Bab 13 – Nafsu makan di IWB tidak ada

Awalnya saya sangat senang dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan Post Ops yang juga disebut IWB (Intermediate Ward Bedah) ini. Mungkin senang bukan kata yang tepat, yang lebih tepat mungkin “bangga”. Bangga karena sudah lulus dari ICU dan “naik kelas” masuk ke IWB. Saya ditempatkan di tempat tidur yang jauh dari pintu, yang biasanya disebut “pasien no. 9” oleh para suster di ruang IWB ini…

Saya perhatikan, sesuai dengan namanya Intermediate Ward bedah, maka di ruangan ini semuanya pasien yang baru saja mengalami pembedahan. Ada yang pasien by-pass (CABG, Cardiac Artery Bypass Graft), pasien pembetulan klep jantung, atau saya yang labelnya pasien Bentall procedure. Karena semua pasien habis dioperasi jantung terbuka (open heart surgery), saya lihat di sebelah masing-masing pasien masih dipasang monitor darah dan cairan tubuh yang keluar. Tidak itu saja, setiap pasien masih dimonitor jantung dan ibu jari tangannya dengan alat monitor yang berbentuk layar kecil dengan berbagai lampu warna-warni itu. Beberapa monitor berbunyi …tuut…tuut…tuut..yang khas, yang menurut saya kadang berbunyi indah tapi pas menjelang mau tidur suara monitor yang berbunyi itu cukup mengganggu. Secara umum, monitor yang berbunyi berarti “ada sesuatu” dengan pasien yang dimonitor itu sehingga susterpun dengan cepat akan datang ke tempat tidur yang monitornya berbunyi. Biasanya suster akan mematikan bunyi itu segera, dan ruanganpun akan senyap kembali. Yang ada hanya hela nafas panjang pasien atau beberapa pasien yang merintih-rintih (pasien di sebelah saya yang berasal dari Lampung suka merintih-rintih jika isterinya tiba membesuk, tapi di lain kali kalau tidak ada isterinya, si pasien diem saja…)…

Saya perhatikan beberapa pasien by-pass, apalagi yang sudah mempunyai penyakit lain misalnya hipertensi atau ginjal, akan mengalami kesulitan di IWB ini. Beberapa pasien mendapatkan batuk yang terus-menerus karena di paru-parunya ada mukus yang mengental dan biasanya dihangatkan terlebih dahulu baru pasien tersebut tenang dan bisa tidur. Tapi hal ini tidak terjadi di pasien operasi klep jantung atau Bentall procedure seperti yang saya alami…

Walaupun saya bahagia telah sampai di ruang Post Ops ini, dan lepas dari ruang ICU yang seram, setelah saya perhatikan…sayapun berkesimpulan bahwa saya cukup menderita juga. Kenapa ? Karena masih ada 3 lubang di perut yang dimasukkan sejenis selang yang disambungkan ke alat pengumpul darah dan cairan tubuh yang berbentuk seperti accu tapi pipih itu dan bunyinya…klotok…klotok…klotok. Dengan tiga selang yang cukup berat membebani perut saya, satu selang lainnya menjumper alat kencing saya untuk dialirkan ke semacam kantong plastik tebal, dan masih ada satu selang infus yang masih ada di paha kiri saya…maka gerak sayapun terbatas. Saya hanya bisa tidur terlentang dan miringpun ke kiri atau ke kananpun belum bisa. Nah, tidur terlentang terus selama 5 hari di ruang Post Ops ini ternyata cukup menyiksa…

Di ruang Post Ops ini saya juga didatangi oleh petugas Rehabilitasi Medis yang datang setiap hari. Biasanya baju petugas ini berwarna abu-abu yang ada lambang RS Jantung Harapan Kita di sakunya. Pasien diminta duduk dan batuk dengan cara tertentu. Prinsip mereka, “Batuk boleh ditahan, tapi riak (mukus) harus dikeluarkan”. Makanya kita diajari batuk supaya mukusnya keluar, karena katanya pasien yang habis dioperasi jantung di rongga dada (thorax) nya akan banyak terdapat sisa-sisa cairan berupa mukus yang harus segera dikeluarkan agar pasien bisa bernafas dengan lega. Demikianlah, setiap hari petugas Rehabilitasi Medis itu datang ke tempat tidur masing-masing pasien yang diajari batuk, mengangkat tangan, memutar kepala, mengangkat kaki sedikit, dan sebagainya. Menurut saya, itu berguna untuk menambah rasa percaya diri pasien bahwa setelah dioperasi jantung ia masih bisa melakukan suatu hal seperti sebelum dioperasi.

Kalau pasien di ICU tidak diberi makanan padat tapi hanya diberi makanan berupa cairan infus (glukosa), maka di ruang Post Ops ini pasien sudah diberi makanan standar rumah sakit, yaitu pagi-pagi sekali diberi secangkir kecil susu coklat, agak siang dikit diberi sarapan roti muffin dan teh manis hangat, siang hari diberi makanan lengkap yaitu ada nasi, sayur, lauk 2 atau 3 macam yaitu ikan, daging dan ayam, buah (biasanya pisang atau jeruk); sore sedikit diberi kue sejenis hunkwee atau jelly dan teh manis, dan terakhir sore jelang malam diberi makanan lengkap seperti pada siang harinya. Entah kenapa, nafsu makan saya hilang sama sekali jika makanan lengkap dari rumah sakit ini sudah tiba di meja makan kecil di sebelah tempat tidur saya. Kalau alasan saya sih, sebagai orang yang lahir di “pedalaman” yaitu Madiun, saya tidak terbiasa makan ikan laut, apalagi yang disayur seperti itu. Saya bisanya makan ikan darat – lele, gabus, mujair, sepat – yang digoreng. Selain itu, entah bumbu makannya dibuat tidak terlalu banyak garam, tidak pakai bumbu penyedap masakan, dan tidak pedas….jadi makan makanan seperti ini bagaikan “mission impossible”…

Ternyata yang merasakan sulit makan ini bukan hanya saya, tetapi juga pasien-pasien lainnya. Entah kenapa, setelah operasi jantung ini nafsu makan saya jadi hilang, padahal oleh dokter dan petugas rehabilitasi medis juga oleh suster perawat, pasien diminta makan sebanyak-banyaknya untuk mempercepat penyembuhan luka hasil operasi. Sayapun juga sangat heran, soalnya tiga bulan lalu waktu saya dirawat di ruang perawatan IWM (Intermediate Ward Medic) saya bisa makan makanan yang sama dengan lahap.

Akibatnya hampir semua pasien di ruang Post Ops ini pesan makanan masing-masing, dan susterpun juga dapat menyetujuinya, “Gak apa-apa Pak, Bu kalau pasien makan makanan yang dibelinya sendiri, daripada pasien gak makan sama sekali” begitu penjelasan suster perawat. Maka pasien tetangga tempat tidur saya suka pesan sup iga, sate ayam atau sate kambing. Tapi apa mau dikata, sudah capek-capek makanan tersebut dibelikan oleh isterinya dan pasti harganyapun tidak murah…tapi si suami hanya makan sedikit, ya karena nafsu makan tidak ada itu…

Sayapun waktu dibesuk keluarga minta dibeliin mie Yogya di kantin Wisma Harapan Kita. Dan ketika pesanan makanan saya itu tiba, maka saya melahap bakmi Jawa itu dengan lahap, dan kuahnyapun saya sruput dengan lahap…sluuurp… sampai-sampai kakak saya Enny dan Endang yang melihat kelahapan makan saya jadi pengin juga, terlihat dari mata mereka.

Tapi…selepas makan enak yang dibeli dari luar itu, sayapun tetap ogah makan makanan yang disajikan oleh rumah sakit. Lebih buruk lagi, membaui makanan itu ataupun bahkan membaui pisang yang dihidangkan kepada kitapun rasa mual mau muntah itu tiba-tiba datang. Kalau tidak ditahan-tahan, tentu saya sudah muntah dari tadi.

Akibatnya, minum yang saya tegukpun semakin berkurang karena jumlah makanan yang saya makan juga berkurang. Ternyata akibat jangka panjangnya, bentuk kotoran saya semakin memadat (“bedegelen” bahasa Jawa nya). Dan seiring dengan gencarnya pil pengencer darah yang diberikan oleh suster setiap malam, maka diam-diam di lambung atau usus saya terjadi perdarahan. Terbukti, setelah 3 selang di perut dilepas dan saya bisa jalan ke kamar mandi untuk BAB, saya lirik di kotoran saya mulai ada semburat darah yang keluar…

Saya tidak sadar, ternyata ada yang sangat serius dibalik pendarahan kecil itu….(bersambung)

3 Comments (+add yours?)

  1. Alris
    May 15, 2011 @ 20:55:28

    Harus diperhatikan juga barangkali, ya, Pak Tri walaupun tidak habis opererasi, kalau ada semburat darah waktu BAB kudu perhatian. Kalau ternyata tanda-tanda kecil itu adalah pertanda hal besar.

    Uda Alris,
    Yang harus diperhatikan adalah :
    – mata yang berdarah (blood in eyes)
    – hidung yang berdarah (blood in the nose)
    – gusi berdarah (blood in gum)
    – kencing berdarah (blood in urine)
    – BAB berdarah (blood in the stool)

    Jadi, salah satu saja terjadi….kita harus hati-hati….

    Reply

  2. purwoko
    May 17, 2011 @ 15:13:13

    Mengharukan segaligus mendebarkan. Tersadar, betapa berharganya Nyawa Manusia. Terimakasih dik Yon, ingatan kembali ke Allah swt.

    Mas Didiek,
    Ya terima kasih juga mas bisa suka akan tulisan saya….mudah-mudahan bisa berguna bagi mas atau teman-teman yang lain… Kesuwun…

    Reply

  3. dadanes
    May 22, 2015 @ 16:49:10

    Sangat informatif pak Tri, berguna sekali untuk orang yang akan menjalani hal yang sama…. Ada satu pertanyaan saya yang belum saya jawabannya, dari bacaan di atas, saya kopas saja ya pak: “Dengan tiga selang yang cukup berat membebani perut saya, satu selang lainnya menjumper alat kencing saya untuk dialirkan ke semacam kantong plastik tebal, dan masih ada satu selang infus yang masih ada di paha kiri saya…” Pertanyaannya adalah jumpernya itu di ambil dari mana pak? Apakah dengan kateter penis atau operasi tembus ke kantung kemih?
    Sampai bab ini saya belum menemukan penjelasan tentang ini. Terima kasih pak Tri, barangkali penjelasan bapak bisa membantu yang lain juga…

    Mas Dadanes,
    Jumpernya dimasukkan ke lubang kelamin kita, tembus ke dalam, berapa cm saya tidak tahu, tahu-tahu kalau kita pipis perasaan “pengin pipis” itu hilang, dan kalau pipis ya tiba-tiba keluar air seni dan langsung masuk ke kantong plastik tebal (seperti plastik Molto) yang ditaruh/digantungkan di bawah tempat tidur kita. Gunanya supaya kita bisa bed rest dan tidak perlu ke kamar mandi selama 10 hari pertama pasca operasi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: