Bab 16 – Hanya semalam di rumah, esoknya pingsan di kamar mandi

Seperti yang saya sudah ceritakan di bab sebelumnya, bahwa sebuah kesalahan atau keteledoran fatal telah saya perbuat yaitu tidak melaporkan temuan adanya warna hitam atau kehitaman pada BAB saya. Harusnya dengan dilaporkannya segera ke suster, suster dengan berkonsultasi dengan dokter yang merawat kita akan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar tidak terjadi kesalahan fatal..

Saya baru tahu kemudian bahwa ukuran keenceran darah seorang pasien yang habis menjalani operasi klep jantung seperti saya ini diukur dengan suatu ukuran yang disebut INR (International Normalized Ratio). INR itu sendiri dihitung dari Protrombine Test, dari beberapa nilai Protrombine Test akhirnya dapat dihitung INR darah kita. Bagi orang sehat nilai INR mestinya di antara 0.9 – 1.3, INR kecil artinya darah kita kental dan INR besar artinya darah kita encer…

Namun seperti saya yang baru saja menjalani operasi klep jantung, yaitu klep aorta (FYI, jantung kita mempunyai 4 macam klep), dan diganti dengan klep jantung metal keluaran St. Jude Medical seperti yang dipasangkan ke dalam jantung saya, maka agar klep jantung metal itu bisa beroperasi dengan sempurna memerlukan suatu kondisi yaitu nilai INR antara 2.0 – 3.0. Wabil khusus untuk diri saya, ternyata paling ideal nilai INR saya antara 2.0 – 2.5 karena dari pengalaman saya pribadi, kalau INR saya lebih dari 2.5 bisa menyebabkan pendarahan bagi diri saya, utamanya di BAB saya ada bercak darahnya (disebut “blood on the stool”)….

Nah, karena pil pengencer darah hampir setiap hari diberikan kepada saya sebanyak 1 pil per hari dan itu rupanya dosis yang cukup besar bagi tubuh saya, akibatnya saya menderita pendarahan lambung yang tidak saya sadari.

Seperti diketahui, pasien bedah jantung sejak di ruang perawatan di Gedung II ini setiap pagi diminta untuk menjalani Program Rehabilitasi untuk menormalkan kembali tubuh kita kembali ke keadaan sebelum sakit. Pasien yang masih memakai baju pasien berwarna biru muda (bagi pasien eksekutif berupa baju putih setrip merah) dan menjalani Program Rehabilitasi di ruang rehabilitasi Lantai II, maka program rehabilitasinya dinamakan “Fase I”.

Sayapun dari hari Senin pagi sampai Jumat pagi setiap hari sekitar jam 08.00 – 09.00 turun ke Lantai II untuk menjalani Rehabilitasi Medik Fase I. Awalnya tubuh saya ok saja menjalani program rehabilitasi Fase I ini, artinya sewaktu diukur tekanan darah saya dengan tensimeter digital yang ada di Ruang Rehabilitasi, tekanan darah saya kedapatan normal sekitar 120/80 (walau surprise juga, sewaktu saya belum dioperasi distolik atau tekanan darah bawah saya sekitar 30, 40 atau paling tinggi 50).

Namun karena pemberian pil pengencer darah terus dilakukan sehari 1 pil, pendarahan yang saya alamipun semakin memburuk. Mulai hari Kamis pada saat saya menjalani program rehabilitasi Fase I, tekanan darah saya sudah menunjukkan 100/60 – suatu tanda bahwa sesuatu sedang terjadi pada tubuh saya. Pada hari Jumat pagi bahkan tekanan ini menurun menjadi 90/50 maka si mbak yang menjaga di ruang rehabilitasi sampai agak segan meminta saya jalan memutari ruang rehabilitasi (1 kali putaran sepanjang 100 meter).

Rupanya Jumat pagi itu sewaktu saya sedang di ruang rehabilitasi di Lantai 2, dokter saya mengunjungi kamar saya di Lantai 6. Setelah melihat saya tidak ada, maka melalui suster di Lantai 6, saya diminta untuk segera menemui dokter saya di Lantai 6. Akhirnya atas izin suster di ruang rehabilitasi, sayapun segera menuju ke Lantai 6 untuk ketemu dengan dokter saya.

Sesampai saya di Lantai 6, ternyata dokter saya sudah pergi dan kepada saya ditinggalkan pesan bahwa Jumat siang ini saya boleh pulang. Mendengar berita baik dan positif ini sebenarnya hati saya sangat senang. Namun dalam hati saya masih memikirkan apa artinya tekanan darah rendah yang saya alami 2 hari terakhir ini di ruang rehabilitasi ¿

Saya belum menceritakan, bahwa selain tekanan darah rendah yang saya alami, luka bekas operasi saya belum sembuh sepenuhnya, yang ditandai dengan masih banyaknya kandungan Leucocyt (darah putih) di dalam darah saya, yaitu sebanyak 26.000. Padahal luka disebut sembuh atau mendekati sembuh bila jumlah Leucocyt 10.000 atau lebih kecil daripada itu. Maka dengan jumlah Leucocyt sebanyak itu, sayapun sebenarnya agak ragu-ragu untuk pulang ke rumah, walaupun dokter saya menyarankan agar saya pulang ke rumah.

Karena mobil yang dibawa isteri saya AC nya mati, maka sewaktu pulang dari rumah sakit pada Jumat sore itu saya naik taksi, dan mobil dibawa isteri saya pulang. Pada saat mencegat taksi kemudian sedikit berlari ke arah taksi yang sudah berhenti, sebenarnya saya sudah merasakan bahwa tubuh saya agak sedikit “melayang”. Makanya begitu masuk taksi saya katakan ke sopir taksi, “Bang, saya ini habis dioperasi jantung 2 minggu lalu. Saya paling takut kalau pingsan di dalam taksi. Oleh karena itu, jika saya pingsan di taksi nanti, alamat rumah saya adalah bla..bla..bla…di Jatiwarna”. Si sopir taksipun menjawab, “Ya, jangan sampai pingsan lah pak di dalam taksi. Saya membawa taksinya pelan-pelan saja ya pak….”. Selama perjalanan ke rumah naik taksi itu, tubuh saya juga setengah melayang rasanya…

Akhirnya di hari Jumat sore yang agak mendung itu, sampailah saya ke rumah. Di rumah sudah menunggu adik ipar saya Seno bersama isterinya yang membantu membersihkan rumah. “Mas, rumah sudah siap untuk ditempati..”, demikian kata Sri isterinya Seno. “Ok..makasih ya”, jawab saya sambil membawa barang saya dari taksi ke dalam kamar. Tak lama kemudian isteri sayapun sampai di rumah, dan Seno serta Sri membantu menurunkan barang-barang dari mobil. Salah satu barang yang terpenting yaitu peralatan perawatan luka di dada saya dibawa masuk ke kamar saya…

Ketika saya pulang dari perawatan sakit jantung yang pertama di bulan Nopember 2010 dulu, rupanya kedua anak saya iba melihat tempat tidur bapaknya yang terbuat dari kapuk dan kamar yang cuman berkipas angin. Merekapun mengambil inisiatif mengganti kasur kapuk dengan tempat tidur spring bed yang nyaman. Kedua anak sayapun patungan untuk beli AC 0.5 PK yang dipasang di kamar saya…

Makanya ketika saya masuk ke kamar saya kembali, rasanya dingin sekali. Setelah berbasa-basi dengan Seno dan Sri, malam itu saya bisa tidur dengan nyenyak di rumah. Esoknya kakak saya Enny dan suaminya Mas Dwi datang ke rumah untuk menengok saya. Memang selama ini dari sejak perawatan saya yang pertama sampai saya sebelum operasi, saya dan isteri tinggal di rumah kakak di Cilandak. Hanya weekend saja saya dan isteri tidur di rumah saya sendiri…

Sewaktu kakak saya dan suaminya berkunjung ke rumah itu, sebenarnya kepala saya sudah sangat pusing. Makanya saya izin untuk tiduran saja di kamar. Siangnya sekitar jam 14.00 saya terbangun dari tempat tidur karena ingin kencing. Sewaktu bangun dari tempat tidur kepala saya serasa kliyengan (berputar-putar) dan rasanya mau pingsan. Tetapi karena saya pengin sekali kencing, akhirnya saya menuju ke kamar mandi. Setelah kencing, saya ingin menyentor kencing saya itu dengan air…ternyata di ember tidak ada air setetespun. Isteri saya, adik ipar saya Is dan keponakan saya Laraspun juga tidak kelihatan…

Untuk menyiram kencing saya, sayapun menggapai kran dan berusaha membuka kran. Tapi pa yang terjadi adalah….saya rasakan kepala saya semakin lama semakin di atas lantai…rasanya lantai makin dekat, makin dekat, makin dekat….

Tak lama kemudian, “Mas…maass….masss….bangun mas…” kata isteri saya menangis tersedu-sedu sambil memeluk leher saya. Rupanya saya dikira terkena stroke. Sayapun terbangun walaupun masih lemas, sehingga saya katakan, “Saya tidak apa-apa kok…”. Akhirnya setelah BAB di luar kamar mandi dan hanya keluar di celana, sayapun dibersihkan dengan air oleh isteri saya, diberi handuk, dan disuruh memakai baju dan celana yang pantas. Kartu Rekam Medis sayapun dibawa, dan beberapa baju dimasukkan ke dalam backpack saya…

Sebuah taksi Cipaganti rupanya sudah menunggu di luar rumah karena dipesan oleh Seno. Saya, isteri saya dan Senopun meluncur kembali ke UGD RS Jantung Harapan Kita. Seno duduk di depan, saya duduk di sebelah belakang kiri dan di kanan saya duduklah isteri saya. Sepanjang jalan tangan saya digenggam isteri dan diwanti-wanti agar saya melek terus dan jangan tertidur, soalnya kalau saya tertidur bisa bablas selama-lamanya.

Sayapun ingat film seri “Band of Brothers” yang cerita tentang Perang Dunia II di Eropa, bahwa seorang prajurit yang terluka di medan perang dan mengeluarkan darah dari tubuhnya, sebaiknya tidak pernah tidur dan dijaga agar tetap terbangun supaya jiwanya terselamatkan….

Dengan ingatan seperti itu, taksi Cipaganti berwarna merahpun menyusuri jalan tol yang Sabtu sore itu tumben agak sepi….menuju ke UGD RS Jantung Harapan Kita….(bersambung)

2 Comments (+add yours?)

  1. imam
    Nov 20, 2011 @ 12:19:40

    cerita pak tri membangkitkan kenangan lama….. makasih ya pak……

    Mas Imam,
    Sami-sami mas….

    Reply

  2. imam
    Nov 20, 2011 @ 12:22:04

    luar biasa….!!! pak tri dapat menggambarkan dengan jelas semua peristiwa yang terjadi. saya jadi teringat kenangan lama…..

    Mas Imam,
    Wah…senang tulisan saya menyenangkan ex pasien jantung lainnya…hehehe….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: