Bab 9 – Diantar masuk ke ruang operasi

Jam tangan sayapun menunjukkan pukul 00.00 hari Kamis, tanggal 10 Februari 2011. Setelah petugas dapur memberi saya “perjamuan terakhir” berupa strawberry pie dan the manis hangat, dan saya lalu meminumnya dengan cepat – maka sayapun sekali lagi mencoba tidur karena nanti jam 04.00 pagi saya akan dibangunkan oleh perawat menurut kabar yang saya terima…

Sayapun mencoba terlelap dalam sebuah “deep sleep” yang nyaman, tanpa mimpi, tanpa igauan, hanyalah denyut jantung yang teratur….

Tiba-tiba “Pak…Pak…bangun Pak, ini sudah jam 04.00”. Sayapun terbangun dengan cepat karena memang tidur saya tidak pernah nyenyak 100% bila paginya ada suatu acara penting.

“Ada apa mas ¿”, tanya saya.

“Anu Pak…saya mau mencukur rambut Bapak dan bagian belakang Bapak mau saya tembak..”, kata perawat laki-laki itu kalem.

Tidak lama kemudian, perawat laki-laki itu menyiapkan sebuah pisau cukur travel Gillette berwarna kuning. “Tolong Pak, celananya dibuka…”. Sayapun membuka celana pasien saya yang berwarna biru (tanpa celana dalam tentunya) setelah memastikan bahwa semua korden yang menutupi tempat tidur saya yang juga berwarna biru telah ditutup dengan sempurna. Lalu terdengar bunyi…sret…sret…sret….dan rambut sayapun tidak bersisa ¡. Sayapun memakai celana pasien saya kembali…

Setelah itu, perawat laki-laki itu menyiapkan “senapan” untuk “menembak” bagian belakang saya. Setelah siap, sebuah botol yang ujungnya lancip dimasukkan ke dubur saya, kemudian dipompa semua isi botol itu masuk ke perut saya. Sekitar 2 menit kemudian, perut sayapun rasanya gak karuan, melilit-lilit dan sesuatu tampaknya akan keluar dari perut saya melalui bagian belakang saya….kalau perlu segera…ya segera !

Sayapun segera berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan semua yang ada di perut saya. Dengan sekali mengejan, semua isi perut sayapun keluar tanpa ada kecuali. Setelah mengguyur dengan air beberapa kali, sayapun membilas bagian belakang saya, dan kembali naik ke tempat tidur saya. Rasanya plong karena semua isi perut saya sudah ditumpahkan keluar – termasuk strawberry pie dan teh manis hangat yang dihidangkan tengah malam tadi..

Walaupun kembali ke tempat tidur, sayapun berusaha memejamkan mata, tetapi saya tidak bisa tertidur lagi…

Sekitar jam 05.50 si perawat laki-laki yang sama menghampiri saya sambil memberikan sebuah botol yang berisi cairan kental berwarna biru. “Pak…nanti jam 06.00 Bapak mandi dengan sabun antiseptik yang saya berikan ini. Tolong sabun cair ini dibagi dua, satu bagian untuk berkeramas dan satu bagian lagi untuk mandi. Jangan lupa Pak, kalau mandi sabun bagian dada beberapa kali..”. Sayapun mengangguk sudah mengerti, soalnya dari internet saya sudah membaca kalau sebelum operasi bedah jantung pasien harus mandi dan memberi cairan antiseptik ke bagian dada sampai bersih.

Tepat jam 06.00 sesuai jadwal yang saya pernah baca di internet dan tadi malam diingatkan lagi oleh seorang perawat kepada saya, sayapun masuk kamar mandi. Setelah mencopot baju pasien yang terdiri dari 2 bagian yaitu celana dan baju – yang mirip piyama warna biru muda polos itu – sayapun mengguyur kepala dan badan saya dengan dengan shower berair hangat. Sesuai dengan pesan si perawat laki-laki tadi, sayapun membagi sabun cair berwarna biru tadi menjadi 2 bagian. Bagian pertama saya pakai untuk berkeramas, dan bagian kedua saya pakai untuk membersihkan seluruh badan dengan fokus pembersihan bagian dada saya. Sabun itu adalah sabun antiseptik dan dimaksudkan untuk menghilangkan kuman-kuman di bagian dada sehingga tidak mengganggu penyembuhan dari operasi bedah jantung nanti…

Setelah memakai kembali baju pasien biru muda yang saya copot tadi, sayapun menuju ke tempat tidur saya. Tetap menggunakan baju pasien, sayapun mengingat sesuatu dan turun dari tempat tidur saya dan menuju “nach kas” (lemari kecil berlaci banyak yang ada di sebelah tempat tidur) dan mulai merapikan barang-barang saya : baju, buku, obat-obatan, dan segala rupa lainnya dan dimasukkan ke tas backpack hitam saya yang bertuliskan “Jansport” itu. Karena tas itu tidak cukup, sayapun memerlukan 2 tas kresek berwarna hitam untuk memasukkan sandal dan tissue.

Tepat jam 07.00 isteri saya Susi, kakak saya Enny, dan teman saya seangkatan di IPB Gayatri Rawit masuk ke dalam ruangan dan menghampiri tempat tidur saya. Sayapun ditanya, “Apa sudah siap ¿” yang lalu saya jawab dengan mantap, “Saya siap lahir batin…”.

Kemudian kami berempatpun berempat berdoa menurut agama Islam, semoga operasi saya yang akan dijalani setengah jam lagi bisa sukses. Amien…., kata kami berempat bersamaan. Lalu kami masing-masing membaca surat Al Fatihah untuk memohon doa kepada Allah agar operasi saya hari ini bisa berjalan lancar. Masalah doa ini sudah diingatkan oleh Pak Ustadz yang berkunjung kemarin sore ke tempat tidur saya.

Kira-kira jam 07.15 seorang petugas Harapan Kita yang berbaju coklat masuk dengan membawa kursi roda. Sayapun dengan tenang duduk di kursi roda dan mencopot sandal Neckerman untuk dimasukkan ke salah satu tas kresek berwarna hitam yang telah disiapkan (sandal ini nantinya hilang….entah menyimpannya dimana)…

Dengan kursi roda, saya diikuti sama isteri, kakak saya, dan teman saya Gayatri pun berangkat dari ruang Pre Ops IWB di Lantai 3 ke ruang operasi di Lantai 2 dengan melalui lift pasien. Si petugas yang mendorong kursi rodapun memberi ancar-ancar, “Nanti ibu-ibu mengantar sampai di depan ruang operasi ya Bu…”. Tidak ada seorangpun yang menyahut karena mungkin masing-masing punya sesuatu untuk dipikirkan. Tapi suasana pagi itu senyap, sunyi, khidmat…dan kami berlima membentuk prosesi yang berjalan pelan…

Akhirnya kami berlima sampai di Lantai 2 setelah menggunakan Lift Pasien – lift yang hanya untuk Pasien dan Dokter dan tidak boleh digunakan untuk umum. Bentuknyapun memanjang supaya bisa menampung tempat tidur pasien bila diperlukan.

Kamipun tetap dengan langkah pelan menuju ke kanan dan setelah 20 meteran dari Lift, si petugaspun memberi aba-aba, “Sampai di garis ini saya Bu…”. Sekali lagi saya salaman dengan pengantar saya – isteri saya, kakak saya, dan Bu Gayatri. Setelah itu, tangan saya melambai pelan seolah mengucapkan “Good Bye”…

Dan sebuah perjalananpun dimulai….sebuah perjalanan yang mungkin menjadi “one way ticket” jika operasi gagal dan saya berpindah ke alam baka, atau bisa berupa “return ticket” kalau operasi berhasil dan saya kembali sehat dan bisa melakukan apa saja yang saya bisa lakukan sebelumnya…

Sayapun melihat ke jam tangan saya…yang ternyata saya sudah copot tadi. Walaupun tanpa jam tangan, saya bisa menebak hari ini adalah hari Kamis, tanggal 10 Februari 2011 jam 07.30 pagi.

Si petugaspun mendorong kursi roda yang membawa saya ke sebuah lorong menuju ke ruang operasi. Di lorong ini sudah berkumpul beberapa dokter – laki dan perempuan, kurus dan gemuk, tua dan muda. Semuanya sudah memakai baju operasi berwarna hijau tua, sedangkan saya tetap mengenakan baju pasien berwarna biru muda.

“Selamat datang Pak, selamat operasi”, kata mereka hampir serempak dengan senyum yang mengembang. Tapi di antara para dokter itu, saya tidak melihat dr. Maizul Anwar yang akan memimpin operasi Bentall procedure terhadap jantung saya. Mungkin beliau sedang berdoa di ruang lain, kata saya dalam hati.

Setelah melalui lorong dengan belokan ke kanan dan ke kiri beberapa kali, sayapun sampai di ruang operasi. Bangun dari kursi roda, sayapun menyalami beberapa dokter yang menyambut saya di ruang operasi. Sayapun dipersilahkan tidur di “meja operasi”, tetapi saya sempat melihat ke kanan dan ke kiri, ruang ini sebenarnya bukan ruang operasi…tetapi ruang “pra operasi” yang mungkin berada di sebelah ruang operasi.

Sayapun diminta untuk melepaskan baju dan celana saya, dalam posisi tidur. Lalu saya ditanya dr. Dwito, “Siap operasi Pak ¿” yang saya jawab, “Siap Dok…” sambil tersenyum. Tubuh saya yang tanpa baju dan celanapun akhirnya ditutup dengan beberapa lapis kain berwarna hijau muda, dan di selangkangan saya dipasang selang besar (diameter sekitar 10 cm) yang mengeluarkan hawa hangat mengarah ke kaki saya.

Sayapun diperintahkan memejamkan mata, dan seorang dokter – mungkin dr. Dwito yang merupakan dokter anestesi – menyuntikkan sejenis cairan di sekitar pergelangan tangan kanan saya. Beberapa detik kemudian saya ditanya, “Sudah berasa kebas (tidak terasa) Pak ¿”…dan sayapun menjawab, “Sudah Dok…”…

Sayapun diajak ngobrol oleh seorang dokter…dan saking tegangnya saya, saya hanya bisa menjawab obrolannya dengan tersenyum….

Setelah itu….lesssss…saya terjebak ke dalam tidur yang nyenyak dan panjang…(bersambung)

2 Comments (+add yours?)

  1. Alris
    May 09, 2011 @ 20:26:16

    Saya juga pernah mengalami operasi, walau hanya operasi kecil yaitu membetulkan kembali tulang bahu saya yang patah dua. Saya di ruang pre ops sekitar delapan jam, menunggu giliran dan menunggu dokter yang akan mengoperasi yang masih bertugas di RSPAD Gatot Subroto. Begitu masuk ruang operasi saya masih sadar, deg-degan, dan keringatan. Padahal ruang operasi itu berhawa dingin, ber-AC tentunya. Saya diajak ngomong untuk rileks, tapi akhirnya disuntik penenang. Begitu selesai disuntik bius oleh dokter anestesi lalu disuruh berhitung 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, de… lalu saya gak ingat apa-apa lagi.

    Reply

  2. Sita
    Jun 20, 2017 @ 12:28:37

    Pak Tri, terima kasih sudah menuliskan semua pengalaman ini. Tulisan bapak membuat saya bersemangat untuk kembali berkonsultasi dengan dokter jantung untuk mulai merencanakan operasi reparasi katup jantung.

    Mbak Sita,
    Iya mbak…semakin cepat ditangani semakin baik…tapi kalau belum, asal obatnya diminum dan nasehat dokter dituruti
    ya baik juga….
    Selamat mempersiapkan diri mbak….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: