Bab 14 – Lulus dari IWB, masuk ke ruang perawatan

Saya menghabiskan waktu 4 hari di ruang IWB dengan 3 selang terhubung di perut sehingga tidurpun saya harus tetap terlentang. Setelah suster menghitung jumlah darah dan cairan tubuh lainnya yang keluar dari tubuh saya tinggal 30 ml sehari, maka susterpun memanggil dokter bedah yang bertugas jaga. Dokter Dhany sebagai (calon ?) dokter bedahpun datang ke tempat tidur saya, berniat untuk mencabut 3 selang yang terhubung ke perut saya. Dokterpun memakai sarung tangan karet berwarna krem, membalur-balurkan cairan semacam yodium tenter ke 3 lubang di perut saya, meminta saya menarik nafas dalam-dalam…dan….tadaaaa…selang di perut sayapun lepas satu demi satu….

Yang paling ribet adalah waktu dr. Dhany ingin melepaskan saluran infus saya di paha kiri yang disebut ABB (mungkin dari singkatan “Arteri Besar Berbahaya” itu). Untuk mencabutnya, dr. Dhany meminta saya menarik nafas dalam-dalam, lalu mencabut selang kecil yang masuk ke paha kiri saya itu dalam waktu sekian detik. Karena arteri di paha kiri itu arteri besar, maka supaya darah dari paha kiri saya tidak muncrat keluar, maka dr. Dhany pun menekan paha kiri saya dengan segenap berat tubuhnya yang barangkali 85 kg itu !  Menekannyapun tidak sebentar, tapi sekitar 20 menitan. Sayapun meringis menahan sakit di paha kiri saya. Setelah kira-kira darah dari arteri di paha kiri saya itu berhenti, dr. Dhany pun memasang sehelai kapas yang di atasnya diberi sejenis selotip dari karet yang tebal dan kuat. Bentuknya semacam “+” dengan ketebalan sekitar 7 cm. Tidak berhenti di sini saja, dr. Dhany pun lalu menindih bekas lubang di paha kiri saya itu dengan sekarung kecil pasir dan saya dipesan agar tidak melepaskannya sebelum sedikitnya 2 jam berlalu. Saya masih ingat hari itu adalah hari Jumat pagi, dan saya mulai ditindih pasir jam 10.00 dan karena Jumatan maka perawat laki yang ditugasi mengangkat bantal pasir itu baru datang jam 12.30 dan bantal pasir itu benar-benar diangkat dari paha kiri saya jam 13.00. 3 jam tertindih bantal pasir yang kira-kira beratnya 20 kg…lumayan nyeri…

Sejak Jumat siang ini, sayapun sudah bisa tidur miring ke kiri atau ke kanan karena 3 selang yang terhubung ke perut saya sudah dilepas, demikian pula selang kecil di paha kiri saya… Sayapun senang – bahagia tepatnya – karena itu merupakan kemajuan yang pesat bagi kesehatan saya. Sayapun bisa tidur lebih nyenyak dan lebih nyaman daripada hanya tidur terlentang. Perban di luka dada bekas operasipun sudah beberapa kali diganti, semakin lama perbannya semakin kecil dan semakin simpel.

Namun, kemajuan pencopotan 3 selang di perut dan 1 selang kecil di paha kiri itu tidak diikuti dengan segera dipindahkannya saya ke ruang perawatan, alias “naik tingkat” lagi. Saya tidak tahu alasan persisnya mengapa, tetapi dari bisik-bisik suster yang saya dengar alasannya karena tidak ada ruang perawatan yang kosong dan untuk itu pasien ex ruang Post Ops yang mau masuk “naik tingkat” ke ruang perawatan juga sedikit terhambat. Namun biasanya, di akhir pekan banyak pasien luar kota Jakarta yang pulang ke daerah asal masing-masing, dan ada kecenderungan dokter jantung untuk “melepas” pasiennya dari rumah sakit pada hari Jumat karena hari Sabtu dan Minggu dokter jantung biasanya libur dan tidak melakukan visitasi ke pasiennya.

Jadi tidak heran kalau sayapun masih tinggal di ruang Post Ops ini. Lalu sesuatu terjadi, entah apa itu, dan sayapun dipindahkan ke ruang perawatan Pre Ops !! Benar-benar membingungkan, karena saya sebagai pasien yang sudah dioperasi jantung dan menghuni ruang Post Ops tiba-tiba dipindahkan ke ruang Pre Ops, artinya kembali ke ruang sebelum saya dioperasi ! Sayapun tidak banyak ngomong selain ikut saja kata suster. Suster yang memindahkan sayapun tanpa saya tanya menjawab, “Anu pak…Bapak dipindahkan sementara saja ke ruang Pre Ops, sambil menunggu bila ada kamar di ruang perawatan yang kosong…”. Sayapun mengangguk dengan cara mengedipkan mata. Toh ruang Pre Ops kondisinya jauh lebih baik daripada ruang Post Ops yang banyak pasien mengeluarkan darah, dadanya diperban, dan beberapa di antaranya suka merintih dan mengaduh di waktu bangun ataupun tidur….

Seingat saya pas malam Minggu saya dipindahkan dari ruang Post Ops ke ruang Pre Ops yang lebih tenang karena tetangga tempat tidur adalah pasien yang siap-siap menjelang operasi esok harinya. Sayapun bisa tidur dengan nyenyak…

Dan baru Minggu sorenya, saya dijemput oleh petugas pembawa kursi roda yang bilang ke saya kalau ia diperintahkan untuk membawa saya ke ruang perawatan pasca operasi jantung di ruang perawatan di Gedung II lantai 6. Sayapun disertai ipar saya Cipto mengepak barang dan berpindah dari ruang Pre Ops ke ruang perawatan pasca operasi…..(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: