Bab 15 – Nah di sinilah keteledoran saya

Seperti telah diceritakan sebelumnya, saya sangat bahagia – tapi lebih tepat lagi bangga – sudah berhasil “naik kelas” dari ruang IWB ke ruang perawatan di Gedung II Lantai 6, walaupun sempat semalam mencicipi heningnya ruang Pre Ops sebelum ini. Perasaan saya bangga, seperti perasaan bangga yang dimiliki oleh siswa-siswa yang baru naik kelas, baik itu tingkat SD, SMP atau SMA. Cuman bedanya, kalau anak sekolah dengan naik kelas ini nantinya akan mendapat hadiah dari orangtua berupa baju baru, sepatu baru, tas baru, buku baru, alat tulis baru, dan sebagainya. Tapi di lingkungan rumah sakit ini, kalau naik kelas ya yang diharapkan lingkungan yang lebih hening sehingga proses penyembuhan luka bekas operasi diharapkan bisa lebih cepat…

Saya juga telah menceritakan bahwa seorang petugas masuk ke ruang Pre Ops tempat saya tidur dengan membawa sebuah kursi roda. Saya diminta untuk segera mengepak barang-barang saya di ruang Pre Ops ini yang kebetulan dibantu oleh Cipto adik ipar saya. Maka barang-barang sayapun bisa dipak dalam 1 backpack dan 3 kertas kresek besar. Maka kamipun dengan beiring-iringan pindah dari ruang Pre Ops di Gedung I Lantai 3 ke ruang Perawatan di Gedung II Lantai 6. Jaraknya lumayan jauh, ya sekitar 400-500 meteran…

Antara gedung I dan gedung II dihubungkan dengan sebuah lorong terbuka yang panjangnya sekitar 200 meteran. Sebagai salah satu rumah sakit yang diprakarsai pembangunannya oleh mantan Presiden Suharto, masih banyak tembok rumah sakit yang berwarna hijau lumut, ya catnya, ya keramiknya. Kursi roda sayapun dengan tenang menyusuri lorong panjang ini. Seperti kebanyakan pasien di sini, diajak “jalan-jalan” dengan kursi roda itu sudah merupakan suatu rekreasi yang menyenangkan dan patut disyukuri. Makanya di pagi hari sering saya lihat banyak pasien bedah yang berjemur di pagi hari di atas kursi rodanya…

Maka tibalah iring-iringan kami ke Gedung II dimana ruang perawatan semuanya ditempatkan di sini, baik rawat medik, rawat bedah, termasuk rawat pasien anak-anak. Maka naiklah rombongan kita dengan menggunakan lift kecil yang ada di belakang gedung. Sesampainya di lantai 6, kursi roda sayapun didorong keluar dan saya mendapatkan sebuah ruangan yang tempat tidurnya cuman satu. Jadi saya di kamar bakal sendirian, yang cukup memudahkan bagi saudara yang menjaga saya siang dan malam karena tidak mengganggu dan tidak terganggu oleh adanya pasien lain plus keluarganya. Tapi bila diperhatikan, tempat tidur yang saya dapat adalah tempat tidur besi yang dilas sendiri di Jakarta ini. Tidak seperti ruang Intermediate IWB maupun IWM yang hampir semua tempat tidurnya merk Paramount yang terkenal itu…

Karena di ruangan saya tinggal sendirian, kelihatannya AC di ruangan ini cukup dingin bagi saya sendiri. Mungkin karena saya tidak pernah punya AC di rumah saya sehingga AC yang disetel hangatpun bagi saya sudah cukup dingin. Tapi saya mencoba bersyukur dan menerima apa adanya. Salah satu nilai plus dari ruangan ini adalah saya hanya tinggal sendirian di kamar dan di atas tempat tidur saya banyak sekali colokan inlet listrik yang sangat berguna bila saya atau saudara saya ingin mencharge handphone.

Salah satu kunci menuju ke penyembuhan luka bekas operasi atau kunci menuju sehat adalah dengan makan banyak dengan makanan yang banyak mengandung protein seperti daging atau putih telur. Saya sempat nanya ke suster senior yang pada suatu hari mengunjungi kamar saya tentang keharusan makan protein ini. Akhirnya saya putuskan bahwa setiap hari saya makan 6 butir telur rebus, tetapi yang saya makan hanyalah putihnya saja. Saya juga suka makan sup iga yang dibeli dari luar daripada makan makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Makanan dari rumah sakit yang saya makan hanyalah buah dan pencuci mulut saja, sedangkan nasi dan lauknya saya lebih suka usaha sendiri.

Sebenarnya sejak di ruang Intermediate IWB suster-suster di sana sudah mewanti-wanti bahwa pasien sebaiknya memperhatikan “warna” dari BAB yang dikeluarkan. “Jika berwarna hitam atau kehitaman, barangkali itu tanda-tanda awal terjadinya pendarahan dalam baik di perut, usus, maupun lubang pengeluaran”, demikian yang sering dikatakan suster kepada kita para pasien ini.

Akibatnya sejak di ruang Intermediate IWB saya selalu memperhatikan warna BAB saya sebelum BAB itu saya sentor dengan menggunakan tombol “flush” yang ada di toilet duduk. Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa sebenarnya sejak di ruang Intermediate IWB ini saya sudah mengalami pendarahan, yaitu bila BAB bagian pengeluaran BAB saya akan mengeluarkan darah yang kelihatan encer sekali. Saya tidak sadar bahwa ini akibat dosis pil pengencer darah yang saya minum dosisnya kelewat besar untuk tubuh saya yang sensitif terhadap obat pengencer darah itu.

Dan sebenarnya, sejak mendarat pertama kali di ruang perawatan di Gedung II ini kalau saya BAB warnanya sudah kehitaman dan kadang disertai sedikit pendarahan. Menurut aturannya, pasien harus melaporkan segera kepada suster apabila ditemui warna BAB yang hitam atau kehitaman, karena itu tanda-tanda ada pendarahan di lambung, usus, atau saluran pembuangan…

Tapi yang terjadi dengan BAB saya tidak saya laporkan kepada suster….dan akibatnya sangat fatal…..(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: