya yang masih menetes dari dada saya.

Seingat saya, di hari pertama saya sadar jumlah darah dan cairan lainnya yang keluar dari dada saya sebanyak 600 ml (saya tahu waktu suster ditanya temannya), hari kedua tinggal 500 ml, hari ketiga tinggal 400 ml, dan seterusnya. Kalau nggak salah ketika cairan yang keluar dari rongga dada sekitar 200 ml, maka pasien dinyatakan “lulus” dari ruang ICU dan berhak “naik kelas” dan dipindahkan ke ruang intermediate yaitu ruang Post Ops atau ruang IWB (Intermediate Ward – Bedah).

Mengingat operasi Bentall procedure yang menyangkut penggantian selongsong aorta dan klep aorta ini cukup berbahaya dibandingkan dengan operasi by-pass jantung biasa, maka wajar pula bila darah yang dikeluarkan dari bekas luka di dada lebih banyak pula, dan oleh karena itu lebih lama juga pasien ganti klep ini tinggal di ruang ICU. Bila pasien by-pass jantung hanya tinggal sekitar 2-3 hari di ruang ICU, maka pasien klep jantung bisa 4-5 hari di ruang ICU, itupun dengan catatan bagi pasien yang tidak punya komplikasi. Bagi pasien yang punya komplikasi – misalnya karena punya tekanan darah tinggi, gula darah tinggi atau ginjalnya sudah bermasalah – tentunya akan lebih lama lagi tinggal di ICU…

Sehari setelah saya terkena halusinasi itu, saya melihat Pak Waluyo – pasien by-pass jantung yang berasal dari Lampung – sudah siap-siap untuk keluar dari ruang ICU. Jadi Pak Waluyo hanya 2 hari saja di ruang ICU dan pada hari ke-3 sudah diperbolehkan untuk pindah atau “naik kelas” ke ruang Post Ops. Wajar kalau saya merasa sedikit iri kepada Pak Waluyo yang sudah “naik kelas” lebih cepat daripada saya…

Sementara itu, di hari-hari terakhir saya di ruang ICU, saya menderita apa yang namanya AV atau AF (saya hanya mendengar istilah ini dari para suster). Ternyata AV itu berarti “atrium villirium” (untuk benarnya, nanti saya cek di Google) yang artinya pasien mengalami detak jantung yang sangat kencang, mungkin sekitar 120-125 detak per menit, yang menurut ukuran orang biasa ini sudah sangat tinggi. Dan celakanya, AV yang saya alami dikarenakan saya berbicara. Makanya suster melarang saya berbicara banyak – bahkan kepada para pembesuk – yang membesuk saya di rumah sakit. “Jangan berbicara banyak dulu ya Pak, Bu…soalnya pasien mengalami AV nih…”, begitu pesan suster ke setiap pembesuk saya…

Pada hari ke-5, setelah para suster dan perawat melihat kemajuan kesadaran saya sudah jauh lebih baik dan jumlah darah dan cairan lainnya yang dikeluarkan dari dada semakin sedikit – yaitu tinggal 200 ml saja sehari – maka sayapun siap-siap untuk dipindahkan ke ruang Intermediate atau ruang IWB.

Cara persiapannya, tabung oksigen ditaruh di belakang tempat tidur saya. Tabung “pencuci darah” diikatkan ke tempat tidur, selang infus yang ada di leher kiri dan leher kanan dilepas, jadi tinggallah 3 selang di perut, 1 selang di tempat pembuangan kencing, dan 1 saluran infus di paha kiri. Sayapun berseri-seri waktu saya dipindahkan dari ruang ICU ke ruang Intermediate IWB (belakangan saya tahu apa bedanya tempat tidur pasien di ruang ICU, di ruang UGD, dan di ruang Intermediate).

Perawat yang mendorong tempat tidur sayapun memasukkan tempat tidur saya ke Lift pasien, dan pintu lift bagian depan yang mengarah ke tempat duduk penunggu pasienpun dibuka. Dan perawat ini lalu berteriak,

“Keluarga Tuan Tri Djoko…”, tidak ada jawaban.

“Keluarga Tuan Tri Djoko….”, tetap tidak ada jawaban…

Akhirnya dari kejauhan saya melihat kakak saya Enny dan kakak saya Endang siang itu lagi duduk di ruang penunggu pasien di Lantai 2. Sayapun lalu melambaikan tangan memanggil mereka…

“Keluarga Tuan Tri Djoko…”, akhirnya kakak saya Enny dan Endang mendengar teriakan ini dan segera menghampiri lift untuk ikut “pindahan” ke lantai 3….yaitu ruang Intermediate IWB atau yang lebih dikenal dengan ruang Post Ops…

Saya mendapat tempat tidur di sebelah kanan pintu, nomor dua dari kanan….atau para suster di sini menyebutnya “tempat tidur No. 9”, setelah para suster “mentransfer” saya menggunakan sejenis papan yang bentuknya mirip papan setrikaan dan “menggeser” saya dari tempat tidur type ICU ke tempat tidur type Intermediate IWB…

Sayapun tersenyum karena 1 ujian telah dilalui…..dan saya kini sudah keluar dari ruang ICU yang menurut cerita belakangan yang saya dengar cukup seram itu….buktinya saya mendapatkan halusinasi di sana…..(bersambung)

5 Comments (+add yours?)

  1. sayachacha
    May 06, 2011 @ 20:47:40

    Eyang saya juga pernah menjalani operasi bypass jantung waktu saya masih SD. Saya ingat waktu itu Ibu saya jadi tegang, sensitif, dan setengah paranoid, sedangkan ayah saya (yang seorang dokter) sikapnya biasa-biasa saja. Setelah membaca tulisan ini (mengingat tulisan bapak dibuat berdasarkan sudut pandang orang non medis), saya jadi tahu mengapa Ibu saya waktu itu seperti itu.

    Ngeri juga ya ternyata operasi jantung itu. *lho kok baru sekarang sadar sih*

    Mbak Cacha,
    Terima kasih tambahan ceritanya. Nah, sekarang Eyang mbak Cacha itu masih sugeng atau sudah….. ? Operasinya tahun berapa, dan waktu itu umur Eyang berapa ?

    Mengenai paranoid….semua keluarga dekat kayaknya waktu itu paranoid semua….isteri saya malahan shock dan tidak bisa diajak berbicara….sedangkan saya tenang saja di ruang ICU tidak sadar sedikitpun apa yang terjadi di luar sana, maklum masih di bawah pengaruh obat bius / anestesi…

    Reply

  2. Alris
    May 09, 2011 @ 20:56:57

    Seru, menegangkan tapi juga informatif. Saya tunggu lanjutan ceritanya, Pak Tri.

    Reply

  3. sayachacha
    May 11, 2011 @ 18:23:39

    Masih sugeng alhamdulillah. BTW nama bapak saya juga Sugeng lho. Hehehe. Dulu eyang operasi di RS. Medistra pak, saya masih nggak mudeng apa-apa. Jadi nggak tahu tahun berapa kejadiannya. 14 tahun yang lalu mungkin waktu eyang sekitar umur 60-an.
    Semua operasi memang bikin tegang pak. Lha waktu adik saya disunat orang satu rumah saja sudah heboh, apalagi kalau yang di operasi jantung.
    Tetap hidup sehat saja pak, diet seimbang dan olahraga. Semoga bapak sehat walafiat panjang umur 😀
    Btw saya minta ijin buat naruh alamat blog bapak di blog punya saya ya. Terimakasih..

    Mbak Cacha,
    Wah…hebat cerita tentang kakeknya. Mudah-mudahan kakek mbak Cacha dan Pak Sugeng…tetap sugeng ya mbak….:)

    Memang waktu saya disunat dulu ibu saya deg-degan keras karena waktu saya lagi disunat di sebuah kamar, di luar kamar ibu saya yang lagi menunggu diceritain sama ibu-ibu lainnya kalau nantinya saya bakal terjadi pendarahan hebat. Ternyata setelah selesai, saya keluar kamar sambil senyum-senyum…ibu saya langsung “plong”….

    Terima kasih doanya mbak Cacha, sudah tentu saya akan mengatur makanan saya dari segi komposisi gizinya – kalau bisa lho. Soalnya kita di Indonesia ini kan kadang-kadang apa yang mau dimakan gak ada pilihan (i.e. sangat sulit belanja bahan di pasar sendiri dan masak sendiri di tengah kehidupan Jakarta yang keras)…

    Silahkan kalau mbak mau blogroll Blog saya ini, dan saya juga mau nge-blogroll Blog nya mbak Cacha ya. Boleh ?

    Reply

  4. edy syahputra
    Dec 19, 2012 @ 14:23:23

    apa yg bpk alami dah sy alami jg !…kbetulan ops yg sy alami meninggalkan bekas dibawah buah dada sbelah knan slebar 6 cm.! itu adalah teknik baru untuk kasus ops katup.namanya minimal invasif ( luka lebih kecil) jd gak perlu memotong tulang dada…alhmd…! ops tgl 31 jan 2011…

    Reply

    • Nina
      Feb 24, 2014 @ 21:42:23

      Pak Edy syahputra, Bpk operasi minimal invasif di RS mana? Brp biayanya? kalo operasi penggantian katup apakah bisa dgn minimal invasif ini? berapa lama proses operasi? dan brp lama pemulihan sampai dengan diperbolehkan pulang?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: